Tugas Ilmu Negara

Oleh Karlin Ilang

1,3 MB 3 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Tugas Ilmu Negara

Politeia by plato Politeia adalah judul asli buku karya plato yang sekarang dikenal dalam bahasa Inggrisnya The Republic. Secara garis besar dapat dikatakan bahwa tema utama Politeia adalah keadilan. Namun, jika lebih diperdalam, Politeia sebenarnya menyajikan kekayaan pemikiran Plato. Selain keadilan, di dalam Politeia dibahas pokok-pokok kajian mengenai politik, etika, pendidikan, epistemologi, dan psikologi Cicero menerjemahkan politeia sebagai res publica. Menurut Plato Negara ideal menganut prinsip mementingkan kebajikan. Karena kebajikan menurut plato sebuah pengetahuan. Segala hal yang dilakukan atas nama Negara haruslah dimaksudkan untuk mencapai kebajikan itu. Menurut Plato tidak ada cara lain yang paling efektif mendidik warga Negara untuk menguasai pengetahuan kecuali dengan membangun lembaga-lembaga pendidikan itu. Plato juga beranggapan bahwa munculnya Negara karena adanya hubungan timbal-balik dan rasa membutuhkan antara sesama manusia. Karena manusia tidak dapat hidup tanpa adanya manusia lain. Negara dalam hal ini berkewajiban memperhatikan penukaran timbak balik ini dan harus berusaha agar semua kebutuhan masyarakat terpenuhi sebaik-baiknya. Dalam karya-karya para filsuf Yunani kuno, makna utama politeia tampaknya adalah: "bagaimana polis dijalankan; konstitusi". Sebuah politeia berbeda dari konstitusi tertulis modern dalam dua hal: pertama, tidak semua negara Yunani menuliskan hukum mereka; lebih penting lagi, orang-orang Yunani biasanya tidak membedakan antara undangundang biasa dan konstitusi. Jika suatu badan memiliki kekuatan untuk mengubah undang-undang, ia memiliki kekuatan untuk mengubah hukum yang mengendalikan kekuatan dan keanggotaannya sendiri bahkan untuk menghapuskan dirinya sendiri dan membentuk badan pengatur yang baru. Selanjutnya Aristoteles mengembangkan bentuk pemerintahan baru yaitu bentuk pemerintahan Politeia. Bentuk pemerintahan politeia adalah bentuk pemerintahan yang dipegang oleh seluruh rakyak untuk kepentingan umum. Politeia berasal dari kata polis yang berarti Kota, dalam garis besarnya diartikan Negara-Kota., dan dari kata kerja politeuomai yang berarti "saya hidup sebagai warga negara yang aktif dan poli Politeia dikatakan bentuk pemerintahan yang paling baik menurut Aristoteles, karena dalam politeia setiap masyarakat / individu berkuasa atas masyarakat lain, begitupun sebaliknya .Dengan kata lain kekuasaan pemerintahan berada ditangan khalayak umum. Ada tiga bentuk pemerintahan yang dianggap baik menurut maha guru ilmu politik Yunani kuno yaitu Monarki, Aristokrasi, dan Politeia sedangkan Oligarki, Tirani dan Demokrasi dianggap buruk. Lalu mengapa banyak negara justru menerapkan bentuk pemerintahan Demokrasi. Menurut Aristoteles yang menjadi landasan pemerintahan Demokrasi adalah Kebebasan, dan salah satu prinsip dari kebebasan tersebut adalah setiap individu mempunyai kesempatan yang sama untuk menjadi pemimpin secara bergantian. Yang membedaan politeia dan demokrasi adalah karena politeia merupakan bentuk demokrasi yang lebih moderat yang dalam hal kebebasannya di ikat oleh konstitusi yang menjadi acuan dari pelaksanaan sistem pemerintahan tersebut. Pada kenyataannya bentuk pemerintahan politeia adalah betuk pemerintahan yang bisa dikatakan buruk jika diterapkan pada era modern ini, karena Negara tidak mengatur namun cenderung mengikuti kemauan manusia itu sendiri. Oleh karenanya tidak banyak negara yang menerapkan bentuk pemerintahan ini. Aristoteles meyakini masyarakat bahwa bentuk pemerintahan politeia adalah bentuk pemerintahan yang baik, pada dasarnya Aristoteles menentukan bentuk pemerintahan mana yang baik dan mana yang tidak baik adalah sifat pemimpinnya : bijaksana atau tidak. Menurut Aristoteles bentuk pemerintahan yang baik adalah jika kebijakan yang diambil oleh negata tersebut untuk kepentingan umum. Aristoteles mengatakan bahwa pemikiran orang banyak jauh lebih baik daripada pemikiran beberapa orang yang terbaik sekalipun, kendatipun pemikiran tersebut bukan merupakan jaminan tercapainya kebenaran tetapi sedikit banyak telah mengandung unsur kebenaran. Aristoteles juga mengatakan bahwa orang yang memiliki senjata dan yang bisa mengambil bagian didalam peperangan, berhak untuk dipilih dan memilih dalam lembaga Negara. Mereka merupakan kelas menengah yang menjaga kestabilan negarta diantara kelas menengah atas dan bawah. Di lihat dari sudut pandang manusia sebagai makhluk sosial, yang menginginkan status sosial yang tinggi, politeia tidak sepenuhnya baik untuk diterapkan, dikarenakan manusia mengontrol manusia yang lain begitupun sebaliknya bukanlah suatu hal yang baik jika tanpa dasar atau aturan yang sah. Karena itu, beberapa penerjemah menggunakan istilah yang berbeda untuk arti kedua dari politeia. Paling umum adalah pemerintahan yang tidak jelas. Terjemahan dari makna kedua ini menjadi kasus kontroversi dan tidak akurat karena kebenarannya masih belum dibuktikan kebenarannya. Dalam buku ketiganya, Aristoteles menunjukkan bahwa pada prinsipnya bentuk pemerintahan politeia merujuk kepada segala bentuk pemerintahan atau konstitusi. Dua ide berbeda yang telah digunakan oleh Aristoteles setidaknya membingungkan banyak orang selama ribuan tahun. Bisa dikatakan bahwa menurut arsitoteles politeia adalah bentuk pemerintahan campuran, tetapi tidak pasti merujuk pada pemerintahan yang seperti apa. Dalam politikya Aristoteles menggunakan politeia sebagai dua makna bentuk pemerintahan yang berbeda dan pengertian yang terbatas tentang hal ini. Tepatnya Aristoteles menggunakan keduanya secara konsisten, keduanya telah lama diperdebatakan karena membingungkan. Politik karangan Aristoteles merupakan titik pangkal dari pembahasan kehidupan politik di dunia Barat. Hal ini dikarenakan Aristoteles telah membahas secara detail tentang bentuk pemerintahan beserta politiknya.

Judul: Tugas Ilmu Negara

Oleh: Karlin Ilang

Ikuti kami