Tugas Fonologi.docx

Oleh Nur Fadillah

163 KB 7 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Tugas Fonologi.docx

MAKALAH BAHASA INGGRIS PERBEDAAN FONOLOGI BAHASA INDONESIA DAN BAHASA INGGRIS Dosen Pembina MUH.ARIEF MUHSIN,S.Pd,M.Pd Disusun oleh NURFADILLAH 105331104416 BS B1 Pendidikan bahasan dan sastra indonesia MK: Bahasa Inggris FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR TAHUN AKADEMIK 2016 KATA PENGANTAR Assalamualaikum Wr.Wb Allah Maha Penyayang dan Pengasih, demikian kata untuk mewakili atas segala karunia dan nikmat-Nya. Jiwa ini takkan henti bertahmid atas anugerah pada detik waktu,denyut jantung, gerak langkah, serta rasa dan rasio pada-Mu, Sang Khalik. Makalah ini adalah setitik dari sederetan berkah-Mu. Setiap orang dalam berkarya selalu mencari kesempurnaan, tetapi terkadang kesempurnaan itu terasa jauh dari kehidupan seseorang. Kesempurnaan bagaikan fatamorgana yang semakin dikejar semakin menghilang dari pandangan, bagai pelangi yang terlihat indah dari kejauhan, tetapi menghilang jika didekati. Demikian juga tulisan ini, kehendak hati ingin mencapai kesempurnaan, tetapi kapasitas penulis dalam keterbatasan. Segala daya dan upaya telah penulis kerahkan untuk membuat tulisan ini selesai dengan baik dan bermanfaat dalam dunia pendidikan, khususnya dlam ruang linkup Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Makassar. Akhirnya, dengan segala kerendahan hati, penulis senantiasa mengharapkan kritikan dan saran dari berbagai pihak, selama saran dan kritikan tersebut sifatnya membangun karena penulis yakin bahwa suatu persoalan tidak akan berarti sama sekali tanpa adanya kritikan. Mudah-mudahan dapat memberi manfaat bagi para pembaca, terutama bagi diri pribadi penulis. Amin, Wassalamualaikum Wr.Wb Makassar, 10 Oktober 2016 Penulis DAFTAR ISI KATA PENGANTAR DAFTAR ISI BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang B. Rumusan Masalah C. Tujuan D. Manfaat BAB II PEMBAHASAN A. Kajian Teori 1. Pengertian fonologi. 2. Fonologi bahasa inggris. 3. Fonologi bahasa indonesia. 4. Ilmu-ilmu fonologi. 5. Fonem-fonem Bahasa indonesia. BAB III PENUTUP A. Kesimpulan B. Saran DAFTAR PUSTAKA BAB. 1 PENDAHULUAN o Latar Belakang Dalam kehidupan sehari-hari masih banyak masyarakat yang memakai bahasa Indonesia tetapi tuturan atau ucapan daerahnya terbawa ke dalam tuturan bahasa Indonesia. Tidak sedikit seseorang yang berbicara dalam bahasa Indonesia, tetapi dengan lafal atau intonasi Jawa, Batak, Bugis, Sunda dan lain-lain. Hal ini dimungkinkan karena sebagian besar bangsa Indonesia memposisikan bahasa Indonesia sebagai bahasa kedua. Sedangkan bahasa pertamanya adalah bahasa daerah masing-masing. Bahasa Indonesia hanya digunakan dalam komunikasi tertentu, seperti dalam kegiatan-kegiatan resmi. Selain itu, dalam pembelajaran bahasa Indonesia khususnya di Sekolah Dasar, istilah yang dikenal dan lazim digunakan guru adalah istilah “huruf” walaupun yang dimaksud adalah “fonem”. Mengingat keduanya merupakan istilah yang berbeda, untuk efektifnya pembelajaran, tentu perlu diadakan penyesuaian dalam segi penerapannya. Oleh karena itu, untuk mencapai suatu ukuran lafal atau fonem baku dalam bahasa Indonesia, sudah seharusnya lafal-lafal atau intonasi khas daerah itu dikurangi jika mungkin diusahakan dihilangkan.  Rumusan Masalah o o o o Apakah yang dimaksud dengan fonologi? Apa perbedaan fonologi Bahasa indonesia dan Bahasa inggris? Bagaimana membedakan ilmu-ilmu bahasa yang tercakup dalam fonologi? Bagaimana mengidentifikasi fonem-fonem Bahasa indonesia?  Tujuan o Untuk menjelaskan pengertian fonologi. Untuk membedakan fonologi bahasa Bahasa indonesia dan Bahasa inggris. Untuk membedakan ilmu-ilmu bahasa yang tercakup dalam fonologi. Untuk mengidentifikasi fonem-fonem Bahasa indonrsia  o o o Manfaat Agar mengetahui ilmu-ilmu Bahasa yang tercakup dalam fonologi. Agar mengetahui fonem-fonem yang ada dalam bahasa indonesia Agar mengetahui perbedaan Bahasa indonesia dan Bahasa Inggris. o o o BAB ll. A. Pembahasan 1.Pengertian Fonologi Sebelum diuraikan mengenai fonologi, terlebih dahulu dibahas mengenai struktur. Struktur adalah penyusunan atau penggabungan unsur-unsur bahasa menjadi suatu bahasa yang berpola. Secara etimologi kata fonologi berasal dari gabungan kata fon yang berarti ‘bunyi‘ dan logi yang berarti ‘ilmu’. Sebagai sebuah ilmu, fonologi lazim diartikan sebagai bagian dari kajian linguistik yang mempelajari, membahas, membicarakan, dan menganalisis bunyi-bunyi bahasa yang diproduksi oleh alat-alat ucap manusia. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1997) dinyatakan bahwa fonologi adalah bidang dalam linguistik yang menyelidiki bunyi–bunyi bahasa menurut fungsinya. Menurut Kridalaksana (2002) dalam kamus linguistik, fonologi adalah bidang dalam linguistik yang menyelidiki bunyi-bunyi bahasa menurut fungsinya. Dengan demikian, fonologi adalah sistem bunyi dalam bahasa Indonesia atau dapat juga dikatakan bahwa fonologi adalah ilmu tentang bunyi bahasa. o Fonologi Bahasa Inggris Inggris fonologi mengacu pada system suara,bahasa inggris memiliki variasi dalam pengucapan,baik historis dan dari dialek ke dialek.secara umum bagaimana pun dialeg regional saham inggris yang sangat mirip (meskipun tidak identik) system fonem. Sebuah fonem dari bahasa atau dialeg adalah sebuah abstraksi dari bunyi ujaran/kelompok suara yang berbeda yang semuanya di anggap memiliki fungsi yang sama,dengan penutur bahwa bahasa atau dialek. Fonem dari bahasa inggris dan jumlah mereka bervariasi dari dialek ke dialek dan juga tergantung pada interpretasi peneliti individu.jumlah vonem konsonan umumnya di letakkan di 24 (atau sedikit lebih)jumlah vocal tunduk pada variasi yang lebih besar.kunci pengucapan yang di gunakan dalam kata-kata asing dan perbedaan terlihat tertentu yang mungkin tidak fonemik ketat berbicara. Varietas yang paling besar dari bahasa inggris memiliki konsonan suku kata,misalnya pada akhir botol dan tombol.dalam kasus tersebut tidak ada vocal yang di ucapkan antara 2 konsonan terakhir. o Fonologi Bahasa Indonesia Fonologi secara bahasa memiliki makna ilmu tentang bunyi. Hal ini sesuai dengan makna darikata Fonologi itu sendiri yang terdiri atas fon=bunyi danlogos=ilmu. Akan tetapi, bunyi yangdipelajari dalam Fonologi bukan bunyi sembarang bunyi, melainkan bunyi bahasa yang dapat membedakan arti dalam bahasa lisan ataupun tulis yang digunakan oleh manusia. Bunyi yangdipelajari dalam Fonologi kita sebut dengan istilah Fonem. Fonem tidak memiliki makna, tapi peranannya dalam bahasa sangat penting karena fonem dapat membedakan makna. Misalnya saja fonem [l] dengan [r]. Jika kedua fonem tersebut berdirisendiri, pastilah kita tidak akan menangkap makna. Akan tetapi lain halnya jika kedua fonemtersebut kita gabungkan dengan fonem lainnya seperti [m], [a], dan [h], maka fonem [l] dan [r] bisa membentuk makna /marah/ dan /malah/. Bagi orang Jepang kata marah dan malah mungkin mereka anggap sama karena dalam bahasa mereka tidak ada fonem [l]. Oleh karena itulah sangat penting bagi kita untuk mempelajari Fonologi.Bunyi gebrakan tangan di atas meja mungkin bisa memiliki makna atau pun membedakan makna, tapi apakah bunyi tersebut termasuk ke dalam bunyi bahasa.Fonem dalam bahasa Indonesia terdiri atas empat macam. Ada fonem yang benar-benar asli dari b a h a s a I n d o n e s i a , n a m u n a d a p u l a fonem yang berasal dari berbagai bahasa lain n a m u n penggunaannya sudah dibakukan. Ilmu-Ilmu yang Tercakup dalam Fonologi Fonologi dalam tataran ilmu bahasa terdiri atas:  Fonetik Fonetik yaitu ilmu bahasa yang membahas tentang bunyi-bunyi ujaran yang dipakai dalam tutur dan bagaimana bunyi itu dihasilkan oleh alat ucap. Menurut Samsuri (1994), fonetik adalah studi tentang bunyi-bunyi ujar. Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1997), fonetik diartikan bidang linguistik tentang pengucapan (penghasilan) bunyi ujar atau fonetik adalah sistem bunyi suatu bahasa. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa fonetik adalah ilmu bahasa yang membahas bunyi-bunyi bahasa yang dihasilkan alat ucap manusia, serta bagaimana bunyi itu dihasilkan. Chaer (2007) membagi urutan proses terjadinya bunyi bahasa itu menjadi tiga jenis fonetik yaitu: 1. Fonetik artikulatoris Fonetik artikulatoris disebut juga fonetik organis atau fonetik fisiologis, mempelajari bagaimana mekanisme alat-alat bicara manusia bekerja dalam menghasilkan bunyi bahasa serta bagaimana bunyi-bunyi itu diklasifikasikan. Pembahasannya antara lain meliputi masalah alat-alat ucap yang digunakan dalam memproduksi dalam bahasa itu, mekanisme arus udara yang digunakan dalam memproduksi bunyi bahasa, bagaimana bunyi bahasa itu dibuat, mengenai klasifikasi bahasa yang dihasilkan serta apa kriteria yang digunakan, mengenai silabel, dan juga mengenai unsur-unsur atau ciri-ciri supresegmental, seperti tekanan, jeda, durasi dan nada. 2. Fonetik akustik Fonetik akustik mempelajari bunyi bahasa sebagai peristiwa fisis atau fenomena alam. Objeknya adalah bunyi bahasa ketika merambat di udara, antara lain membicarakan: gelombang bunyi beserta frekuensi dan kecepatannya ketika merambat di udara, spektrum, tekanan, dan intensitas bunyi. Juga mengenai skala desibel, resonansi, akustik produksi bunyi, serta pengukuran akustik itu. Kajian fonetik akustik lebih mengarah kepada kajian fisika daripada kajian linguistik, meskipun linguistik memiliki kepentingan didalamnya. 3. Fonetik auditoris Fonetik auditoris mempelajari bagaimana bunyi-bunyi bahasa itu diterima oleh telinga, sehingga bunyi-bunyi itu didengar dan dapat dipahami. Dalam hal ini tentunya pambahasan mengenai struktur dan fungsi alat dengar, yang disebut telinga itu bekerja. Bagaimana mekanisme penerimaan bunyi bahasa itu, sehingga bisa dipahami. Oleh karena itu, kajian fonetik auditoris lebih berkenaan dengan ilmu kedokteran, termasuk kajian neurologi. Dari ketiga jenis fonetik tersebut yang paling berurusan dengan dunia lingusitik adalah fonetik artikulatoris, sebab fonetik inilah yang berkenaan dengan masalah bagaimana bunyi-bunyi bahasa itu dihasilkan atau diucapkan manusia. Sedangkan fonetik akustik lebih berkenaan dengan bidang fisika yang dilakukan setelah bunyi-bunyi itu dihasilkan dan sedang merambat di udara. Kajian mengenai frekuensi dan kecepatan gelombang bunyi adalah kajian bidang fisika bukan bidang linguistik. Fonetik auditoris berkenaan dengan bidang kedokteran daripada linguistik. Kajian mengenai struktur dan fungsi telinga jelas merupakan bidang kedokteran.  Fonemik Fonemik adalah ilmu bahasa yang membahas bunyi-bunyi bahasa yang berfungsi sebagai pembeda makna. Terkait dengan pengertian tersebut, fonemik dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1997) diartikan: (1) Bidang linguistik tentang sistem fonem. (2) Sistem fonem suatu bahasa. (3) Prosedur untuk menentukan fonem suatu bahasa. Jika dalam fonetik mempelajari berbagai macam bunyi yang dapat dihasilkan oleh alat-alat ucap serta bagaimana tiap-tiap bunyi itu dilaksanakan, maka dalam fonemik mempelajari dan menyelidiki kemungkinan-kemungkinan, bunyi ujaran yang manakah yang dapat mempunyai fungsi untuk membedakan arti. Chaer (2007) mengatakan bahwa fonemik mengkaji bunyi bahasa yang dapat atau berfungsi membedakan makna kata. Misalnya bunyi [l], [a], [b] dan [u] dan [r], [a], [b] dan [u]. Jika dibandingkan perbedaannya hanya pada bunyi yang pertama, yaitu bunyi [l] dan bunyi [r]. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kedua bunyi tersebut adalah fonem yang berbeda dalam bahasa Indonesia, yaitu fonem /l/ dan fonem /r/. Sebagai bidang yang berkosentrasi dalam deskripsi dan analisis bunyi-bunyi ujar, hasil kerja fonologi berguna bahkan sering dimanfaatkan oleh cabang-cabang lingusitik yang lain, misalnya morfologi, sintaksis, dan semantik. 1. Fonologi dalam cabang morfologi Bidang morfologi yang kosentrasinya pada tataran struktur internal kata sering memanfaatkan hasil studi fonologi, misalnya ketika menjelaskan morfem dasar {butuh} diucapkan secara bervariasi antara [butUh] dan [bUtUh] serta diucapkan [butuhkan] setelah mendapat proses morfologis dengan penambahan morfem sufiks {-kan}. 2. Fonologi dalam cabang sintaksis Bidang sintaksis yang berkosentrasi pada tataran kalimat, ketika berhadapan dengan kalimat kamu berdiri. (kalimat berita), kamu berdiri?(kalimat tanya), dan kamu berdiri! (kalimat perintah) ketiga kalimat tersebut masing-masing terdiri dari dua kata yang sama tetapi mempunyai maksud yang berbeda. Perbedaan tersebut dapat dijelaskan dengan memanfaatkan hasil analisis fonologis, yaitu tentang intonasi, jedah dan tekanan pada kalimat yang ternyata dapat membedakan maksud kalimat, terutama dalam bahasa Indonesia. 3. Fonologi dalam cabang semantik Bidang semantik yang berkosentrasi pada persoalan makna kata pun memanfaatkan hasil telaah fonologi. Misalnya dalam mengucapkan sebuah kata dapat divariasikan dan tidak. Contoh kata [tahu], [tau], [teras] dan [t∂ras] akan bermakna lain. Sedangkan kata duduk dan didik ketika diucapkan secara bervariasi [dudU?], [dUdU?], [didī?], [dīdī?] tidak membedakan makna. Hasil analisis fonologislah yang membantunya.  Fonem-Fonem Bahasa Indonesia o Pengertian Fonem Supriyadi (1992) berpendapat bahwa yang dimaksud fonem adalah satuan kebahasaan yang terkecil. Santoso (2004) menyatakan bahwa fonem adalah setiap bunyi ujaran dalam satu bahasa mempunyai fungsi membedakan arti. Bunyi ujaran yang membedakan arti ini disebut fonem. Fonem tidak dapat berdiri sendiri karena belum mengandung arti. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1997) tertulis bahwa yang dimaksud fonem adalah satuan bunyi terkecil yang mampu menunjukkan kontras makna. Misalnya /b/ dan /p/ adalah dua fonem yang berbeda karenabara dan para beda maknanya. Contoh lain: mari, lari, dari, tari, sari jika satu unsur diganti dengan unsur lain, maka akan membawa akibat yang besar yakni perubahan makna. Jadi dapat disimpulkan bahwa fonem adalah satuan bunyi bahasa terkecil yang bersifat fungsional, artinya satuan memiliki fungsi untuk membedakan makna. Fonem tidak dapat berdiri sendiri karena belum mengandung arti.  Perbedaan Fonem dan Huruf Dalam bidang linguistik, huruf sering diistilahkan dengan grafem. Fonem adalah satuan bunyi bahasa yang terkecil yang dapat membedakan arti. Sedangkan huruf (grafem) adalah gambaran dari bunyi (fonem), dengan kata lain, huruf adalah lambang fonem. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1997) bahwa huruf adalah tanda aksara dalam tata tulis yang merupakan anggota abjad yang melambangkan bunyi bahasa. Untuk memahami struktur fonem, dan perbedaan antara fonem dan huruf (grafem) perhatikan contoh yang tertera dalam tabel berikut. Susunan Fonem /adik/ /iɳat/ /pantay/  Jumlah Fonem 4 4 5 Susunan Huruf Adik Ingat Pantai Jumlah Huruf 4 5 6 Kata yang Terbentuk Adik Ingat Pantai Sistem Fonologi dan Alat Ucap Dalam bahasa Indonesia, secara resmi ada 32 buah fonem, yang terdiri atas: (a) fonem vokal 6 buah (a, i. u, e, ∂, dan o), (b) fonem diftong 3 buah, dan (c) fonem konsonan 23 buah (p, t, c, k, b, d, j, g, m, n, n, η, s, h, r, l,w, dan z). Bentuk-bentuk fonem suatu bahasa yang dihasilkan oleh alat ucap manusia dibahas dalam bidang fonetik. Terkait dengan hal itu, Samsuri (1994) menyatakan secara fonetis bahasa dapat dipelajari secara teoritis dengan tiga cara, yaitu: 1. Bagaimana bunyi-bunyi itu dihasilkan oleh alat ucap manusia 2. Bagaimana arus bunyi yang telah keluar dari rongga mulut dan /atau rongga hidung si pembicara merupakan gelombang-gelombang bunyi udara 3. Bagaimana bunyi itu diinderakan melalui alat pendengaran dan syaraf si pendengar Cara pertama disebut fisiologis atau artikuler, yang kedua disebut akustis dan yang ketiga auditoris. Dalam bahasan struktur fonologis cara pertamalah yang paling mudah, praktis, dapat diberikan bukti-bukti datanya. Hampir semua gerakan alat-alat ucap itu dapat kita periksa, paru-paru, sekat rongga dada, tenggorokan, lidah dan bibir. Alat ucap dibagi menjadi dua macam: 1. Artikulator; adalah alat-alat yang dapat digerakkan/ digeser ketika bunyi diucapkan 2. Titik Artikulasi; adalah titik atau daerah pada bagian alat ucap yang dapat disentuh atau didekati  Jenis-jenis Fonem  Fonem vokal Nama-nama fonem vokal yang ada dalam bahasa Indonesia adalah: 1. 2. 3. 4. 5. 6. /i/ vokal depan, tinggi, tak bundar /e/ vokal depan, sedang, atas, tak bundar /a/ vokal depan, rendah, tak bundar /∂/ vokal tengah, sedang, tak bundar /u/ vokal belakang, atas, bundar /o/ vokal belakang, atas, bundar Berkenaan dengan penentuan bunyi vokal berdasarkan posisi lidah ada konsep yang disebut vokal kardinal (Jones 1958:18), yang berguna untuk membandingkan vokal-vokal suatu bahasa di antara bahasa-bahasa lain. Konsep vokal kardinal ini menjelaskan adanya posisi lidah tertinggi, terendah, dan terdepan dalam memproduksi bunyi vokal itu. Bunyi vokal [i] diucapkan dengan meninggikan lidah depan setinggi mungkin tanpa menyebabkan terjadinya konsonan geseran. Vokal [a] diucapkan dengan merendahkan pangkal lidah sebawah mungkin. Vokal [u] diucapkan dengan menaikkan pangkal lidah setinggi mungkin.  Fonem Diftong Fonem diftong yang ada dalam bahasa Indonesia adalah fonem diftong /ay/, diftong /aw/, dan diftong /oy/. Ketiganya dapat dibuktikan dengan pasangan minimal. /ay/ gulai x gula (gulay x gula) /aw/ pulau x pula (pulaw x pula) /oi/ sekoi x seka (s∂koy x seka) Adapun klasifikasi diftong adalah sebagai berikut: 1. Diftong naik, terjadi jika vokal yang kedua diucapkan dengan posisi lidah menjadi lebih tinggi daripada yang pertama. Contoh: [ai] [au] [oi] [∂i] 2. Diftong turun, terjadi bila vokal kedua diucapkan dengan posisi lebih rendah daripada yang pertama. Dalam bahasa Jawa ada diftong turun contohnya: [ua] pada kata ‘sangat puas’ [uo] pada kata ‘sangat sakit’ [uɛ] pada kata ‘sangat jelek’ 3. Diftong memusat, terjadi bila vokal kedua diacu oleh sebuah atau lebih vokal yang lebih tinggi, dan juga diacu oleh sebuah atau lebih vokal yang lebih rendah. Dalam bahasa Inggris ada diftong [oα] seperti pada kata dan kata . Ucapan kata adalah [mo∂] dan ucapan kata adalah [flo∂].  Fonem Konsonan Nama-nama fonem konsonan bahasa Indonesia adalah /b/ konsonan bilabial, hambat, bersuara /p/ konsonan bilabial, hambat, tak bersuara /m/ konsonan bilabial, nasal /w/ konsonan bilabial, semi vokal /f/ konsonan labiodentals, geseran, tak bersuara /d/ konaonan apikoalveolar, hambat, bersuara /t/ konsonan apikoaveolar, hambat, tak bersuara /n/ konsonan apikoaveolar, nasal /t/ konsonan apikoaveolar, sampingan /r/ konsonan apikoaveolar, getar /z/ konsonan laminoalveolar, geseran, bersuara /s/ konsonan laminoalveolar, geseran, tak bersuara /∫/ konsonan laminopalatal, geseran, bersuara /ñ/ konsonan laminopalatal, nasal /j/ konsonan laminopalatal, paduan, bersuara /c/ konsonan laminopalatal, paduan, tak bersuara /y/ konsonan laminopalatal, semivokal /g/ konsonan dorsevelar, hambat, bersuara /k/ konsonan dorsevelar, hambat, tak bersuara /ŋ/ konsonan dorsevelar, nasal /x/ konsonan dorsevelar, geseran, bersuara /h/ konsonan laringal, geseran, bersuara /?/ konsonan glotal, hambat Fonem konsonan dapat digolongkan berdasarkan 4 kriteria yakni: 1. Tempat artikulasi, yaitu tempat terjadinya bunyi konsonan, atau tempat bertemunya artikulator aktif dan artikulator pasif. Tempat artikulasi disebut juga titik artikulasi. Sebagai contoh bunyi [p] terjadi pada kedua belah bibir (bibir atas dan bibir bawah), sehingga tempat artikulasinya disebut bilabial. Contoh lain bunyi [d] artikulator aktifnya adalah ujung lidah (apeksi) dan artikulator pasifnya adalah gigi atas (dentum), sehingga tempat artikulasinya disebut apikondental. 2. Cara artikulasi yaitu bagaimana tindakan atau perlakuan terhadap arus udara yang baru keluar dari glotis dalam menghasilkan bunyi konsonan itu. Misalnya, bunyi [p] dengan cara mula-mula arus udara dihambat pada kedua belah bibir, lalu tiba-tiba diletupkan dengan keras. Maka bunyi [p] itu disebut bunyi hambat atau bunyi letup. Contoh lain bunyi [h] dihasilkan dengan cara arus udara digeserkn di laring (tempat artikulasinya). Maka, bunyi [h] disebut bunyi geseran atau frikatif. 3. Bergetar tidaknya pita suara, yaitu jika pita suara dalam proses pembunyian itu turut bergetar atau tidak. Bila pita suara itu turut bergetar maka disebut bunyi bersuara. Jika pita suara tidak turut bergetar, maka bunyi itu disebut bunyi tak bersuara. Bergetarnya pita 4. bergetarnya pita suara karena glotis terbuka agak lebar. 5. Striktur, yaitu hubungan posisi antara artikulator aktif dan artikulator pasif. Umpamanya dalam memproduksi bunyi [p] hubungan artikulator aktif dan artikulator pasif, mula-mula rapat lalu secar tiba-tiba dilepas. Dalam memproduksi bunyi [w] artikulator aktif dan artikulator pasif hubungannya renggang dan melebar. BAB III PENUTUP A. KESIMPULAN Fonologi adalah cabang ilmu bahasa (linguistik) yang mengkaji bunyi-bunyi bahasa, proses terbentuknya dan perubahannya. Fonologi mengkaji bunyi bahasa secara umum dan fungsional.adapun perbedaan fonologi Bahasa indonesia dan Bahasa inggris Yaitu fonologi Bahasa indonesia membahas tentang ilmu bunyi,sedangkan menurut Bahasa inggris Sangat mengacu pada sistem suara. Istilah fonem dapat didefinisikan sebagai satuan bahasa terkecil yang bersifat fungsional, artinya satuan fonem memiliki fungsi untuk membedakan makna. Varian fonem berdasarkan posisi dalam kata, misal fonem pertama pada kata makan dan makna secara fonetis berbeda. Variasi suatu fonem yang tidak membedakan arti dinamakan alofon. Kajian fonetik terbagi atas klasifikasi bunyi yang kebanyakan bunyi bahasa Indonesia merupakan bunyi egresif. Dan yang kedua pembentukan vokal, konsonan, diftong, dan kluster. Dalam hal kajian fonetik, perlu adanya fonemisasi yang ditujukan untuk menemukan bunyi-bunyi yang berfungsi dalam rangka pembedaan makna tersebut. Dengan demikian fonemisasi itu bertujuan untuk (1) menentukan struktur fonemis sebuah bahasa, dan (2) membuat ortografi yang praktis atau ejaan sebuah bahasa. Gejala fonologi Bahasa Indonesia termasuk di dalamnya yaitu penambahan fonem, penghilangan fonem, perubahan fonem, kontraksi, analogi, fonem suprasegmental. Pada tataran kata, tekanan, jangka, dan nada dalam bahasa Indonesia tidak membedakan makna. Namun, pelafalan kata yang menyimpang dalam hal tekanan, dan nada kan terasa janggal. B. SARAN Adapun saran yang dapat penyusun sampaikan yaitu kita sebagai calon pendidik, harus selalu menggali potensi yang ada pada diri kita. Cara menggali potensi dapat dilakukan salah satunya dengan cara mempelajari makalah ini. Mudah-mudahan makalah ini dapat bermanfaat untuk kita ke depannya. Amiinn. DAFTAR PUSTAKA Hasan, Alwi, dkk.2003.Tata Bahasa Baku bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka. Husen, Akhlan, dan Yayat Sudaryat. 1996. Fonologi Bahasa Indonesia. Jakarta: Depatemen Pendidikan dan Kebudayaan. Misdan, Undang.1980.Bahasa Indonesia Pelajaran Bahasa II. Jakarta: Depatemen Pendidikan dan Kebudayaan Muchlisoh, dkk. 1992. Pendidikan Bahasa Indonesia 3. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Resmini, Novi. 2006. Kebahasaan (Fonologi, Morfologi, dan Semantik). Bandung: UPI PRESS. Susandi. 2009. Seputar Bahasa dan Fonologi. http://susandi.wordpress.com/. 24 September 2010. [Online]. Tersedia:

Judul: Tugas Fonologi.docx

Oleh: Nur Fadillah


Ikuti kami