Makalah Bimbel

Oleh Elisabet Armin

153,2 KB 6 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Makalah Bimbel

BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendekatan konseling (counseling approach) disebut juga teori konseling, merupakan dasar bagi suatu praktek konseling. Pendekatan itu dirasakan penting karena jika dapat dipahami berbagai pendekatan atau teori-teori konseling, akan memudahkan dan menentukan arah proses konseling. Akan tetapi, untuk kondisi Indonesia, memilih satu pendekatan secara fanatik atau kaku adalah kurang bijaksana. Hal ini disebabkan suatu pendekatan konseling biasanya dilatarbelakangi oleh paham filsafat tertentu yang mungkin saja tidak sesuai sepenuhnya dengan paham filsafat di Indonesia. Disamping itu mungkin saja layanan konseling yang dilaksanakan berdasar aliran tertentu kurang sesuai dengan kebutuhan masyarakat serta kondisi social, budaya, dan, agama. Dunia konseling memiliki berbgai macam pendekatan yang dapat dijadikan acuan dasar pada semua praktik konseling. Masing-masing teori tertentu dapat dikemukakan oleh ahli yang berbeda. Memahami berbagi pendekatan yang ada dalam konseling adalah kewajiban bagi tenaga professional yang mengatasnamakan dirinya konselor. Karena tidak dapat disangkal lagi bahwa teori konseling merupakan landasan dasar terbentuknya konseling yang efektif. 1 B. Rumusan Masalah C. 1. Apa saja yang terdapat dalam bimbingan konseling ? 2. Apa saja macam perkembangan dalam bimmbingan Tujuan Penulisan 1. Mengetahui apa itu perkembangam dalam binbingan 2. Mengetahui macam perkembangan dalam bimbingan BAB II PEMBAHASAN A. PENDEKATAN PERKEMBANGAN DALAM BIMBINGAN. Pendekatan dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum, di dalamnya mewadahi, menginsiprasi, menguatkan, dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoretis tertentu. Dengan kata lain pendekatan adalah konsep dasar yang mewadahi, menginsipirasi, menguatkan, dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoretis tertentu. Macam – macam pendekatan pembelajaran antara lain pendekatan kontekstual, pendekatan konstruktivisme, pendekatan deduktif, pendekatan induktif, pendekatan proses, pendekatan konsep dan pendekatan sains, teknologi dan masyaraka Pendekatan dalam bimbingan konseling bener-bener di perlukan untuk mencapai tujuan konseling yang tertera dan tidak asal-asalan . tidak semua pendekatan dapat di lakukuan untuk menengani masalah klien . konselor harus memepertimbamgkan pulah standar kelayanan pendekatan yang berlaku di inadonesia . seperti yang telah penulis. 2 Pendekatan dalm bimbingan konseling sering di pakai antara lain pendekatan kritis, pendekatan remedial, pendekata prefentif dan pendekatan perkembangan 1. pendekatan kritis pendekatan ini menyadarkan diri pada teori teori psikologis yang berpusat pada masa lampu sebagai akar dari krisis peserta diddik saat ini . pendekatan ini merupakan pendekatan yang beriorentasi di arahkan pada upaya untuk mengatasi krisis atau permasalahan – permasalahan yang di alami peserta didik. Oleh sebab itu pertimbangan cenderung bersifat pasif karena hanya menunggu peserta didik yang bermasalah datang, kemudian memberikan batuan sesui dengan maasaalah yang di alami 2. pendekatan remedial pendekatan ini mendasarkan diri pada teori teori behavioristik yang memahami perilaku peserta didik hanya pada saat ini yang sebagian besar di pengaruhi lingkungan . pendekatan ini mengarahkan pada upaya memperbaiki kesulitan- kesulitan yang di alami peserta didik dalam bentuk pengoptimalisasikan kelemahan yang di milki peserta didik. Kegiatan layanan yang di berikan kepada peserta didik sehingga layanaan bagi peserta didik yang membutuhkan . 3. pendekatan prefentif pendekatan ini mendasarkan diri pada teori yang kurng jelas . namun demikian secara konseptual cukup bagus karna bergerak atas dasar upaya mengantisipasi . munculnya masalah masalah umum individu dan berusaha menceganya agar jangan terjadi dan menimpa peserta didik . oleh sebab itu , proses bibingan mengajarkan pengetahuan dan keterampilan untuk mencega munculnya permasalahan . 4. pendekatan perkembangan Menurut syamsu yusuf dan A Juntika Nhusishan polah bimbingan dan konseling perkembangan memeiliki kegiatan perkembangan artinya tujuan yang ingin di capai adalah perkembanga peserta didik secara 3 optimal sesui dengan tugas- tugas perkembangan melalui aktivitas dan rekayasa lingkungan . outreach artinya layanan bimbingan dan konseling di berikan kepada peserta didik maupun tidak . Mengacu pada prinsip tersebut kegiatan bimbingan dan konseling biasa di lakuakan dengan berbagai ragam di mensi ,masalah, target ,intervensi ,setting ,metode, layanan proses dan sebagainya. Artinya kegiatan layanan yang di berikan cukup luas beragam dan komleks yang tidak terlepas dari proses pendidikan dan pembelajaran itu sendiri .oleh sebab itu salah satu tekniik yang di gunakan dalam pendekatan perkembangan antara lain proses perkembangan dan konseling. . B. MACAM–MACAM PENDEKATAN KONSELING Menurut Jusmawati Ada beberapa macam-macam dari pendekatan konseling yaitu: 1. Pendekatan Rasional Emotif Terapi Rasional Emotif (TRE) adalah aliran psikoterapi yang berlandaskan asumsi bahwa manusia dilahirkan dengan potensi, baik untuk berpikir rasional dan jujur maupun untuk berpikir irasional dan jahat. Manusia memiliki kecendrungan-kecendrungan untuk memelihara diri, berbahagia, berpikir dan mengatakan,mencintai, bergabung dengan orang lain serta tumbuh dan mengaktualkan diri. Akan tetapi manusia memiliki kecendrungan-kecendrungan kearah menghancurkan diri, menghindari pemikiran,berlambat-lambat,menyesali kesalahan- kesalahan, perfeksionismedanmenceladiri, serta menghindari pertumbuhan dan aktualisasi diri. Manusia pun berkecendrungan untuk terpaku pada pola-pola tingkah laku lama dan mencari berbagai cara untuk terlibat dalam sabotase diri. Manusia tidak ditakdirkan untuk menjadi korban pengondisian awal. TRE menegaskan bahwa manusia memiliki sumber-sumber yang 4 tak terhingga bagi aktualisasi potensi-potensi dirinya dan bias mengubah ketentuan-ketentuan pribadi dan masyarakatnya. TRE menekankan bahwa manusia berpikir, beremosi dan bertindak secara simultan.jarang manusia beremosi tanpa berpikir, sebab perasaanperasaan biasanya dicetuskan oleh persepsi atas suatu situasi yang spesifik. Teori konseling Rasional Emotif dengan istilah lain dikenal dengan “rasional emotive therapy” yang dikembangkan oleh Dr. Albert Ellist, seorang ahli Clinic Psychology (Psikologi Klinis). Atas dasar pengalaman selama prakteknya dan kemudian dihubungkan dengan teori tingkah laku belajar, maka akhirnya Albert Ellist mencoba untuk mengembangkan suatu teori yang disebut “ Rational-Emotive Therapy” dan selanjutnya popular dengan singkatan RET. Tujuan dari Albert Ellist pada intinya adalah untuk mengatasi pikiran yang tidak logis tentang diri sendiri dan lingkungannya.Konselor ata terapis berusaha agar klien makin menyadari pikiran dan kata-kata sendiri, serta mengadakan pendekatan yng tegas, melatih klien untuk bisa berfikir dan berbuat yang lebih realistis dan rasional. a). Konsep Dasar Konseling Rasional-Emotif Ciri-ciri konseling Nasional-Emotif dapat diuraikan sebagai berikut: Dalam menelusuri masalah klien yang dibantunya, konselor berperan lebih aktif dibandingkan dengan klien. Dalam proses hubungan konseling harus diciptakan dan dipelihara hubungan baik deng Tercipta dan terpeliharanya hubungan baik ini dipergunakan oleh konselor untuk membantu klien mengubah cara berfikirnya yang tidak rasional menjadi rasiona Dalam proses hubungan konseling, konselor tidak erlalu banyak menelusuri kehidupan masa lampau klien. Diagnosis (rumusan masalah) yang dilakukan dengan konseling rasional-emotif bertujuan untuk membuka ketidaklogisan pola pikir dari klien. 5 Hakikat masalah yang dihadapi klien dalam pendekatan konseling rasional-emotif itu muncul disebabkan oleh ketidaklogisan klien dalam berfikir.Ketidaklogisan berpikir ini selalu berkaitan dan bahkan menimbulkan hambatan, gangguan atau kesulitan-kesulitan emosional dalam melihat dan menafsirkan objek fakta yang dihadapinya. Menurut konseling rasional-emotif ini, individu merasa dicela,diejek,dan tidak diacuhkan oleh individu lain, karena ia memiliki keyakinan dan berpikir bahwa individu lain itu mencela dan tidak mengacuhkan dirinya. Kondisi yang demikian inilah yang disebut cara beerpikir yang tidak rasional oleh konseling rasional emotif. Tujuan utama dari konseling rasional-emotif ialah menunjukkan dan menyadarkan klien bahwa cara berfikir yang tidak logis itulah merupakan penyebab gangguan emosionalnya. Atau dengan kata lain konseling rasional emotif inimenunjukkan ini bertujuan membantu klien membebaskan dirinya dari cara berfikir atau ide-idenya yang tidak logis dan menggantinya dengan cara-cara yang logis. b). Proses dan Teknik Konseling Rasional-Emotif Fungsi pengumpulan Data dalam Konseling Rasional- Emotif. Seperti telah diuraikan di muka bahwa dalam konseling rasional-emotif konselor tidak terlalu banyak menelusuri kehidupan masalampau klien.Sehingga dengan demikian berarti bahwa dalam konseling ini konselor tidak banyak melakukan pengumpulan data unutk keperluan analisis maupun diagnosis sebagaimana halnya dalam konseling klinikal. Penerapan teori konseling rasional-emotif ini sangat ideal apabila diterapakandi sekolah, terutama oleh guru , konselor, atau guru pembimbing yang berwibawa. Guru pembimbing atau konselor yang berwibawa akan mampu membantu siswa yang mengalami gangguan mental atau gangguan emosional untuk mengarahkan secara langsung pada para siswa yang 6 memiliki pola berpikir mereka yang tidak rasional, serta mempengaruhi cara berpikir mereka yang tidak rasional untuk meninggalkan anggapan atau pandangan yang keliru itu menjadi rasional dan logis. Guru melalui mata pelajaran yang diajarkan kepada siswanya secara langsung bisa mengaitkan pola bimbingan yang terpadu untuk mempengaruhi para siswanya untuk segera meninggalkan tindakan, pikiran, dan perasaan yang tidak rasional. 2. Pendekatan Analisis Transaksional Analisis Transaksional (AT) adalah psikoterapi transaksional yang dapat digunakan dalam terapi individual, tetapi lebih cocok untuk digunakan dalam terapi kelompok. AT berbeda dengan sebagian besar terapi lain dalam arti ia adalah suatu terapi kontraktual dan desisional. Analisisn Transaksional melibatkan suatu kontrak yang dibuat oleh klien yang dengan jelas menyatakan tujuan-tujuan dan arti proses terapi, juga berfokus pada putusan-putusan awal yang dibuat oleh klien, dan menekankan kemampuan klien untuk membuat putusan-putusan baru. AT cenderung mempersamakan kekuasaan terapis dan klien dan menjadi tanggung jawab klien untuk menentukan apa yang akan diubahnya agar perubahan menjadi kenyataan, klien mengubah tingkah lakunya secara aktif. Selama pertemuan terapi, klien melakukan evaluasi terhadap arah hidupnya, berusaha memahami putusan-putusan awal yang telah dibuatnya, serta menginsafibahwa sekarang ia menetapkan orang dan memulai suatu arah baru dalam hidupnya.Pada dasarnya, AT berasumsi bahwa orang-orang bias belajar mempercayai dirinya sendiri, dan mengungkapkan perasaan-perasaannya. Dr. Eric Berne yang bertugas sebagai konsultan pada Surgeon General diminta untuk membuka program terapi kelompok di Ford Ord, bagi para serdadu yang baru usai Perang Dunia Kedua. Akibat dorongan itu Eric Berne menciptakan suatu teknik untuk menganalisis transaksi-transaksi antar pribadi dalam berkomunikasi. 7 Prinsip-prinsip yang dikembangkan melalui analisis transaksional diperkenalkan pertama kali pada tahun 1956 oleh Eric Berne, dan kemudian disusul dengan pembahasan yang mendalam di depan Regional Meeting of The American GroupPsychoterapy Asosiation di Los Angeles, bulan Nopember 1957, berjudul : “ Transactional Analysis : A New and Effective Method Group Therapy”. Prinsip-prinsip yang dikembangkan oleh Eric Berne dalam analisis transaksional adalah upaya untuk merangsang tanggung jawab pribadi atas tingkah lakunya sendiri, pemikiran yang logis, rasional, tujuantujuan yang realistis, berkomunikasi dengan terbuka, wajar dan pemahaman dalam berhubungan dengan orang lain. Secara historis analisis transaksional dari Eric Berne berasal dari psikoanalisis yang dipergunakan dalam konseling/terapi kelompok, tetapi kini telah dipergunakan pula secara meluas dalam konseling/terapi individual. 3. Pendekatan Afektif a. Psikoanalisis Psikoanalisis (Psychoanalysis) yang bersumber pada sederetan pandangan Sigmund Freud dalam abad 20 mengalami perkembangan yang pesat. Pengarang ahli yang berpegang pada beberapa konsep Freud yang paling dasar, namun mengadakan modifikasi sesuai dengan perkembangan ilmu psikologi, disebut Noe-Freudians, antara lain Carl Jung, Otto Rank, Wilhelm Reich, Karen Horney, Theodore Reih dan Harry Stack Sullivan. Terapi psikoanalitis berusaha membantu individu untuk mengatasi ketegangan psikis yang bersumber pada rasa cemas dan rasa terancam yang berlebih-lebihan (anxiety). Sebelum orang datang kepada ahli terapi, dia telah berusaha untuk menghilangkan ketegangan itu, tetapi tidak berhasil. Menurut pandangan Freud setiap manusia didorong-dorong oleh kekuatan irasional di dalam dirinya sendiri, oleh motif-motif yang 8 tidak disadarinya sendiri dan oleh kebutuhan-kebutuhan alamiah yang bersifat biologis dan naluri. Bilamana beraneka dorongan itu tidak selaras dengan apa yang diperkenankan serta diperbolehkan menurut kata hati atau kode moral seseorang, timbul ketegangan psikis yang disertai kecemasan dan ketidaktenangan tinggi. Kalau seseorang tidak berhasil mengontrol dan membendung kecemasan itu dengan cara rasional dan realistis dia akan menggunakan prosedur yang irasional dan tidak realistis, yaitu menggunakan salah satu mekanisme pertahanan diri demi menjaga keseimbangan psikis dan rasa harga diri, seperti rasionalisasi, penyangkalan, proyeksi dan sebagainya. Selama proses terapi klien menerapkan terhadap konselor corak hubungan antarpribadi sama seperti dilakukannya dimasa yang lampau terhadap orang-orang yang berperanan penting dalam hidupnya. Dengan kata lain, perasaan terpendam terhadap orang tertentu serta segala konflik yang dialami dalam komunikasi dengan pihak /orang itu, selama prose terapi dihidupkan kembali dan dilimpahkan pada konselor sebagai wakil dari pihak/orang itu (transference). Perasaan, pertentangan dan konflik yang sengaja ditimbulkaan itu, kemudian diolah kembali sampai kien menjadi sadar akan berbagai dorongan yang ternyata berperanan sekali dalam kehidupanya sampai sekarang. Kesadaran ini memungkinkan suatu perubahan keadaan dalam batin klien dan dalam cara mengatur kehidupannya sendiri. b. Psikologi Individual Aliran Psikologi Individual (Individual Psychology) dipelopori Alfred Adler dan dikembangkan sebagai sistematika terapi oleh Rudolf Dreikurs dan Donald Dinkmeyer, yang dikenal dengan nama Adlerian Counseling. Dalam corak terapi ini perhatian utama diberikan pada kebutuhan seseorang untuk menempatkan diri dalam kelompok sosialnya. Ketiga konsep pokok dalam corak terapi ini adalah rasa rendah diri (inferiority feeling), usaha untuk mencapai keunggulan (striving for 9 superiority) dan gaya hidup perseorangan (a person’s lifestyle). Manusia kerap mengalami rasa rendah diri karena berbagai kelemahan dan kekurangan yang mereka alami dan berusaha untuk menghilangkan ketidakseimbangan dalam diri sendiri melalui aneka usaha mencari kompensasi terhadap rasa rendahnya itu, dengan mengejar kesempurnaan dan keunggulan dalam satu atau beberapa hal. Dengan demikian manusia bermotivasi untuk menguasai situasi hidupya, sehingga dia merasa puas dapat menunjukkan keunggulannya, paling sedikit dalam bayangannya sendiri. Untuk mencapai itu anak kecil sudah mengembangkan suatu gaya hidup perseorangan, yang mewarnai keseluruhan perilakunya dikemudian hari, meskipun biasanya tidak disadari sendiri. Selama proses terapi konselor mengumpulkan informasi tentang kehidupan klien dimasa sekarang dan dimasa yang lampau sejak berusia sangat muda, antara lain berbagai peristiwa di masa kecil yang masih diingat, urutan kelahiran dalam keluarga, impian-impian, dan keanehan dalam perilaku. Dalam semua informasi itu konselor menggali perasaan rendah diri pada klien yang bertahan sampai sekarang dan merupakan segala usahanya untuk menutupi perasaannnya itu melalui suatu bentuk perseorangan. kompensasi, Selanjutnya sehingga mulai tampak konselor membantu gaya klien hidup untuk mengembangkan tujuan-tujuan yang lebih membahagiakan bagi klien dan merancang suatu gaya hidup yang lebih kostruktif. Dalam melayani anak muda yang meneunjukkan gajala salah suai dalam bergaul, konselor berusaha menemukan perasaan rendah diri yang mendasari usaha kompensasi dengan bertingkah laku aneh, yang ternyata menimbulkan berbagai gangguan. Menurut pendapat Schmidt (1993) banyak unsur dalam psikologi individual cocok untuk diterapkan dalam individual maupun konseling kelompok. c. Teori Gestalt Terapi Gestalt (Gestalt Therapy) dikembangkan oleh Frederick Perls. Dalam corak terapi ini konselor membantu klien untuk menghayati diri 10 sendiri dalam situasi kehidupan yang sekarang dan menyadari halangan yang diciptakannya sendiri untuk merasakan serta meresapi makna dari konstelasi pengalaman hidup. Keempat konsep pokok dalam terapi ini ialah penghayatan diri sendiri dalam situasi hidup yang konkret (awareness) tanggung jawab perseorangan (pesonal responnsibility) keutuhan dan kebulatan kepribadian seseorang (unity of the person) dan penyadaran akan berbagai halangan yang menghambat penghayatan diri sendiri (blocked awarness). Klien harus mengusahakan keterpaduan dan integrasi dari berpikir , berperasaan dan berperilaku, yang mencakup semua pengalamannya yang nyata pada saat sekarang. Klien tidak boleh berbicara saja tentang kesulitan dan keukaran yang dihadapi, karena berbicara itu mudah menjadi suatu permainan memutarbalikkan kata-kata (word game) tanpa disertai peghayatan seluruh perasaannya sendiri dan tanpa menyadari tanggungjawabya sendiri. Oleh karena itu, konselor mendesak klien untuk menggali macam-macam perasaan yang belum terungkapkan secara jujur dan terbuka , seperti jengkel, sakit hati, duka cita dan sedih. Rasa bersalah, rasa berdosa, rasa kesal atau rasa diasingan. Semua rasa itu belum pernah dibiarkan muncul ke permukaan dan masuk alam kesadaran klien, namun berpengaruh sekali dalam kehidupan batin (unfinishid business). Isi batin ini harus diterima sebagi milik klien sendiri dan tanggung jawabnya sendiri serta tidak boleh dipandang sebagai tanggung jawab orang lain dengan demikian klien menyadari bahwa dia telah memasuki suatu jalan buntu, tetapi sekaligus diakui bahwa seharusnya dia berdiri di atas kaki sendiri dan harus mendapat dukungan moral dari diri sendiri, bukan dari orang lain. Dengan bantuan konselor, klien lalu mulai membuka jalan buntu itu dengan meninggalkan berbagai siasat untuk mendapatkan simpati dari orang lain dan mulai mengambil peran lebih aktif dalam mengatur kehidupannya sendiri. Berbeda dengan kebanyakan terapi lain, Terapy Gestald membuat klien merasa frustasi (berada di jalan buntu), tetapi 11 frustasi itu dipandag sebagai landasan bagi usaha baru yang lebih konstruktif . dengan kata lain, mengakui kegagalan dalam diri sendiri adalah cermin bagi diri sendiri pula. d. Konseling Eksistensi Aliran Konseling Eksistensial (Existential Counseling) tidak terikat pada nama salah seorang pelopor. Konseling eksistensial dilakukan dengan berbagai variasi, yang semuanya dengan satu atau lain cara mengambil inspirasinya dari karya-karya ilmuwan falsafah di eropa barat, seperti seperti Paul Tillich, Martin Heidegger, Jean Paul Sarte, Ludwig Binswanger dan Eugene Minkowski. Konseling eksistensial sangat menekankan implikasi dari falsafah hidup ini dalam menghayati makna kehidupan manusia didunia ini. Jajaran promotor dari konseling eksistensial di Amirika Serikat adalah Rollo May, Victor E. Frankl dan Adrian Van Kaam. Konseling eksistensial berfokus pada situasi kehidupan manusia di alam semesta yang mencakup kemampuan kesadaran diri, kebebasan untuk memilih dan menentukan nasib hidupnya sendiri. Tanggung jawab pribadi, kecemasan sebagai unsur dasar dalam kehidupan batin, usaha untuk menemukan makna dari kehidupan manusia, keberadan dalam komunikasi dengan manusia lain, kematian serta kecenderungan dasar untuk mengembangkan dirinya semaksimal mungkin. Selama wawancara konseling, klien membuka pikiran dan perasaannya, bagaimana dia menghayati dan meresapi kehidupan dunia ini. sebaliknya, konselor juga membuka diri dan ingin berkomunikasi sebagai manusia yang menghadapi beraneka tuntutan kehidupan manusiawi yang sama. Melalui proses komunikasi antar pribadi ini, konseli mulai semakin menyadari kemampuannya sendiri untuk mengatur dan menentukan arah hidupnya sendiri secara bebas dan bertanggung jawab. 12 Dalam hal ini klien belajar dari konselor yang mengkomunikasikan sikap hidup penuh rasa dedikasi terhadap segala tuntutan hidup sebagai tanggung jawab pribagi. Klien diharapkan akan menjadi semakin mampu mengatasi beraneka kesulitan dan bermacam tantangan dengan menempatkannya dalam kerangka suatu sikap mendasar terhadap kehidupannya sebagai manusia, yang harus menerima realita hidup sebagaimanan adanya dan harus memperkaya diri sendiri melalui penghayatan makna kehidupannya. Klien yang melibatkan diri sepenuhnya dalam hidup secara otentik (commitment to life), akan dapat menemukan apa yang sebaiknya dilakukannya pada saat tertentu dalam kehidupannya. 5. Pendekatan Kognitif a. Analisis Transaksional Analisis Transaksional (Transaksional Analisys) dipelopori oleh Erick Berne dan diuraikan dalam beberapa buku yang dikarang oleh Berne sendiri, seperti Games People Play (1964) atau dikarang oleh orang lain, seperti Thomas A. Harris dalm buku I’m Ok-You’re Ok (1969). Analisis transaksional menekankan pada pola interaksi antara orang-orang, baik yang verbal maupun yang non verbal (transactions). Corak konseling ini dapat diterapkan dalam konseling individual , tetapi dianggap paling bermanfaat dalam konseling kelompok, karena konselor mendapat kesempatan untuk langsung mengamati pola-pola interaksi antara seluruh anggota kelompok. Perhatian utama diberikan pada manipulasi pada siasat yang digunakan oleh orang dalam berkomunikasi satu sama lain (games people play). Dibedakan antara tiga pola berperilaku atau keadaan diri (ego states) yaitu orangtua (parent), orang dewasa (adult), dan anak (child). Keadaan orang tua (parent ego state) adalah berperilaku yang dianjurkan oleh pihak orang atau instansi sosial yang berperanan penting selama 13 masa pendidikan seseorang, seperti orang tua kandung, sekolah dan badan kegamaan. Dalam keadaan ini seseorang berpesan kepada dirinya sendiri dan kepada orang lain seperti yang dialami sendiri dari pihak orang atau instansi yang memiliki wewenng terhadapnya. Keadaan orang dewasa (adult ego state) adalah bagian kepribadian yang berhadapan dengan realitas sebagaimana adanya dan mengolah fakta serta data untuk membuat keputusan-keputusan. Segala situasi kehidupan yang dihadapi ditafsirkan untuk kemudian BAB III PENUTUP A. KESIMPULAN Dengan materi ini, kami dapat menarik kesimpulan bahwa pendekatan pada hakikatnya bukanlah suatu hal yang baru. Sejak zaman dahulu pendekatan ini sebenarnya telah ada. Di dalam menghadapi suatu kesulitan, orang biasanya meminta bantuan untuk serta memecahakan kesulitannya itu. Melalui beberapa pendekatan ini, seorang konselor dapat dengan mudah mengatasi masalah kliennya. B. Saran Dengan adanya pembuatan makalah ini kami sangat memohon kepada pembaca agar kiranya memberikan kritik dan saran yang membangun, agar supaya dalam pembuatan makalah kedepannya akan lebih baik lagi. 14 DAFTAR PUSTAKA DAFTAR PUSTAKA Jusmawati & Hs, Fitriana, Eka. 2019. Manejemen kelas mengembangkan profesionalisme guru Makassar : CV.AA.Rizky. Jusmawati, R Irman, dkk.Strategi belajar mengajar.Makassar Rizky Mulia 2018. http://ainirzone.blogspot.com/2011/04/pendekatan-metode-dan-tehnikbimbingan.html. 15

Judul: Makalah Bimbel

Oleh: Elisabet Armin


Ikuti kami