Makalah Pendidikan Inklusif

Oleh Lily Uaa

189,6 KB 11 tayangan 2 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Makalah Pendidikan Inklusif

MAKALAH PENDIDIKAN INKLUSIF “KONSEP PENDIDIKAN INKLUSIF” Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Pendidikan Inklusif Dosen Pengampu: Wina Mustikaati, M.Pd HALAMAN JUDUL Di susun oleh : Hasna Fatimah Ramdani 1701878 Intan Kusumawati 1700383 Lily Ulyatul Amaliyah 1702126 Nevlida M Lumban Gaol 1702055 Yeni Amelia 1704460 Kelas : 3B PGSD PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA KAMPUS PURWAKARTA 2018 1 DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL..................................................................................................................1 DAFTAR ISI ............................................................................................................................2 BAB I PENDAHULUAN..........................................................................................................3 A. Latar Belakang................................................................................................................3 B. Rumusan Masalah...........................................................................................................4 C. Tujuan..............................................................................................................................4 BAB II PEMBAHASAN...........................................................................................................5 E. Pengertian Pendidikan Inklusif......................................................................................5 F. Pro dan Kontra Pendidikan Inklusif...........................................................................10 G. Manfaat Pendidikan Inklusif.......................................................................................12 BAB III PENUTUP..................................................................................................................15 A. Kesimpulan....................................................................................................................15 B. Saran...............................................................................................................................15 2 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan inklusif merupakan seseuatu yang baru di dunia pendidikan Indonesia. Istilah pendidikan inklusif atau inklusi, mulai mengemuka sejak tahun 1990, ketika konferensi dunia tentang pendidikan untuk semua, yang diteruskan dengan pernyataan tentang pendidikan inklusif pada tahun 1994. Pendidikan khusus merupakan pendidikan yang diperuntukan bagi peserta didik yang memiliki tingkat kesulitan dalam mengikuti proses pembelajaran karena memiliki kelainan fisik, emosional, mental, sosial, dan/atau memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa. Oleh karena itu, untuk mendorong kemampuan pembelajaran mereka dibutuhkan lingkungan belajar yang kondusif, baik tempat belajar, metoda, sistem penilaian, sarana dan prasarana serta yang tidak kalah pentingnya adalah tersedianya media pendidikan yang memadai sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Seiring dengan perjalanan kehidupan sosial bermasyarakat, ada pandangan bahwa mereka anak-anak penyandang dissabilitas dianggap sebagai sosok individu yang tidak berguna, bahkan perlu diasingkan. Namun, seiring dengan perkembangan peradaban manusia, pandangan tersebut mulai berbeda. Keberadaannya mulai dihargai dan memiliki hak yang sama seperti anak normal lainnya. Hal ini sesuai dengan apa yang diharapkan dalam Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 31 ayat 1 dan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dapat disimpulkan bahwa Negara memberikan jaminan sebenarnya kepada anak-anak berkebutuhan khusus untuk memperoleh layanan pendidikan yang berkualitas. Hal ini menunjukkan bahwa anak-anak berkebutuhan khusus mendapatkan kesempatan yang sama dengan anak-anak normal lainnya dalam pendidikan. Hanya saja, jika ditinjau dari sudut pandang pendidikan, karena karakteristiknya yang berbeda dengan anak normal pada umumnya menyebabkan dalam proses pendidikannya mereka membutuhkan layanan pendekatan dan metode yang berbeda dengan pendekatan khusus Pemerintah sebagai faktor utama dalam membuat kebijaksanaan pendidikan mengupayakan program pemerataan pendidikan dengan penyelenggaraan pendidikan inklusif. Pendidikan inklusif adalah suatu kebijaksanaan pemerintah dalam mengupayakan pendidikan yang bisa dinikmati oleh setiap warga negara agar memperoleh pendidikan tanpa 3 memandang anak berkebutuhan khusus dan anak normal agar bisa bersekolah dan memperoleh pendidikan yang layak dan berkualitas untuk masa depan hidupnya. Ruang lingkup media pendidikan inklusif sebaiknya mencakup semua jenis media pendidikan untuk semua peserta didik termasuk didalamnya anak berkebutuhan khusus, seperti: Tunanetra, Tunarungu, Tunagrahita, Tunadaksa, Tunalaras, Tuna Wicara, Tunaganda, HIV/AIDS, Gifeted, Talented, Kesulitan Belajar, Lamban Belajar, Autis, Korban Penyalahgunaan Narkoba, Indigo, dan lain sebagainya. Khusus untuk pembelajaran MIPA, memang tidaklah mudah mengajarkan dan mengaplikasikan konsep-konsep materi pada anak yang berkebutuhan khusus atau memiliki bakat istimewa. Tetapi hal itu bukan berarti mata pelajaran MIPA tidak dapat diberikan kepada mereka. Dengan dilatarbelakangai hal tersebut maka dirasa perlu untuk mempelajari lebih mendalam tentang kajian pendidikan inklusif khususnya pada mata pelajaran MIPA. B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang tersebut diatas, dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut: 1. Apa pengertian pendidikan inklusif? 2. Apa saja pro dan kontra pendidikan Inklusif? 3. Apa manfaatnya pendidikan inklusif? C. Tujuan Tujuan penulisan makalah ini adalah sbagai berikut: 1. Untuk mengetahui pengertian pendidikan inklusif. 2. Untuk mengetahui pro dan kontra pendidikan Inklusif. 3. Untuk mengetahui manfaat pendidikan inklusif. 4 BAB II PEMBAHASAN E. Pengertian Pendidikan Inklusif Pendidikan inklusif lahir sebagai bentuk ketidak puasan penyelenggaran pendidikan bagi anak-anak berkebutuhan khusus dengan menggunakan sisitem segregasi. Sistem segregasi adalah sistem penyelenggalan sekolah yang diperuntukan bagi anak-anak yang memiliki kelainan atau anak-anak berkebutuhan khusus. Sistem ini dipandang bertentangan dengan tujuan pendidikan bagi anak-anak berkebutuhan khusus. Dimana tujuaan penyelenggaran pendidikan anak berkebutuhan khusus adalah untuk mempersiapkan mereka untuk dapat berinteraksi dengan mandiri di lingkungan masyarakat. Namun dalam proses penyelenggaran pendidikan, sistem segregasi justru di pisahkan dengan lingkungan masyarakat, khususunya terjadi di masyarakat kita berangkat dari kenyataan tersebut, lahirlah beberapa konsep pendidikan inklusif Menurut Budianto (2006), sistem segregasi tidak mampu lagi mengemban misi utama pendidikan, yaitu memanusiakan manusia. Sistem segregasi cenderung diskriminatif, esklusif, mahal, tidak efesien, serta outputnyapun belum menjanjikan sesuatu yang positif. Disebut pula oleh Reynolds dan birch (1988), bahwa model segregasi tidak menjamin kesempatan anak berkenalinan berkembang potensi secara optimal, karena kurikulum dirancang berbeda dengan kurikulum sekolah biasa. Hal itu secara filosofis model segregasi tidak logis, karena menyiapkan peserta didik untuk kelak dapat berinteraksi dengan masyarakat normal, tetapi faktanya mereka dipisahkan dari masyarakat normal. Pendidikan inklusif merupakan sistem penyelenggaran pendidikan bagi anak-anak yang memiliki keterbatasan tertentu dan anak yang lainnya yang disatukan dengan tanpa mempertimbangakan keterbatasan masing-masing. Menurutt dikrektorat pembinaan SLB (2007), pendidikan inklusif adalah sistem layanan pendidikan yang memberikan kesempatan kepada semua anak belajar bersama-sama. Di sekolah umum dengan memerhatikan keragaman dan kebutuhan individual, sehingga potensi anak dapat berkembang secara optimal. Semangat pendidikan inkuusif akan memberi akses yang luas-luasnya kepada semua anak, termasuk anak berebutuhan khusus, untuk memperoleh pendidikan yang bermutu dan memberikan layanan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhanya. 5 Berdasarkan pedoman yang dikeluarkan direkterat pembinaan SLB ( 2007), sebagai wadah yang ideal, pendidikan inklusif memiliki empat karateristik makna, yaitu : 1. Pendidikan inklusif yang berjalan terus dalam usaha menemukan cara-cara merespon keragaman individu anak. 2. Pendidikan inklusif berarti memperleh cara-cara untuk mengatasi hambatan-hambatan anak dalam belajar 3. Pendidikan inklusif berarti membawa makna anak mendapata kesempatan untuk hadir di sekolah, berpartisipasi, dan mendaparkan hasil belajar yang bermakna dalam hidupnya 4. Pendidikan inklusif di peruntukan bagi anak yang tergolong marginal, ekslusif, dan membutuhkan layanan pendidikan khusus dalam belajar. Definisi inklusif disampaikan oleh Dianne dan Brandy Reese (2002) bahwa : “inclusion can be defined as the act of being present at reguler education clesses with the support and service needed to successfully achieve education goals. Inclusion in the scholastic enviroment benefits both the disabled student and the non-disabled student in obtaining life skills. by including all student as much possible in general or reguler education all classes all students can learn to work cooperatively, learn to work with different kinds of people in taks “ Pernyataan Tirocchi tersebut, menunjukan bahwa keberadaan anak berkebutuhan khusus di kelas regular merupakan sesuatu yang penting untuk mencapai tunjuan pembelajaran di kelas. keberdaan anak berkebutuhan khusus di kelas inklusif bermanfaat bagi semua anak, khusunya dalam pengembangan kompetensi sosial dan peningkatan kecakapan hidup. Hal ini dapat terwujud manakala anak berkebutuhan khusus kerjasama secara sinergis dengan anak-anak lain dalam menyelesaikan tugas-tugas akademik sekolah. Menurut Sharon rustemer (2002), yang dilaporkan pada center of study in inclusive education (CSIE) , pendidikan inklusif didefinisikan sebgai berikut “ inclusive education learning together in ordinary pre-school provision, schools, colleges and universities with appropriate network of support”. Dengan demikian, pendidikan inklusif dapat diikuti oleh semua orang dengan tanpa keterbatasan dan dapat berlangsung di setiap jenjang pendiidkan, mulai dari TK sampai perguruaan tinggi 6 Selanjutnya, SCIES menyatakan bahwa “ inclusion means enabling all students to participate fully in the life and work of mainstreaming setting, whatever their needs”. Dengan kata lain, semua siswa tanpa memandang jenis kebutuhan diperbolehkan unruk bersam-sama hidup dan bekerja dalam lingkungan umum(lumrah) Pendidikan inklusif merupakan sistem pendidikan yang menghargai manusia: 1. Diciptakan sebagai mahluk yang berbeda-beda (unik) 2. Menghargai dan menghormati bahwa semua orang merupakan bagian dari masyarakat, dan 3. Diciptakan untuk membangun sebuah masyarakat, sehingga masyarakat normal ditandai dengan adanya keberagaman dari setiap anggota masyarakat Model pendidikan khusus tertua adalah model segregasi yang menempatkan anak berkelainan di sekolah-sekolah khusus, terpisah dari teman sebayanya. Sekolah-sekolah ini memiliki kurikulum, metode mengajar, sarana pembelajaran, system evaluasi, dan guru khusus. Dari segi pengelolaan, model segregasi memang menguntungkan, karena mudah bagi guru dan administrator. Namun demikian, dari sudut pandang peserta didik, model segregasi merugikan. Disebutkan oleh Reynolds dan Birch (1988), antara lain bahwa model segregatif tidak menjamin kesempatan anak berkelainan mengembangkan potensi secara optimal, karena kurikulum dirancang berbeda dengan kurikulum sekolah biasa. Kecuali itu, secara filosofis model segregasi tidak logis, karena menyiapkan peserta didik untuk kelak dapat berintegrasi dengan masyarakat normal, tetapi mereka dipisahkan dengan masyarakat normal. Kelemahan lain yang tidak kalah penting adalah bahwa model segregatif relatif mahal. Model yang muncul pada pertengahan abad XX adalah model mainstreaming. Belajar dari berbagai kelemahan model segregatif, model mainstreaming memungkinkan berbagai alternatif penempatan pendidikan bagi anak berkelainan. Alternatif yang tersedia mulai dari yang sangat bebas (kelas biasa penuh) sampai yang paling berbatas (sekolah khusus sepanjang hari). Oleh karena itu, model ini juga dikenal dengan model yang paling tidak berbatas (the least restrictive environment), artinya seorang anak berkelainan harus ditempatkan pada lingkungan yang paling tidak berbatas menurut potensi dan jenis / tingkat kelainannya. 7 Secara hirarkis, Deno (1970) mengemukakan alternatif sebagai berikut: 1. Kelas biasa penuh, 2. Kelas biasa dengan tambahan bimbingan di dalam, 3. Kelas biasa dengan tambahan bimbingan di luar kelas, 4. Kelas khusus dengan kesempatan bergabung di kelas biasa, 5. Kelas khusus penuh, 6. Sekolah khusus, dan 7. Sekolah khusus berasrama. Adapun menurut Heiman (2004), terdapat 4 model pendidikan inklusif, yaitu: 1. In-and-out 2. Two-teachers 3. Full inclusion 4. Rejection of inclusion Model in-and-out adalah model pembelajaran bagi anak-anak berkebutuhan khusus dimana anak-anak tersebut keluar masuk kelas reguler pada pembelajaran tertentu. Model two-teachers adalah model pembelajaran bagi anak anak berkebutuhan khusus dengan menggunakan dua orang guru, yaitu guru reguler dan guru pembimbing khusus (GPK). Model full inclusion adalah model pembelajaran bagi anak-anak berkebutuhan khusus diaman anak-anak berkebutuhan khusus secara penuh mengikuti proses pembelajaran bersama-sama dengan siswa-siswa reguler linnya di kelas yang sama. Model rejection of inclusion adalah model pembelajaran bagi anak-anak berkebutuhan khusus dimana siswasiswa berkebutuhan khusus belajar terpisah dengan siswa-siswa reguler lainnya. Anak berkebutuhan khusus dapat berpindah dari satu bentuk layanan ke bentuk layanan yang lain, seperti: 1) Bentuk kelas reguler penuh Anak berkebutuhan khusus belajar bersama anak lain (normal) sepanjang hari di kelas reguler dengan menggunakan kurikulum yang sama. 2) Bentuk kelas reguler dengan cluster Anak berkebutuhan khusus belajar bersama anak lain (normal) di kelas reguler dalam kelompok khusus. 8 3) Bentuk kelas reguler dengan pull out Anak berkebutuhan khusus belajar bersama anak lain (normal) di kelas reguler namun dalam waktu-waktu tertentu ditarik dari kelas reguler ke ruang sumber untuk belajar dengan guru pembimbing khusus. 4) Bentuk kelas reguler dengan cluster dan pull out Anak berkebutuhan khusus belajar bersama anak lain (normal) di kelas reguler dalam kelompok khusus, dan dalam waktu-waktu tertentu ditarik dari kelas reguler ke ruang sumber untuk belajar bersama dengan guru pembimbing khusus. 5) Bentuk kelas khusus dengan berbagai pengintegrasian Anak berkebutuhan khusus belajar di kelas khusus pada sekolah reguler, namun dalam bidang-bidang tertentu dapat belajar bersama anak lain (normal) di kelas reguler. 6) Bentuk kelas khusus penuh di sekolah reguler Anak berkebutuhan khusus belajar di dalam kelas khusus pada sekolah reguler. Dengan demikian, pendidikan inklusif seperti pada model di atas tidak mengharuskan semua anak berkebutuhan khusus berada di kelas reguler setiap saat dengan semua mata pelajarannya (inklusi penuh). Hal ini dikarenakan sebagian anak berkebutuhan khusus dapat berada di kelas khusus atau ruang terapi dengan gradasi kelainannya yang cukup berat. Bahkan bagi anak berkebutuhan khusus yang gradasi kelainannya berat, mungkin akan lebih banyak waktunya berada di kelas khusus pada sekolah reguler (inklusi lokasi). Kemudian, bagi yang gradasi kelainannya sangat berat, dan tidak memungkinkan di sekolah reguler (sekolah biasa), dapat disalurkan ke sekolah khusus (SLB) atau tempat khusus (rumah sakit). Sebelum berkembangnya Pendidikan inklusif, telah dikenal beberapa konsep yang mengarah menuju pendidikan inklusif. Konsep konsep itu antara lain: 1. Normalisasi Konsep normalisasi jika diartikan dari struktur bahasa berarti “menormalkan”, atau membuat normal sesuatu yang tidak normal. Namun, dalam konteks isu pendidikan, normlisasi berarti memandang setiap orang untuk hidup dari kacamata kebutuhan hidup orang pada umumnya. Kebutuhan hidup orang pada umumnya meliputi kebutuhan pendidikan, kesehatan, perlakuan adil dimata hukum, kualitas hidup layak, dan lain-lain. Dalam pengertian lain, normalisasi adalah melihat para penyandang cacat, didalamnya termasuk anak berkebutuhan khusus, dari perspektik masyarakat secara umum. 9 Normalisasi memandang bahwa penyandang cacat dan ABK merupakan bagian dari masyarakat secara umum. Dulu kita mengenal kebijakan tentang penanggulangan masalahmasalah penyandang cacat merupakan tanggung jawab departemen sosial. Kini kebijakan itu sudah tidak relevan. Kebijakan penanggulangan penyandang cacat dan anak-anak brkebutuhan khusus adalah tanggung jawab semua pihak. 2. Integrasi (pendidikan terpadu) Pendidikan terpadu merupakan istilah umum mengenai kehadiran seseorang anak disekolah reguler. Istlah ini juga mengacu pada proses mentransfer siswa ke wilayah yang kurang tersegresi. Ada sistem integrasi seorang anak yang masuk kelas reguler namun berada diunit khusus atau kelas terpisah, tetap dapat dikategorikan terintegrasi. Ini karena ia lebih berkesempatan berinteraksi dengan anggota komunitas sekolah umum daripada jika ia diisolasi dalam sekolah khusus. Pada sistem integrasi kesempatan untuk berinteraksi dapat terjadi jika anak tersebut diintegrasikan ke dalam sekolah reguler. 3. Mainstream Istilah mainstream tidak jauh berbeda dengan integrasim mainstream merupakan sistem pendidikan diaman sesorang siswa terdaftar atau berpartisispasi dikelas reguler. 4. Pendidikan inklusif Definisi inklusi menurut new york city board of education adalah suatu metode yang menyediaakan layanan pendidikan khusus pada lingkungan yang hampir tidak terbatas. F. Pro dan Kontra Pendidikan Inklusif Meskipun pendidikan inklusif telah diakui di seluruh dunia sebagai salah satu uapaya mempercepat pemenuhan hak pendidikan bagi setiap anak, namun perkembangan pendidikan inklusif mengalami kemajuan yang berbeda-beda di setiap negara. Sebagai inovasi baru, pro dan kontra pendidikan inklusif masih terjadi dengan alasan masing-masing. Sebagai negara yang ikut dalam berbagai konvensi dunia, Indonesia harus merespon secara proaktif terhadap kecenderungan perkembangan pendidikan inklusif. Salah satunya adalah dengan cara memahami secara kritis tentang pro dan kontra pendidikan inklusif. 10 a. Pro Pendidikan Inklusif 1. Belum ada bukti empirik yang kuat bahwa SLB merupakan satu-satunya sistem terbaik 2. untuk pendidikan anak berkebutuhan khusus. Biaya penyelenggaraan SLB jauh lebih mahal dibanding dengan dengan sekolah regular. 3. Banyak anak berkebutuhan khusus yang tinggal di daerah-daerah tidak dapat bersekolah 4. di SLB karena jauh dan/atau biaya yang tidak terjangkau. SLB (terutama yang berasrama) merupakan sekolah yang memisahkan anak dari kehidupan sosial yang nyata. Sedangkan sekolah inklusif lebih ‘menyatukan’ anak dengan kehidupan nyata. 5. Banyak bukti di sekolah reguler terdapat anak berkebutuhan khusus yang tidak mendapatkan layanan yang sesuai. 6. Penyelenggaraan SLB berimplikasi adanya labelisasi anak ‘cacat’ yang dapat menimbulkan stigma sepanjang hayat. Orangtua tidak mau ke SLB. 7. Melalui pendidikan inklusif akan terjadi proses edukasi kepada masyarakat agar menghargai adanya perbedaan. b. Kontra Pendidikan Inklusif 1. Peraturan perundangan memberikan kesempatan pendidikan khusus bagi anak berkebutuhan khusus. 2. Hasil penelitian masih menghendaki berbagai alternatif pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus. 3. Banyak orangtua yang anaknya tidak ingin bersekolah di sekolah reguler. 4. Banyak sekolah reguler yang belum siap menyelenggarakan pendidikan inklusif karena menyangkut sumberdaya yang terbatas. 5. Sekolah khusus/SLB dianggap lebih efektif karena diikuti anak yang sejenis. 11 c. Pendidikan Inklusif Yang Moderat Jalan keluar untuk mengatasi pro dan kontra tentang pendidikan inklusif, maka dapat diterapkan pendidikan inklusif yang moderat. Pendidikan inklusif yang moderat dimaksud adalah: 1. Pendidikan inklusif yang memadukan antara terpadu dan inklusi penuh 2. Model moderat ini dikenal dengan model mainstreaming Model pendidikan mainstreaming merupakan model yang memadukan antara pendidikan untuk anak berkebutuhan khusus (Sekolah Luar Biasa) dengan pendidikan reguler. Peserta didik berkebutuhan khusus digabungkan ke dalam kelas reguler hanya untuk beberapa waktu saja. 4. Filosofinya tetap pendidikan inklusif, tetapi dalam praktiknya anak berkebutuhan khusus disediakan berbagai alternatif layanan sesuai dengan kemampuan dan kebutuhannya. G. Manfaat Pendidikan Inklusif Layanan pendidikan inklunsif membantu untuk memastikan bahwa anak-anak dengan dan tanpa mengalami hambatan dapat tumbuh hidup dan tumbuh bersama. Semua anak, keluarga, dan masyarakatmendukung penyelnggaraan pendidikan inklunsif. Praktek-praktek inklunsif membantu menciptakan suasana di mana anak-anak akan lebih mampu ntuk menerima dan memahami perbedaan di anara mereka sendiri. Anak-anak mulai menyadari dan menerima bahwa beberapa orang harus menggunakan rusi roda, beberapa orang harus menggunakan alat bantu dengar , dan beberapa menggunakan tangan dan kaki mereka dengan cara yang berbeda. 1. Manfaat bagi peserta didik (siswa) a) Anak-anak mengembangkan persahabatan , persaudaraan , dan belajar bagaimana bermaindan berinteraksi dengan satu sama lain. b) Anak-anak mempelajari bagaimana harus bersikap toleran terhadap orang lain. c) Anak-anak mengembangkan citra yang lebih positif dan diri mereka sendiri dan mempunyai sikap yang sehat tentang keunikan yang ada pada diri orang lain. d) Melatih dan membiasakan untuk menghargai dan merangkul perbedaan dengan menghilangkan budaya “labeling” atau memberi cap negatif pada rang lain. e) Anak-anak mempelajari model dari orang-orang yang berhasil, meskipun mereka memiliki tantangan dan hambatan 12 f) Memunculkan rasa percaya diri melalui sikap penerimaan dan pelibatan di dalam kelas g) Anak-anak dengan kebutuhan khusus memiliki kesempatan untuk belajar keterampilan baru dengan mengamati dan meniru anak-anak lain h) Anak-anak di dorong untuk menjadi lebih berakal, kreatif koopratif 2. Manfaat bagi guru a) Guru berkembang secara profesional dengan mengembangkan keterampilan baru dan memperluas perspektif mereka tentang perkembangan anak. b) Guru memiliki kesempatan untuk mempelakjari dan mengembangkan kemitraan dengan masyarakat lainnya sumber daya dan lembaga. c) Guru belajar untuk berkomunikasi dengan lebih efektif dan bekerja sebagai tim d) Guru membangun hubungan yang kuat dengan orang tua e) Guru berusaha meningkatkan kredibilitas mereka sebagai seorang profesional yang berkualitas. f) Guru senantiasa mengembangkan kreativitas dalam mengelola pembelajaran di kelas maupun di luar kelas. g) Guru tertantang untuk terus belajar melalui perbedaan yang di hadapi di kelas. h) Guru terlatih dan terbiasa untuk memiliki budaya kerja yang positif , kreatif, inovatif, fleksibel, dan akomodatif terhadap semua anak didiknya dengan semua perbedaan. 3. Manfaat bagi orang tua dan keluarga a) Menjadi lebih mengetahui sistem belajar di sekolah. b) Meningkatkan kepercayaan terhadap guru dan sekolah. c) Memperkuat tanggung jawab pendidikan dan anak sekolah dan di rumah. d) Mengetahui dan mengikuti perkembangan belajar anak e) Semakin terbuka dan ramah bekerja sama dengan guru f) Mempermudah mengajak anak belajar di sekolah g) Semua keluarga harus bekerja untuk mempelajari lebih lanjut tentang perkembangan anak. h) Semua keluarga senang melihat anak-anak mereka berteman dengan kelompok yang beragam anak-anak. i) Semua keluarga senang melihat kesempatan un tuk mengajar anak-anak mereka tentang perbedaan-perbedaan individual dan keragaman. 13 j) Semua keluarga memiliki kesempatan untuk berbicara dengan orang tua lain dan menyadari bahwa mereka banyak frustasi yang sama , keprihatinan, kebutuhan, harapan, dan keinginan untuk anak-anak mereka. 4. Manfaat bagi masyarakat - Mengontrol terlaksananya sekolah penyelanggaran penyelidikan inklunsif di lingkungannya. - Sebuah komunitas akan menjadi lebih mudah menerima dan mendukung semua orang. - Masyarakat yang lebih beragam mebuat lebih kreatif, dan lebih terbuka terhadap sebagai kemungkinan dan kesempatan. - Pendidikan inklunsif membantu anak berkebutuhan khusus untuk menjadi lebih siap untuk tanggung jawab dan hak-hak kehidupan masyarakat. - Meningkatkan tanggung jawab terhadap pendidikan anak di sekolah dan di masyarakat 5. Ikut menjadi sumber dan semakin terbuka dan ramah bermitra dengan sekolah Manfaat bagi pemerintah - Anak berkebutuhan khusu mendapatkan hak pendidikan yang sama dengan mendapatkan kesempatan pendidikan yang lebih luas. - Mempercepat penuntasan wajib belajar pendidikan dasar 9 tahun pendidikan terlaksana berlandaskan pada azaz demokrasi , berkeadilan , dan tanpa diskriminasi 14 BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Berdasarkan uraian di atas penulis memberikan kesimpulan sebagai berikut: 1. Pendidikan inklusif adalah pendidikan regular yang disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik yang memiliki kelainan dan atau memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa pada sekolah regular dalam satu kesatuan yang sistemik. Pendidkan inklusif mengakomodasi semua anak berkebutuhan khusus yang mempunyai IQ normal, diperuntukan bagi yang memiliki kelainan, bakat istimewa, kecerdasan istimewa dan atau yang memerlukan pendidkan layanan khusus. 2. Manfaat pendidikan inklusif antara lain: Membangun kesadaran dan konsensus pentingnya pendidikan inklusif sekaligus menghilangkan sikap dan nilai yang diskriminatif, melibatkan dan memberdayakan masyarakat untuk melakukan analisis situasi pendidikan lokal, mengumpulkan informasi semua anak pada setiap distrik dan mengidentifikasi alasan mengapa mereka tidak sekolah, mengidentifikasi hambatan berkaitan dengan kelainan fisik, sosial dan masalah lainnya terhadap akses dan pembelajaran, melibatkan masyarakat dalam melakukan perencanaan dan monitoring mutu pendidikan bagi semua anak B. Saran Dengan adanya makalah ini penulis berharap pembaca dapat memahami isi dari makalah ini dan tentu dapat menambah pengetahuan seputar dunia pendidikan inklusif. Semoga pembaca bisa terus menggali wawasanya dengan terus mencari referensi lain selain dari makalah ini. 15 16

Judul: Makalah Pendidikan Inklusif

Oleh: Lily Uaa


Ikuti kami