Makalah Kultur

Oleh Hendra Rumbo

117,7 KB 10 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Makalah Kultur

PROPOSAL PENELITIAN UJI ADAPTASI LIMA KLON VARIETAS TANAMAN STEVIA (Stevia rebaudiana Bertonii) DI TANAH ULTISOL FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS ANDALAS OLEH : Ketua : Hendra Rumahorbo (Agroekoteknologi’ 2013) Anggota : 1. Rama Alvino ( Agroekoteknologi,2013) 2. Yustinus AP Sidabariba (Peternakan’ 2013) 3. Ida Sulastri Sigalingging (Agroekoteknologi’ 2014) PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS ANDALAS 2015 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia merupakan salah satu Negara yang memiliki letak atronomis pada garis khatulistiwa sehingga memiliki iklim tropis.Ciri iklim tropis adalah suhu udara yang tinggi sepanjang tahun, dengan rata-rata sekitar 27° C. Di daerah tropis, tidak ada perbedaan yang jauh atau berarti antara suhu pada musim hujan dan suhu pada musim kemarau. Ciri daerah tropis lainnya adalah lama siang dan lama malam hampir sama yaitu sekitar 12 jam siang dan 12 jam malam. Indonesia sampai saat ini masih menggantungkan bahan pemanis untuk kebutuhan makanan dan minuman hanya dari tebu.Padahal produktivitas gula dari tebu tersebut belum mencukupi kebutuhan nasional, sehingga masih menggantungkan sebagian kebutuhan terhadap impor.Pada tahun 2012 impor gula mencapai 2.300.000 ton(Sekretariat Dewan gula Indnesia 2013) dengan asumsi reedmen tebu rata rata 8 %, maka besar nya impor tersebut setara dengan produksi tebu sebanyak 28.750.000 ton. Untuk mengatasi permasalahan tersebut dibutuhkan subsitusi kebutuhan gula antara lain dengan menggunakan bahan pemanis alami stevia yang mempunyai tingkat kemanisan 300 kali dari gula.Apabila penggunaan stevia dapat mensubsitusi kebutuhan sebesar 20 %, maka lahan yang dibutuhkan untuk penanaman stevia ini seluas 273.809 ha, dengan asumsi dalam 1 ha tanaman stevia dihasilkan daun kering sebanyak 70 kg yang setara dengan 21 ton tebu.Namun demikian pengembangan stevia sebagai bahan pemanis masih terbatas,meskipun kebutuhan pemanis dari gula masih tinggi sehingga masih perlu di impor. Stevia dapat tumbuh di hampir semua jenis tanah asalkan mendapat pengairan untuk dapat tumbuh mencapai 1 meter (schock,1982).Tanaman ini tidak tahan pada suhu dingin dan tidak akan tumbuh dibawah suhu 9° C.Suhu optimal untuk pertumbuhan untuk pertumbuhan cepat adalah 20° sampai 24° C ( Singh and Rao, 2005). Namun tanaman ini juga dapat tumbuh pada suhu berkisar 9° sampai 43° C (Todd,2010).Tanaman stevia memerlukan tanah dengan pH sedikit asam berkisar 4,0 sampai 7,0 dan dapat tumbuh pada tanah dengan tingkat kesuburan rendah (Lemusmondaca et al,2010). Untuk usaha tani komersial, stevia dapat di budidayakan selama 8 tahun dengan frekuensi panen 6 kali per tahun. Di Indonesia, stevia dapat ditanam pada lahan ketinggian 700 sampai 1400 m dpl dengan rata rata hujan 1.600 mm sampai 1.850 mm/tahun, serta 2 – 3 bulan kering (Rukmana,2003). Tanah ultisol merupakan tanah yang memiliki tingkat kesuburan yang rendah. Sifat atau ciri tanah ultisols yaitu terdapat pengendapan liat dari lapisan A (iluviasi) dan diendapkan di lapisan B (eluviasi), sehingga kadar liat horizon B > 1,2 kandungan liat horizon A atau disebut Horizon Argilik. Tanah ordo Ultisol merupakan tanah penimbunan liat di horison bawah, bersifat masam, kejenuhan basa (KB) pada kedalaman 180 cm dari permukaan tanah kurang dari 35%. KB < 35% dapat didekati dengan mengukur pH (kemasaman tanah) < 6,5. Padanan nama tanah sistem klasifikasi lama FAO/Unesco, 1970) termasuk tanah Podzolik Merah,Kuning, Latosol, dan Hidromorf Kelabu. Warna tanah biasanya merah sampai kuning karena kandungan Al, Fe dan Mn yang tinggi. Klon tanaman Stevia cukup banyak. Pusat Penelitian Perkebunan Bogor dan PT Garsela telah menghasilkan sejumlah klon pilihan dari hasil seleksi terhadap 10.000 tanaman Stevia yang berasal dari Jepang. Indentifikasi klon stevia didasarkan pada kriteria produksi daun yang tinggi, pembungaan yang lambat, pertumbuhan yang baik dan kadar pemanis yang tinggi. Klon tanaman stevia yang telah dikembangkan antara lain BPP 02, BPP 08, BPP 16, BPP 18, BPP 22, BPP 26, BPP 43, BPP 46, BPP 50, BPP 68, BPP 70, BPP 72, BPP 76 (Rukmana, 2003). Stevia mendapatkan sertifikat GRAS (Generally Recognized as Safe – “tidak keberatan”) dari Badan POM Amerika Serikat (Food and Drug Administration – FDA) pada Desember 2008 untuk digunakan sebagai pemanis alami nol kalori untuk produk makanan dan minuman. Dengan adanya hal tersebut akan lebih memperluas pasar ekspor bagi para negara produsen stevia, seperti negara-negara di Amerika Selatan, Jepang, Cina dan Korea Selatan serta negara-negara lain di Asia. Kendala pengembangan tanaman stevia di Indonesia disebabkan oleh faktor teknis dan faktor non teknis. Faktor teknis antara lain melipputi perbanyakan tanaman yang sulit karena dengan menggunakan stek batang dan kultur jaringan.Faktor teknis lainnya adanya rasa pahit dalam ekstrak daun kering yang menyebabkan dalam memproduksinya membutuhkan biaya dan proses tambahan. Sedangkan faktor non teknisnya adalah nilai ekonomis yang belum maksimal di pasar nasional karena masyarakat belum terlalu mengenal manfaat dan keuntungan tanaman tersebut.Selain itu petani juga belum mengetahui bahkan belum mengenal tanaman stevia ini serta tehnik budidaya tanaman tersebut. Sehingga dengan mengawali adaptasi tanaman ini di tanah ultisol kota padang ini, akan membuka kemungkinan untuk mengenalkan tanaman kepada masyarakat di kota padang dan bahkan provinsi Sumatera barat. Dengan keberhasilan penelitian ini akan membuka peluang terkelolanya tanah tanah ultisol yang memiliki tingkat kesuburan rendah serta pH yang sedikit dengan menanami tanaman berkualitas pasar ekspor. B. Perumusan Masalah 1. Menguji kemampuan beradaptasi lima klon tanaman stevia (stevia rebaudiana bertoni M. ) pada tanah ultisol? 2. Apakah ada perbedaan fase-fase pertumbuhan dan perkembangan antara lima klon tanaman stevia (stevia rebaudiana bertoni M.) pada media tanam tanah ultisol? C. Tujuan Penelitian 1. Mengetahui klon tanaman stevia (stevia rebaudiana bertoni M. ) yang dapat tumbuh dan berkembang sampai panen pada media tanam tanah ultisol. 2. Mengetahui klon tanaman stevia (stevia rebaudiana bertoni M. ) yang paling baik beradaptasi dan berproduksi tinggi pada media tanam tanah ultisol. D. Hipotesis Terdapat perbedaan kemampuan beradaptasi dan kemampuan berproduksi pada masing-masing 5 klon tanaman stevia (stevia rebaudiana bertoni M. ) . E. Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan informasi dan data bagi pihak yang membutuhkan dalam kegiatan operasional yang berhubungan dengan pengembangan tanaman stevia (stevia rebaudiana bertoni M. ) beserta dapat membantu pengenalan tanaman ini terhadap petani di sumatera barat dalam memanfaatkan lahan yang marginal. BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Botani dan Syarat Tumbuh Tanaman Stevia Stevia dalam bahasa latin disebut stevia rebaudiana Bertoni M. Stevia berasal dari Amerika Selatan yang dikenal dengan caa-ehe,ca-enhem, atau azucacaa.Ada sekitar 200 jenis stevia di Amerika Selatan, tetapi hanya Stevia rebaudiana yang digunakan sebagai pemanis.Kerabat dekat tanaman stevia antara lain stevia ovate wild. Dan stevia sp. Stevia ovate yang berasal dari meksiko tetapi ditemukan tumbuh liar di daerah selabintana,Sukabumi( Jawa Barat). Tahun 70-an, stevia telah banyak digunakan secara luas sebagai pengganti gula. Di Jepang, 5,6% gula yang dipasarkan adalah stevia yang dikenal dengan nama sutebia. Berdasarkan sistematik(Taksonomi) (Hutapea, 1991): Kingdom Division Sub division Klass Ordo Familia Genus Spesies Tanaman stevia sebagai berikut : Plantae : Spermatophyta : Angiospermae : Dicotyledoneae : Asterales : Composite : Stevia : Stevia rebaudiana Bertonii M. sin Eupatorium rebaudianum. Stevia (Stevia rebaudiana Bertoni M.) adalah tanaman yang mengandung senyawa pemanis diteropenoik glycoside (Mantoro et al, 2013).Tanaman ini merupakan tanaman tahunan berbentuk perdu dengan batang yang mudah patah dan mempunyai sistem perakaran yang kecil elips(Shock,1982).Tanaman stevia ini memiliki tinggi 30 – 90 cm dengan batang berbentuk bulat, beruas dan bercabang hijau.Batangnya yang berbulu dan berkayu serta pada pangkal batangnya akan lunak apabila tanaman sudah tua(Lemus Mondoca et al, 2012). Daun Stevia saling berhadapan satu sama lain, berbentuk bulat telur, ujungnya tumpul, runcing pada pangkalnya, tepi daun rata dengan panjang 2 - 4 cm & lebar 1 – 5 cm, tulang daun menyirip dan berbulu serta memiliki tangkai yang pendek berwarna hijau. Bunga stevia merupakan bunga yang sempurna dengan mahkota berbentuk tabung dengan lima kelopak berwarna putih sampai ungu pucat (Rukmana,2003). Tanaman stevia memiliki perakaran akar serabut yag terbagi menjadi perakaran halus dan perakaran tebal. Produk utama Stevia adalah daun yang digunakan sebagai bahan baku pembuat gula atau pemanis alami. Daun stevia mengandung steviosida yaitu suatu senyawa glikosida yang memiliki tingkat kemanisan 200 – 300 kali lebih tinggi dibandingkan gula tebu atau sukrosa. Rasa manis siklamat sebesar 30 kali gula tebu. Jika rendemen glikosida yang didapat dari daun tanaman stevia sebesar 2.5%, dengan produksi daun kering sekitar 2.5 ton/ha/tahun, maka diperlukan 20.000-30.000 ton daun stevia untuk mengganti pemanis sintetik di Indonesia (Rodiansah, 2007). Stevia dapat tumbuh di hampir semua jenis tanah asalkan mendapat pengairan untuk dapat tumbuh mencapai 1 meter (schock,1982).Tanaman ini berasal dari daerah subtropis yakni daerah utara Amerika selatan yang biasanya dibudidayakan pada dataran tinggi amanbay dan dekat sumber air sungai Monday,yaitu perbata,yaitu perbatasan antara brasil dan Paraguay((Lemus Mondoca et al, 2012). Tanaman ini tidak tahan pada suhu dingin dan tidak akan tumbuh dibawah suhu 9° C.Suhu optimal untuk pertumbuhan untuk pertumbuhan cepat adalah 20° sampai 24° C ( Singh and Rao, 2005). Namun tanaman ini juga dapat tumbuh pada suhu berkisar 9° sampai 43° C (Todd,2010).Tanaman stevia memerlukan tanah dengan pH sedikit asam berkisar 4,0 sampai 7,0 dan dapat tumbuh pada tanah dengan tingkat kesuburan rendah (Lemus-mondaca et al,2010).Tanaman ini biasanya ditanam dan tumbuh baik pada tanah latosol dan andosol.Namun demikian,tanaman ini sangat membutuhkan air untuk pertumbuhannya karena daun dan batang akan mudah layu bila tidak memperoleh air yang cukup (Lemus-mondaca et al,2012). Hal yang penting diperhatikan dalam pemilihan lahan yakni kondisi tanah yang subur,gembur, banyak mengandung humus ,mempunyai aerase dan drainase yang baik serta kadar air tanah antara 43% - 47 % (Jurnal DJAJADI BPTPS,2014) Tanaman stevia diperkirakan masuk ke Indonesia tahun 1977 atas kerja sama pengusaha Jepang dan Indonesia.Pada waktu itu tanaman stevia menjadi komoditas yang paling berpeluang besar di budidayakan. Namun,pada perkembangan selanjutnya tersendat-sendat sehingga pada tahun 1980 mulai dilupakan orang.Hal tersebut disebabkan oleh para pengusaha dalam negeri hanya bergantung pada pasar ekspor ke Jepang. Pada tahun 1990, PT. Graha Geotama Perdana mulai mengembangkan stevia di Indonesia yakni pada daerah NusaTenggaraTimur(NTT),Sumatera Utara,Bengkulu, Tawangmanggu, Jawa Timur, dan Sulawesi Selatan(Rukmana,2003). Di Indonesia penelitian tentang tanaman stevia dilakukan sejak tahun1984 oleh BPP (sekarang Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan Indonesia) dan menghasilkan beberapa bibit, salah satunya bibit unggul BPP 72. Pusat Penelitian Perkebunan Bogor dan PT Garsela telah menghasilkan sejumlah klon pilihan dari hasil seleksi terhadap 10.000 tanaman Stevia yang berasal dari Jepang. Indentifikasi klon stevia didasarkan pada kriteria produksi daun yang tinggi yakni 3-5 ton/ha, pembungaan yang lambat serta berumur pendek (Genjah), dapat beradaptasi dengan baik pada berbagai lingkungan tumbuh, dan kadar pemanis yang tinggi antara 11,5% - 16,7 %. Klon tanaman stevia yang telah dikembangkan antara lain BPP 02, BPP 08, BPP 16, BPP 18, BPP 22, BPP 26, BPP 43, BPP 46, BPP 50, BPP 68, BPP 70, BPP 72, BPP 76 (Rukmana, 2003). Dari semua klon yang telah dikembangkan tersebut, terdapat lima klon yang menjadi bibit unggulan yakni BPP 72,BPP 16, BPP 68,BPP 76, dan BPP 08. Menurut {Balitbang Pertanian (1987) dan Suhendi,D ( 1988) dalam Rukmana, 2003 hal 15}Klon BPP 72 merupakan klon unggulan(terbaik) dari hasil seleksi. Tanaman stevia dengan nama klon BPP 72 memiliki deskripsi daun berbentuk belah ketupat(mombus), mempunysi leher daun, terletak mendatar, memiliki permukaan rata dan halus,setengah bagiannya bergerigi dan berwarna hijau. Batang dan cabang tanaman ini tumbuh lurus,berwarna hijau muda,serta berbulu jarang dan pendek. Tanaman ini mampu berproduksi pertama meliputi panen I ( 60 hst), panen II ( 45 hsp I), panen III ( 40 hsp II),dan panen IV (35 hsp III).Dari hasil produksi daun kering antara 4-5 ton/ha/tahun dengan kandungan pemanis(steviosida + rebaudiosida A ) 16,7 % terdiri atas steviosida 15,1 % dan rebaudiosida 1,6 %. Tanaman stevia dengan nama klon BPP 16 memiliki daun berbentuk oval (ovalis),mempunyai leherdaun,posisi mengarah kebawah,permukaan agak bergelombang dan kasar,tiga-perempat bagiannya bergerigi,dan berwarna hijau. Tanaman ini memiliki batang dan cabang tumbuh lurus,berwarna hijau tua,serta berbulu jarang dan pendek.Tanaman ini mampu dipanen untuk pertama ( 60 hst), panen II ( 50 hsp I),panen III ( 45 hsp II) dan panen IV ( 40 hsp III) dengan total hasil sekitar 4 ton/ha/tahun dengan steviosida 13,7 % dan rebaudiosida 2,1 % sehingga totalnyaq 15,8 %. Tanaman stevia klon BPP 68 ber daun berbentuk oval (ovalis),mempunyai leherdaun,posisi mengarah kebawah,permukaan agak bergelombang dan kasar,setengah bagiannya bergerigi,dan berwarna hijau tua.. Batang dan cabang tanaman ini tumbuh melengkung,berwarna hijau muda,serta berbulu jarang dan panjang.Umur panen I tanaman klon ini adalah 60 hst sedangkan panen II ( 50 hsp I),panen II (50 hsp I), panen III(45 hsp II)) dan panen IV (40 hsp III).Produksi daun kering sekitar 3,5 ton/ha/tahun dengan kandungan pemanis(steviosida + rebaudiosida A) 14,3 % terdiri atas steviosida 12,2 % dan rebaudiosida 2,1 %. Tanaman stevia dengan nama klon BPP 76 memiliki daun berbentuk oval (ovalis),mempunyai leher daun,posisi mengarah kebawah,permukaan rata, setengah bagiannya bergerigi,jumlah daun sedikit dan berwarna hijau muda. Tanaman ini memiliki batang dan cabang tumbuh lurus,warna hijau muda, serta berbulu jarang dan panjang. Klon BPP 76 ini telah mampu berproduksi untuk panen I (60 hst),panen II (50 hsp I), panen III ( 45 hsp II) dan panen IV (40 hspIII). Dari hasil produksi klon ini diperoleh daun kering sekitar 3 ton/ha/tahun dengan kandungan pemanis ( steviosida + rebaudisioda A) 11,6 % terdiri atas steviosida 1 Dari hasil produksi klon ini diperoleh daun kering sekitar 3 ton/ha/tahun dengan kandungan pemanis ( steviosida + rebaudiosida A) 11,6 % terdiri atas steviosida 11,2 % dan rebaudiosida 0,4 %. Tanaman stevia klon BPP 08 merupakan tanaman stevia dengan daun berbentuk oval (ovalis), mempunyai leher daun,posisi mendatar, permukaan rata dan kasar, setengah bagiannya bergerigi, dan berwarna hijau.Klon ini memiliki batang dan cabang tumbuhmelengkung,berwarna muda,serta berbulu jarang dan pendek. Tanaman stevia klon ini berproduksi pertama terdiri atas panen I ( 60 hst), panen II ( 50 hsp I), panen III (44 hsp II) dan panen IV ( 40 hsp III). Sedangkan produksi daun keringnya mencapai sekitar 3 ton/ha/tahun dengan kandungan pemanis (steviosida + rebaudiosida A) 1steviosida + rebaudisioda A) 11,5 % terdiri atas steviosida 9,2 % dan rebaudiosida 2,3 %. B. Tanah Ultisol dan Adaptasi Tanah Ultisol termasuk bagian terluas dari lahan kering yang ada di Indonesia yaitu 45.794.000 ha atau sekitar 25 % dari total luas daratan Indonesia (Subagyo, dkk, 2000). Namun demikian, tanah Ultisol ini memiliki kandungan bahan organik yang sangat rendah sehingga memperlihatkan warna tanahnya berwarna merah kekuningan, reaksi tanah yang masam, kejenuhan basa yang rendah, kadar Al yang tinggi, dan tingkat produktivitas yang rendah. Tekstur tanah ini adalah liat hingga liat berpasir, bulk density yang tinggi antara 1.3-1.5 g/cm3 (Hardjowigeno, 1993). Tanah ini memiliki unsur hara makro seperti fosfor dan kalium yang sering kahat dan merupakan sifat-sifat tanah Ultisol yang sering menghambat pertumbuhan tanaman (Anonimous, 2011a). Walaupun tanah ultisol sering diidentikkan dengan tanah yang tidak subur, dimana mengandung bahan organik yang rendah, nutrisi rendah dan pH rendah (kurang dari 5,5)tetapi sesungguhnya bisa dimanfaatkan untuk lahan pertanian potensial jika dilakukan pengelolaan yang memperhatikan kendala yang ada (Munir, 1996). Oleh karena itu untuk meningkatkan produktivitas tanah Ultisol maka perlu dilakukan penambahan bahan organik. Pemberian bahan organik dapat menurunkan bulk density tanah karena membentuk agregat tanah yang lebih baik dan memantapkan agregat yang telah terbentuk sehingga aerasi, permeabilitas dan infiltrasi menjadi lebih baik. Konsepsi pokok dari Ultisol (ultimus, terakhir) adalah tanah-tanah berwarna merah kuning, yang sudah mengalami proses hancuran iklim lanjut sehingga merupakan tanah yang berpenampang dalam sampai sangat dalam (> 2 m), menunjukkan adanya kenaikan kandungan liat dengan bertambahnya kedalaman yaitu terbentuknya horizon bawah akumulasi liat (Musa, dkk, 2006). Tanah Ultisol mempunyai tingkat perkembangan yang cukup lanjut, dicirikan oleh penampang tanah yang dalam, kenaikan fraksi liat seiring dengan kedalaman tanah, reaksi tanah masam, dan kejenuhan basa rendah. Pada umumnya tanah ini mempunyai potensi keracunan Al dan miskin kandungan bahan organik. Tanah ini juga miskin kandungan hara terutama P dan kation-kation dapat ditukar seperti Ca, Mg, Na, dan K, kadar Al tinggi, kapasitas tukar kation rendah, dan peka terhadap erosi (Subowo et al. 1990). Nilai kejenuhan Al yang tinggi terdapat pada tanah Ultisol dari bahan sedimen dan granit (> 60%), dan nilai yang rendah pada tanah Ultisol dari bahan volkan andesitik dan gamping (0%). Ultisol dari bahan tufa mempunyai kejenuhan Al yang rendah pada lapisan atas (5−8%), tetapi tinggi pada lapisan bawah (37−78%). Tampaknya kejenuhan Al pada tanah Ultisol berhubungan erat dengan pH tanah (Prasetya dan Suriadikarta, 2006). Tanah Ultisol mempunyai horizon argilik, dengan reaksi agak masam sampai masam dengan kandungan basa-basa rendah yang diukur dengan kejenuhan basa pH 7 < 50 % pada kedalaman 125 cm dibawah atas horizon argilik/kandik atau 180 cm dari permukaan tanah (USDA, 2006). Hambatan utama dalam pengembangan Ultisol untuk pertanian disamping sifat kimia yang rendah adalah sifat fisika yang jelek. Sifat fisika tanah merupakan unsur lingkungan yang sangat berpengaruh terhadap tersedianya air, udara tanah dan secara tidak langsung mempengaruhi ketersediaan unsur hara tanaman. Sifat ini juga akan mempengaruhi potensi tanah untuk berproduksi secara maksimal. Diantara sifat fisika tanah yang penting dan berpengaruh dalam usaha pertanian adalah tekstur, struktur, kelembaban tanah, berat volume tanah (BV), total ruang pori (TRP), kematangan tanah, tingkat dekomposisi bahan organik dan permeabilitas tanah (Haridjaja, 1980). Sebagian sifat fisika tanah seperti struktur tanah dapat dimodifikasi oleh bahan organik (Yulnafatmawita,2003 dalam Skripsi Rice Agmi Naldo,2011). Dalam Skripsi Herlina Fitri, 2009 menyatakan adaptasi adalah cara bagaimana organism mengalami tekanan lingkungan sekitarnya untuk bertahan hidup: pertama, memperoleh air, udara dan nutrisi (makanan). Kedua, mengatasi kondisi fisik lingkungan seperti temperatur, cahaya dan panas. Ketiga, mempertahankan hidup dari musuh alaminya. Keempat, bereproduksi, Kelima, merespon perubahan yang terjadi di sekitarnya. Dalam Skripsi Herlina Fitri, 2009 (Sitompul dan Guritno,1995) menyatakan perbedaan genetik merupakan salah satu faktor penyebab keragaman penampilan tanaman.Program genetik yang akan diekspresikan pada berbagai sifat tanaman yang mencakup bentuk dan fungsi tanaman yang menghasilkan keragaman pertumbuhan tanaman.Keragaman penampilan tanaman akibat perbedaan susunan genetic selalu mungkin terjadi sekalipun bahan tanaman yang digunakan berasal dari jenis tanaman yang sama. BAB III BAHAN DAN METODA 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini akan dilakukan di kebun percobaan fakultas Pertanian Universitas Andalas Padang yang terletak pada ketinggian ± 350 m dpl. Pelaksanaan penelian dimulai pada bulan Maret 2015 sampai Juni 2015. ( Jadwal Pelaksanaan disahikan pada lampiran 1) 3.2 Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan metode deskriptif, dengan tehnik pengambilan sampel secara sengaja sebanyak 16 tanaman pada masing masing klon yaitu dengan mengamati tahap pertumbuhan dan perkembangan serta hasil panen pertama tanaman stevia tersebut.Penelitian ini juga dilengkapi dengan pengambilan foto dari pengamatan tersebut. 3.3 Bahan dan Alat Penelitian Bahan yang diperlukan dalam penelitian ini meliputi lima klon tanaman stevia (BPP 72, BPP 16, BPP 68, BPP 76, BPP 08), pupuk urea 160 kg/ha, pupuk TSP 160 kg/ha, pupuk KCl 160 kg/ha, pupuk kandang 15 ton/ha dan kapur 4 ton/ha. Alat yang digunakan dalam penelitian ini maliputi cangkul,gunting pangkas, meteran,sekop, sabit, penggaris,oven,timbangan, ajir, pisau, ember, label, kamera dan alat tulis. 3.4 Pelaksaan Penelitian 1. Persiapan Lahan Lahan yang akan digunakan sebagai tempat penelitian memiliki tanah jenis ultisol dengan tingkat kesuburan yang rendah. Lahan tersebut terlebih dahulu dibersihkan dari sisa tanaman yang telah mati, gulma, sampah dan lain-lainnya. Bahan yang akan digunakan di letakkan di tempat percobaan sehingga mudah dijangkau dan memudahkan pelaksanaan pekerjaan penelitian.Kemudian tanah diolah dengan cara mencangkul sedalam 25 – 30 cm.Setelah itu, penggemburan tanah dilakukan untuk memperbaiki drainase tanah dan struktur tanah.Kemudiaan lahan dibersihkan dan kemudian dibuat bedengan dengan lebar 100 – 125 cm dengan panjang 1 m sebanyak 5 bedengan dengan tinggi bedengan 20 cm dan jarak antar bedengan sekitar 50 cm.Setelah itu, lahan tersebut di beri mulsa plastik dan di inkubasi selama 1 minggu. Lahan yang digunakan merupakan lahan terbuka, tanpa naungan. 2. Persiapan bibit Tanaman stevia yang digunakan merupakan tanaman yang berasal dari lima klon unggulan tersebut yang didatangkan dari Bengkulu.Bibit tanaman ini yang biasa digunakan adalah bibit yang diperbanyak dengan stek dan telah berumur 3 -4 minggu.Jumlah bibit yang dibutuhkan adalah sebanyak 70 bibit untuk setiap klon, yag berarti berkisar 350 bibit. 3. Penanaman Sebelum melakukan penanaman mulsa plastik tersebut dilubangi sebanyak 4 lubang dalam setiap satu meter(jarak tanam 25 cm x 25 cm) dan kemudian pada setiap lubang tanam diberi sekitar 250 g pupuk organik (pupuk kompos tithonia). Waktu yang dianggap terbaik untuk menanam stevia adalah sore hari saat musim hujan agar persediaan air mencukupi dan tanaman cepat segar kembali (biasanya 1-2 hari setelah penanaman). 4. Pemasangan Label dan Tiang standard Dari semua tanaman di pilih secara sengaja 12 tanaman sampel sebagai objek pengamatan pada masing masing klon yang kemudian diberi label yang berbeda untuk memudahkan dalam pengamatan. Pemasangan tiang standar ini dilakukan pada seluruh tanaman sampel. Tinggi tiang standar diberi tanda 5 cm dari permukaan tanah, gunanya adalah untuk menstandarkan pengukuran tinggi tanaman sehingga dasar pengukuran tidak berubah. 5. Pemeliharaan Dalam pemeliharaan tanaman stevia adalah pemupukan, pemangkasan, dan pengendalian hama serta penyakit. Satu minggu setelah ditanam, setiap tanaman perlu diberi pupuk buatan masing-masing 1 g Urea, 1 g TSP dan 1 g KCL. Pemberian pupuk buatan tersebut diulang lagi setiap kali stevia baru dipanen. Pada saat tanaman stevia berumur 2 minggu,bagian ujung tanaman dipangkas untuk membentuk percabangan sehingga produksi daun akan lebih banyak.Dalam penelitian ini diusahakan agar kebun stevia mendapat perwatan yang khusus dan intensif agar tidak terserang organism penggangu tanaman sehingga tidak perlu pemberantasan dengan pestisida. 6. Pemanenan Daun Pemanenan pertama daun tanaman dilakukan pada umur antara 40-60 hari setelah penanaman dan untuk pemanenan yang berikutnya bisa menggunakan selang waktu antara 30-60 hari sekali. Selain menggunakan pedoman tersebut, panen untuk daun stevia dapat juga didasarkan pada ketinggian tanaman,yakni kalau tanaman ini sudah setinggi 40-60 cm dengan pertumbuhan daun yang rimbun maka dapat dilakukan pemanenan daun. Pemanenan dilakukan dengan memotong batang atau tangkai kira-kira 10-15 cm dari permukaan tanah.Apabila lambat memanen, maka kandungan gula daun stevia menurun. Sebaliknya, apabila waktu panennya terlalu awal selain rendemen atau kandungan gula belum maksimal juga jumlah daun yang dihasilkan sedikit. 7. Pengamatan a. Tinggi Tanaman Pengukuran tinggi tanaman dimulai dari tiang standar yang telah ditandai 5 cm dari permukaan tanah.Pengukuran dilakukan dari tiang standar sampai ujung titik tumbuh tanaman.Pengukuran tinggi tanaman dimulai seminggu setelah penanaman dilakukan sampai dilakukan panen pertama dilakukan. b. Pertambahan jumlah daun Pertambahan jumlah daun dilakukan dengan menghitung semua daun dari bagian pangkal sampai bagian pucuk tanaman.Pengamatan ini dilakukan satu minggu setelah penanaman sampai panen pertama dilakukan. c. Pertambahan jumlah anakan Menghitung jumlah anakan yang bertambah dilakukan dengan menghitung per rumpun tanaman. Pengamatan ini dilakukan satu minggu setelah penanaman sampai panen pertama dilakukan. d. Pengukuran Berat Kering Hasil Panen Pengamatan ini di lakukan dengan cara setelah pemanenan, secepatnya memipil semua daun stevia dari batang atau tangkai yang dipanen dan segera di keringkan.Pengeringan dilakukan dengan memasukan daun tersebut kedalam oven dengan suhu 70 °C dan di tunggu selama 4 jam.Daun yang kering memiliki kriteria daun berwarna hijau kekuningan dengan kadar air maksimum 10 %. Pengamatan ini dilakukan pada panen pertama saja.

Judul: Makalah Kultur

Oleh: Hendra Rumbo


Ikuti kami