Tugas Teh

Oleh Echa Mhiemosa

169,4 KB 8 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Tugas Teh

1. PENDAHULUAN a. Sejarah Tanaman penghasil teh (Camellia sinensis) pertama kali masuk ke Indonesia tahun 1684, berupa biji teh (diduga teh sinensis) dari Jepang yang dibawa oleh seorang berkebangsaan Jerman bernama Andreas Cleyer, dan ditanam sebagai tanaman hias di Batavia. F. Valentijn, seorang rahib, juga melaporkan tahun 1694, bahwa ia melihat tanaman teh sinensis di halaman rumah gubernur jenderal VOC, Camphuys, di Batavia. Pada abad ke-18 mulai berdiri pabrik-pabrik pengolahan (pengemasan) teh [butuh rujukan] dan didukung VOC. Setelah berakhirnya pemerintahan Inggris di Nusantara, pemerintah Hindia Belanda mendirikan Kebun Raya Bogor sebagai kebun botani (1817). Pada tahun 1826 tanaman teh melengkapi koleksi Kebun Raya, diikuti pada tahun 1827 di Kebun Percobaan Cisurupan, Garut, Jawa Barat. Dari sini dicoba penanaman teh dalam skala luas di Wanayasa (Purwakarta) dan lereng Gunung Raung (Banyuwangi)[1]. Karena percobaan ini dianggap berhasil, mulailah dibangun perkebunan skala besar yang dipelopori oleh Jacobus Isidorus Loudewijk Levian Jacobson, seorang ahli teh, pada tahun 1828 di Jawa. Ini terjadi pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal van den Bosch. Teh pun menjadi salah satu tanaman yang terlibat dalam Cultuurstelsel. Teh kering olahan dari Jawa tercatat pertama kali diterima di Amsterdam tahun 1835[1]. Teh jenis assamica mulai masuk ke Indonesia (Jawa) didatangkan dari Sri Lanka (Ceylon) pada tahun 1877, dan ditanam oleh R.E. Kerkhoven di kebun Gambung, Jawa Barat (sekarang menjadi lokasi Pusat Penelitian Teh dan Kina. Karena sangat cocok dan produksinya lebih tinggi, secara berangsur pertanaman teh sinensis diganti dengan teh assamica, dan sejak itu pula perkebunan teh di Indonesia berkembang semakin luas. Pada tahun 1910 mulai dibangun perkebunan teh pertama di luar Jawa, yaitu di daerah Simalungun, Sumatera Utara [1]. b. Pusat Penyebaran Teh merupakan tanaman asli cina dengan spesies pertama Camellia sinensis. Awalnya pada abad ke-8 SM teh oleh masyarakat cina bukan di gunakan untuk minuman tetapi hanya digunakan untuk bahan obat-obatan. Barulah di abad 221 SM – 8 M. Saat jaman dinasti Han teh diolah dengan peralatan sederhana menjadi minuman. Saat itu, perkembangan teh sangat pesat hingga di temukan beragam jenis teh. pusat pembudidayaan teh berada di daerah Guangdong dan Fujian. Penyebaran teh di jepan diakibatkan pengaruh budaya minum teh masyarakat cina yang di bawa oleh seorang pendeta Budha bernama Yeisei. Teh akhirnya menyebar ke Eropa sampai ke Amerika termasuk ke indonesia. Penyebaran teh di Indonesia masuk pada tahun 1684 berasal dari Jepan yang di bawa oleh Andreas Cleyer yang merupakan orang Jerman. c. Prospek Usaha Konsumsi teh domestik Indonesia telah bertumbuh subur selama dekade-dekade yang lalu, konsumsi teh per kapita tetaplah rendah (terlebih lagi kelas menengah urban Indonesia semakin mengembangkan (“gaya hidup konsumsi kopi”). Kendati begitu konsumsi minuman teh dingin telah bertumbuh dengan kuat di beberapa tahun terakhir. Impor teh, meskipun berasal dari jumlah yang kecil, telah meningkat di periode Reformasi (terutama dari Vietnam). Impor-impor semacam ini dipandang sebagai ancaman untuk penjualan dan margin keuntungan para produsen lokal dan karenanya penting untuk mendongkrak produksi teh di Indonesia. Kementerian Pertanian Indonesia mengumumkan di tahun 2014 bahwa kementerian ini akan menduakalilipatkan anggaran untuk merevitalisasi perkebunan-perkebunan teh negara ini (terutama di Jawa Barat karena sekitar 60% perkebunan teh di Indonesia berlokasi disana) dalam rangka mendongkrak hasil produksi teh Indonesia. 2. TEKNIS PRODUKSI 1. Pembibitan Tanaman diperbanyak dengan biji atau stek daun. Dari segi produksi, sebaiknya tanaman diperbanyak dengan stek daun. Persyaratan Benih/Bibit a. Persyaratan benih Diambil dari kebun biji, berupa biji jatuhan, tidak terserang kepik biji dan besar. Biji disimpan di dalam kaleng yang ditutup rapat dengan kelembaban 35-38% dan segera disemaikan setelah dipungut. 1. Perkecambahan dalam badengan 1. Pasir setebal biji teh dihamparkan pada kotak papan 1 x 2 m. 2. Taburkan benih di atas hamparan pasir. 3. Hamparkan kembali pasir di atas benih. 4. Lakukan kembali langkah b dan c sampai didapat tumpukan pasir-benih sebanyak 3 tumpuk. 5. Tutup bagian atas tumpukan dengan karung goni basah. 6. Naungi bedengan dengan daun kering. 7. Setelah 1 minggu, biji yang retak atau berkecambah ditanamkan pada bedengan atau polibag. b. Penanaman 1. Di Bedengan: tanah untuk persemaian di bedengan harus gembur dan subur, jarak tanam kecambah teh 15 x 20 cm atau 20 x 20 cm, kecambah dibenamkan, ditimbun tanah dengan ketebalam 0,5-1 cm (setebal benih) dan ditutupi dengan potongan daun guatemala, atau alang-alang. Bedengan dinaungi dengan naungan individu. 2. Di polibag dengan ukuran 12 x 25 cm dengan media dan cara penanaman yang sama. Setelah itu polibag berisi kecambah diletakkan di dalam bedengan yang dinaungi. 3. Pemeliharaan meliputi penyemprotan fungisida Dithane M-45 0,2% dan insektisida Demicron 0,2%. Penyiraman teratur agar tidak kekeringan, pemupukan 2-3 bulan setelah tanam dengan pupuk daun Bayfolan 15 cc/10 liter. 4. Bibit di polibag dipindahtanamkan pada umur 10-12 bulan, bibit di bedengan dipindahkan ke kebun pada umur 1 tahun (puteran) dan 2-3 tahun (stump). c. Pembibitan Stek Daun Stek ditanam di dalam polibag berisi media tanah. Polibag ini disusun di dalam bedengan yang terletak di dalam naungan pembibitan. 1). Bahan tanaman 1. Ranting stek diambil berumur 4-5 bulan setelah pangkas, mulai berkayu dan berwarna coklat. Posisi ranting stek (stekres) tegak lurus (vertikal). 2. Stekres berasal dari induk yang ditanam di kebun induk (Multiplication plant, MP). 3. Panjang tangkai stek 3-4 cm dipotong miring 45o ke arah luar dan memiliki 1 helai daun. 4. Jumlah stek dari stekres antara 2-5 stek/stekres diambil dari batas pangkal ranting yang berwarna coklat sampai daun ke tiga dari peko (pucuk/tunas yang sedang tumbuh aktif). 5. Stek direndam di dalam larutan Dithane M-45 15-25 gram/liter selama 1-2 menit. 2).Media stek 1. Struktur tanah gembur, sedikit berliat, pH 4,5-5,5, bebas nematoda dan sisa akar/tanaman. 2. Diperlukan dua macam tanah: 2/3-3/4 bagian lapisan tanah atas (top soil) untuk mengisi bagian bawah polibag ukuran 12×25 cm; 1/4-1/3 bagian lapisan tanah bawah (sub soil) untuk mengisi bagian atas polibag. Sebelumnya tanah disaring dengan saringan 1-2 cm. 3. Tanah difumigasi Dithane M-45 dengan dosis 300-400 gram/m3 tanah. Dithane dicampur merata pada tanah saat dimasukkan ke polibag. 4. Jika pH tanah terlalu tinggi, keasaman ditingkatkan dengan tawa sebanyak 1/2-1 kg/m3 tanah bersama dengan pemberian Dithane M-45. 5. Pemupukan dasar Hanya diberikan pada tanah lapisan atas: SP-36 dan KCl masing-masing sebanyak 500 gram/m3 tanah. 1. Setengah bagian bawah polibag 12 x 25 cm diberi 5-6 lubang dengan diameter 0,5-1 cm. 2. 2/3-3/4 bagian lapisan tanah atas (top soil) mengisi bagian bawah polibag, 1/2-1/3 bagian lapisan tanah bawah (sub soil) mengisi bagian atas. Tanah dalam kondisi kering angin. 3. Polibag disusun di dalam bedengan (1 m bedengan untuk 156-168 polibag). 4. Satu hari sebelum tanam, bedengan disiram air. 5. Buat lubang tanah 2-3 cm. 6. Tanamkan stek di lubang tanam dengan posisi daun tegak, searah dan tidak saling tindih. Padatkan tanah di sekitar stek. 7. Siram bedengan dan tutupi dengan selimut plastik, ujungnya ditimbun tanah sehingga membentuk parit. 8. Pelihara 3 bulan dalam kelembaban 90%. 3). Penanaman stek - Pembuatan naungan pembibitan Ukuran naungan pembibitan adalah 3 x 2,5 m atau 4,5-2,5 m dengan tinggi 2 m. Setengah bedengan terbuat dari bilik dan bagian atasnya ditutup jarang dengan wide. Pasang reng bambu di bagian atas bangunan ini dan tutup dengan rerumputan sehingga cahaya matahari yang masuk sekitar 25% pada 3-4 bulan pertama. Lebar bedengan 90-100 cm, tinggi 15 cm dan panjang sesuai kebutuhan dan kondisi lapangan. Rangka sungkup terbuat plastik dengan tinggi lengkungan 60-70 cm. 1. Pemeliharaan Pembibitan 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Pengaturan intensitas matahari 0-3 bulan: 25-30%, naungan tertutup seluruhnya. 4-5 bulan: 30-40%, atap diperjarang. 6-7 bulan: 50-75%, atap lebih diper jarang lagi. 7-12 bulan: 90-100%, atap diperjarang. > 1 tahun: 90-100%, atap terbuka sampai dibuka Penyiraman dilakukan bila perlu. 1. 2. 3. Pemupukan dilakukan setelah tanaman berumur 4 bulan dengan pupuk daun Bayfolan 15 cc/15 liter air atau larutan urea 10-20 gram/liter, 1-2 minggu sekali. Pengendalian hama penyakit: Menutup sungkup segera bila ada serangan, menyemprot Dihane M-45 atau Cobox pada dosis 0,1-0,2%. Seleksi bibit dilakukan pada umur 6 bulan. 2. Pengolahan Media Tanam 1). Persiapan lahan Karena lahan baru merupakan konversi dari hutan, semak atau lahan pertanian lain, maka perlu dilakukan survey dan pemetaan tanah yang datanya akan menunjang pembuatan peta kebun dan perlengkapannya, pembuatan fasilitas air dan juga jalan. 1. Pembongkaran pohon dan tanggul Pohon dibongkar sampai akarnya dengan menggunakan takel berkekuatan 3-5 ton, atau dimatikan dulu dengan arborisida sebelum dibongkar. 2. Pembersihan lahan (babad) di musim kemarau Dilakukan setelah pembongkaran selesai, sampah dibuang ke tempat yang tidak ditanami teh dan jangan dibakar. 3. Pembersihan gulma (nyasap) di musim kemarau Tanah diolah dengan cangkul sedalam 5-10 cm untuk membersihkan gulma. 4. Pengolahan tanah - Tanah dicangkul sedalam 60 cm sampai gembur dan biarkan 2-3 minggu. - Olah kembali sedalam 40 cm. - Lakukan pengukuran dan pematokan sehingga terbentuk petakan 20 x 20 m. 5. Pembuatan jalan Lebar jalan kebun cukup 1 meter. 6. Pembuatan selokan drainase menurut kemiringan dan letak jalan kebun. 2). Pembukaan Lahan Lahan yang digunakan terdiri atas lahan tempat tumbuh tanaman teh tua yang populasinya masih cukup banyak 30-50%. 1. Pembongkaran pohon pelindung Pohon dibongkar bersama akarnya. 2. Pembongkaran tanaman teh tua Untuk lahan yang landai dapat dilakukan dengan pencabutan dengan tekel, tetapi jika kemiringan > 30% perdu dimatikan dengan bahan kimia arborisida 3. Sanitasi lahan Untuk menghindari penyakit cendawan akar yang berasal dari tanaman tua dilakukan penanaman rumput Guatemala selama 2 tahun atau Fumigasi dengan metil bromil sebanyak 0,25 kg/10 m2 lahan. Tutup lahan dengan lembaran plastik dan alirkan fumigan, biarkan 2 minggu. Lahan dikeringanginkan 2 minggu. 4. Pengolahan tanah Untuk lahan yang perdu tehnya dicabut, lahan diolah dengan cara seperti 3.2.1., tetapi jika digunakan arborisda untuk mematikan perdu, tanah tidak perlu diolah cukup diratakan. 3. Teknik Penanaman 1). Penentuan Pola Tanam Sebelum dibuat lubang tanam, lahan diajir sesuai dengan jarak tanam yang akan dipakai. 1. Datar s/d 15%: jarak tanam 120 x 90 cm; jumlah 9.260 pohon; penanaman baris tunggal lurus 2. 15-30%: jarak tanam 120 x 75 cm; jumlah 11.110 pohon; penanaman baris tunggal lurus 3. > 30%: jarak tanam 120 x 60 cm; jumlah 13.888 pohon; penanaman sesuai kontur 4. Batas tertentu: jarak tanam 120 x 60 x 60 cm; jumlah 18.500 pohon; penanaman baris berganda 2). Pembuatan Lubang Tanam Lubang tanam dibuat dengan ukuran 30 x 30 x40 cm untuk bibit asal stump biji dan 20 x20 x20 cm untuk bibit asal stek Cara Penanaman 1. Masukkan pupuk dasar ke dalam lubang yaitu 11 gram urea, 5 gram TSP dan kg KCl. 2. Jika pH tanah > 6, masukkan belerang murni 10-15 gram. - Jika bibit berasal dari stump biji: 1) 2) 3) Bibit berumur 2 tahun, panjang akar 30 cm, tinggi batang 20 cm. Stump ditanam tegak lurus, padatkan tanah di sekitar batang. Ratakan tanah, jangan sampai terjadi cekungan di sekitar batang. - Jika bibit berasal dari stek: 1) 2) 3) 4) 5) Sobek polibag bagian bawah dan bagian sisi. Tarik ujung polibag bawah ke bagian atas sehingga tanaman terbuka. Masukkan ke dalam lubang tanam, timbun dan padatkan tanah di sekeliling batang. Polybag ditarik hati-hati melalui tajuk tanaman. Ratakan tanah, jangan sampai terjadi cekungan di sekitar batang. Tanaman pelindung sementara dan tetap sangat diperlukan jika teh ditanam di dataran rendah. Tanaman pelindung sementara adalah Crotalaria sp.dan Tephrosis sp. yang ditanam di antara 2 barisan tanaman teh. Penanaman dilakukan dengan biji setelah teh ditanam. Tanaman pelindung tetap ditanam jika pelindung sementara sudah tidak bisa dipertahankan (2-3 tahun). Tanaman pelindung tetap ditanam 1 tahun sebelum teh ditanam berupa Albizia falcata, A. sumatrana, A. procera, A. chinensis, Leucaena glabrata, L. glauca, Erythrina subumbrans, Gliricida maculata, Acacia decurens. 4. Pemeliharaan Tanaman - Penjarangan dan Penyulaman Tanaman mati diganti tanaman baru dengan bibit yang sama, penyulaman dimulai dua minggu setelah tanam sampai dua bulan menjelang kemarau. Bibit sulaman yang diperlukan pada tahun pertama adalah 10% dan tahun kedua 5%. Pada tahun ke tiga, tanaman teh mulai menghasilkan (Tanaman Menghasilkan/TM). - Pembubunan Pohon pelindung berfungsi sebagai sumber pupuk hijau, pangkasan daunnya dihamparkan di antara tanaman teh. Mulsa diberikan pula melalui penanaman rumput Guatemala. Tanaman pelindung sementara dipertahankan sampai tanaman teh berumur 2 tahun. - Pemupukan Dosis pemupukan (kg/ha/tahun) untuk tanaman yang belum menghasilkan (TBM). 1. Bahan organik top soil < 5%: 1. Umur tanam 1 tahun: - Andosol/Regosol: N=100; P2O5= 60; K2O=40; MgO=0 - Latosol/Podsolik : N=100; P2O5=50; K2O=50; MgO=0 2. Umur tanam 2 tahun: - Andosol/Regosol: N=150; P2O5=60; K2O=40; MgO=20 - Latosol/Podsolik : N=150; P2O5=75; K2O=75; MgO=40 3. Umur tanam 3 tahun: - Andosol/Regosol: N=200; P2O5=75; K2O=50; MgO=20 - Latosol/Podsolik : N=175; P2O5=75; K2O=75; MgO=40 2. Bahan organik top soil 5-8%: 1. Umur tanam 1 tahun: - Andosol/Regosol: N=80; P2O5=50; K2O=30; MgO=0 - Latosol/Podsolik : N=80; P2O5=40; K2O=40; MgO=0 2. Umur tanam 2 tahun: - Andosol/Regosol: N=120; P2O5=50; K2O=30; MgO=20 - Latosol/Podsolik : N=120; P2O5=60; K2O=60; MgO=30 3. Umur tanam 3 tahun: - Andosol/Regosol: N=150; P2O5=60; K2O=50; MgO=30 - Latosol/Podsolik : N=160; P2O5=60; K2O=60; MgO=30 3. Bahan organik top soil >8%: 1. Umur tanam 1 tahun: - Andosol/Regosol: N=70; P2O5=50; K2O=20; MgO=0 - Latosol/Podsolik : N=70; P2O5=30; K2O=30; MgO=0 2. Umur tanam 2 tahun: - Andosol/Regosol: N=100; P2O5=50; K2O=30; MgO=20 - Latosol/Podsolik : N=110; P2O5=50; K2O=50; MgO=25 3. Umur tanam 3 tahun: Andosol/Regosol: N=130; P2O5=60; K2O=40; MgO=20 Latosol/Podsolik : N=140; P2O5=50; K2O=50; MgO=25 Dosis pemupukan kg/ha/tahun untuk tanaman yang menghasilkan (TM) dengan target produksi 200 kg teh kering/ha/tahun a) Urea, ZA (unsur hara N): dosis optimal 250-350, 3-4 kali/tahun b) TSP, PARP (unsur hara P2O5): dosis optimal 60-120 untuk Andosol/Regosoldan 15-40 Latosol/Podsolik untuk, 1-2 kali/tahun c) MOP, ZK (unsur hara K2O): dosis optimal 60-180, 2-3 kali/tahun d) Kiserit (unsur hara MgO): dosis optimal 30-75, 2-3 kali/tahun e) Seng sulfit (unsur hara ZnO): dosis optimal 5-10, 7-10 kali/tahun - Hama dan Penyakit  Helopeltis antonii Serangga dewasa seperti nyamuk, menyerang daun teh dan ranting muda. Bagian yang diserang berbercak coklat kehitaman dan mengering. Serangan pada ranting dapat menyebabkan kanker cabang. Pengendalian: pemetikan dengan daur petik 7 hari, pemupukan berimbang, sanitasi, mekanis, predator Hierodula dan Tenodera, Insektisida nthio 330 EC, Carbavin 85 WP, Mitac 200 EC.  Ulat jengkal (Hyposidra talaca, Ectropis bhurmitra, Biston suppressaria) Ulat berwarna hitam atau coklat bergaris putih, menyerang daun muda, pucuk dan daun tua, serangan dapat di kebun atau persemaian. Daun yang diserang bergigi/berlubang. Pengendalian: membersihkan serasah dan gulma, pemupukan berimbang dan insektisida Lannate 35 WP, Lannate L.  Ulat penggulung daun (Homona aoffearia) Ulat berukuran 1-2,5 cm menyerang daun teh muda dan tua. Daun tergulung dan terlipat. Pengendalian: cara mekanis, melepas musuh hayati seperti Macrocentrus homonae, Elasmus homonae, insektisida Ripcord 5 EC.  Ulat penggulung pucuk (Cydia leucostoma) Ulat berukuran 2-3 cm berada di dalam gulungan pucuk teh. Pengendalian: cara mekanis, hayati dengan melepas musuh alami Apanteles dan insektisida Bayrusil 250 EC, Dicarbam 85 S, Sevin 85S.  Ulat api (Setora nitens, Parasa lepida, Thosea) Ulat berbulu menyerang daun muda dan tua, tanaman menjadi berlubang. Pengendalian: cara mekanis, hayati dengan melepas parasit dan insektisida Ripcord 5 EC dan Lannate L.  Tungau jingga (Brevipalpus phoenicis) Berukuran 0,2 mm berwarna jingga, menyerang daun teh tua di bagian permukaan bawah. Terdapat bercak kecil pada pangkal daun, tungau membentuk koloni di pangkal daun, Lalu serangan menuju ujung daun, daun mengering dan rontok. Pengendalian: (1) cara mekanis, pengendalian gulma, pemupukan berimbang, predator Amblyseius, (2) insektisda Dicofan 460 EC, Gusadrin 150 WSC, Kelthane 200 EC, Omite 570 EC. - Penyakit  Cacar teh Penyebab: jamurExobasidium vexans. Menyerang daun dan ranting muda. Gejala: bintik-bintik kecil tembus cahaya dengan diameter 0,25 mm, pada stadium lanjut pusat bercak menjadi coklat dan terlepas sehingga daun bolong. Pengendalian: mengurangi pohon pelindung, pemangkasan sejajar permukaan tanah, pemetikan dengan daur pendek (9 hari), penanaman klon tanah cacar PS 1, RB 1, Gmb1, Gmb 2, Gmb 3, Gmb 4, Gmb 5, fungisida.  Busuk daun Penyebab: jamur Cylindrocladum scoparium. Gejala: daun induk berbercak coklat dimulai dari ujung/ketiak daun, daun rontok, setek akan mati. Pengendalian: mencelupkan stek ke dalam fungisida. Jika persemaian terserang semprotkan benomyl 0,2%.  Mati ujung pada bidang petik Penyebab: jamurPestalotia tehae. Sering menyerang klon TRI 2024. Gejala: bekas petikan berbercak coklat dan meluas ke bawah dan mengering, pucuk baru tidak terbentuk. Pengendalian: pemupukan tepat waktu, pemetikan tidak terlalu berat, fungisida yang mengandung tembaga.  Penyakit akar merah anggur Di dataran rendah 900 meter dpl terutama tanah Latosol. Penularan melalui kontak akar. Penyebab: jamur Ganoderma pseudoferreum. Gejala: tanaman menguning, layu, mati. Pengendalian: membongkar dan membakar teh yang sakit, menggali selokan sedalam 60-100 cm di sekeliling tanaman sehat, fumigasi metil bromida atau Vapam.  Penyakit akar merah bata Penyebab: jamur Proria hypolatertia. Di dataran tinggi 1.000-1.500 meter dpl. Ditularkan melalui kontak akar, Gejala: sama dengan penyakit akar merah anggur. Pengendalian: sama dengan penyakit akar merah anggur.  Penyakit akar hitam Penyebab: jamur Rosellinia arcuata di daerah 1.500 meter dpl dan R. bunodes di daerah 1.000 meter dpl. Gejala: daun layu, menguning, rontok dan tanaman mati, terdapat benang hitam di bagian akar, di permukaan kayu akar terdapat benang putih (R. arcuata) atau hitam (R. bunodes). Pengendalian: sama dengan penyakit akar umumnya.  Jamur akar coklat jamur kanker belah, jamur leher akar, jamur busuk akar , jamur akar hitam. Menyerang akar, pengendalian: sama dengan penyakit akar umumnya. - Gulma 1. Pengendalian gulma di areal TBM: 1. Cara mekanis, dengan mencabut gulma, memotong gulma di permukaan dan di bawah tanah. 2. Cara kimia, menggunakan herbisida pra tumbuh Goal 2E (1-2 L/ha), Caragard 70 WP (2-3 kg/ha), Simazine (2-3 kg/ha), Sencor 70 WP (0,5-1,0 kg/ha). 3. Pengendalian gulma di areal TM: 1. Melaksanakan kultur teknis dengan tepat, pemetikan rata agar tajuk menutup tanah, penyulaman intensif dan pemulsaan. 2. Cara mekanis. 3. Cara kimia dengan herbisida pra tumbuh seperti Karmex 70 WP (1-1,5 kg/ha), Nitrox 70 WP (1-1,5 kg/ha), Caragard 80 WP (2-3 kg/ha) atau Goal 2E (1-2 L/ha). 3. Panen dan Pasca Panen - Panen - Ciri dan Umur Panen Pada tanaman teh, panen berarti memetik pucuk/daun teh muda yang berkualitas dalam jumlah sebesar-besarnya dengan memperhatikan kestabilan produksi dan kesehatan tanaman. Tanaman memasuki saat dipetik setelah berumur 3 tahun. Daun yang dipetik adalah: 1. Peko: Pucuk/tunas yang sedang tumbuh aktif 2. Burung: Pucuk/tunas yang sedang istirahat 3. Kepel: Daun kecil yang terletak di ketiak daun tempat ranting tumbuh. - Cara Panen Terdapat tiga macam petikan teh, yaitu: 1. Petikan jendangan, petikan pertama setelah pangkasan untuk membentuk bidang petik agar datar dan rata. 2. Petikan produksi, dilakukan setelah petikan jendangan: 1. Semua tunas yang melewati bidang petik dan memenuhi rumus petik harus diambil, tunas yang melewati bidang petik tetapi belum memenuhi rumus petik dibiarkan. 2. Tunas yang terlalu muda harus diambil. 3. Semua pucuk burung diambil. 4. Tunas cabang yang menyamping dan tingginya tidak lebih dari bidang pangkas dibiarkan. 5. Petikan gandesan, dilakukan di kebun yang akan dipangkas dengan cara memetik semua pucuk tanpa melihat rumus petik. - Periode Panen Panjang pendeknya periode pemetikan ditentukan oleh umur dan kecepatan pembentukan tunas, ketinggian tempat, iklim dan kesehatan tanaman. Pucuk teh dipetik dengan periode antar 6-12 hari. Teh hijau Jepang dipanen dengan frekuensi yang lebih lama yaitu 55 hari sekali. - Prakiraan Produksi Produksi diharapkan mencapai 200 kg berat kering/ha/tahun. - Pascapanen Waktu memetik teh, jangan menggenggam pucuk terlalu banyak. Pucuk hasil petikan ditempatkan di dalam keranjang 10 kg yang digendong di atas punggung. Waring (keranjang bambu) digunakan untuk menampung hasil petikan dengan ukuran minimal 150 x 160 cm dengan daya muat 20 kg (maksimal 25 kg). Tempatkan waring dalam keadaan terbuka dan tidak ditumpuk di tempat teduh (di los). 4. Pemasaran Teh Hampir setengah dari produksi teh Indonesia diekspor keluar negeri. Pasar ekspor utamanya adalah Rusia, Inggris, dan Pakistan. Teh Indonesia yang diekspor terutama berasal dari perkebunanperkebunan besar di negara ini, baik yang dimiliki negara maupun swasta (biasanya menghasilkan teh bermutu tinggi atau premium), sementara mayoritas petani kecil lebih berorientasi kepada pasar domestik (karena teh yang dihasilkan berkualitas lebih rendah dan karenanya memiliki harga penjualan yang lebih murah). Petani-petani kecil ini, yang kebanyakan menggunakan teknologi lama dan metode-metode pertanian yang sederhana, biasanya tidak memiliki fasilitas pengolahan. Pasar domestik teh tidaklah besar, direfleksikan oleh tingkat konsumsi teh per kapita Indonesia yang rendah. Pada tahun 2014, penduduk Indonesia mengkonsumsi rata-rata 0,32 kilogram teh per orang per hari (rata-rata dunia adalah 0,57 kilogram in 2014, sementara Turki jelas merupakan pengkonsumsi terbesar dengan 7,54 kilogram). 5. Analisis Usaha Tani

Judul: Tugas Teh

Oleh: Echa Mhiemosa


Ikuti kami