Tugas Auditing

Oleh Putrisarah Felicita

785 KB 11 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Tugas Auditing

TUGAS AUDITING Nama Kelompok : - Farah Ayu Ningrum (C0D016001) - Imelda Zulfina (C0D016037) - Putri Sarah Felicita (C0D016145) - Ananda Charista Teori , konsep dasar dan standar auditing 1. Teori Auditing Teori Auditing merupakan tuntunan untuk melaksanakan audit yang bersifat normatif. Teori di klasifikasikan berdasarkan sifatnya menjadi dua yaitu : 1. Teori Normatif adalah Teori yang seharusnya dilaksanakan 2. Teori Deskriptif adalah Teori yang sesungguhnya dilaksanakan. Menurut Prof. C.W. Schandl pada tahun 1978 yang mengembangkan pemikiran dari Mautz dan Sharaf, mengemukakan elemen-elemen dasar teori adalah sebagai berikut : 1. Postulat : yaitu Konsep dasar yang harus diterima tanpa perlu pembuktian. 2. Teori : Dalil yang diterangkan oleh postulat. 3. Struktur: yaitu Komponen disiplin tertentu dan hubungan antar komponen tersebut. 4. Prinsip : yaitu Kaidah-kaidah yang diterapkan dalam praktik. 5. Standar : yaitu Kualitas yang ditetapkan dalam hubungannya dengan praktik. Menurut Lee dalam bukunya Corporate Audit Theory ada tiga kelompok postulat sebagai dasar teori dalam auditing yaitu : 1. Postulat yang berkaitan dengan aspek keberadaan audit. 2. Postulat yang berfokus pada tindakan auditor dan aspek perilaku. 3. Postulat yang berfokus pada prosedur audit atau fungsional audit. 2. Konsep dasar Konsep adalah abstraksi-abstraksi yang diturunkan dari pengalaman dan observasi, dan dirancang untuk memahami kesamaan-kesamaan di dalam suatu subyek, dan perbedaan-perbedaannya dengan subyek yang lain. Menurut Mautz dan Sharaf teori auditing tersusun atas lima konsep dasar yaitu: 1. Bukti (evidence) Tujuan memperoleh dan mengevaluasi bukti adalah untuk memperoleh pengertian sebagai dasar untuk memberikan kesimpulan atas pemeriksaan yang dituangkan dalam pendapat auditor. Secara umum usaha untuk memperoleh bukti dilakukan dengan cara , yaitu : a. Authoritarianisme Bukti diperoleh berdasar informasi dari pihak lain. Misalnya keterangan lisan manajemen dan karyawan, dan pihak luar lainnya, serta keterangan lisan tertulis berupa doklumen. b. Mistikisme Bukti dihasilkan dari intuisi. Misalnya pemeriksaan buku besar, dan penelaahan terhadap keterangan dari pihak luar. c. Rasionalisasi Merupakan pemikiran asumsi yang diterima. Misalnya penghitungan kembalioleh auditor, dan pengamatan terhadap pengendalian intern. d. Emperikisme Merupakan pengalaman yang sering terjadi. Misalnya perhitungan dan pengujian secara fisik. e. Pragmatisme Merupakan hasil praktik. Misalnya kejadian setelah tanggal selesainya pekerjaan lapangan. 2. Kehati-hatian dalam pemeriksaan (Due Audit Care) Konsep kehati-hatian dalam pemeriksaan, didasarkan pada issue pokok tingkat kehati-hatian yang diharapkan pada auditor yang bertanggung jawab. Yang disebut Prudent Auditor. Konsep ini lebih dikenal dengan Konsep Konservatif 3. Penyajian atau pengungkapan yang wajar (Fair Presentation) Konsep ini menuntut adanya informasi laporan keuangan yang bebas (tidak memihak), tidak bias, dan mencerminkan posisi keuangan, hasil operasi, dan aliran kas perusahaan. Konsep ini dijabarkan lagi dalam 3 subkonsep, yaitu : 1) Accounting Propriety : berhubungan dengan penerapan prinsip akuntansi tertentu dalam kondisi tertentu. 2) Adequate Disclosure : berkaitan dengan jumlah dan luas pengungkapan atau penyajian informasi 3) Audit Obligation : berkaitan dengan kewajiban auditor untuk independen dalam memberikan pendapat. 4. Independensi (Independence) Merupakan suatu sikap mental yang dimiliki auditor untuk tidak memihak dalam melakukan audit. Konsep independensi berkaitan dengan independensi pada diri pribadi auditor secara individual , dan independensi secara bersama-sama. 5. Etika Perilaku (Ethical Conduct) Etika dalam auditing berkaitan dengan perilaku yang ideal seorang auditor profesional yang independen dalam melaksanakan audit. 3. Standar Auditing Standar Auditing, merupakan salah satu ukuran kualitas pelaksanaan auditing.Setiap standar dalam standar auditing ini saling berkaitn saling tergantung antara yang satudengan yang lainnya. Standar tersebut dengan segala bahasa di tuangkan ke dalam sebuah buku yaitu buku Standar profesional Akuntan Publik (SPAP). Secara lengkap standarauditing adalah sebagai berikut: 1.Standar Umum, a. Audit harus di laksanakan oleh seorang atau lebih yang memiliki keahlian dan pelatihan teknis yang cukup sebagai auditor.standar pertama menuntutkompetensi teknis seorang auditor di tentukan oleh tiga faktor yaitu: a) Pendidikan formal dalam pendidikan akuntansi di suatu perguruan tinggitermasuk ujian profesi auditor. b) Pelatihan bersifat praktis dan pengalaman dalam bidang auditing. c) Pendidikan profesional berkelanjutan selama menekuni karir auditor profesional. b. Dalam semua hal yang berhubungan dengan perikatan, independensi dalamsikap mental harus dipertahankan oleh auditor. Ada 3 aspek independesi, yaitu : a) Independensi senyatanya b) Independensi dalam penampilan. c) Independensi dari sudut keahliannya atau kompetensinya. c. Dalam pelaksanaan audit dan penyusunan laporannya, auditor wajib menggunakan kemahiran profesionalnya dengan cermat dan seksama 2. Standar Pekerjaan Lapangan, a. Pekerjaan harus direncanakan sebaik-baiknya dan jika digunakan asisten harusdisupervisi dengan semestinya b.Pemahaman memadai atas pengendalian intern harus diperoleh untukmerencanakan audit dan menentukan sifat, saat, dan lingkup pengujian yangakan dilakukan. dalam hal ini pemahaman mengenai struktur pengendalianintern klien akan di gunakan untuk: a) Mengidentifikasi salah satu yang potensial. b) Mempertimbangkan faktor yang mempengaruhi risiko salah satu yang material. c) Merancang pengujian substantif. c. Bukti audit kompeten yang cukup harus diperoleh melalui inspeksi, pengamatan, permintaan keterangan, dan konfirmasi sebagai dasar me madaiuntuk menyatakan pendapat atas laporan keuangan yang diaudit. 3. Standar Pelaporan a. Laporan auditor harus menyatakan apakah laporan keuangan telah disusunsesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia. b. Laporan auditor harus menunjukkan atau menyatakan, jika ada ,ketidakkonsistenan penerapan prinsip akuntansi dalam penyusunan laporankeuangan periode berjalan dibandingkan dengan penerapan prinsip akuntansitersebut dalam periode sebelumnya. c. Pengungkapan informatif dalam laporan keuangan harus dipandang memadai,kecuali dinyatakan lain dalam laporan auditor. d. Laporan auditor harus memuat suatu pernyataan pendapat mengenai laporankeuangan secara keseluruhan atau suatu asersi bahwa pernyataan demikiantidak dapat diberikan. Jika pendapat secara keseluruhan tidak dapat diberikan,maka alasannya harus dinyatakan. Dalam hal nama auditor dikaitkan denganlaporan keuangan, maka laporan auditor harus memuat petunjuk yang jelasmengenai sifat pekerjaan audit yang dilaksanakan, jika ada, dan tingkattanggung jawab yang dipikul oleh auditor. TERIMA KASIH

Judul: Tugas Auditing

Oleh: Putrisarah Felicita


Ikuti kami