Tugas Kimia Medisinal

Oleh Linda Laksmiani

1004,7 KB 6 tayangan 1 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Tugas Kimia Medisinal

TUGAS KIMIA MEDISINAL HUBUNGAN KUALITATIF DAN KUANTITATIF STRUKTURAKTIVITAS OBAT ANALGESIK “Analisis Hubungan Kuantitatif Struktur dan Aktivitas Analgesik Senyawa Turunan Meperidin Menggunakan Metode Semiempiris AM1” DISUSUN OLEH : KELOMPOK 2 NI MADE ADI YUNINGSIH (1608551009) TASYA PRAMISWARI (1608551010) PUTU ANDIKA DHANANJAYA (1608551011) ANAK AGUNG GDE JAYA SANTIKA (1608551012) PUTU YUNITA (1608551013) NI KADEK CORNELIA AYU TRISNA (1608551014) PROGRAM STUDI FARMASI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS UDAYANA 2019 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Analgesik adalah senyawa yang dapat menekan fungsi SSP secara selektif digunakan untuk mengurangi rasa sakit tanpa mempengaruhi kesadaran. Berdasarkan cara kerja farmakologisnya analgesik dapat dibedakan menjadi 2 yaitu, analgesik non-narkotik dan analgesik narkotik. Aktivitas analgesik narkotik jauh lebih besar dibandingkan dengan golongan analgesik non narkotik, sehingga disebut pula analgesik kuat (Siswandono,2008). Salah satu contoh obat yang termasuk dalam golongan analgesik narkotik adalah Meperidin atau dikenal juga sebagai petidin (Tjay dan Rahardja. 2007). Meperidin menimbulkan efek analgesia, sedasi, euphoria, depresi nafas dan efek sentral lain. Metabolisme meperidin terutama berlangsung di hati. Dalam tubuh manusia meperidin mengalami hidrolisis menjadi asam meperidinat yang sebagian mengalami konjugasi. Mekanisme kerja meperidin sama seperti morfin, yakni berikatan dengan reseptor opioid pada SSP (Taketomo, 2003), yang mana kerja dari suatu obat sangat dipengaruhi oleh jenis dan afinitas interaksinya dengan reseptor. Jenis dan intensitas hubungan interaksi antara senyawa obat dan sistem biologis sangat ditentukan oleh sifat fisika dan kimia molekul obat. Sifat fisika kimia molekul obat dipengaruhi oleh bentuk struktur kimia dari obat tersebut, meliputi jenis, jumlah, dan ikatan antar atom, serta susunan ruang atom yang membentuk molekulnya. Oleh karena itu, penting untuk mengetahui hubungan struktur molekul Meperidin terhadap aktivitas analgesik yang dihasilkan. Mempelajari aktivitas suatu obat dengan metode HKSA (Hubungan Kuantitatif Struktur-Aktivitas) atau Quanti-tative Structure-Activity Relationship (QSAR) melibatkan beberapa parameter. Ada tiga macam parameter fisika kimia yang dapat digunakan untuk memprediksi molekul obat baru yang lebih potensial, yaitu parameter hidrofobik, efek elektronik, dan efek sterik. Untuk mendesain dan mempelajari HKSA turunan obat meperidin dapat dilakukan secara komputasi (in silico). Menurut Satpathy dkk. (2010), metode in silico memiliki peluang keberhasilan yang besar, serta keuntungan lainnya yaitu waktu yang digunakan 1 relatif singkat den biayanya lebih rendah dalam evaluasi bioaktivitas obat jika dibandingkan dengan pengujian secara eksperimen. Analisis hubungan kuantitatif struktur dan aktivitas diperoleh informasi bahwa aktivitas biologis senyawa analog yang dinyatakan dalam log (1/IC50) dipengaruhi oleh deskriptor sterik, elektronik, dan hidrofobik (Tahir et al., 2012). Oleh karena itu, dalam penelitian ini hubungan kuantitatif antara sifat fisika dan sifat kimia senyawa turunan meperidin dikaji dan dianalisis terhadap aktifitas biologisnya, yang dinyatakan dalam ED50. Percobaan ini menggunakan tiga buah parameter, yaitu parameter hidrofobik berupa koefisien partisi (Log p), parameter sterik berupa luas permukaan, refraktifitas molar, volume molekul, massa molekul, energi hidrasi, dan parameter elektronik berupa muatan bersih atom rantai induk, energi orbital molekul HOMO (Highest Occupied Molecular Orbital), dan energi orbital molekul LUMO (Lowest Unoccupied Molecular Orbital) yang dihitung dengan software HyperChem 8.0, menggunakan metode semiempiris AM1. Metode ini dipilih karena dirancang untuk memproduksi panas pembentukan dan struktur dari sejumlah besar molekul organik, yang kemudian setiap parameter tersebut dianalisis hubungannya secara statistik dengan aktivitas biologis yang diambil dari literatur menggunakan software SPSS 17 for windows). 1.2. Tujuan Penelitian Untuk mengetahui cara desain obat dari senyawa turunan meperidin terhadap aktivitas analgesik molekul obat dengan menggunakan metode semiempiris AM1. 2 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Analgesik Analgesik merupakan zat yang dapat mengurangi rasa nyeri (Tjay dan Rahardja, 2007). Obat analgesik dibagi dalam dua kelompok, yaitu analgesik golongan non-opioid dan analgesik golongan opioid. Analgesik golongan nonopioid merupakan obat yang mampu menghilangkan atau meringankan rasa sakit tanpa berpengaruh pada sistem susunan saraf pusat. Analgesik golongan non-opioid tidak mengakibatkan efek ketagihan dan ketergantungan pada penggunanya. Mekanisme kerja analgesik golongan non-opioid ini adalah menghambat kerja enzim siklooksigenase (COX) sehingga proses pembentukan asam arakhidonat menjadi prostaglandin terhambat. Contoh analgesik golongan non-opioid adalah parasetamol, salisilat, NSAID (Non-steriodal Anti-Inflammatory Drugs), ibuprofen dan derivat antranilat (Mita dan Husni, 2017). Analgesik golongan opioid merupakan obat yang memiliki sifat seperti opium atau morfin yang bekerja pada sistem saraf pusat. Mekanisme kerja analgesik golongan opioid yaitu mengaktivasi reseptor opioid pada sistem saraf pusat (SSP) untuk mengurangi rasa nyeri. Aktivasi obat diperantarai oleh reseptor miu (µ) dan kappa (ĸ). WHO merekomendasikan penggunaan analgesik golongan opioid untuk pengobatan rasa nyeri yang akut atau kronik seperti kanker dan fraktur tulang. Contoh obat analgesik golongan opioid yaitu metadon, fentanil, kodein dan petidin (Mita dan Husni, 2017). 2.2 Meperidin Hidroklorida (Petidin) Meperidin atau petidin adalah golongan analgesik opioid yang memiliki struktur yang mirip dengan morfin, atropin, kokain dan histamin. Miperidin merupakan agonis opioid fenilpiperidin yang memiliki beberapa efek farmakologis seperti analgesik, spasmolotik, anastesi umum serta antihistamin. Meperidine bekerja dengan mengikat pada reseptor opioid yaitu miu (µ) dan kappa (ĸ). Meperidine memiliki kekuatan 10 kali lebih kuat dari morfin (Anderson et al., 2002; Botan and Lapena, 2015). 3 Meperidin biasanya digunakan secara intramuskular (IM) tetapi di absorbasi di gastrointestinal. Meperidine mengalami metabolisme (biotransofrmasi) di hati selama 2-4 jam melalui proses N-dimetilasi menjadi normeperidin (norpetidin) dan diekskresikan melalui urine (Botan and Lapena, 2015). Meperidin hidroklorida (petidin) memiliki rumus molekul C15H21NO2.HCl dan rumus kimia 4-piperidin asam karboksiklik, 1-metil-4-fenil-etilester hidroklorida (Sandoz, 2018). Struktur meperidin dapat dilihat pada Gambar 1. Gambar 1. Struktur kimia Miperidin HCl (Sandoz, 2018). 2.3 HKSA (Hubungan Kuantitatif Struktur Aktivitas) Hubungan kuantitatif struktur aktivitas (HKSA) merupakan bagian penting dalam melakukan perancangan obat dalam usaha mendapatkan suatu obat baru dengan aktivitas yang lebih besar, keselektifan yang lebih tinggi, toksisitas atau efek samping sekecil mungkin dan kenyamanan yang lebih besar (Siswandono dan Soekardjo, 2008). Asumsi mendasar dari HKSA yaitu struktur suatu molekul (secara geometri, elektronik maupun sterik) bertanggung jawab terhadap sifat fisika, kimia dan respon biologisnya yang digamparkan dalam beberapa deskriptor. Tujuan HKSA adalah untuk memprediksikan hubungan kuantitatif antara deskripsi dari sifat-sifat fisika senyawa dan aktivitas biologis, menentukkan struktur senyawa yang dapat menghasilkan ikatan optimum dengan reseptor, dan untuk mendesain satu seri senyawa untuk memaksimalkan informasi yang berkaitan dengan struktur untuk aktivitas dari sejumlah kecil senyawa uji (Mushilihin, 2015). Ada beberapa model pendekatan hubungan kuantitatif struktur aktivitas antara lain adalah pendekatan HKSA Free-Wilson, pendekatan HKSA Hansch, pendekatan mekanika kuantum dan pendekatan konektivitas molekul. Pendekatan HKSA Hansch merupakan konsep bahwa hubungan struktur kimia dengan aktivitas 4 biologis (log 1/C) suatu turunan senyawa dapat dinyatakan secara kuantitatif melalui parameter-parameter sifat fisika kimia dari substituen yaitu parameter hidrofobik (ℼ), elektronik (σ) dan sterik (Es) (Siswandono dan Soekardjo, 2008). Parameter hidrofobik atau lipofilik yang sering digunakan yaitu a) logaritma koefisien partisi (log P) untuk memperkirakan distribusi obat. Semakin tinggi log P maka obat tersebut bersifat hidrofobik dan akan terdistribusi pada lapisan lemak. b) Logaritma koefisien distribusi (log D) merupakan rasio bentuk konsentrasi senyawa (terion dan tidak terion) pada dua fase. c) tetapan ℼ Hansch, d) tetapan fragmentasi f Rekker-Manhold, dan e) tetapan kromatogram Rm pada TLC. Parameter elektronik berkaitan dengan tetapan ionisasi (pKA) dam hubungan dengan bentuk terion dan tak terion dari suatu senyawa pada pH tertentu. Parameter sterik dapat diukur berdasarkan sifat merubah gugus-gugus dan efek gugus pada kontak obat dengan sisi reseptor yang berdekatan (Siswandono dan Soekardjo, 2008). 2.4 Kimia Komputasi Kimia komputasi merupakan cabang ilmu pengetahuan yang menggunakan hasil kimia teori yang diterjemahkan ke dalam program komputer untuk menghitung sifat-sifat molekul dan perubahannya. Metode kimia komputasi dibedakan menjadi dua bagian besar, yaitu mekanika molekuler dan mekanika kuantum dengan pendekatan teori struktur elektron yang terdiri dari metode semi empiris dan metode ab initio, serta pendekatan teori kerapatan fungsional (density functional theory, DFT) (Foresman and Frisch, 1995; Leach, 2011). HyperChem merupakan perangkat lunak yang dapat digunakan untuk mengetahui struktur, stabilitas, dan sifat molekul dengan menggunakan perhitungan mekanika molekuler maupun mekanika kuantum. HyperChem menghasilkan struktur molekul 3D dan terdapat 10 jenis metode semiempiris untuk mengoptimasi geometri suatu senyawa agar didapatkan struktur yang paling stabil. Salah satu metode semiempiris yang terdapat pada perangkat lunak HyperChem adalah metode AM1 (Mushilihin, 2015). Metode AM1 (Austin Model 1) merupakan metode yang dikembangkan oleh M.J.S. Dewar et al di Universitas Texas, Austin. Metode ini didasarkan oleh perhitungan MNDO (Modified Neglect of Diatomic Overlap) untuk memperkirakan integral dua elektron tetapi menggunakan perhitungan lain yang dimodifikasi untuk 5 tolakan inti-inti atom. Perhitungan modifikasi ini menghasilkan gaya interaksi nonfisik seperti interaksi Van der Waals. Perhitungan modifikasi ini mengharuskan suatu model diparameterisasi ulang, yang terbawa oleh tekanan partikular pada momen dipol, potensial ionisasi dan geometri suatu molekul (Lewars, 2003). Metode AM1 mampu memprediksi ikatan hidrogen sangat baik karena adanya perubahan pada fungsi teoritis tolakan inti atom. Metode AM1 sangat berguna untuk molekul organik yang tersusun oleh atom-atom dari kolom 1 dan 2 dalam tabel periodik, tetapi tidak cocok untuk logam transisi. Metode AM1 dapat digunakan untuk menghitung sifat elektronik, optimasi geometri, energi total dan panas pembentukan dari suatu molekul. Metode AM1 merupakan metode yang paling akurat dan paling baik untuk mengumpulkan informasi kuantitatif. Metode AM1 dapat digunakan untuk menentukan struktur dan distribusi elektron untuk senyawa besar dan sangat besar (Lewars, 2003). 6 BAB III METODE PENELITIAN Penelitian ini dilakukan dengan perhitungan komputer (in silico) menggunakan metode semiempiris AM1 untuk melakukan analisis hubungan kuantitatif antara struktur dan aktivitas analgesik senyawa turunan meperidin dan menentukan persamaan Hansch antara senyawa turunan meperidin dengan aktivitas analgesiknya. Metode semiempiris AM1 dipilih karena dirancang untuk memproduksi panas pembentukan dan struktur dari sejumlah besar molekul organik. Adapaun tahapannya yaitu: Tahap pertama, yaitu melakukan pemodelan molekul senyawa turunan meperidin, kemudian melakukan proses optimasi geometri. Langkah kedua yaitu melakukan pencarian nilai deskriptor yang berupa deskriptor elektronik, hidrofobik, dan sterik. Tahap terakhir dilakukan analisis statistik menggunakan regresi berganda model Backward. 3.1 Pemodelan Molekul Tahap pertama dalam penelitian ini dilakukan pemodelan molekul terhadap 16 senyawa turunan meperidin yang digambarkan dan dibentuk secara 2D kemudian diubah ke dalam bentuk 3D. Tabel 1. Data sanyawa turunan meperidin beserta aktivitas analgesik yang dinyatakan dalam E.D.50 (mg/Kg). 7 3.2 Perhitungan Struktur Elektronik dengan Metode Semiempiris AM1 Perhitungan struktur elektronik dilakukan setelah melalui pemodelan molekul senyawa turunan meperidin yang kemudian dilakukan optimasi menggunakan metode semiempiris AM1 algoritma Polak-Ribiere dengan batas konvergensi 0,1 kkal/(Åmol) untuk mendapatkan struktur yang paling stabil dengan tingkat energi terendah. Selanjutnya dapat dilakukan perhitungan struktur elektronik yang terdiri dari muatan bersih atom-atom pada kerangka struktur induk meperidin, energi orbital HOMO, dan energi orbital LUMO. Muatan bersih pada atom-atom yang terdapat dalam kerangka struktur induk meperidin terdiri dari 16 atom, yaitu: qN1, qC2, qC3, qC4. Perhitungan energi orbital HOMO yang merupakan energi pada orbital molekul paling tinggi yang terisi elektron dan perhitungan energi orbital LUMO yang merupakan energi pada orbital molekul terendah yang tidak terisi elektron dihitung menggunakan ComputeOrbitals. Gambar 2. Struktur Induk Meperidin. 8 3.3 Penentuan koefisien partisi (log P) Dilakukan perhitungan koefisien partisi tiap-tiap molekul dalam satu seri senyawa meperidin menggunakan Compute-QSAR Properties-Log P, yang mana koefisien partisi menunjukkan lipofilitas yaitu kemudahan suatu senyawa untuk larut dalam lemak. 3.4 Perhitungan Struktur Sterik Perhitungan struktur sterik yang terdiri dari luas permukaan, refraktifitas molar, volume molekular, massa, dan energi hidrasi dilakukan dengan ComputeQSAR Properties. 3.5 Analisis Statistik HKSA Tahap terakhir dilakukan analisis statistik menggunakan regresi berganda model Backward dengan bantuan software SPSS Statistic. Data-data yang diperoleh dari hasil penelitian berupa muatan bersih atom pada kerangka struktur induk meperidin, energi HOMO, energi LUMO, log P, luas permukaan, refraktifitas molar, volume molekular, massa, dan energi hidrasi selanjutnya dilakukan analisis statistik untuk mencari model persamaan HKSA terbaik dalam menentukan prediksi aktivitas senyawa meperidin. Terdapat 2 variabel dalam analisis MLR, yaitu variabel bebas dan variabel terikat. Variabel bebas berupa muatan bersih atom pada kerangka struktur induk meperidin yang dinyatakan dalam Coulomb, energi HOMO dan LUMO yang dinyatakan dalam eV, nilai log P, luas permukaan dalam Å2, refraktifitas molar dalam Å3, volume molekular dalam Å3, massa dalam sma, dan energi hidrasi dalam kkal/mol. Variabel tergantung berupa aktivitas analgesik (log 1/ED50) untuk masing-masing senyawa turunan meperidin. 9 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan hasil perhitungan komputer (in silico) menggunakan metode semiempiris AM1 dengan program HyperChem diperoleh data masing-masing senyawa yang akan dianalisis sebagaimana disajikan dalam tabel berikut; Tabel 2. Hasil Perhitungan Deskriptor Keterangan: q = muatan bersih atom SA = surface area/ luas permukaan EH = energi hidrasi RM = refraktivitas molar log P = koefisien partisi Data deskriptor yang diperoleh pada penelitian ini selanjutnya diuji dengan analisis regresi berganda menggunakan software SPSS Statistic untuk mengetahui apakah deskriptor-deskriptor tersebut memiliki pengaruh yang signifikan terhadap aktivitas analgesik dari senyawa turunan meperidin. Tujuan utama analisis regresi berganda adalah untuk menduga besarnya koefisien regresi, sehingga dapat menunjukkan besarnya pengaruh peubah bebas (deskriptor) terhadap peubah tak 10 bebas (aktivitas analgesik). Hasil analisis pada penelitian ini diperoleh 9 model persamaan yang melibatkan deskriptor yang berbeda seperti pada tabel berikut; Tabel 3. Hasil Analisis Regresi Multilinier Metode Backward berbagai Deskriptor. Keterangan: n = jumlah data; m = jumlah variabel yang masuk dalam persamaan; M = massa a. Deskriptor: qN1, qC2, qC3, qC4, EHOMO, ELUMO, SA, EH, LogP, RM, M b. Deskriptor: qN1, qC3, qC4, EHOMO, ELUMO, SA, EH, LogP, RM, M c. Deskriptor: qN1, qC3, qC4, EHOMO, ELUMO, SA, EH, LogP, RM, M d. Deskriptor: qN1, qC3, qC4, EHOMO, ELUMO, SA, LogP, RM, M e. Deskriptor: qN1, qC4, EHOMO, ELUMO, SA, LogP, RM f. Deskriptor: qN1, EHOMO, ELUMO, SA, LogP, RM g. Deskriptor: qN1, EHOMO, SA, LogP, RM h. Deskriptor: EHOMO, SA, LogP, RM i. Deskriptor: SA, LogP, RM Besarnya nilai koefisien regresi yang diperoleh dari masing-masing deskriptor pada penilitian ini adalah sebagai berikut; 11 Tabel 4. Data Koefisien Regresi dari Masing-masing Model. Beberapa faktor yang harus diperhatikan dalam memilih model persamaan regresi terbaik, antara lain: koefisien korelasi (R) besar, koefisien determinasi (R2) besar, Standar Error (SE) kecil, kriteria Fisher dari SPSS (F) hitung besar, F/F tabel besar, Predicted Residual Sum of Square (Press) kecil, dan tingkat signifikansi (sig) kecil. Berdasarkan data pada tabel hasil analisis regresi multilinier metode Backward, maka persamaan terbaik yang di ambil pada penelitian ini adalah persamaan model 4, yaitu persamaan dengan 8 deskriptor berupa qN1, qC3, qC4, EHOMO, ELUMO, SA, LogP, dan RM. Model regresi yang dipilih memiliki nilai sebagai berikut; R = 0.966 R2 = 0.933 SE = 0.493 F = 12.236 F/Ftabel = 3.557 Press = 1.679 sig = 0.002 Oleh karena itu, penulisan model regresi untuk menggambarkan hubungan kuantitatif struktur aktivitas (persamaan HKSA metode Hansch) senyawa turunan meperidin terhadap aktivitas analgesiknya adalah sebagai berikut; 12 Keterangan: log (1/ED50) = aktivitas analgesik qN1 = muatan pada atom nitrogen nomor 1 qN3 = muatan pada atom nitrogen nomor 3 qN4 = muatan pada atom nitrogen nomor 4 E.H = energi orbital HOMO E.L = energi orbital LUMO SA = luas permukaan Lp = log p RM = refraktifitas molar Berdasarkan model yang dihasilkan pada penelitian ini, diperoleh harga koefisien korelasi (R) sebesar 0.966. Nilai koefisien korelasi apabila semakin mendekati angka 1, maka semakin kuat hubungan antara variabel bebas terhadap variabel terikat. Oleh karena itu, kedelapan deskriptor yang terlibat dalam model regresi secara bersama-sama memiliki hubungan yang kuat terhadap aktivitas analgesik dari senyawa turunan meperidin. Nilai koefisien determinasi (R2) yang diperoleh pada penelitian ini sebesar 0.933 menunjukkan bahwa sebesar 93,3% variabel terikat (Y) yaitu nilai aktivitas analgesik dapat diterangkan oleh model persamaan regresi, sedangkan sisanya sebesar 6,7% diterangkan oleh faktor lain yang tidak terlibat dalam penelitian ini. Pada penelitian ini juga diperoleh standard error terkecil pada persamaan 4, yaitu bernilai 0.492328. Hal ini menunjukkan bahwa aktivitas biologis hasil observasi memiliki variasi sebesar 0.492328 disekitar garis prediksi. Tingkat signifikansi (α) atau kesalahan maksimal yang bisa diterima dari penelitian adalah sebesar 5%. Jadi nilai signifikansi yang bisa diterima adalah yang kurang dari 0.05. Permodelan regresi 4 memiliki nilai signifikansi sebesar 0.002, yang menyatakan bahwa keakuratan perhitungan model regresi adalah 99,98%. Metode yang digunakan untuk menentukan HKSA Miperidin yakni metode Hansch, adapun parameter yang terlibat dalam analisa HKSA Miperidin yakni, 13 parameter elektronik (muatan bersih atom N1, C3, C4, E.LUMO, E.HOMO, μ), parameter sterik (luas permukaan, refraktifitas molar), dan parameter lipofilik (log P). Berdasarkan nilai mutlak koefisien dalam model persamaan dapat dilihat koefisien qN > qC4 > qC3 > E.HOMO > E.LUMO > log p > SA > RM. Hal tersebut mengartikan bahwa prediktor elektronik qN1 dengan koefisien -95,354 mempunyai kontribusi paling besar dalam prediksi aktivitas biologis, yang berarti dengan perubahan kecil harga muatan bersih atom N akan memberikan perubahan nilai aktivitas biologis yang signifikan. Cincin atom nitrogen pada senyawa meperidin memiliki peran yang vital terhadap aktivitas analgesik. Jika cincin pada rantai dibuka, maka aktivitas analgesiknya akan hilang sama sekali. Jadi, memang sudah selayaknya atom nitrogen memiliki peran penting terhadap aktivitas analgesik suatu senyawa. Sehingga hasil tersebut menunjukkan bahwa prediktor elektronik memegang peran yang lebih berpengaruh terhadap aktivitas biologis dari pada prediktor sterik dan hidrofobik. Pengaruh faktor sterik menggambarkan besarnya ukuran relatif dari senyawa turunan meperidin. Dengan koefisien yang cukup kecil, maka diduga bahwa faktor sterik kurang berpengaruh terhadap aktivitas analgesik. Pengaruh faktor lipofilik (Log p) merupakan suatu parameter untuk melihat kelarutan senyawa dalam suatu pelarut. Jadi, pengaruh dari Log p diduga adalah pada saat proses farmakokinetik yaitu proses absorpsi, distribusi atau pada besarnya nilai afinitas senyawa terhadap protein plasma atau pada mekanisme penembusan halangan sawar darah otak yang bersifat lipofil. Hubungan antara nilai aktivitas biologis hasil observasi dan aktivitas biologis hasil prediksi dapat diketahui dengan menggunakan software SPSS. Hasilnya berupa grafik seperti yang terlihat pada gambar berikut: 14 Gambar 3. Grafik hubungan Log1/ED50 hasil observasi dengan hasil prediksi. Garis diagonal pada grafik menunjukkan garis regresi, sedangkan titik-titik disekitar garis menunjukkan hasil pengamatan nilai aktivitas biologis yang dinyatakan dalam 𝐿𝑜𝑔1/𝐸𝐷50. Meskipun tidak tepat pada garis prediksi, namun letak titik-titik hasil pengamatan tersebar disepanjang garis regresi. 15 BAB V KESIMPULAN Berdasarkan hasil dan pembahasan pada bab sebelumnya, maka hal-hal yang dapat disimpulkan yaitu desain obat dari senyawa turunan meperidin sebagai obat analgesik dapat dilakukan dengan metode semiempiris AM1 yang diawali dengan pemodelan molekul, perhitungan struktur elektronik, penentuan koefisien partisi perhitungan struktur sterik, dan analisis statistik untuk mencari model persamaan HKSA terbaik dalam menentukan prediksi aktivitas senyawa meperidin. Hasil analisisnya menunjukkan adanya keterkaitan secara kuantitatif antara aktivitas analgesik terhadap sifat kimia senyawa. Aktivitas analgesiknya lebih dipengaruhi oleh deskriptor elektronik, dimana pengaruh terbesar yaitu dari muatan pada atom nitrogen. 16 DAFTAR PUSTAKA Anderson, P., J. Knoben, W. Troutman. 2002. Handbook of Clinical Drug Data. USA: McGraw-Hill Companies. Botan, A. G. and S. A. B. de Lapena. 2015. Meperidine: Opioid not Indicated for Analgesia. Journal Sao Paulo. 16(1): 67 – 70. Foresman, J. B. and Frisch, A. E. 1995. Exploring Chemistry with Electronic Structure Method. 2nd Edition. Pittsburg: Gaussian Inc. Leach, A. R. 2001. Molecular Modelling: Principles and Applications. 2nd Edition. Pearson Education Limited. Lewars, E. 2003. Computational Chemistry: Introduction to the Theory and Applications of Molecular and Quantum Mechanics. Canada: Kluwer Academic Publisher. Mita, S. R. dan P. Husni. 2017. Pemberian Pemahaman Mengenai Penggunaan Obat Analgesik Secara Rasional pada Masyarakat di Arjasari Kabupaten Bandung. Jurnal Dharmakarya. 6(3): 193-195. Mushilihin, A.A. 2015. Hubungan Kuantitatif Struktur Aktivitas (HKSA) Turunan Asam Sinamat terhadap Sel P388. Skripsi. Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, Program Studi Farmasi, Jakarta. Sandoz. 2018. Prescribing Information: Meperidinie Hydrochloride Injection USP. Canada: Sandoz Canada Inc. Satpathy, R., R. K. Guru, and R. Behera. 2010. Computational QSAR Analysis of Some Physiochemical and Topological Descriptors af Curcumin Derivatives by Using Different Statistical Methods. Journal of Chemical and Pharmaceutical Research. 2(6): 344-350. Siswandono dan B. Soekarjdo. 2008. Kimia Medisinal. Edisi I.. Surabaya: Airlangga University Press. Siswandono dan B. Soekardjo. 2008. Kimia Medisinal. Edisi 2. Surabaya: Airlangga Universy Press. Tahir, I., N. F. Fatimah, R. Armunanto. 2012. Analisis Hubungan Kuantitatif Struktur dan Aktivitas Antitoksoplasma Senyawa Analog Kuinolon Menggunakan Deskriptor Teoritik. Jurnal Sains dan Terapan Kimia. 6(2): 139-153. 17 Tjay, T.H. dan K. Rahardja. 2007. Obat-obat Penting. Jakarta: Elex Media Komputindo. 18

Judul: Tugas Kimia Medisinal

Oleh: Linda Laksmiani

Ikuti kami