Makalah Fix

Oleh Istiana Hidayati

333,8 KB 11 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Makalah Fix

TUGAS TERSTRUKTUR DIAGNOSA KLINIK “CONGESTIVE HEART FAILURE PADA ANJING” Oleh : Mohan Ari 105130101111076 AmanYanuar I. 105130101111086 YusvaniNur R. 105130101111082 TinoZainul O. 105130101111087 WisdianiPutri 105130101111083 Ella Ayuningtyas 105130101111088 DwiTientus G.C. 105130101111084 AdindaDarayani 105130101111090 BayuNoviaji 105130101111085 Istiana Hidayati 105130101111091 Kelompok C5 dan C6 - Kelas C PKH 2010 UNIVERSITAS BRAWIJAYA PROGRAM KEDOKTERAN HEWAN PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER HEWAN MALANG 2013 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Penyakit jantung pada anjing semakin banyak dijumpai di ruang praktek dokter hewan. Beberapa ahli jantung melaporkan bahwa 25 persen dari semua anjing ras kecil sampai sedang yang berumur di atas 7 tahun kemungkinan menderita penyakit jantung pada tahap tertentu dalam hidupnya. Risiko penyakit jantung pada anjing meningkat secara nyata seiring bertambahnya umur. Lebih dari 15 persen anjing-anjing muda menderita penyakit jantung. Rata-rata peningkatan 60 persen pada anjing usia tua. Congestive Heart Failure (CHF) merupakan sindrom klinik dimana gangguan jantung memompa darah mengakibatkan penurunan ejeksi ventrikel dan gangguan darah balik pada vena. Hal ini disebut dengan kejadian gagal jantung, jantung tidak dapat memompa darah secara memadai untuk memenuhi kebutuhan jaringan (Elices-Mínguez, 2009) Jantung, seperti pompa mengalami kegagalan karena tidak dapat memompa darah yang cukup ke dalam aorta atau arteri pulmoner untuk mempertahankan tekanan arteri (gagal jantung output rendah), atau tidak dapat secara adekuat mengosongkan cadangan vena (CHF). Karena itu, secara klinik gagal jantung dapat dikenali melalui tanda: rendahnya curah jantung (misalnya depresi, letargi,hipotensi) atau kongesti (misalnya asites, efusi pleura, edema pulmoner) (Elices-Mínguez, 2009). Gagal jantung dapat juga diklasifikasikan berdasarkan bagian jantung yang mengalami kegagalan: gagal jantung kanan, gagal jantung kiri, atau gagal jantung bilateral (kiri dan kanan). Gagal jantung kanan berkaitan dengan tanda-tanda kongesti pada sirkulasi sistemik (asites, edema perifer), sedangkan gagal jantung kiri menyebabkan tanda-tanda kongesti pada sirkulasi pulmoner (edema pulmoner, dispne). Gagal jantung bilateral mengakibatkan kombinasitanda-tanda klinik gagal jantung kanan dan kiri. Pada praktik hewan kecil, efusi pleura biasanya berkaitan dengan CHF bilateral (Erawan, 2010) Gagal jantung dapat merupakan akibat dari penyakit miokardial yang menurunkan efisiensi fungsi miokardial, dan dapat juga akibat dari faktor yang meningkatkan beban kerja jantung. Penyebab umum yang menjadi beban bagi jantung misalnya stenosis katup keluar jantung, hipertensi arteri sistemik, dan cacat yang mengakibatkan aliran berlebih atau volume berlebih di dalam jantung, misalnya karena insufisiensi katup jantung (Erawan, 2010) Pada anjing, CHF paling umum diakibatkan oleh volume darah yang berlebihan di dalam jantung akibat dari penyakit katup degeneratif yang kronis (regurgitasi mitral yang parah) atau kardiomiopati terkembang. Tanda klinik pada gagal jantung dapat merupakan akibat dari akumulasi cairan, curah jantung rendah, atau perubahan pada otot skeletal. Anjing penderita CHF biasanya diperiksakan pada dokter hewan karena batuk, dispne, intoleransi latihan, pembesaran abdominal, atau sinkop (Erawan, 2010). 1.2 Rumusan Masalah  Bagaimanakah tanda-tanda dan gejala klinik anjing yang dicurigai mengalami Congestive Heart Failure?  Bagaimanakah diagnosa klinik anjing yang di curigai mengalami Congestive Heart Failure?  Bagaimanakah tatalaksana CHF pada anjing?  Bagaimanakah penegahan CHF pada anjing? 1.3 Tujuan  Mengetahui etiologi CHF pada anjing  Mengetahui gejala klinis CHF pada anjing  Mengetahui prosedur pemeriksaan klinis CHF pada anjing  Mengetahui patofisiologi dan patogenesis CHF pada anjing  Mengetahui penanganan atau tatalaksana CHF pada anjing  Mengetahui pencegahan CHF pada anjing  Mengetahui prognosis CHF pada anjing BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Penyakit Kardiovaskuler Pada Anjing Kejadian penyakit jantung pada anjing semakin banyak dijumpai di ruang praktek dokter hewan. Beberapa ahli jantung melaporkan bahwa 25 persen dari semua anjing ras kecil sampai sedang yang berumur di atas 7 tahun kemungkinan menderita penyakit jantung pada tahap tertentu dalam hidupnya. Adanya penyakit jantung tidak berarti bahwa juga terdapat HF atau kegagalan jantung. Hewan dapat menderita suatu penyakit jantung selama waktu yang tidak dapat ditentukan, karena adanya cardiac reverse dan mekanisme kompensasi. Bila jantung tidak dapat lagi beradaptasi terhadap kebutuhan fisiologis yang meningkat, maka akan terjadi disfungsi dan kegagalan jantung. Pada disfungsi jantung, cardiac output (CO) tidak dapat memenuhi kebutuhan jaringan tubuh dan berpengaruh terhadap organ-organ lain, sehingga menimbulkan tanda-tanda Congesti ve Heart Failure. Gagal jantung bukanlah merupakan penyakit atau diagnosis yang spesifik, melainkan merupakan sindrom klinik dimana gangguan jantung memompa darah mengakibatkan penurunan ejeksi ventrikel dan gangguan darah balik pada vena. Pada kejadian gagal jantung, jantung tidak dapat memompa darah secara memadai untuk memenuhi kebutuhan jaringan. Gagal sirkulasi adalah menurunnya curah jantung yang disebabkan oleh abnormalitas satu atau lebih komponen sirkulasi (jantung, volume darah, konsentrasi oksihemoglobin, vaskulatur). Sehingga gagal jantung merupakan satu dari banyak kasus gagal sirkulasi. Jantung, seperti pompa, mengalami kegagalan karena: tidak dapat memompa darah yang cukup ke dalam aorta atau arteri pulmoner untuk mempertahankan tekanan arteri (gagal jantung output rendah), atau tidak dapat secara adekuat mengosongkan cadangan vena (gagal jantung kongestif = congestive heart failure [CHF]). Karena itu, secara klinik gagal jantung dapat dikenali melalui tanda: rendahnya curah jantung (misalnya depresi, letargi, hipotensi) atau kongesti (misalnya asites, efusi pleura, edema pulmoner). Gagal jantung dapat juga diklasifikasikan berdasarkan bagian jantung yang mengalami kegagalan: gagal jantung kanan, gagal jantung kiri, atau gagal jantung bilateral (kiri dan kanan). Gagal jantung kanan berkaitan dengan tanda-tanda kongesti pada sirkulasi sistemik (asites, edema perifer), sedangkan gagal jantung kiri menyebabkan tanda-tanda kongesti pada sirkulasi pulmoner (edema pulmoner, dispne). Gagal jantung bilateral mengakibatkan kombinasi tanda-tanda klinik gagal jantung kanan dan kiri. Pada praktik hewan kecil, efusi pleura biasanya berkaitan dengan CHF bilateral. Gagal jantung dapat diakibatkan karena ketidakmampuan jantung mengeluarkan darah secara memadai (gagal sistolik), atau karena pengisian ventrikel yang tidak adekuat (gagal diastolik), atau keduanya. Akibat dari ketiga hal tersebut adalah berkurangnya volume stroke, yang selanjutnya mengakibatkan berkurangnya curah jantung dan mengarah kepada menurunnya tekanan arteri. Pasien penderita gagal jantung parah, curah jantungnya menurun atau tidak adekuat pada keadaan istirahat, sedangkan pasien penderita gagal jantung ringan atau gagal diastolik curah jantungnya menjadi tidak adekuat misalnya pada saat beraktivitas atau stres. Penyakit-penyakit jantung yang sering menyebabkan CHF adalah : 1. Penyakit perolehan pada katub jantung dan myocardium. 2. Penyakit jantung congenital 3. Penyakit cacing jantung BAB III STUDI KASUS 3.1 Kasus Seekor anjing jenis campuran Dashund dengan lokal, usia 10 tahun, memiliki gejala : batuk-batuk terutama pada malam hari menjelang pagi. Setiap akhir batuk ditandai dengan kondisi seperti mau muntah tetapi tidak ada yang dikeluarkan. Gejala lainnya adalah anjing cepat lelah, nafas tersengal-sengal dan berat, cemas dan gelisah terutama pada malam hari apalagi bila ada suara-suara yang mengejutkan. Pada pemeriksaan auskultasi frekuensi denyut jantung tidak teratur , dan suhu tubuh 35,4⁰C. 3.2 Prosedur Pemeriksaan Signalemen Pasien Nama hewan :- Jenis hewan : Anjing campuran Dashund dan lokal Jenis kelamin : Jantan Warna bulu : Hitam-Coklat Tua Umur : 10 tahun Anamnesa Pemilik melaporkan bahwa anjing tersebut menunjukkan beberapa gejala, yakni : batuk-batuk terutama pada malam hari menjelang pagi. Setiap akhir batuk ditandai dengan kondisi seperti mau muntah tetapi tidak ada yang dikeluarkan. Gejala lainnya adalah anjing cepat lelah, nafas tersengal-sengal dan berat, cemas dan gelisah terutama pada malam hari apalagi bila ada suara-suara yang mengejutkan. Pemeriksaan Fisik 1. Temperatur Rektal  Pengukuran dilakukan dengan cara memasukkan termometer kedalam rektum anjing selama beberapa saat. Temperatur normal anjing = 37,5˚C – 39,5˚C Hasil pemeriksaan = 35,4˚C 2. Frekuensi Pulsus  Bagian yang mudah digunakan dalam menghitung pulsus adalah diperiksa pada bagian arteri femoralis yaitu sebelah medial femur Frekuensi pulsus normal anjing = 80-120 kali /menit Hasil pemeriksaan = Frekuensi denyut jantung tidak teratur (aritmia) 3. Frekuensi Nafas  Diperiksa dengan menghitung frekuensi dan memperhatikan kualitasnya dengan melihat kembang-kempisnya daerah thoracoabdominal dan menempelkan telapak tangan di depan cuping bagian hidung Frekuensi nafas normal kucing = 10-30 kali / menit Hasil pemeriksaan = Nafas tersengal-sengal dan berat (tipe respirasi: dispnoe) 4. Berat Badan  Penimbangan berat badan di lakukan untuk mengetahui kurus tidaknya anjing. Hasil pemeriksaan = biasanya terjadi penurunan berat badan 5. Sikap tubuh  Cara berdiri (postur), dan berjalan juga harus diperhatikan. Kerena abnormal postur kadang merupakan indikasi penyakit, misalnya saja penyakit pada tulang, persendian, tendon, muskulus, saraf, laminitis, osteo distrofibrosa, peningkatan tonus muskulus pada tetanus. Hasil Pemeriksaan = normal 6. Kulit Bulu  Pada pemeriksaan kulit dan bulu perlu diperhatikan: warna bulu, keadaan bulu, elastisitas kulit, permukaan kulit, pruritis, kelenjar lemak, kelenjar keringat, dan bau. Mengetahui elastisitas kulit dapat dilakukan dengan mencubit → menarik → melepas kembali → pada bagian leher, punggung, rusuk. Hasil pemeriksaan = edema pada daerah thoraks dan subkutan 7. Membrana Mukosa  Untuk mengetahui normal tidaknya aliran darah maka dapat diketahui dengan menekan gusi hewan dengan jari kemudian melepaskannya. Hal ini bertujuan untuk memeriksa waktu isi ulang kapiler. Ketika sebuah daerah gusi ditekan darah dipaksa keluar dari kapiler. Ketika tekanan dilepaskan darah harus segera mengisi ulang kapiler. Waktu normal yang diperlukan untuk kapiler isi ulang pada anjing dan kucing adalah kurang dari 2 detik. Sebuah waktu isi ulang yang berkepanjangan (CRT) terjadi ketika darah tidak cukup mengalir. Hasil pemeriksaan = Cyanosis, dapat terjadi pada pada penyakit- penyakit jantung dengan right to left shunt atau pada oedema pulmonum. 8. Kelenjar Limfa  Minimal 4 kelenjar yang harus diperiksa : 1. kelenjar cervical di sekitar rahang 2. popliteal sekitar kaki belakang 3. axillaris di ketiak 4. mesenterika di abdomen Hasil pemeriksaan = Normal 9. Muskuloskeletal  Pemeriksaan muskuloskeletal dengan melakukan palpasi sendi, kepala leher, kaki. Biasanya untuk mengetahui ada tulang yang patah atau tidak. Hasil pemeriksaan = Normal 10. Sistem Sirkulasi  Pemeriksaan sirkulasi dengan bantuan stethoscope. Periksa suara jantung untuk mengetahui adanya thrill, arithmia ataupun murmur. Hasil pemeriksaan = Aritmia cenderung tachicardi 11. Sistem Respirasi  Pada pemeriksaan respirasi perlu diperhatikan: gerakan cuping hidung, cara-cara bernafas, discharge nasal, rongga/sinus hidung, lgl. Submaxillaris, batuk/tidak, larynx, trachea, perkusi, dan auskultasi thorax, perlu diperhatikan juga mengenai kecepatan (rate), type (karakter), ritme (irama), dan dalamnya (intensitas). Variasi kecepatan respirasi disebabkan karena ukuran tubuh, umur, setelah melakukan exercise, bunting, dan sehabis makan kenyang (dikarenakan karena rumen penuh makanan). Hasil Pemeriksaan = Berat dan tersengal-sengal dan adanya batuk dengan kondisi seperti akan muntah 12. Sistem Digesti  Meliputi pemeriksaan halitosis mulut gigi tonsil kelenjar ludah, muntah, diare, palpasi abdomen (untuk memeriksa usus halus, kolon, limpa, hepar), feses (frekuensi, warna,konsistensi), parasit. Hasil pemeriksaan = Distensi abdomen akibat ascites 13. Sistem Urogenital  Frekuensi minum (naik,turun)  Urine (naik,turun,dsyuria)  Palpasi (kemih, ginjal)  Jantan (penis, preputium, scrotum, testis, prostat) Hasil pemeriksaan = Normal 14. Sistem Saraf  Disposisi (tidak pada tempatnya)  Trauma kepala  Scizure (kejang) Hasil pemeriksaan = Normal 15. Mata Telinga  Mata : entropion, ektropion, distichhiasis, epiphora, posisis bola mata  Kornea : ulcer, lascrasi, keratitis  Pinna : luka, lesi  Kanal: wax, infeksi ektoparasit (tungau octodectes→ear mite) Hasil pemeriksaan = Normal 3.3 Hasil Uji Pendukung Pemeriksaan radiologi menunjukan adanya radioopasitas di dalam abdomen yang menggambarkan adanya cairan di dalam abdomen dan radioopasitas di paruparu yang menggambarkan adanya edema pulmonum. Pemeriksaan ultrasonografi menunjukan adanya akumulasi cairan di dalam abdomen dan dilatasi vena porta hepatica dengan sel hepatosit yang masih seragam. Pemeriksaan melalui echocardiografi didapatkan gambaran penebalan musculus papillaris dan penebalan dinding ventrikel. Pemeriksaan elektrocardiografi menunjukan adanya tachycardi 212 bpm, dan bentuk gelombang P tidak sama. Haematologi tidak menunjukan perubahan yang signifikan. Pemeriksaan sitologi cairan ascites memperlihatkan adanya sel-sel neutrofil yang bercampur makrofag. Profil tersebut konsistensi dengan karakteristik effusi abdome yang terjadi sebagai kondisi sekunder pada right-sided heart failure. Berdasarkan gejala dan pemeriksaan klinis serta penunjang bruni didiagnosa mengalami CHF(Abbot, 2000) Gambar 3.1 Hasil rontgen thorax menunjukan adanya edema pulmonum Gambar 3.2 (A) Gambar 3.3 (B) Gambar 3.2 (A) USG rongga abdomen anjing menunjukan adanya effusi cairan di dalam rongga abdomen anjing. Gambar 3.3 (B) USG liver menunjukan adanya kongesti vena di dalam liver dengan hepatosit yang memiliki echositas yang seragam (Tilley, 2008). Gambar 3.4 USG jantung menunjukan adanya penebalan ventrikel jantung Gambar 3.5 EKG jantung menunjukan adanya tachicardi 221 bmp dengan bentuk gelombang P yang tidak sama. 3.4 Diagnosa dan Prognosa Berdasarkan anamnesa, gejala dan pemeriksaan klinis serta hasil uji pendukung, anjing jenis campuran Dashund didiagnosa mengalami Congestive Heart Failure. Prognosa yang dapat ditentukan pada penyakit ini adalah infausta. 3.5 Terapi Terapi yang dapat diberikan pada pasien gagal jantung adalah dengan pemberian obat pimobendan, enalapril, dan furosemide. Selain itu, dapat pula diberikan makanan diet khusus untuk penderita kelainan jantung seperti makanan dengan kandungan garam yang rendah (low-salt food), suplemen minyaki kan, dan multivitamin. Sebagai penunjang serta memperbaiki kerja jantung juga dapat dilakukan exercise untuk menghindari cardiac arrhythmiasis. BAB IV PEMBAHASAN 4.1 Etiologi Congestive Heart Failure Congestive Heart Failure (CHF) merupakan istilah untuk kongesti yang terkait dengan meningkatnya diastolic filling pressure yang menjadi syarat pembentukan kongesti dan edema (Abbott, 2000). Kongesti dan edema tersebut terjadi karena tekanan hidrostatik vena dan kapiler. Congestive Heart Failure (CHF) bukan suatu diagnose spesifik namun merupakan sebuah sindroma yang disebabkan satu atau lebih proses penyebabnya (Nelson dan Couto, 2003). Gagal jantung dapat merupakan akibat dari penyakit miokardial yang menurunkan efisiensi fungsi miokardial, dan dapat juga akibat dari faktor yang meningkatkan beban kerja jantung. Penyebab umum yang menjadi beban bagi jantung misalnya stenosis katup keluar jantung, hipertensi arteri sistemik, dan cacat yang mengakibatkan aliran berlebih atau volume berlebih di dalam jantung, misalnya karena insufisiensi katup jantung. Pada anjing, CHF paling umum diakibatkan oleh volume darah yang berlebihan di dalam jantung akibat dari penyakit katup degeneratif yang kronis (regurgitasi mitral yang parah) atau kardiomiopati terkembang. Resiko penyakit pada anjing meningkat seiring bertambahnya umur, ratarata peningkatan 60% pada anjing usia tua. Sedangkan pada kucing, diagnosa penyakit jantung sangat sulit ditemukan, karena tidak menunjukkan gejala klinis. 4.2 Penyebab Secara fisiologis ada 4 penyebab terjadinya CHF ini, yaitu : 1. Kegagalan otot jantung (myocard) . Ventrikel tidak mampu berkontraksi secara cukup kuat untuk memompa darah keluar. Kondisi ini bisa diakibatkan oleh keracunan obat, jumlah darah atau oksigen darah yang tidak mencukupi, atrium atau ventrikel mengalami dilatasi, infeksi, peradangan atau aritmia. 2. Volume darah yang berlebihan didalam jantung. Kondisi ini bisa karena robeknya klep jantung, kelp mengalami degenerasi, peradangan pada klep jantung, anemia kronis atau karena racun. 3. Tekanan darah yang tinggi. Kondisi ini bisa juga disebabkan oleh cacing jantung. 4. Menurunnya kemampuan kerja ventrikel, bisa diakibatkan oleh penyakit jantung, adanya cairan berlebih pada selaput jantung. Gambar 4.1 Skema sistem sirkulasi penderita gagal jantung 4.3 Gejala Klinik Gejala klinik pada gagal jantung dapat merupakan akibat dari akumulasi cairan, curah jantung rendah, atau perubahan pada otot skeletal. Anjing penderita CHF biasanya diperiksakan pada dokter hewan karena batuk, dispnoe, intoleransi latihan, pembesaran abdominal, atau sinkop. Hipertensi vena dan kongesti mikrosirkulasi menimbulkan transudasi cairan pada rongga tubuh (efusi) atau interstisium (edema). Secara klinik, gagal jantung dapat diketahui sebagai gagal jantung kiri, gagal jantung kanan, atau gagal jantung bilateral. Gejala klinik yang terjadi pada gagal jantung kiri berkaitan dengan peningkatan tekanan hidrostatik pada vena pulmoner dan kapiler. Gejala klinik karena kongesti dan edema pulmoner, yaitu batuk dan dispne merupakan tanda yang paling umum. Tetapi kucing kurang umum menunjukkan batuk. Pada kucing biasanya menunjukkan tanda dispnoe, takipnea, anoreksia, dan intoleransi latihan. Pada kucing, peningkatan tekanan vena dapat menimbulkan efusi pleura. Fenomena ini kurang umum pada anjing. Dispnoe dan intoleransi latihan dapat juga berkaitan dengan perubahan pada otot skeletal yang terjadi pada CHF. Abnormalitas fungsi otot dan peningkatan kelelahan pada CHF berkaitan dengan menurunnya aliran darah ke otot dan peningkatan metabolisme anaerob. Pada kasus yang lebih parah, edema pulmoner disertai dispne yang parah dapat terjadi pada saat hewan beristirahat dan pada auskultasi terdengar suara rales. Gagal jantung kanan mengakibatkan peningkatan tekanan pada pembuluh darah yang mengalirkan darah ke ventrikel kanan, yakni vena sistemik. Hal tersebut mengakibatkan terjadinya asites, efusi pleura, dan edema perifer. Hati dan limpa yang membesar pada anjing dapat dipalpasi. Retensi cairan terjadi pada anjing dan kucing, tetapi tempatnya bervariasi. Pada anjing, asites adalah yang paling umum dan biasanya terjadi sebelum melanjut ke daerah subkutan, edema, atau hidrotoraks atau hidroperikardium. Sedangkan pada kucing jarang mengalami asites akibat gagal jantung kanan. Pada gagal jantung bilateral, terjadi tanda-tanda gagal jantung kanan dan kiri dan sering berhubungan dengan akumulasi cairan di pleura. Efusi pleura lebih berkaitan dengan tekanan kapiler pulmoner daripada tekanan jantung kanan. Hal tersebut menunjukkan bahwa CHF pada jantung kanan bukanlah penyebab utama efusi pleura. 4.4 Pencegahan dan Penanganan Tujuan umum penanganan gagal jantung pada anjing adalah: meniadakan tanda klinik seperti batuk dan dispne, memperbaiki kinerja jantung sebagai pompa, menurunkan beban kerja jantung, dan mengontrol kelebihan garam dan air. Obat yang digunakan untuk penanganan gagal jantung bervariasi tergantung pada etiologi, keparahan gagal jantung, spesies penderita, dan faktor lainnya. Untuk mencapai tujuan dalam penanganan gagal jantung dapat dilakukan dengan cara: 1. Membatasi aktivitas fisik. Latihan/aktivitas akan meningkatkan beban jantung dan juga meningkatkan kebutuhan jaringan terhadap oksigen. Pada pasien yang fungsi jantungnya mengalami tekanan, latihan dapat menimbulkan kongesti. Karena itu maka kerja jantung harus diturunkan dengan istirahat atau membatasi aktivitas hewan. 2. Membatasi masukan garam. Pada pasien yang mengalami CHF, aktivitas renin-angiotensi-aldosteron mengalami peningkatan. Hal tersebut akan merangsang ginjal untuk menahan natrium dan air sehingga ekskresi natrium dan air akan berkurang. Bila ditambah pakan yang mengandung natrium tinggi maka retensi air dan peningkatan volume darah akan semakin parah, dan pada gilirannya akan menimbulkan kongesti dan edema. 3. Menghilangkan penyebab atau faktor pemicu gagal jantung.Menghilangkan penyebab gagal jantung merupakan tindakan yang paling baik. Malformasi kongenital seperti patent ductus arteriosusdapat diperbaiki dengan cara operasi dengan tingkat keberhasilan yang tinggi. Ballon valvuloplasti telah berhasil digunakan pada anjing untuk menangani stenosis katup pulmonik. CHF yang disebabkan oleh penyakit perikardium dapat ditangani sementara atau permanen dengan perikardiosentesis atau perikardektomi. Tetapi sayangnya hal tersebut sering tidak mungkin dilakukan dengan berbagai alasan. 4. Menurunkan preload. Karena adanya retensi garam dan air oleh ginjal pada pasien CHF, maka preload jantung pada umumnya tinggi. Hal tersebut akan mengakibatkan kongesti pada sistem sirkulasi. Oleh karena itu, penurunan preloadakan menurunkan kongestidan edema pulmoner, yang akan memperbaiki pertukaran gas pada paru-paru pada kasus CHF jantung kiri, dan menurunkan kongesti vena sistemik dan asites pada CHF jantung kanan. Preload ditentukan oleh volume cairan intravaskular dan tonus vena sistemik. Diuretik merupakan terapi utama untuk hewan yang mengalami edema pulmoner, efusi pleura,atau asites. Dari beberapa tipe yang tersedia, diuretik loop (misalnya furosemid, bumetanid) paling umum digunakan. Dosis dan frekuensi penggunaan furosemid tergantung pada keparahan kongesti pulmoner atau asites, dan juga derajat kesukaran pernapasan. Untuk edema pulmoner akut, furosemid dapat digunakan dengan dosis 2-4 mg/kg secara IV atau IM, tetapi pada kucing dosisnya tidak lebih dari 2 mg/kg, pemberiannya diulang setiap 6-8 jam. Furosemid secara oral diberikan apabila tanda klinik seperti dispne telah mereda, biasanya 24 jam setelah pengobatan. Dosis furosemid secara oral pada anjing adalah 1-4 mg/kg diberikan dua kali sehari, dan pada kucing adalah 1 mg/kg sekali atau dua kali sehari. Pada pasien CHF kronis (tekanan respirasi ringan karena edema pulmoner minimal dan batuk kronis karena kardiomegali jantung kiri), tidak diperlukan pemberian furosemid secara IV, penanganan dapat diawali dengan furosemid secara oral. Penggunaan diuresis secara ekstensif dapat mengaktifkan renin-angiotensin aldosterone system (RAAS). Karena itu, tidak direkomendasikan penggunaan diuresis secara monoterapi, dan dosisnya diminimalkan untuk menghindari aktivasi RAAS, dehidrasi, azotemia, dan hipokalemia. Dosis diuresis dapat dikurangi hingga 50% bila diuresis digunakan bersama dengan angiotensin converting enzyme inhibitors(ACE-I). 5. Meningkatkan kontraktilitas. Obat-obat inotropik positif meningkatkan kontraktilitas miokardium dan terutama digunakan pada pasien yang mengalami kardiomiopati terkembang atau penyakit katup lanjut yang disertai gagal miokardium. Digitalis glikosid (digoksin, digitoksin) adalah agen inotropik positif yang umum, dan digoksin penggunaannya paling umum. Digoksin (0,005 mg/kg PO setiap 12 jam) digunakan pada pasien yang mengalami fibrilasi atrium, gagal miokardium, atau CHF kronis. Ada beberapa faktor yang harus dipertimbangkan sebelum menggunakan digitalis glikosid, yakni ukuran tubuh hewan, fungsi ginjal, konsentrasi elektrolit pada serum, fungsi tiroid, dan interaksi obat. Efek samping digitalis glikosid adalah depresi, anoreksia, muntah, diare, aritmia dan gangguan konduksi jantung. 6. Menurunkan afterload. Istilah afterloadmengacu pada tahanan ejeksi darah ventrikel yang ditentukan oleh tingkat konstriksi arteri perifer/tahanan vaskular sistemik. Pada kasus CHF, aktivasi saraf simpatetik dan sistem renin-angiotensin-aldosteron menyebabkan kontriksi arteri yang akan menghalangi fungsi pemompaan jantung dan meningkatkan beban jantung. Vasodilator arteri menurunkan tahanan vaskular sistemik sehingga menurunkan beban jantung. Golongan utama dari vasodilator yang digunakan untuk obat veteriner adalah ACE-I (misalnya pimobendan), calcium channel blockers (misalnya amlodipine), balanced nitrate vasodilators (misalnya nitroprusside), dan “direct-acting” arteriodilators seperti hydralazine. 7. Penanganan umum. Meningkatkan konsentrasi oksigen yang diinspirasi ditujukan pada pasien yang mengalami edema pulmoner akut. Pada pasien yang menunjukkan efusi pleura dapat dilakukan torakosentesis. Tindakan ini dapat meringankan dispne dan tidak ada efek samping yang nyata. Pada anjing yang menderita CHF kanan yang parah, asites dapat menimbulkan dispnoe yang cukup parah. Abdominosentesis merupakan cara yang aman dan efektif untuk menangani asites dan dapat dilakukan secara teratur (setiap 2-4 minggu bila dibutuhkan). Morfin sulfat (0,05-0,5 mg/kg bobot badan secara IV atau IM) dapat dipertimbangkan penggunaannya pada anjing yang menderita edema pulmoner yang parah dan akut, karena aksi narkotik akan mengurangi kegelisahan pasien dan menurunkan kerja pernapasan. 4.5 Pemeriksaan Lanjutan Untuk membantu diagnosa dilakukan pemeriksaan –pemeriksaan : a. Electrocardiogram (ECG), terutama untuk mendiagnosa bermacammacam arrhytmia jantung dan pembesaran jantung b. Phonocardiogram (PCG), untuk mendiagnosa adanya suara tambahan pada jantung atau reduplikasi. c. Pemeriksaan radiography, untuk mendiagnosa adanya pembesaran jantung. d. Kateterisasi jantung dan Angiocardiography. Kateterisasi dilakukan untuk mengukur tekanan darah di dalam jantung dan pembuluh darah serta mengukur kadar oksigen di dalam ruang-ruang jantung dan pembuluh darah. Dengan Angiocardiografi dapat didiagnosa adanya shunt, kerusakan pada septum atrium atau ventrikel, kelainan katub dan sebagainya. e. Pemeriksaan darah : untuk menemukan adanya Microfilaria dari Dirofilaria immitis. 4.6 Differential diagnosis Beberapa gejala yang ditimbulkan mungkin dapat menyerupai beberapa penyakit lain, yakni : 1. Pneumonia 2. Asma 3. Emboli paru (pulmonary embolism) 4. Intestinal lung disease BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan Congestive Heart Failure (CHF) merupakan sindrom klinik yaitu terjadinya gangguan pada jantung ketika memompa darah yang mengakibatkan penurunan ejeksi ventrikel dan gangguan peredaran darah balik pada vena. Hal ini disebut dengan kejadian gagal jantung, dimana jantung tidak dapat memompa darah secara memadai untuk memenuhi kebutuhan jaringan. Congestive Heart Failure menyebakan komplikasi berupa edema pulmonum dan ascites, hipertropi jantung, kelemahan dan atropi otot-otot tubuh, oleh karena itu dapat dimungkinkan bahwa penyakit ini tidak dapat disembuhkan. Gejala klinik pada gagal jantung dapat merupakan akibat dari akumulasi cairan, curah jantung rendah, atau perubahan pada otot skeletal. Anjing penderita CHF biasanya diperiksakan pada dokter hewan karena batuk, dispnoe, intoleransi latihan, pembesaran abdominal, atau sinkop. Penanganan penyakit ini hanya dapat berupa perbaikan kualitas dan kuantitas hidup pada penderita, dengan terapi yang bersifat suportif dan pengaturan jenis pakan diet yang baik. Pemeriksaan lanjutan untuk penyakit gagal jantung pada anjing diantaranya adalah Electrocardiogram (ECG), Phonocardiogram (PCG), radiography, kateterisasi jantung dan Angiocardiography, serta pemeriksaan darah. DAFTAR PUSTAKA Anonim,2009. http://books.google.co.id/books? id=driJ1awa180C&pg=PA1&lpg=PA1&dq=dog+handling+and+restraint&s ource=bl&ots=bC5OBK4rQH&sig=yTJGkYOu3beqxAy33hFUrPZ3OKs& hl=id&ei=dfAbSu6LC4-PkAWcHU&sa=X&oi=book_result&ct=result&resnum=10#PRA1PT1,M1.26/5/2009. 9:00:33 PM Atkins, C. E. 2007. Advances in the management of heart failure. In Proceedings of the Southern European Veterinary Conference and Boddie., G.F. 1962. Diagnostic Methods in Veterinary Medicine. Philadelphia: J.B. Lippincott Company. Congreso Nacional AVEPA. Barcelona, Spain. Boswood, A. 2008. Heart failure management; the use of diuretics vasodilators and inotropes. In Proceeding of the European Veterinary Conference Voorjaarsdagen. 24-26 April 2008. Amsterdam, Netherlands. Elices-Mínguez, R. 2009. Cardiovascular diseases: heart failure. In Proceeding of the International Congress of the Italian Association of Companion Animal Veterinarians. 29-31 Mei 2009. Rimini, Italy. 9 Ettinger, S. J. dan E. C. Feldman. 2005. Textbook of Veterinary Internal Medicine Vol. 2. 6thEd. St. Louis, Missouri: Elsevier Inc. Fox, P. R. 2007. Advances in heart failure management. In Proceedings of the North American Veterinary Conference. Orlando, Florida.Fox, P. R. 2007. Critical care cardiology. In Proceedings of the World Small Animal Veterinary Association. Sydney, Australia. Kahn, C. M. dan S. Line. 2008. The Merck Veterinary Manual (E-book). 9th Ed. Whitehouse Station, N.J., USA: Merck and Co., Inc. Keperawatan Ners. 2013. Askep Gagal Jantung Kongestif. diakses at wordpress, 21 september 2013 Kumpuan Askep. 2013. Asuhan Keperawatan Gagal Jantung Congestif Heart Failure Chf Dengan Nanda NOC NIC. Diaskes at blogspot, 12 juni 2011 Robbins, Kumar. 1995. Patologi II Edisi 4, EGG; Jakarta Rock., A. 2007. Veterinary Pharmakologi. London: Elsecler Lorenz, M. D., L. M. Cornelius, dan D.C. Ferguson. 1997.Small Animal Medical Therapeutics. Philadelphia: Lippincott Raven Publisher. Sibuea, W. H., M. M. Panggabean, dan S.P. Gultom. 2005. Ilmu Penyakit Dalam. Cetakan Kedua. Jakarta: Rineka Cipta.

Judul: Makalah Fix

Oleh: Istiana Hidayati


Ikuti kami