Makalah Membaca Kata

Oleh Diantara Putra

263,7 KB 5 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Makalah Membaca Kata

MAKALAH MEMBACA KATA OLEH GM DIANTARA PUTRA 1329041060 ROBETH AGUSTIN 1329041061 I GUSTI KOMANG ASTAWA 1329041062 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DASAR PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS PENDIDIKAN GANESHA SINGARAJA 2013 PRAKATA Puji syukur dipanjatkan kehadapan Tuhan Yang Maha Esa (Ida Sang Hyang Widhi Wasa) karena atas rahmat-Nya maka makalah “Membaca Kata” ini dapat diselesaikan sesuai dengan harapan. Proses penyusunan makalah ini dapat berjalan lancar berkat bimbingan, motivasi, arahan dan saran dari berbagai pihak. Untuk itu diucapkan terima kasih kepada yth.: 1. Prof. Dr. Nyoman Sudiana, M.Pd selaku dosen mata kuliah Membaca dan Menulis di Kelas Awal yang telah banyak memberikan masukan dan arahan selama perkuliahan. 2. Rekan-rekan kelas A2 Sore Prodi Pendas Program Pascasarjana Undiksha yang telah banyak memberikan masukan dan saran selama penyusunan makalah ini. Kami sadar didalam penyusunan makalah ini sudah tentu masih jauh dari sempurna, oleh karena itu segala sumbang saran, kritik yang bersifat membangun sudah barang tentu kami terima dengan sepenuh hati. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi semua. Singaraja, November 2013 Penulis ii DAFTAR ISI Halaman KATA PENGANTAR........................................................................................ ii DAFTAR ISI....................................................................................................... iii BAB I PENDAHULUAN................................................................................... 1 A. Latar Belakang................................................................................. 1 B. Rumusan Masalah............................................................................ 3 C. Tujuan.............................................................................................. 3 D. Manfaat............................................................................................ 3 BAB II PEMBAHASAN.................................................................................... 4 A. Hakekat Membaca............................................................................ 4 B Kata.................................................................................................. 5 C. Metode Pembelajaran Membaca...................................................... 5 D. Langkah-Langkah Pembelajaran Membaca..................................... 11 E. Hal penting dalam membaca kata.................................................... 12 BAB III PENUTUP............................................................................................ 14 A Kesimpulan ..................................................................................... 14 B Saran ................................................................................................ 14 Daftar Pustaka..................................................................................................... 15 iii BAB I PENDAHULUAN A Latar Belakang Bahasa memiliki peran sentral dalam perkembangan intelektual, sosial, dan emosional peserta didik dan merupakan penunjang keberhasilan dalam mempelajari semua bidang studi. Pembelajaran bahasa diharapkan membantu peserta didik mengenal dirinya, budayanya, dan budaya orang lain, mengemukakan gagasan dan perasaan, berpartisipasi dalam masyarakat yang menggunakan bahasa tersebut, dan menemukan serta menggunakan kemampuan analitis dan imaginatif yang ada dalam dirinya. Pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik untuk berkomunikasi dalam bahasa Indonesia dengan baik dan benar, baik secara lisan maupun tulis, serta menumbuhkan apresiasi terhadap hasil karya kesastraan manusia Indonesia. Standar kompetensi mata pelajaran Bahasa Indonesia merupakan kualifikasi kemampuan minimal peserta didik yang menggambarkan penguasaan pengetahuan, keterampilan berbahasa, dan sikap positif terhadap bahasa dan sastra Indonesia. Standar kompetensi ini merupakan dasar bagi peserta didik untuk memahami dan merespon situasi lokal, regional, nasional, dan global. Dengan standar kompetensi mata pelajaran Bahasa Indonesia ini diharapkan: 1). Peserta didik dapat mengembangkan potensinya sesuai dengan kemampuan, kebutuhan, dan minatnya, serta dapat menumbuhkan penghargaan terhadap hasil karya kesastraan dan hasil intelektual bangsa sendiri; 2). Guru dapat memusatkan perhatian kepada pengembangan kompetensi bahasa peserta didik dengan menyediakan berbagai kegiatan berbahasa dan sumber belajar; 3). Guru lebih mandiri dan leluasa dalam menentukan bahan ajar kebahasaan dan kesastraan sesuai dengan kondisi lingkungan sekolah dan kemampuan peserta didiknya; 4). Orang tua dan masyarakat dapat secara aktif terlibat dalam pelaksanaan program kebahasaan dan kesastraan di sekolah; 5). Sekolah dapat menyusun program pendidikan tentang kebahasaan dan kesastraan sesuai dengan keadaan peserta didik dan sumber belajar yang tersedia; 6). Daerah dapat menentukan bahan dan 1 sumber belajar kebahasaan dan kesastraan sesuai dengan kondisi dan kekhasan daerah dengan tetap memperhatikan kepentingan nasional. Dalam pembelajaran Bahasa, membaca dan menulis merupakan dua aspek kemampuan berbahasa yang saling berkaitan, dan tidak dapat dipisahkan. Pada waktu guru mengajarkan menulis, para siswa tentu akan membaca tulisannya. Demikian pula halnya dengan aspek-aspek kemampuan berbahasa yang lain, yaitu menyimak dan berbicara. Keempat aspek kemampuan berbahasa tersebut memang terkait erat, sehingga merupakan suatu kesatuan. Sehubungan dengan hal tersebut, Savage (1989:4) berpendapat bahwa membicarakan dan mendiskusikan menyimak, berbicara, membaca dan menulis secara terpisah merupakan hal yang tidak wajar dan selalu dibuat-buat. Sebelum anak bisa membaca, mereka harus mengenal dan mengerti hubungan antara simbol dan suara yang diwakilinya. Kemampuan untuk mengucapkan kata atau decoding merupakan satu langkah penting didalam membaca. Ketika anak mampu untuk mengucapkan sebuah kata, maka dia akan mampu untuk mengingatnya dan menggunakannya dalam kosa kata mendengarkan dan berbicaranya. Dengan banyak berlatih maka anak diharapkan mampu mengenali kata demi kata dengan baik sehingga memudahkan anak unutk membacanya. Meskipun akan selalu ada kata-kata yang sulit, maka dengan banyak berlatih tentu akan menjadi mudah. Percaya atau tidak, 50% dari bacaan mengandung 100 kata yang sama. maka dari itu sangat penting untuk mengajarkan kepada anak kata-kata yang umum atau lumrah tersebut sehingga anak dapat cepat mengenali sebuah kata sehingga lebih memudahkan anak dalam membaca. Salah satu langkah pertama untuk menjadi pembaca yang sukses adalah belajar mengenali huruf abjad. Setiap orang tua pasti akan cepat cemas bila mendapati putra-putri pada usia sekolah belum juga bisa membaca dengan lancar. Kecemasan cukup beralasan mengingat kemampuan membaca dan menulis merupakan hal mendasar yang harus dipupuk sejak dini untuk dijadikan bekal bagi seorang anak memasuki dunia pendidikan. Lebih dari itu, kemampuan membaca merupakan modal utama seorang anak untuk membuka jendela masa depan, sebuah langkah awal menguasai ilmu pengetahuan. 2 Untuk siswa yang sudah mengenal pendidikan prasekolah di lembaga seperti TK/PAUD, sudah mengenal abjad, dan tentu tidak sulit bagi guru di kelas 1 untuk melanjutkannya sehingga mereka mampu merangkaikannya menjadi kata. Namun bagaimana jika siswa kita tidak mengenal huruf sama sekali? Entah karena siswa tersebut tidak sempat masuk TK, tidak dikenalkan oleh orang tua, atau barangkali disebabkan oleh berbagai keterbatasan mereka. Pembelajaran membaca perlu menjadi prioritas utama di level 1, karena membaca merupakan modal utama bagi siswa didik kita untuk memahami berbagai pengetahuan lain di jenjang berikutnya. B Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang diatas dapat dirumuskan masalah sebagai berikut: 1) Bagaimanakah hakekat membaca tersebut ? 2) Apa pengertian dari kata ? 3) Bagaimanakah metode –metode pembelajaran membaca kata ? 4) Bagaimana langkah-langkah dalam mengajarkan membaca kata ? C Tujuan Berdasarkan rumusan masalah diatas, tujuan yang ingin dicapai dalam pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut : 1) Untuk mengetahui hakekat membaca 2) Untuk mengetahui pengertian dari kata 3) Untuk mengetahui metode-metode membaca kata 4) Untuk mengetahui langkah-langkah dalam mengajarkan membaca kata D Manfaat Penulisan Adapun manfaat penulisan makalah ini adalah sebagai berikut: 1) Bagi Pembaca a) Pembaca dapat menjelaskan pembelajaran membaca kata b) Pembaca dapat mengetahui pengertian kata 2) Bagi Guru 3 a) Guru dapat mengetahui dan menggunakan pengetahuan tentang metode membaca kata dalam pembelajaran BAB II PEMBAHASAN A. Hakekat Membaca Membaca adalah salah satu dari empat keterampilan berbahasa. Dalam kegiatan membaca, kegiatan lebih banyak dititikberatkan pada keterampilan membaca daripada teori-teori membaca itu sendiri. Henry Guntur Tarigan (dalam Sutisna : 2013) menyebutkan bahwa membaca adalah suatu proses yang dilakukan serta dipergunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan yang hendak disampaikan oleh penulis melalui media kata-kata atau bahasa tulis. Dari segi linguistik, membaca adalah suatu proses penyandian kembali dan pembacaan sandi (a recording and decoding process), berlainan dengan berbicara dan menulis yang justru melibatkan penyandian (encoding). Sebuah aspek pembacaan sandi (decoding) menghubungkan kata-kata tulis (written word) dengan makna bahasa lisan (oral language meaning) yang mencakup pengubahan tulisan / cetakan menjadi bunyi yang bermakna. Membaca merupakan suatu penafsiran atau interpretasi terhadap ujaran yang berada dalam bentuk tulisan adalah suatu proses pembacaan sandi (decoding process). Menurut Farida Rahim (2007 : 2) membaca pada hakikatnya adalah suatu yang rumit yang melibatkan banyak hal, tidak hanya melafalkan tulisan, tetapi juga melibatkan aktivitas visual, berpikir, psikolinguistik dan metakognitif. Membaca merupakan keterampilan mengenal dan memahami tulisan dalam bentuk urutan lambang-lambang grafis dan perubahannya, menjadi wicara bermakna dalam bentuk pemahaman diam-diam atau pengujaran keras-keras (Kridalaksana, 1993:135). Sebenarnya banyak sekali metode yang dapat digunakan guru untuk mengajar membaca di kelas I SD. Demikian pula, dengan beragamnya trik yang bisa diaplikasikan di kelas, sehingga dapat menstimulus kemampuan baca siswa kelas I, yang mungkin masih terbata-bata mengeja huruf atau pun suku kata. 4 B. Kata Kata merupakan faktor sesudah ejaan, sebab kata merupakan faktor yang dapat menyebabkan kesalahan suatu kalimat. Kata sangat berperan dalam kalimat atau bahasa, karena merupakan unsur utama pembangun suatu kalimat. Tanpa kata tidak mungkin ada kalimat atau bahasa. Menurut Mansoer Pateda (1995 : 202) kata adalah bentuk linguistik yang berdiri sendiri, dapat dipisahkan, dapat dipindahkan, dapat diganti, bermakna, dan berfungsi dalam ujaran. Kata mempunyai wujud. Perwujudan di sini adalah wujud lahiriah yang dapat kita dengar atau kita baca yang tentu saja wujud lahiriah tersebut mempunyai beban, yakni beban makna. Menurut Lamuddin Finoza (2008 : 80) kata adalah satuan bentuk terkecil (dari kalimat) yang dapat berdiri sendiri dan mempunyai makna. Jadi kata adalah satuan bentuk terkecil dari kalimat yang berdiri sendiri, mempunyai wujud, bermakna dan berfungsi dalam ujaran. C. Metode pembelajaran membaca 1. Metode Abjad/ Metode Eja Metode ini biasanya digunakan bila siswa sama sekali belum mengenal huruf. Mula-mula guru memperkenalkan huruf (abjad) kepada siswa: a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t u v w x y z. Guru dapat membuat kartu-kartu huruf lalu di tempel di papan tulis (dalam ukuran yang cukup besar, sehingga terbaca oleh siswa) atau dapat juga membuat kartu huruf dalam ukuran yang lebih kecil sebagai media bermain kartu bersama siswa. Setiap kartu berisi satu huruf. Selanjutnya guru mencontohkan cara membaca huruf-huruf tersebut, kemudian meminta siswa menirukan. Mula-mula bersifat klasikal (seluruh kelas), kemudian dipecah-pecah lagi menjadi separoh kelas, seperempat kelas, per dua bangku, akhirnya perorangan, kembali dua bangku, seperempat kelas, separoh kelas, dan kembali ke seluruh kelas. 5 Apabila pengenalan huruf sudah lancar, maka guru mulai bisa menugaskan beberapa siswa untuk mengambil huruf-huruf tertentu dari kartu-kartu huruf yang tersedia. Biarkan siswa mengenal huruf-huruf itu tanpa makna karena tujuannya adalah mengenal dan memahami huruf (abjad). Lakukan kegiatan ini berulangulang sehingga siswa benar-benar mengenal dan memahami huruf-huruf itu. Selanjutnya, kegiatan dapat ditingkatkan dengan membentuk kata. Pilih beberapa konsonan dan vokal, yang apabila digabungkan membentuk sebuah kata yang bermakna. Misalnya: m a m a. Tempel huruf m-a-m-a di papan tulis. Tunjukkan kepada siswa bahwa kata itu dibaca mama. Kemudian tanyakan kepada siswa kata mama itu terdiri dari huruf apa saja, dan arahkan agar siswa dapat menyimpulkan sendiri bahwa apabila huruf m digabung dengan huruf a dibaca ma. Berikan contoh yang lain, misalnya: papa, lala, sasa, nana, dan lainlain (sebaiknya guru mengambil contoh kata bermakna yang dekat dengan anakanak, dan mulailah dengan kata yang terbuka terlebih dahulu). Begitu seterusnya, guru mulai menggabung-gabungkan konsonan dengan vokal, sehingga seluruh vokal (a, e, i, o, u) bisa digunakan. Contoh untuk konsonan tidak perlu diberikan semua. Huruf x dan z lebih baik diberikan belakangan. Setelah siswa bisa membaca gabungan dua huruf konsonan-vokal, susunan bisa diganti menjadi vokal-konsonan. Misalnya: am, an, as, dan lain-lain. Setelah ini baru bisa dilanjutkan dengan tiga huruf (konsonan-vokal-konsonan). Misalnya: ban, man, dan, jan, tan,dan lain-lain. Namun ada kelemahan mendasar dalam metode ini yaitu meskipun siswa mengenal dan hapal abjad dengan baik, namun kadang ada beberapa siswa yang kesulitan dalam mengenal rangkaian-rangkaian huruf yang berupa suku kata atau pun kata. Anak yang baru mulai belajar membaca mungkin akan mengalami kesukaran dalam memahami sitem pelafalan bunyi /b/ dan /a/ menjadi [ba], bukan [bea]. Bukankah huruf /b/ dilafalkan [be] dan huruf /a/ dilafalkan [a]. Mengapa kelompok huruf /ba/ dilafalkan [ba], bukan [bea], seperti tampak pada pelafalan awalnya? Hal ini, tentu akan membingungkan anak. Penanaman konsep hafalan abjad dengan menirukan bunyi pelafalannya secara mandiri, terlepas dari konteksnya, menyebabkan anak mengalami kebingungan manakala menghadapi bentukan bentukan baru, seperti bentuk kata tadi. 6 Di samping hal tersebut, hal lain yang dipandang sebagai kelemahan dari penggunaan metode ini adalah dalam pelafalan diftong dan fonem-fonem rangkap, seperti /ng/, /ny/, /kh/, /ai/, /au/, /oi/, dan sebagainya. Sebagai contoh, kita ambil fonem /ng/. Anak-anak mengenal huruf tersebut sebagai [en] dan [ge]. Dengan demikian, mereka berkesimpulan bahwa fonem itu jika dilafalkan akan menjadi [en-ge] atau [neg] atau [nege]. Oleh karena itu, biasanya dalam penerapan metode ini, proses pembelajaran akan didominasi oleh sistem hapalan terlebih dahulu. 2. Metode Bunyi Metode bunyi berbeda dengan metode abjad. Perbedaan ini terletak pada cara mengenalkan dan melafalkan setiap bunyi bahasa yang diajarkan. Metode bunyi satuan hurufnya dilafalkan sesuai dengan bunyinya. 1. Langkah – langkah penerapan metode bunyi a. Guru memberikan beberapa kalimat pendek kepada siswa Contoh: Ini si didi si didi duduk di kursi si didi makan roti b. Kalimat pendek yang sudah diperkenalkan kemudian dieja sesuai bunyi [ i – en – i ni ] [ es – i = si  si  ini ed – i = di, ed – i =di]  si didi [ ed – u = du, ed – u – ek = duk]  duduk [ed – i = di – di, ek – u – er = kur, es – i = si ] di kursi b dilafalkan [eb] atau [beh] d dilafalkan [ed] atau [deh] k dilafalkan [ek] atau [keh] Pada dasarnya metode bunyi ini mirip dengan metode eja/ alpabet diatas. Perbedaan mendasarnya hanya pada cara atau sistem pembacaan atau pelafalan abjadnya saja. 3. Metode Suku Kata / Metode Rangkai-Kupas 7 Proses pembelajaran dengan metode ini diawali dengan pengenalan suku kata, seperti /ba, bi, bu, be, bo/; /ca, ci, cu, ce, co/; /da, di, du, de, do/; /ka, ki, ku, ke, ko/, dan seterusnya. Suku-suku kata tersebut, kemudian dirangkaikan menjadi kata-kata bermakna. Kata- kata tersebut seperti : cu - ci ka - ki bu - ku da - du bi - bi ka - ca ba - bi ba - ca ku – da Kegiatan ini dapat dilanjutkan dengan proses perangkaian kata menjadi kelompok kata atau kalimat sederhana. Contoh : ka - ki ku – da ba – ca bu – ku ku – ku ka – ki dan lain sebagainya... Proses perangkaian suku kata menjadi kata, kata menjadi kelompok kata atau kalimat sederhana, kemudian ditindaklanjuti dengan proses pengupasan atau penguraian bentuk-bentuk tersebut menjadi satuan-satuan bahasa terkecil di bawahnya, yakni dari kalimat ke dalam kata-kata dan dari kata ke suku-suku kata. 4. Metode Global. Menurut Teori Gestalt, suatu kesatuan lebih bermakna daripada bagianbagian. Metode global dimulai dengan mengenalkan kalimat utuh kepada siswa. Contohnya: ibu makan nasi (disertai gambar), anak membaca tulisan tersebut, baru guru menjelaskan huruf-huruf yang dirangkai membentuk suku kata, kata, dan kalimat. Kalimat-kalimat yang dipilih adalah kalimat yang sederhana dan pendek-pendek dahulu, agar siswa tidak mengalami kesulitan. Proses penguraian kalimat menjadi kata, kata menjadi suku kata, suku kata menjadi huruf-huruf, 8 tidak disertai dengan proses sintesis (perangkaian kembali). Artinya, huruf-huruf yang telah terurai itu tidak dikembalikan lagi pada satuan di atasnya, yakni suku kata. Demikian juga dengan suku-suku kata, tidak dirangkaikan lagi menjadi kata. Contoh pengajarannya adalah : a. Memperkenalkan kata dengan gambar ini dadu b. Menguraikan salah satu kalimat menjadi kata; kata menjadi suku kata; suku kata menjadi huruf-huruf. ini dadu ini dadu i – ni da – du i–n–i d–a–d–u 5. Metode SAS — Struktural Analisa Sintesa. Metode SAS dilaksanakan dengan menggunakan kartu kalimat dan papan flanel (softboard). Mula-mula guru menunjukkan gambar kepada siswa (namun jika guru bisa membawa benda asli sebagai media pembelajaran dan ditunjukkan kepada siswa, tentu akan lebih baik). Misalnya guru menunjukkan bola kepada siswa, kemudian berkata, ”Anak-anak, ini bola.” Suruh siswa mengulangi katakata guru. ”ini apa?” Siswa menjawab, ”ini bola”. Apabila siswa hanya 9 menjawab bola saja, maka guru perlu membetulkan ucapan siswa, ”ini bola”. Guru menyuruh siswa menirukan kata-kata guru. Kegiatan selanjutnya, guru menempelkan gambar bola di papan tulis. Di bawah gambar bola itu ditempelkan tulisan ini bola. Guru menunjukkan contoh membaca tulisan ini bola, dan siswa disuruh menirukan. Pastikan bahwa siswa seluruh kelas memperhatikan tulisan ketika mengucapkan kalimat ini bola. Gambar diambil, tulisan ini bola tetap tertempel di papan tulis. Guru menyuruh siswa membaca kembali tulisan ini bola tadi. Kegiatan selanjutnya adalah menganalisis kalimat ini bola, menjadi kata, kata menjadi suku kata, suku kata menjadi huruf. Setelah itu, huruf-huruf dikembalikan menjadi suku kata, suku kata menjadi kata, dan kata-kata menjadi kalimat (sintesa). Berikut adalah contohnya: membaca kalimat “ini bola” ini - bola i - ni bo - la i -n- i i - ni b -o- l- a bo – la ini - bola 10 ini bola D. Langkah-langkah dalam pembelajaran membaca kata Umumnya, pembelajaran membaca tanpa buku berlangsung di mingguminggu awal anak masuk sekolah. Hal ini dimaksudkan agar anak memasuki masa transisi belajar dari sekolah TK yang cenderung masih bermain menuju sekolah SD yang sudah mulai belajar lebih serius tanpa terlihat serius. Ada beberapa langkah yang harus dilakukan guru dialam mengajarkan membaca yaitu 1. Menceritakan gambar Dalam hal ini guru menunjukkan gambar dan memberikan nama terhadap tokoh-tokoh dalam peran. Hendaknya dalam penamaan menggunakan huruf-huruf pertama yang dikenal anak seperti “budi” untuk gambar anak laki-laki, “nani” untuk gambar perempuan dan lain sebagainya. 2. Memperkenalkan bentuk-bentuk huruf melalui bantuan gambar Selanjutnya guru bisa meletakkan tulisan disebelah gambar yang sudah diperkenalkan sebelumnya. Seperti meletakkan tulisan ini budi di sebelah gambar anak laki-laki dan ini nani di sebelah gambar anak perempuan bergantung kepada metode yang digunakan. 3. Membaca tulisan bergambar Pada langkah ini, guru mulai melakukan proses pembelajaran membaca sesuai dengan metode yang dipilihnya. Jika menggunakan Metode Eja atau Metode Bunyi pengenalan lambang tulisan akan diawali dengan pengenalan huruf-huruf melalui proses drill (teknik tubian) atau proses hafalan. Jika menggunakan Metode Global atau Metode SAS proses pembelajaran membaca akan dimulai dari pengenalan struktur kalimat (sederhana); lalu diuraikan menjadi kata, kata menjadi suku kata, hingga unit terkecil di tingkat huruf. Setelah itu dilakukan sintesis (perangkaian) huruf menjadi suku kata, suku kata menjadi kata, kata menjadi kalimat, hingga kembali lagi ke struktur semula. 4. Membaca tulisan tanpa gambar Setelah proses ini dilalui, langkah selanjutnya guru secara perlahan-lahan dapat menyingkirkan gambar-gambar tadi dan siswa diupayakan untuk melihat 11 bentuk tulisannya saja. Kegiatan ini dapat disertai dengan penyalinan bentuk tulisan di papan tulisan dan guru menyajikan wacana sederhana yang dapat memberikan keutuhan makna atau keutuhan informasi kepada anak. Seperti contoh berikut : ini budi ini nani ini mama budi ini mama nani E. Hal penting dalam pembelajaran membaca kata Didalam pembelajaran membaca kata, teknik berbeda diterapkan dalam tingkatan pembelajaran yang berbeda. Contohnya didalam pembelajaran membaca awal, instruksi langsung melibatkan pembelajaran kelompok kecil dengan kebebasan kerja terbatas. Beberapa hal yang harus diperhatikan ketika mengajarkan membaca kata kepada anak adalah : 1. Instruksi kelompok kecil Kelompok kecil dianjurkan ketika mengajarkan membaca kata permulaan karena lebih efisien. Pembelajaran membaca khususnya membaca kata melibatkan respon oral yang bergantian dengan umpan balik dari guru. Umpan balik dari guru ini sangat efisien jika hanya dalam kelompok kecil. Aspek penting dalam instruksi kelompok kecil ini adalah membentuk kelompok yang homogen karena anak yang lebih pintar akan meningkat dengan cepat selama pembelajaran sedangkan anak yang kurang akan mendapatkan latihan lebih didalam kelompok untuk meningkatkan dirinya. Hal lain yang perlu diperhatikan dalam instruksi kelompok ini adalah anak perlu lebih dekat dengan gurunya sehingga perhatian anak bisa terfokus pada gurunya didepan kelas. 2. Tanggapan serempak Ciri terpenting dalam pembelajaran kelompok kecil adalah tanggapan atau jawaban dari anak umumnya selalu serempak. Keuntungan dari jawaban yang serempak ini adalah semua anak terlibat secara aktif didalam pembelajaran dan 12 guru bisa melihat apabila ada anak yang tidak aktif maka kita bisa segera mengetahui dan menanganinya. 3. Waktu tunggu Salah satu kelemahan dari jawaban yang serempak biasanya adalah anak yang lebih pintar akan mendominasi didalam menjawab. Mereka akan bersuara lebih keras mengalahkan anak yang lain. Untuk itu diperlukan waktu tunggu didalam menjawab yang mana diikuti oleh sinyal untuk menjawab dari guru.Hal ini memberikan siswa yang tidak terlalu pintar waktu untuk memikirkan bacaan yang ada sehingga bisa ikut membaca sesuai contoh guru. 4. Daftar Kata Sebelum kita mengajarkan membaca kata pada anak, maka hendaknya guru sudah harus memiliki daftar kata yang akan diajarkan hari itu. Kata-kata yang diajarkan hendaknya dekat dengan lingkungan dan keseharian anak sehingga mereka lebih cepat memahami kata-kata yang diajarkan. 5. Pemberian isyarat Pemberian isyarat didalam membaca bisa diilustrasikan pada bagan berikut : 1 Instruksi : Guru menunjuk pada awal kata sambil berkata “bersiap” Isyarat untuk suku kata pertama : Jari guru berpidah dari awal sampai menyentuh huruf pertama sembari memberi 2 contoh bunyinya. Dalam hal ini pandangan guru mengarah kepada siswa.Tangan guru berhenti sekitar 1-2 detik pada suku kata pertama Isyarat kedua : jari guru membentuk lengkungan pada suku 3 kata kedua sembari memberi contoh suara lalu mengangkat telunjuknya dari papan sebagai isyarat berhenti. 13 BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Pembelajaran membaca kata utamanya bagi anak permulaan sekolah dasar sangat penting sebagai pondasi didalam pembelajaran nantinya. Semua ilmu yang akan didapat anak sebagian besar didapat dari membaca sehingga keterampilan membaca mutlak dimiliki oleh setiap anak. Ada beragam metode didalam mengajarkan membaca kata untuk anak. Setiap metode memiliki kelebihan dan kekurangan sehingga diperlukan kesiapan dan keterampilan guru didalam memilih dan menerapkan metode yang ada. Disamping metode juga ada langkah-langkah yang bisa dilakukan guru didalam menerapkan metode-metode tersebut sehingga memaksimalkan pencapaian anak didalam belajar membaca utamanya membaca kata. B. Saran Adapun saran yang bisa diberikan bagi pembaca adalah diharapkan pembaca bisa memilih metode yang sesuai untuk diajarkan kepada anak didiknya dan bisa mengembangkan lagi metode yang ada sehingga menarik bagi anak dan menimbulkan minat belajar anak. 14 DAFTAR PUSTAKA Abbas, Saleh. 2006. Suplemen Materi Ajar Pembelajaran Bahasa Indonesia di Kelas Rendah. Singaraja : Pendidikan Dasar FIP IKIP Negeri Singaraja. Carnine, Douglas W, Jerry Silbert, Edward J. Kame’enui, Sara J. Tarver. 20091990. Direct Instruction Reading.second edition.USA : Pearson Publishing. Estuarita, Isna. 2013. Membaca Menulis Permulaan tersedia pada http://isnaesturita.wordpress.com/2013/02/27/mmp-membaca-dan-menulispermulaan/ (diakses pada 20 November 2013) Finoza, Lamuddin. 2008. Komposisi Bahasa Indonesia. Jakarta : Diksi Haryadi & Zamzami. 1997. Peningkatan Keterampilan Berbahasa Indonesia. Jakarta : DEPDIKBUD DIRJENDIKTI Bagian Proyek Pengembangan Guru Sekolah Dasar. K12 Reader. Sight Word Teaching tersedia pada http://www.k12reader.com/sightword-teaching-strategies/ (diakses pada 21 November 2013) Mulyati, Yeti. 2010. Pembelajaran Membaca dan Menulis Permulaan. Jakarta: Universitas Pendidikan Indonesia Pateda, Mansoer. 1995. Kosakata dan Pengajarannya. Flores NTT : Nusa Indah Rahim, Farida. 2008. Pengajaran Membaca di Sekolah Dasar. (Cetakan Ke 3). Jakarta : PT Bumi Aksara Sutisna. 2013. Pengertian Membaca tersedia pada http://sutisna.com/bahasasastra/pengertian-membaca/ (diakses pada 20 November 2013) Wikipedia. 2013. Teori Gestalt tersedia pada http://id.wikipedia.org/wiki/Gestalt (diakses pada 21 November 2013) 15

Judul: Makalah Membaca Kata

Oleh: Diantara Putra

Ikuti kami