Tugas Fha

Oleh Ibrahim Abigail

176,4 KB 8 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Tugas Fha

Kiki Haetami KONSUMSI DAN EFISIENSI PAKAN DARI IKAN JAMBAL SIAM YANG DIBERI PAKAN DENGAN TINGKAT ENERGI PROTEIN BERBEDA Kiki Haetami Staff Pengajar FPIK, Universitas Padjadjaran Kampus FPIK Jl. Raya Bandung Sumedang Km. 21 UBR 40600 Email : kiki.haetami@yahoo.co.id ABSTRAK Informasi mengenai jumlah konsumsi pakan dari berbagai tingkat energi-protein pakan penting diketahui untuk meningkatkan efisiensi pemanfaatan pakan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui konsumsi pakan ikan jambal siam dari berbagai tingkat energi protein dalam pakan dan pengaruhnya terhadap efisiensi protein pakan. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap enam perlakuan yang diulang tiga kali dengan imbangan energi/protein pakan 8 dan 9 kkal/g pada tingkat protein 35%, 40% dan 45% (2800 kcal/35%; 3150 kcal/35%; 3200 kcal/40%; 3600 kcal/40%; 3600 kcal/45%; dan 4050 kcal/45%). Benih jambal siam dipelihara dalam 18 buah akuarium dengan padat penebaran 10 ekor per 15 l air. Parameter yang diukur meliputi konsumsi pakan, pertumbuhan mutlak, efisiensi pakan, dan imbangan efisiensi protein pakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat energi protein dalam pakan berpengaruh terhadap konsumsi, pertumbuhan mutlak, efisiensi pakan, dan efisiensi protein pakan. Pakan A (tingkat energy protein 2800 kkal/35%) dan C (3200 kkal/40%) dengan imbangan 8 kkal/g dapat digunakan dalam susunan formulasi ransum benih ikan jambal siam, agar menghasilkan konsumsi, pertumbuhan, efisiensi pakan, dan imbangan efisiensi protein pakan yang optimal. Kata kunci : efisiensi pakan, jambal siam, konsumsi, pertumbuhan, dan tingkat energi/protein. ABSTRACT The Information about of the rate consumption of some energy-protein levels was important to know for increasing feed efficiency. The objective of this experiment was to know the rate consumption of energy-protein levels on jambal siam fish feed and its influence on growth and efficiency. The experiment was arranged in Completely Randomized Design six treatment three replicated with protein enrgy ratio 8 and 9 kcal/g at protein levels 35%, 40% and 45% (2800 kcal/35%; 3150 kcal/35%; 3200 kcal/40%; 3600 kcal/40%; 3600 kcal/45%; dan 4050 kcal/45%). Fry of Jambal Siam fish were culturing in eighteen aquarias with fish density 10 ind/15 l. The parameters observed consist feed consumption, absulute of growth, feed efficiency, and protein efficiency ratio. The result of the experiment showed that some energy-protein levels was significantly influential on the feed consumption, absulute of growth, feed efficiency, and protein efficiency ratio. Feed A 2800 kkal/35% and C (3200 kkal/40%) with energy/protein ratio 8 kcal/g cunducted used for jambal siam fish fry to optimal produce of feed consumption, absulute of growth, feed efficiency, and protein efficiency ratio. Key words : Energy-protein levels, feed consumption, feed efficiency, growth, and Jambal siam fish 146 Jurnal Akuatika Vol. III No. 2/ September 2012 (146-158) ISSN 0853-2523 energi diharapkan sebagian besar dipenuhi I. PENDAHULUAN Informasi mengenai pola konsumsi oleh nutrien non-protein seperti lemak dan suatu jenis ikan sangat diperlukan dengan karbohidrat. Apabila energi yang berasal dari tujuan untuk meningkatkan efektifitas dan non-protein tersebut cukup tersedia, maka efisiensi pemanfaatan pakan. Pola konsumsi sebagian besar protein akan dimanfaatkan ikan mola (Hypophthalmichtys molitrix), “big untuk tumbuh, namun apabila energi dan head (Aristuchthys nobilis) dan grass carp nutrien non-protein tidak terpenuhi, maka (Ctenopharingodon idella) telah diteliti oleh protein akan digunakan sebagai sumber energi Wang, et. al., (1989). Akan tetapi pola sehingga fungsi protein sebagai pembangun konsumsi pada benih ikan jambal siam masih tubuh akan berkurang. Tingkat energi protein sangat terbatas. dalam pakan juga mempengaruhi konsumsi Menurut Ensminger, et. al., (1990), pakan. Jika tingkat energi protein melebihi ikan jambal siam sangat responsif terhadap kebutuhan maka akan menurunkan konsumsi pakan buatan dan mampu mengkonversi pakan sehingga lebih baik dari jenis ikan budidaya lain, termasuk protein akan menurun. pengambilan nutrien lainnya asalkan pakan yang diberikan memenuhi Energi sangat diperlukan untuk proses kebutuhan energi dan protein untuk aktivitas metabolisme, perawatan tubuh (maintenance), metabolisme jaringan tubuhnya. Kandungan aktivitas fisik, pertumbuhan, dan reproduksi energi jumlah (NRC, 1993). Untuk mengetahui kebutuhan perlu energi pada ikan, harus terlebih dahulu dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui mengetahui tingkat kebutuhan protein optimal jumlah konsumsi dan efisiensi penggunaan dalam pakan bagi pertumbuhan. Nilai DE/P protein dengan berbagai level protein dan (Perbandingan antara Digestible Energi dan energi. Protein) bagi pertumbuhan optimal ikan pakan konsumsi, dapat menentukan sehingga Kebutuhan penelitian protein ini ikan berkisar antara 8-9 kkal/g (De Silva, 1987). dipengaruhi oleh tingkat pemberian pakan dan Jika DE/P melebihi batas optimal, ikan cepat kandungan jumlah merasa kenyang, sehingga konsumsi menurun. pemberian pakan selain dipengaruhi oleh Selanjutnya dijelaskan jika tingkat energi kandungan energi, juga dipengaruhi kapasitas protein dalam pakan lebih rendah dari nilai saluran yang DE/P optimal, menunjukkan sumber energi mempunyai keseimbangan energi-protein yang dalam pakan (terutama lemak dan karbohidrat) tepat dengan jumlah pemberian yang tepat tidak mencukupi kebutuhan tubuh. Hasil akan menghasilkan pertumbuhan dan konversi penelitian Rostika (1997) pada juwana ikan pakan yang terbaik. Kebutuhan ikan akan mas menunjukkan bahwa imbangan energy- energinya. pencernaan pada Sedangkan ikan. Ransum 147 Kiki Haetami protein 8 kkal/kg dengan kadar protein 35% (nafsu makan tinggi) dan jumlah pakan yang optimal dan dikonsumsi akan semakin menurun bila ikan efisiensi pakan tertinggi. Sedangkan menurut mendekati kenyang (Hepher, 1988). Lateral Ensminger, et. al., (1997), kebutuhan protein Hipothalamus ini merupakan pusat pengatur untuk ikan jambal siam adalah 40%. dan pengontrol tingkah laku makan pada menghasilkan Konsumsi ukuran pertumbuhan pakan kebutuhan ikan populasi teleostei (Peter, 1979). Pemberian pakan yang ikan berlebihan akan mengakibatkan adanya sisa terhadap sumber makanannya (Gerking dan pakan yang tidak termakan sehingga dapat Shelby, dapat menurunkan kualitas air media pemeliharaan, meningkatkan produksi panas dalam tubuh, sehingga berpengaruh terhadap kelangsungan juga hidup dan produksi ikan yang dibudidayakan 1972). suatu merupakan Konsumsi meningkatkan pakan konsumsi oksigen. Peningkatan dalam laju metabolik ini dikenal sebagai “spesific dynamic action” (SDA) dari pakan yang dikonsumsi. Pada ikan SDA (Cholik, dkk., 1986). Oleh karena itu diperlukan keseimbangan yang tepat antara energi dan meningkat cepat setelah makan mencapai protein maksimum, dan setelah itu menurun secara keefektifan pemanfaatan pakan. Masalah yang teratur sampai level sebelum makan (Vahl, dapat diidentifikasi yaitu : 1979). 1. Sampai seberapa jauh tingkat energi Biokimia SDA belum sempurna agar dicapai keefisienan difahami, tetapi energi yang dilepaskan pada protein umumnya terjadi karena deaminasi asam konsumsi pakan ikan jambal siam. berpengaruh terhadap dan jumlah amino. Apabila laju pencernaan asam amino 2. Sampai seberapa jauh tingkat energi lebih besar dari laju penggunaannya dalam protein berpengaruh terhadap efisiensi sintesa protein, asam amino yang berlebihan pakan dan efisiensi penggunaan protein akan dideaminasi, sehingga memungkinkan pakan ikan jambal siam. terjadinya oksidasi biologis atau penimbunan Tujuan penelitian ini adalah untuk sisa karbon (Vahl, 1979). Akumulasi asam- mengetahui asam amino bebas dapat menimbulkan toksik menghasilkan konsumsi, efisiensi pakan dan terhadap kondisi hewan. imbangan efisiensi protein pakan terbaik pada Pengaturan protein yang benih ikan jambal siam. Selain itu dapat merupakan pengaturan energi yang masuk, diketahui berapa kebutuhan protein yang sehingga jumlah pakan yang dikonsumsi optimal untuk benih ikan jambal siam. disesuaikan metabolismenya Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan (Peter, 1979). Pada dasarnya ikan akan informasi dasar mengenai tingkat energi mengkonsumsi pakan pada saat merasa lapar protein yang sesuai bagi kebutuhan konsumsi dengan laju pakan energi ikan 148 konsumsi tingkat Jurnal Akuatika Vol. III No. 2/ September 2012 (146-158) ISSN 0853-2523 pakan dan pertumbuhan benih ikan jambal aerasi, lampu 40 watt dan plastik untuk siam. mepertahankan suhu. Adapun hipotesis yang dipakai dalam penelitian ini adalah tingkat energi-protein 8 kkal kg dan protein 40% adalah optimal b) Timbangan elektrik merk Kern c) Serok kain kasa untuk membersihkan pakan dan mengambil benih. menghasilkan konsumsi dan efisiensi protein d) Mesin penepung dan pembuat pellet. pakan pada ikan jambal siam. e) Oven untuk mengeringkan sampel isi saluran pencernaan dan freezer. II. DATA DAN PENDEKATAN 2.1. Alat dan Bahan Penelitian Alat-alat yang digunakan Bahan dalam a) Akuarium ukuran 40x30x20 cm2 sebanyak 18 buah yang dilengkapi aerator untuk Tepung ikan Tepung kedele Dedak Tepung jagung Tepung terigu Minyak ikan Top mix CMC Total Protein Energi (kkal/kg) yang digunakan adalah : 180 ekor ikan jambal siam (bobot sekitar 5–6 g). Pakan buatan yang digunakan penelitian ini adalah : Bahan penelitian adalah berbentuk pellet dengan dengan tingkat tingkat energi-protein berbeda (Tabel 1). Tabel 1. Susunan Pakan Penelitian. A B C D E F ………………………….. % …………………………….. 40,0 39,3 40,7 40,8 51,7 53,1 7,9 6,9 17,5 17,5 12,9 13,3 1,9 4,8 6,8 10,1 11,0 11,5 7,9 13,6 10,1 11,2 9,6 1,4 25,5 26,3 16,9 11,5 6,9 0,7 0,2 1,7 1,4 7,8 6,9 18,7 2,0 2,0 2,0 1,0 1,0 1,0 14,5 5,3 4,6 0,2 0,1 0,3 100 100 100 100 100 100 35 35 40 40 45 45 2800 3150 3200 3600 3600 4050 2.2. Prosedur Penelitian ikan) terhadap pakan selama satu minggu, 4) Adapun persiapan penelitian meliputi : Setelah beradaptasi dengan pakan perlakuan 1) Memformulasikan pakan dan membuat maka sebelum penelitian laju pengosongan pellet 2) Persiapan wadah : wadah (akuarium) lambung ikan dipuasakan terlebih dahulu sebanyak 24 buah dibersihkan, diberi PK dan selama 24 jam. MG agar terhindar dari jamur dan penyakit. Tahap pelaksanaan penelitian adalah Tingkat kepadatan ikan setiap wadah 16 sebagai berikut : ekor/10 L, 3) Penyesuaian ikan uji (adaptasi 1. Penelitian Pendahuluan/Pendugaan Jumlah Konsumsi Pakan Harian 149 Kiki Haetami Persiapan o wadah penelitian meliputi pembersihan akuarium, pemberian larutan desinfektan, pengisian air, dan pemasangan aerasi. 1. Konsumsi diadaptasikan selama 3 hari terhadap lingkungan akuarium dan pakan uji, kemudian sebelum perlakuan dimulai frekuensi 3 kali sehari yaitu pada jam Sisa pakan disiphon segera setelah ikan menghentikan aktivitas makannya 3. Efisiensi pakan (Effendi, 1997), pertama, wadah penelitian disiphon untuk sisa pakan yang tidak termakan dan feses. kemudian ditimbang. pakan Penelitian dilakukan secara eksperimen, menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 6 macam perlakuan dan Perlakuan yang diberikan terdiri atas enam susunan ransum berdasarkan tingkat energi Pengukuran sisa pakan dilakukan selama o 4. Imbangan Efisiensi Protein (NRC, 1993), masing-masing diulang sebanyak 3 kali. Sisa pakan dikeringkan (kering jemur), o Pertumbuhan mutlak (g) x 100%. Konsumsi pakan (g) 2.4. Rancangan Penelitian Setiap pagi sebelum pemberian pakan mengambil bobot IEP = Pertumbuhan mutlak (g) x 100%. Konsumsi pakan (g) x kandungan protein 08.00, jam 13.00, dan jam 18.00. o (% Ga = Wt- Wo, Ga = Pertumbuhan absolut (pertumbuhan mutlak) (g); Wt = bobot akhir interval (g); Wo = bobot awal interval (g). Pakan uji diberikan adlibitum dengan o harian biomas/hari) Ep = dipuasakan selama satu hari. o Pakan 2. Pertumbuhan mutlak (Effendi, 1997), Ikan uji sebanyak 10 ekor per wadah o 2.3. Parameter yang diukur dan protein pakan yang berbeda. 7 hari atau jika data yang diperoleh telah konstan. 2. Penelitian Pertumbuhan dan Efisiensi Pakan. Setelah digunakan untuk penelitian pendahuluan, ikan 10 ekor/wadah III. HASIL DAN DISKUSI 3.1. Konsumsi Pakan Jambal Siam Berdasarkan Uji Jarak Berganda Duncan, diperoleh bahwa pakan A, B, dan C menghasilkan laju konsumsi relatif yang lebih selanjutnya dipelihara dengan pemberian tinggi dibandingkan pakan E, D, dan F. pakan berdasarkan patokan penelitian tahap ini disebabkan karena pakan A, B, dan C 1 Lama mempunyai tingkat energi pakan yang lebih pemeliharaan 42 hari. Awal dan akhir rendah yaitu berkisar 2800-3200 kkal/kg, penelitian ikan ditimbang bobot tubuhnya. sedangkan tingkat energi pakan E, D, dan F (pendugaan konsumsi). Hal berkisar energi 3600-4050 kkal/kg (Tabel 2). 150 Jurnal Akuatika Vol. III No. 2/ September 2012 (146-158) ISSN 0853-2523 Tabel 2. Rataan Konsumsi Pakan Jambal Siam Perlakuan A B C E D F Konsumsi Pakan (%bobot tubuh) 5,4 5,2 5,1 4,6 Signifikansi 0,05 0,01 a a a a a a b b b b c c 4,5 4,0 Ket. : A = Energi 2800 kkal/kg; protein 35%, D = Energi 3600 kkal/kg; protein 40%. B = Energi 3150 kkal/kg; protein 35%, E = Energi 3600 kkal/kg; protein 45%. C = Energi 3200 kkal/kg; protein 40%, F = Energi 4050 kkal/kg; protein 45% Menurut Robinson et.al. (2001) energi mempunyai tingkat energi yang tergolong dalam pakan akan mempengaruhi asupan melebihi kebutuhan, pakan D dan E, lebih pakan pada ikan yang diberi makan secara ad direspon karena, antara lain, penggunaan libitum. Jika energi dalam pakan terlalu tinggi, minyak ikan dan tepung ikan tidak berlebih ikan dibandingkan pakan F (Tabel 1). akan cepat kenyang sehingga Hasil menghentikan konsumsi pakannya. Selain itu penelitian pendugaan jumlah konsumsi pada Nematipour, dkk. (1992) menyatakan bahwa penelitian tahap 1 ini tingginya ikan jumlah pemberian pakan yang digunakan pada menyebabkan terjadinya akumulasi lemak penelitian pertumbuhan. Oleh sebab itu jumlah yang tinggi pada tubuh ikan sehingga akan pakan yang diberikan atau dugaan jumlah membatasi jumlah pakan yang dikonsumsi. kebutuhan pakan untuk perlakuan A, B, dan C Dengan demikian jelas bahwa tingkat energi di ditetapkan sebesar 5%, pakan E dan D sebesar dalam ransum berpengaruh besar terhadap 4,5%; sedangkan pakan F sebesar 4% dari jumlah pakan yang dikonsumsi ikan. bobot ikan. energi dalam pakan Respon konsumsi ikan terhadap pakan ditetapkan sebagai 3.2. Pertumbuhan Mutlak E (protein 45%, energi 3600 kkal/kg) dan D Pada Tabel 3 tampak bahwa pertumbuhan (protein 40%, energi 3600 kkal/kg) berbeda mutlak tertinggi diperoleh pada ikan yang dengan pakan yang lainnya. Konsumsi pakan mengkonsusi pakan C dengan tingkat energi berhubungan dan 3200 kkal dan-protein 40%, namun tidak kandungan energi pakan. Konsumsi pakan E berbeda dengan pertumbuhan yang diperoleh dan D lebih rendah dibandingkan pakan A, B, ikan dengan kandungan protein pakan 35% dan C, karena lebih tingginya tingkat energi (pakan A). pakan. kapasitas lambung Selain itu, walaupun sama-sama 151 Kiki Haetami Tabel 3. Rataan Pertumbuhan Mutlak Jambal Siam Perlakuan Pertumbuhan mutlak Signifikansi g 0,05 0.01 C 8,89 a a A 8,12 a ab B 7,22 b bc E D F 7,08 6,07 4,21 b c d c d e Pada tabel tersebut juga tampak bahwa kelebihan protein diduga akan dideaminasi meningkatnya tingkat protein pakan dari 40% karena tidak dibutuhkan oleh ikan, dan dalam (pakan C dan D) ke 45% (pakan E dan F) proses deaminasi tersebut memerlukan energi. menurunkan Ekskresi pertumbuhan. Pakan F amonia berhubungan dengan mempunyai kandungan energi yang tinggi deaminasi asam amino. Energi dalam pakan (4200 kkal) yang dapat menyebabkan ikan terlalu tinggi, akan menurunkan konsumsi cepat kenyang sehingga konsumsi rendah pakan, (Tabel 2). Meningkatnya kandungan protein berkurang. sehingga asupan nutrien akan pada pakan E dan F berakibat meningkatnya Nematipour, et. al., (1992), menya- kebutuhan energi untuk metabolisme protein. takan bahwa imbangan energi protein yang Menurut Hoar et al. (1979), peningkatan optimum untuk ikan sejenis karnivora hybrid kandungan protein dalam pakan berakibat striped bass adalah sebesar 8 kkal/g protein. terlalu banyak kerja yang dilakukan oleh tubuh Oleh sebab itu pakan A dan C yang untuk pembentukan glukosa dari asam-asam mempunyai imbangan energi-protein DE/P 8 amino kkal/kg, menghasilkan pertumbuhan mutlak (glukoneogenesis) dengan meningkatkan efek panas dinamik khusus (Specific Dynamic Action), sehingga ada energi yang dihamburkan dan tidak digunakan untuk pertumbuhan (Hoar, et. al., 1979) Protein pakan 45% menghasilkan pertumbuhan yang lebih rendah dibandingkan 35% dan 40%, 3600 kkal. Jenis ikan karnivora membutuhkan protein dalam pakan lebih dari 35% untuk mencapai pertumbuhan optimal (Chumaidi, dkk., 1990). Hal ini karena 152 yang tertinggi. 3.3. Efisiensi Pakan Efisiensi dalam pemberian pakan menunjukkan persentasi pakan yang diubah menjadi daging atau pertambahan bobot. Hasil Uji Duncan menunjukkan bahwa pakan dengan protein 35%, 40% dengan kandungan energi berbeda dan protein 45% pada energi 3600 kkal/kg menghasilkan efisiensi pakan yang tidak berbeda nyata (P<0,01). Jurnal Akuatika Vol. III No. 2/ September 2012 (146-158) ISSN 0853-2523 Sedangkan pakan dengan kandungan protein efisiensi pakan yang paling rendah (Tabel 4). 45% dan energi 4050 kkal/kg menghasilkan Tabel 4. Rataan Efisiensi Pakan Jambal Siam Perlakuan C A E B D F Tabel 4 menunjukkan Efisiensi Pakan % 68,63 65,58 63,60 58,89 57,21 42,31 bahwa sangat Signifikansi 0,05 0.01 a a ab a ab a bc a c a d B dipengaruhi oleh tingkat energi. peningkatan tingkat protein tidak selalu akan Tingkat energi yang tinggi akan menyebabkan meningkatkan efisiensi pemberian pakan. ikan cepat kenyang dan segera menghentikan Rata-rata efisiensi pemberian pakan meningkat makannya. Peningkatan lemak yang tinggi seiring dengan meningkatnya tingkat protein pada pakan akan meningkatkan total energi pakan, namun menurun pada pakan dengan sehingga melebihi kebutuhan. dengan tingkat protein tertinggi yaitu 45%. menyatakan bahwa penggunaan lemak yang Menurunnya efisiensi pakan pada perlakuan F tinggi akan menghasilkan penimbunan lemak juga disebabkan oleh kelebihan protein. yang terlalu banyak dan bukan merupakan Apabila protein dalam pakan berlebih, ikan suatu pertumbuhan, bahkan dapat menurunkan akan mengalami ’excessive protein syndrome’, kualitas daging ikan. NRC (1993) sehingga protein tersebut tidak digunakan Peningkatan protein pada perlakuan untuk pertumbuhan tetapi akan dibuang dalam tingkat energi 3200 kkal dan protein 40% bentuk amonia (Lan dan Pan, 1993). Menurut meningkatkan efisiensi pemberian Chen dan Tsai (1994), ikan omnivora seperti dibanding tingkat protein 35%. Hal tersebut Tilapia dan catfish membutuhkan protein 35- menunjukkan 45%. energi dan protein efektif diserap untuk bahwa peningkatan pakan, tingkat Efisiensi pemberian pakan terendah meningkatkan pertambahan bobot, dengan dihasilkan oleh perlakuan pakan dengan kata lain, persentasi pakan yang diubah tingkat energi protein tertinggi, (4050 kkal/ menjadi daging meningkat. Meningkatnya 45%), bahkan lebih rendah dibanding pakan D efisiensi pakan pada pakan dengan tingkat (45%) dengan energi yang lebih rendah (3600 protein 40 % tersebut juga disebabkan oleh kkal). Rendahnya efisiensi pakan tersebut penggunaan protein hewani yang meningkat. 153 Kiki Haetami Menurut Zonneveld, et. al., (1991), protein yang tinggi pada pakan F diperoleh dari hewani lebih dapat dicerna dibanding protein minyak ikan sebagi sumber energi terbesar. nabati. Tingginya penggunaan minyak ikan yaitu Penggunaan protein nabati menjadi sebesar 18,775%, melebihi batas maksimal lebih sedikit seiring dengan meningkatnya penggunaan minyak ikan yaitu sebesar 10% tingkat protein pakan. Apabila energi non- (Ensminger, 1996). Kelebihan lemak tidak protein tidak dapat mencukupi kebutuhan digunakan untuk pertumbuhan namun untuk energi untuk aktivitasnya, maka protein pakan sintesis jaringan lemak. akan dikatabolisme untuk menghasilkan energi Efisiensi pemberian pakan tertinggi sampai kebutuhan energi tercukupi (Halver, dihasilkan oleh pakan dengan tingkat protein 1989). 35% dan energi 3150 kkal/kg, namun tidak Semakin tinggi tingkat protein pakan menunjukkan perbedaan yang nyata dengan perlakuan menghasilkan efisiensi pemberian pakan A (35%, 2800), C (40%, 3200), E (45%, pakan yang nyata lebih rendah. Hal tersebut 3600), dan memperlihatkan perbedaan yang tampak pada pakan yang mengandung tingkat nyata dengan perlakuan F (45%, 4050). Hasil protein 45 % dengan energi 4050 kkal/kg yang ini sejalan dengan hasil penelitian terhadap menghasilkan efisiensi pakan yang sangat ikan lele dumbo, yang menunjukkan efisiensi nyata lebih rendah dibandingkan perlakuan pakan tertinggi pada pakan dengan kandungan lainnya. Pada pakan dengan tingkat protein protein 37 % dan energi 3040 kkal/kg. yang tinggi, komposisi bahan penyusun pakan lain seperti karbohidrat menjadi lebih sedikit, sehingga dapat menyebabkan rendahnya proporsi energi non-protein. Menurut Buwono (2000), rendahnya energi non-protein pada tingkat protein yang lebih tinggi memungkinkan katabolisme protein menjadi semakin besar karena katabolisme protein membutuhkan energi yang lebih besar (30%) dalam proses penyerapannya dibandingkan karbohidrat yang hanya 5%. Penggunaan protein sebagai energi yang semakin besar menjadikan protein untuk pertambahan bobot berkurang yang akhirnya menurunkan efisiensi pemberian pakan. Selain itu tingkat energi 154 3.4. Imbangan Efisiensi Protein Imbangan efisiensi protein menunjukkan berapa gram pertumbuhan yang dihasilkan oleh ikan per satu gram protein pakan yang dikonsumsi (NRC, 1993). Dari Tabel 5 tampak bahwa pakan A (2800 kkal/35%), B (3150 kkal/35%), dan C (3200 kkal/40%) efisiensi mempunyai protein yang nilai imbangan lebih tinggi dibandingkan pakan D (3600 kkal/40%), E (3600 kkal/45%), dan F (4050 kkal/45%). Peningkatan energi pada protein pakan 40% (pakan D), dan peningkatan protein pakan Jurnal Akuatika Vol. III No. 2/ September 2012 (146-158) ISSN 0853-2523 menjadi 45% akan menurunkan imbangan efisiensi protein pakan. Tabel 5. Rataan Imbangan Efisiensi Protein Pakan Jambal Siam Imbangan Efisiensi Protein Signifikansi Perlakuan 0,05 0,01 A 1,87 a a C 1,72 a a B 1,68 a ab D 1,43 b b E 1,41 bc bc F 0,94 c c Kebutuhan protein optimal demikian protein pakan dapat lebih efisien dipengaruhi oleh penggunaan protein untuk digunakan untuk pertumbuhan. Pengurangan energi, komposisi asam amino, kecernaan kebutuhan protein sebagai pemasok energi pakan, serta imbangan energi-protein. Apabila pada ikan berkaitan dengan protein sparing kandungan protein dalam pakan terlalu tinggi, effect dari lipid dan karbohidrat untuk ikan hanya sebagian yang akan diserap (diretensi) omnivora, dan dari lipid untuk ikan karnivora dan digunakan untuk membentuk ataupun (De memperbaiki rusak, karbohidrat dapat berperan sebagai protein sementara sisanya akan diubah menjadi energi sparing effect, karena protein dan lemak yang (Buwono, tinggi sel-sel 2000). tubuh Bahan yang yang pakan yang Silva, 1988). tidak selalu Pada penelitian meningkatkan ini, nilai digunakan pada penelitian ini menggunakan imbangan efisiensi protein. Hal ini terbukti bahan pakan komersial seperti tepung ikan, dari imbangan efisiensi pakan C, B, dan A tepung kedele, tepung jagung, dedak, dan (energi 2800-3200, protein 35-40%) yang minyak ikan yang mempunyai kandungan lebih tinggi dibandingkan efisiensi protein nutrisi yang cukup baik (Tabel 1), sehingga pakan D, E, dan F (energi 3600-4050, protein diduga mempunyai kecernaan dan imbangan 40-45%). asam-amino yang baik. Penggunaan bahan- terbesar, jika berlebih tidak meningkatkan bahan nabati seperti dedak, kedele, dan tepung imbangan efisiensi protein. jagung dapat mengurangi kebutuhan ikan Lemak sebagai pemasok energi Kandungan lemak dalam pakan juga omnivora terhadap sumber protein. Benih menentukan jambal siam diduga mampu memanfaatkan sumber energi untuk pembentukan jaringan sumber energi non-protein dalam bentuk dan aktivitas ikan. Penggunaan minyak ikan karbohidrat dan lemak dengan baik untuk yang berlebih, yaitu sebesar 18,78% (Tabel 2), memenuhi akan meningkatkan lemak ransum keseluruhan kebutuhan energinya. Dengan pemanfaatan protein sebagai 155 Kiki Haetami (menjadi sekitar 24%). Menurut Peres dan Teles (1999), lemak yang tinggi dalam pakan dibandingkan pakan B, E, D, dan F, namun tidak berbeda dengan pakan A. tidak meningkatkan pertumbuhan dan efisiensi 4. Pakan F memberikan efisiensi pakan yang pakan pada ikan kakap Eropa (Dicentrarchus terendah dibandingkan kelima perlakuan labrax) yang diberi pakan dengan kandungan pakan lainnya. lemak 12, 18, 24, dan 30%. Hal yang sama dikemukakan oleh Webster, et. al., (1995) yaitu pertumbuhan dan konversi pakan ikan 5. Pakan A, C, dan B memberikan imbangan efisiensi protein pakan jambal siam yang lebih tinggi dibandingkan pakan E, D, dan sunshine bass yang diberi lemak rendah (6%), ternyata lebih tinggi dibandingkan dengan ikan yang diberi pakan dengan kandungan 4.2. Saran Pakan A (2800 kkal/35%) dan C (3200 kkal/40%) lemak tinggi (9%, 16%, dan 17%). dengan tingkat energi/protein (DE/P) 8 kkal/g protein dapat digunakan IV. KESIMPULAN 4.1. Kesimpulan dalam susunan formulasi ransum benih ikan 1. Tingkat Energi Protein dalam Pakan berpengaruh terhadap konsumsi, pertumbuhan mutlak, efisiensi pakan, dan 2. Pakan C dengan tingkat energi-protein 8 (3200 menghasilkan kkal; konsumsi menghasilkan konsumsi, pertumbuhan, efisiensi pakan, dan imbangan efisiensi pakan yang optimal. imbangan efisiensi protein. kkal/g jambal siam ukuran sekitar 6 g, agar UCAPAN TERIMAKASIH /protein 40%) Terima kasih kami sampaikan kepada Rektor yang sama Universitas Padjadjaran dan Ketua Lembaga besarnya dengan pakan A tingkat energi- Penelitian protein 8 kkal/kg (2800 kkal; protein 35%) Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan dan B Universitas 9 kkal/g (3150 kkal;35%), serta Universitas Padjadjaran, Padjadjaran, serta yang telah lebih tinggi konsumsinya dibandingkan memberikan kepercayaan untuk melakukan dengan tingkat energi-protein pakan D 9 penelitian kkal/g (3600 kkal; 40%), pakan E 8 kkal/g Laboratorium Nutrisi Ikan, Lab. Fisiologi (3600 kkal;45%), dan tingkat energi- Hewan Air FPIK Unpad dan Lab. Industri protein 9 kkal/g pada pakan F (4050 kkal; Makanan Ternak, 45%). Makanan Ternak, 3. Pakan C memberikan pertumbuhan mutlak jambal siam yang lebih tinggi Universitas ini, serta kepada Jurusan Fakultas Padjadjaran, Kepala Nutrisi dan Peternakan yang telah memberikan izin penggunaan laboratorium. Juga disampaikan kepada Sdri. Triana selaku 156 Jurnal Akuatika Vol. III No. 2/ September 2012 (146-158) ISSN 0853-2523 rekan penelitian dan semua pihak yang telah membantu terlaksananya penelitian ini. DAFTAR PUSTAKA Buwono, I.D. 2000. Kebutuhan Asam Amino Esensial dalam Ransum Ikan. Kanisius, Yogyakarta. 52 hlm. Chen, H. Y. dan J. C. Tsai. 1994. Optimal Dietary Protein Level for the Growth of Juvenile Grouper, Ephinephelus malabaricus fed semipurified diets. Aquaculture, 119:265-271. Cholik, F., Artati dan Rachmat A. 1986. Pengelolaan kualitas air kolam ikan. Dirjen Perikanan. Jakarta. 46 hal. De Silva, S. S. 1987. Finfish Nutrition Research in Asia. Proceeding of The Second Asian Fish Nutrition Network meeting. Heinemann. Singapore. 128 hal. Effendie, M.I. 1997. Biology Perikanan. Yayasan Pustaka Nusantara. Yogyakarta. Hal 93-105. Elliot, J.M. 1979. Energetics of Freshwater teleost, dalam P.J. Miller (Ed) : Fish phenology anabolic adaptivenes in teleost. Academic Press, London. Hal 161-260. Ensminger, M.E., Oldfield, J.E. dan Heinemann, W.W. Feed and Nutrition. 1990. Second Edition. The Ensminger Publishing, Co. Gerking dan D. Shelby. 1972. Revised food consumption estimate of bluegill sunfish poplation in wyland Lake Indiana, USA. Journal of fish biology, 4, 301-308. Halver, J. E. 1988. Fish Nutrition. School of Fisheries University of Washington. Washington USA. Hepher, B. 1988. Nutrition on pond fishes. Cambridge University Press, Great Britain. Hoar, W.S., D.J. Randall, dan J.R. Brett. 1979. Fish Physiology Volume VIII. Academic Press. Inc. Lan, C.C. dan B.S. Pan. 1993. Invitro Ability Stimulating The Proteolysis of Feed Protein in The Midgut Gland of Grass Shrimp (Pennaeus monodon). Aquaculture 109 : 59-70. Nematipour, G. R., M.L. Brown, dan D.M. Gatlin III. 1992. Effects of dietary energy protein ratio on growth characteristic and body consumption of hybrid striped bass. Aquaculture, 107 :359-368. NRC 1993. Nutrient Requirements of Warm water Fishes and Shelfish. Nutritional Academy of Sciences. Washington DC. 181 hlm. Peres, H. dan Teles, A.O. 1999. Effect of dietary lipid levels on growth performance and feed utilization by Eropean sea bass juveniles (Dicentrarchus labrax) Aquaculture, 179:325-334. Peter, R. E. 1979. The brain and feeding behavior. Hal 121-159 dalam Fish Physiology. Vol VIII. Academic Press, New York. Rachmansyah, A., A. Laining, dan A.G. Mangawe. 2000. Pengaruh rasio protein lemak yang berbeda terhadap pertumbuhan ikan kerapu bebek (Cromileptes altivelis). Prosiding Seminar HAsil Penelitian Perikanan 1999/2000. Hlm 221-240. Robinson, E.H., M.H.Lie, dan B.B. Manning. 2001. A Practical Guide to Nutrition. Feeds and Feeding of Catfish (2nd. Rev.). Bulletin 1113. Misissipi 157 Kiki Haetami Agricultural and Foresty Experiment Station, USA. 44 hlm. Rostika, R. 1997. Imbangan Energi Protein Pakan pada Juwana Ikan Mas. Tesis. Pasca Sarjana. Universitas Padjadjaran. Saanin, H. 1984. Taksonomi dan Kunci Identifikasi Ikan. Binacipta, Jakarta. 245 hal. Vahl , O. 1979. An hypothesis on the control of feeod intake in fish. Aquaculture, 17:221-229. Vidthayanon, C. dan T.R. Roberts. 1991. Systematic revision of the Asian catfish family Pangasidae, with biological observation and descriptions of three new species. Proc. of the Academy of Natural Sciences of Philladelphia, 143: 97-144. Wang, J.Q., S.A. Flichinger, K.Be, Y. Liu and H. Xu. 1989. Daily food consumption and feeding rhythm of silver carp (Hypophthalmichthys molitrix) during fry to fingerling period. Aquaculture, 83:73-79. Webster, C.D., L.G. Tiu, J.H. Tidwell, P.V. Wyk, dan R.D. Howerton. 1995. Effect of dietary protein and lipid levels on growth and body consumption of sunshine bass (Morone chrysops x M saxatilis) reared in cages. Aquaculture, 49:101-110. 158

Judul: Tugas Fha

Oleh: Ibrahim Abigail


Ikuti kami