Tugas Sejarah Kekristenan

Oleh Aldo Ofm

88,2 KB 3 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Tugas Sejarah Kekristenan

Patrick Sebuah metode baru perluasan misioner dan selanjutnya suatu era baru dalam sejarah Kristen di barat dimulai di Irlandia pada tahun 432 di bawah pelayanan seorang uskup dan pemimpin biara bernama Patrick (+460). Patrick aslinya berasal dari Inggris dan dibesarkan sebagai seorang Kristen. Selagi remaja ia ditangkap, dijual sebagai seorang budak dan selama enam tahun dipaksa untuk bekerja sebagai seorang gembala di Irlandia. Setelah melarikan diri, ia bergabung dengan gerakan monastic dan kemudian berusaha mendapatkan tahbisan sebagai seorang uskup agar dapat kembali ke Irlandia sebagai misionaris. Pada tahun 341 seorang uskup berbahasa Latin, Pladius, dikirim untuk melayani sebuah komunitas Kristen kecil yang telah terbentuk di kota di selatan pulau itu. Mereka adalah anggota komunitas kecil pedagang dan bukan orang-orang Irlandia yang berpindah menganut agama Kristen. Namun sekembalinya ke Irlandia, Patrick tidak pergi ke selatan, tetapi sebaliknya menuju utara, sampai saat itu belum ada orang beriman Kristen. Ia melakukan hal itu karena keprihatinan akan negeri yang dahulu menjadi tempat buangannya dan yang menurut Confessiones-nya merupakan jawaban langsung pada perintah dalam Matius 28:19. Dengan jerih lelahnya sendiri, Patrick berhasil mentobatkan ribuan orang, mengajarkan mereka iman Kristen dan mentahbiskan imam-imam untuk pelayanan. Pertumbuhan gerakan Kristen di Irlandia menandai suatu tonggak sejarah penting lainnya di barat. Di sinilah untuk pertama kalinya tradisi Kristen Latin bergerak ke luar batas-batas geografis lama dari Kekaisaran Romawi. Irlandia menjadi bagian Gereja Katolik tanpa pertama-tama menjadi bagian Kekaisaran Romawi. Itulah pola yang segera diikuti di tempat-tempat lain di wilayah utara Eropa ketika lebih banyak orang bergabung dengan gerakan Kristen di Barat. Klovis Salah satu kelompok suku Jerman yang telah lama menetap di sepanjang Sungai Rhein adalah orang-orang yang secara kolektif disebut orang Roma sebagai Frank. Pada pertengahan abad kelima, di tengah hancurnya kehidupan di bagian barat Kekaisaran Romawi, tampil seorang Raja Frank bernama Khilderik di dwilayah yang kini adalah Belgia modern dan menempa sebuah aliansi baru dengan Roma. Putra Khilderik, Klovis ( ±466-511), menggantikannya sebagai raja pada tahun 481, raja kedua yang memerintah dalam apa yang disebut sebagai dinasti Merovingian. Klovis baru berusia sekitar 15 tahun ketika ia mewarisi takhta dari ayahnya, namun peristiwa yang paling penting dalam hidupnya yang berkaitan dengan sejarah kekristenan terjadi tahun 500. Lewat pengaruh istrinya, Ratu Klotilde (470-545), seorang Burgundi penganut Kristen, Klovis meninggalkan praktik agama nenek moyangnya dan bersedia untuk dibabtis. Perpindahan Klovis ini juga membuat 3000 anggota serdadunya ikut serta untuk dibabtis. Cerita ini juga menjadi pengaruh bagi Raja Jerman yang terpengaruh oleh istriistrinya untuk menjadi seorang Kristen. Sehingga hal ini menjadi titik awal bagi generasi anak cucu mereka yang bersedia mengikuti iman Kristen, bahkan hidup di dalam Gereja. Gregorius Agung Gregorius berasal dari kalangan bangsawan kuno Romawi. Setelah menyelesaikan pedidikan formal dan beberapa tahun bekerja sebagai pegawai negeri, ia memutuskan untuk masuk biara. Dalam perjalanannya, ia dipilih oleh penduduk Roma untuk menduduki takhta St. Petrus pada tahun 590. Tugas pertama yang ia jalankan adalah menata kembali pengolahan tanah-tanah kepausan ini dan memberikan sebuah model untuk para uskup lain di dunia barat. Gregorius mengatur suatu sistem baru yang menyangkut pembagian makanan, penampungan untuk para pengungsi, pengumpulan pajak, dan menyimpan catatan-catatan hukum untuk membantu memulihkan tatanan politik. Di samping itu, ia juga menjalin hubungan yang aktif dengan orang-orang lain di luar negeri. Bahkan, ia mengadakan korespondensi yang luas dengan para uskup dan klerus di wilayah-wilayah lain, dan tidak ragu-ragu menyatakan pandangan pastoralnya berkenaan dengan hal-hal yang sedang berlangsung di tengah-tengah jemaat. Dalam bidang spiritual dan teologis, ia menunjukkan pengaruh baiknya oleh kekhasan kepribadiannya dan kewenangannya yang terus bertumbuh dalam jabatannya sebagai Paus. Permasalahan Di Inggris dan Irlandia Ada pertikaian yang terjadi pada pertengahan abad ketujuh antara para pemimpin monastik Irlandia dengan orang-orang Anglo-Sakson. Pertikaian ini disulut oleh perbedaan disiplin monastik, otoritas para abbas berhadapan dengan kewenangan para uskup, juga keberpihakan para rahib Irlandia untuk orang-orang Briton dan Welsh dalam perseteruan mereka melawan orang-orang Anglo-Sakson. Salah satu persoalan yang dihadapi adalah kontroversi tentang Paskah. Gereja Irlandia menetapkan Paskah jatuh pada hari Minggu antara hari keempat belas sampai hari kedua puluh dalam bulan pertama musim semi yang didasarkan pada tradisi St. Yohanes. Orangorang Anglo-Sakson sebaliknya beranggapan bahwa Paskah jatuh pada hari Minggu antara hari kelima belas sampai hari kedua puluh satu dalam bulan yang sama dengan alasan mengikuti aturan yang berlaku di seluruh Gereja Katolik. Krisis yang terjadi di antara kedua tradisi berujung pada sebuah sinode yang berlangsung di Whitby pada tahun 663. Sinode ini membahas tradisi mana yang harus diikuti oleh Anglo-Sakson. Sinode ini berakhir dengan keputusan orang-orang Anglo-Sakson mengikuti peraturan Roma dengan alasan bahwa Yesus telah memberikan kekuasaan kepada Petrus atas Gereja-Nya. Permasalahan yang terjadi di antara orang-orang Frank Permasalahan yang terjadi di kalangan orang-orang Frank adalah mengenai cara pandang terhadap kehadiran kaum perempuan. Masyarakat Jerman memandang perempuan lebih rendah dari laki-laki sehingga kaum laki-laki menjadi satu-satunya akses bagi kaum perempuan. Dengan realitas seperti ini, kebanyakan kaum perempuan pun mengambil keputusan untuk mentakdiskan diri dalam perkawinan rohani dengan Kristus dan masuk dalam kehidupan monastik. Selain cara pandangnya terhadap perempuan, persoalan lainnya adalah mengenai perbedaan sistem panutan yang dipegang gereja dengan orang-orang Frank. Orang-orang Frank menganut sistem poligami sebagai praktik perkawinan yang lazim. Raja-raja Frank tetap memiliki beberapa istri setelah mereka bertobat ke agama Katolik, padahal itu bertentangan dengan ajaran agama Katolik. Salah satu alasan mengapa ajaran gereja Katolik terhadap orang-orang Frank lambat diterapkan karena para uskup yang tidak sepenuhnya hati dalam komitmen mereka untuk mengubah kebudayaan dominan. Metode Penyebaran Kekristenan di Eropa Barat Secara umum ada tiga jenis metode penyebaran agama Kristen di Eropa Barat. Di Irlandia, pernyebaran agama terjadi melalui kegiatan misioner para rahib. Biara-biara di Irlandia yang diprakarsai oleh Patrick merupakan tempat pengembangan spiritual iman Kristen, tempat pembelajaran bahasa Latin, dan pusat studi Kitab Suci. Berbeda dengan metode di Irlandia yang didominasi oleh kehidupan monastik, kekristenan di Inggris menyebar melalui inkulturasi antara Kekristenan dengan kebudayaan pagan setempat yang diprakarsai oleh para misionaris yang dikirim oleh kepausan. Praktik ibadah pagan diusahakan selaras dengan kebaktian Kristen. Pada bangsa Frank, Kekristenan menyebar melalui pertobatan para raja bangsa Frank yang langsung diikuti oleh rakyat-rakyatnya. Pertobatan raja-raja bangsa Frank ini sering terjadi karena perkawinan antara raja-raja pagan dengan para wanita Kristen. Relevansi Penekanan khas sejarah kekristenan di Eropa Barat terletak pada karya misi yang di pelopori oleh patrick (+460). Sejak kedatangan patrick, kekristenan di eropa barat berkembang pesat melalui misi yang di buatnya. Karya-karya tersebut disambut baik oleh orang-orang Irlandia. Sejarah kekristenan pada masa itu memiliki hubungan dengan perkembangan gereja Indonesia saat ini. Perkembangan gereja Indonesia banyak dipengaruhi oleh karya-karya para misionaris yang sampai saat ini masih bertumbuh subur di nusantara. Karya-karya yang secara konkret masih berkembang saat ini ialah sekolah-sekolah dan gereja-gereja. Secara umum kehadiran para misionaris dan karya-karya di indonesia saat ini diterima baik oleh masyarakat bahkan kehadiran mereka pun didukung secara penuh oleh masyarakat. Kehadiran para misionaris di indonesia juga mempengaruhi sebagian putra-putri nusantara untuk bergabung ke dalam beberapa tarekat hidup bakti. Ritus keagamaan yang di bawa oleh para misionaris ke indonesia tidak jauh berbeda dengan ritus keagaman yang di anut dunia barat. Namun dalam beberapa hal ritus keagamaan disatukan dengan kebudayaan lokal setempat (inkulturasi), dimana para misionaris itu berkarya.

Judul: Tugas Sejarah Kekristenan

Oleh: Aldo Ofm

Ikuti kami