Makalah Kimdas

Oleh Nana Itha

118,8 KB 12 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Makalah Kimdas

MAKALAH KIMIA DASAR “INTERFERENSI CAHAYA” DISUSUN OLEH : Nama : Ita Redyaningisih NIM : 24030114120029 Kelas : Kimia A PROGRAM STUDI KIMIA FAKULTAS SAINS DAN MATEMATIKA UNIVERSITAS DIPONEGORO 2014 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Makalah ini dibuat untuk mengetahui : 1. Pengertian Inteferensi cahaya 2. Sifat Inteferensi cahaya 3. Cara menentukan gelombang inteferensi cahaya B. Rumusan Masalah 1. Apa yang dimaksud dengan inteferensi cahaya? 2. Sebutkan sifat-sifat inteferensi cahaya! 3. Sebutkan cara menentukan gelombang inteferensi cahaya! BAB II PEMBAHASAN A. Interferensi Cahaya Sifat gelombang cahaya adalah sama dengan sifat alamiah gelombang elektromagnetik. Sifat-sifat gelombang hanya muncul pada anggapan bahwa cahaya merupakan suatu kumpulan dari dua atau lebih berkas gelombang yang mengalami tumpang tindih satu sama lain. Jadi, inteferensi cahaya adalah kumpulan dua atau lebih gelombang cahaya. Syarat agar hasil Inteferensi stasioner yaitu: 1. Kedua sumber cahaya harus koheren = memiliki beda fase yang selalu tetap, karena harus memiliki frekuensi yang sama dan boleh nol tetapi tidak harus nol 2. Kedua gelombang cahaya memiliki amplitude yang hampir sama jika tidak interferensi yang dihasilkan kurang kontras B. Sifat – Sifat Interferensi Cahaya Ada dua sifat Inteferensi cahaya : 1. Membangun Apabila beda fase dari kedua gelombang sama sehingga gelombang baru yang terbentuk adalah penjumlahan dari kedua gelombang tersebut. 2. Merusak Apabila beda fase antara dua gelombang adalah 1800, sehingga kedua gelombang saling menghilangkan. C. Cara – Cara Menentukan Inteferensi Cahaya 1. Gelombang Cahaya Koheran Yang dimaksud dengan koheran yaitu memiliki frekuensi dan amplitudo yang sama serta selisih fase tetap sehingga sumber cahaya dapat mengalami interferensi stasioner atau pola yang tetap. Pada cermin, pembiasan, hamburan atau difraksi gelombang – gelombang tersebut berasal dari sumber yang sama dan sebelum mengalami tumpang tindih satu sama lain, mempunyai perbedaan fase. Contohnya warna-warni pelangi menunjukkan pada kita bahwa sinar matahari adalah gabungan gabungan dari berbagai macam warna dari spektrum kasat mata Salah satu percobaan untuk menghasilkan cahaya yang koheran adalah percobaan Thomas yang menggunakan dua buah celah sempit sebagai sumber cahaya yang baru. Cahaya dari suatu sumber ( Young mengunakan sinar matahari ) jatuh pada layar di mana terdapat dua celah yang berdekatan S 1 dan S2, jika cahaya terdiri dari partikel – partikel kecil, akan terlihat dua garis terang pada layar yang diletakkan dibelakang celah. Ketika kedua gelombang yang sefase (beda fase 0, 2𝞹, 4 𝞹,..../ 0, 𝞹, 2 𝞹, 3 𝞹,....) maka yang terjadi adalah interferensi konstruktif ( saling menguatkan) dan gelombang memiliki amplitudo maksimum serta terdapat tanda ( bintik ) terang di pusat layar. Interferensi konstruktif juga terjadi jika lintasan dua berkas berbeda sebanyak satu panjang gelombang. Sedangkan ketika gelombang yang berpadu berlawanan fase ( beda fase: 𝞹, 3 𝞹, 5 𝞹, .../ ½ 𝞹, 1 ½ 𝞹,...) maka yang terjadi adalah interferensi destruktif ( saling melemahkan) dan gelombang memiliki amplitudo nol serta layar akan menjadi gelap. Dengan demikian, akan adanya garis terang dan garis gelap pada layar yang akan dipakai untuk melihat. Interferensi konstruktif akan terjadi, dan sisi yang terang akan muncul di layar, ketika d sinθ sama dengan kelipatan bilangan bulat dari panjang gelombang. Hal inidisebut interferensi maksimum. d sin θ=m λ m= 0, 1,2,3,... Inteferensi destruktif atau juga disebut interferensi minimum. d sin θ=( 2 m−1 ) 1/2 λ m = ½ λ , 1 ½ λ , 2 ½ λ ,... 2. Jarak Warna Lapisan Tipis Lapisan tipis dapat merefleksikan atau melewatkan cahaya putih ( polikromatik ) dan akan menunjukkan kilau warna tertentu. Perbedaan fase cahaya yang direfleksikan permukaan batas pada lapisan tertentu bergantung pada besarnya sudut cahaya yang datang dan ketebalan lapisan bahwa beberapa warna yang terdapat di dalam cahaya putih setelah mengalami refleksi akan melemah dan sebagian akan terlihat jelas. Cahaya putih yang jatuh pada permukaan tipis, warna spektrum yang terdapat di dalamnya setelah mengalami refleksi akan melemah. Semua panjang gelombang kecil, yang menyebabkan pelemahan akan menghilang. Tumpang tindih karena inteferensi sehingga gelombang mengalami perubahan, intensitasnya merupakan campuran berbagai intensitas gelombang yang ada, yang selanjutnya disebut dengan warna lapisan tipis. Pada inteferensi gelombang, warna lapisan bergantung pada cahaya yang dilewatkan. Dari cahaya yang dilewatkan ini akan terdapat nyala yang lebih redup dibandingkan dengan pola inteferensi cahaya yang direfleksikan karena intensitas berkas yang mengalami dua kali refleksi hanya sebagian kecil yang intnsitas cahayanya berasal dari cahaya putih. 3. Interferometer Cahaya yang datang dari L membentuk sudut 450 jatuh pada permukaan flat datar paralel P dan pada permukaan alas plat sebagian akan dirfeleksi dan sebagian akan diteruskan. Cahaya yang diteruskan oleh permukaan bawah P diteruskan kecermin datar A’B’, dan dibalikkan ke P sedangkan cahaya yang direfleksikan oleh permukaan bawah akan diteruskan ke cermin A”B” untuk dikembalikan lagi ke P, cahaya yang direfleksi oleh cermin A’B’ dan A”B”, selanjutnya akan direfleksikan kembali untuk diamati pada teropong F. Cahaya yang yang direfleksikan oleh cermin A’B’ dan A”B” akan disatukan di titik fokus lensa objektif teropng dan perbedaan fase keduanya dapat diketahui seolah bayangan L datang dari permukaan cermin AB sejajar dengan cermin datar A’B’. agar kedua bundel cahaya mempunyai panjang lintasan yang sama, antara P dan A’B’ diletakkan sebuah plat P’ sejajar dengan P. Pola inteferensi dengan kemiringan yang sama dapat diamati pada lapisan udara yang terdapat diantara AB dan A’B’ karena cahaya direfleksikan oleh cermin yang sama, antara cahaya datang dan yang dirfleksikan terdapat perbedaan fase sebesar π . Agar perbedaan fasenya sama, kemiringan berkas harus diperbesar. Dengan peralatan sederhana tersebut, dapat diketahui panjang gelombang cahaya yang sesuai atau belum. BAB III PENUTUP A. PENUTUP Interferensi cahaya adalah kumpulan dua atau lebih gelombang cahaya yang saling tumpang tindih satu sama lain. Sifat yang dimiliki oleh interferensi cahaya yaitu mebangun dan merusak. Membangun jika beda fasenya sama dan merusak jika beda fasenya 1800. Ada beberapa cara untuk menentukan interferensi cahaya, diantaranya yaitu gelombang cahaya koheran, jarak warna lapisan tipis dan interferometer. DAFTAR PUSTAKA 1. Musbach, Musddiq,1996.”FISIKA : LISTRIK MAGNET DAN OPTIK”. Mendikbud. Jakarta. 2. C.Giancoli, Douglas, 1998.”PHISICS”, 5th, Pretntice-Hall, Inc NewYork.

Judul: Makalah Kimdas

Oleh: Nana Itha


Ikuti kami