Makalah Psiko Berpikir

Oleh Mutiara Assa

129,8 KB 5 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Makalah Psiko Berpikir

MAKALAH PENGANTAR PSIKOLOGI BERPIKIR OLEH KELOMPOK 4 MUTIARA ABNA ASSA NABILA DINAH PUTRI RANDA RUSMAIDI WAHYU FAJRI PRATAMA DOSEN PEMBIMBING MATA KULIAH NOVI ELIAN. SP,M.SI ASMAWI. Dr. M.Si JURUSAN ILMU KOMUNIKASI FAKULTAS ISIP UNIVERSITAS ANDALAS 2017 1 KATA PENGANTAR Dengan menyebut nama Allah Swt yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Puji dan syukur kami kepada-Nya karena atas berkat dan rahmat-Nya kami diberi kesempatan untuk menyelesaikan makalah ini dengan baik. Kami telah menyusun makalah ini dengan mengambil beberapa referensi buku. Dalam makalah ini akan dibahas mengenai beberapa aspek penting dalam berpikir yang meliputi definisi berpikir, berpikir dari sudut pandang psikologi, macam-macam berpikir, pemecahan masalah, dan gangguan berpikir. Kami menyadari sepenuhnya masih ada kekurangan baik segi penyusunan maupun tata bahasa yang digunakan dalam makalah ini. Kami sangat menerima kritik dan saran agar dapat memperbaikinya di kemudian hari. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca. Padang, 12 Oktober 2017 Penyusun 2 DAFTAR ISI KOVER MAKALAH ...................................................................................1 KATA PENGANTAR .................................................................................2 DAFTAR ISI ...............................................................................................3 BAB I PENDAHULUAN.............................................................................4 A. Latar Belakang...............................................................................4 B. Rumusan Masalah..........................................................................4 BAB II PEMBAHASAN .............................................................................5 A. B. C. D. E. Definisi Berpikir ...........................................................................5 Berpikir dari Sudut Pandang Psikologi..........................................5 Macam-macam Berpikir ...............................................................6 Pemecahan Masalah.......................................................................7 Gangguan Berpikir.........................................................................8 BAB III PENUTUP.....................................................................................11 a. Kesimpulan..................................................................................11 b. Saran............................................................................................11 DAFTAR PUSTAKA.................................................................................12 3 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sebagai makhluk ciptaan Tuhan, manusia mempunyai kelebihan atau ciri khas yang membedakannya dengan makhluk lainnya seperti hewan atau tumbuhan. Manusia mempunyai akal dan kemampuan berpikir. Manusia dapat berpikir karena memiliki dan mampu berbahasa. Bahasa mempunyai peran penting dalam berpikir. Dengan berpikir, manusia dapat menyampaikan perasaannya, memecahkan masalah yang dihadapinya dan mampu menerima hasil pemikiran orang lain. B. Rumusan Masalah a. b. c. d. e. Apakah yang menjadi definisi berpikir? Bagaimana definisi berpikir dari sudut pandang psikologi? Apa saja macam-macam berpikir? Bagaimana pemecahan masalah terkait berpikir? Bagaimana gangguan dalam berpikir? 4 BAB II PEMBAHASAN A. Definisi Berpikir Berpikir dapat didefinisikan sebagai sebuah proses mencari tali hubungan antara abstraksi-abstraksi. Berpikir erat hubungannya dengan tanggapan, ingatan, pengertian, dan perasaan. Ingatan merupakan syarat penting dalam kegiatan berpikir yang memberikan informasi berupa pengalamanpengalaman dari pengamatan yang telah dilakukan. Pengertian memberi bantuan besar dalam proses berpikir. Perasaan menjadi hal yang mendukung suasana hati atau pemberi keterangan dan ketekunan untuk memecahkan persoalan yang dihadapi. Dapat disimpulkan bahwa berpikir adalah suatu kegiatan mengolah, mengorganisasikan bagian-bagian dari pengetahuan yang dimiliki sehingga pengalaman yang tidak teratur menjadi tersusun bulat yang dapat dengan mudah dipahami, ditangkap dan dikuasai. B. Berpikir dari Sudut Pandang Psikologi Proses berpikir dapat dijelaskan dari sudut pandang psikologis. Berikut beberapa aliran psikologi yang membahas tentang proses berpikir. a. Psikologi Asosiasi Berpikir merupakan proses berjalannya tanggapan-tanggapan yang didasarkan kepada hukum asosiasi. Di dalam alam kejiwaan yang penting ialah terjadinya, tersimpannya dan bekerjanya tanggapan tersebut. Hal yang medasari semua aktivitas kejiwaan adalah tanggapan. Daya jiwa yang lebih tinggi seperti perasaan, kemauan, hasrat, keinginan, dan berpikir berasal dari hasil kerja tanggapan-tanggapan sementara keaktifan pribadi manusia itu akan diabaikan. b. Aliran Behaviorisme Kegiatan berpikir merupakan gerakan reaksi yang dilakukan oleh syaraf dan otot yang bicara seperti halnya bila kita mengucapkan ‘buah pikiran’. Secara behaviorisme, berpikir adalah berbicara dengan unsur sederhana berupa refleks. Semua keaktifan jiwa yang lebih tinggi meliputi perasaan, kemauan dan berpikir, dikembalikannya kepada refleks-refleks. Aliran ini hanya membahas tingkah laku manusia dari luar sehingga gejala-gejala psikis yang mungkin terjadi diakibatkan dari perubahan-perubahan jasmaniah sebagai reaksi terhadap perangsang tertentu. 5 c. Psikologi Gestalt Proses berpikir merupakan suatu kebulatan yang prosesnya tidak dapat diamati dengan alam indra. Jalannya pikiran seseorang ditentukan oleh beberapa faktor. Suatu masalah dapat dipecahkan dengan cara yang berbeda sesuai dengan hasil pemikiran seseorang dan bagaimana seseorang tersebut memahami atau melihat masalah tersebut. Situasi yang dialami, tingkat kecerdasan dan pengalaman orang tersebut juga menjadi faktor yang mempengaruhi proses berpikir. C. Macam-macam Berpikir Dalam melihat atau memecahkan masalah orang dapat melihat masalah itu melalui beberapa cara: 1. Berpikir Induktif Berpikir induktif ialah suatu proses dalam berpikir yang berlangsung dari khusus menuju kepada yang umum. Cara berpikir dilakukan dengan berusaha untuk mencari ciri-ciri atau sifat-sifat tertentu dari berbagai fenomena. Kemudian menarik kesimpulan-kesimpulan bahwa ciri-ciri itu terdapat pada semua jenis fenomena tadi. Contoh seorang bidan yang menolong persalinan melakukan observasi. Bayi A yang dilahirkan melalui induksi tidak segera menangis ketika baru dilahirkan. Bayi B juga begitu, bayi C, D, E, F dan seterusnya, demikian pula kesimpulan “semua bayi yang lahir melalui proses induksi tidak segera menangis pada waktu dilahirkan”. Tepat atau tidaknya kesimpulan (cara berpikir) yang diambil secara induktif ini terutama bergantung kepada representatif atau tidaknya sampel yang diambil mewakili fenomena keseluruhan. Makin besar jumlah sampel yang diambil berarti makin tinggi akurasi kesimpulan yang diperoleh, dan makin besar pula taraf dapat di percaya (validitas) dari kesimpulan itu dan sebaliknya. 2. Berpikir Deduktif Berbeda dengan berpikir induktif, maka berpikir deduktif prosesnya berlangsung dari yang umum menuju yang khusus. Dalam cara berpikir ini, orang bertolak dari suatu teori ataupun prinsip ataupun kesimpulan yang dianggap benar dan sudah bersifat umum. begitulah cara penerapannya kepada fenomena-fenomena khusus, dan mengambil kesimpulan khusus yang berlaku bagi fenomena tersebut. Contoh sebagai penjelasan:  Semua pasien yang didiagnosa kanker otak memiliki prognosa yang buruk (kesimpulan umum), Pak Hendro adalah pasien yang menderita kanker otak (kesimpulan khusus) Pak hendro memiliki prognosa kesembuhan yang buruk (kesimpulan deduksi).  Semua anak yang tidak mendapatkan ASI eksklusif akan mudah terserang penyakit (kesimpulan umum), Iwan adalah anak yang tidak 6 mendapatkan ASI eksklusif (kesimpulan khusus). Iwan akan mudah sakit (kesimpulan deduksi). 3. Berpikir Analogis Analogi berarti persamaan atau perbandingan. Berpikir analogis ialah berpikir dengan jalan menyamakan atau membandingkan fenomena-fenomena yang biasa/pernah dialami. Di dalam cara berpikir ini, orang yang beranggapan bahwa kebenaran dari fenomena-fenomena yang pernah dialaminya berlaku pula bagi fenomena yang dihadapi sekarang. Kesimpulan yang diambil dari berpikir analogis ini kebenarannya lebih kurang dapat di percaya. Kebenaran ditentukan oleh faktor “kebetulan” dan bukan berdasarkan perhitungan yang tepat. Dengan kata lain: validitas kebenarannya sangat rendah. Berpikir adalah kecakapan dalam menggunakan metode-metode penyelesaian masalah yang dihadapi. Anak harus diajak berpikir dengan baik, kita perlu memberikan 1) Pengetahuan siap: yakni pengetahuan pasti yang sewaktu-waktu siap untuk dipergunakan seperti, hafal tentang abjad, kali-kalian 1 s/d 10 dan sebagainya. 2) Pengertian yang berisi, yang mengandung arti (tidak verbalistic) dan benar-benar dimengerti oleh anak-anak. 3) Melatih kecakapan membentuk skema, yang memungkinkan berpikir secara teratur dan skematis. D. Pemecahan Masalah Kemampuan dalam memecahkan masalah akan terkait dengan proses berpikir, dan tidak hanya berkait dengan sekedar mengubah suatu gagasan yang saling berkaitan menjadi satu tetapi membutuhkan kemampuan dalam mempresentasi. Dalam memecahkan masalah umumnya dimulai dengan respresentasi simbolis, caranya adalah dengan menuliskan seperangkat persamaan. Untuk lebih mudah maka cara yang digunakan adalah dengan cara membuat bayangan secara visual. Cara berpikir antara orang awam dan seorang ahli ternyata menurut hasil penelitian berbeda. Seorang ahli mempunyai lebih banyak gambaran dalam ingatannya yang dapat diabadikan pada suatu masalah. Mereka menjadi demikian karena melalui proses pelatihan yang bertahun-tahun. Dengan demikian perbedaan antara ahli dan orang awam terletak pada strategi umum secara garis besar dan langsung, hal ini disebut heuristic. Sementara orang awam tidak memilikinya 7 E. Gangguan Berpikir Proses berpikir seseorang dipengaruhi oleh beberapa faktor, yakni faktor somatik (gangguan otak), faktor psikologik (gangguan emosi), dan faktor sosial. Berikut merupakan beberapa gangguan dalam berpikir. 1. Gangguan bentuk pikiran a. Pikiran dereistik Gangguan berpikir yang bersangkut paut antara proses mental individu dan pengalamannya yang sedang berjalan. Sehingga proses mental tidak sesuai dengan kenyataan dan pengalaman. b. Pikiran autistik Gangguan berpikir yang hanya bertujuan untuk memuaskan pikirannya sendiri tanpa peduli terhadap orang lain. c. Pikiran non-realistis Gangguan berpikir yang sama sekali tidak berdasarkan pada kenyataan. 2. Gangguan arus pikiran a. Perseverasi Mengatakan suatu ide/pikiran secara berulang-ulang dengan cara yang berlebihan. Contoh: “Nanti besok saya akan pulang, ya saya kangen rumah, dst..” b. Asosiasi longgar Mengatakan hal-hal yang tidak ada antara samar dengan yang lain. Contoh: “Saya mau makan. Semua orang dapat berjalan” c. Inkoherensi Gangguan dalam bentuk bicara sehingga sangat sukar dimengerti maksudnya (asosiasi loggar ekstrim). Contoh: “Saya minta dijanji tidur, lahir dengan pakaian yang lengkap untuk anak saya satu atau lebih..” d. Kecepatan pikiran Mengungkapkan pikiran secara lambat sekali atau sangat cepat. Contoh: seseorang yang berbicara dengan sangat cepat atau lambat dalam menyampaikan pikirannya. e. Benturan (blocking) Jalan pikiran tiba-tiba berhenti ditengah sebuah kalimat dan tidak dapat menerangkan penyebabnya. f. Logorea Seseorang yang banyak bicara atau kata-kata yang dikeluarkannya bertubi-tubi tanpa kontrol. g. Pikiran melayang (flying of ideas) Perubahan yang mendadak dan cepat dalam bicara sehingga suatu ide yang belum selesai diceritakan disusul oleh ide yang baru. Contoh: “Minggu kemaren 8 h. i. j. k. l. saya masuk rumah sakit. Saya akan menghadiri wisuda kakak saya minggu depan”. Asosiasi bunyi (clang association) Mengucapkan perkataan yang mempunyai persamaan bunyi. Contoh: “Ledakan itu disertai bunyi boom yang dahsyat” Neologisme Membentuk kata-kata baru yang tidak dipahami oleh umum. Contoh: “Dia berperilaku seperti layaknya kids jaman now” Irelevansi Isi pikiran atau ucapan yang tidak ada hubungannya dengan pertanyaan atau hal yang sedang dibicarakan. Pikiran berputar-putar (circum stantiality) Menuju secara tidak langsung kepada ide pokok dengan menambahkan banyak hal yang remeh serta tidak relevan. Afasia Merupakan sensorik (tidak mengerti pembicaraan orang lain) atau motorik (tidak dapat atau sukar bicara) yang terjadi bersamaan karna kerusakan otak. 3. Gangguan isi pikiran a. Ekstasi (kegembiraan yang luar biasa) Timbul secara mengambang pada orang normal selama fase permulaan anestesi umum ataunarkotik. b. Fantasi Isi pikiran tentang suatu keadaan atau kejadian yang diharapkan atau diinginkan tetapi dikenal sebagai suatu hal yang tidak nyata. c. Fobia Rasa takut yang irasional terhadap suatu benda atau keadaan yang tidak dapat dihilangkan. d. Obsesi Isi pikiran yang kukuh biarpun tidak dikehendakinya bahwa hak tersebut tidak wajar. e. Preokupasi Pikiran yang terpaku pada satu ide saja,biasanya berhubungan dengan keadaan yang bernada emosional yang kuat,misalnya pikiran tentang ujian. f. Pikiran yang tidak memadai (in adequate) Pikiran yang ekstrensik tidak cocok dengan banyak hal terutama dalam pergaulan atau pekerjaan. g. Pikiran bunuh diri (usicidal tought) Pikiran untuk bunuh diri, mulai dari kadang-kadang berpikir tentang hal tersebut sampai dengan terus menerus berpikir bagaimana cara bunuh diri. 9 h. Rasa terasing (alienasi) Perasaan bahwa dirinya merasa lain,berbeda, asing i. Pikiran isolasi sosial Rasa terisolasi,tersekat,terpencil dari masyarakat,rasa ditolak oleh orang lain,rasa tidak enak bila berkumpul dengan orang lain dan lebih suka menyendiri. j. Pikiran rendah diri Merendahkan,menghinakan dirinya sendiri tentang suatu hal yang pernah ataupun tidak pernah dilakukannya. k. Pesimisme Mempunyai pandangan yang suram mengenai banyak hal dalam hidupnya l. Sering curiga Menyampaikan ketidak percayaan pada orang lain,tapi bukan waham curiga m. Waham Kenyataan tentang suatu isi pikiran yang tidak sesuai dengan kenyataan atau tidak cocok dengan intelegensi dan latar belakang kebudayaan. Beberapa bentuk waham:  Waham kejar: merasa yakin bahwa ada orang atau komplotan yang sedang mengganggunya atau dia sedang ditipu,dimatai-matai  Waham somatik atau hipokhondrik: keyakinan bahwa sebagian tubuhnya ada yang tidak beres  Waham kebesaran: keyakinan bahwa ia mempunyai kekuatan,kepandaian,atau kenyataan luar biasa  Waham keagamaan: waham tentang tema keagamaan  Waham dosa: keyakinan bahwa telah berbuat dosa atau kesalahan besar, tidak dapat diampuni,bertanggung jawab terhadap semua keburukan yang terjadi  Waham pengaruh: yakin bahwa pikirannya atau perbuatannya diawasi atau dipengaruhi ole orang lain  Waham nihilistik: keyakinan bahwa dunia ini sudah hancur atau bahwa dia sendiri sudah mati 10 BAB III PENUTUP a. Kesimpulan Berpikir adalah suatu kegiatan mengolah, mengorganisasikan bagianbagian dari pengetahuan yang dimiliki sehingga menghasilkan ide, tanggapan dan pemikiran yang mudah dipahami, ditangkap dan dikuasai. Proses berpikir dipengaruhi oleh bagaimana seseorang memahami atau melihat masalah, tingkat kecerdasan, pengalaman, dan situasi yang dialami. b. Saran Menurut kami, ilmu psikologi harus dikembangkan guna membantu dalam menganalisa berbagai persoalan sosial dan standar kehidupan masyarakat serta lapisan kehidupan manusia di dalam bermasyarakat dan berkomunikasi terutama dalam aspek kemampuan berpikir seorang individu sebagai sebuah proses dalam kehidupan manusia. 11 DAFTAR PUSTAKA Hidayat, Dede Rahmat. 2009. Ilmu Perilaku Manusia Pengantar Psikologi untuk Tenaga Kesehatan. Jakarta: Trans Info Media 12

Judul: Makalah Psiko Berpikir

Oleh: Mutiara Assa

Ikuti kami