Makalah Persediaan

Oleh Az-zhara Shatila

197,1 KB 8 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Makalah Persediaan

TUGAS AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH 1 PERSEDIAAN Oleh: AZ-ZHARA SHATILA C1C019054 Dosen Pengampu: Wirmie Eka Putra, S.E., M.Si Widya Sari Wendry S.E., M.Si PROGRAM STUDI AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS JAMBI JAMBI 2020 KATA PENGANTAR Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Mahakuasa karena telah memberikan kesempatan pada penulis untuk menyelesaikan makalah ini. Atas rahmat dan hidayahNya lah penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul Materi Persediaan. Makalah ini disusun guna memenuhi tugas pada Mata Kuliah Akuntansi Keuangan Menengah 1 di Universitas Jambi. Selain itu, penulis juga berharap agar makalah ini dapat menambah wawasan bagi pembaca tentang Materi Persediaan. Penulis mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada Bapak/Ibu selaku dosen mata kuliah. Tugas yang telah diberikan ini dapat menambah pengetahuan dan wawasan terkait bidang yang ditekuni penulis. Penulis juga mengucapkan terima kasih pada semua pihak yang telah membantu proses penyusunan makalah ini. Penulis menyadari makalah ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun akan penulis terima demi kesempurnaan makalah ini. Jambi, 13 November 2020 Penulis BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Persediaan adalah segala sesuatu / sumber-sumber daya organisasi yang di simpan dalam antisipasinya terhadap pemenuhan permintaan dari sekumpulan produk physical pada berbagai tahap proses transformasi dari bahan mentah ke barang dalam proses,dan kemudian barang jadi (Handoko, 1997:hal 333) Persediaan merupakan salah satu asset yang paling mahal dibanyak perusahaan, mencerminkan sebanyak 40% dari total modal yang diinvestasikan. Manajer operasi diseluruh dunia telah lama menyadari bahwa manajement persediaan yang baik itu sangatlah penting disatu pihak, suatu perusahaan dapat mengurangi biaya dengan cara menurunkan tiket persediaan ditangan. Dipihak lain, konsumen akan merasa tidak puas bila suatu produk stoknya habis. Oleh karena itu, perusahaan harus mencapai keseimbangan antara investasi persediaan dan tingkat pelayanan konsumen. Semua organisasi mempunyai beberapa jenis system perencanaan dan pengendalian persediaan. Dalam hal produk-produk fisik, organisasi harus menentukan apakah akan membeli atau membuat sendiri produk mereka. Setelah hal ini diterapkan, langkah berikutnya adalah meramalkan permintaan. Kemudian manajer operasi menetapkan persediaan yang diperlukan untuk melayani permintaan tersebut. 1.2. Rumusan Masalah 1. Apa itu definisi persediaan? 2. Bagaimana klasifikasi persediaan? 3. Bagaimana cakupan dalam barang persediaan? 4. Bagaimana pengukuran dalam persediaan? 5. Bagaimana sistem Pencatatan Persediaan dan Asumsi Arus Biaya? 6. Bagaimana Metode Realisasi Neto dan Penurunan Nilai Persediaan? 7. Bagaimana penggunaan Metode Lain Dalam Valuasi Persediaan? 8. Bagaimana Pengungkapan dalam persediaan? 1.3. Tujuan Adapun tujuan dari makalah ini yang mengacu pada rumusan masalah adalah untuk mengetahui penjelasan tentang persediaan. BAB II PEMBAHASAN 2.1 Definisi Persediaan merupakan salah satu asset yang sangat penting bagi suatu entitas baik bagi perusahaan ritel,manufaktur, jasa, maupun entitas lainnya. PSAK 14 (Revisi 2008) mendefinisikan persediaah sebagai asset yang; (i) tersedia untuk dijualn dalam kegiatan usaha biasa; (ii) dalam proses produksi utnuk penjualan tersebut; (iii) dalam bentuk bahan atau perlengkapan untuk digunakan dalam proses produksi atau pemberian jasa. Persediaan adalah pos-pos aktiva yang dimiliki oleh perusahaan untuk dijual dalam operasi bisnis normal, atau barang yang akan digunakan atau dikonsumsi dalam membuat barang yang akan dijual. Dapat disimpulkan bahwa Persediaan (Inventory), merupakan aktiva perusahaan yang menempati posisi yang cukup penting dalam suatu perusahaan, baik itu perusahaan dagang maupun perusahaan industri (manufaktur), apalagi perusahaan yang bergerak dibidang konstruksi, hampir 50% dana perusahaan akan tertanam dalam persediaan yaitu untuk membeli bahanbahan bangunan. 2.2 Klasifikasi Persediaan Klasifikasi persediaan dapat dibedakan menjadi dua , yaitu : a) Menurut PSAK no.14 (2007) Istilah persediaan dalam akuntansi ditujukan untuk menyatakan suatu jumlah aktiva berwujud yang memenuhi kriteria (PSAK : Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan Indonesia No. 14) yang menyatakan bahwa persediaan adalah aktiva: a) tersedia untuk dijual b) dalam proses produksi dalam dan kegiatan usaha atau perjalanan normal. atau c) dalam bentuk bahan (atau perlengkapan) untuk digunakan dalam proses produksi b) Menurut jenis perusahaan Persediaan barang diklasifikasikan sesuai dengan jenis usaha perusahaan tersebut. Dalam perusahaan perdagangan persediaan barang merupakan aktiva dalam bentuk siap dijual kembali dan yang paling aktif dalam operasi usahanya. Sedangkan dalam perusahaan pabrikasi atau manufaktur, persediaan barang dapat diklasifikasikan sebagai berikut : persediaan bahan baku, barang dalam proses, dan barang jadi. Terdapatnya klasifikasi persediaan yang berbeda antara perusahaan perdagangan dengan perusahaan manufaktur adalah karena fungsi dua perusahaan itu memang berbeda. Fungsi perusahaan perdagangan adalah menjual barang yang diperolehnya dalam bentuk sudah jadi. Dengan kata lain, tidak ada proses pengolahan seandainya terjadi pengolahan maka pengolahan tersebut terbatas pada pembungkusan atau pemberian kemasan agar barang lebih menarik selera konsumen. Sedangkan fungsi perusahaan manufaktur adalah mengolah bahan mentah menjadi produk selesai. 2.3 Cakupan Barang dalam Persediaan Salah satu permasalahan yang seringkali dihadapi oleh suatu entitas adalah terkait dengan pengakuan kepemilikan atas persediaan. Secara teknis, seharusnya suatu entitas mencatat pembelian atau penjualan atas persediaan ketika telah mendapatkan atau melepaskan hak kepemilikan atas barang tersebut. Namun seringkali penentuan atas perpindahan hak kepemilikan tersebut relatif sulit untuk dilakukan. Klasifikasi dari barang dalam persediaan mencakup : (i) barang yang ada pada suatu entitas dan merupakan miliknya; (ii) barang yang ada pada suatu entitas tapi bukan miliknya; (iii) dan barang milik suatu entitas tapi tidak ada di entitas tersebut. Pada klasifikasi kedua dan ketiga seringkali suatu entitas mengalami kesulitan dalam menentukan perpindahan hak kepemilikan atas barang. Kesulitan penentuan tersebut terjadi pada barang dalam transit dan barang konsinyasi. Barang dalam Transit Dalam proses pembelian barang, dapat saja terjadi di mana barang masih berada pada posisi transit belum diterima oleh pembeli tetapi sudah dikirim oleh penjual pada akhir periode fiskal. Pada dasarnya suatu barang diakui sebagai persediaan oleh suatu entitas yang memiliki tanggung jawab finansial terhadap biaya transportasi. Tanggung jawab financial ini dapat diindikasikan dari istilah pengiriman (shipping term) yang biasanya diistilahkan sebagai free on board (FOB). Apabila barang dikirim dengan shipping term FOB Destination, maka biaya transportasi akan dibayar oleh penjual dan hak kepemilikan tidak beralih hingga pembeli menerima barang tersebut, sehingga pengakuan persediaan tetap berada pada penjual selama periode transit. Sedangkan, apabila FOB Shipping Point, maka biaya transportasi akan dibayar oleh pembeli dan hak kepemilikan beralih ketika barang dikirimkan sehingga pengakuan persediaan berada pada pembeli ketika periode transit. Dalam praktiknya istilah FOB menggunakan lokasi spesifik dimana hak kepemilikan atas barang akan dialihkan. Penjualan Konsinyasi Sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan penjualan banyak perusahaan yang saat ini menggunakan metode konsinyasi dalam penjualannya. Perusahaan ritel seringkali menerima barang-barang konsinyasi untuk dijual. Pada kerjasama penjualan konsinyasi ini pemilik barang mengirimkan barang kepada penjual di mana penjual setuju untuk menerima barang tanpa ada kewajiban apapun kecuali perawatan dan penjagaan terhadap kehilangan dan kerusakan hingga barang tersebut terjual kepada pihak lain. Barang konsinyasi akan tetap menjadi milik pemilik barang dan pemilik barang tetap akan mencatat barang tersebut pada persediaannya. Pihak penjual yang dititipkan barang tersebut tidak mengakui barang itu dalam persediaannya. Pengungkapan yang memadai dan laporan keuangan dilakukan oleh pemilik barang dengan mengungkapkan jumlah barang yang dikonsinyasikan. Barang atas Penjualan dengan Perjanjian Khusus Seringkali dalam perjanjian penjualan barang perusahaan harus melihat substansi atas penjualan tersebut. Ketika transaksi penjualan dilakukan dan hak kepemilikan telah beralih maka seharusnya risiko dan manfaat dari kepemilikan juga beralih dari penjualan kepada pembeli. Namun demikian dapat terjadi di mana penjual masih memegang risiko dan manfaat dari kepemilikan atas barang tersebut. Dalam kondisi tersebut maka penjual masih harus mengakui kepemilikannya atas barang tersebut dan tidak terjadi pengulangan atas persediaan penjual. Beberapa perjanjian khusus yang memerlukan evaluasi atas pengalihan risiko dan manfaat dari penjual kepada pembeli di antaranya adalah penjualan dengan perjanjian pembelian kembali, penjualan dengan tingkat pengembalian yang tinggi dan penjualan dengan cicilan. Pada penjualan dengan perjanjian pembelian kembali maka pembeli tidak dapat mengakui perjanjian tersebut sebagai penjualan dengan tidak mengurangi barang tersebut dari persediaannya. Untuk penjualan dengan tingkat pengembalian tinggi maka penjual memiliki dua pilihan, pertama adalah mencatat penjualan pada nilai penuh dan membentuk akun penyisihan atas estimasi pengembalian penjualan, kedua adalah tidak mencatat adanya penjualan hingga dapat diperkirakan tingkat pengembalian oleh pembeli. Ketika tingkat pengembalian tidak dapat diperkirakan maka penjual tidak dapat mengakui penjualan dan tidak mengeluarkan barang tersebut dari persediaannya. Sedangkan untuk penjualan dengan cicilan maka penjual akan mengakui adanya penjualan dan mengeluarkan penjualan dari persediaannya apabila dapat diestimasikan secara baik nilai persentase kemungkinan penjualannya tidak tertagih. 2.4 Pengukuran Persediaan Salah satu masalah utama terkait dengan persediaan adalah mengukur nilai persediaan tersebut. PSAK 14 (revisi 2008) menyatakan bahwa persediaan diukur berdasarkan biaya atau nilai realisasi neto mana yang lebih rendah. Biaya Persediaan Biaya persediaan meliputi semua biaya pembelian biaya konversi dan biaya lain yang timbul sampai persediaan berada dalam kondisi dan lokasi saat ini Biaya Pembelian Biaya pembelian persediaan meliputi harga beli, bea impor, pajak lainnya kecuali yang kemudian dapat disajikan kembali kepada otoritas pajak, biaya pengangkutan, biaya penanganan dan biaya lainnya secara langsung dapat diatribusikan pada perolehan barang jadi, bahan, dan jasa. Diskon dagang, empat, dan hal lain yang serupa dikurangkan dalam menentukan biaya pembelian. Biaya Konversi Biaya konversi merupakan biaya yang timbul untuk memproduksi bahan baku menjadi barang jadi atau barang dalam produksi. Biaya ini meliputi biaya yang secara langsung terkait dengan unit yang diproduksi, termasuk juga alokasi sistematis biaya overhead produksi yang bersifat tetap ataupun variabel yang timbul dalam mengonversi bahan menjadi barang jadi. Untuk biaya overhead yang bersifat variabel maka biaya tersebut dialokasikan pada setiap unit Produksi atas dasar penggunaan aktual fasilitas produksi. Sedangkan biaya overhead tetap dialokasikan berdasarkan kapasitas fasilitas produksi normal. Apabila suatu entitas mengalami produksi yang rendah maka pengalokasian jumlah overhead tetap per unit produksi tidak bertambah dan overhead yang tidak ter alokasi diakui sebagai beban pada periode terjadinya. Sebaliknya apabila suatu entitas mengalami produksi yang tinggi di luar normalitas produksinya, maka jumlah overhead tetap yang dia lokasi kan pada tiap unit produksi menjadi berkurang sehingga persediaan tidak diukur di atas biayanya. Biaya Lainnya Biaya lain yang dapat dibebankan sebagai biaya persediaan adalah biaya yang timbul agar persediaan tersebut berada dalam kondisi dan lokasi saat ini yang termasuk biaya lainnya misalnya biaya desain dan biaya produksi yang ditujukan untuk konsumen yang spesifik. Sedangkan biaya-biaya seperti penelitian dan pengembangan, biaya administrasi dan penjualan, biaya pemborosan, biaya penyimpanan tidak dapat dibebankan sebagai biaya persediaan. 2.5 Sistem Pencatatan Persediaan dan Asumsi Arus Biaya Dalam melakukan pencatatan persediaan, teknik pencatatan persediaan terkait juga dengan sistem pencatatan persediaan yang digunakan oleh entitas entitas dapat menggunakan sistem periodik atau sistem perpetual. Sistem periodik merupakan sistem pencatatan persediaan di mana kuantitas persediaan ditentukan secara periodik yaitu hanya pada saat perhitungan fisik yang biasanya dilakukan secara stock opname. Sedangkan sistem perpetual merupakan sistem pencatatan persediaan dimana pencatatan yang up to date terhadap barang persediaan selalu dilakukan setiap terjadi perubahan nilai persediaan. Standar akuntansi tidak mengatur bahwa suatu entitas harus memilih asumsi arus biaya yang sesuai dengan arus fisik persediaan. Pada dasarnya suatu entitas akan mempertimbangkan dampak pemilihan asumsi arus biaya tersebut dalam laporan laba rugi. Terdapat tiga alternatif yang dapat dipertimbangkan oleh suatu entitas terkait dengan asumsi arus biaya, yaitu: Metode identifikasi khusus Identifikasi khusus biaya artinya biaya biaya tertentu yang diatribusikan ke unit persediaan tertentu titik berdasarkan metode ini maka suatu entitas harus mengidentifikasikan barang yang dijual dengan tiap jenis dalam persediaan secara spesifik. Metode ini pada dasarnya merupakan metode yang paling ideal karena terdapat kecocokan antara biaya dan pendapatan, tetapi karena dibutuhkan pengidentifikasian barang persediaan secara satu persatu maka biasanya metode ini hanya diterapkan pada suatu entitas yang memiliki persediaan sedikit, nilainya tinggi, dan dapat dibedakan satu sama lain. Dengan menggunakan metode identifikasi khusus maka perhitungan persediaan menggunakan sistem perpetual akan sama dengan perhitungan dengan menggunakan sistem periodik. Hal ini karena dengan sistem identifikasi khusus nilai persediaan dikaitkan secara spesifik terhadap unit barang tertentu. Metode biaya masuk pertama keluar pertama Metode masuk pertama keluar pertama (MPKP) atau first in first out (FIFO) mengasumsikan unit persediaan yang pertama dibeli akan dijual atau digunakan terlebih dahulu sehingga unit yang tertinggal dalam persediaan akhir adalah yang dibeli atau diproduksi kemudian. Metode ini merupakan metode yang relatif konsisten dengan arus fisiknya dari persediaan terutama untuk industri yang memiliki perputaran persediaan tinggi. Salah satu kelebihan dari metode ini adalah dari sisi relevansi nilai persediaan yang disajikan dalam laporan posisi keuangan perusahaan. Hal ini dikarenakan nilai persediaan yang disajikan merupakan nilai yang didasarkan pada harga yang paling kini. Penggunaan metode ini menghasilkan laporan posisi keuangan yang sesuai dengan nilai kini perusahaan. Sedangkan kelemahan dari penggunaan metode ini adalah tidak merefleksikan nilai laba yang paling akurat karena metode ini kurang cocok antara biaya dengan pendapatan. Dalam metode ini biaya persediaan mengacu pada harga pembelian yang terlebih dulu sehingga biaya tersebut tidak cocok dengan pendapatan yang diperoleh perusahaan. Signifikansi dari ketidakcocokan ini akan bergantung pada tingginya perputaran persediaan perusahaan dan cepatnya perubahan harga barang. Semakin tinggi tingkat perputaran persediaan dan harga barang mengalami inflasi tinggi dalam waktu yang cepat maka laba yang dicatat perusahaan dapat menjadi lebih besar dari yang sesungguhnya (overstated). Metode rata-rata tertimbang Metode rata-rata tertimbang digunakan dengan menghitung biaya setiap unit berdasarkan biaya rata-rata tertimbang dari unit yang serupa pada awal periode dan biaya unit serupa yang dibeli atau diproduksi selama suatu periode. Perusahaan dapat menghitung rata-rata biaya secara berasa atau pada saat penerimaan kiriman. Untuk menghitung biaya persediaan dengan menggunakan metode rata-rata tertimbang ini terlebih dahulu harus dihitung biaya rata-rata per unit yaitu dengan membagi biaya barang yang tersedia untuk dijual dengan unik yang tersedia untuk dijual. Persediaan akhir dan beban pokok penjualan dihitung dengan dasar harga rata-rata tersebut. 2.6 Metode Realisasi Neto dan Penurunan Nilai Persediaan Persediaan diukur berdasarkan nilai yang lebih rendah antara nilai yang berdasarkan biaya dan nilai realisasi neto (net realizable value – NRV). Nilai realisasi neto merupakan estimasi harga jual dalam kegiatan usaha biasa dikurangi estimasi biaya penyelesaian dan estimasi biaya yang diperlukan untuk membuat penjualan. Persediaan akan dinilai pada nilai realisasi neto nya apabila biaya persediaan (yang didapat dari penggunaan metode identifikasi khusus, MPKP, atau rata-rata) lebih tinggi dari estimasi nilai yang akan diperoleh kembali. Nilai persediaan biasanya diturunkan ke nilai realisasi neto secara terpisah untuk setiap unit dalam persediaan. Namun demikian dalam beberapa kondisi penurunan nilai persediaan mungkin lebih sesuai jika dihitung terhadap kelompok unit yang serupa atau berkaitan. Penurunan nilai menjadi nilai realisasi neto ini mungkin saja terjadi apabila barang persediaan mengalami kerusakan, seluruh atau sebagian persediaan telah usang, atau harga jualnya telah turun. Selain itu biaya persediaan juga tidak akan diperoleh kembali (persediaan akan mengalami penurunan nilai) ketika estimasi biaya penyelesaian atau estimasi biaya untuk membuat penjualan telah meningkat. Ketika suatu entitas memiliki kelompok produk yang sejenis penerapan penilaian persediaan dengan menggunakan metode nilai yang lebih rendah antara nilai yang berdasarkan biaya dan nilai realisasi neto dapat diterapkan untuk barang secara individual maupun kelompok. Penerapan secara kelompok dapat menghasilkan nilai yang berbeda dengan penerapan secara individual karena terdapat kemungkinan adanya saling offset antarkelompok. Dengan menggunakan metode nilai terendah antara biaya dan NRV maka entitas harus melakukan pencatatan terkait dengan dampaknya terhadap laba karena terdapat penyesuaian dalam nilai beban pokok penjualan yang dicatat. Terdapat dua metode yang dapat dipilih yaitu metode beban pokok penjualan dan metode kerugian. Dengan menggunakan metode kerugian, entitas dapat pula menggunakan akun penyisihan selain mengkredit akun persediaan dengan nama akun “penyisihan penurunan nilai persediaan pada NRV”. Dengan menggunakan akun penyisihan ini maka nilai persediaan yang disajikan pada laporan posisi keuangan adalah nilai persediaan yang berdasarkan energi dimana nilai tersebut adalah nilai persediaan berdasarkan biaya dikurangi dengan penyisihan. Apabila suatu entitas telah melakukan penurunan nilai persediaan dan pada periode selanjutnya terdapat peningkatan nilai realisasi itu maka jumlah penurunan nilai harus dibalik (jumlah pemulihan yang dapat dilakukan adalah sebatas jumlah penurunan nilai awal) sehingga jumlah tercatat baru bagi persediaan adalah nilai yang terendah dari biaya atau nilai realisasi neto yang telah direvisi. Pembalikan nilai penurunan tersebut dicatat dengan mendebit akun penyisihan dan mengkredit akun pembalikan kerugian persediaan. Jika suatu entitas menjual persediaannya, maka nilai tercatat dari persediaan tersebut harus diakui sebagai beban pada periode diakuinya pendapatan atas penjualan tersebut. Apabila terdapat penurunan nilai persediaan dari nilai biaya menjadi nilai realisasi neto, maka kerugian atas penurunan nilai persediaan tersebut diakui sebagai beban pada periode terjadinya penurunan. Apabila terjadi pemulihan atas penurunan nilai maka diakui sebagai pengurangan terhadap jumlah beban persediaan pada periode terjadinya pemulihan. 2.7 Penggunaan Metode Lain Dalam Valuasi Persediaan Metode Laba Bruto Metode ini menghitung persediaan dengan mengestimasikan jumlah persediaan akhir berdasarkan nilai barang yang tersedia untuk dijual, penjualan, dan persentase laba bruto. Metode ini biasanya dipakai untuk mengestimasi nilai persediaan ketika entitas mengalami kebakaran atau bencana alam yang merusak sebagian besar persediaan perusahaan. Metode Ritel Metode ritel merupakan metode pengukuran nilai persediaan dengan menggunakan rasio biaya untuk menurunkan nilai persediaan akhir yang dinilai berdasarkan nilai ritelnya menjadi nilai biaya. Metode ini banyak dipakai oleh entitas perdagangan yang memiliki banyak sekali jenis barang dengan nilai per barangnya tidak besar seperti supermarket dan Departemen Store. Entitas perdagangan dapat menghitung persediaan fisik pada harga ritel atau mengestimasi persediaan akhir dan kemudian menggunakan rasio cost to retail untuk mengestimasi nilai persediaan pada nilai biaya. Karenanya metode ritel ini juga dapat digunakan untuk mengestimasi nilai persediaan untuk keperluan pelaporan keuangan interim apabila perusahaan tidak melakukan stock opname. Metode ritel ini dapat digunakan dalam asumsi arus biaya yang telah dijelaskan sebelumnya yaitu MPKP atau biaya rata-rata. 2.8 Pengungkapan Terkait dengan persediaan, maka dalam penyajian pada laporan keuangan suatu entitas harus mengungkapkan beberapa hal sebagai berikut:  Kebijakan akuntansi yang digunakan dalam pengukuran persediaan termasuk rumus biaya yang digunakan  Total jumlah tercatat persediaan dan jumlah nilai tercatat menurut klasifikasi yang sesuai bagi entitas  Jumlah tercatat persediaan yang dicatat dengan nilai wajar dikurangi biaya untuk menjual  Jumlah persediaan yang diakui sebagai beban selama periode berjalan  Jumlah setiap penurunan nilai yang diakui sebagai pengurang jumlah persediaan yang diakui sebagai beban dalam periode berjalan  Jumlah dari setiap pemulihan dari setiap penurunan nilai yang diakui sebagai pengurang jumlah persediaan yang diakui sebagai beban dalam periode berjalan  Kondisi atau peristiwa penyebab terjadinya pemulihan nilai persediaan yang diturunkan  Nilai tercatat persediaan yang diperuntukkan sebagai jaminan kewajiban BAB III PENUTUP 3.1. Kesimpulan Persediaan didefinisikan sebagai aset yang; (i) tersedia untuk dijual dalam kegiatan usaha biasa; (ii) dalam proses produksi untuk penjualan tersebut; (iii) dalam bentuk bahan atau perlengkapan untuk digunakan dalam proses produksi atau pemberian jasa. Klasifikasi persediaan pada perusahaan dagang adalah persediaan barang dagang dan pada perusahaan manufaktur, yaitu: persediaan barang jadi yang merupakan barang yang telah siap dijual, persediaan barang dalam penyelesaian yang merupakan barang setengah jadi dan persediaan bahan baku yang merupakan bahan ataupun perlengkapan yang akan digunakan dalam proses produksi. Biaya persediaan meliputi semua biaya pembelian, biaya konversi dan biaya lain yang timbul sampai persediaan berada dalam kondisi dan lokasi saat ini. Biaya pembelian persediaan meliputi harga beli, bea impor, pajak lainnya, biaya pengangkutan, biaya penanganan, dan biaya lainnya yang secara langsung dapat diatribusikan pada perolehan barang jadi bahan, dan jasa. Diskon dagang, rabat, dan hal lain yang serupa dikurangkan dalam menentukan biaya pembelian. Biaya konversi merupakan biaya yang timbul untuk memproduksi bahan mentah menjadi barang jadi atau barang dalam produksi. Biaya ini meliputi biaya yang secara langsung terkait dengan unit yang diproduksi, termasuk juga alokasi sistematis biaya overhead produksi yang bersifat tetap ataupun variabel yang timbul dalam mengkonversi bahan menjadi barang jadi. Biaya lain yang dapat dibebankan sebagai biaya persediaan adalah biaya yang timbul agar persediaan tersebut berada dalam kondisi dan lokasi saat ini. Entitas dapat menggunakan sistem periodik atau sistem perpetual. Sistem periodik merupakan sistem pencatatan persediaan di mana kuantitas persediaan ditentukan secara periodik yaitu hanya pada saat perhitungan fisik yang biasanya dilakukan secara stock opname. Sedangkan sistem perpetual merupakan sistem pencatatan persediaan dimana pencatatan yang update terhadap barang persediaan selalu dilakukan setiap terjadi perubahan nilai persediaan. Terdapat tiga alternatif yang dapat dipertimbangkan oleh suatu entitas terkait dengan asumsi arus biaya, yaitu: metode identifikasi khusus, masuk pertama keluar pertama, rata-rata tertimbang. Persediaan diukur berdasarkan nilai yang lebih rendah antara nilai yang berdasarkan biaya dan nilai realisasi neto (NRV). Nilai realisasi neto merupakan estimasi harga jual dalam kegiatan usaha biasa dikurangi estimasi biaya penyelesaian dan estimasi biaya yang diperlukan untuk membuat penjualan. Persediaan akan dinilai pada nilai realisasi neto nya apabila biaya persediaan ( yang didapat dari penggunaan metode identifikasi khusus, MPKP, atau rata-rata) lebih tinggi dari estimasi nilai yang akan diperoleh kembali. Metode lain yang dapat digunakan dalam menghitung biaya persediaan adalah metode laba bruto dan metode ritel. Metode laba bruto menghitung persediaan dengan estimasikan jumlah persediaan akhir berdasarkan nilai barang yang tersedia untuk dijual, penjualan, dan persentase laba bruto. Metode ritel merupakan metode pengukuran nilai persediaan dengan menggunakan rasio biaya untuk menurunkan nilai Persediaan akhir yang dinilai berdasarkan nilai ritelnya menjadi nilai biaya. DAFTAR PUSTAKA Martani, Dwi, Sylvia Veronica NPS, Ratna Wardhani, Aria Farahmita, Edward Tanujaya, Akuntansi Keuangan Menengah Berbasis PSAK, Jakarta: Salemba Empat, 2012.

Judul: Makalah Persediaan

Oleh: Az-zhara Shatila


Ikuti kami