Tugas Peta Dakwah

Oleh Rizki Fadilah

2,3 MB 5 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Tugas Peta Dakwah

PETA DAKWAH DUKUH GENTING KELURAHAN METESEH KECAMATAN TEMBALANG SEMARANG MAKALAH Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah : Peta Dakwah Dosen Pengampu : Adeni, S. Kom. I., M.A Disusun Oleh : Rizki Nur Fadilah (1801036035) FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI WALISONGO SEMARANG 2019 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dakwah adalah kegiatan yang bersifat menyeru, mengajak dan memanggil orang untuk beriman dan taat kepada Allah sesuai garis aqidah, syariat dan akhlak islam. Dalam melakukan kegiatan dakwah tentu seorang da’i menginginkan apa yang disampaikan mampu diterima oleh mad’u dan dapat dikatakan berhasil. Sehingga dakwah mampu mengajak seseorang dari kegelapan menuju kehidupan yang terang benderang. Dalam mewujudkan dakwah yang efektif dan efisisen tentu dibutuhkan parameter-parameter untuk mengukur bagaimana dakwah mampu diterima dan dijalankan oleh mad’u disuatu daerah tertentu. Mengapa? Karena tidak semua daerah memiliki norma, budaya, lingkungan sosialnya sama, dengan demikian seorang da’i seharusnya mampu memahami potensi dakwah atau apa yang seharusnya dibutuhkan oleh seorang mad’u disuatu daerah dengan segala keanekaragamannya agar kegiatan dakwah islam tepat sasaran. Untuk mengetahui bagaimana keadaan mad’u di suatu daerah, maka perlu diadakan penelitian terlebih dahulu, sehingga kegiatan dakwah yang dilakukan mampu memberikan solusi bagi mad’u. Sehingga dakwah tidak hanya meyampaikan kata-kata Al-Qur’an saja namun dapat memberikan solusi dengan memehami apa yang dibutuhkan mad’u. Oleh karena itu makalah ini dibuat untuk mengetahui potensi dakwah atau apa yang akan dilakukan agar mampu mengembangkan potensi dakwah tersebut dan bagaimana memberikan solusi bagi mad’u yang memiliki masalah dalam kehidupannya. B. Tujuan Penelitian Tujuan dilakukannya penelitian di Dukuh Genting, sebagai berikut: 1) Dapat memetakan Dukuh Genting 2) Mengetahui kondisi masyarakat (mad’u) Dukuh Genting 3) Mengetahui metode, materi dan strategi dakwah yang tepat yang dapat ditempuh untuk melakukan dakwah di Dukuh Genting 4) Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah peta dakwah. C. Rumusan masalah 1. Bagaimana Profil Dukuh Genting, Kelurahan Meteseh, Kecamatan Tembalang? 2. Bagaimana masuknya dakwah islam ke Dukuh Genting? 3. Bagaimana kegiatan dakwah di Dukuh Genting ? 4. Siapa SDM Dakwah di Dukuh Genting? 5. Bagaimana Instrumen dakwah (berbasis Masjid) di Dukuh Genting? a. Bagaimana model keyakinan di Dukuh Genting? b. Bagaimana potensi jamaah Masjid Al-Ikhlas, Dukuh Genting? c. Bagaimana kegiatan Zakat(Zakat Fitrah dan Zakat Mal) di Dukuh Genting? d. Berapa dan siapa saja masyarakat yang sudah melaksanakan Haji dan Umroh? e. Bagaimana dengan pelaksanaan Qurban pada Idul Adha di Dukuh Genting? 6. Bagaimana problem, Solusi, dan Rekomendasi yang ada di Dukuh Genting? D. Metodologi penelitian Penelitian ini dilakukan dengan metodologi penelitian kuantitatif dan kualitatif, dengan menggabungkan data yang didapatkan dari kelurahan meteseh dan berinterikrasi langsung dengan keadaan yang berkembang di masyarakat di kampung Genting Meteseh Rt 03 Rw 06. Dan juga melakukan wawancara terhadap Takmir masjid Al-Ikhlas untuk mengetahui seberapa banyak jama’ah yang mengikuti Sholat jama’ah selam 5 waktu sholat dan kegiatan apa saja yang biasanya dilakukan di masjid Al-Ikhlas. PEMBAHASAN 1. Profil Dukuh Genting, Kelurahan Meteseh, Kec. Tembalang, Kota Semarang. Figure 1 Peta Dukuh Genting. Created by Rizki use Google Earth Dukuh Genting terletak di Kelurahan Meteseh, Kecamatan Tembalang , Kota Semarang. Kelurahan Meteseh memiliki luas 855,838 Ha. Penduduk di Kelurahan Meteseh sebanyak 21889, dengan jumlah penduduk laki-laki sebanyak 11033 dan jumlah penduduk perempuan 10856. Mayoritas penduduk memeluk agama islam karena jika dilihat perbandingannya jumlah penduduk agama islam sebanyak 19898, agama kristen sebanyak 947, agama katolik sebanyak 792, agama hindu sebanyak 48, agama budha sebanyak 8, dan ada 3 aliran kepercayaan di kelurahan Meteseh. Maka di Kelurahan Meteseh banyak tempat ibadah orang-orang muslim yaitu Masjid dan Musholla. Masjid dan musholla yang ada di kelurahan meteseh sebagai berikut: NO 1 2 3 4 5 6 7 Nama Masjid Masjid Nurusholihin Masjid Baitussalam Masjid Baiturrohim Masjid Al-Fatah Masjid Al-Ikhlas Masjid Al-Hikmah Masjid Baitul Makmur Alamat Dk. Wonosari RT.01/RW.02 Dk. Teseh RT.01/RW.04 Dk. Sumberejo RT.01/RW.05 Dk. Genting RT.02/RW.06 Dk. Genting RT.03/RW.06 Dk. Klipang Rt.03/RW.07 Dk. Tunggu RT.01/RW.09 8 Masjid Nurul Huda Dk. Rejosari RW.10 9 Masjid Ar-Ridho Dk. Rejosari RT.01/RW.10 10 Masjid Ar-Ridho Jl. Bukit kelapa Sawit IV RT.02/RW.11 11 Masjid At-Toyyibah Bukit Kelapa Sawit Raya RW.14 12 Masjid Baitul Mittaqim Jl. Cemarasari VI-VII/CLRT.05/RW.15 13 Masjid Baitussalam Dinar Mas RW.17 14 Masjid Imamuddin Dinar Elok RW.21 15 Masjid Ar-Rahmah Dinar Asri RW.26 16 Masjid Al- Firdaus Mutiara Jaya II RW.XXVII *Sumber : Observasi di Kelurahan Meteseh pada 17 Oktober 2019 NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 Nama Musholla Musholla Nurul Huda Musholla Al-Istiqomah Musholla Al-Ikhlas Musholla Al-Hidayah Musholla Waridatul Anwar Musholla Baitul Izah Musholla Baitul Falah Musholla Al-Falaq Musholla Baitul-Atiq Musholla Darussalam Musholla Al-Mustaqim Musholla Irsatul Ibad Musholla Al-Mubarok Musholla Nurul Huda Musholla Al-Ridho Musholla Al-Makmur Musholla Al-Istiqomah Musholla Al-Fadhillah Musholla Baitul Salam Musholla Assalam Musholla Baitul Muttaqim Musholla Assalam Musholla Atarbiyatul Wildan Musholla At-Taqwa Musholla Al-Muhlisin Musholla Al-Muttaqin Musholla Nurul Hadi Musholla Al-Ikhlas Musholla Nurul Huda Musholla Al-Mubarok Musholla Sabilul Huda Musholla Baitul Makmur Alamat Dk. Wonosari RT.01/RW.01 Meteseh RT.04/RW.01 Meteseh RT.01/RW.02 Dk. Wonosari RT.01/RW.02 Dk. Wonosari RT.01/RW.02 Dk. Wonosari RT.04/RW. 02 Dk. Kedongwinong RT.01/RW.03 Dk. Kedongwinong RT.01/RW.03 Dk. Kedongwinong RT.02/RW03 Dk. Kedongwinong RT.02/RW.03 Dk. Tesesh RT.01/RW.04 Dk. Teseh RT.01/RW.04 Dk. Sumberejo RT02/RW.05 Dk. Sumberejo RT.03/RW.05 Dk. Sumberejo RT.04/RW.05 Dk. Sumberejo RT.05/RW.05 Dk. Genting RT.01/RW.06 Dk. Genting RT.01/RW.06 Dk. Genting RT.03/RW.06 Dk. Genting RT.04/RW.06 Dk. Genting RT 05/RW.06 Dk. Genting RT.05/RW.06 Dk. Klipang RT.01/RW.07 Dk. Dadapan RT.01/RW.08 Dk. Dadapan RT.02/RW.08 Dk. Dadapan RT.03/RW.08 Tunggu RT.01/RW.09 Tunggu RT.03/RW.09 Rejosari RT.01/RW.10 Rejosari RT.02/RW.09 Rejosari RT.03/RW.10 Rejosari RT.04/RW.10 33 Musholla Al-Firdaus Mutiara Jaya II RW.XXVII *Sumber : Observasi di Kelurahan Meteseh pada 17 Oktober 2019 Dari data masjid dan musholla diatas menandakan bahwa penduduk kelurahan meteseh sangat memperhatikan tentang tempat ibadah sehingga banyak masjid dan musholla yang di bagun. Untuk tempat ibadah agama kriten, katolik, hindu,dan budha tidak ada di wilayah Kelurahan. Penduduk yang tidak sekolah/belum sekolah sebanyak 5560 dengan jumlah laki-laki 2858 dan jumlah perempuan 2662. Lalu jumlah belum tamat SD/sederajat dengan jumlah lakilaki 1888 dan perempuan 1970. Kemudian jumlah tamat SD/sederajat dengan jumlah laki-laki 524 dan perempuan 574. Lalu jumlah SLTP/sederajat dengan jumlah laki-laki 1108 dan perempuan 1161. Kemudian jumlah SLTA/sederajat dengan jumlah laki-laki 2661 dan perempuan 2492. Lalu jumlah Diploma I/II dengan jumlah laki-laki 31 dan perempuan 56. Kemudian Akademi/D.III/Sarmud dengan jumlah laki-laki 449 dan perempuan 615. Lalu jumlah Strata I/D.IV dengan jumlah laki-laki 1175 dan perempuan 1173. Kemudian jumlah Strata II dengan jumlah laki-laki 164 dan perempuan 84. Lalu jumlah Strata III dengan jumlah laki-laki 23 dan perempuan 5. Dengan jumlah keseluruhannya adalah 21719 orang. Lembaga pendidikan di kelurahan Meteseh terdiri dari 8 TK (Taman Kanak-kanak) dengan jumlah murid keseluruhan 300 orang dan jumlah guru 37 orang. lalu ada pula 8 RA dengan jumlah murid 300 orang dan 37 guru. Kemudian ada 1 SD dengan jumlah murid 446 orang dan jumlah guru 17 orang. lalu ada pula 2 MI (Madrasah Ibtidaiyah) dengan jumlah murid 698 dan jumlah guru 31 orang. Kemudian ada 2 MTs Negeri dengan jumlah Murid 411 orang dan jumlah guru 39 orang. lalu ada pula 2 MA Negeri dengan jumlah murid 422 dan jumlah guru 44 orang.1 Meskipun disini data penduduk yang saya cantumkan berkategori kelurahan, saya akan memaparkan pemetaan dakwah di Dukuh Genting saja karena jika meneliti sekelurahan Meteseh akan memerlukan waktu yang ekstra, kemudian Dukuh Genting merupakan tempat dimana saya tinggal sehingga memudahkan saya pula dalam melakukan penelitian ini. 2. Masuknya Dakwah Islam ke Dukuh Genting Penyebaran islam/dakwah di Desa Genting di mulai pada saat ada seorang kyai dari nroto yang bernama kyai Abdul Manan beliau mondok di Giri Kusumo, beliau dimakamkan di Dukuh Tunggu Meteseh, sebelum meninggal beliau juga memiliki murid dari masyarakat Dukuh Tunggu dan Dukuh Genting. Di Dukuh Genting kyai Abdul Manan memiliki murid yaitu Mbah Muhadi, Mbah Karman, Mbah Haji Toyyib. Kyai Abdul Manan mempunyai anak yang bernama Syaikhul Hadi/Mbah Bagus, mempunyai murid Mbah Syaikhan, lalu mempunyai murid mbah kyai Muzammil, Mbah Bakhl Ali, Mbah Haji Khoirun, Mbah Haji Syaikhun. Mbah Haji Syaikhun merupakan anak dari Syaikhul Hadi/Mbah Bagus, di Dukuh Genting beliau mempunyai murid Haji Abdur Rochim (merupakan ketua umum pengasuh Panti Asuhan At-Taqwa), Haji Abdur Rochim mempunyai murid antara lain Uastadz Sulaiman, Haji 1 Diambil dari data Kelurahan Meteseh, pada tanggal 17 Oktober 2019 Syaifudin, bapak Sya’dun, Ali Ridha (Almarhum), Muzainatun (Almarhumah), Munadzirah, Siti Aisyah, Mukhafatun, Ibu Marjanah, Ustadz Misbah, Haji Saerozi, Ustadz Mukhlisin, Ibu Amti’ah, Ibu Khadiroh, Hajah Supartin, Hajah Masro’ah. Dengan sanad diatas dapat memberikan penjelasan bahwa penyebarluasan dakwah di dukuh Genting adalah melalui penyebaran pendidikan, dimana seorang murid berguru dengan seorang guru ahli agama lalu menurunkannya kembali kepada muridnya yang lain. Sehingga banyak masyarakat Dukuh Genting yang memiliki ilmu agama yang baik.2 3. Kegiatan Dakwah Muhammad Natsir, dalam tulisannya yang berjudul Fungsi Dakwah Islam dalam rangka Perjuanangan mendefinikan dakwah sebagai: “usaha-usaha menyerukan dan menyampaikan kepada perorangan manusia dan seluruh umat konsepsi islam tentang pandangan tujuan hidup manusia di dunia ini, yang meliputi amar Ma’ruf nahi Munkar, dengan berbagai macam media dan cara yang diperbolehkan akhlak dan membimbing pengalamannya dalam perikehidupan perseorangan, perikehidupan dalam berumah tangga (usrah), perikehidupan bermasyarakat, dan peikehiduan bernegara.” Dalam bukunya teori dan praktek dakwah islamiyyah H.S.M Nassaruddin Latif mendefinikan dakwah sebagai: “setiap usaha aatu aktivitas dengan lisan atau tulisan dan lainnya. Yang bersifat menyeru, mengajak, memanggil manusia lainnya untuk beriman dan menaati Allah Swt. sesuai dengan garis-garis Aqidah dan akhlak islamiyyah.” Letjen H. Sudirman, dalam tulisannya yang berjudul problematika dakwah islam di Indonesia memberikan definisi dakwah sebagai berikut: “usaha untuk merealisasikan ajaran islam di dalam kenyataan hidup sehari-hari baik bagi kehidupan seseorang, maupun kehidupan masyarakat sebagai keseluruhan tata hidup bersama dalam rangka pembangunan bangsa dan umat manusia untuk memperoleh keridhaan Allah Swt.” Dari definisi-definisi tersebut, meskipun terdapat perbedaan dalam perumusan, tetapi apabila diperbandingkan satu sama lain dapatlah diambil kesimpulan-kesimpulan sebagai berikut: a) Dakwah itu adalah merupakan proses penyelenggaraan suatu usaha atau aktivitas yang dilakukan dengan sadar dan sengaja. b) Usaha yang diselenggarakan itu adalah berupa: 2  Mengajak orang unruk beriman dan menaati Allah Swt. atau memeluk agama islam.  Amar ma’ruf, perbaikan dan pembangunan masyarakat (ishlah) Hasil wawancara dengan bapak Abdurrahman, pada tanggal 20 juni 2019  Nahi munkar (mencegah untuk berbuat kemungkaran) c) Proses penyelenggaraan usaha tersebut dilakukan mencapai tujuan tertentu, yaitu kebahagiaan dan kesejahteraan hidup yang diridhai Allah Swt.3 Maka dari itu dakwah merupakan hal yang sangat penting dalam kehidupan karena dengan dakwah diharapkan umat mampu mencapai kehidupan yang lebih baik, menggapai kebahagiaan dunia dan akhirat dengan ridha Allah Swt. hal inilah yang dibutuhkan oleh masyrakat Dukuh Genting, Kelurahan Meteseh, Kec. Tembalang. 4. Sumber Daya Manusia di Dukuh Genting. Sumber daya manusia yang ada di Dukuh Genting adalah ustadz, guru ngaji dan lainnya. Di Dukuh Genting terdapat TPQ, Yayasan yatim piatu (bagi orang yang tidak mampu), dan pondok pesantren. TPQ yang ada di Dukuh Genting ada 2 yaitu milik bapak Fuad Afandi dan milik Bapak Misbah dahulu saya juga belajar mengaji di Bapak Misbah. Mengaji kepada bapak Misbah selain deres(mengaji) sampai Khatam kami juga diajarkan tajwid agar mengaji dengan benar. Jadi setiap hari sabtu-minggu kami libur namun setiap hari rabu kami diajari tajwid tidak membaca Al-Qur’an. Selain hari itu digunakan untuk melanjutkan bacaan Al-Qur’an. jika menagji di bapak Misbah tidak hanya untuk anak-anak kecil namun juga unuk para remaja dan dewasa. Figure 2 taken by Rizki, pondok tahfidz al-husna4 Figure 3taken by Rizki, TPQ At-Taqwa5 3 Rosyad Saleh, Manajemen Dakwah, 1977, PT Bulan Bintang (Jakarta), hal 8-10. Diambil pada tanggal 21 oktober 2019 5 Diambil pada tanggal 21 oktober 2019 4 Jika mengaji di rumah Bapak Fuad Afandi kebanyakan adalah anak-anak kecil. Selain itu di Dukuh Genting juga ada yayasan panti asuhan At-Taqwa yang diasuh oleh bapak Abdurrahman disana juga terdapat TPQ, masjid Al-Fattah dan yayasan MTS dan MA At-Taqwa. Bapak Abdurrahman adalah seorang ustadz yang juga salah satu tokoh masyarakat Dukuh Genting. Kemudian di Dukuh genting juga ada pula pondok pesantren tahfidz Al-Husna Tempuran milik Bapak Mansur dan merupakan pengasuh sekaligus. Beliau juga merupakan imam masjid Al-Ikhlas. 5. Instumen Dakwah (berbasis masjid) di Dukuh Genting. a. Model Keyakinan dan Tradisi di Dukuh Genting. Keyakinan adalah suatu sikap yang ditunjukkan oleh manusia saat ia merasa cukup tahu dan menyimpulkan bahwa dirinya telah mencapai kebenaran. Karena keyakinan merupakan suatau sikap, maka kenyakinan seseorang tidak selalu benar atau, keyakinan bukanlah jaminan kebenaran. Jika keyakinan tidak ada maka keraguan akan muncul, dan kesalahan akan sering kali menghalangi. Kenyakinan sangat penting dalam kehidupan seperti keyakinan dalam memelik agama. Tradisi merupakan hasil cipta dan karya manusia objek material , kepercayaan, khayalan, kejadian, atau lembaga yang diwariskan dari sesuatu generasi ke generasi berikutnya. Seperti misalnya adat istiadat, kesenian dan properti yang digunakan. Sesuatu yang diwariskan berarti tidak harus diterima, diasimilasi atau disimpan sampai mati. Tradisi yang diterima akan menjadi unsur yang hidup didalam kehidupan para pendukungnya. Ia menjadi bagian dari masa lalu yang dipertahankan sampai sekarang dan mempunyai kedudukan yang sama dengan inovasi-inovasi yang baru. Tradisi merupakan suatu gambaran sikap dan perilaku manusia yang telah berprosesdalam waktu lama dan dilakukan secara turun menurun dimulai dari nenek moyang. Tradisi yang telah membudaya akan menjadi sumber dalam berakhlak dan berbudi pekerti seseorang. Contoh tradisi Jawa : Slametan, Ruwatan, Larung sesaji (dilakukan masyarakat jawa yang tinggal di pesisir pantai). Budaya Jawa tadi pasti akan berbeda dengan budaya yang ada di Kalimantan karena budaya berkembang secara beragam berdasar kondisi lingkungan dan masyarakat itu sendiri. Penduduk di Dukuh Genting, memiliki tradisi yang berasal dari nenek moyang yang sampai sekarang masih dilakukan. Tradisi tersebut seperti Tujuh hari, Empat puluh hari, Seratus hari, Nyadran, Tolak balak, dan lain sebagainya. Dengan itu menunjukkan bahwa tradisi dan budaya di masyrakat begitu kental. Selain tradisi tersebut, masyarakat di Dukuh ini melakukan kegiatan Tahlilan, Slametan, Dzibaan, Pengajian Majelis Dzikir dan Sholawat, Halal bi Halal, Peringatan bulan Muharram, Khotmil Qur’an dan lain sebagainya. Dari hasil yang saya amati mengenai keyakinan di Dukuh Genting, dapat saya simpulkan bahwa keyakinan di Dukuh Genting, adalah Nahdlatul Ulama (NU). Saya dapat menyimpulkan seperti ini karena ada beberapa fakta yang menunjukkan bahwa masyarakat Dukuh Genting berkeyakian NU. Fakta yang pertama terkait dengan tradisi dan kebudayaan mereka yaitu Tahlilan, Slametan, Halal bi Halal, Dzibaan, Khotmil Qur’an dan lain sebagainya. Itu semua merupakan tradisi orang-orang NU. Yang dalam dakwahnya menggunakan pendekatan budaya masyarakat setempat. Fakta yang kedua mengenai tata cara shalat, b. Potensi Jama’ah Masjid Al-Ikhlas Didaerah rumah saya ada dua masjid besar yaitu masjid Al-Fattah berada di Dukuh Genting Rt. 02 dan Masjid Al-Ikhlas berada di Rt.03, disini saya akan memetakan potensi jamaah masjid Al-Ikhlas. dikarenakan masjid berada dekat dengan rumah saya dan masih satu lingkup Rt 03, oleh karena itu saya akan memaparkan hasil observasi saya sebagai berikut: Masjid Al-Ikhlas Dk. Genting RT03/ RW06 Figure 4 Peta Masjid Al-Ikhlas, Created by Rizki use Google Earth Takmir Masjid Al-Ikhlas Dukuh Genting adalah bapak Ma’sum usia 51 tahun, beliau bekerja menyablon baju. beliau menuturkan kegiatan-kegiatan yang biasanya dilaksanakan di masjid Al-Ikhlas sebagai berikut: N O 1 2 3 4 5 KEGIATAN HARI/TGL/BLN WAKTU Maulid Barzanji Sima’atul Qur’an Pembacaan doa akhir tahun Pembacaan doa awal tahun Sholat tarawih jamaah Malam Jum’at Sebulan sekali Akhir bulan dzulhijjah Tanggal 1 muharram Romadhon Ba’da Magrib Bulan jawa wage Ba’da ashar Ba’da magrib Ba’da isya’ 6 Tadarus al-qur’an Romadhon Ba’da tarawih 7 Penerimaan zakat fitrah 1 syawal Malam 8 Sholat idul fitri 1 syawal Pagi 9 Sholat idul adha 10 dzulhijjah Pagi *Sumber : Wawancara dengan Takmir Masjid Al-Ikhlas (bapak Ma’sum) pada 20 oktober 2019 Setelah diketahui bahwa agenda rutinan Masjid Al-Ikhlas, bisa saya simpulkan bahwa masjid ini berkeyakinan Nahdlatul Ulama (NU) karena kegiatan yang rutin dilakukan merupakan tradisi orang-orang NU seperti membaca Maulid Bazanji setiap malam jum’at ba’da magrib dan lainya. Masjid ini tidak digunakan sebagai TPQ karena sudah banyak masyarakat yang membuka TPQ/menjadi guru ngaji. Berikut merupakan pemamaparan mengenai potensi jamaah Shalat lima waktu: 1) Peta Jama’ah Shalat Subuh Figure 5 Peta Jamaah Shalat Subuh, Created by Rizki use Google Earth Jama’ah Shalat Subuh Jama’ah Putra 1. Bapak 8. Bapak 14. Bapak 20. Bapak Sukardi Surono Suwihadi Firman 2. Bapak 9. Bapak 15. Bapak 21. Bapak Matrokhim Suyuti Arifin Muhrozi 3. Bapak 10. Bapak 16. Bapak 22. Bapak Kasmiran Muntholib Sodri Muzeri 4. Bapak Suyadi 11. Bapak 17. Bapak 23. Bapak Fuad Fathan Khafid 5. Bapak 12. Bapak 18. Bapak 24. Bapak Bukhori Rifa’i Rizqon Munawir 6. Alfin 13.Dafa 19. Ilham 25. Fatih *Sumber: Observasi pada 21 September 2019 Jama’ah Putri 1. Ibu Marjanah 5. Ibu Uswatun 5. Ibu Rasiyem 2. Ibu 6. Ihda Mukhafatun 3. Ibu Kulsum 7. Mila 6. Azka 4. Ibu Sa’adah 8. Ibu Ngatemi 8. Ibu Ngatini 7. Musyafiah Ibu *Sumber: Observasi pada 21 September 2019 Dari peta jama’ah diatas dengan data yang disertakan, di Dk. Genting masih banyak jama’ah yang mengikuti sholat subuh di masjid Al-Ikhlas, karena penduduk di daerah saya belum meninggalkan rumahnya untuk bekerja atau sekolah diluar kampung selain itu memang di kampung saya agamanya sangat kuat, banyak dari masyarakat yang memiliki ilmu agama yang baik, seperti menjadi guru agama di sekolah, maupun guru ngaji, dan sampai ada yang hafidz dan hafidzah, dan juga disekitar rumah saya banyak pondok yang didirikan atau guru ngaji yang mempersilahkan untuk mengajarkan mengaji bagi anak-anak masyarakat yang ingin bisa mengaji. Jadi masih banyak orang-orang shalat melaksanakan shalat di masjid. Namun, jam’ah kebanyakan usianya dewasa dan tua ke atas dibandingkan dengan usia remaja. Jika dilihat faktornya kemungkinan para remaja malas untuk melaksanankan shalat di masjid karena mereka malas bangun pagi. Jadi mereka lebih memilih melaksanakan shalat subuh di rumah. Dan juga kebanyakan remaja di kampung Genting menimba ilmu di pondok luar kampung sehingga remaja di kampung saya tidak begitu banyak. Namun sebenarnya anak-anak usia 5-8 banyak yang mengikuti Shalat jama’ah di masjid namun nama-nama anak-anak kecil belum bisa saya cantumkan karena tidak memiliki data nama-nama anak tersebut, karena Takmir Masjid Jami’ Al-Ikhlas tidak memiliki datanya. Jika di dalam tabel jamaah diatas saya menyebut ibu/bapak berarti usianya 44-50 tahun keatas dan bila saya hanya menyebutkan nama berarti jamaah tersebut usianya 13-22 tahun, mengapa saya bisa memberikan kisaran umur seperti itu karena saya melihat kondisi dari jamaah tersebut dengan ciri-ciri fisiknya. Kebanyakan jamaah yang melaksanakan Shalat Subuh di masjid adalah orang-oarang tua dibandingkan dengan remajanya. 2) Peta Jama’ah Shalat Dhuhur Figure 6 Peta Jamaah Shalat Dhuhur, Created by Rizki use Google Earth Jama’ah Shalat Dhuhur Jama’ah Putra 1. Bapak Rohib 4. Bapak Muhrozi 2. Bapak Asromi 5. Bapak Nurudin 3. Bapak Dhori 6. Bapak Alfin *Sumber: Observasi pada 21 September 2019 7. Bapak Amin 8. Bapak Rifa’i 9. Bapak Fuad Jama’ah Putri 1. Ibu Rasiyem 3. Ibu Ngatini 2. Ibu Musyafiah 4. Ibu Marjanah *Sumber: Observasi pada 21 September 2019 Dari peta jama’ah diatas dengan data yang disertakan, pada waktu sholat dhuhur jama’ah berkurang drastis lebih sedikit dikarenakan banyak masyarakat Dk. Genting yang bekerja dan bersekolah di luar kampung, jadi masjid hanya diisi oleh masyarakat yang mungkin pekerjaannya di rumah atau bekerja sebagai serabutan. Jika dilihat tabel diatas tidak ada sama sekali remaja yang melaksanakan shalat jamaah dhuhur di masjid di karenakan banyak yang tidak dirumah karena bekerja dan sekolah. Jadi masjid hanya di isi oleh jamaah dengan kisaran umur 40-50 tahun ke atas yang mana mereka sudah tidak bekerja atau hanya sebagai pekerja panggilan saja (serabutan). 3) Peta Jama’ah Shalat Ashar Figure 7 Peta Jamaah Shalat Ashar, Created by Rizki use Google Earth Jama’ah Shalat Ashar Jama’ah Putra 1. Bapak Fuad 4. Bapak Muhrozi 7. Bapak Jumali 2. Bapak Suyadi 3. Bapak Ma’sum 5. Bapak Mi’an 8. Bapak Rizqon 6. Bapak 9. Bapak Suyuti Kasmiran *Sumber: Observasi 22 Septenber 2019 10. Bapak Muntholib 11. Bapak Rohib 12. Fatih Jama’ah Putri 1. Ibu Fathiyyah 4. Ibu Musyafi’ah 2. Ibu Uswatun 5. Ibu Marjanah 3. Ibu Nur 6. Azka *Sumber: Observasi 22 September 2019 7. Menik 8. Ibu Dewi 9. Via 10. Fina 11. Ana 12. Rina Dari peta jama’ah diatas dengan data yang disertakan, Jama’ah pada shalat Ashar bertambah namun tidak banyak, karena ada masyrakat yang sudah pulang dari bekerja atau sekolah sehingga mereka dapat mengikuti shalat jama’ah ashar di masjid. Jamaah masjid di Al-Ikhlas pada shalat Ashar diisi oleh beragam usia dari usia 44-50 tahun keatas, ada pula remaja 13-22 tahun dan usia kanak kanak kisaran umur 5-8 tahun. Walaupun lebih banyak usia tua dibandingkan yang muda ini dikarenakan para anak muda pada saat ini banyak yang malas dalam menjalankan shalat jamaah di masjid. 4) Peta Jama’ah Sholat Magrib Figure 8 Peta Jamaah Shalat Magrib, Created by Rizki use Google Earth Jama’ah Shalat Magrib Jama’ah Putra 1. Bapak Sukardi 22. Mbah Syarip 2. Bapak Sobirin 8. Bapak 15. Bapak Fuad Suwihadi 9. Bapak Arifin 16. Bapak Jumali 3. Bapak Kasmiran 10. Bapak Surono 24. Alfin 4. Bapak Suyadi 11. Bapak Muzeri 17. Bapak Rizqon 23. Fatih 18. Bapak 25. Dafa Muhrozi 5. Bapak Bukhori 12. Bapak 19. Bapak 26. Bapak Mi’an Muntholib Munawir 6. Bapak Mansur 13. Zaki 20. Diki 27. Kevin 7. Bapak Ma’sum 14. Muhammad 21. Vando *Sumber: Observasi pada 20 Oktober 2019 Jama’ah Putri 1. Ibu Musyafiah 5. Ibu Muzaidah 2. Ibu Salamah 6. Ibu Uswatun 3. Mila 7. Ibu Nur Rifah 4. Ihda 8. Ibu Sa’adah *Sumber: Observasi pada 20 Oktober 2019 9. Ibu Muawanah 10. Ibu Fathiyyah 11. Ibu Dewi 12. Via 13. Rina 14. Ana 15. Fina 16. Ibu Ngatemi Dari peta jama’ah diatas dengan data yang disertakan, dapat diketahui bahwa shalat magrib merupakan waktu dimana jama’ah lebih banyak yang melaksanakan sholat magrib di masjid, selain dewasa juga ada juga pula remaja. Hal ini terjadi karena waktu magrib merupakan waktu yang singkat dalam melaksanakan shalat magrib jadi agar tepat waktu mereka melaksanakannya mereka berusaha untuk melakukannya di masjid secara berjama’ah dan kebanyakan dari masyarakat sudah berada di rumah masing-masing. 5) Peta Jama’ah Shalat Isya Figure 9 Peta Jamaah Shalat Isya, Created by Rizki use Google Earth Jama’ah Shalat Isya Jama’ah Putra 1. Bapak Sukardi 2. Bapak Sobirin 3. Bapak Kasmiran 4. Bapak Suyadi 5. Zaki 6. Muhammad 7. Bapak Ali 8. Bapak Ahmad *Sumber: Observasi pada 20 Oktober 2019 Jama’ah Putri 9. Bapak Mi’an 10. Bapak Bukhori 11. Fatih 12. Alfin 13. Kevin 14. Bapak Muhrozi 15. Bapak Mansur 16. Bapak Syarip 1. Ihda 5. Ibu Uswatun 2. Ibu Nur Rifah 6. Ibu Salamah 3. Ibu Sa’adah 7. Ibu Musyafiah 4. Mila 8. Ibu Fathiyyah *Sumber: Observasi pada 20 Oktober 2019 Dari peta jama’ah diatas dengan data yang disertakan, jama’ah shalat isya’ berkurang daripada sholat magrib dikarenakan jama’ah yang pulang ke rumahnya masing-masing malas untuk pergi ke masjid kembali karena sudah malam tidak baik untuk jamaah putri untuk keluar malam, dan adapula jama’ah putra yang bekerja di malam hari. Jadi lebih memilih untuk shalat di rumah. Kesimpulan dari seluruh pemaparan mengenai shalat 5 waktu yang dilaksanakan di masjid Jami’ Al-ikhlas baik karena tidak sepi dari jama’ah yang melaksanakan shalat di masjid tersebut walaupun di waktu Dhuhur dan Ashar sedikit sekali jamaah yang melakukan shalat di masjid karena kesibukan primernya masing-masing. Karena lagi-lagi faktor ekonomi yang membuat masyarakat kurang memperhatikan masjid. Karena kebanyakan dari mereka adalah bekerja sebagai serabutan sehingga mau tidak mau harus menjalankannya untuk kelangsungan hidupnya. c. Kegiatan Zakat (Zakat Fitrah dan Zakat Mal) Zakat Fitrah adalah zakat diri yang diwajibkan atas diri setiap individu laki-laki dan perempuan muslim yang berkemampuan dengan syarat-syarat yang ditetapkan. Berikut adalah syarat yang menyebakan individu wajib membayar zakat fitrah:  Individu yang mempunyai kelebihan makanan tanggungannya pada malam dan pagi hari raya.  Anak yang lahir sebelum matahari jatuh pada akhir bulan Ramadhan dan hidup selepas terbenam matahari.  Memeluk islam sebelum terbenam matahari pada akhir bulan Ramadhan dan tetap dalam islamnya.  Seseorang yang meninggal selepas terbenam matahari akhir Ramadhan. dan hartanya dari keperluan Besar zakat yang dikeluarkan adalah setara sengan 3,5 liter atau 2.7 kg makanan pokok yang biasanya diserahkan berupa beras atau dapat membayarkannya dengan uang seniali dengan makanan pokok tersebut. Waktu pengeluarannya paling lambat sebelum orang-orang melaksanakan Shalat ied. Jika waktu penyerahkan melewati batas ini maka yang diserahkan tersebut tidak termasuk dalam kategori zakat melainkan sedekah biasa. Zakat Fitrah yang telah di kumpulkan oleh amil zakat Masjid Al-Ikhlas akan di bagikan kepada 8 golongan yaitu fakir, miskin, amil, muallaf, hamba sahaya, gharimin, fisabilillah, ibnu sabil). Zakat Mal adalah zakat yang dikenakan atas harta yang dimiliki oleh individu dengan syaratsyarat dan ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan secara syarak. Dari hasil wawancara yang saya lakukan dengantakmir masjid Al-Ikhlas beliau mengatakan bahwa “kami tidak menerima zakat mal, atau meniadakan zakat mal.” Karena melihat kondisi masyarakat yang kurang mampu dan penerimaan dan penyaluran zakat mala agak sedikit sulit dibandingkan dengan zakat fitrah. d. Orang yang sudah melaksankan Haji dan Umroh di Dukuh Genting. Haji 1. H. Ali Mas’ud 2. Hj. Nur Rifah 3. Hj. Musyafi’ah 4. H. Ahmad Rachim Umroh 1. Bapak Ma’sum 2. Bapak Muranto 3. Ibu Faidah 4. Ibu Umi Badriyah 5. Hj. Mukhafatun 5. Bapak Mansur 6. H. Ahmad Syarip 6. Ibu Suamirah 7. Hj. Munawaroh 8. Hj. Salamah *Sumber: Wawancara dengan Bapak Ma’sum (takmir masjid Al-Ikhlas) pada 20 Oktober 2019 Dari peta jama’ah diatas dengan data yang disertakan, merupakan data masyarakat yang sudah melakukan haji dan umroh, namun belum seluruhnya nama-nama yang dicantumkan karena ketika saya wawancara dengan takmir masjid jami’ Al-Ikhlas beliau hanya menyebutkan orang-orang yang melaksanakan haji dan umroh tidak tercatat. e. Pelaksanaan Qurban di Dukuh Genting Seperti halnya Qurban yang dilakukan di masjid-masjid lain biasanya Qurban dilaksanakan setelah melaksanakan Shalat idul Adha, dengan hewan-hewan Qurban sebagai berikut: Unta : Sapi : 2 ekor Kambing : 7 ekor Hewan Qurban di peroleh dari iuran masyarakat, jika ada seseorang yang ingin berkurban tapi ia tidak sanggup untuk membeli sendiri maka ia akan mencari teman untuk membeli hewan qurban sehingga takmir masjid menuturkan bahwa “kami tidak pernah mencacat siapa saja yang berkurban karena hewan kurban yang diberikan ke masjid merupakan hasil patungan masyarakat.” Sehingga tidak ada catatan yang jelas mengenai hewan qurna yang diqurbankan atas nama siapa. 6. Problema Dasar, Solusi dan Rekomendasi a. Problema Dasar Umat Islam  Masalah Warga Dk. Meteseh adalah tingkat ekonomi yang rendah oleh sebagian warga.  Kurangnya kesadaran menempuh pendidikan tinggi bagi anak-anak muda di kampung Genting Meteseh kebanyak mereka hanya lulusan SMP/SMA sederajat.  Kurangnya perhatian dari pemerintah, seharusnya dari pihak pemerintah mampu memberikan bimbingan dan pendampingan agar mereka (warga Dk. Genting Rt.03/Rw.06) mampu merubah ekonominya menjadi lebig baik.  Kurangnya sikap ikhlas dalam masyarakat, sering dijumpai pada saat ada acara pengajian kebanyakan warga yang ketempatan mengmbil untung seperti pengajian yang diadakan setiap minggu pasti ada uang kas, nah kebanyakan masyarakat memberikan makanan apa danya yang kadang tidak sesuai dengan jumlah jamaah karena ingin mendapatkan untung. b. Solusi terhadap problem dasar umat Islam di Dk. Genting Meteseh Rt.03/Rw.06  solusi tepat adalah memberikan penyadaran melalui kegiatan-kegiatan dakwah yang berbasis ilmu pengetahuan untuk para anak-anak muda dan masyarakat sekitar Dk. Genting Meteseh Rt.03/Rw.06 agar mereka paham bahwa pendidikan yang tinggi juga kan mampu menunjang kehidupan mereka.  Jika ekonomi yang begitu lemah di karenakan mereka merasa bahwa pekerjaan yang mereka jalani sudah mampu menopang kebutuhannya sehari-hari walaupun sangat minim, dan ada rasa takut gagal untuk beralih yang lebih baik. Maka perlu penyadaran dan pendampingan bagi mereka agar mau berkembang.  Memberikan penyadaran untuk bersiakap Ikhlas dalam melakukan amal terhadap sesama, bahwa sesungguhnya jika kita mampu memberikan sesuatu kepada orang lain maka nikmat Allah akan bertambah walaupun pada saat itu apa yang dimilikinya akan berkurang.  melakukan pemberdayaan ekonomi masyarakat dengan mengikutsertakan pemerintah dan tokoh masyarakat.  c. Rekomendasi  pendekatan dialog, dakwah yang terbuka, mencerahkan, mencerdaskan, serta interaksi sosial yang santun.  konsisten (sabar) dan berhati-hati (takwa).  membuat program untuk memerangi ekonomi masyarakat yang rendah. PENUTUP Kesimpulan Dakwah adalah kegiatan yang bersifat menyeru, mengajak, dan memanggil orang untuk beriman dan taat kepada Allah sesuai dengan garis aqidah, syari’at dan akhlak islam. Dalam pelaksanaan kegiatan dakwah tentu perlu adanya pemahaman tentang masalah yang dihadapi masyarakat sehingga dakwah lebih tepat sasaran. Dengan melakukan penelitan di suatu wilayah yang akan dijadikan kegiatan dakwah tentu akan memudahkan Da’i dalam mencapai tujuan dakwah. Selain itu dengan dakwah berbasis pemetaan Da’i mampu memberikan solusi-solusi yang di butuhkan di masyarakat tersebut. Dakwah di Dk Genting Meteseh ini, memang sudah baik namun tingkat ekonomi masyarakatnya masih buruk. Dikarenakan minimnya keterampilan dan standar pendidikan yang rendah. Maka hal ini dapat di petakan dan dicari solusinya agar masyarakat dengan segala potensi yang ada mampu berkembang. Seperti mengadakan kegiatan dakwah yang bersifat memberikan keterampilan dan pendidikan terhadap masyarakat. Setelah itu masyarakat tidak di tinggalkan begitu saja namun perlu diadakannya pedampingan sehingga mereka mampu mandiri. Kritik dan Saran Pada saat pembuatan makalah penulis menyadari bahwa banyak sekali kesalahan dan jauh dari kesempurnaan. Dengan sebuah pedoman yang bisa dipertanggungjawabkan dan banyaknya sumber penulis akan memperbaiki makalah tersebut. Oleh sebab itu, penulis mengharapkan kritik dan sarannya mengenai pembahasan makalah dalam kesimpulan diatas. LAMPIRAN FOTO DAN DOKUMENTASI Figure 10 wawancara dengan Tokoh Masyarakat (bapak Abdurrahman) Figure 11 gambar masjid al-Fattah Figure 12 wawancara dengan takmir Masjid Al-Ikhlas Figure 13 pengisian angket Figure 14 shalat Isya berjamaah di masjid Al-ikhlas Figure 15 shalat jamaah magrib di masjid Al-Ikhlas Figure 16 gambar masjid Al-Ikhlas

Judul: Tugas Peta Dakwah

Oleh: Rizki Fadilah

Ikuti kami