Tugas Kimia

Oleh Hardianto Paputungan

130,7 KB 9 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Tugas Kimia

Nama: Hardianto Paputungan Nim: 432 416 019 Prodi: S1 Biologi Mata Kuliah: Kimia Dasar 2 A. Kekuatan Asam Basa Pada larutan elektrolit telah dijelaskan bahwa ada larutan yang menghantarkan arus listrik dengan baik meskipun konsentrasinya kecil dan ada larutan menghantarkan arus dengan buruk. Baik buruknya suatu larutan dalam menghantarkan arus listrik tergantung dari jumlah zat yang mengalami terurai menjadi ionnya atau mengalami reaksi ionisasi (terionisasi). Bilangan yang menyatakan perbandingan zat yang terionisasi dengan zat mula-mula disebut sebagai derajat ionisasi yang diberi lambang α. α= jumlah zat yang terionisasi : Jumlah zat mula-mula a. Asam Kuat Larutan elektrolit kuat akan terurai seluruhnya menjadi ion-ionnya. Larutan asam kuat merupakan larutan elektrolit kuat yang mempunyai harga derajat ionisasi =1. Konsentrasi ion H+ yan dihasilkan suatu larutan asam kuat sama dengan konsentrasi larutan asam tersebut. Contoh larutan asam kuat : H 2SO4, HCl, HBr, HNO3. Karena semua asam dapat terionisasi menjadi ion H+ , maka konsentrasi H+ dapat dihitung sesuai koefisien ion H+ yang dihasilkan dari senyawa asalnya. b. Asam lemah 0< α < 1 Larutan asam lemah merupakan elektrolit lemah sehingga larutan itu akan terionisasi sebagian menjadi ion H+ dan ion sisa asamnya. Reaksi ionisasi asam lemah merupakan reaksi kesetimbangan sehingga mempunyai harga tetapan kesetimbangan jika diukur pada suhu dan tekanan tetap.Contoh : CH3COOH,H2S,H2CO3 c. Basa Kuat Basa kuat merupakan elektrolit kuat yang mampu terionisasi seluruhnya menjadi ion OH– dan sisa basa. Basa kuat terionisasi seluruhnya dalam air sehingga harga derajat disosiasinya 1 (α = 1). NaOH(aq) ——–> Ba(OH)2(aq) ———-> Na+(aq) + OH–(aq) Ba2+(aq) + 2 OH–(aq) Karena reaksi basa kuat adalah reaksi berkesudahan maka konsentrasi ion OH – dapat dihitung sesuai koefisien OH– dari basa tersebut. d. Basa lemah Basa lemah merupakan elektrolit lemah sama dengan asam lemah sehingga terionisasi sebagian dalam air 0< α < 1. Reaksi kesetimbangan basa yang terjadi: NH4OH(aq) ———-> NH4+(aq) + OH–(aq) Perhitungan untuk menentukan konsentrasi OH– pada prinsipnya sama dengan perhitungan ion H+ pada asam lemah B. Pengertian Larutan Penyangga Larutan penyangga adalah suatu sistem larutan yang dapat mempertahankan nilai pH larutan agar tidak terjadi perubahan pH yang berarti oleh karena penambahan asam atau basa maupun pengenceran. Larutan ini disebut juga dengan larutan buffer atau dapar. Dalam kehidupan sehari-hari, terdapat berbagai reaksi kimia yang merupakan reaksi asam basa. Sebagai contoh, reaksi beberapa enzim pencernaan dalam sistem biologis. Enzim pepsin yang berfungsi memecah protein dalam lambung hanya dapat bekerja optimal dalam suasana asam, yakni pada sekitar pH 2. Dengan kata lain, jika enzim berada pada kondisi pH yang jauh berbeda dari pH optimal tersebut, maka enzim dapat menjadi tidak aktif bahkan rusak. Oleh karena itu, perlu ada suatu sistem yang menjaga nilai pH di mana enzim tersebut bekerja. Sistem untuk mempertahankan nilai pH inilah yang disebut dengan larutan penyangga. Hal ini terjadi sebagaimana dalam larutan ini terdapat zat-zat terlarut bersifat “penahan” yang terdiri dari komponen asam dan basa. Komponen asam akan menahan kenaikan pH sedangkan komponen basa akan menahan penurunan pH. Fungsi Larutan Penyangga Larutan penyangga banyak digunakan dalam analisis kimia, biokimia dan mikrobiologi. Selain itu, dalam bidang industri, juga banyak digunakan pada proses seperti fotografi, electroplating (penyepuhan), pembuatan bir, penyamakan kulit, sintesis zat warna, sintesis obat-obatan, maupun penanganan limbah. Di dalam tubuh makhluk hidup juga terdapat larutan penyangga yang sangat berperan penting. Dalam keadaan normal, pH darah manusia yaitu 7,4. pH darah tidak boleh turun di bawah 7,0 ataupun naik di atas 7,8 karena akan berakibat fatal bagi tubuh. pH darah dipertahankan pada 7,4 oleh larutan penyangga karbonatbikarbonat (H2CO3/HCO3−) dengan menjaga perbandingan konsentrasi [H2CO3] : [HCO3−] sama dengan 1 : 20. Selain itu, dalam cairan intra sel juga terdapat larutan penyangga dihidrogenfosfat-monohidrogenfosfat (H2PO4−/HPO42−). Larutan penyangga H2PO4−/HPO42− juga terdapat dalam air ludah, yang berfungsi untuk menjaga pH mulut sekitar 6,8 dengan menetralisir asam yang dihasilkan dari fermentasi sisa-sisa makanan yang dapat merusak gigi. Komponen Larutan Penyangga a. Larutan penyangga asam Larutan buffer asam mempertahankan pH pada suasana asam (pH < 7). Larutan buffer asam terdiri dari komponen asam lemah (HA) dan basa konjugasinya (A −). Larutan seperti ini dapat diperoleh dengan: 1. mencampurkan asam lemah (HA) dengan garam basa konjugasinya (LA, yang dapat terionisasi menghasilkan ion A−) 2. mencampurkan suatu asam lemah dalam jumlah berlebih dengan suatu basa kuat sehingga bereaksi menghasilkan garam basa konjugasi dari asam lemah tersebut. Contoh: larutan penyangga yang mengandung CH3COOH dan CH3COO− Dalam larutan tersebut, terdapat kesetimbangan kimia: CH3COOH(aq) ⇌ CH3COO−(aq) + H+(aq) Pada penambahan asam (H+), kesetimbangan akan bergeser ke arah kiri, sehingga reaksi mengarah pada pembentukan CH3COOH. Dengan kata lain, asam yang ditambahkan akan dinetralisasi oleh komponen basa konjugasi (CH3COO−). Pada penambahan basa (OH−), kesetimbangan akan bergeser ke arah kanan, yakni reaksi pembentukan CH3COO− dan H+, sebagaimana untuk mempertahankan konsentrasi ion H+ yang menjadi berkurang karena OH− yang ditambahkan bereaksi dengan H+ membentuk H2O. Dengan kata lain, basa yang ditambahkan akan dinetralisasi oleh komponen asam lemah (CH3COOH). b. Larutan penyangga basa Larutan buffer basa mempertahankan pH pada suasana basa (pH > 7). Larutan buffer basa terdiri dari komponen basa lemah (B) dan basa konjugasinya (BH +). Larutan seperti ini dapat diperoleh dengan: 1. mencampurkan basa lemah (B) dengan garam asam konjugasinya (BHX, yang dapat terionisasi menghasilkan ion BH+) 2. mencampurkan suatu basa lemah dalam jumlah berlebih dengan suatu asam kuat sehingga bereaksi menghasilkan garam asam konjugasi dari basa lemah tersebut. 3. Contoh: larutan penyangga yang mengandung NH3 dan NH4+ 4. Dalam larutan tersebut, terdapat kesetimbangan: 5. NH3(aq) + H2O(l) ⇌ NH4+(aq) + OH−(aq) 6. Pada penambahan asam (H+), kesetimbangan akan bergeser ke arah kanan, yakni reaksi pembentukan NH4+ dan OH−, sebagaimana untuk mempertahankan konsentrasi ion OH− yang menjadi berkurang karena H+ yang ditambahkan bereaksi dengan OH− membentuk H2O. Dengan kata lain, asam yang ditambahkan akan dinetralisasi oleh komponen basa lemah (NH3). 7. Pada penambahan basa (OH−), kesetimbangan akan bergeser ke arah kiri, sehingga reaksi mengarah pada pembentukan NH3 dan air. Dengan kata lain, basa yang ditambahkan akan dinetralisasi oleh komponen asam konjugasi (NH4+). C. Menjaga pH Darah Darah mempunyai pH yang relatif tetap di sekitar 7,4. Hal ini dimungkinkan karena adanya larutan penyangga dalam darah, yaitu H2CO3/ HCO3–, sehingga meskipun setiap saat darah kemasukan berbagai zat yang bersifat asam maupun basa, tetapi pengaruhnya terhadap perubahan pH dapat dinetralisir. Jika darah kemasukan zat yang bersifat asam, maka ion H+ dari asam tersebut akan bereaksi dengan ion HCO3–: H+(aq) + HCO3–(aq) H2CO3(aq) Sebaliknya, jika darah kemasukan zat yang bersifat basa, maka ion OH– akan bereaksi dengan H2CO3: OH–(aq) + H2CO3(aq) HCO3–(aq) + H2O(l) Perbandingan konsentrasi H2CO3 : HCO3– dalam darah sekitar 20 : 1. Hal ini terjadi karena adanya kesetimbangan antara gas CO2 yang terlarut dalam darah dengan H2CO3, serta kesetimbangan kelarutan gas CO2 dari paru – paru dengan CO2 yang terlarut. CO2(g) + H2O(l) H2CO3(aq) Maka apabila di dalam darah banyak terlarut H2CO3, darah akan segera melepaskan gas CO2 ke dalam paru – paru. Jika metabolisme tubuh meningkat (misalnya akibat olahraga atau ketakutan). Maka pada proses metabolisme tersebut banyak dihasilkan zat – zat yang bersifat asam masuk ke dalam aliran darah yang akan bereaksi dengan HCO3– dalam darah yang menghasilkan H2CO3 dalam darah. Tingginya kadar H2CO3 akan mengakibatkan turunnya nilai pH. Untuk menjaga agar penurunhan pH tidak terlalu besar, maka H2CO3 akan segera terurai menjadi gas CO2 dan H2O. Akibat yang terjadi adalah pernafasan berlangsung lebih cepat agar darah dapat membuang CO2 ke dalam paru – paru dengan cepat. Hal yang sebaliknya akan terjadi jika pada kondisi tertentu darah banyak mengandung basa (ion OH–). Adanya basa akan diikat oleh H2CO3 yang selanjutnya akan berubah menjadi ion HCO3–. Dengan demikian, diperlukan gas CO2 dari paru – paru yang harus dimasukan ke dalam darah untuk menggantikan H2CO3 tersebut. Hal ini mengakibatkan pernafasan juga berlangsung lebih cepat. Darah mempunyai kisaran pH 7,0 – 7,8. Di luar nilai tersebut akan berakibat fatal terhadap tubuh. Penyakit di mana pH darah terlalu rendah disebut dengan asidosis, sedangkan bila pH darah terlalu tinggi disebut dengan alkalosis. D. Antasida dan Keseimbangaan pH di Perut Perut : pH cairan di perut cenderung bersfat asam yakni sekitar pH 4 sampai 6 untuk perut bagian atas, dan pH 1,5 sampai 3 untuk perut bagian bawah. Kondisi ini disebabkan oleh kandungan HCl atau asam klorida di dalam lambung yang berfungsi agar enzim pepsin dapat bekerja. DAFTAR PUSTAKA http://www.cheem-is-try.org/materi_Kimia/Kimia-SMK-Klas_xi/kekuatan-asam-danbasa http://www.cheem-is-try.org/materi_Kimia/Kimia_dasar/asam_dan_basa/konsep-pHpoh-dan-pkw/ La Kilo, A. 2017. Solusi Rumus Derajat Keasaman Reaksi Asam Basa Pada Larutan Penyangga dengan Motode Mol Awal (Rumus Akram). PATEN, 8(1065) Martindale The Comlete Drug Reference 35th EditionMIMS-Official Drug Reference For Indonesian Medical Proffesion 105th Ed. Drug Information Handbook International Mikromedex. Mumpuni, R. 2017. Larutan Penyangga Dalam Darah.Utakatikotak.com. https://www.utakatikotak.com/kongkow/detail/5556/-LARUTANPENYANGGA-DALAM-DARAH. 10 april 2019

Judul: Tugas Kimia

Oleh: Hardianto Paputungan


Ikuti kami