Tugas Firdo

Oleh Firdo Gultom

104,4 KB 8 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Tugas Firdo

BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Secara umum kita tahu bahwa Fungsi Bank pemerintah adalah untuk memberikan pelayanan kepada pemerintah, dunia usaha dan perorangan. Kegiatan yang penting adalah membiayai proyek pembangunan yang bertujuan menggairahkan industri baru maupun yang sedang berkembang, dalam wujud menyediakan dana atau pemberian kredit. Pemberian kredit ini megandung suatu tingkat resiko (degree of risk) tertentu. Untuk menghindari maupun untuk memperkecil resiko kredit yang mungkin terjadi, maka permohonan kredit harus dinilai oleh bank atas dasar syarat bank teknis. Analisis kredit mengandung pengertian penilaian kredit dalam segala aspek, baik keuangan maupun non-keuangan. Menurut Lukman Dendawijaya (2005:88) Analisis kredit adalah suatu proses yang dimaksudkan untuk menganalisis atau menilai suatu permohonan kredit yang diajukan oleh calon debitur kredit sehingga dapat memberikan keyakinan kepada pihak bank bahwa proyek yang akan dibiayai dengan kredit bank cukup layak (feasible). Dari pengertian diatas, dapat dikatakan bahwa Analisis kredit adalah suatu proses analisis kredit dengan menggunakan pendekatan-pendekatan dan rasio-rasio keuangan untuk menentukan kebutuhan kredit yang wajar. tujuan analisis kredit untuk melihat / menilai suatu usaha atas dasar kelayakan usaha, menilai risiko usaha dan bagaimana mengelolanya, dan memberikan kredit atas dasar kelayakan usaha. Pada dasarnya analisis kredit digunakan untuk meneliti atau menilai pemohon kredit secara mendalam tentang keadaan usaha atau proyek pemohon kredit agar pelaksanaan kredit yang akan dilakukan dapat berjalan dengan lancar sehingga tidak menimbulkan kredit macet. B. Rumusan masalah Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka perlu kita membahas “Apa itu analisis kredit, apa pertimbangan bank untuk memberikan kredit kepada nasabah-nasabahnya, fungsi analisis kredit itu sendiri, aspek-aspek dan prinsip-prinsip analisis terhadap kredit itu sendiri.” C. Tujuan Penulisan Adapun tujuan penulisan dari makalah ini yaitu untuk mengetahui Apa itu analisis kredit, apa pertimbangan bank untuk memberikan kredit kepada nasabah-nasabahnya, fungsi analisis kredit itu sendiri, aspek-aspek dan prinsip-prinsip analisis terhadap kredit itu sendiri. D. Manfaat Penulisan Makalah ini diharapkan dapat memberi manfaat berupa Pengetahuan tentang analisis kredit dan pertimbangan bank untuk memberikan kredit kepada nasabah. BAB II PEMBAHASAN Penilaian atau Analisis Kredit A. Pengertian Analisis Kredit Penilaian atau analisis kredit adalah semacam studi kelayakan (feasibility Study) atas perusahaan pemohon kredit. Penilaian kredit adalah Suatu kegiatan pemeriksaan, penelitian, dan analisa terhadap kelengkapan, keabsahan, dan kelayakan berkas/surat/data permohonan kredit calon debitur hingga dikeluarkannya suatu keputusan apakah kredit tersebut diterima atau ditolak. Analisa kredit adalah pekerjaan yang meliputi: 1. Mempersiapkan pekerjaan-pekerjaan penguraian dari segala aspek, baik keuangan maupun non keuangan untuk mengetahui kemungkinan dapat/tidak dapat dipertimbangkan suatu permohonan kredit. 2. Menyusun laporan analisis yang diperlukan, yang berisi penguraian dan kesimpulan serta penyajian alternatif-alternatif sebagai bahan pertimbangan untuk pengambilan keputusan pimpinan dari permohonan kredit nasabah. Dari Pengertian tersebut dapat disimpulkan, pengertian penilaian atau analisis kredit adalah Suatu kegiatan analisa/penilaian berkas/data dan juga berbagai aspek yang mendukung yang diajukan oleh pemohon kredit, sebagai dasar pertimbangan pengambilan keputusan apakah permohonan kredit tersebut diterima atau ditolak. B. Pertimbangan Analisa Kredit Dalam pelaksanaan penilaian kredit, bank harus selalu mempertimbangkan berbagai hal yang terkait, agar kredit yang akan dipinjamkan dapat memiliki manfaat dan tidak merugikan bank maupun debitur di masa depan. Menurut Rahadja (1990:10) bank harus selalu mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut: 1. Keamanan kredit (safety), artinya harus benar-benar diyakini bahwa kredit tersebut dapat dilunasi kembali. 2. Terarahnya tujuan penggunaan kredit (suitability), yaitu bahwa kredit akan digunakan untuk tujuan yang sejalan dengan kepentingan masyarakat/sekurang-kurangnya tidak bertentangan dengan peraturan yang berlaku. 3. Menguntungkan (profitable), baik bagi bank berupa penghasilan bunga maupun bagi nasabah, yaitu berupa keuntungan dan makin berkembangnya usaha. C. Fungsi Analisa Kredit Kegiatan analisa kredit memiliki arti penting bagi bank, karena bank akan memiliki jaminan yang memadai selama kredit diberikan. Fungsi analisa kredit adalah: 1. Sebagai dasar bagi bank dalam menentukan tingkat suku bunga kredit dan jaminan yang disyaratkan untuk dipenuhi nasabah, 2. Sarana untuk pengendalian resiko yang akan dihadapi bank, 3. Syarat kredit dan sarana untuk struktur, jumlah kredit, jangka waktu kredit, sifat kredit, tujuan kredit, dan sebagainya, 4. Sebagai bahan pertimbangan pimpinan/direksi bank dalam proses pengambilan keputusan, 5. Sebagai alat informasi yang diperlukan untuk evaluasi kredit. D. Aspek Penilaian Analisis Kredit Dalam menilai atau menganalisis suatu permohonan kredit perlu dibahas berbagai aspek yang menyangkut keadaan usaha pemohon kredit. Pembahasan ini pada dasarnya adalah untuk meneliti apakah pemohon memenuhi Prinsip 5C atau tidak yang kemudian menjadi pertimbangan bank untuk menentukan kelayakan pemohon kredit memperoleh kredit atau tidak, dengan perkataan lain apakah permohonan kredit tersebut feasible dalam arti andaikata kredit diberikan, maka usahanya akan berkembang baik dan mampu mengembalikan kredit, baik pokok maupun bunga dalam jangka waktu yang wajar atau sebaliknya. Aspek-aspek yang perlu dinilai dalam penentuan kelayakan pemberian fasilitas kredit adalah sebagai berikut: 1. Aspek hukum/Yuridis Dalam aspek ini, tujuannya adalah untuk menilai keaslian dan keabsahan dokumendokumen yang diajukan oleh pemohon kredit. Penilaian ini juga dimaksudkan agar jangan sampai dokumen yang diajukan palsu atau dalam kondisi sengketa, sehinggamenimbulkan masalah. Penilaian dokumen-dokumen ini dilakukan ke lembaga yang berhak untuk mengeluarkan dokumen tersebut. Di dalam aspek yuridis, diberikan beberapa batasan untuk memudahkan pelaksanaan analisisnya yaitu melalui penelitian yang meliputi legalitas pendirian perusahaan (badan usaha), legalitas usaha, legalitas pengajuan permohonan kredit, dan legalitas barang-barang jaminan. a. Legalitas Pendirian Perusahaan Didalam batasan ini perlu digambarkan apakah pendirian perusahaan sudah sah dan sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang ditetapkan oleh undang-undang/peraturan pemerintah. Hal yang perlu diteliti dalam analisis legalitas pendirian badan usaha adalah : 1. penelitian apakah nasabah telah memenuhi syarat sebagai subjek hukum; 2. penelitian mengenai keabsahan pendirian perusahaan, sesuai dengan bentuk hukum perusahaan; 3. penelitian apakah ada akta-akta perubahan dari perusahaan perbadan hukum, seperti perubahan kepemilikan, perubahan pengurus, perubahan modal dan sebagainya; 4. simpulkan apakah perusahaan telah berbadan hukum penuh atau masih in-opricting. b. Legalitas Usaha Penilitian disini ditujukan kepada legalitas kegiatan nasabah. Semua isin yang ada harus diteliti kebenaran dan masa berlakunya. Selain itu, harus digambarkan pula apakah kegiatan yang dijalankan dan/atau direncanakan nasabah secara yuridis sudah didukung oleh izin-izin yang sesuai dan sah menurut ketentuan yang berlaku. Penelitian meliputi : 1. apakah nasabah telah memiliki izin usaha dari instansi yang berwewenang; 2. apakah izin usaha nasabah sesuai dengan kegiatan usahanya yang tercantum dalam anggaran dasar perusahaan; 3. apakah izin usaha nasabah masih berlaku. c. Legalitas Pengajuan Permohonan Kredit Keterangan yang harus digambarkan dalam bahasan ini adalah apakah orang yang mengajukan permohonan kredit adalah orang yang berhak bertindak atas nama perusahaan, dilihat dari ketentuan-ketentuan anggaran dasar peusahaan. d. 1. a. b. c. d. 2. 3. Legalitas Barang Jaminan Hal-hal yang harus diperhatikan adalah sebagai berikut: Meniliti bukti-bukti pemilikan barang yang diajukan sebagai jaminan. Untuk sertifikat tanah dengan mengecek keabsahannya ke BPN setempat. Untuk bangunan, meneliti IBM (izin Mendirikan Bangunan) ke pemerintah daerah setempat. Untuk mesin-mesin dengan meneliti faktur/invoice pembelian. Untuk kendaraan, mengecek BPKB (Bukti Pemilkan Kendaraan Bermotor) ke kantor polisi daerah setempat. Meniliti surat kuasa menjaminkan dari pemilik barang angunan dalam hal barang tersebut bukan milik nasabah/perusahaan sendiri. Meneliti status kepemilikan atas angunan , baik anguna utama atau tambahan harus dijelaskan apakah secara yuridis dapat dilaksanakan pengikatan secara notarial. e. Kontak Kerja Sebagai Dasar Permohonan Kredit Pada umumnya perusahaan yang bergerak dalam bidang kontraktor/leveransir mengajukan kontrak kerja sebagai dasar permohonan kreditnya. Karena pelunasan kredit tergantung/dikaitkan dengan kerja tersebut, maka demi keamanan pengembalian kredit, perlu pula Dianalisis. Penelitian disini meliputi apakah kontrak tersebut telah memenuhi persyaratan yuridis. Dalam arti kata, kontrak tersebut telah ditanda tangani secara sah dan mengikat kedua belah pihak, baik kontrak/surat perjanjian tersebut dibuat dibawah tangan atau dibuat dihadapan notaris. Untuk kontrak-kontrak yang sudah jatuh tempo, walaupun sudah mengikat kedua belah pihak, jelas tidak dapat dipertimbangkan karena batas waktunya telah terlampaui. 2. Aspek Pemasaran (Marketing) Dalam aspek ini dinilai besar kecilnya permintaan terhadap produk yang dihasilkan dan strategi pemasaran yang dilakukan oleh perusahaan, sehingga akan diketahui prospek usaha tersebut sekarang dan dimasa yang akan datang. Factor-faktor yang perlu diperhatikan dalam aspek pemasaran adalah sebagai berikut : a. 1. 2. 3. 4. 5. b. Produk atau jasa yang akan dipasarkan Hal-hal yang perlu diteliti adalah: product life cycle dari barang atau jasa tersebut; adanya barang substitusi; adanya perusahaan yang memproduksi barang yang sama ( perusahaan pesaing); apakah barang yang dihasilkan merupakan barang setengah jadi atau barang jadi; segmen pasar yang akan dituju untuk produk tersebut. Penentuan volume atau rencana pemasaran produk Masalah utama dalam aspek pemasaran adalah menentukan volume atau rencana pemasaran produk nasabah. Untuk menilai apakah volume atau rencana pemasaran nasabah cukup feasible atau tidak, dapat dilakukan pengujian melalui beberapa pendekatan berikut: 1. Market test approach Market test approach, yaitu melakukan uji coba pemasaran secara konkret kesuatu pasar tertentu atau kepada kelompok konsumen tertentu untuk mengetahui apakah target pemasaran untuk kelompok konsumen tertentu dapat dicapai atau tidak. 2. Market corrolary approach Dengan pendekatan ini, volume pemasaran suatu barang atau jasa ditentukan oleh perkembangan volume pemasaran dari produk utamanya (mempunyai korelasi positif) 3. Industrial market approach Penilaian rencana atau volume pemasaran suatu barang atau jasa dikaitkan dengan perkembangan barang atau jasa yang mempunyai koefisien korelasi yang positif. 4. Market equilibrium approach Dengan pendekatan ini, penilaian volume pemasaran barang atau jasa melalui pengukuran keseimbangan antara volume penawaran dan permintaan. Dalam hal ini volume penawaran barang atau jasa yang akan diproduksi tidak boleh melampaui volume permintaan akan barang dan jasa tersebut. 5. Market factor approach Penentuan volume pemsaran dengan pendekatan ini didasarkan atas adanya perkembangan kebutuhan dipasar (karena adanya peraturan pemerintah atau kebutuhan suatu produk pada acara-acara tertentu dan sebagainya). 6. Statistical approach Pendekatan ini menggunakan metode statistic, yaitu regresi linier dan parabolic, dan digunakan untuk barang dan jasa yang bersifat tradisional dimana dibutuhkan untuk keperluan sehari-hari atau barang/jasa yang telah dihasilkan pada waktu yang lalu. c. 1. 2. 3. 4. 5. 6. d. 1. 2. 3. 4. 5. e. 1. 2. 3. f. Melakuakan Penilaian tentang Kebijakan dan Strategi Pemasaran Nasabah Hal ini meliputi 6 P, yaitu; pricing policy; program promosi, advertising; product/sevice delivery, distribusi; program public relation; power (political power) yang dipakai untuk menopang pemasarannya; power (economical power) juga menopang pemasarannya. Melakukan Penilaian terhadap Manajemen Pemasaran Perusahaan Nasabah Hal-hal yang perlu diperhatikan antara lain: apakah organisasi pemasaran telah mempunyai kualitas dan kuantitas yang memadai denagan volumeusaha yang ada? Strategi pemasaran yang akan ditempuh; Biaya yang dianggarkan untuk kegiatan promosi dan pemenuhan permintaan apakah cukup memadai; Pengalaman para salesman/sales officer menangani masalah pemasaran; Sarana pemasaran yang dimiliki. Keadaan Pemasaran Saat Ini Penilitian diutamakan kepada hal-hal berikut. Realisasi produksi dan penjualan Sistem pemasaran yang digunakan Market share yang dapat dikuasai oleh perusahaan. Prospek Pemasaran Masalah yang perlu diperhatikan dalam meneliti prospek pemasaran nasabah dimasa yang akan dating, antara lain: 1. meneliti pemasaran yang direncanakan nasabah meliputi jumlah, cara, daerah, letter of intend dari calon-calon pembeli, dan lain-lain; 2. meneliti apakah terdapat kontrak jangka panjang/jangka pendek dari pihak pembeli; 3. meneliti kemungkinan perluasan pemasaran yang berhubungan dengan kemungkinan perubahan kondisi ekonomi keuangan dalam dan luar negeri; 4. meneliti perkembangan pembangunan ekonomi/keuangan didalam negeri, perkembangan teknologi, perkembangan harga, dan lain-lain; 5. meneliti apakah ada ketentuan yang membatasi atau membantu, misalnya untuk komoditas ekspor apakah ada ketentuan quota atau pengenaan pajak yang memberatkan atau meringankan, meneliti pengaruh peraturan/ketentuan GATT untuk komoditas-komoditas ekspor. g. Target Pemasaran 1. meneliti apakah target pemasaran/omzet yang telah dibuat akan dapat dicapai oleh nasabah dengan memperhatikan factor-faktor diantaranya: a. meneliti debitur dikaitkan dengan kemampuan debitur dalam menjalankan usahanya; b. marketability produk/jasa yang dihasilkan; c. mesin-mesin yang dipergunakan untuk menghasilkan produk/jasa; d. man (tenaga kerja yang ada) e. material (bahan baku dan bahan pembantu) yang tersedia; f. metode produksi, mekanisme kerja usaha; g. makro ekonomi, situasi perekonomian yang ada; h. kondisi keuangan perusahaan, cash flow. 2. Dalam meneliti target yang ditetapkan, juga sebaiknya dikaitkan dengan realisasi pada periode sebelumnya. 3. Aspek Keuangan Analisa aspek ini terhadap perusahaan pemohon kredit sangat menentukan jumlah dari kebutuhan usaha dan juga terpenting untuk menilai kemampuan berkembangnya usaha pada masa mendatang serta untuk menilai kemampuan perusahaan dalam membayar kreditnya. Penelitian terhadap aspek ini di dalam analisis minimal harus diarahkan kepada batasan-batasan posisi keuangan nasabah, kemampuan penyediaan dana sendiri oleh nasabah, dan kebutuhan pembiayaan. Di samping itu, perhitungan kredit juga masuk didalam aspek keuangan mengingat kaitannya sangat erat dengan aspek keuangan. Khusus untuk permohonan kredit investasi, penilaian aspek keuangan dapat dilakukan berdasarkan cash flow dan dapat pula dilakukan dengan cara proyeksi discounted cash flow, dimana kelayakan suatu/proyek digambarkan oleh: 1. Internal Rate Of Return (IRR) yang harus lebih besar dari tingkat suku bunga yang berlaku bagi jenis kredit yang bersangkutan; 2. Net Present Value (NPV) yang harus positif; dan 3. Benevit Cost Rasio (BCR) yang harus lebih besar dari 1. Laporan keuangan yang utama adalah neraca dan laporan laba rugi. Di samping itu, adapun antara lain laporan mengenai sisa laba tahun-tahun yang yang lalu dan laporan mengenai perubahan modal kerja. 4. Aspek Teknis Tujuan utama dari analisis ini adalah untuk mengamati perusahaan dari segi fisik serta lingkungannya agar perusahaan tersebut sehat dan produknya mampu bersaing di pasaran dengan masih memperoleh keuntungan yang memadai. A. Ruang Linkup Analisis Aspek Teknis 1. 2. 3. 4. 5. 6. B. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Meskipun ada permintaan pasar atas barang yang direncanakan akan diproduksi dan calon nasabah dinilai mempunyai kemampuan untuk memasarkannya serta menjelaskan usahanya, bank masih harus menilai apakah dapat diproduksi. Secara teknis ada kemungkinan tidak akan dapat dibuat atau dibuat, tetapi dengan biaya produksi yang sangat tinggi. Bila demikian keadaannya, maka dikatakan secara teknis tidak fleksibel. Untuk menjalankan usaha, apapun sektornya baik ekstraktif, agraris, perdagangan, industry ataupun jasa, pasti membutuhkan sarana diantaranya; tanah untuk tempat usaha; bangunan untuk pabrik, took,gudang, kantor, rumah makan, dan lain-lain; mesin; peralatan penunjang antara lain computer, kalkulator; cara memperoleh (proses); kebutuhan penunjang antara lain air, listrik, bahan bakar. Ketepatan memilih sarana tersebut diatas akan memengaruhi kualitas dan biaya produksi barang yang dihasilkan. Memilih sacara tepat sarana-sarana tersebut diatas akan dapat menghasilkan barang dan kualitas baik dan biaya produksi rendah. Sebaliknya salah memilih sarana-sarana tersebut dapat mengakibatkan kualitas produksinya jelek atau biaya produksinya tinggi. Proses Analisis Aspek Teknis Analis dari aspek teknis harus menggambarkan apakah rencana kerja yang diajukan nasabah secara teknis dapat terlaksana atau tidak. Secara umum penilaian aspek teknis harus mencakup hal-hal berikut: Lokasi Usaha Sumber Daya Manusia Pengalaman Usaha Kapasitas Perusahaan, Mesin, Dan Proses Produksi Yang Sesuai Pemilihan Mesin Dan Peralatan Fasilitas Pemeliharaan Lay Out 8. Sarana Dan Prasarana 9. Memperkirakan Kebutuhan Biaya 5. Aspek Manajemen a. b. c. 1. 2. 3. 4. d. Penilaian aspek ini digunakan untuk menilai struktur organisasi perusahaan, sumber daya manusia yang dimiliki serta latar belakang pendidikan dan pengalaman sumber daya manusianya. Pengalaman perusahaan dalam mengelola berbagai proyek yang ada juga menjadi pertimbangan lain. Manajemen sebagai suatu proses tindakan yang sistematis dan berkesinambungan dalam rangka mencapai suatu tujuan dari organisasi pada dasarnya dapat dibagi dalam empat kegiatan utama, yaitu sebagai berikut. Perencanaan, yaitu kegiatan untuk menciptakan dengan menyusun kerangka atau perencanaan atas pekerjaan yang akan dilaksanakanuntuk mencapai tujuan organisasi. Pengorganisasian, yaitu suatu langkah dalam menentukan bagaimana melaksanakannya (deciding how to do it), yang meliputi kegiatan pengorganisasian seluruh fungsi yang ada di dalam organisasi agar dapat bekerja dan berfungsi sebagaimana seharusnya. Termasuk dalam hal ini pengorganisasian atas factor luar yang akan dimanfaatkan. Pelaksanaan, kegiatan berikutnya adalah bagaimana pengorganisasiannya, yaitu bagaimna pelaksanaan dan pengarahannya (how to execute it) yang merupakan implementasi dari seluruh rencana kerja yang telah disiapkan dan telah diorganisasi. Tahap ini sangat penting dalam upaya mencapai tujuan sebagaimana yang diharapkan. Beberapa factor yang ikut menunjang keberhasilannya antara lain adalah: Kepemimpinan Komunikasi Keterampilan Kejelasan tujuan yang akan dicapai dan pekerjaan yang akan dilakukan. Pengawasan dan pengendalian Dari hasil pelaksanaan tersebut, maka perlu diadakan system pengawasan dan pegendalian atas pelaksanaan kerja agar mencapai tujuan sebagaimana yang diharpakan. Disamping itu, perlu pula daiadakan penilaian serta evaluasi atas hasil kerja. Apaka yang perlu diubah (deciding what should be changed)? Dengan demikian, tahap berikutnya kembali lagi pada tahap perencanaan untuk mencapai hasil yang optimal dan tujuan organisasi yang lebih realistis. 6. Aspek Sosial Ekonomi Penilaian aspek ini digunakan untuk menganalisis dampak yang ditimbulkan akibat adanya proyek atau usaha pemohon kredit terhadap perekonomian masyarakat dan sosial secara umum. Adapun hal-hal yang perlu diperhatikan dalam aspek ini antara lain: a. Kemungkinan penyerapan tenaga kerja; b. Apakah proyek tersebut dapat menumbuhkan kehidupan perekonomian masyarakat setempat atau sebaliknya akan mematikan sector-sektor usaha masyarakat setempat yang sudah saat ini; c. Apakah proyek tersebut tidak bertentangan dengan adat istiadat dan agama masyarakat setempat; d. Khusus mengenai analisis dampak lingkungan harus memperhatikan peraturan/ketentuan pemerintah yang berlaku. Apakah telah mempunyai izin AMDAL dari instansi yang berwenang? Meskipun aspek-aspek lainnya dinilai positif, apabila dari aspek social ekonomi/dampak lingkungan tidak mendukung/dinilai negative akan berakibat terhadap kegagalan usaha /proyek nasabah dimasa yang akan dating, maka tidak akan dibiayai bank. Adapun prinsip 7P dan prinsip 3R dalam analisis kredit; yaitu: 1. Personality Bank mencari data tentang kepribadian calon debitur seperti riwayat hidupnya (kelahiran, pendidikan, pengalaman, usaha/pekerjaan, dan sebagainya), hobi, keadaan keluarga (istri, anak), social standing (pergaulan dalam masyarakat serta bagaimana pendapat masyarakat tentang diri si peminjam), serta hal-hal lain yang erat hubungannya dengan kepribadian si peminjam. 2. Purpose Mencari data tentang tujuan atau keperluan penggunaan kredit. Apakah akan digunakannya untuk berdagang, atau untuk membeli rumah atauuntuk tujuan lainnya. Selain itu apakah tujuan penggunaan kredit itu sesuai dengan line of business kredit yang bersangkutan. Misalnya, tujuan atau keperluan kredit untuk perkapalan sedangkan line of business bank dalam bidang pertanian. 3. Prospect Yang dimaksud dengan prospect adalah harapan masa depan dari bidang usaha atau kegiatan usaha si peminjam. ini dapat diketahui dari perkembangan usaha peminjam selama beberapa bulan/tahun, perkembangan keadaan ekonomi perdagangan, keaadaan ekonomi/perdagangan sektor usaha si peminjam, kekuatan keuangan perusahaan yang dibuat dari earning power (kekuatan pendapatan/keuntungan) masa lalu dan perkiraan masa mendatang. 4. Payment Mengetahui bagaimana perkiraan pembayaran kembali pinjaman yang akan diberikan. Hal ini dapat diperoleh dari perhitungan tentang prospek, kelancaran penjualan dan pendapatan sehingga dapat diperkirakan kemampuan pengembalian pinjaman ditinjau dari waktu serta jumlah pengambilannya. 5. Profitability Menilai berapa tingkat keuntungan yang akan diraih calon debitur, bagaimana polanya, apakah makin lama makin besar atau sebaliknya. 6. Protection Menilai bagaimana calon debitur melindungi usaha dan mendapatkan perlindungan usaha. Apakah dalam bentuk jaminan barang, orang atau asuransi. 7. Parti Bertujuan mengklasifikasi calon debitur berdasarkan modal, loyalitas, dan karakternya. Pengklasifikasian ini akan menentukan perlakuan bank dalam hal pemberian fasilitas. Tujuh unsur dalam konsep 7P sebenarnya mempunyai kesamaan dengan lima unsur dalam 5C. Misalnya unsur kepribadian memiliki kesamaan dengan unsur karakter. Sedangkan unsur tujuan, prospek, dan pembayaran dapat memperjelas unsur kapasitas dalam konsep 5C. Unsur perlindungan dalam 7P mungkin dapat disamakan dengan kollateral dalam konsep 5C. Tiga komponen dalam prinsip 3R adalah: 1. Tingkat pengembalian usaha (return). Return disini dimaksudkan penilaian atas hasil yang akan dicapai oleh perusahaan debitur setelah dibantu dengan kredit oleh bank. Dapat pula diartikan keuntungan yang akan diperoleh bank apabila memberikan kredit kepada pemohon. 2. Kemampuan membayar kembali (repayment). Dalam hal ini bank harus menilai berapa lama perusahaan pemohon kredit dapat membayar kembali pinjamannya sesuai dengan kemampuan membayar kembali (repayment capacity), dan apakah kredit harus diangsur/ dicicil/ atau dilunasi sekaligus diakhir periode. 3. Kemampuan menanggung resiko (risk bearing ability). Dalam hal ini bank harus mengetahui dan menilai sampai sejauh mana perusahaan pemohon kredit mampu menanggung resiko kegagalan andai kata terjadi sesuatu yang tak diinginkan. Unsur-unsur yang dibahas dalam konsep 3R sebenarnya telah dibahas dalam analisis aspek-aspek yang harus dipertimbangkan dalam pemberian kredit. Hanya saja konsep 3R memberi penekanan kepada aspek finansial dari analisis kredit. BAB III PENUTUP KESIMPULAN Dari penilaian terhadap aspek finansiil tersebut kiranya sudah mencakup tujuan daripada penilaian terhadap pertimbangan pemberian kredit, yaitu kita mengetahui sampai dimana kemampuan perusahaan pemohon kredit didalam : - Melaksanakan operasinya pada masa masa yang akan datang - Menyediakan kebutuhan modal kerja - Memenuhi kewajiban finasiilnya - Menciptakan/memperoleh laba Seberapa jauh atau luas analisa atau penilaian aspek keuangan akan tergantung Kepada besar kecilnya resiko yang harus dihadapi oleh bank. Kalau resiko sedimikian besarnya maka pihak bank dapat mengadakan penilaian lebih luas dan teliti, misalnya dengan menilai/mensyaratkan adanya Capital Budgeting Projected Manufacturing Cost Statement bahkan kalau perlu sampai penilaian teknis misalnya proses teknologinya.

Judul: Tugas Firdo

Oleh: Firdo Gultom


Ikuti kami