Makalah Fisika

Oleh Irmayanti Ginting

11 tayangan
Bagikan artikel

Transkrip Makalah Fisika

MAKALAH FISIKA
PENGARUH PERTUMBUHAN BAKTERI TERHADAP
PERUBAHAN TEMPERATUR

DISUSUN OLEH:
IRMAYANTI GINTING
NIM:1601011087
S1 FARMASI

PROGRAM STUDI S1 FARMASI
FAKULTAS FARMASI DAN KESEHATAN UMUM
INSTITUT KESEHATAN HELVETIA
2016

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Makalah ini di buat untuk menjelaskan tentang “Pengaruh
pertumbuhan bakteri terhadap perubahan temperatur”.Sehingga
dapat memahami pengaruh bakteri terhadap perubahan
temperatur tersebut.

B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa definisi dari temperatur?
2. Skala Temperatur dan Skala Temperatur Standar
3. Temperatur/suhu yang berkaitan dengan pertumbuhan bakteri
4. Penggolongan bakteri menurut temperatur/suhu
5. Berdasarkan ketahanan panas,bakteri dikelompokkan menjadi
tiga macam
6.

Pengaruh suhu terhadap pertumbuhan bakteri menurut

Faktor Fisika

2. TUJUAN MAKALAH
Mendeskripsikan tentang “Pengaruh pertumbuhan bakteri
terhadap perubahan temperatur”

PEMBAHASAN
PENGARUH PERTUMBUHAN BAKTERI TERHADAP PERUBAHAN
TEMPERATUR
1. TEMPERATUR
Temperatur adalah suatu ukuran ‘derajat relative panas atau
dinginnya’ tubuh,terkait dengan titik didih dan titik beku air,yang
memiliki nilai numeric tetap. Temperatur bukan merupakan
ukuran jumlah energi panas yang di miliki tubuh. Energi panas
akan tergantung dari ukuran tubuh (segelas akan mengandung
lebih sedikit energi daripada satu bak air pada temperatur yang
sama) dan juga sifat alami materi tersebut.
(https://www.slideshare.net/mobile/tiwililapraba/makalahtemperatur-dan-panas-fisika) (24 01 2017) (20:37 WIB)
Dalam kehidupan sehari-hari,temperatur adalah ukuran seberapa
panas atau dingin suatu benda. Sebuah oven panas disebut
bertemperatur tinggi,sementara es di danau yang beku disebut
bertemperatur rendah.Untuk mengukur temperatur secara
kuantitatif,sejumlah skala numerik harus didefinisikan. Skala yang
paling umum saat ini adalah skala Celcius atau Centigrade. Di
Amerika Serikat,skala Fahrenheit umum digunakan. Skala
terpenting dalam karya ilmiah adalah skala mutlak atau Kelvin.
(Giancoli,D,”Fisika Prinsip dan Aplikasi”,Jilid 1,halaman 449-450)
(26-01-2017) (22:07 WIB)

2. Skala Temperatur
Untuk mengukur temperatur secara kuantitatif,sejumlah skala numerik
harus didefinisikan,Skala yang paling umum saat ini adalah skala Celcius
dan Centigrade. Di Amerika Serikat,skala Fahrenheit umum digunakan.
Skala terpenting dalam karya ilmiah adalah skala mutlak atau Kelvin.
Salah satu cara menetukan skala temperatur adalah memberikan nilai
tertentu pada dua temperatur yang mudah diulangi. Untuk skala Celcius
dan Fahrenheit,dua titik tetap yang dipilih adalah titik beku dan titik didih
air,keduanya diambil pada tekanan atmosfer. Pada skala Celcius,titik beku
air ditentukan OoC (‘’ derajat Celcius’’) dan titik didih air 100oC. Pada skala
Fahrenheit,titik beku didefinisikan 32oF dan titik didih 212oF. Termometer
praktis dikalibrasi dengan menempatkannya dalam lingkungan yang
disiapkan dengan teliti pada setiap temperatur dan menandai posisi cairan
atu penunjuk. Untuk skala Celcius,jarak antara dua tanda dibagi menjadi
seratus dengan jarak yang sama dan merepresentasikan setiap derajat
antara 0oC dan 100oC (maka dinamakan “skala centigrade” yang berarti
“seratus langkah”). Untuk skala Fahrenheit,dua titik diberi nilai 32oF dan
212oF dan jarak antara dua nilai itu dibagi rata mejadi 180 bagian. Untuk
temperatur di bawah titi beku air dan di atas titik didih air,skala bisa
diperluas menggunakan jarak yang sama. Meskipun demikian,termometer
hanya dapat digunakan pada kisaran temperatur yang terbatas karena
keterbatasan termometer itu sendiri – misalnya,cairan air raksa dalam
termometer kaca air raksa dan membeku pada beberapa titik,yang mana
termometer tidak akan bisa digunakan. Termometer juga tidak dapat

digunakan diatas temperatur dimana cairan menguap. Untuk temperatur
yang sangat rendah atau sangat tinggi,diperlukan termometer khusus.
Setiap temperatur dalam skala Celcius berhubungan dengan
temperatur tertentu dalam skala Fahrenheit. Untuk mengkonversikan
skala Celcius ke skala Fahrenheit dan sebaliknya,ingatlah bahwa 0oC sama
dengan 32oF dan bahwa kisaran 100oC pada skala Celcius terhubung
dengan kisaran 180o pada skala Fahrenheit. Maka,satu derajat Fahrenheit
(1Fo) sama dengan 100/180=5/9 satu derajat Celcius (1oC). Sehingga 1Fo =
5/9Co

3. TEMPERATUR/SUHU YANG BERKAITAN DENGAN PERTUMBUHAN
BAKTERI
Suhu merupakan salah satu faktor penting di dalam mempengaruhi dan
pertumbuhan bakteri. Suhu dapat mempengaruhi bakteri dalam dua cara
yang berlawanan,apabila suhu naik,maka kecepatan metabolisme naik
dan pertumbuhan dipercepat.Sebaliknya apabila suhu turun,maka
kecepatan metabolisme akan menurun dan pertumbuhan
diperlambat.Apabila suhu naik atau turun secara drastis,tingkat
pertumbuhan akan terhenti,sehingga sel bakteri akan mati.Berdasarkan
hal di atas,maka suhu yang berkaitan dengan pertumbuhan bakteri
digolongkan menjadi tiga,yaitu:
a. Suhu minimum yaitu suhu yang apabila berada di bawahnya maka
pertumbuhan terhenti.
b. Suhu optimum yaitu suhu dimana pertumbuhan berlangsung paling
cepat dan optimum. (Disebut juga suhu inkubasi)
c. Suhu maksimum yaitu suhu yang apabila berada di atasnya maka
pertumbuhan tidak terjadi.

4. Penggolongan Bakteri Menurut Temperatur/Suhu
Suhu berperan penting dalam mengatur jalannya reaksi metabolisme
bagi makhluk hidup tidak terkecuali pada bakteri.Berdasarkan suhu
optimumnya bakteri secara umum di bagi atas :
a. Bakteri Psikrofil,yaitu bakteri yang hidup di daerah suhu antara 0o30OC,dengan suhu optimum 15 OC.Contohnya Bakteri Gallionella.
b. Bakteri Mesofil,yaitu bakteri yang hidup di daerah suhu tinggi
antara 15O-55OC,dengan suhu optimum 25o-40 OC.Contohnya Bakteri
Mesophiles.
c. Bakteri Termofil,yaitu bakteri yang dapat hidup di daerah suhu
tinggi antara 40o-75oC,dengan suhu optimum 50o-65oCContohnya
Bakteri Bacillus.
d. Bakteri Hipertermofil,yaitu bakteri yang hidup pada kisaran suhu
65o-114oC,dengan suhu optimum 88oC.
Pengelompokkan bakteri berdasarkan pH :
a. Asidofil adalah bakteri yang tumbuh pada kisaran pH 2.0-5.o
b. Neurofil adalah bakteri yang tumbuh pada kisaran pH 5.5-8.0
c. Alkalifil adalah bakteri yang tumbuh pada kisaran pH 8.4-9.5
(Effendi.Faktor Lingkungan Bakteri.Agroindustri Produk
Fermentasi.UB ppt) )

5. Bakteri berdasarkan Ketahan Panas
Berdasarkan ketahanan panas, bakteri dikelompokkan menjadi tiga
macam, yaitu :
1.

Peka terhadap panas, apabila semua sel rusak apabila
dipanaskan pada suhu 60oC selama 10-20 menit.

2.

Tahan terhadap panas, apabila dibutuhkan suhu 100oC selama
10 menit untuk mematikan sel.

3.

Thermodurik, dimana dibutuhkan suhu lebih dari 60oC selama
10-20 menit tapi kurang dari 100oC selama 10 menit untuk
mematikan sel.

*Keasaman atau Kebasaan (pH)*
Setiap organisme memiliki kisaran pH masing-masing dan memiliki pH
optimum yang berbeda-beda. Kebanyakan mikroorganisme dapat tumbuh
pada kisaran ph 8,0 – 8,0 dan nilai pH di luar kisaran 2,0 sampai 10,0
biasanya bersifat merusak.
*Ketersediaan Oksigen*
Mikroorganisme memiliki karakteristik sendiri-sendiri di dalam
kebutuhannya akan oksigen. Mikroorganisme dalam hal ini digolongkan
menjadi :
1. Aerobik : hanya dapat tumbuh apabila ada oksigen bebas.
2. Anaerob : hanya dapat tumbuh apabila tidak ada oksigen bebas.

3. Anaerob fakultatif : dapat tumbuh baik dengan atau tanpa oksigen
bebas.
4. Mikroaerofilik : dapat tumbuh apabila ada oksigen dalam jumlah
kecil.
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KETAHANAN PANAS MIKROBA
Faktor-faktor yang mempengaruhi ketahanan panas mikroba antara
lain ialah waktu, temperatur, kelembaban, bentuk dan jenis spora, umur
mikrroba, pH dan komposisi medium. Contoh waktu kematian thermal
(TDT/ thermal death time) untuk beberapa jenis bakteri adalah sebagai
berikut :
Kelembaban dan Pangaruh Kebasahan serta Kekeringan
Mikroba mempunyai nilai kelembaban optimum. Pada umumnya untuk
pertumbuhan ragi dan bakteri diperlukan kelembaban yang tinggi di atas
85%, sedangkan untuk jamur di perlukan kelembaban yang rendah
dibawah 80%. Banyak mikroba yang tahan hidup di dalam keadaan kering
untuk waktu yang lama, seperti dalam bentuk spora, konidia, artospora,
klamidospora dan kista.
Setiap mikroba memerlukan kandungan air bebas tertentu untuk
hidupnya, biasanya diukur dengan parameter aw (water activity) atau
kelembaban relatif. Mikroba umumnya dapat tumbuh pada aw 0,998-0,6.
bakteri umumnya memerlukan aw 0,90- 0,999. Mikroba yang osmotoleran
dapat hidup pada aw terendah (0,6) misalnya khamir Saccharomyces rouxii.
Aspergillus glaucus dan jamur benang lain dapat tumbuh pada aw 0,8.

Bakteri umumnya memerlukan aw atau kelembaban tinggi lebih dari 0,98,
tetapi bakteri halofil hanya memerlukan aw 0,75. Mikroba yang tahan
kekeringan adalah yang dapat membentuk spora, konidia atau dapat
membentuk kista. Tabel berikut ini memuat daftar aw yang oleh beberapa
Jenis bakteri dan jamur :
Bakteri sebenarnya mahluk yang suka akan keadaan basah, bahkan
dapat hidup di dalam air. Hanya di dalam air yang tertutup mereka tak
dapat hidup subur, hal ini di sebabkan karena kurangnya udara bagi
mereka. Tanah yang cukup basah baiklah bagi kehidupan bakteri. Banyak
bakteri menemui ajalnya, jika kena udara kering. Meningococcus, yaitu
bakteri yang menyebabkan meningitis, itu mati dalam waktu kurang
daripada satu jam, jika digesekkan di atas kaca obyek. Sebaliknya,sporaspora bakteri dapat bertahan beberapa tahun dalam keadaan kering.
Pada proses pengeringan, air akan menguap dari protoplasma.Sehingga
kegiatan metabolisme berhenti. Pengeringan dapat juga merusak
protoplasma dan mematikan sel. Tetapi ada mikrobia yang dapat tahan
dalam keadaan kering, misalnya mikrobia yang membentuk spora dan
dalam bentuk kista. Adapun syarat-syarat yang menentukan matinya
bakteri karena kekeringan itu ialah bakteri yang ada dalam medium susu,
gula, daging kering dapat bertahan lebih lama dari pada di dalam gesekan
pada kaca obyek. Demikian pula efek kekeringan kurang terasa, apabila
bakteri berada di dalam sputum ataupun di dalam agar-agar yang kering.
Pengeringan di dalam terang itu pengaruhnya lebih buruk daripada
pengeringan di dalam gelap. Pengeringan pada suhu tubuh (37°C) atau
suhu kamar (+ 26 °C) lebih buruk daripada pengeringan pada suhu titik-

beku. Pengeringan di dalam udara efeknya lebih buruk daripada
pengeringan di dalam vakum ataupun di dalam tempat yang berisi
nitrogen. Oksidasi agaknya merupakan factor maut.
(http://scholar.google.com/scholar?
start=10&q=MAKALAH+FISIKA+PENGARUH+PERTUMBUHAN+BAKTERI+TE
RHADAP+PERUBAHAN+TEMPERATUR)

6. Pengaruh suhu terhadap pertumbuhan bakteri menurut Faktor
Fisika
Pengaruh suhu terhadap pertumbuhan bakteri adalah mempengaruhi
laju reaksi enzimatis dan kimia di dalam sel. Semakin meningkat suhu,
maka laju reaksi akan semakin cepat. Namun, pada taraf suhu tertentu,
komponen sel akan mengalami kerusakan. Suhu akan meningkatkan
metabolisme sampai pada titik terjadinya denaturasi. Ketika mencapai
titik tersebut, fungsi sel akan menurun sampai ke titik nol. Berdasarkan
hal tersebut, ada tiga tingkatan suhu yang memengaruhi mikroorganisme.
Suhu minimum adalah batas terendah bagi suatu mikroba masih dapat
hidup, suhu optimum adalah suhu optimal bagi suatu mikroba untuk
melakukan pertumbuhan, dan suhu maksimum adalah batas tertinggi bagi
suatu mikroba untuk dapat hidup (Madigan dkk. 2011). Berdasarkan
bentuk adaptasi terhadap suhu, bakteri diklasifikasikan ke dalam empat,
yaitu:
1. Psikrofilik adalah bakteri yang menyukai kondisi dingin.
2. Mesofilik adalah bakteri yang menyukai temperatur sedang. Contoh
bakteri mesofilik adalah Clostridium botulinum.
3. Termofilik adalah bakteri yang menyukai kondisi panas. Contoh
bakteri termofilik adalah Clostridium nigridicans dan Bacillus
stearothermophilus.
4. Hipertermofilik adalah bakteri yang menyukai kondisi suhu sangat
panas.

Pengaruh ph terhadap pertumbuhan bakteri berkaitan dengan kondisi
asam atau basanya lingkungan suatu bakteri. Jika pH lebih rendah dari 7
(pH netral), berarti kondisi berada dalam keadaan asam. Sementara itu,
nilai pH di atas 7 menunjukkan bahwa kondisi berada dalam keadaam
basa (alkifilik). Jika dilihat dari pH, umumnya bakteri dapat tumbuh
dengan baik pada pH netral (neutrofilik), yaitu 6,5 sampai 7,5. Namun,
ada juga bakteri yang tahan pada kondisi pH rendah atau asam (asidofilik)
dan bakteri yang tahan pada kondisi pH tinggi atau basa (alkalifilik)
(Tortora dkk., 2010; Madigan dkk., 2011).

PENUTUP

KESIMPULAN

DAFTAR PUSTAKA

Judul: Makalah Fisika

Oleh: Irmayanti Ginting


Ikuti kami