Sejarah Wajib.doc

Oleh Elma Widiya

98,5 KB 7 tayangan 0 unduhan
 


Bagikan artikel

Transkrip Sejarah Wajib.doc

PEPER HIDUP BERKELUARGA : SEBUAH PILIHAN YANG MANUNTUT TANGGUNG JAWAB Peper ini di buat untuk memenuhi tugas mata kuliah Teologi Moral Ampuan: Y0sehp Krisanto Disusun oleh: MARGARETHA K.N BOVI 24 Mei 2019 PROGRAM STUDI BAHASA INDONESIA FAKULITAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2019 HIDUP BERKELUARGA: SEBUAH PILIHAN MENUNTUT TANGGUNG JAWAB A. PENDAHULUAN 1.       B. C. Pengertian Hidup Hidup adalah rahmat, dan harus dipertanggungjawabkan sebab pada saatnya nanti kita harus memberi pertanggungjawaban atas hidup ini kepada Sang Pencipta (Roma 14:11). Oleh karena itu dalam rangka pertanggungjawaban hidup, ada tiga kategori bentuk pertanggungjawaban atas hidup manusia, yakni: Mempertahankan hidup (mensyukuri, menghargai, menjaga, merawat, memelihara, dsb). Memaknai hidup (melalui: aktifitas, peranan/tugas, karya, pilihan status, dsb). Mengembangkan hidup (mencapai: perubahan, kemajuan, prestasi, dsb). Prinsip-prinsip hidup berkeluarga secara kristiani Ada empat prinsip hidup berkeluarga secara kristiani yaitu: Hakikat Hidup Berkeluarga. Cinta Kasih Sebagai Dasar, Semangat dan Tujuan Perkawinan. Ciri-ciri dan Peranan Keluarga Kristiani. Masalah Kekerasan dalam Rumah Tangga HAKIKAT HIDUP BERKELUARGA 1. Hakikat Spritual Nilai spiritual menunjukan bahwa berkeluarga merupakan peristiwa iman, di mana daya rohani sangat berpengaruh di dalamnya. Hal ini terbukti bahwa pengalaman jatuh cinta terjadi di luar rencana dan kehendak manusia. Pengalaman cinta kasih ini bersumber dari Allah Yang Maha Tinggi yang dalam diri-Nya adalah kasih. Hakikat Spritual dibagi menjadi dua bagian yaitu:  Hidup Berkeluarga adalah Panggilan Apabila pria dan wanita telah dipertemukan dalam cinta kasih, selanjutnya dengan kebulatan hati dan kebebasan nuraninya berniat membangun hidup bersama, maka niat suci ini perlu di tempatkan dalam perspektif menanggapi panggilan Tuhan.  Makna Sakramental dalam Pernikahan Kesecitraan pria dan wanita dengan Allah Penciptanya, memberikan nilai kesucian atas keluarga yang mereka bangun. Dengan begitu keluarga dibangun atas cinta dari gambaran Allah itu sekaligus merupakan perwujudan cinta Allah. Demikian juga hendaknya keluarga Kristiani menjadi Bait Allah, tempat di mana Roh Kasih Allah yang telah menyatukan mereka tetap di dalam mereka. a. 2. Hakikat Sos Persekutuan Hidup dan Cinta Keluarga merupakan persekutuan hidup antara pria dan wanita yang membentuk komunitas antar pribadi berdasarkan cinta kasih. Konsekuensinya adalah bahwa perkawinan merupakan persekutuan yang menyatukan seorang pria dan seorang wanita dalam kesatuan lahir batin yang mencakup seluruh aspek hidup: jiwa, raga dan spiritual. Dengan kesatuan raga atau fisik, pria dan wanita menjadi satu daging, dalam arti saling pasrah dan menyatukan mereka dalam penghayatan cinta yang total melalui persetubuaan. b. Nilai Sosial dan Legal Keluarga merupakan sel masyarakat yang pertama, yang menjadi dasar terbentuknya masyarakat. Masyarakat juga harus mengabdi kepentingan keluarga dan bersama keluarga mengabdi kepentingan martabat manusia. Perkawinan juga perlu diatur dalam Undangundang, dari sebab itu negara wajib menghargai dan menghormati hak-hak keluarga. ial Perkawinan D. CINTA KASIH SEBAGAI DASAR, SEMANGAT DAN TUJUAN PERKAWINAN 1. Dasar Syarat utama dan esensial yang perlu dipenuhi untuk membangun persekutuan hidup adalah cinta. 2. Semangat Ada kalanya keluarga mengalami gejolak, terutama bila menghadapi hal baru atau mengalami perubahan situasi. 3. Tujuan Pada intinya tujuan pernikahan diarahkan untuk mengembangkan dan memurnikan cinta kasih suami-istri menuju kesejahteraan dan kebahagiaan hidup bersama. 4. Cinta dan Seksualitas Cinta antar pria dan wanita sering dimengerti sebagai hubungan yang intens dan bersifat pribadi. Dalam hubungan tersebut terjadi perjumpaan antar pribadi, yang menyangkut seluruh aspek diri manusia, yaitu: jiwa, dan raganya. D. CIRI-CIRI DAN PERANAN KELUARGA KRISTIAN 1. Ciri-ciri Keluarga Kristiani a. Membentuk Persekutuan Pribadi-pribadi Keluarga mempunyai peranan membentuk persekutuan pribadi-pribadi. Pribadi yang bersekutu atau bersatu adalah pertama-tama suami dan istri, kemudian orangtua dan anak-anak serta sanak saudara. b. Monogam dan Tak Terceraikan Pernikahan adalah persekutuan hidup yang dibangun oleh seorang pria dan seorang wanita (monogami). Pasangan suami istri perlu terus-menerus menjaga keutuhan yang telah mereka bangun “Bukan lagi dua malainkan satu” (Mat 19:6). c. Keluarga adalah “Gereja Mini” Identitas kekristenan keluarga Kristiani mengandung makna bahwa keluarga tersebut terpanggil untuk turut serta dalam hidup dan perutusan Gereja. 2. Peranan Keluarga A Mengabdi Kehidupan Peranan keluarga Kristiani yang juga sangat penting adalah mengabdi kehidupan. Peranan mengabdi kehidupan adalah penyaluran hidup yang menyalurkan kehidupan dan mewujudkan melalui pengadaan keturunan. B Ikut Serta Dalam Pengembangan Masyarakat Keluarga sebagai sel masyarakat mempunyai peranan yang pertama dan amat penting dalam mengembangkan masyarakat yang sehat. Hubungan erat antara keluarga dan masyarakat menuntut sikap terbuka dari keluarga dan masyarakat untuk bekerjasama membela dan mengembangkan kesejahteraan setiap orang. C Berperan Serta Dalam Kehidupan dan Misi Gereja Dengan Sakramen Perkawinan keluarga Kristiani mengikatkan diri pada ikatan yang tak terceraikan karena mereka telah dipersatukan oleh Allah dan melalui kegiatan merayakan Sakramen-sakramen Gereja diharapkan dapat semakin mempercaya dan memperkuat keluarga Kristiani dengan rahmat kristus, supaya keluarga dikuduskan demi kemuliaan Bapa. A Mengabdi Kehidupan Peranan keluarga Kristiani yang juga sangat penting adalah mengabdi kehidupan. Peranan mengabdi kehidupan adalah penyaluran hidup yang menyalurkan kehidupan dan mewujudkan melalui pengadaan keturunan. B Ikut Serta Dalam Pengembangan Masyarakat Keluarga sebagai sel masyarakat mempunyai peranan yang pertama dan amat penting dalam mengembangkan masyarakat yang sehat. Hubungan erat antara keluarga dan masyarakat menuntut sikap terbuka dari keluarga dan masyarakat untuk bekerjasama membela dan mengembangkan kesejahteraan setiap orang. C Berperan Serta Dalam Kehidupan dan Misi Gereja Dengan Sakramen Perkawinan keluarga Kristiani mengikatkan diri pada ikatan yang tak terceraikan karena mereka telah dipersatukan oleh Allah dan melalui kegiatan merayakan Sakramensakramen Gereja diharapkan dapat semakin mempercaya dan memperkuat keluarga Kristiani dengan rahmat kristus, supaya keluarga dikuduskan demi kemuliaan Bapa. E. PERSOALAN KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA (KDRT) . Pengertian Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT) Kekerasan dalam Rumah Tangga adalah setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan, yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, dan penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, perampasan kemerdekaan secara melawan hokum dalam lingkup rumah tangga. 3. Penyebab terjadinya KDRT Secara umum latar belakang penyebab terjadinya KDRT antara lain: A Laki-laki dan perempuan tidak dalam posisi yang setara, yang memandang bahwa kedudukan kaum laki-laki lebih tinggi dari pada perempuan untuk menjadi penghalang kesederajatan dan kesetaraan laki-laki dan perempuan. B Pandangan yang keliru, bahwa laki-laki kodratnya lebih dari perempuan. Pandangan ini sering menimbulkan paradigm bahwa laki-laki dalam segala hal harus kuat, berkuasa, menang, dan berani melawan, serta tegas. C KDRT dianggap sebagai persoalan pribadi suami istri dan intern keluarga: Pandangan ini menutup kesadaran akan adanya pelanggaran hak azasi antar sesame manusia dalam tindakan kekerasan. 4. Bentuk-bentuk KDRT  Kekerasan Fisik Bentuk-bentuk kekerasan fisik kategori berat yang dialami korban misalnya: dipukul, dicambuk, ditendang, ditusuk, disiram air panas, atau cairan berbahaya, dibakar, ditenggelamkan dalam air, di sekap dalam kamar tertutup, tidak diberi makan, dll.  Kekerasan Psikis Beberapa bentuk kekerasan psikis berat, adalah berupa: tindakan pengendalian dan pemaksaan, intimidasi, manipulasi, eksploitasi, kesewenangan, perendahan, dan penghinaan yang berlebihan, serta tindakan isolasi social dll.  Kekerasan Seksual Bentuk-bentuk kekerasan seksual berat berupa: Pelecehan seksual dengan kontak fisik, menyentuh organ seksual, mencium secara paksa, pemaksaan hubungan seksual tanpa persetujuan korban, pemaksaan hubungan seksual dengan orang lain, dan terjadinya hubungan seksual di mana pelaku memanfaatkan korban, serta tindakan seksual secara fisik atau menimbulkan sakit luka cedera.  Kekerasan Ekonomi Kekerasan ekonomi berat, berupa: Memaksa korban bekerja dengan cara eksploitatif, melarang korban bekerja tetapi menelentarkannya, dan mengambil tanpa sepengetahuan dan tanpa persetujuan korban. E. PENUTUP  Carilah pasangan hidupmu yang dikehendaki oleh Sang Pencipta dan kalian harus saling mencintai antara satu dengan yang lain. Pasanganmu adalah pendamping hidupmu, sehingga tidak boleh menjadikan pasanganmu sebagai lawanmu. Dafta Pustaka Ringkasan ini di ambil untuk melengkapi tugas Teologi Moral Pada tanggal 24 Mei 2019 dari buka Hidup Berkeluarga Menjadi sebuah Tanggung Jawab ditulis oleh: Yoseph Kristianto Hdup Berkeluarga Sebuah Pilihan Yang Menuntut Tanggung Jawab

Judul: Sejarah Wajib.doc

Oleh: Elma Widiya


Ikuti kami