Sejarah Indonesia

Oleh Rizky Ardianto

121,5 KB 12 tayangan 2 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Sejarah Indonesia

B. Dari Konflik Menuju Konsensus Suatu Pembelajaran Tujuan yang nyata hanyalah satu,Republik Indonesia Serika yang merdeka,bersatu,bernaung Putih,bendera dibawah kebangsaan bendera Indonesia sejak sang saka Merah beribu-ribu tahun. (Soekarno,dalam konferensi BFO 1948). Salah satu guna sejarah adalah sebagai edukatif Negara. Maksudnya,dengan mempelajari sejarah maka orang dapat mengambil hikmah dari pengalaman yang pernah dilakukan masyarakat dan para pejuang pada masa lampau,yang tentu saja dapat dikaitkan dengan perjuangan masa sekarang. Keberhasilan di masa lampau akan dapat memberikan pengalaman pada masa sekarang. Sebaliknya,kesalahan masyarakat di masa lampau akan menjadi pelajaran berharga yang harus di waspadai di masa mendatang. Adapun beberapa hal yang perlu kita ketahui bersama guna menuju konsensus suatu pembelajaran,salah satunya adalah: 1. Kesadaran Terhadap Pentingnya Integrasi Bangsa Pentingnya kesadaran terhadap intergrasi bangsa dapat dihubungkan dengan masih terdapatnya potensi konflik dibeberapa wilayah Indonesia pada masa kini. Kementerian saja memetakan bahwa pada tahun 2014 Indonesia masih memiliki 184 daerah dengan potensi rawan konfik sosial. Enam diantaranya di prediksi memiliki tingkat kerawanan yang tinggi yaitu, papua, jawa barat, jakarta, sumatra utara, sulawesi utara, sulawesi tengah dan jawa tengah. Maka ada baiknya bila kita coba kembali merenungkan apa yang pernah di tulis oleh Moh.Hatta pada tahun 1932 tentang persatuan bangsa. Yang menurutnya “Dengan persatuan bangsa,suatu bangsa tidak dapat di bagi-bagi. Dipangkuan bangsa yang satu itu boleh terdapat berbagai paham politik,tetapi kalau datang mara bahaya... disanalah tempat kita menunjukan persatuan hati. Dan disanalah kita harus berdiri sebaris,kita menyusun persatuan dan menolak persatean”(Meutia Hatta,mengutip daulat rakyat 1931) Konflik bukan hanya dapat mengecam persatuan bangsa. Kita harus menyadari betapa konflik yang menyadari terjadi dapat menimbulkan banyak korban dan kerugian. Sejarah telah memberitahukan kita bagaimana pemberontakan-pemberontakan yang pernah terjadi selama masa tahun 1948 hingga 1965 telah menewaskan banyak sekali korban manusia. 2. Teladan Para Tokoh Persatuan Tokoh pahlwan Nasional yang resmi diangakat oleh pemerintah sebagai pahlawan Nasional ada 159 orang, tidak sembarangan orang memang dapat menyandang secara resmi gelar pahlawan Nasional. Ada beberapa keriteria yang harus dipenuhi salah satunya adalah memimpin dan melakukan perjuangan bersenjata atau perjuangan politik, perjuangan dalam bidang lain untuk mencapai merebut, seta mempertahankan kemerdekaan persatuan dan kesatuan bangsa. Kita akan ketahui beberapa tokoh dari papua serta keteladana mereka sebagai pahlawan Nasional ,tiga tokoh tersebut yakni Frans Kaisiepo, Silas Papare dan Marthen Indey. 1) Pahlawan Nasional dari Papua Frans Kaisiepo adalah salah satu tokoh papua pada tahun 1921-1979 yang mempopulerkan lagu Indonesia raya di papua saat menjelang Indonesia merdeka. Ia juga turut berperan dalam pendirian partai Indonesia merdeka (PIM) pada tanggal 10 mei 1946. Dengan tahun yang sama Kisiepo menjadi anggota delegasi papua dalam konferensi malindo di sulawesi selatan dimana ia sempat menyebut papua sebagai (Nederlands Nieuw Guinea) dengan nama iran yang konon diambil dari bahasa Biak yang diartikan sebagai negara panas. Namun kata iran diberi pengertian lain “ikut Republik Indonesia anti Nederlands (komensos 2013)” Dalam konferensi ini Kaisiepo juga menentang pembentukan Negara Indonesia timur (NIT) karena NIT tidak memasukan papua kedalamnya. Lalu ia mengusulkan papua dimasukkan keresidenan sulawesi utara. Tahun 1948 Kaisiepo ikut berperan dalam merancang pemberontakan rakyat Biak melawan pemerintahan koloniel belanda,setahun setelahnya ia menolak menjadi ketua delegasi Nederlands Nieuw Guinea ke konferensi meja bundar (KMB) di Den Haag. Konsekuwensi atas penolakannya adalah selama beberapa tahun setelah ia dipekerjakan oleh pemerintah kolonial didistrikan ke terpencil papua. Tahun 1961 ia mendirikan partai politik iran sebagai Indonesia (ISI) yang menurut penyatuan Nederlands Nieuw Guinea ke negara Republik Indonesia pada tahun terakhir yakni tahun 1960 kaisiepo berupaya akan penentukan pendapat rakyat (pepera) bisa di menangkan oleh masyarakat yang ingin papua bergabung ke Indonesia dan peroses tersebut akhirnya menjadikan papua sebagai bagian dari Republik Indonesia. Silas papare (1918-1978) membentuk komite indonesia merdeka (KIM) sekitar sebulan indonesia merdeka, dibentuk pada bulan september 1945 untuk menghimpun kekuatan dan mengatur gerak langkah dalam membela dan mempertahan proklamasi 17 agustus 1945. Silas Papare dan Marthen Indey dianggap mempengaruhi batalion papua bntukan sekutu nuk memberontak terhadap Belanda. Lalu ditangkap dan dipenjara di Holandia Jayapura. Setelah keuar dari negara Silas Papare mendirikan paratai kemerdekaan Irian karna belanda tidak senang Ia ditangkap dan dikemablikan kedalam penjara di Biak. Partai ini kemudia diundang pemerintah RI ke Yogyakarta Silas Papare sudah bebas pergi kesana bersama teman-temannya guna membentuk badan perjuanagan Irian di Yogyakarta. Sepanjang tahun 1950. Ia berusaha keras agar papua menjadi bagian RI, tahun 1962 Ia mewakili irian barat sebagai delegasi RI dalam perundingan New York, antara Indonesia Belanda “New York Agreement” ini belanda akhirnya setuju mengambalikan papua ke Indonesai. Marthen Indey (1912-1986), sebelum Jepang masuk ke Indonesia adalah seorang anggota polisi India Belanda. Ke Indonesiaan yang Ia miliki justru semakin tumbuh dan Ia kerap berinteraksi dengan tahanan politik indonesia yang dibuang belanda ke Papua. Ia pernah berancana bersama anak buahnya untuk memberonak terhadap belanda di Papua namun gagal, tahun 194-1947 Indey masih menjadi pegawai pemerintah Belanda sebagai kepala distrik. Bersama-sama kaum nasionalis di Papua secara sembunyi-sembunyi Ia menyiapkan pemberontakan tetapi gagal dilaksanakan. Tahun 1946 Marthen Indey menjadi ketua Partai Indonesia Merdeka (PIM) memimpin sebuah aksi protes yang didukung oleh delegasi Dua Belas kepala suku terhadap keinginan belanda yang ingin memisahkan Papua dengan Indonesai. Marthen Indey terang-tengan menghimbau angota militer yang bukan belanda agar melancarkan perlawanan tehadap belanda, pemerintah belanda menangkap dan memejarakan Marthen Indey Tahun 1962 saat Inday tak lagi dipenjara, Ia mnyusun kekuaatan Gerilya sambil menunggu kedatangan tentara Indonesia yang akan diterjunkan ke Papua dalam rangka Oprasi Tri Kora. Saat perang usai ia berangkat ke New York untuk memperjuangkan masuknya Papua ke wilayah Indonesia di PBB da hinggah akhirnya Papua menjadi RI. 2) Para Raja yang Berkorban Untuk Bangsa Sultan Hamengkubuwono IX (1912-1988). Pada tahun 1940, ketika Sultan Hamengkubuwono IX dinobatkan menjadi raja Yogjakarta, ia dengan tegas menunjukkan sikap nasionalismenya. Dalam pidatonya saat itu, ia mengatakan: “Walaupun saya telah mengenyam pendidikan Barat yang sebenarnya, namun pertama-tama saya adalah dan tetap adalah orang Jawa.”(Kemensos, 2012) Sikapnya ini kemudian diperkuat manakala tidak sampai 3 minggu setelah proklamasi 17 Agustus 1945 dibacakan, Sultan Hamengkubuwono IX menyatakan Kerajaan Yogjakarta adalah bagian dari negara Republik Indonesia. Dimulai pada tanggal 19 Agustus, Sultan mengirim telegram ucapan selamat kepada Soekarno-Hatta atas terbentuknya Republik Indonesia dan terpilihnya Soekarno-Hatta sebagai Presiden dan Wakil Presiden. Para Raja yang Berkorban Untuk Bangsa – Tanggal 20 Agustus besoknya, melalui telegram kembali, Sultan dengan tegas menyatakan berdiri di belakang Presiden dan Wakil Presiden terpilih. Dan akhirnya pada tanggal 5 September 1945, Sultan Hamengkubuwono IX memberikan amanat bahwa: 1. Ngayogyakarta Hadiningrat yang bersifat kerajaan adalah daerah istimewa dari Republik Indonesia. 2. Segala kekuasaan dalam negeri Ngayogyakarta Hadiningrat dan urusan pemerintahan berada di tangan Hamengkubuwono IX. 3. Hubungan antara Ngayogyakarta Hadiningrat dengan pemerintah RI bersifat langsung dan Sultan Hamengkubuwono IX bertanggung jawab kepada Presiden RI. Melalui telegram dan amanat ini, sangat terlihat sikap nasionalisme Sultan Hamengkubuwono IX. Bahkan melalui perbuatannya. Sejak awal kemerdekaan, Sultan memberikan banyak fasilitas bagi pemerintah RI yang baru terbentuk untuk menjalankan roda pemerintahan. Markas TKR dan ibukota RI misalnya, pernah berada di Yogjakarta atas saran Sultan. Bantuan logistik dan perlindungan bagi kesatuan-kesatuan TNI tatkala perang kemerdekaan berlangsung, juga ia berikan. Sultan Hamengkubuwono IX juga pernah menolak tawaran Belanda yang akan menjadikannya raja seluruh Jawa setelah agresi militer Belanda II berlangsung. Belanda rupanya ingin memisahkan Sultan yang memiliki pengaruh besar itu dengan Republik. Bukan saja bujukan, Belanda bahkan juga sampai mengancam Sultan. Namun Sultan Hamengkubuwono IX malah menghadapi ancaman tersebut dengan berani. Meskipun berstatus Sultan, Hamengkubuwono IX dikenal pula sebagai pribadi yang demokratis dan merakyat. Banyak kisah menarik yang terjadi dalam interaksi antara Sultan dan masyarakat Yogyakarta. Cerita yang dikisahkan oleh SK Trimurti dan diolah dari buku “Takhta Untuk Rakyat” berikut ini, menggambarkan hal tersebut. Trimurti adalah istri Sayuti Melik, pengetik naskah teks proklamasi : Pingsan Gara-Gara Sultan Kejadiannya berlangsung pada tahun 1946, ketika pemerintah Republik Indonesia pindah ke Yogyakarta. Saat itu, SK Trimurti hendak pulang menuju ke rumahnya. Penasaran dengan kerumunan orang di jalan, iapun singgah. Ternyata ada perempuan pedagang yang jatuh pingsan di depan pasar. Uniknya, yang membuat warga berkerumun bukanlah karena perempuan yang jatuh pingsan tadi, melainkan penyebab mengapa perempuan tersebut jatuh pingsan. Cerita berawal ketika perempuan pedagang beras ini memberhentikan sebuah jip untuk ikut menumpang ke pasar Kranggan. Sesampainya di Pasar Kranggan, ia lalu meminta sopir jip untuk menurunkan semua dagangannya. Setelah selesai dan bersiap untuk membayar jasa, sang sopir dengan halus menolak pemberian itu. Dengan nada emosi, perempuan pedagang ini mengatakan kepada sopir jip, apakah uang yang diberikannya kurang. Tetapi tanpa berkata apapun sopir tersebut malah segera berlalu. Seusai kejadian, seorang polisi datang menghampiri dan bertanya kepada si perempuan pedagang : “Apakah mbakyu tahu, siapa sopir tadi?” “Sopir ya sopir. Aku ndak perlu tahu namanya. Dasar sopir aneh,” jawab perempuan pedagang beras dengan nada emosi. “Kalau mbakyu belum tahu, akan saya kasih tahu. Sopir tadi adalah Sri Ngayogyakarta Sultan ini.” Hamengkubuwono jawab polisi. IX, Seketika, raja di perempuan pedagang beras tersebut jatuh pingsan setelah mengetahui kalau sopir yang dimarahinya karena menolak menerima uang imbalan dan membantunya menaikkan dan menurunkan beras dagangan, adalah rajanya sendiri! (Tahta Untuk Rakyat, Atmakusumah (ed), 1982)” Sultan Syarif Kasim II (1893-1968). Sultan Syarif Kasim II dinobatkan menjadi raja Siak Indrapura pada tahun 1915 ketika berusia 21 tahun. Ia memiliki sikap bahwa kerajaan Siak berkedudukan sejajar dengan Belanda. Berbagai kebijakan yang ia lakukan pun kerap bertentangan dengan keinginan Belanda. Ketika berita proklamasi kemerdekaan Indonesia sampai ke Siak, Sultan Syarif Kasim II segera mengirim surat kepada Soekarno-Hatta, menyatakan kesetiaan dan dukungan terhadap pemerintah RI serta menyerahkan harta senilai 13 juta gulden untuk membantu perjuangan RI. Ini adalah nilai uang yang sangat besar.Tahun 2014 kini saja angka tersebut setara dengan Rp. 1,47 trilyun. Kesultanan Siak pada masa itu memang dikenal sebagai kesultanan yang kaya.Tindak lanjut berikutnya, Sultan Syarif Kasim II membentuk Komite Nasional Indonesia di Siak, Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dan Barisan Pemuda Republik. Ia juga segera mengadakan rapat umum di istana serta mengibarkan bendera Merah-Putih, dan mengajak raja-raja di Sumatera Timur lainnya agar turut memihak republik. Saat revolusi kemerdekaan pecah, Sultan aktif mensuplai bahan makanan untuk para laskar. Ia juga kembali menyerahkan kembali 30 % harta kekayaannya berupa emas kepada Presiden Soekarno di Yogyakarta bagi kepentingan perjuangan. Ketika Van Mook, Gubernur Jenderal de facto Hindia Belanda, mengangkatnya sebagai “Sultan Boneka”Belanda, Sultan Syarif Kasim II tentu saja menolak. Ia tetap memilih bergabung dengan pemerintah Republik Indonesia. Atas jasanya tersebut, Sultan Syarif Kasim II dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh pemerintah Indonesia. 3. Wujudkan Integrasi Melalui Seni dan Sastra Ismail Marzuki Ismail Marzuki (1914 – 1958). Dilahirkan di Jakarta, Ismail Marzuki memang berasal dari keluarga seniman. Di usia 17 tahun ia berhasil mengarang lagu pertamanya, berjudul “O Sarinah”. Tahun 1936, Ismail Marzuki masuk perkumpulan musik Lief Java dan berkesempatan mengisi siaran musik di radio. Pada saat inilah ia mulai menjauhkan diri dari lagu-lagu barat untuk kemudian menciptakan lagu-lagu sendiri. Lagu-lagu yang diciptakan Ismail Marzuki itu sangat diwarnai oleh semangat kecintaannya terhadap tanah air. Latar belakang keluarga, pendidikan dan pergaulannyalah yang menanamkan perasaan senasib dan sepenanggungan terhadap penderitaan bangsanya. ketika RRI dikuasai Belanda pada tahun 1947 misalnya, Ismail Marzuki yang sebelumnya aktif dalam orkes radio memutuskan keluar karena tidak mau bekerjasama dengan Belanda. Ketika RRI kembali diambil alih republik, ia baru mau kembali bekerja di sana. 4. Perempuan Pejuang Opu Daeng Risaju “Kalau hanya karena adanya darah bangsawan mengalir dalam tubuhku sehingga saya harus meninggalkan partaiku dan berhenti melakukan gerakanku, irislah dadaku dan keluarkanlah darah bangsawan itu dari dalam tubuhku, supaya datu dan hadat tidak terhina kalau saya diperlakukan tidak sepantasnya.”(Opu Daeng Risaju, Ketua PSII Palopo 1930) Itulah penggalan kalimat yang diucapkan Opu Daeng Risaju,seorang tokoh pejuang perempuan yang menjadi pelopor gerakan Partai Sarikat Islam yang menentang kolonialisme Belanda waktu itu, ketika Datu Luwu Andi Kambo membujuknya dengan berkata “Sebenarnya tidak ada kepentingan kami mencampuri urusanmu, selain karena dalam tubuhmu mengalir darah “kedatuan,” sehingga kalau engkau diperlakukan tidak sesuai dengan martabat kebangsawananmu, kami dan para anggota Dewan Hadat pun turut terhina. Karena itu, kasihanilah kami, tinggalkanlah partaimu itu!”(Mustari Busra, hal 133).Namun Opu Daeng Risaju, rela menanggalkan gelar kebangsawanannya serta harus dijebloskan kedalam penjara selama 3 bulan oleh Belanda dan harus bercerai dengan suaminya yang tidak bisa menerima aktivitasnya. Semangat perlawanannya untuk melihat rakyatnya keluar dari cengkraman penjajahan membuat dia rela mengorbankan dirinya. Nama kecil Opu Daeng Risaju adalah Famajjah. Ia dilahirkan di Palopo pada tahun 1880, dari hasil perkawinan antara Opu Daeng Mawellu dengan Muhammad Abdullah to Barengseng. Nama Opu menunjukkan gelar kebangsawanan di kerajaan Luwu. Dengan demikian Opu Daeng Risaju merupakan keturunan dekat dari keluarga Kerajaan Luwu. Sejak kecil, Opu Daeng Risaju tidak pernah memasuki pendidikan Barat (Sekolah Umum), walaupun ia keluarga bangsawan. Boleh dikatakan, Opu Daeng Risaju adalah seorang yang “buta huruf” latin, dia dapat membaca dengan cara belajar sendiri yang dibimbing oleh saudaranya yang pernah mengikuti sekolah umum. Setelah dewasa Famajjah kemudian dinikahkan dengan H. Muhammad Daud, seorang ulama yang pernah bermukim di Mekkah. Opu Daeng Risaju mulai aktif di organisasi Partai Syarekat Islam Indonesia (PSII) melalui perkenalannya dengan H. Muhammad Yahya, seorang pedagang asal Sulawesi Selatan yang pernah lama bermukim di Pulau Jawa. H. Muhammad Yahya sendiri mendirikan Cabang PSII di Pare-Pare. Ketika pulang ke Palopo, Opu Daeng Risaju mendirikan cabang PSII di Palopo. PSII cabang Palopo resmi dibentuk pada tanggal 14 januari 1930 melalui suatu rapat akbar yang bertempat di Pasar Lama Palopo (sekarang Jalan Landau). Kegiatan Opu Daeng Risaju didengar oleh controleur afdeling Masamba (Malangke merupakan daerah afdeling Masamba). Controleur afdeling Masamba kemudian mendatangi kediaman Opu Daeng Risaju dan menuduh Opu Daeng Risaju melakukan tindakan menghasut rakyat atau menyebarkan kebencian di kalangan rakyat untuk membangkang terhadap pemerintah. Atas tuduhan tersebut, pemerintah kolonial Belanda menjatuhkan hukuman penjara kepada Opu Daeng Risaju selama 13 bulan. Hukuman penjara tersebut ternyata tidak membuat jera bagi Opu Daeng Risaju. Setelah keluar dari penjara Opu Daeng Risaju semakin aktif dalam menyebarkan PSII. Hukuman penjara tersebut ternyata tidak membuat jera bagi Opu Daeng Risaju. Setelah keluar dari penjara Opu Daeng Risaju semakin aktif dalam menyebarkan PSII. Walaupun sudah mendapat tekanan yang sangat berat baik dari pihak kerajaan dan pemerintah kolonial Belanda, Opu Daeng Risaju tidak menghentikan aktivitasnya. Dia mengikuti kegiatan dan perkembangan PSII baik di daerahnya maupun di tingkat nasional. Pada tahun 1933 Opu Daeng Risaju dengan biaya sendiri berangkat ke Jawa untuk mengikuti kegiatan Kongres PSII. Dia berangkat ke Jawa dengan biaya sendiri dengan cara menjual kekayaan yang ia miliki. Kedatangan Opu Daeng Risaju ke Jawa, ternyata menimbulkan sikap tidak senang dari pihak kerajaan. Opu Daeng Risaju kembali dipanggil oleh pihak kerajaan. Dia dianggap telah melakukan pelanggaran dengan melakukan kegiatan politik. Oleh anggota Dewan Hadat yang pro-Belanda, Opu Daeng Risaju dihadapkan pada pengadilan adat dan Opu Daeng Risaju dianggap melanggar hukum (Majulakkai Pabbatang). Anggota Dewan Hadat yang proBelanda menuntut agar Opu Daeng Risaju dijatuhi hukuman dibuang atau diselong. Akan tetapi Opu Balirante yang pernah membela Opu Daeng Risaju, menolak usul tersebut. Akhirnya Opu Daeng Risaju dijatuhi hukuman penjara selama empat belas bulan pada tahun 1934. Pada masa pendudukan Jepang Opu Daeng Risaju tidak banyak melakukan kegiatan di PSII. Hal ini dikarenakan adanya larangan dari pemerintah pendudukan Jepang terhadap kegiatan politik Organisasi Pergerakan Kebangsaan, termasuk di dalamnya PSII. Opu Daeng Risaju kembali aktif pada masa revolusi. Pada masa revolusi di Luwu terjadi pemberontakan yang digerakkan oleh pemuda sebagai sikap penolakan terhadap kedatangan NICA di Sulawesi Selatan yang berkeinginan kembali menjajah Indonesia. Ia banyak melakukan mobilisasi terhadap pemuda dan memberikan doktrin perjuangan kepada pemuda. Tindakan Opu Daeng Risaju ini membuat NICA berupaya untuk menangkapnya. Opu Daeng Risaju ditangkap dalam persembunyiannya. Kemudian ia dibawa ke Watampone dengan cara berjalan kaki sepanjang 40 km. Opu Daeng Risaju ditahan di penjara Bone dalam satu bulan tanpa diadili kemudian dipindahkan ke penjara Sengkang dan dari sini dibawa ke Bajo. Selama di penjara Opu Daeng mengalami penyiksaan yang kemudian berdampak pada pendengarannya, ia menjadi tuli seumur hidup. Setelah pengakuan kedaulatan RI tahun 1949, Opu Daeng Risaju pindah ke Pare-Pare mengikuti anaknya Haji Abdul Kadir Daud yang waktu itu bertugas di ParePare. Sejak tahun 1950 Opu Daeng Risaju tidak aktif lagi di PSII, ia hanya menjadi sesepuh dari organisasi itu. Pada tanggal 10 Februari 1964, Opu Daeng Risaju meninggal dunia. Beliau dimakamkan di pekuburan raja-raja Lokkoe di Palopo.

Judul: Sejarah Indonesia

Oleh: Rizky Ardianto


Ikuti kami