Tugas Final

Oleh Puji Razak

209,3 KB 7 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Tugas Final

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Penyampaian berbagai berita, pikiran, pengalaman, gagasan, pendapat, perasaan, keinginan, dan sebagainya kepada orang lain akan selalu berkaitan dengan bahasa. Salah satu bagian dari bahasa yaitu wacana. Segala sesuatu yang terjadi dalam masyarakat akan terangkum dalam wacana. Peranan wacana dalam peristiwa komunikasi sebagai rekaman kebahasaan. Melalui wacana, kita dapat mengetahui situasi masyarakat luas misalnya nilai-nilai, ideologi, emosi, kepentingan-kepentingan, kekuasaan, dan lain-lain. Wacana mengenai masyarakat tidak lepas dengan adanya ideologi gender. Pemikiran wanita dan pria sangat berbeda. Pemikiran wanita terkadang dipandang sebelah mata oleh kaum pria. Sekarang ini, pemikiran para wanita sudah berkembang, namun masih ada segelintir wanita yang masih dalam arus pemikiran pria, misalnya wanita tidak pantas untuk bersekolah tinggi. Fenomena tersebut dapat dibuktikan dalam novel Lontara Rindu karya S. Gegge Mappangewa menuliskan tiga karakter wanita yang berbeda-beda. Dengan analisis wacana dapat dilihat sikap wanita mengenai kehidupan dalam novel Lontara Rindu karya S. Gegge Mappangewa. Oleh karena itu, dalam makalah ini akan dibahas mengenai Feminisme dalam Novel Lontara Rindu karya S. Gegge Mappangewa: Analisis Wacana. 1 1.2. Rumusan Masalah Berdasarkan pemaparan latar belakang tersebut, dapat dirumuskan beberapa permasalahan yang akan dibahas dalam makalah ini, sebagai berikut: 1.2.1. Bagaimana karakter wanita dalam novel Lontara Rindu karya S. Gegge Mappangewa? 1.2.2. Bagaimana sikap wanita terhadap kehidupan dalam novel Lontara Rindu karya S. Gegge Mappangewa? 1.3. Tujuan Penulisan Tujuan penulisan makalah ini, sebagai berikut ini. 1.3.1. Mendeskripsikan karakter wanita dalam novel Lontara Rindu karya S. Gegge Mappangewa. 1.3.2. Mendeskripsikan sikap wanita terhadap kehidupan dalam novel Lontara Rindu karya S. Gegge Mappangewa. 1.4. Manfaat Penulisan Manfaat penulisan makalah ini, sebagai berikut ini. 1.4.1. Manfaat teoritis yaitu memberikan pengetahuan kepada penulis mengenai analisis wacana dikaitkan dengan kajian feminisme. 1.4.2. Manfaat praktis yaitu menunjukkan kepada penulis novel bahwa karyanya merupakan sumber data yang bagus untuk diteliti oleh orang-orang yang bergelut dalam dunia sastra dan linguistik, dan makalah ini dapat menjadi bahan referensi pada penelitian selanjutnya. 2 BAB II LANDASAN TEORI 2.1. Analisis Wacana Analisis wacana adalah disiplin ilmu yang berusaha mengkaji penggunaan bahasa yang nyata dalam tindak komunikasi. Menurut Stubbs (1983:1), analisis wacana merupakan suatu kajian yang meneliti atau menganalisis bahasa yang digunakan secara alamiah, baik dalam bentuk tulis maupun lisan. Stubbs menjelaskan bahwa analisis wacana menekankan kajian penggunaan bahasa dalam konteks sosial, khususnya dalam interaksi antarpenutur. Data dalam analisis wacana selalu berupa teks, baik teks lisan maupun teks lisan. Teks mengacu pada bentuk transkripsi rangkaian kalimat atau ujaran. Analisis wacana pada umumnya bertujuan untuk mencari keteraturan bukan kaidah, maksudnya keteraturan berkaitan dengan keberterimaan di masyarakat. (Rani, dkk, 2006: 9-10) 2.2. Antropologi Linguistik Antropologi merupakan ilmu tentang manusia, khususnya tentang asal-usul, aneka warna bentuk fisik, adat istiadat, dan kepercayaannya pada masa lampau. Ilmu linguistik sebagai ilmu yang mengkaji bahasa sangat berkaitan dengan antropologi karena bahasa merupakan bagian dari manusia. Antropologi linguistik membahas mengenai hubungan antara kosakata dan nilai budaya bersifat multidireksional untuk menguak lingkungan fisik 3 sosial di mana penutur suatu bahasa bermukim. Batasan nilai mengacu pada minat kesukaan, pilihan, tugas, kewajiban, agama, kebutuhan, keamanan, hasrat, keengganan, atraksi, perasaan dan orientasi seleksinya. Nilai-nilai budaya mencakup mentalitas kerja, persepsi, sikap dan perilaku, dan etika dan moral. (Oktavianus, 2006: 112-113) 2.3. Feminisme Feminisme atau perjuangan feminis muncul atas kesadaran tentang hakhak demokrasi serta ketidakadilan terhadap hak-hak dasar kehidupan kaum perempuan. Feminisme adalah paham perempuan yang berupaya memperjuangkan hak-hak kaum perempuan sebagai kelas sosial. Feminin dilihat sebagai aspek perbedaan psikologi dan kultural dari maskulin. Pemunculan feminisme sebagai disiplin ilmu dipelopori oleh antropologi. Feminisme lahir karena adanya ideologi gender. Permasalahan gender yaitu berkaitan dengan kelas, hubungan sosial atau kekuasaan dan perubahan-perubahan dalam cara-cara produksi, dan memfokuskan diri pada “kosntruksi sosial gender yang diekspresikan dalam peran keibuan, kekerabatan, dan perkawinan. (Mc Gee dan Warms dalam Darma, 2009: 161) 4 BAB III PEMBAHASAN 3.1. Identifikasi Wanita dalam Novel Lontara Rindu Karya S. Gegge Mappangewa Novel Lontara Rindu karya S. Gegge Mappangewa mengisahkan kehidupan masyarakat di desa Pakka Salo, kabupaten Sidrap. Cerita dalam novel ini sangat kompleks merangkum segala masalah sosial yaitu pendidikan, adat istiadat, kepercayaan, dan gender. Cerita ini terkait dengan kebudayaan bugis yang ada di kabupaten Sidrap. Salah satu hal yang menarik dalam novel ini adalah sikap seorang wanita dalam menanggapi masalah kehidupan. Novel ini menampilkan tiga tokoh wanita. Adapun ketiga wanita yang diceritakan dalam novel Lontara Rindu karya S. Gegge Mappangewa, sebagai berikut ini. 3.1.1. Bu Maulindah Tokoh wanita yang pertama kali diceritakan dalam novel ini adalah Bu Maulindah. Bu Maulindah seorang guru di desanya yang terpencil dan tidak pernah bercita-cita menjadi seorang guru, seorang yang bercita-cita tinggi, dan penghayal. Pengenalan tokoh bu Maulindah dapat dilihat pada penggalan teks novel, berikut ini. a. “Guru berambut sebahu itu diberi amanah mengajar IPS. Padahal ia seharusnya bersyukur karena mengajar di SMP, kalau mengajar di SD maka dia harus mengajarkan semua mata pelajaran kecuali Pendidikan Jasmani (Penjas) dan 5 Pendidikan Agama Islam (PAI).” (Lontara Rindu, 2012: 12) Dari penggalan teks wacana tersebut dapat diketahui ciri fisik dari tokoh dan sifat dari tokoh tersebut. Penentuan ciri fisik ini dituliskan secara langsung oleh penulis dalam bentuk paragraf. Secara langsung berarti tidak melalui percakapan tokoh lain ataupun ucapan tokoh itu sendiri, tetapi penulis menuliskan langsung ciri-ciri tokoh bu Maulindah di dalam karyanya. b. “Kenapa yah, bu Maulindah sering sekali mengkhayal?” Irfan membuka cerita setengah berbisik. Takut Bu Maulindah tiba-tiba masuk kelas.” (Lontara Rindu, 2012: 18) Dari penggalan teks wacana tersebut dapat diketahui ciri-ciri tokoh bu Maulindah yaitu seorang penghayal. Melalui percakapan Irfan tentang tingkah laku bu Maulindah merupakan penggambaran ciri tokoh secara tidak langsung karena melalui dialog antartokoh. c. “Iya ke Jepang. Dia akan melanjutkan kuliah S2 di sana. Dia lulus beasiswa.” (Lontara Rindu, 2012: 126) Dari penggalan teks wacana tersebut dapat diketahui bahwa bu Maulindah memiliki cita-cita yang tinggi yaitu bersekolah di luar negeri. Penunjukan tersebut melalui dialog antara pak Amin dan Irfan sewaktu ingin menemui bu Maulindah sebelum ia ke kota 6 Makassar. Penggambaran ciri tokoh bu Maulindah ditulis secara tidak langsung karena melalui dialog antartokoh. Ketiga penjelasan tentang penggalan tersebut, ciri tersebut menggambarkan ciri wanita modern yang memiliki pikiran terbuka untuk menuntut ilmu setinggi-tingginya. 3.1.2. Halimah Tokoh wanita kedua yang diceritakan dalam novel ini adalah Halimah. Halimah seorang gadis desa yang cantik dan tidak berpendidikan tinggi. Pengenalan tokoh Halimah dapat dilihat pada penggalan teks novel, berikut ini. “Di mata semua pemuda Pakka Salo, Halimah adalah gadis sempurna. Pemalu dan lebih banyak menunduk saat berjalan. Cantik, meski untuk penilaian yang satu ini, ungkapan ‘cantik itu relatif’ sangat-sangat berlaku. Masalahnya, tidak semua orang yang melihat halimah akan mengakuinya sebagai gadis cantik. Di samping karena dia sering menunduk dan berkesan pemalu, juga karena Halimah tidak seperti gadis lain yang biasa mengikuti tren-tren bintang sinetron yang berbaju dan bercelana harus sepadan. Dia selalu berpenampilan seadanya. Jangan mimpi akan melihat Halimah dengan celana jins ketat seperti gadis seusianya di Pakka Salo. Dia lebih pede dengan mengenakan rok, bahkan terkadang makkawi (mengaitkan ujung sarung di pinggang dan ujung yang satunya menjuntai 7 hingga ke mata kaki) sarung batik. Jangan harap akan menemukan Halimah dengan balutan baju ketat. tidak mungkin!” (Lontara Rindu, 2012: 78) Dari penggalan tersebut dapat diketahui penggambaran tentang tokoh Halimah dituliskan secara langsung oleh penulis novel tersebut. Ia menuliskan ciri-ciri fisik dan tingkah laku kebiasaan Halimah misalnya dia cantik, tingkah lakunya selalu menundukkan kepalanya jika bertemu dengan pria. Ciri-ciri tersebut menggambarkan ciri wanita di desa. Pada kenyataannya gadis di desa masih banyak yang berperilaku seperti Halimah. 3.1.3. Nadia Tokoh ketiga yang diceritakan dalam novel ini adalah Nadia. Nadia seorang wanita berjilbab, religius, istri yang baik. Pengenalan tokoh bu Maulindah dapat pada penggalan teks novel, berikut ini. “Wanita itu bernama Nadia, istri kedua ayahnya. Wanita itu menyeka air matanya dengan ujung jilbab. Ketika menyadari kedatangannya, Vito hanya bisa menunduk. Nadia menghampiri.” (Lontara Rindu, 2012: 322) Dari penggalan teks tersebut dapat diketahui penggambaran mengenai tokoh Nadia dituliskan secara langsung oleh penulis novel seperti yang tertera dalam penggalan tersebut. Nadia yang memakai jilbab menandakan ciri wanita muslimah sehingga kita dapat mengetahui secara langsung bahwa Nadia beragama Islam. Wanita 8 Islam memberikan ciri agamanya dengan memakai jilbab untuk menutupi auratnya. 3.2. Karakter Wanita dalam Novel Lontara Rindu Karya S. Gegge Mappangewa Karakter wanita dalam novel Lontara Rindu karya S. Gegge Mappangewa sangat dipengaruhi oleh lingkungan tempat tinggalnya, misalnya pendidikan, agama, keluarga, dan adat istiadat. Pendeskripsian karakter tokoh wanita dapat diuraikan berikut ini. 3.2.1. Pendidikan Dalam hal penentuan karakter seseorang dapat dijelaskan melalui pendidikan. Semakin tinggi pendidikan seseorang akan membentuk karakter yang lebih baik daripada yang tidak berpendidikan. Tetapi terkadang pula pendidikan yang merusak karakter seseorang, jika tidak dikeseimbangkan dengan ilmu agama. Pengaruh pendidikan sangat tinggi terhadap pembentukan karakter seseorang. Pengaruh pendidikan juga terlihat pada karakter ketiga tokoh wanita dalam novel Lontara Rindu karya S. Gegge Mappangewa, sebagai berikut ini. a. Karakter Bu Maulindah Bu Maulindah adalah seorang wanita berpendidikan tinggi dan seorang guru sehingga membentuk karakter menjadi orang yang mampu mendidik dan memberikan contoh yang baik kepada 9 orang lain. Penggambaran karakter bu Maulindah dapat dilihat pada penggalan teks berikut ini. “Bu Maulindah bercerita, sebelum turun ke sawah pun, orang-orang Bugis dulu menggelar acara tudang sipulung. Di acara ini, mereka membuka lontara untuk menentukan hai pertama turun ke sawah.” (Lontara Rindu, 2012: 4) “Saya juga! saya berharap, kamu jangan terkurung di Bukkere dan Pakka Salo. Dunia ini sangat luas, Fan! Kita bisa membuat sayap sendiri untuk terbang. Jangan takut bermimpi! Silakan mengkhayal yang tinggi-tinggi. Khayalan itu yang akan membantumu untuk berpikir cara menumbuhkan sayap-sayapmu. Jangan takut terbang!” (Lontara Rindu, 2012: 126-127) b. Karakter Halimah Halimah, seorang gadis desa yang berpendidikan sampai di SD sehingga membentuk karakter yang berpikiran pendek. Bepikiran pendek maksudnya tidak memikirkan baik buruk yang ditimbulkan oleh perbuatannya. Penggambaran karakter Halimah dapat dilihat pada penggalan teks berikut ini. “Sementara dirinya? hanya lulusan SD. Ayahnya tak mengizinkannya ke kota kecamatan untuk lanjut SMP, sementara di kampungnya, Pakka Salo, belum ada SMP. 10 Menurut, ayahnya perempuan tidak usah sekolah.” (Lontara Rindu, 2012: 48) “Berlakulah pepatah Bugis, lebih baik menggembalai seribu ekor kerbau daripada menjaga satu anak gadis. Halimah selalu punya cara untuk pergi dari rumah demi bertemu dengan Ilham.” (Lontara Rindu, 2012: 83) c. Karakter Nadia Penggambaran karakter Nadia yang dipengaruhi oleh pendidikan secara tersirat. Nadia seorang wanita yang memiliki wawasan luas mengenai agama Islam sehingga mampu mengubah keyakinan suaminya masuk ke agama Islam. Penggambaran karakter Nadia dapat dilihat pada penggalan teks berikut ini. “Perjalanan dengan hidupnya Nadia, kemudian wanita berjilbab mempertemukannya yang kemudian membukakan pintu hidayah untuknya. Terlalu mudah memang karena Allah-lah yang membuka pintu hidayah itu sebenarnya. Nadia hanyalah perantara.” (Lontara Rindu, 2012: 324) 3.2.2. Agama Agama mengajarkan segala kebaikan sehingga seseorang yang mendalami ilmu agama akan memikili moral yang baik pula ataupun sebaliknya seseorang yang tidak mendalami ilmu agama, maka moralnya pun tidak baik. Sama halnya pendidikan, agama juga 11 memiliki pengaruh pada pembentukan karakter seseorang. Adapun pembentukan karakter pada tiga tokoh wanita dalam novel Lontara Rindu karya S. Gegge Mappangewa yang dipengaruhi oleh agama, sebagai berikut ini. a. Karakter Bu Maulindah Bu Maulindah beragama Islam sehingga karakter bu Maulindah menampilkan seorang wanita yang biasa saja dan tidak mensyukuri nikmat yang diberikan kepadanya. Meskipun beragama Islam, namun ia tidak memakai jilbab. Penggambaran karakter bu Maulindah dapat dilihat pada penggalan teks berikut ini. “Guru berambut sebahu itu diberi amanah mengajar IPS. Padahal ia seharusnya bersyukur karena mengajar di SMP, kalau mengajar di SD maka dia harus mengajarkan semua mata pelajaran kecuali Pendidikan Jasmani (Penjas) dan Pendidikan Agama Islam (PAI).” (Lontara Rindu, 2012: 12) b. Karakter Halimah Halimah seorang wanita yang beragama Islam. Dia merupakan wanita yang sholeha. Penggambaran karakter Halimah dapat dilihat pada penggalan teks berikut ini. “Dia tak akan mau meninggalkan Islam hanya karena cinta. Dari kecil ayahnya mendidiknya ke masjid. Bahkan, 12 meskipun beberapa anggota keluarganya yang Muslim biasa ke Pammasetau melepas nazar, tapi ayahnya dari kecil mendidiknya untuk tidak bergantung kepada siapa pun kecuali kepada Allah. Dia bisa mengkhianati ayahnya dalam urusan cinta, tapi dalam urusan agama dia tidak perlu berpikir dua kali untuk mengatakan “TIDAK”.” (Lontara Rindu, 2012: 185) c. Karakter Nadia Sama halnya dengan Halimah, Nadia juga wanita yang sholeha. Contoh kecilnya ia memakai jilbab dan mampu memasukkan suaminya ke agama Islam. Penggambaran karakter Nadia dapat dilihat pada penggalan teks berikut ini. “Ayahmu masuk Islam setelah menikah dengan saya. Vino tentu saja ikut.” (Lontara Rindu, 2012: 323) 3.2.3. Keluarga Keluarga memiliki peranan penting dalam perkembangan karakter seseorang. Seseorang yang tidak memiliki orang tua dan memiliki orang tua sangat berbeda pembentukan karakter pada diri seseorang. Seseorang yang sering diberi nasihat tentang kehidupan oleh orang tuanya akan lebih berhati-hati dalam bertindak. Oleh karena itu, keluarga memiliki pengaruh terhadap pembentukan karakter pada diri seseorang. Adapun pembentukan karakter pada tiga tokoh wanita 13 dalam novel Lontara Rindu karya S. Gegge Mappangewa yang dipengaruhi oleh keluarga, sebagai berikut ini. a. Karakter Bu Maulindah Karakter bu Maulindah yang dipengaruhi oleh keluarga yaitu seorang wanita yang kuat berjuang demi cita-citanya. Adanya bantuan moril dan materi yang dilakukan oleh orang tua bu Maulindah sehingga bu Maulindah dapat bersekolah hingga perguruan tinggi. Penggambaran karakter bu Maulindah dapat dilihat pada penggalan teks berikut ini. “Sebagai gadis Pakka Salo, bu Maulindah sebenarnya jauh berbeda dengan gadis-gadis ‘pribumi’ yang lain. Dia perempuan pertama sekaligus perempuan Pakka Salo satusatunya yang bisa bergelar sarjana. Untuk merebut gelar itu, bukan hanya tanah warisan orang tua yang harus dia korbankan, tapi juga umur. Biasanya, gadis-gadis di kampungnya hanya tamat SD, setelah itu menunggu masa balig untuk kemudian dinikahkan. Beberapa hanya lulus SMP, dan jarang sekali yang bisa menamatkan SMA.” (Lontara Rindu, 2012: 100) b. Karakter Halimah Halimah adalah seorang ibu yang sangat menyayangi anaknya. Menjadi seorang ibu mengubah karakter Halimah menjadi lebih 14 dewasa. Penggambaran karakter Nadia dapat dilihat pada penggalan teks berikut ini. “Meski masih takjub dengan kejutan mamanya, meski hidangan kari ayam telah siap disantapnya, Vito lebih memilih memeluk mamanya. Dia tidak berani bertanya, meski dia sadar menenggelamkan mamanya tubuh dalam menangis pelukan saat Vito mamanya.” (Lontara Rindu, 2012: 238) c. Karakter Nadia Nadia seorang istri sekaligus ibu tiri yang baik. Memberikan segenap perhatian dan kasih sayang kepada keluarga barunya. Penggambaran karakter Nadia dapat dilihat pada penggalan teks berikut ini. “Kisah berlanjut terus. Nadia melanjutkannya sembari duduk di samping suaminya sambil mengelus rambutnya. Vito ikut duduk, dia memilih memegang tangan ayahnya seerat mungkin. Di sampingnya, ada Vino yang tertunduk mengiyakan kisah yang dilantunkan mama tirinya.” (Lontara Rindu, 2012: 323) 3.2.4. Adat istiadat Adat istiadat setiap daerah berbeda-beda. Adat istiadat merupakan kebiasaan turun-temurun yang dilakukan oleh masyarakat pada suatu daerah. Kebiasaan-kebiasaan masyarakat akan memengaruhi 15 perkembangan karakter seseorang. Adapun pembentukan karakter pada tiga tokoh wanita dalam novel Lontara Rindu karya S. Gegge Mappangewa yang dipengaruhi oleh adat istiadat, sebagai berikut ini. a. Karakter Bu Maulindah Bu Maulindah terus bersekolah meskipun gadis-gadis di desanya tidak melanjutkan sekolahnya hanya sampai SD kemudian menikah. Pemikiran tersebut dibuang jauh oleh bu Maulindah, ia tetap melanjutkan sekolahnya. Ia berkarakter penerobos masalah pendidikan kaum perempuan. Penggambaran karakter bu Maulindah dapat dilihat pada penggalan teks berikut ini. “Sebagai gadis Pakka Salo, bu Maulindah sebenarnya jauh berbeda dengan gadis-gadis ‘pribumi’ yang lain. Dia perempuan pertama sekaligus perempuan Pakka Salo satusatunya yang bisa bergelar sarjana. Untuk merebut gelar itu, bukan hanya tanah warisan orang tua yang harus dia korbankan, tapi juga umur. Biasanya, gadis-gadis di kampungnya hanya tamat SD, setelah itu menunggu masa balig untuk kemudian dinikahkan. Beberapa hanya lulus SMP, dan jarang sekali yang bisa menamatkan SMA.” (Lontara Rindu, 2012: 100) 16 b. Karakter Halimah Karakter Halimah terbentuk oleh pengaruh adat istiadat gadis bugis di desanya. Ia wanita yang sopan dan santun. Penggambaran karakter Halimah dapat dilihat pada penggalan teks di bawah ini. “Di mata orang-orang tua Pakka Salo, Halimah adalah gadis yang tak berkekurangan. karena memang, orangorang tua di kampung Bugis hanya menilai gadis dari sikap. Jika dia sudah penurut pada orang tua, itulah gadis yang sempurna, karena tidak mungkin ada orang tua yang mau melihat anaknya sengsara atau menanggung malu.” (Lontara Rindu, 2012: 79) c. Karakter Nadia Nadia yang merupakan wanita Kalimantan dan seorang muslim, memiliki sopan santun dalam bertindak dan bertutur. Penggambaran karakter Nadia dapat dilihat pada penggalan teks di bawah ini. “Maaf, jika saya punya cara lain untuk menjemputmu ke sini. Saya kasihan melihat ayahmu. Saya harus memenuhi janjiku padanya untuk mempertemukanmu dengannya. telah dua bulan ayahmu terbaring di situ.Sebelum koma, dia selalu menyebut namamu, Vito! Saya berjanji untuk mempertemukanmu.” (Lontara Rindu, 2012: 322) 17 3.3. Sikap Wanita Terhadap Kehidupan dalam Novel Lontara Rindu karya S. Gegge Mappangewa Dari pendeskripsian karakter tokoh wanita dalam novel Lontara Rindu karya S. Gegge Mappangewa dapat diketahui cara bersikap tokoh tersebut dalam menghadapi masalah hidup. Adapun sikap-sikap tersebut dapat dideskripsikan berikut ini. 3.3.1. Sikap hidup Bu Maulindah Permasalahan yang dialami oleh bu Maulindah ketika harapan dan cita-cita tidak sesuai dengan kenyataan hidup yang diterimanya. Permasalahan yang pokok dihadapi bu Maulindah adalah pekerjaan. Ia menginginkan pekerjaan kantoran di kota Makassar, namun ternyata ia bekerja di desa kelahirannya yang sangat terpencil yaitu desa Pakka Salo. Ia juga mengimpikan menikah seperti temantemannya, namun jodoh tak kunjung datang. Adapun penggambaran mengenai permasalahan hidup yang dialami oleh tokoh bu Maulindah, antara lain: a. “Bu Maulindah tak pernah bermimpi untuk jadi guru. Kalaupun kenyataannya kini ia dia berdiri di depan kelas, itu hanyalah suratan tkdir. dia sangat berharap apa yang digelutinya kini adalah mimpi. kadang ia ingin berlari, tapi berlari ke mana? semua perusahaan di Makassar yang dia kirimi surat lamaran, tak satupun yang memanggilnya, apalagi memberikannya satu kursi untuk kerja. Sebagai pelarian, dia 18 haru membawa pulang ijasah sarjana ekonominya dan menjadi guru honorer di kampung halaman.” (Lontara Rindu, 2012: 9) Dari penggalan tersebut dapat diketahui bahwa tokoh bu Maulindah dalam menyikapi permasalahan yang dihadapinya yaitu seorang wanita yang tak kenal putus asa. Bu Maulindah tetap mencari pekerjaan,walaupun tidak diterima di perusahaan. Bu Maulindah pulang ke kampung halamannya dan bekerja sebagai guru honorer. Ia tidak ingin menyia-nyiakan ilmu yang diperolehnya dengan menjadi pengangguran. Meskipun gaji yang sangat sedikit dan bahkan tidak digaji karena masih menjadi guru honorer, ia tetap menjalankan tugasnya dengan mengajarkan mata pelajaran IPS di SMP Pakka Salo, Kabupaten Sidrap. Sikap tokoh wanita seperti bu Maulindah patut dicontohi oleh kaum perempuan sehingga perempuan tidak hanya berpangku tangan dan mengharapkan penghidupan dari kaum pria. Selain itu, perempuan juga dapat mendidik generasi muda sehingga pandangan bahwa perempuan hanya bekerja di dapur tidaklah demikian adanya dan itu dibuktikan oleh tokoh bu Maulindah. b. “Irfan tersenyum-senyum sendiri membayangkan syarat lelaki idaman Bu Maulindah yang pernah dibaca beramai-ramai di diari Bu Maulindah. Dia mendambakan lelaki Pakka Salo asli yang lebih tua satu tahun, dua bulan, tiga pekan, dua jam, lima puluh dua menit, empat detik. 19 Ternyata umur Irfan yang masih belasan belum lihai dalam urusan cinta. Syarat itu sebenarnya hanyalah simbol, bahwa di kampungnya, Bu Maulindah tak punya lelaki yang bisa menambat hatinya. Itu bukan kesombongan sebenarnya. Adalah wajar bagi Bu Maulindah yang pernah tinggal kurang lebih lima tahun di Makassar bergaul dengan orang-orang yang berpendidikan, dan berpenampilan rapi. Lalu, saat pulang kampung tiba-tiba harus melihat lagi orang-orang yang lebih sering berselempang sarung, jadi sangat wajar jika ia menutup pintu hati untuk semua lelaki di kampungnya.” (Lontara Rindu, 2012: 123-124) Penggalan teks tersebut menunjukkan bahwa sikap terhadap masalah jodoh bagi wanita berpendidikan tinggi sangat berhatihati. Seorang wanita yang berpendidikan tinggi biasanya mencari pasangan hidupnya yang lebih bagus maupun setara dengan dirinya karena sebagai calon kepala rumah tangga harus bisa mengbimibing istrinya bukan seorang istri yang membimbing suaminya. Tindakan tokoh bu Maulindah mewakili sikap perempuan yang berpendidikan tinggi dalam mencari pasangan hidup. c. “Sebagai gadis Pakka Salo, bu Maulindah sebenarnya jauh berbeda dengan gadis-gadis ‘pribumi’ yang lain. Dia perempuan pertama sekaligus perempuan Pakka Salo satu- 20 satunya yang bisa bergelar sarjana. Untuk merebut gelar itu, bukan hanya tanah warisan orang tua yang harus dia korbankan, tapi juga umur. Biasanya, gadis-gadis di kampungnya hanya tamat SD, setelah itu menunggu masa balig untuk kemudian dinikahkan. Beberapa hanya lulus SMP, dan jarang sekali yang bisa menamatkan SMA.” (Lontara Rindu, 2012: 100) Penggalan teks tersebut memperlihatkan adanya sikap wanita desa yang tidak kolot seperti gadis desa pada umumnya. Gadis desa terintimidasi pemikiran orang tua yang mengatakan wanita hanya bisa bekerja di dapur, namun gadis desa seperti bu Maulindah memiliki pemikiran terbuka sehingga ia pun berusaha tetap melanjutkan sekolahnya sampai ke perguruan tinggi walaupun harus berkorban waktu dan harta. Hal ini patut dicontohi oleh kaum perempuan agar pemikiran perempuan semakin berkembang sehingga tindak kesewenang-wenangan terhadap perempuan berkurang. 3.3.2. Sikap hidup Halimah Permasalahan yang dihadapi oleh Halimah adalah jatuh cinta dengan seorang pria yang ditentang oleh orang tuanya, kekasihnya berbeda agama, ditinggalkan saat hamil oleh suaminya. Adapun beberapa penggalan teks yang memperlihatkan sikap hidup tokoh Halimah, antara lain: 21 a. “Luka lama menganga saat Ilham meninggalkannya dalam keadaan hamil, di negeri rantau pula. Demi bertahan hidup di Samarinda, dia bekerja sebagai buruh pabrik tripleks. Menabung seribu menyelamatkan kandungannya. demi sepasang Tapi seribu, bayi sayang, agar kelak kembar di Halimah sangsi bisa dalam bisa meneruskan hidup setelah melahirkan bayinya kelak. Dari mana dia bisa mendapatkan uang untuk menghidupi anaknya, sementara dia hanyalah buruh?” (Lontara Rindu, 2012: 239) Penggalan teks tersebut memperlihatkan sikap wanita dalam menanggapi permasalahan ekonomi. Seorang wanita yng ditinggalkan oleh suaminya berjuang sendiri untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri. Ia menjadi buruh. Itulah gunanya kaum perempuan memiliki pendidikan tinggi agar tidak ditindas kaum pria seperti pada tokoh Halimah. b. “Ayahku tak akan pernah setuju kalau kamu tak mau masuk Tolotang. Jalan satu-satunya kita harus silariang (kawin lari). “Silariang?” “Saya akan masuk Islam. Itu hanya bisa saya lakukan dengan pergi dari rumah.” (Lontara Rindu, 2012: 186) Penggalan teks tersebut memperlihatkan sikap wanita yang tidak baik dicontohi karena menikah tanpa restu orang tua merupakan perbuatan yang akan menimbulkan aib untuk keluarga. Seorang 22 wanita dewasa seharusnya mampu berpikir lebih panjang dapat melihat baik dan buruk segala tindakan yang dilakukan agar hasilnya bagus, tidak merugikan diri sendiri dan orang lain. Persoalan cinta bagi kaum perempuan memanglah hal yang tidak boleh dianggap sepele. Wanita menganggap cinta itu penting karena menyangkut hati. Ketika wanita sedang jatuh cinta, maka dia akan mengikuti perasaannya daripada logika. Hal ini terbukti oleh sikap tokoh Halimah. 3.3.3. Sikap hidup Nadia Permasalahan yang dihadapi Nadia adalah menikah dengan seorang pria yang memiliki anak satu dan suaminya sakit parah. “Maaf, jika saya punya cara lain untuk menjemputmu ke sini. Saya kasihan melihat ayahmu. Saya harus memenuhi janjiku padanya untuk mempertemukanmu dengannya. telah dua bulan ayahmu terbaring di situ. Sebelum koma, dia selalu menyebut namamu, Vito! Saya berjanji untuk mempertemukanmu.” (Lontara Rindu, 2012: 322) Penggalan teks tersebut memperlihatkan adanya bentuk sikap yang baik untuk dijadikan contoh oleh kaum perempuan. Tokoh Nadia tidak meninggalkan suaminya karena ia sakit, tetapi ia merawatnya dan mempertemukan suaminya dengan anak dari istri pertamanya. Ia pula membesarkan anak tirinya dan mengajarkan ilmu agama Islam kepada suami dan anak tirinya. Sikap tokoh Nadia ini merupakan 23 sikap wanita yang sabar dan penuh kasih sayang. Kaum perempuan memang dikarunia kelembutan hati sehingga segala tindakannya dipenuhi kasih sayang. Karunia itu harus dibarengi oleh ilmu agama karena agama mengajarkan agar senantiasa mencintai sesama. Selain itu, kaum perempuan ketika berkomitmen tidak akan melanggar komitmennya itu seperti dalam berumah tangga seperti pada tokoh Nadia tidak meninggalkan suaminya yang sakit, malahan berjanji untuk mempertemukan suaminya dengan anaknya dan janji itu dipenuhinya. Hal ini sangat bagus karena menunjukkan bahwa kaum perempuan jika berjanji akan menepati janjinya. 24 BAB IV PENUTUP 4.1. Simpulan Melalui analisis wacana dapat ditelusuri mengenai segala sesuatu yang terjadi dalam masyarakat. Berdasarkan analisis wacana terhadap novel Lontara Rindu karya S. Gegge Mappangewa dapat ditemukan adanya bentuk feminisme yang tergambar oleh tokoh wanita dalam novel tersebut. Tokoh wanita dalam novel tersebut ada tiga yang memiliki ciri, karakter, dan sikap yang berbeda-beda. Tokoh bu Maulindah menggambarkan wanita modern, tokoh Halimah menggambarkan wanita desa, dan tokoh Nadia menggambarkan wanita Islam. Sikap hidup tokoh Maulindah dan Nadia patut dicontohi oleh kaum perempuan karena memiliki sikap yang tidak mudah putus asa, sedangkan tokoh Halimah meskipun ada beberapa sikap yang patut dicontohi, namun ada satu hal yang tidak patut dicontohi yaitu sikap yang tidak mempertimbangkan baik buruk dalam mengambil keputusan. Itulah simpulan dari makalah ini bahwa dengan analisis wacana kita dapat menemukan bentuk feminisme yang terdapat dalam novel. 4.2. Saran Setelah meneliti feminisme dalam novel Lontara Rindu karya S. Gegge Mappangewa (Analisis Wacana), adapun saran saya sebagai peneliti yaitu sebaiknya sebelum meneliti kita harus paham dulu teori kemudian kita mencari data sehingga pola pikir dapat terarah. 25 DAFTAR PUSTAKA Darma, Yoce Aliah. 2009. Analisis Wacana Kritis. Bandung: Yrama Widya. Jorgensen, Marianne W. dan Louise J. Philips. 2010. Analisis Wacana Teori dan metode. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Mappangewa, S. Gegge. 2012. Lontara Rindu. Jakarta Selatan: Republika. Oktavianus. 2006. Analisis Wacana Lintas Bahasa. Yogyakarta: Andalas University Press. Rani, Abdul, dkk. 2006. Analisis Wacana Sebuah Kajian Bahasa dalam Pemakaian. Malang: Bayumedia Publishing. Tarigan, Henry Guntur. 2009. Pengajaran Wacana. Bandung: Angkasa. 26 MK : Analisis Wacana Dosen : Dr. Gusnawaty Anwar FEMINISME DALAM NOVEL LONTARA RINDU KARYA S. GEGGE MAPPANGEWA (ANALISIS WACANA) OLEH: PUJI ASTUTY RAZAK P1200212004 PROGRAM STUDI BAHASA INDONESIA PASCASARJANA UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR 2013 27 KATA PENGANTAR Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah Swt. atas rahmatNya sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan makalah yang berjudul Feminisme dalam Novel Lontara Rindu Karya S. Gegge Mappangewa (Analisis Wacana). Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada keluarga, dosen pembimbing mata kuliah analisis wacana yaitu bu Dr. Ery Iswari dan Dr. Gusnawaty Anwar, dan teman-teman yang telah membantu sehingga makalah ini dapat terselesaikan. Penulisan makalah ini merupakan persyaratan untuk menyelesaikan mata kuliah Analisis Wacana. Makalah ini membahas tentang sikap perempuan terhadap kehidupan dalam kaitannya unsur feminisme dengan kajian wacana. Makalah ini bertujuan agar pemahaman mengenai kajian wacana lebih mendalam sehingga dalam proses bermasyarakat dapat lebih jeli melihat permasalahan yang ada. Penulis mengharapkan makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca sebagai referensi pembuatan makalah selanjutnya yang berkaitan dengan analisis wacana. Akan tetapi, makalah ini tidak luput dari kesalahan dan kekeliruan dikarenakan oleh keterbatasan penulis sebagai manusia. Oleh karena itu, kritik dan saran dari pembaca sangat diharapkan demi penyempurnaan makalah ini. Makassar, 04 Juni 2013 Penulis, 28 DAFTAR ISI Kata Pengantar .............................................................................................. i Daftar Isi ........................................................................................................ ii Bab I Pendahuluan ......................................................................................... 1 1.1. Latar belakang ................................................................................. 1 1.2. Rumusan Masalah ........................................................................... 2 1.3. Tujuan penelitian ............................................................................ 2 1.4. Manfaat Penelitian .......................................................................... 2 Bab II Landasan Teori ................................................................................... 3 2. 2.1. Analisis wacana .............................................................................. 3 2.2. Antropologi Linguistik ................................................................... 3 2.3. Feminisme ...................................................................................... 4 Bab III Pembahasan ..................................................................................... 5 3. 3.1. Identifikasi Wanita dalam Novel Lontara Rindu Karya S. Gegge Mappangewa ................................................................................... 5 3.2. Karakter Wanita dalam Novel Lontara Rindu Karya S. Gegge Mappangewa .................................................................................. 9 3.3. Sikap Wanita Terhadap Kehidupan dalam Novel Lontara Rindu karya S. Gegge Mappangewa.............................................................................. 18 29 Bab V Penutup .............................................................................................. 25 4. 4.1. Simpulan .......................................................................................... 25 4.2. Saran ................................................................................................ 25 Daftar Pustaka ............................................................................................... 26 30

Judul: Tugas Final

Oleh: Puji Razak


Ikuti kami