Tugas Pendahuluan

Oleh Hanny Hilmi

88,7 KB 7 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Tugas Pendahuluan

1. Contoh obat-obat antiinflamasi dan mekanisme kerjanya : (dapat menghilangkan nyeri dan meredakan demam?)  Golongan Steroid = Menghambat enzim fosfolipase A2 sehingga tidak terbentuk asam arakhidonat. Tidak adanya asam arakhidonat berarti tidak terbentuknya prostaglandin. Contoh  : Hidrokortison, Deksametason, Prednisone Golongan AINS (non steroid) = Menghambat enzim siklooksigenase (cox1 dan cox-2) ataupun menghambat secara selektif cox-2 saja sehingga tidak terbentuk mediator-mediator nyeri, yaitu prostaglandin dan tromboksan. Contoh : Parasetamol, Aspirin, Antalgin/Metampiron, Asam Mefenamat, Ibuprofen (Richard, 1989). Dari contoh obat-obat antiinflamasi di atas, ada yang juga bekerja menghilangkan nyeri dan meredakan demam, yaitu parasetamol, metampiron, ibuprofen, dan aspirin. 2. Efek samping obat-obat antiinflamasi :  Hidrokortison = leukositosis, reaksi hipersensitif, tromboemboli, kelemahan umum, gagal jantung, darah tinggi, mual, tukak lambung, perdarahan saluran cerna, nyeri perut, osteoporosis, nyeri otot, penekanan sistem endokrin aksis hipotalamus hipofisis, gangguan menstruasi, euforia, gangguan psikologis, depresi, insomnia, nyeri kepala, peningkatan tekanan bola mata, dan infeksi sekunder.  Deksametason = insomnia, osteoporosis, retensi cairan tubuh, glaukoma dan lain-lain (Katzung, 2002).  Prednison = paling khas adalah terjadinya keadaan yang disebut dengan moon face (wajah pasien menjadi berisi sehingga terlihat bulat seperti bulan purnama) dan buffalo hump (timbunan lemak berlebih pada punggung bagian atas sehingga tampak seperti punuk kerbau). Kemudian, efek samping lainnya yang dapat timbul ialah supresi pada sistem imunitas tubuh secara sistemik, tekanan darah menjadi tinggi, berkurangnya kadar kalium dalam plasma, glaukoma, katarak, munculnya ulkus pada usus dua belas jari (duodenum), memburuknya keadaan diabetes, dapat terjadi obesitas tetapi juga mungkin terjadi penurunan berat badan, susah tidur, pusing, perasaan bahagia yang tidak tepat, bulging eyes, jerawat, kulit menjadi rapuh, garis merah atau ungu di bawah kulit, proses penyembuhan luka dan jejas yang melambat, pertumbuhan rambut meningkat, kelelahan yang ekstrim, lemah otot, siklus mens yang tidak teratur, penurunan keinginan melakukan aktivitas seksual, rasa terbakar pada ulu hati, peningkatan pengeluaran keringat, penghambatan pertumbuhan pada anakanak, kejang, dan gangguan psikiatri (termasuk di dalamnya adalah depresi, euforia, insomnia, perubahan mood mendadak, perubahan kepribadian, dan juga dapat berupa kelakuan psikotik) [Tjandra, 2009]. AINS Pada umumnya paracetamol tidak menyebabkan efek samping, namun jika mengalami tanda-tanda seperti ini segera konsultasikan ke dokter;     Ruam, pembengkakan, kesulitan bernapas – gejala alergi Tekanan darah rendah atau hipotensi Trombosit dan sel darah putih menurun Kerusakan pada hati dan ginjal – ketika mengalami overdosis Efek samping asetosal;       Alergi berupa biduran hingga sindrom Steven–Johnsons Serangan asma dan sesak napas Rasa tidak nyaman pada lambung Perdarahan spontan dan perdarahan saluran cerna Gangguang fungsi hati Gangguang fungsi ginjal Efek samping ibuprofen;          Mual dan muntah Perut kembung Nyeri ulu hati Gangguan pencernaan Diare atau konstipasi Sakit kepala Tukak lambung Muntah darah Tinja berwarna hitam atau disertai darah Efek samping metampiron;     Radang lambung rasa perih atau sakit pada uluhati (gastritis) alias sakit maag Hiperhidrosis keringat berlebih Retensi cairan dan garam dalam tubuh Reaksi alergi bagi mereka yang rentan atau sensitif, berupa gatal pada kulit, kemerahan atau edema angioneurotik. Efek samping asam mefenamat;       Nyeri ulu hati Gangguan pencernaan Tidak nafsu makan Mual dan muntah Sakit kepala Mengantuk dan kelelahan DAFTAR PUSTAKA Richard, H. 1989. Informasi Obat. Diterjemahkan oleh Goeswin A. dan Mathilda B. W. Bandung : Penerbit ITB. Katzung, G. B. 2002. Farmakologi Dasar dan Klinik. Diterjemahkan oleh Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga. Edisi VIII. Jakarta : Salemba Medika. Tjandra, L. 2009. Penggunaan Prednison Pada Penderita Asma Bronkhiale Dikaitkan Dengan Kadar IgE dan IgG Penderita. Tersedia online di http://elib.fk.uwks.ac.id/asset/archieve/jurnal/Vol%20Edisi%20Khusus %20Desember%202009/PENGGUNAAN%20PREDNISON%20PADA %20PENDERITA%20ASMA%20BRONKHIALE%20DIKAITKAN %20DENGAN%20KADAR%20IgE%20DAN%20IgG%20PENDERITA.pdf (diakses tanggal 14 November 2016, 06.03).

Judul: Tugas Pendahuluan

Oleh: Hanny Hilmi


Ikuti kami