Tugas Sirah Nabawiyah.

Oleh Yuni Maulida

211 KB 11 tayangan 2 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Tugas Sirah Nabawiyah.

Guru : Ustad T.Nova Iskandar. SIRAH NABAWIYAH (Perjalanan Hidup Rasulullah saw) Oleh : NURUL IZZATI SMA NEGERI 1 CALANG KECAMATAN KRUENG SABEE KABUPATEN ACEH JAYA 1 DAFTAR ISI DAFTAR ISI…………………………………………………… 1 KATA PENGANTAR………………………………………….. 4 BAB 1 GAMBARAN MASYARAKAT ARAB JAHILIYAH………... 5 Kondisi social …………………………………………... 5 Kondisi Ekonomi……………………………………….. 6 Akhlak…………………………………………………… 7 BAB 2 NASAB DAN KELUARGA NABI …………………………… 9 Nasab Nabi………………………………………………. 9 Keluarga Besar Nabi…………………………………….. 10 KELAHIRAN NABI…………………………………………… 14 Kelahiran Nabi…………………………………………… 14 Di Perkampungan Bani Sa’ad……………………………. 14 Kembali Kepangkuan Ibunda nan Amat Mengasihi……... 17 Kembali ke Pangkuan Kakeknya yang Penuh Kasih Sayang.. 17 Di Bawah Asuhan Paman………………………………… 17 Meminta Hujan dengan Wajah Beliau……………………. 18 Bahira Sang Rahib………………………………………… 18 Perang Fijar………………………………………………… 19 2 Hilful Fudhul………………………………………………. 19 Meniti Kehidupan dengan Kerja Keras……………………. 20 Menikah dengan Khadijah binti Khuwailid……………….. 20 BAB 3 TAHUN KESEDIHAN……………………………….. 1. 2. 3. 4. Abu Thalib Wafat…………………………………. Khadijah Berpulang ke Rahmatullah……………. Kesedihan Datang Silih Berganti……………….. Menikah dengan Saudah r.a…………………….. 3 22 22 23 24 25 KATA PENGANTAR Puji dan syukur penulis sampaikan atas kehadirat Allah SWT. Yang telah memberikan kesempatan dan kesehatan kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan Tugas yang berjudul “Sirah Nabawiyah” ini sebagaimana mestinya. Shalawat dan salam penulis sampaikan keharibaan junjungan alam nabi besar Muhammad saw yang telah membawa umat manusia dari alam kebodohan ke alam yang berilmu pengetahuan. Tugas ini dapat terselesaikan berkat bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada guru guru selaku pembimbing, yang telah membimbing kami tanpa pamrih. Terima kasih yang setulus tulusnya penulis ucapkan kepada keluarga yang telah mendoakan penulis, serta membantu penulis baik secara moral maupun material dalam menyelesaikan studi penulis. Tidak lupa ucapan terima kasih juga penulis sampaikan kepada teman teman yang telah banyak membantu penulis secara langsung maupun tidak langsung dalam menyelesaikan Tugas ini. Penulis menyadari bahwa Tugas ini belum sempurna, hal ini disebabkan keterbatasan ilmu penulis. Oleh karena itu, kritik dan saran yang konstruktif sangat penulis harapkan kepada pembaca. November, 2016 Penulis 4 BAB 1 GAMBARAN MASYARAKAT ARAB JAHILIYAH A. Kondisi Sosial. Di kalangan bangsa Arab terdapat beberapa kelas masyarakat yang kondisinya berbeda antara satu dengan lainnya.Hubungan seseorang dengan keluarga di kalangan bangsawan sangat diunggulkan,diprioritaskan,dihormati dan dijaga sekalipun harus dengan pedang yang terhunus dan darah yang tertumpah.Jika seseorang ingin dipuji dan menjadi terpandang di mata bangsa Arab karena kemuliaan dan keberaniannya,dia banyak dibicarakan kaum perempuan.Jika seorang permpuan menghendaki,dia bias mengumpulkan beberapa kabilah untuk satu perdamaian.Jika mau,dia bisa menyalakan api peperangan dan pertempuran di antara mereka.Sekalipun begitu,seorang laki-laki tetap dianggap sebagai pemimpin ditengah keluarga,yang tidak boleh di bantah dan setip perkataannya harus di taati.Hubungan antara lakilaki dan perempuan harus melalui persetujuan wali perempuan.Seorang perempuan tidak bisa menentukan pilihannya sendiri. Begitulah gambaran secara ringkas kelas masyarakat bangsawan.Sedangkan kelas masyarakat lainnya beranek ragam dan mempunyai kebebasan hubungan antara laki-laki dan perempuan.Abu Dawud meriwayatkan dari Aisyah r.a., bahwa pernikahan pada masa jahiliyah ada empat macam,yaitu : 1. Pernikahan secara spontan.Seorang laki-laki mengajukan lamaran kepada seorang perempuan melalui laki-laki yang menjadi walinya.Lalu dia bisa menikahinya setelah menyerahkan mahar seketika itu pula. 2. Seorang laki-laki berkata kepada istrinya yang baru suci dari haid, “Temuilah Fullan dan berkumpullah bersamanya!” suaminya tidak mengumpulinya dan sama sekali tidak menyentuhnya hingga ada kejelasan bahwa istrinya hamil dari seorang yang disuruh mengumpulinya.Jika sudah jelas kehamilannya,suami bisa mengambil kembalinya istrinya jika dia memang menghendaki hal itu.Yang demikian ini dilakukan karena dia menghendaki kelahiran seorang anak yang baik dan pintar.Pernikahan semacam ini disebut dengan nikah istibdha’. 3. Pernikahan poliandri,yaitu pernikahan beberapa lelaki jumlahnya tidak mencapai sepuluh orang,yang semuanya mengumpuli seorang perempuan.Setelah perempuan itu hamil dan melahirkan bayinya,beberapa lama kemudian dia mengundang semua lakilaki yang berkumpul dengannya dan mereka tidak bisa menolakny a hingga berkumpul di hadapannya.Lalu dia berkata, “Kalian sudah mengetahui yang sudah terjadi dan kini aku sudah melahirkan.Bayi ini adalah anakmu hai Fulan.”Dia bisa menunjuk siapa saja yang dia sukai diantara mereka seraya menyebutkan namanya,lalu laki-laki itu bisa mengambil bayi tersebut. 5 4. Sekian banyak laki-laki bisa mendatangi perempuan yang di kehendakinya,yang juga disebut perempuan pelacur.Biasanya mereka memasang bendera khusus di depan pintunya,sebagai tanda bagi laki-laki yang ingin mengumpulinya.Jika perempuan pelacur ini hamil dan melahirkan anak,dia bisa mengundang semua lelaki yang pernah mengumpulinya.Setelah semua berkumpul,diselenggarakan undian,dia bisa mengambil anak itu dan mengakuinya sebagai anaknya.Dia tidak bisa menolak hal itu. Setelah Allah mengutus Nabi Muhammad saw.,semua bentuk pernikahan itu dihapus dan diganti dengan pernikahan sesuai menurut Islam.Lelaki dan perempuan bisa saling menghimpun dalam berbagai medan peperangan,yang disulut tajamnya mata pedang dan anak panah.Pihak yang menang dalam perang antarkabilah bisa menawan para parempuan,lalu menghalalkannya menurut kemauannya. Diantara kebiasaan yang sudah dikenal akrab pada masa jahiliyah ialah poligami,tanpa ada batasan maksimal,berapapun banyaknya istri yang dikehendaki.Bahkan mereka bisa menikahi dua perempuan yang bersaudara.Mereka juga bisa menikahi janda ayahnya,entah karena bercerai atau karena ditinggal mati.Hak perceraian ada ditangan lelaki,tanpa ada batasannya.Hal ini disebutkan di dalam Al-Quran surah An-Nisaa’: 22-23. Perzinaan mewarnai semua lapisan maasyarakat,tidak hanya terjadi di lapisan tertentu atau golongan,kecuali sebagian kecil dari kaum laki-laki dan perempuan yang masih memiliki keagungan jiwa.Perzinaan tidak dianggap aib yang merusak keturunan.Abu Dawud meriwayatkan dari Amr bin Syua’ib,dari bapaknya,dan kakeknya,dia berkata, “Ada seorang laki-laki berdiri seraya berkata, “Wahai Rasulullah,sesungguhnya fulan adalah anakku karena aku pernah berhubungan (senggama) dengan seorang budak perempuan pada masa jahiliyah.Lalu beliau saw bersabda “Tidak ada seruan seperti itu dalam Islam.urusan jahiliyah sudah punah.” Secara garis besar,kondisi social mereka bisa dikatakan lemah dan buta.Kebodohan mewarnai segala aspek kehidupan,kufarat tidak bisa dilepaskan,manusia hidup layaknya binatang,perempuan diperjualbelikan dan kadang –kadang diperlakukan layaknya benda mati.Hubungan di tengah umat sangat rapuh dan gudang-gudang pemegang kekuasaan dipenuhi kekayaan yang berasal dari rakyat,atau sesekali rakyat diperlukan untuk menghadapi serangan musuh. B. Kondisi Ekonomi. Perdagangan merupakan sarana yang paling dominan untuk memenuhi kebutuhan hidup.Jalur-jalur perdagangan tidak bisa dikuasai begitu saja kecuali jiak sanggup memegang kendali keamana dan perdamaian.Kondisi yang aman seperti ini tidak terwujud di Jazirah Arab kecuali pada bulan-bulan suci.Pada saat itulah dibuka pasar-pasar Arab yang terkenal,Ukadz,Dzi Majaz,Majinnah,dan lainnya. 6 Tentang perindustrian dan kerajinan,mereka adalah bangsa yang paling tidak mengenalnya.Kebanyakan hasil kerajinan yang ada di Arab,seperti jahit-menjahit,menyamak kuit,dan lainnya berasal dari rakyat Yaman,Hirah,dan pinggiran Syam.Meskipun demikian, di tengan Jazirah ada pertanian dan pengembalaan hewan ternak. C. Akhlak Di tengan kehidupan orang-orang jahiliyah banyak terdapat hal yang hina,amoral,dan masalah-masalah yang tidak bisa diterima akal sehat dan tidak disukai manusia.Meskipun begitu mereka masih memiliki akhlak terpuji,mengundang kekaguman manusia dan simpati.Diantara akhlak mereka tersebut di antaranya : 1. Kedermawanan Mereka saling berlomba dan membanggakan diri dalam masalah kedermawanan dan kemurahan hati.Bahkan separuh syair mereka bisa dipenuhi dengan pujian dan sanjungan terhadap kedermawanan ini.Diantara pengaruh kedermawanan ini,mereka biasa merasa bangga karena minum khamr.Hal itu dianggap sebgai salah satu cara menunjukkan kedermawanan dan merupakan cara paling mudah untuk menunjukkan pemborosannya.Antarah bin Syaddad al Absyi berkata, “Telah ku minum regukan-regukan arak Setelah melewati siang hari yang terik Didalam gelas kaca berwarna kuning Kemilau Bertabur bunga-bunga indah yang memukau Kehormatan ku juga tidak kuhirau Kurelakan harta kan musnah jika minum arak Kehormatanku yang tinggi tiada kusimak Jika tak mabuk tiada kusia-siakan undangan Karena ku tahu sifatku yang dermawan” 7 Pengaruh lain dari kedermawanan ini adalah mereka bisa bermain judi.Mereka menganggap bahwa bermain judi adalah salah satu cara untuk mengapresiassikan kedermawanan,karena dari laba judi itulah mereka bisa member makan orang-orang miskin atau mereka bisa menyisihkan sebagian uang dari andil orang-orang yang mendapat laba. 2. Memenuhi Janji Di mata mereka janji adalah sebuah hutang yang harus dibayar.Bahkan mereka lebih suka membunuh anaknya sendiri dan membakar rumahnya daripada meremehkan janji.Kisah tentang Hani’ bin Mas’ud asy-Syaibani,As-Sama’ual bin Adiya,dan Hajib bin zaraan sudah cukup membuktikan hal itu. 3. Kemuliaan Jiwa dan Keengganan Menerima Kehinaan dan Kelaliman Akibatnya,mereka bersikap berlebih-lebihan dalam masalah keberanian,sangat pencemburu,dan cepat naik darah.Mereka tidak mau mendengar kata-kata yang menggambarkan kehinaan dan kemerosotan,melainkan mereka bangkit menghunus pedang,lalu pecah peperangan yang berkepanjangan. 4. Pantang Mundur Jika mereka sudah menginginkan sesuatu yang di dalamnya terdapat keluhuran dan kemuliaan,tidak ada sesuatu pun yang bisa menghadang atau mengalihkan nya. 5. Kelemahlembutan dan Suka Menolong Orang Lain Mereka bisa membuat sanjungan tentang sifat ini.Hanya saja sifat ini tidak terlalu tampak karena berlebih-lebihan dalam masalah keberanian dan mudah terseret kepada peperangan. 6. Kesederhanaan Pola Kehidupan Badui Mereka tidak mau dilumuri warna-warni peradaban dan gemerlapnya.Hasilnya adalah kejujuran,dapat dipercaya,meninggalkan dusta dan pengkhianatan.Kita melihat akhlak yang sangat berharga ini,disamping letak geografis di Jazirah Arab,ini merupakan sebab mengapa mereka dipilih untuk mengemban beban risalah yang menyeluruh,menjadi pemimpin umat dan masyarakat manusia.Barangkali akhlak yang paling menonjol dan paling banyak mendatangkan manfaat setelah pemenuhan janji adalah kemuliaan jiwa dan semangat pantang mundur. 8 BAB 2 NASAB DAN KELUARGA BESAR NABI Nasab Nabi Ada tiga bagian tentang nasab Nabi saw.. 1) Bagian yang disepakati kebenarannya oleh para sejarawan dan ahli nasab,yaitu sampai Adnan. 2) Bagian yang masih diperselisihkan antara yang mengambil sikap diam dan tidak berkomentar dengan yang berpendapat dengannya,yaitu urutan nasab beliau dari atas Adnan hingga Ibrahim a,s.. 3) Tidak diragukan lagi bahwa di dalamnya terdapat riwayat yang tidak sahih,yaitu urutan nasab beliau dari atas Nabi Ibrahim a.s hingga Nabi Adam a.s.Berikut penjelasan lebih rinci tentang ketiga klasifikasi tersebut. a. Klasifikasi Pertama Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib (nama aslinya Syaibah) bin Hasyim (nama aslinya Amr) bin Abdu Manaf (nama aslinya Zaid) bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ay bin Ghalib bin Fihr (dialah yang dijuluki sebagai Quraisy yang kemudian suku ini dinisbatkan kepadanya) bin Malik bin An-Nadhar (nama aslinya,Qais) bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah (nama aslinya Amir) bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma’ad bin Adnan. b. Klasifikasi Kedua Adnan bin Add bin Humaisi’bin Salamah bin Aus bin Buz bin Qimwal bin Ubay bin Awwam bin Nasyid bin Haza bin Baldas bin Yadhaf bin Thabikh bin Janim bin Nahisy bin Makhiy bin Idh bin Abqar bin Di’a bin Hamdan bin Sunbur bin Yastribi bin Yahzan bin Yalhan bin Ar’awi bin Idh Zowwy bin Disyan bin Aisyar bin Afnad bin Ayham bin Muqashshir bin Ahits bin Zarith bin Sumay bin Mizzi bin Udhah bin Uram bin Qaiar bin Ismail bin Ibrahim a.s. c. Klasifikasi Ketiga Ibrahim a.s. bin Tarih (nama aslinya,Azar),bin Nahur bin Saru (atau Sarugh) bin Ra’u bin Falikh bin Abir bin Syalikh bin Arfakhsyad bin Sam bin Nuh bin Lamik bin Mutawasylikh bin Akhnukh (ada yang mengatakan bahwa dia adalah nabi Idris a.s.) bin yarid bin Mihla’il bin Qayyan bin Anusyah bin Syits bin Adam a.s. 9 Keluarga Besar Nabi 1) Hasyim Sebagimana telah kita singgung bahwa Hasyim lah orang yang bertindak sebagai penanggung jawab atas penyediaan air minum (siqayah)dan penyediaan makanan (rifadah) untuk jamaah haji dari keluarga Bani Abdul Manaf ketika terjadi kompromi antara Abu Manaf dengan Abdi Dar dalam masalah pembagian wewenang antara kedua belah pihak. Hasyim di kenal sebagai orang yang hidup berkecukupan dan bangsawan besar.Dia lah orang pertama yang menyediakan ats-tsarid (semacam roti yang di remuk dan disiram kuah. Ini merupakan makanan paling mewah di kalagan mereka, pen) kepada para jamaah haji di Mekah. Nama aslinya adalah Amr. Adapun mengapa dia dimakan Hasyim karena pekerjaanya yang meremuk-remukan roti tersebut.Dia lah juga orang pertama yang membuat tradisi melakukan dua perjalanan niaga bagi kaum Quraisy,yaitu rihlatusy syita’(perjalanan niaga musim dingin ke wilayah Syam) dan rihlatusy shaif (perjalanan niaga ke wilayah Yaman). Berkaitan dengan ini,seorang penyair bersenandung: Amr-lah orang yang menghidangkan tsarid Kepada kaumnya Kaum di Mekkah yang ditimpa kurang hijan Dan pecklik Olehnya-lah pencanangan tradisi dua perjalanan niaga Perjalanan niaga di musim dingin dan di musim panas 2) Abdul Muthalib Sepeninggal Hasyim diserahkan kepada saudaranya yang bernama Al-Muthalib bin Abdul Manaf (dia adalah seorang bangsawan yang di segani dan memiliki kharisma di kalangan kaumnya.Orang-orang Quraisy menjulukinya dengan al-fayyadh karena kedermawanannya.Ketika Syaibah alias Abdul Muthalib menginjak usia 7 tahun atau 8 tahun,al-Muthalib,pamannya mendengar berita tentang dirinya,lantas pergi mencarinya.Ketika bertemu dan melihatnya,berlinanglah air mata al-Muthalib,lalu anaknya itu di peluk erat-erat dan di naikkan ke atas tunggangannya untuk di bonceng tetapi keponakannya ini menolak hingga diizinkan dulu oleh ibunya. Pamannya,al-Muthalib kemudian memintanya agar merelakan keponakannya tersebut pergi bersamanya,tetapi ibunya menolak permintaan tersebut.Al-Muthalib lantas bertutur “Sesungguhnya dia akan berangkat menuju tahta ayahnya(Hasyim) menuju Tanah Haram.”Barulah ibunya kemudian mengizinkan anaknya di bawa. 10 Al-Muthalib membawanya ke Mekah dengan memboncengnya di atas unta.Melihat hal ini,orang-orang berteriak “Inilah budak al-Muthalib!” Al-Muthalib memotong sembari berkata “Celakalah kalian!Dia ini anak saudaraku Hasyim.”Abdul Muthalib akhirnya tinggal bersama pamannya hingga tumbuh dan menginjak dewasa.Selanjutnya al-Muthalib meninggal di Radman,sebuah tempat di Yaman.Kekuasaannya kemudian beralih kepada keponakannya,Abdul Muthalib.Dia menggariskan kebijakan persis seperti yang di gariskan oleh nenek moyangnya dulu. Ketika al-Muthalib meninggal,Naufal menyerobot dan merampas mahkota kekuasaan keponakannya tersebut.Karena itu dia lantas meminta pertolongan kepada para pemuka Quraisy untuk membantunya melawan sang paman.Tetapi mereka menolak sembari berkata “Kami tidak akan mencampuri urusanmu dengan pamanmu itu”. Akhirnya dia menulis beberapa untaian syair kepada paman-pamanya dari pihak ibunya,Bani Najjar guna memohon bantuan dari mereka.Pamannya,Abu Sa’ad bin Adi bersama 80 orang pasukan berkuda kemudian berangkat menuju Mekkah dan singgah di al-Abthah,sebuah tempat di kota Mekkah. Dia disambut oleh Abdul Muthalib yang langsung berkata “Silahkan mampir ke rumah dulu,Paman!”Pamannya menjawab “Demi Allah,aku tidak akan mampir hingga bertemu dengan Naufal,”lantas dia mendatanginya dan mencegatnya yang ketika itu tengah duduk-duduk di dekat Hijr Ismail bersama sesepuh Quraisy. Abu Sa’ad langsung menghunus pedangnya seraya mengancam,”Demi Tuhannya Ka’bah!Jika engkau tidak mengembalikan kekuasaan keponakanku,aku akan menancapkan pedang ini ke tubuhmu.”Naufal berkata,”Aku serahkan kembali kepadanya.”Ucapannya ini di saksikan oleh para sesepuh Quraisy tersebut.Kemudian barulah dia mampir ke rumah Abdul Muthalib dan tinggal di sana selama tiga hari.Selama disana,dia melakukan umrah (ala Quraisy sebelum kedatangan Islam),sebelum pulang ke Madinah. Menyikapi kejadian yang dialaminya,Naufal akhirnya besekutu dengan Bani Abdi Syams bin Abdi Manaf untuk untuk menandingi Bani Hasyim.Bani Khuza’ah tergerak juga untuk membela Abdul Muthalib setelah melihat pembelaan yang di berikan oleh Bani Najjar terhadapnya.Mereka berkata kepada Bani Najjar “Kami juga melahirkannya (maksudnya keturunan kami juga),seperti kalian,tetapi kami justru lebih berhak membelanya.”Hal itu karena ibu dari Abdi Manaf merupakan salah satu dari keturunan mereka.Mereka lalu memasuki Darun Nadwah dan bersekutu dengan Bani Hasyim untuk melawan Bani Abdi Syams dan Naufal.Persekutuan ini lah kemudian menjadi sebab penaklukan Mekkah. 11 Ada dua peristiwa penting yang menyangkut Abdul Muthalib sehubungan dengan Ka’bah ini yaitu: Pertama,penggalian sumur zamzam. Kedua,kedatangan pasukan gajah. Abdu Muthalib memiliki sepuluh anak laki-laki,yaitu:Al-Harist,az-Zubayr,Abu Thalib,Abdullah,Hamzah,Abu Lahab,al-Gahidaq,al-Muqawwim,Shaffar,al-Abbas.Ada yang berpendapat anaknya sebelas,yaitu ditambah Qatsam.Ada juga yang mengatakan anaknya ada tiga belas.Mereka yang berpendapat seperti ini menambahkan Abdul Ka’bah dan Hajla.Adapun anak perempuan,mereka adalah Ummu Hakim yaitu alBaydla,Barrah,Atikah,Shafiyah,Arwa dan Umaymah. 3) Abdullah Abdullah ,ayahanda Rasul saw.,ibunya adalah Fathimah binti Amr bin A’idz bin Imran bin Makhzum bin Yaqzhah bin Murrah.Abdullah adalah anak Abdul Muthalib yang paling tampaan,yang paling bersih jiwanya dan paling di cintainya.Abdullah inilah yang memperoleh undian hendak di sembelih dan dikorbankan sesuai nazar dari Abdul Muthalib.Kisahnya,ketika Abdul Muthalib telah genap memiliki sepuluh anak laki-laki dan mengetahui bahwa mereka mencegahnya mengurungkan niatnya,dia lalu memberitahukan mereka perihal nazar tersebut sehingga mereka pun mau menaatinya.Dia menulis nama-nama mereka di anak panah untuk di undi,lalu diletakkan di depan patung Hubal.Setelah anak-anak panah itu di kocok,keluar nama Abdullah.Maka Abdul Muthalib menuntun Abdullah sambil membawa pedang menuju Ka’bah untuk menyembelihnya.Orang-orang Quraisy mencegahnya terutama pamanya (dari pihak ibu) dari Bani Makhzum dan saudaranya abu Thalib. “kalau begitu bagaimana saya harus menunaikan nazarku ?”Tanya Abdul Muthalib.Mereka pun menunjuk kepadanya supaya mendatangi seorang dukun peremuan dan meminta keputusan.Maka Abdullah pun mendatanginya.Perempuan dukun itu memerintahkan mengundi antra Abdullah dengan sepuluh ekor unta.Apabila ternyata keluar nama Abdullah,ia harus menambahkan lagi sepuluh ekor unta sampai Tuhannya ridha (maksudnya sampai yang keluar undian bukan nama Abdullaah).Tetapi jika yang keluar undian adalah unta,ia harus menyembelih unta itu semuanya. Abdul Muthalib akhirnya kembali,lalu mengundi antara Abdullah dengan sepuluh ekor unta.Ternyata yang keluar undian adalah Abdullah,maka ditambahkanlah untanya sepuluh ekor.Seterusnya terjadi demikian hingga jumah untanya telah mencapai seratus ekor.Baru setelah itu keluar adalah unta.Maka unta-unta itu pun di sembelih,sebagai pengganti Abdullah.Daging-daging unta tersebut di biarkan begitu saja dan tidak boleh dijamah oleh manusia maupun binatang.Dulu diyat(tebusan atas kehilangan jiwa seseorang) di kalangan Quraisy dan bangsa Arab adalah sepuluh ekor unta.Tetapi setelah peristiwa itu,diyatnya berubah menjadi seratus ekor unta.Ketentuan yang sama ditetapkan pula oleh Islam. 12 Diriwayatkan dari Nabi saw.bahwa beliau bersabda “Aku adalah putra dari dua orang dipersembahkan untuk disembelih”Yaitu Ismail a.s.dan ayahnya Abdullah. Versi lain meriwayatkan bahwa ia pergi menuju syam untuk berdagang dengan kafilah Qurasy.Setibanya di madinah,ia jatuh sakit di sana.Ia di makamkan di suatu tempat bernama an-naabighah al-jad’iy.Waktu itu abdullah berumur 25 tahun,dan wafatnya tersebut sebelum kelahiran nabi.(ini pendapat kebanyakan sejarah).Ada pula pendapat bahwa abdullah meninggal dunia setelah dua bulan kelahiran nabi saw… ketika kabar duka ini sampai ke mekkah,aminah meratapi kepergian suaminya dengan untain syair yang sangat menyentuh; Seorang cucu telah pergi di sisi Bathha’ Keluar mendampingi lahat dengan suara bergumam Rupanya kematian mengundangnya lantas Disambutnya Ia (kematian )tak pernah mendapatkan orang semisal cucu Hasyim Di saat mereka tengah memikul keranda Kematiannya di sore hari Sahabat-sahabatnya saling berdesakan untuk melayatnya Bilakah pemandangan berlebihan itu Diperlakukan maut untuknya Sungguh itu pantas karena dia adalah Dermawan dan penuh kasih Keseluruhan harta yang ditinggalkan Abdullah berupa lima ekor unta,sekumpulan kambing,seorang budak perempuan Habasyah bernama Berkah yang kun-yahnya Ummu Aiman.Dia inilah yang kelak mengasuh Rasulullah saw.. 13 KELAHIRAN DAN 40 TAHUN SEBELUM KENABIAN. Kelahiran Nabi Rasulullah Saw di lahirkan di tengah kabilah Bani Hasyim,di kota Mekah pada pagi hari Senin,tanggal 9 Rabi’ul Awwal,permulaan tahun dari peristiwa pasukan gajah,dan empat puluh tahun setelah kekuasaan Kisra Anusyirwan.Atau bertepatan dengan tanggal 20 atau 22 bulan April tahun 571 M,berdasarkan hasil penelitian seorang ulama besar Muhammad Sulaiman AlManshurfury dan seorang ahli ilmu falak,Mahmud Basya. Ibnu Sa’ad meriwayatkan bahwa ibunda Rasulullah saw.pernah menceritakan, “Ketika aku melahirkannya,dari rahimku keluar seberkas cahaya yang karenanya istana-istana di Syam tersinari.” Setelah Aminah melahirkan,dia mengirim utusan kepada kakeknya Abdul Muthalib memberitahukan kabar gembira tentang kelahiran cucunya.Kemudian Abdul Muthalib dating dengan perasaan suka cita,lalub membawa beliau masuk dalam Ka’bah.Ia berdo’a kepada Allah SWT dan bersyukur kepada-Nya.Dia memilih nama Muhmmad,padahal nama itu belum dikenal di kalangan Arab.Abdul Muthalib pun mengkhitan beliau saw.pada hari ketujuh kelahirannya,sebagaimana tradisi yang berlaku di masyarakat Arab. Perempuan pertama yang menyusui Nabi Muhammad saw setelah ibunya meninggal adalah Tsuwaibah.Perempuan ini merupakan budak perempuan Abu Lahab yang saat itu juga tengah menyusui anaknya sendiri bernama Masruh.Sebelumnya ia juga telah menyusui Hamzah bin Abdul Muthalib.Kemudian dia menyusui Abu Salamah bin Abdul Asad al Makhzumi setelah menyusui Rasulullah saw. Di Perkampungan Bani Sa’ad Abdul Muthalib mencari perempuan-perempuan yang dapat menyusui Rasullah saw..Dia akhirnya,mendapatkan seorang perempuan penyusu dari kabilah Bani Sa’ad bin Bakr yang bernama Halimah bin Abu Dzuaib.Suami perempuan ini bernama Harist bin Abdul Uzza yang berjuluk Abu Kabsyah yang juga berasal dari kabilah yang sama. Saudara-saudara Nabi saw.dari satu susuan adalah Abdullah bin Harits,Anisah binti Harits,Hudzafah atau Judzamah binti Harits,yang julukannya yaitu Syaima’ justru lebih popular daripada namanya sendiri.Selain Rasul saw.,Halimah juga mengasuh Abu Sufyan bin Harits bin Abdullah,sepupu Nabi Saw. 14 Halimah merasakan adanya keberkahan yang dibawa beliau saw.yang membuatnya menceritakan kisah-kisah yang menakjubkan.Seperti yang diriwayatkan Ibnu Ishaq bahwa Halimah pernah bekisah,suatu kali dia keluar dari negerinya bersama suaminya dan seseorang anak laki-lakinya yang masih kecil dan di susuinya bersama beberapa perempuan dari Bani Sa’ad bin Bakr.Tujuan mereka adalah mencari bayi yang hendak di susui.Waktu itu masih masa paceklik,tidak tersisa kekayaan apa pun yang kami miliki.Ia berkata “Aku pergi sambil menaiki seekor keledai betina milikku beserta seekor unta yang sudah tua.Demi Allah!Tidak setetes pun susu yang dihasilkannya.Sepanjang malam kami tidak pernah tidur karena tangisan bayi kami yang menangis kelaparan.Air susuku juga tidak bisa diharapkan.Sekalipun kami masih tetap mengharapkan adanya uluran tangan dan jalan keluar.Aku pergi sambil menunggang keledai betina milik kami dan hamper tidak pernah turun dari punggungnya sehingga keledai itupun semakin lemah kondisinya”. “Akhirnya kami serombongan tiba di Mekkah dan kami langsung mencari bayi-bayi yang bisa kami susui.Setiap perempuan dari rombongan kami yang ditawari Rasulullah saw.pasti menolaknya,setelah tahu bahwa beliau saw.adalah anak yatim.Tidak mengherankan karena kami mengharapkan imbalan yang memadai dari ayah sang bayi yang hendak kami susui.Kami semua berkata “Dia adalah anak yatim”.Tidak ada pilihan bagi ibu dan kakek beliau,karena kami tidak menyukai keadaan seperti itu. Setiap perempuan dari rombongan kami sudah mendapat bayi yang hendak disusuinya,kecuali aku sendiri.Ketika kami telah bersiap untuk kembali,aku berkata kepada suamiku “Demi Allah!Aku tidak ingin kembali bersama teman-teman prempuanku tanpa membawa seorang bayi yang kususui.Demi Allah!Aku benar-benar akan mendatangi anak yatim itu dan membawanya.” Lalu suamiku berkata “Tidak mengapa bila kamu melakukan hal itu,semoga Allah menjadikan kehadirannya di tengah kita sebagai suatu keberkahan.”Halimah melanjutkan penuturannya”Aku pun menemui bayi itu dan aku siap membawanya.Tatkala menggendongnya seakan-akan aku tidak merasa berat karena mendapat beban yang lain.Aku segera menghampiri hewan tungganku.Tatkala putting susuku kusodorkan kepadanya,bayi itu bisa menyedot air susunya hingga kenyang.Anak kandungku juga bisa menyedotnya hingga kenyang.Setelah itu keduanya tertidur pulas.Padahal sebelum itu,kami tidak pernah tidur sepicing pun karena mengurus bayi kami.Ternyata air susunya menjadi penuh.Maka kami memerahnya.Suami bisa minum air susu unta kami,begitu pula aku,hingga kami benar-benar kenyang.malam itu adalah malam yang terasa paling indah bagi kami. 15 “Demi Allah,tahukah engkau Halimah,engkau telah mengambil satu jiwa yang penuh berkah.”kata suamiku keesokan harinya “Demi Allah,akupun berharap yang demikian itu”kataku.Halimah melanjutkan penuturannya “Kemudian kami pun siap-siap pergi dan aku menunggang keledaiku.Semua bawaan juga kami tunaikan bersamaku di atas punggunggya.Demi Allah,setelah perjanan sekian jauh,tentulah keledai-keledai mereka tidak akan mampu membawa beban seperti yang aku bebankan di atas punggung keledaiku.Sehingga rekan-rekanku berkata kepadaku “Wahai putri Abu Dzu’aib celaka engkau!Tunggulah kami! Bukankah ini keledaimu yang pernah engakau bawa bersama kita dulu? “Demi Allah,begitulah.Ini adalah keledaiku yang dulu,”kataku. “Demi Allah,keldaimu itu kian bertambah perkasa.”kata mereka. Kami pun tiba di tempat tinggal kami di Bani Sa’ad,aku tida pernah melihat sepetak tanah pun milik kami yang lebih subur saat itu.Domba-domba kami dating menyongsong kedatangan kami dalam keadaan kenyang dan air susunya juga penuh berissi sehingga kami bisa memerahnya dan meminumnya.Sementara setiap orang yang memerahnya susu hewannya sama sekali tidak mngeluarkan air setetes pun dan ambing susunya juga kempes.Sehingga mereka berkata garang kepada gembalanya “Celakalah kalian!Lepaskanlah hewan gembala kalian seperti yang di gembalakan oleh putrid Abu Dzu’aib.Tetapi domba-domba mereka pulang ke rumah dalam keadaan lapr dan tak setetes pun mengeluarkan air susu.Sementara domba-dombaku pulang dalam keadaan kenyang dan kelenjar susunya penuh berisi. Kami senantiasa mendapatkan tambahan berkah dan kebaikan dari Allah selama dua tahun menyusui anak susuan kami.Lalu kami menyapihnya.Dia tumbuh dengan baik ,tidak seperti bayi-bayi yang lain.Bahkan sebelum usia dua tahun pun dia sudah tumbuh pesat. Kemudian kami membawanya kepada ibunya,meskipun kami masih berharap agar anak itu tetap berada di tengah-tengah kami karena kami bisa merasakan berkahnya. Kemudian kami menyampaikan niat ini kepada ibunya. Aku berkata kepadanya, “Andaikan saja engkau sudi membiarkan anak ini tetap bersama kami hingga kami menjadi besar. Sebab aku khawatir dia terserang penyakit yang bisa menjalar di Mekah.” Kami terus merayu ibunya agar dia berkenan mengembalikan anak itu tinggal bersama kami. Begitulah, Rasulullah saw. Tinggal di tengahtengah Bani Sa’ad hingga tatkala berumur empat atau lima tahun terjadi peristiwa pembelahan dada beliau. Muslim meriwayatkan dari Anas, bahwa Rasulullah saw. Didatangi jibril a..s.. Saat itu beliau saw. Sedang bermain-main dengan beberapa anak kecil lainya. Jibril a.s. memegang beliau saw. Dan menelantangkannya, lalu membelah dada dan mengeluarkan segumpal darah dari dada beliau, seraya berkata, “ Ini adalah sebagian setan yang ada pada dirimu.” Lalu jibri a.s. mencucinya di sebuah baskom terbuat dari emas dengan menggunakan air zamzam, kemudian menata dan memasukkannya ke tempat semula. Anak-anak kecil lainya berlarian mencari ibu susunya dan berkata “ Muhammad telah dibunuh! Mereka pun dating menghampiri beliau yang wajah mereka semakin berseri. 16 Kembali Kepangkuan Ibunda nan Amat Mengasihani Dengan adanya peristiwa pembelahan dada itu,Halimah merasa khawatir terhadap keselamatan beliau,sehingga dia mengembalikannya kepda ibunda beliau.Setelah itu beliau hidup bersama ibunda tercinta hingga berumur enam tahun. Aminah merasa perlu mengenang suaminya yang telah meninggal dunia dengan cara mengunjungi makam suaminya di Yastrib.Kemudian dia pergi dari Mekkah untuk menempuh perjalanan sejauh lima ratus kilometer,bersma putranya yang yatim,Muhammad saw.disertai pembantu perempuannya,Ummu Aiman.Abdul Muthalib mendukung hal ini.Setelah menetap selama sebulan di Madinah,Aminah dan rombongannya siap-siap untuk kembali ke Mekkah.Akan tetapi,takdir berkata lain.Dalam perjalanan pulang itu Ibunda Aminah jatuh sakit hingga akhirnya meninggal dunia di Abwa’,yang terletak antara Mekkah dan Madinah. Kembali ke Pangkuan Kakeknya yang Penuh Kasih Sayang Kemudian beliau kembali ke tempat kakeknya,Abdul Muthalib di Mekkah.Perasaan kasih sayang dalam sanubari terhadap cucunya yang kini yatim piatu semakin terpuruk,cucunya yang harus menghadapi cobaan baru di atas luka lama. Hatinya tergetar oleh perasaan kasih sayang, yang tidak pernah dirasakan sekalipun terhadap anak-anaknya sendiri. Dia tidak ingin cucunya hidup sebatang kara. Bahkan sang kakek lebih mengutamakan anak-anaknya. Ibnu Hisyam berkata, “ Ada sebuah yan diletakkan di dekat Ka’bah untuk Abdul Muthalib keluar ke sana dan tidak ada seorang pun di antara mereka duduk di dipan itu, sebagai penghormatan terhadap dirinya. Suatu kali selagi Rasulullah saw. Menjadi anak kecil yang montok, beliau duduk di atas dipan itu. Paman-paman beliau langsung memegang dan menahan agar tidak duduk di dipan itu. Tatkala Abdul Muthalib melihat kejadian ini, dia berkata “Biarkan cucuku ini. Demi Allah! Sesungguhnya dia akan memiliki kedudukan yang agung.” Kemudian Abdul Muthalib duduk bersama beliau diatas dipannya sambil mengelus punggung beliau dan senantiasa merasa gembira terhardap apa pun yang beliau lakukan. Pada usia delapan tahun lebih dua bulan sepuluh hari dari umur Rasulullah saw., kakek beliau meninggal, Abdul Muthalib sudah berpesan menitipkan pengasuhan sang cucu kepada pamannya, Abu Thalib, saudara kandung bapak beliau. Di Bawah Asuhan Paman Abu Thalib melaksanakan hak anak saudaranya dengan sepenuhnya dan menganggap seperti anaknya sendiri.Bahkan Abu Thalib lebih mendahulukan kepentingan beliau daripada anak-anaknya sendiri,mengkhususkan perhatian dan penghormatan.Hinggs berumur lebih dari empat puluh tahun beliau mendapatkan kehormatan di sisi Abu Thalib,hidup di bawah penjagaannya,rela menjalin persahabatan dan bermusuhan dengan orang lain demi membela diri beliau. 17 Meminta Hujan dengan Wajah Beliau Ibnu Asakir men-takhrij dari Julhumah bin Arfathah,dia berkata, “Tatkala aku tiba di Mekkah,orang-orang sedang dilanda musim paceklik.Orang-orang Quraisy berkata, ‘Wahai Abu Thalib,lembah sedang kekeringan dan kemiskinan melanda.Marilah kita berdoa meminta hujan”. Mendengarnya,Abu Thalib keluar bersama seorang anak kecil,yang seolah-olah wajahnya adalah matahari yang membawa mendung,yang menampak kana wan sedang berjalan pelanpelan.Disekitar Abu Thalib juga ada beberapa anak kecil lainnya.Dia memegang anak kecil itu dan menempelkan ke punggungnya ke dinding Ka’bah.Jari jemarinya memegangi anak itu.Langit yang tadinya cerah tiba-tiba saja bertambah mendung dating dari segala arah,hingga menurunkan hujan yang sangat lebat.Akibatnya,lembah-lembah terairi dan lading-ladang menjadi subur.Abu Thalib mengisyaratkan hal ini dalam syair yang di bacakannya, “Putih berseri meminta hujan dengan wajahnya Penolong anak yatim dan pelindung janda” Bahira sang Rahib Selagi usia Rasulullah saw.mencapai dua belas tahun,ada yang berpendapat,lebih dua bulan sepuluh hari,Abu Thalib mengajak pergi berdagang dengan tujuan Syam,hingga tiba di Bushra,suatuu daerah yang sudah termasuk Syam dan merupakan ibu kota Hauran,yang juga merupakan ibu kotanya orang-orang Arab,sekalipun di bawah kekuasaan bangsa Romawi.Di negeri ini ada seorang rahib yang di kenal dengan nama Bahira,yang nama aslinya adalah Jurjis. Tatkala rombongan singgah di daerah ini,sang rahib kemudian menghampiri mereka dan mempersilakan mereka mampir ke tempat tinggalnya sebagai tamu kehormatan.Padahal sebelum itu rahib tersebut tidak pernah keluar.Tetapi begitu dia bisa mengetahui Rasulullah saw.dari sifatsifat beliau.Sambil memegang tangan beliau,sang rahib berkata, “orang ini adalah pemimpin semesta alam.Orang ini akan di utus Allah sebagai rahmat bagi seluruh alam.”ungkapnya dengan nada serius dan bijaksana. Abu Thalib bertanya, “Dari mana engkau tahu hal itu?” Rahib Bahira menjawab, “Sebenarnya sejak kalian tiba di Aqabah,tidak ada bebatuan dan pepohonan pun melainkan mereka tunduk bersujud.Mereka tidak bersujud kecuali kepada nabi.Aku bisa mengetahuinya dari cincin nubuwah yang berada di bagian bawah tulang rawan bahunya,yang menyerupai buah apel.Kami juga bisa mendapatkan tanda tanda itu dalam kitab kami.” 18 Kemudian rahib Bahira meminta agar Abu Thalib kembali lagi bersama beliau tanpa melanjutkan perjalanannya ke Syam karena dia takut gangguan dari pihak orang-orang Yahudi.Mendengar nasihat dari sang rahib,akhirnya Abu Thalib mengirim beliau bersama beberapa pemuda agar kembali lagi ke kota Mekkah. Perang Fijar Pada usia lima belas tahun,meletus perang Fijar antara pihak Quraisy bernama Kinanah,berhadapan dengan pihak Qais Ailan.Komandan pasukan Quraisy dan Kinanah di pegang Harb bin Umayyah,karena pertimbangan usia dan kedudukannya yang terpandang.Pada mulanya pihak Qais-lah yang mendapat kemenangan.Tetapi kemudian beralih ke pihak Quraisy dan Kinanah.Dinamakan perang Fijar karena terjadi pelanggaran terhadap kesucian Tanah Haram dan bulan-bulan suci.Rasulullah saw.ikut bergabung dalam peperangan ini,dengan cara mengumpulkan anak-anak panah bagi paman-paman beliau,untuk di lempar kembali ke pihak musuh. Hilful Fudhul Pengaruh dari peperangan ini adalah,diadakanlah Hilful Fudhul pada bulan Dzul qa’dah pada bulan suci,yang melibatkan beberapa kabilah Quraisy,yaitu Bani Hasyim Bani Muthalib,Asad binAbdul Uzza,Zuhrah bin Kilab,dan Taim bin Murrah.Mereka berkumpul di rumah Abdullah bin Jud’an at-Taimi karena pertimbangan umur dan keduduknnya yang terhormat.Mereka mengukuhkan perjanjian dan kesepakatan bahwa tidak ada seorang pun dari penduduk Mekkah dan juga lainnya yang di biarkan teraniaya.Siapa yang teraniaya,mereka sepakat untuk berdiri di sampingnya.Sedangkan terhadap siapa yang berbuat zalim,kezalimannya harus dibalaskan terhadap dirinya.Perjanjian ini juag dihadiri oleh Rasulullah saw.. Setelah Allah SWT memuliakan dengan risalah,beliau saw.bersabda “Aku pernah mengikuti perjanjian yang di kukuhkan di rumah Abdullah bin Jud’an,suatu perjanjian yang lebih kusukai dari pada keledai yang terbagus.Seandainya aku di undang untuk perjanjian itu semasa Islam,tentu aku akan memenuhinya”. Semangat dari perjanjian ini adalah mengenyah kan keberanian ala Jahiliyyah yang lebih banyak membangkitkan rasa fanatisme.Ada yang berpendapat,sebab dari perjanjian ini karena ada seseorang dari Zubaid yang tiba di Mekkah sambil membawa barang dagangannya.Lalu barang-barang dagangannya itu di beli oleh al-Ash bin Wa’il as-Sahmy.Tetapi al-Ash tidak memenuhi hak-haknya dan juga mengkhianati sekutu-sekutunya yang lain dari Abdud Dar,Makhzum,Jumah,Sahm,dan Ady.Oleh karena itu,mereka pun tidak memperdulikannya lagi. 19 Kemudian orang dari Zubaid itu naik ke atas bukit Abu Qubais dan memperdengarkan syair-syair yang menggambarkan kezaliman al-Ash dengan suara yang keras.Saat itu az-Zubair bin Abdul Muthalib lewat di dekatnya,lalu bertanya, “Mengapa ada orang yang tertinggal?” Lalu mereka berkumpul di Hiful Fudhul,lalu menghampiri al-Ash bin Wa’il untuk memprotes pelanggarannya terhadap hak-hak orang Zubaidy itu.Padahal sebelum itu mereka sudah mengikat persekutuan dengannya. Meniti Kehidupan dengan Kerja Keras Pada awal masa remajanya,Rasullah saw.tidak mempunyai pekerjaan tetap.Hanya saja beberapa riwayat menyebutkan bahwa beliau biasa mengembala kambing di kalangan Bani Sa’ad dan juga di Mekkah dengan imbalan uang beberapa qirath (bagian dari uang dinar ).Pada usia dua puluh lima tahun,beliau pergi berdagang ke Syam,menjalankan barang dagangan milik Khadijah. Ibnu Ishaq menuturkan,Khadijah binti Khuwailid adalah seorang saudagar perempuan,keturunann bangsawan kaya-raya.Dia biasa menyuruh orang-orang untuk menjalankan barang dagangannya,dengan membagi sebagian hasilnya kepada mereka.Sementara orang-orang Quraisy memiliki hobi berdagang.Tatkala Khadijah mendengar kabar tentang kejujuran perkataan,amanah,dan akhlak beliau,dia pun mengirim utusan dan menawarkan kepada beliau agar berangkat ke Syam untuk menjalankan barang dagangannya.Dia siap memberikan imbalan jauh lebih banyak dari imbalan yang pernah dia berikan kepada pedagang lain.Beliau harus pergi bersama seorang pembantu bernama Maisarah.Beliau menerima tawaran ini.Kemudian beliau pun berangkat ke Syam untuk berdagang dengan di sertai Maisarah. Menikah dengan Khadijah Setibanya di Mekkah dari berdagang,Khadijah mengetahui keuntungan dagangannya yang melimpah,yang tidak pernah dilihatnya sebanyak itu sebelumnya.Apalagi setelah pembantunya,Maisarah mengabarkan kepadanya apa yang dilihatnya pada dilihatnya pada diri beliau yang lama menyertainya,bagaimana sifat-sifat beliau yang mulia,kecerdikan,dan kejujuran beliau,maka seakan-akan Khadijah mendapatkan sesuatu yang pernah hilang dan sangat diharapkannya.Sebenarnya sudah banyak pemuka dan pemimpin kaum yang hendak menikahinya.Namun,dia tidak mau. Tiba-tiba saja dia teringat seseorang rekannya,Nafsah binti Munyah.Dia meminta agar rekannya ini menemui Muhammad dan membuka jalan agar mau menikah dengan Khadijah.Ternyata beliau menerima tawaran itu,lalu beliau menemui paman-paman beliau.Kemudian paman-paman beliau menemui paman Khadijah untuk mengajukan lamaran.Setelah semuanya dianggap beres,perkawinan berbeda usia sekitar lima belas tahun itu siap dilaksanakan.Yang ikut hadir dalam pelaksanaan akad nikah adalah Bani Hasyim dan para pemuka Bani Mudhar.Hal ini terjadi dua bulan sepulang beliau dari Syam.Mahar beliau adalah dua puluh ekor unta.Usia Khadijah sendiri 40 tahun,pada masa itu merupakan perempuan yang 20 paling terhormat nasabnya,paling banyak hartanya,dan paling cerdas otaknya.Dia adalah perempuan pertama yang di nikahi Rasulullah saw.(Beliau tidak pernah menikahi perempuan lain sehingga dia meninggal dunia). Semua putra-putri beliau,selain Ibrahim a.s yang di lahirkan dari Maryam binti alQibthiyah,dilahirkan dari Khadijah.Yang pertama adalah Al-Qasim,dan dengan nama ini pula Rasulullah saw.dijuluki (Abdul Qasim),kemudian Zainab,Ruqayyah,Ummu Kultsum,Fatimah,dan ath-Thahir.Semua putra beliau meninggal dunia selagi masih kecil.Sedangkan semua putrid beliau sempat menjumpai Islam,dan masuk Islam serta ikut berhijrah.Hanya saja mereka semua meninggal dunia selagi beliau hidup,kecuali Fatimah.Dia meninggal dunia selang 6 bulan sepeninggal beliau,untuk bersua dengan beliau. 21 BAB.3 TAHUN KESEDIHAN. Abu Thalib Wafat Sakit yang dialami oleh Abu Thalib semakin parah,maka tak lama kemudian dia menemui ajalnya,tepatnya bulan Rajab tahun kesepuluh kenabian.Yaitu 6 bulan sejak meninggalkan lembah sejak pemboikotan.Ada yang berpendapat kematiannya terjadi di bulan Ramadhan,tiga bulan sebelum wafatnya Khadijah. Dalam kita ash-shahih disebutkan dari al-Musayyab bahwa Abu Thalib tatkala hampir mendekati ajalnya,masuklah Nabi Muhammad saw..Saat itu di sampingnya sedang ada Abu Jahal.Rasulullah saw.mengucapkan di telinga Abu Thalib, “Wahai paman,ucapkanlah ‘Laa Ilaaha Illa Allah’ satu kalimat yang dapat engkau jadikan hujjah kelak di hadapan Allah” Abu Jahal dan Abdullah bin Umayyah menyela, “Wahai Abu Thalib apakah engkau tidak menyukai agama Abdul Muthalib?” Keduanya terus mendesaknya demikian,hingga kalimat terakhir yang di ucapkan Abu Thalib adalah “Aku masih tetap dalam agama Abdul Muthalib”. Nabi Muhammad saw.berkata, “Sungguh aku akan memintakan ampunan untukmu selama aku tidak dilarang untuk melakukannya”.Tetapi kemudian turunlah ayat. ‫ما كَان لِلنبي والَّذين آمنوا َأ‬ ‫ف ُروا‬ ‫ي‬ ‫ن‬ ِ ْ‫ستَغ‬ ُ َ َ ِ َ ِّ ِ َّ َ َ ْ ْ َ ‫شركين ولَو كَانوا ُأ‬ ُ ‫ما‬ ‫د‬ ‫ع‬ ‫ب‬ ‫ن‬ ‫م‬ ‫ى‬ ‫ب‬ ‫ر‬ ‫ق‬ ‫ي‬ ‫ل‬ ‫و‬ ِ ِ ِ ُ ْ َ َ ِ ِ ْ ‫م‬ ْ َ َ َ ُ ْ ‫لِل‬ ْ ٰ ْ ‫تبين لَهم َأنهم َأ‬ ْ ‫يم‬ ‫ح‬ ‫ج‬ ‫ال‬ ‫اب‬ ‫ح‬ ‫ص‬ ِ َ ُ َ ْ ْ ُ َّ ْ ُ َ َّ َ َ ِ “Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat(nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahanam”. (at-Taubah : 113) 22 Demikian pula dengan ayat, ‫ك اَل تهدي من َأ‬ َّ َ ٰ َ َّ ‫ِإن‬ ‫ن‬ ‫م‬ ‫ي‬ ‫د‬ ‫ه‬ ‫ي‬ ‫ه‬ ‫الل‬ ‫ن‬ ‫ك‬ ‫ل‬ ‫و‬ ‫ت‬ ‫ب‬ ‫ب‬ ‫ح‬ ِ ِ ِ َْ َ ْ َ ْ ْ َ ْ َ َّ َ َ ْ َ ‫شاءُ ۚ وهُو َأ‬ ْ َ َ َ‫ي‬ ‫ين‬ ‫د‬ ‫ت‬ ‫ه‬ ‫م‬ ‫ال‬ ‫ب‬ ‫م‬ ‫ل‬ ‫ع‬ ْ َ ِ َْ ُ ِ ُ َ َ Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk”. (al-Qashash : 56) Tidak perlu dijelaskan betapa penjagaan dan perlindungan yang diberikan Abu Thalib terhadap Rasulullah saw..Dia adalah benteng tempat dakwah Islamiyah berlindung dari serangan orang-orang yang somabong dan dungu.Tetapi sayang,dia tetap berada dalam agama nenek moyangnya sehingga sama sekali tidak mendapatkan keberuntungan. Dalam ash-Shahih disebutkan dari Abbas bin Abdul Muthalib,dia berkata kepada Rasulullah saw.. “Engkau sangat membutuhkan paman engkau,dia sungguh telah melindungi dan berkorban untukmu”.Beliau bersabda, “Dia berada di neraka yang paling ringan,andaikata bukan karena ku niscaya dia sudah berada di neraka paling bawah”. Dari Sa’id al-Khudry,bahwa dia pernah mendengar Nabi Muhammad saw.bersabda, “Semoga syafaatku bermanfaat baginya pada hari kiamat nanti,sehingga dia berada di neraka yang paling dangkal hanya sebatas tumitnya saja”. Khadijah Berpulang ke Rahmatullah Khadijah dua bulan atau tiga bulan setelah wafatnya Abu Thalib,Ummul Mukminin Khadijah al-Kubra r.a. pun wafat.Tepatnya pada bulan Ramadhan tahun kesepuluh kenabian.Saat wafat usianya 65 tahun,sedangkan saat Nabi Muhammad berusia 50 tahun. Khadijah merupakan salah satu anugerah yang Allah SWT berikan untuk Nabi Muhammad saw..Dia mendampingi beliau selama seperempat abad,menyayangi beliau di kala resah,melindungi beliau di saat-saat yang kritis,serta menolong beliau dalam menyebarkan risalah dakwah.Turut mendampingi beliau dalam menjalankan perjuangan yang berat,rela menyerahkn diri dan hartanya kepada beliau.Rasulullah saw.bersabda tentang dirinya, “Dia beriman kepada ku ketika manusia bersikap ingkar,dia membenarkan aku ketika manusia 23 mendustakanku,dia menyerahkan hartanya ketika manusia mau memberikannya,Allah menganugerahiku anak dari dirinya ketika perempuan selain nya tidak memberikannya kepadaku”. Dalam ash-Shahih,dari Abu Hurairah,dia berkata, “Jibril mendatangkan Nabi saw.,dan berkata, ‘Ini adalah Khadijah yang dating sambil membawa bejana,di dalamnya ada laukpauk,ada makanan atau minuman;bila nanti menemuimu,sampaikan salam kepadanya dari Rabb_Nya,dan sampaikan kabar kepadanya tentang sebuah rumah di surga,yang di dalamnya tidak ada kebisingan maupun rasa lelah di dalamnya.” Kesedihan Datang Silih Berganti. Dua peristiwa sedih tersebut berlangsung dalam jangka waktu yang tidak terpaut lama.Sehingga menambah perasaan sedih dan pilu dalam hati Rasulullah saw.,Ditambah lagi perlakuan orang-orang Quraisy yang terus menganiaya beliau.Karena sepeninggal Abu Thalib,mereka semakin berani menyakiti beliau secara terang-terangan.Akibatnya,bertambahlah kesedihan demi kesedihan yang dialami beliau hingga beliau hampir putus asa mendakwahi mereka. Beliau lalu pergi ke Thaif dengan harapan mereka bisa menerima dakwahnya,mendukung,dan menolong beliau dalam menghadapi kaumnya.Namun Nabi Muhammad saw.tidak memperoleh seorang pun pendukun dan penolong di sana.Mereka bahkan menyakiti beliau dengan penganiayaan yang lebih kejam,yang justru tidak pernah dialami sebelum itu dari kaumnya. Siksaan yang begitu keras tidak saja dialami nabi Muhammad saw.tetapi juga para sahabatnya.Abu Bakar ash-shiddiq r.a.bahkan sampai berhijrah meninggalkan Mekkah.Dia pun pergi hingga sanpai di Bark al-Ghamad,hendak menuju Habasyah.Tetapi dia kembali lagi setelah mendapat jaminan perlindungan dari Ibnudh Dughunnah. Menurut Ibnu Ishaq,sejak Abu Thalib meninggal,mereka semakin meningkatkan penganiayaan terhadap Nabi Muhammad saw.yang belum pernah mereka lakukan selama dia masih hidup.Sampai ada orang dungu di antara mereka menaruh tanah di atas kepala beliau.Beliau masuk ke rumahnya sementara tanah itu masih ada di kepalanya.Salah seorang putrinya segara bangkit dan membersihakn kepala beliau dari tanah sembari menagis.Lalu Rasulullah saw.berkata kepadanya, “Tidak usah menangis wahai putriku,sesungguhnya Allah pasti menjaga ayahmu”.Pada saat-saat seperti itu,belaiu juga bersabda “Aku tidak pernah menerima gangguan yang lebih aku benci dari Quraisy sampai wafatnya Abu Thalib”. Karena penderitaan yang dating silih berganti tersebut,beliau menamakan tahun itu sebagai tahun kesedihan (‘amul huzni).Sebutan ini yang kemudian terkenal dalam sejarah. 24 Menikah dengan Saudah r.a Pada bulan Syawwal tahun yang sama yaitu tahun kesepuluh kenabian,beliau saw.menikah Saudah binti Zam’ah.Dia adalah termasuk orang yang terdahulu masuk Islam,ikut berhijrah yang kedua ke Habasyah,lalu meninggal di sana,atau sepulang ke Mekkah dari Hijrah.Setelah dia melewati masa ‘iddah,barulah beliau saw.melamar dan menikahinya.Dia merupakan perempuan pertama yang dinikahi Rasulullah saw.setelah wafatnya Khadijah r.a..Lalu setelah beberapa tahun berselang,dia menghadiahkan bagian gilirannya kepada Aisyah r.a. 25

Judul: Tugas Sirah Nabawiyah.

Oleh: Yuni Maulida


Ikuti kami