Tugas Patologi

Oleh Amilia L

1,7 MB 6 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Tugas Patologi

1 TUGAS PATOLOGI Nama : Amilia NIM : P1337430214032 Kelas : Reguler 4B 1. Epidural Hematoma Gambar Anatomi Epidural Hematom Epidural Hematom adalah perdarahan intrakranial yang terjadi karena fraktur tulang tengkorak dalam ruang antara tabula interna kranii dengan duramater. Hematoma epidural paling sering terjadi di daerah perietotemporal akibat robekan arteria meningea media. Robekan ini sering terjadi fraktur terbuka tulang tengkorak di daerah yang bersangkutan. Hematom pun dapat terjadi di daerah frontal dan oksipital. Fraktur mengakibat trauma kapitis, tengkorak retak. Fraktur yang paling ringan, ialah fraktur linear. Jika gaya destruktifnya lebih kuat, bisa timbul fraktur yang berupa bintang (stelatum), atau fraktur impresi yang dengan kepingan tulangnya menusuk ke dalam ataupun fraktur yang merobek dura dan sekaligus melukai jaringan otak (laserasio). Pada pendarahan epidural yang terjadi ketika pecahnya pembuluh darah, biasanya 2 arteri, yang kemudian mengalir ke dalam ruang antara duramater dan tengkorak. Gambaran CT Epidural Hematom Pemeriksaan CT-Scan dapat menunjukkan lokasi, volume, efek, dan potensi cedara intracranial lainnya. Pada epidural biasanya pada satu bagian saja (single) tetapi dapat pula terjadi pada kedua sisi (bilateral), berbentuk bikonfeks, paling sering di daerah temporoparietal. Densitas darah yang homogen (hiperdens), berbatas tegas, midline terdorong ke sisi kontralateral. Terdapat pula garis fraktur pada area epidural hematoma, Densitas yang tinggi pada stage yang akut (60 – 90 HU), ditandai dengan adanya peregangan dari pembuluh darah. 2. Tumor a. Meningioma Meningioma adalah salah satu tumor ekstra-aksial yang paling umum dari sistem saraf pusat dan menyumbang 15% dari semua neoplasma intrakranial. Mereka adalah neoplasma non-glial yang berasal dari mesoderm atau meninges. Meningioma biasanya ditemukan di permukaan otak, entah di atas konveksitas atau di dasar tengkorak. Dalam kasus yang jarang terjadi, meningioma terjadi di lokasi 3 intraventrikular atau intraosseus. MRI adalah alat diagnostik yang paling umum digunakan untuk karakterisasi meningioma. Penampilan MRI Penampilan khas meningioma T1 non enhanced: - Gambar MRI pembobotan T1 non enhanced menunjukkan massa bulat yang sangat homogen dan hypointense dengan kapsul tipis. Gambaran MRI T1 coronal pre contrast T2 dan FLAIR: - Citra MRI pembobotan T2 menunjukkan massa isointense dan inhomogeneous dengan edema perifer yang menunjukkan karakter yang lebih berserat dan lebih keras. Gambaran MRI T2 Axial Gambaran MRI FLAIR Axial 4 T1 enhanced: - Gambar MRI T1 enhanced menunjukkan massa bulat yang sangat homogen dengan ekor yang meningkatkan dura. Gambaran MRI T1 coronal post contrast Gambaran MRI T1 axial post contrast b. Pilocytic astrocytoma - Pilocytic astrocytomas adalah tumor tumor yang dimulai di sel-sel otak yang disebut astrosit. Tumbuh lambat dan jarang menyebar ke jaringan di sekitar mereka, cenderung terjadi pada pasien muda, dengan 75% terjadi dalam dua dekade pertama kehidupan, biasanya di akhir dekade pertama (9-10 tahun). Tidak ada predisposisi gender yang diketahui. Meskipun hanya mencatat antara 0,6-5,1% dari semua neoplasma intrakranial (1,7-7% dari semua tumor glial), tumor ini adalah tumor otak primer yang paling umum pada masa kanak-kanak, terhitung 7085% dari semua astrocytomas cerebellum. - Presentasi klinis Presentasi tergantung lokasi. Pada tumor fossa posterior, sebagian besar terdapat efek massa dengan tanda-tanda tekanan intrakranial yang meningkat, terutama bila terdapat hidrosefalus. Bulbar symptoms atau cerebellar symptoms mungkin juga ada. 5 - Lokasi Sejauh ini lokasi yang paling umum adalah cerebellum, dengan jalur optik menjadi yang paling umum berikutnya, terutama pada pasien dengan tipe neurofibromatosis 1 (NF 1). Distribusi di dalam otak kecil bervariasi dengan banyak tumor yang melibatkan vermis dan belahan otak cerebellum. Secara umum, pilocytic astrocytomas biasanya timbul dari struktur garis tengah. Cerebellum : 60% Optic pathway (saraf optik, optik chiasma, hipotalamus, radiasi optik) : 25-30%, terutama umum di NF1 Lokasi lain yang kurang umum : Batang otak, Belahan otak: lebih sering pada orang dewasa, Ventrikel cerebral, Velum interpositum, Sumsum tulang belakang (a) Slice ke 9 (b) Slice ke 10 (c) Slice ke 11 Gambaran CT Otak dengan kasus pilocytic astrocytoma non kontras (a) Slice ke 7 (b) Slice ke 8 (c) Slice ke 9 Gambaran CT Otak dengan kasus pilocytic astrocytoma post kontras saat fase arteri 6 CT otak dengan dan tanpa kontras menunjukkan sebagian besar massa kistik di belahan otak cerebellum kanan. Komponen padat hanya sedikit meningkat dengan area fokus yang menunjukkan peningkatan cincin yang lebih menonjol. Gambar post kontras diperoleh lebih awal (mungkin dalam waktu satu menit setelah injeksi kontras). Peningkatan pada CT disebabkan oleh kombinasi kerapatan kapiler (berapa banyak kontras dalam pembuluh darah) dan kebocoran vaskular (seberapa besar kontras yang bocor ke ruang ekstravaskuler / ekstraselular). Sebagian besar peningkatan yang terlihat pada CT otak pasca kontras biasanya karena gambar yang diperoleh setelah injeksi minimal 5 menit. (a) Slice ke 7 (b) Slice ke 8 (c) Slice ke 9 Gambaran T2 MRI Otak dengan kasus pilocytic astrocytoma pada pasien usia 8 tahun MRI otak mengkonfirmasi temuan di CT. Sebagian besar massa kistik memiliki episentrum di belahan otak cerebellum kanan, menggusur dan menghilangkan ventrikel keempat, mengakibatkan hidrosefalus (ventrikel ini terlalu besar untuk anak berusia 8 tahun). 7 c. Pitutary Adenoma Pituitary adenoma adalah tumor yang timbul pada kelenjar pituitari. Presentasi klinis: ketidakseimbangan hormonal, gangguan penglihatan. Microadenomas – kurang dari 10 mm Macroadenomas – lebih besar dari 10 mm Penampilan MRI: T1: Hypointense T2: sinyal variabel tidak terprediksi T1 contrast enhanced: Hyperintense Gambaran MRI T1 sagital pre contrast Gambaran MRI T1 coronal pre contrast Gambaran MRI T2 coronal Pre contrast 8 Gambaran MRI T1 sagital post contrast 3. Gambaran MRI T1 coronal post contrast Acute MCA Infarction Stroke digambarkan sebagai defisit neurologis yang tiba-tiba yang berawal dari kejadian serebrovaskular. Arteri serebral tengah (MCA) adalah arteri serebral terbesar dan paling sering terkena kecelakaan serebrovaskular. Arteri serebral tengah (MCA) stroke adalah timbulnya defisit neurologis fokal secara tiba-tiba, yang disebabkan oleh infark atau iskemia di wilayah yang disuplai oleh arteri serebral tengah. MRI dengan diffusion weighted imaging sangat sensitif untuk diagnosis dini infark MCA. Penampilan MRI Setelah 24 jam stroke, arteri serebral tengah (MCA) stroke muncul sebagai intensitas sinyal rendah pada gambar pembobotan T1 dan intensitas sinyal tinggi pada gambar pembobotan T2 dan gambar FLAIR. Infark muncul sebagai hiperintens pada gambar T2 dan FLAIR karena perkembangan edema sitotoksik dan vasogenik di daerah stroke setelah 24 jam. Diffusion Weighted Imaging (DWI) Diffusion Weighted Imaging adalah urutan paling sensitif untuk diagnosis dini stroke. DWI sangat sensitif terhadap pembatasan Brownian motion dari air ekstraselular akibat ketidakseimbangan yang disebabkan oleh edema sitotoksik. Biasanya, proton air memiliki kemampuan untuk 9 meredakan sinyal ekstraselular dan longgar. Intensitas tinggi pada DWI mengindikasikan pembatasan kemampuan proton air untuk menyebar secara ekstraselular. ADC (appearent diffusion coefficient) di daerah iskemik lebih rendah sebesar 50% atau lebih dibandingkan dengan area otak normal (yaitu hipointensitas), dan daerah tersebut tampak sebagai daerah terang (yaitu hyperintensitas) pada DWI. Area infark tetap tidak enhanced dalam pemindaian post gadolinium pembobotan T1. Tampilan khas daerah yang terkena dampak pada saat terjadi stroke dini Gambar T2 dan FLAIR akan normal Gambar T1 akan normal Nilai DWI b 0 akan normal Nilai DWI b 1000 akan menjadi hyperintense Peta ADC akan hypointense Tampilan khas daerah terkena 24 jam pasca stroke Gambar T2 dan FLAIR akan menjadi hyperintense Gambar T1 akan hypointense Nilai DWI b 0 akan menjadi hyperintense Nilai DWI b 1000 akan menjadi hyperintense Peta ADC akan hypointense Gambaran MRI T2 axial Gambaran MRI FLAIR axial 10 Gambaran MRI T1 coronal pre contrast Gambaran MRI AXI DWI b 1000 Gambaran MRI T1 coronal post contrast Gambaran MRI AXI DWI ADC Gambaran MRI T1 axial post contrast 11 4. Optic Neuritis Optic Neuritis (ON) adalah peradangan demyelinating pada saraf optik yang sering terjadi terkait dengan multiple sclerosis (MS) dan neuromyelitis optica (NMO). Kasus neuritis optik akut. A. MRI 1,5 Tesla, contrast-enhanced spin echo pembobotan T1, coronal fat suppression melalui orbita menunjukkan pembesaran dan peningkatan kontras saraf optik kiri di bagian retrobulbar (panah). B. MRI Coronal spin echo pembobotan T1, supresi lemak pada pasien yang sama menunjukkan pembesaran dan peningkatan kontras pada saraf di bagian parasagital oblik (panah). 12 5. Orbital blow out fracture Orbital blow-out fraktur terjadi bila ada fraktur salah satu dinding orbit namun orbital rim tetap utuh. Biasanya, ini disebabkan oleh pukulan langsung ke orbit tengah dari tinju atau bola. Gambaran CT coronal non contrast Gambaran CT sagital 13 6. Sinusitis Sinusitis adalah inflamasi atau peradangan pada dinding sinus paranasal. Biasanya sinus berisi udara, tetapi ketika sinus tersumbat dan berisi cairan, kuman (bakteri, virus, dan jamur) dapat berkembang dan menyebabkan infeksi. CT scan coronal menunjukkan pembesaran sinus maksila kanan. Terjadi penyimpangan septal ke kanan dan hipertrofi dari inferior turbinate kiri. CT scan coronal dari sinus yang menunjukkan sinusitis maksilaris bilateral. Opaksifikasi lebih menonjol di sisi kiri. 14 7. Hidrosefalus Hidrosefalus adalah pembesaran ventrikulus otak sebagai akibat peningkatan jumlah cairan serebrospinal (CSS) yang disebabkan oleh ketidakseimbangan antara produksi, sirkulasi dan absorbsinya. Kondisi ini juga bisa disebut sebagai gangguan hidrodinamik CSS. Kondisi seperti cerebral atrofi juga mengakibatkan peningkatan abnormal CSS dalam susunan saraf pusat (SSP). Dalam situasi ini, hilangnya jaringan otak meninggalkan ruang kosong yang dipenuhi secara pasif dengan CSS. Kondisi seperti itu bukan hasil dari gangguan hidrodinamik dan dengan demikian tidak diklasifikasikan sebagai hidrosefalus. (a) (b) (c) Gambaran MRI potongan T2 sagital (a), axial T2 (b), T1 axial (c) 15 8. Dislokasi temporomandibular joint Temporomandibular joint (TMJ) adalah persendiaan dari kondilus mandibula dengan fossa gleinodalis dari tulang temporal. Dislokasi TMJ adalah suatu gangguan yang terjadi karena pergeseran sendi dari kondilus mandibula dengan fossa gleinodalis dari tulang temporal. TMJ merupakan sendi yang bertanggung jawab terhadap pergerakan membuka dan menutup rahang mengunyah dan berbicara yang letaknya dibawah depan telinga. Gambaran CT sagttal Gambaran 3D CT scan dislokasi TMJ 16 9. Fraktur Fraktur tulang kepala merupakan retak atau pecahnya tulang yang mengelilingi otak.  Fraktur tulang kepala dapat terjadi dengan atau tanpa kerusakan otak  Gejala-gejala yang dapat terjadi meliputi nyeri, gejala gejala kerusakan otak, dan pada fraktur tertentu dapat terjadi keluarnya cairan dari hidung atau telinga atau memar pada belakang telinga atau disekitar mata.  Pemeriksaan CT scan digunakan untuk mendiagnosa fraktur tulang kepala Gambaran CT fraktur linear kepala dari tulang parietal kanan (panah)

Judul: Tugas Patologi

Oleh: Amilia L


Ikuti kami