Makalah Ortodonti

Oleh Gieh Syafitri

556,7 KB 9 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Makalah Ortodonti

MAKALAH ORTODONTI Nama Mahasiswa : Gigih Noor Syafitri Nomor Mahasiswa : 20100340053 FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER GIGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA 2016 1. Klasifikasi Angle : Dasar : Hubungan mesiodistal yang normal antara gigi geligi rahang atas dan rahang bawah. Kunci oklusi yang digunakan adalah gigi molar pertama rahang atas. Dasar pemilihan : a. Merupakan gigi terbesar b. Gigi permanen yang tumbuh dalam urutan pertama c. Tidak mengganti gigi decidui d. Bila ada pergeseran gigi M1  akan diikuti pergeseran poros gigi lainnya. e. Jarang mengalami anomali Klas I Angle  jika mandibula dengan lengkung giginya dalam hubungan mesiodistal yang normal terhadap maksila Tanda-tanda :  Tonjol mesiobukal gigi Molar pertama RA terletak pada celah bagian bukal (buccal groove) gigi Molar pertama RB  Gigi Caninus RA terletak pada ruang antara tepi distal gigi Caninus & tepi mesial Premolar pertama RB  Tonjol mesiolingual Molar pertama RA beroklusi pada fossa central Molar pertama RB Jenis maloklusi yang terdapat pada maloklusi Angle klas I :  Gigi depan berjejal  Gigi rotasi, linguoversi dsb  Lengkung gigi terlalu sempit atau terlalu lebar  Gigitan terbalik (klas I Angle dengan gejala klas III) Klas II Angle Jika lengkung gigi di mandibula & mandibulanya sendiri dalam hubungan mesiodistal yang lebih ke distal terhadap maksila Tanda-tanda :  Tonjol mesiobukal Molar pertama RA terletak pada ruangan di antara tonjol mesiobukal Molar pertama & tepi distal tonjol bukal gigi Premolar kedua RB  Tonjol mesiolingual gigi Molar pertama RA beroklusi pada embrasur dari tonjol mesiobukal gigi Molar pertama & tepi distal tonjol bukal Premolar kedua RB  Lengkung gigi di mandibula & mandibulanya sendiri terletak dalam hubungan yang lebih ke distal terhadap lengkung gigi di maksila, sebanyak 0,5 lebar mesiodistal M1 / Selebar mesiodistal P KLAS II ANGLE Klas II Angle Divisi 1 :  Jika gigi-gigi anterior di RA inklinasinya ke labial atau protrusi Divisi 1 :  Mandibula dalam posisi distal  over jet >> besar  Gigi depan atas protrusif  Lengkung gigi atas sempit  Diastemata gigi anterior  Gigi depan bawah supraversi  palatal bite  Deep over bite  Kedudukan bibir abnormal Klas II Angle Divisi 2 :  Jika gigi-gigi anterior di RA inklinasinya tidak ke labial atau retrusi Divisi 2 :  RA tidak begitu sempit  Inklinasi gigi Insisivus pertama RA vertikal / palatinal  Inklinasi gigi Insisivus kedua RA ke labial, atau labiotorsiversi  Steep bite  deep overbite hampir menutupi seluruh permukaan labial gigi depan bawah  Kedudukan bibir normal  Fungsi hidung normal  Tak ada kelainan muka yang menyolok Sub Divisi : Bila relasi klas II hanya terdapat pada 1 sisi / unilateral Klas III Angle Jika lengkung gigi di mandibula & mandibulanya sendiri terletak dalam hubungan yang lebih ke mesial terhadap lengkung gigi maksila. Tanda-tanda :  Tonjol mesiobukal gigi Molar pertama RA beroklusi dengan bagian distal tonjol distal Molar pertama & tepi mesial tonjol mesial gigi Molar kedua RB  Relasi gigi anterior  gigitan silang / gigitan terbalik cross bite anterior  Lengkung gigi mandibula & mandibulanya sendiri terletak dalam hubungan yang lebih mesial terhadap lengkung gigi maksila  Tonjol bukal Molar pertama RA beroklusi pada ruangan interdental antara bagian distal gigi Molar pertama dengan tepi mesial tonjol mesial gigi Molar kedua RB Sub Divisi : Bila relasi klas III hanya terdapat pada 1 sisi / unilateral 2. Etiologi Maloklusi : Faktor Umum: a. Factor skeletal Yaitu Ukuran, bentuk, dan posisi relative dari rahang atas dan bawah b. Factor otot Yaitu bentuk dan fungsi otot yang mengelilingi gigi, misalnya otot bibir, pipi, dan lidah. c. Factor gigi Yaitu ukuran gigi geligi dalam hubungannya dengan ukuran rahang. Faktor Lokal: a. Kelainan jumlah gigi: a) Supernumery teeth b) Missing teeth: anodontia, partial anodontia = hipodontia = oligodontia b. Kelainan ukuran gigi: a) Makrodonsia b) Mikrodonsia c. Kelainan bentuk gigi: fusi, dens in dente, germinasi dll. d. Kelainan frenulum labialis  midline diastema = diastema sentral e. Prematur loss gigi desidui f. Prolonged retensi gigi desidui g. Erupsi gigi yang terlambat 3. Biomekanika pergerakan gigi Alat ortodontik menimbulkan kekuatan mekanik ke periodontium gigi bergerak. Ada proses biologis antara kekuatan mekanik dengan bergeraknya gigi. Perawatan ortodontik aktif pada dasarnya adalah adanya kemampuan jaringan periodontium mengadakan remodeling. Prinsipnya : aktivasi sel gigi berpindah tempat. Kekuatan mekanik dipakai untuk menggerakkan gigi ke posisinya yang baru karena kemampuannya membangkitkan aktivitas sel dalam periodontium secara lokal. Mekanismenya belum jelas, bukti menunjukkan bahwa aliran listrik timbul di dalam jaringan periodontium yang tertekan. Hukum Wolf : Tulang sewaktu-waktu membentuk dan merubah dirinya oleh karena tekanan, bertambah atau berkurang massanya untuk mengimbangi tekanan tersebut. Potensial listrik yang timbul akibat tekanan disebut : PIEZOELEKTRIK. Aliran listrik diduga memberi muatan kepada suatu makromolekul untuk berinteraksi dengan reseptor pada dinding sel, sel yang berperan dalam proses remodeling akan bereaksi. Fenomena biologis pada gerakan gigi secara ortodontik meliputi : a. Stimulus b. Transducer c. Respon Kekuatan dikenakan pada gigi :  Daerah yang tertekan resorpsi tulang alveolus  Daerah yang tertarik aposisi tulang alveolus Proses remodeling dilakukan oleh osteocyt :  Osteoclast  Osteoblast Sel-sel tersebut berasal dari membrana periodontalis dan pembuluh darah. Resorpsi Teori resorpsi : a. Bien (1966) Pembuluh darah dalam membrana periodontalis terjepit terjadi stenosis. Pembuluh darah menggembung, oksigen keluar dari cairan darah meninggalkan pembuluh darah, sebagian kembali lagi dan sebagian terjebak dalam spiculae pada tulang alveolus. Terjadi resorpsi tulang alveolus secara lokal. Bagaimana oksigen merangsang resorpsi tidak jelas. Pembuluh darah memberi oksigen dan catu nutrisi yang diperlukan untuk aktivitas sel. b. Efek hidrodinamik dan sifat piezoelektrik pada tulang yang tertekan. Pemberian kekuatan akan menimbulkan tekanan hidrodinamik, diteruskan ke dinding alveolus. Permukaan akan berubah bentuk menjadi cembung, timbul aliran listrik. Muatan listrik di daerah yang tertekan (cembung) adalah muatan listrik positif. Dasar molekuler yang menerangkan hubungan antara antara fenomena listrik dengan aktivitas osteoclast belum jelas. Dua macam resorpsi : a. Frontal resorption Bila pembuluh darah dalam membrana periodontalis tidak tersumbat, resorpsi tulang terjadi langsung pada permukaan tulang. b. Undermining resorption / rear resorption Bila tekanan yang diberikan terlalu kuat, pembuluh darah tertutup, catu darah tidak ada, kemunduran jaringan (regresi), sel-sel menghilang, degenerasi hyalin. Resorpsi mulai dari substantia spongiosa menuju ke permukaan tulang alveolus. Mula-mula jaringan nekrotik diserap, diikuti pebentukan jaringan baru. Perubahan pada pembuluh darah Tekanan ringan merangsang frontal resorption, tekanan kuat menyebabkan vascular thrombosis & akhirnya kematian membrana periodontalis. Schwarz : 20 – 26 gr/cm persegi Tekanan kapiler darah, tekanan lebih besar dari itu akan menyebabkan hyalinisasi bahkan resorpsi akar atau kematian pulpa. Kesimpulan : aktivitas seluler sangat tergantung catu darah yang cukup nutrisi dan untuk menyerap sisa-sisa metabolisme. c. Aposisi Gigi bergerak, tulang baru di aposisikan di daerah tulang yang tertarik. Tulang baru di aposisikan pada permukaan tulang yang berhadapan dengan membrana periodontalis.  Bundel principal fiber besar-besar, matrix dideposisikan sepanjang serabut.  Bundel kecil, matrix dideposisikan lebih merata sepanjang permukaan tulang. Osteoblast Membutuhkan enerji catu darah cukup. Bertambah jumlahnya dengan cara : - Proliferasi/diferensiasi sel precursor - Proliferasi/diferensiasi perivascular stem cell Proliferasi & diferensiasi terlihat 1 – 2 hari setelah pemberian kekuatan. 4. Metode pengukuran ortodonti 1. METODE PONT  Dasar : dalam lengkung gigi (dental arch) dengan susunan gigi teratur terdapat hubungan antara jumlah lebar mesiodistal keempat gigi insisivus atas dengan lebar lengkung inter premolar pertama dan inter molar pertama.  Susunan normal : Ideal : - gigi -gigi yang lebar membutuhkan suatu lengkung yang lebar - gigi-gigi yang kecil membutuhkan suatu lengkung yang kecil - ada keseimbangan antara besar gigi dengan lengkung gigi Tujuan : untuk mengetahui apakah suatu lengkung gigi dalam keadaan kontraksi atau distraksi atau normal.  Kontraksi = kompresi = intraversion: sebagian atau seluruh lengkung gigi lebih mendekati bidang midsagital.  Distraksi = ekstraversion : sebagian atau seluruh lengkung gigi lebih menjauhi bidang midsagital. Derajat kontraksi/distraksi :  Mild degree : hanya 5 mm  Medium degree : antara 5-10 mm  Extreem degree :>10 mm Hubungan dirumuskan: Untuk lengkung gigi yang normal jumlah lebar mesiodistal 4 insisivus atas tetap kali 100, kemudian dibagi jarak transversal interpremolar pertama atas merupakan indeks premolar. Indeks Premolar = 80. Jarak P1-P1 = Σ I x 100 80 Jumlah lebar mesiodistal 4 insisivus tetap atas kali 100, kemudian dibagi jarak transversal intermolar pertama tetap atas merupakan indeks molar. Indeks Molar = 64 Jarak M1-M1 = Σl x 100 64 2. METODE KORKHAUS Pengukuran lebar mesiodistal Insisivus: - Diameter yang paling lebar dari masing-masing gigi insisivus - Alat : jangka sorong Pengukuran jarak inter P1 atas : - jarak antara tepi yang paling distal dari cekung mesial pada permukaan oklusal P1 atas - sudut distobukal pada tonjol bukal P1 bawah - jarak insisivus tetap atas & premolar adalah jarak pada garis sagital antara titik pertemuan insisivus tetap sentral & titik dimana garis sagital tersebut memotong garis transversal yang menghubungkan premolar pertama atas pada palatum. Cara memakai tabel Korkhaus : 1. Jumlahkan lebar mesiodistal 4 Insisivus atas tetap, masing masing diukur dari model. 2. Cari ukuran tersebut dalam tabel. 3. METODE HOWES Dasar: - Ada hubungan basal arch dengan coronal arch. - Keseimbangan basal arch dengan lebar mesiodistal gigi. - Ada hubungan lebar lengkung gigi dengan panjang perimeter lengkung gigi. Bila gigi dipertahankan dalam lengkung seharusnya lebar inter P1 sekurang-kurangnya = 43 % dari ukuran mesiodistal M1-M1.  lebar inter P1: dari titik bagian dalam puncak tonjol bukal P1.  ukuran lengkung gigi: distal Molar pertama kanan — distal Molar pertama kiri (mesiodistal 654321 I 123456) Indeks Howes: (P1-P1) = 43 % (M1-M1) Seharusnya lebar interfossa canina sekurang-kurangnya = 44% lebar mesiodistal gigi anterior sampai molar kedua. Fossa canina terletak pada apeks premolar pertama. Indeks Howes: Interfossa canina = 44 % Jumlah M1-M1 5. PLAT AKTIF A. Pengertian : Plat Aktif merupakan alat ortodontik lepasan yang dilengkapi dengan komponen aktif yang berfungsi untuk menggerakkan gigi Plat Aktif merupakan alat/pesawat ortodontik bersifat: 1. Removable/lepasan, karena dalam pemakaiannnya dapat dipasang dan dilepas oleh pasien sendiri 2. Aktif:, karena bagian-bagian dari alat tersebut secara aktif dapat menghasilkan suatu kekuatan untuk menggerakkan gigi. 3. Mekanik, karena kekuatan yang dihasilkan memberikan tekanan atau tarikan secara mekanis kepada gigi. 4. Korektif, karena alat ini dipakai utuk tujuan merawat kelainan letak gigi (malposisi), kelaianan hubungan gigi-geligi (maloklusi) dan kelainan hubungan rahang (malrelasi). Komponen aktifnya dapat berupa : 1. Pir-pir Pembantu (auxilliary springs) 2. Sekrup Ekspansi (expansion screw) 3. Karet elastik (elastic rubber). B. Macam-macam dan modifikasi Plat Aktif : a. Plat dengan pir-pir pembantu biasanya disebut plat aktif b. Plat dengan skrup ekspansi biasanya disebut plat ekspansi c. Plat dengan pir-pir pembantu dikombinasikan dengan skrup ekspansi, karet elastik (bentuk modifikasi) Plat Dengan Pir Pir Pembantu A. Pengertian : Plat Aktif dengan pir pembantu (auxilliary springs) merupakan alat ortodontik lepasan yang dilengkapi dengan pir-pir ortodontik berfungsi untuk menggeser letak gigi yang malposisi B. Konstruksi Plat Aktif terdiri atas bagian-bagian : a. Plat dasar/base plate b. Klamer/cangkolan/Clasp c. Busur labial/Lengkung labial/Labial Arch (Labial Bow) d. Busur Lingual / Lingual arch / Mainwire e. Pir-pir Pembantu/Auxilliary Springs C. Fungsi dan Mekanisme kerja Pemakaian plat aktif untuk mengoreksi maloklusi dilakukan dengan pirpir pembantu untuk mengeser letak gigi yang malposisi ke dalam lengkung normalnya : a. Pir jari untuk mengeser gigi ke arah mesio-distal b. Pir simpel untuk mengeser gigi ke arah labio lingual dan mengoreksi rotasi c. Pir retraktor bukal untuk menarik ke distal gigi kaninus dan premolar D. Indikasi dan kontra indikasi : a. Indikasi Pemakaian : Maloklusi yang disebabkan kelainan letak gigi pada rahang (tipe dental) 1. Maloklusi klas I Angle, dengan gigi berjejal (crowding) 2. Maloklusi klas I Angle, dengan gigi renggang (spacing) 3. Maloklusi klas I Angle, dengan gigi anterior maju (protrusive) 4. Maloklusi klas II Angle tipe dental. 5. Maloklusi klas III Angle tipe dental. b. Kontra indikasi : Maloklusi tipe skeletal I. DAFTAR PUSTAKA Foster, T. D. 1997. Buku Ajar Orthodonsi. Jakarta : EGC Mulyani. 1994. Biomekanika Pergerakan Gigi. Jakarta : Widya Medika Houston, W. J. B. 1989. Diagnosis Orthodontik. Jakarta : EGC Isaacson, Muir, Reed. 2002. Removable Orthodontic Appliance. London

Judul: Makalah Ortodonti

Oleh: Gieh Syafitri


Ikuti kami