Makalah Mikropaleontologi

Oleh Eldin Tguho

3,6 MB 10 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Makalah Mikropaleontologi

KEMENTERIAN RISET TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI UNIVERSITAS HALU OLEO FAKULTAS ILMU DAN TEKNOLOGI KEBUMIAN JURUSAN TEKNIK GEOLOGI MAKALAH MIKROPALEONTOLOGI OLEH: ELDIN R1C117004 KENDARI 2019 KATA PENGANTAR Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.. Pertama-tama saya ucapkan puja dan puji syukur atas rahmat ALLAH SWT karena berkat ridho-NYA saya dapat menyelesaikan makalah ini yang berjudul “mikropaleontologi” dengan baik dan selesai tepat pada waktunya. Tidak lupa pula saya ucapkan terimakasih kepada teman-teman saya yang selalu setia membantu saya dalam hal mengumpulkan data-data dalam pembuatan makalah ini. Dalam makalah ini saya menjelaskan tentang mikropaleontology. Diantaranya terdapat definisi mikropaleontologi,sejarahmikropaleontologi,foraminifera, fungsi dari foraminifera, dan serta pengelompokkan berdasarkan family, genus, dan spesies. Mungkin dalam pembuatan makalah ini terdapat kesalahan yang belum saya ketahui. Maka dari itu saya mohon saran & kritik dari teman-teman maupun asisten dosen. Demi tercapainya makalah yang sempurna. Kendari, 22 Mei 2019 Penulis, DAFTAR ISI Daftar Sampul Daftar isi Kata Pengantar Bab I Pendahuluan 1.1 Latar Belakang 1.2 Rumusan Masalah 1.3 Tujuan BAB II Pembahasan 2.1 Mikropaleontologi a. Sejarah Mikropaleontologi b. Analisis Mikropaleontologi 2.2 Foraminifera A. biostratigrafi B. Kegunaan Dari Mikro Fosil Foraminifera C. Sistem reproduksi D. Morfologi Foraminifera E. klasifikasi foraminifera 2.3 Foraminifera Plantonik A.Pengenalan Genus dan Spesies Foraminifera Planktonik 2.4 foraminifera B. Genus dan family foraminifera bentonik BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan 3.2 Penutup DAFTAR PUSTAKA BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Mikropaleontologi merupakan cabang dari ilmu paleontologi yang mempelajari sisa-sisa organisme yang telah terawetkan di alam berupa fosil yang berukuran mikro. Mikropaleontologi juga didefinisikan sebagai studi sitematik yang membahas mikrofosil, klasifikasi, morfologi, ekologi, dan mengenai kepentingannya terhadap stratigarfi atau ilmu yang mempelajari sisa organisme yang terawetkan di alam dengan mengunakan alat mikroskop. Pengertian Mikrofosil Menurut Jones (1936) Setiap fosil (biasanya kecil) untuk mempelajari sifat-sifat dan strukturnya dilakukan di bawah mikroskop. Umumnya fosil ukurannya lebih dari 5 mm namun ada yang berukuran sampai 19 mm seperti genus fusulina yang memiliki cangkang- cangkang yang dimiliki organisme, embrio dari fosilfosil makro serta bagian-bagian tubuh dari fosil makro yang mengamainya menggunakan mikroskop serta sayatan tipis dari fosil-fosil, sifat fosil mikro dari golongan foraminifera kenyataannya foraminifera mempunyai fungsi/berguna untuk mempelajarinya. Foraminifera adalah organisme bersel tunggal (protista) yang mempunyai cangkang atau test (istilah untuk cangkang internal). Foraminifera diketemukan melimpah sebagai fosil, setidaknya dalam kurun waktu 540 juta tahun. Cangkang foraminifera umumnya terdiri dari kamar-kamar yang tersusun sambungmenyambung selama masa pertumbuhannya. Bahkan ada yang berbentuk paling sederhana, yaitu berupa tabung yang terbuka atau berbentuk bola dengan satu lubang. Cangkang foraminifera tersusun dari bahan organik, butiran pasir atau partikel-partikel lain yang terekat menyatu oleh semen, atau kristal CaCO3 (kalsit atau aragonit) tergantung dari spesiesnya. Foraminifera yang telah dewasa mempunyai ukuran berkisar dari 100 mikrometer sampai 20 sentimeter. Penelitian tentang fosil foraminifera mempunyai beberapa penerapan yang terus berkembang sejalan dengan perkembangan mikropaleontologi dan geologi. Fosil foraminifera bermanfaat dalam biostratigrafi, paleoekologi, paleobiogeografi, dan eksplorasi minyak dan gas bumi. 1.2 Rumusan Masalah 1. Apa pengertian Mikropaleontologi ? 2. Jelaskan Sejarah Mikropaleontologi ? 3. Apa Pengertian foraminifera ? 4 Jelaskan klasifikasi, evolusi ciri-ciri dan morfologi Foramminifera? 1.3 Tujuan 1. Mengetahui pengertian Mikropaleontologi 2. Mengetahui sejarah mikropaleontologi 3 . Mengetahui pengertian dari foraminifera 4. Mengetahui klasifikasi, evolusi, ciri-ciri dan morfologi foraminifera BAB II PEMBAHASAN 2.1 Mikropaleontologi Mikropaleontologi merupakan cabang dari ilmu paleontologi yang mempelajari sisa-sisa organisme yang telah terawetkan di alam berupa fosil yang berukuran mikro. Mikropaleontologi juga didefinisikan sebagai studi sitematik yang membahas mikrofosil, klasifikasi, morfologi, ekologi, dan mengenai kepentingannya terhadap stratigarfi atau ilmu yang mempelajari sisa organisme yang terawetkan di alam dengan mengunakan alat mikroskop. Pengertian Mikrofosil Menurut Jones (1936) Setiap fosil (biasanya kecil) untuk mempelajari sifat-sifat dan strukturnya dilakukan di bawah mikroskop. Umumnya fosil ukurannya lebih dari 5 mm namun ada yang berukuran sampai 19 mm seperti genus fusulina yang memiliki cangkang- cangkang yang dimiliki organisme, embrio dari fosilfosil makro serta bagian-bagian tubuh dari fosil makro yang mengamainya menggunakan mikroskop serta sayatan tipis dari fosil-fosil, sifat fosil mikro dari golongan foraminifera kenyataannya foraminifera mempunyai fungsi/berguna untuk mempelajarinya Fosil yang terdapat di alam mempunyai ukuran yang berbeda-beda, sehingga penelitiannya dilakukan dengan cara yang berbeda pula. Ada penelitian fosil yang dilakukan secara megaskopis, artinya dilakukan dengan mata bugil/dengan loupe (kaca pembesar). Disamping itu, ada juga cara penelitian secara mikroskopis, artinya penelitian dilakukan dengan menggunakan alat mikroskop. Fosil-fosil mikro antara lain dari : Calcareous Nannofosil, Conodonts, Diatoms, Foraminifera, Ostracoda dan Radiolaria A. Sejarah Mikropaleontologi Sebelum zaman masehi, fosil-fosil mikro terutama ordo foraminifera sangat sedikit untuk di ketahui. Meskipun demikian filosofi-filosofi Mesir banyak yang menuis tentang keanehan alam. Termasuk pada waktu menjumpai fosil. a. Herodotus dan Strabo pada abad ke lima dan ke tujuh sebelum masehi menemukan benda-benda aneh di daerah piramida. Mereka mengatakan bahwa benda-benda tersebut adalah sisa-sisa makanan para pekerja yang telah menjadi keras, padahal benda tersebut sebetulnya adalah fosil-fosil numulites. Fosil ini terdapat dalam batugamping brumur Eosen yang di gunakan sebagai bahan bangunan piramida di negara tersebut. b. Agricola pada tahun 1546 mengambarkan benda-benda aneh tersebut sebagai “Stone Lentils” Gesner tahun 1565 menulis tentang sistematika paleontology. c. Van Leewenhoek (tahun 1660) menemukan miroskop, terhadap fosil mikro berkembang dengan pesat. d. Beccarius (tahun 1739) pertama kali menulis tentang foraminifera yang dapat dilihat dengan mikrosop. e. Carl Von Lineous adalah orang swedia yang memperkenalkan tata nama baru (1758) dalam bukunya yang berjudul (System Naturae) tata nama baru ini penting, karena cara penamaan ini lebih sederhana dan sampai sekarang ini digunakan untuk penamaan binatang maupun tumbuhan pada umumnya. f. D’orbigny (1802-1857) menulis tentang foraminifera yang digolongkan dalam kelas Chepalopoda. Beliau juga menulis tentang fosil mikro seperti Ostracoda, Conodonta, beliau dikenal sebagai Bapak Mikropaleontologi. g. Ehrenberg dalam penyelidikan organisme mikro menemukan berbagai jenis Ostracoda, Foraminifera dan Flagellata, penyelidikan tentang sejarah perkembangan foraminifera dilakukan oleh Carpenter (1862) dan Lister (1894). Selain itu mereka juga menemukan bentuk-bentuk mikrosfir dan megalosfir dari cangkang-cangkang foraminifera. h. Chushman (1927) pertama kali menulis tentang fosil-fosil foraminifera dan menitikberatkan penelitianya pada study determinasi foraminifera, serta menyusun kunci untuk mengenal fosil-fosil foraminifera. i. Jones (1956) banyak membahas fosil mikro diantaranya Foraminifera, Gastropoda, Conodonta, Ostracoda, Spora dan Pollen serta kegunaan fosil-fosil tersebut, juga membahas mengenai ekologinya. B. Analisis Mikropaleontologi Fosil berukuran mikro dalam penyajiannya ada tahap dan prosedurnya. Dari fosil mikro, penyajian ini harus ada alat bantu untuk menganalisisnya. Penyusun akan menerangkan secara detail tentang analisis dari penyajian fosil mikro dari tahap ke tahap 1. Penyajian atau Preparasi Fosil Fosil mikro dalam batuan sering terdapat bersamaan dengan bahan lain yang telah direkatkan oleh semen, oleh karena itu harus dipisahkan terlebih dahulu dari batuan penyusunnya sebelum dilakukan penelitian. Karena dalam penelitian diperlukan fosil yang benar-benar bersih dari pengotor dan lepas dari ikatan semennya, maka batuan sedimen yang belum begitu kompak perlu diurai menjadi butir-butir yang lepas, sedangkan untuk batuan yang telah kompak dimana penguraian butirnya tidak memungkinkan, perlu dilakukan secara khusus, misalnya dengan sayatan tipis, kemudian diteliti dengan mikroskop. a. Alat dan Bahan Peralatan yang digunakan dalam pengambilan sampel, antara lain : 1) Palu geologi 2) Kompas geologi 3) Plastik/tempat sampel 4) Buku catatan lapangan 5) Alat tulis 6) HCl 0,1 N 7) Peta lokasi pengambilan sampel Sedangkan peralatan lain guna menyajikan fosil, antara lain: 1) Wadah sampel 2) Larutan H2O2 3) Mesin pengayak 4) Ayakan menurut skala Mesh 5) Tempat sampel yang telah dibersihkan 6) Alat pengering / oven Dan untuk memisahkan fosil, peralatan yang diperlukan antara lain: 1) Cawan tempat contoh batuan 2) Jarum 3) Lem unuk merekatkan fosil 4) Tempat fosil 5) Mikroskop & alat penerang b. Langkah kerja  Proses Penguraian Batuan Proses pneguraian batuan sedimen dapat dikerjakan dengan 2 cara, yaitu ; proses penguraian secara fisik dan proses penguraian secara kimia a. Proses penguraian secara fisik 1) Batuan sedimen ditumbuk dengan palu karet sampai menjadi pecahan-pecahan dengan diameter 3-6 mm 2) Pecahan-pecahan batuan direndam dalam air 3) Kemudian direas-remas dalam air 4) Diaduk dengan mesin aduk atau alat pengaduk yang bersih 5) Dipanaskan selama 5-10 menit 6) Didinginkan Umumnya batuan sedimen yang belum begitu kompak, apabila mengalami proses-proses tersebut akan terurai. b. Proses penguraian secara kimia Bahan-bahan larutan kimia yang biasa digunakan dalam penguraian batuan sedimen antara lain : asam asetat, asam nitrat dan hydrogen piroksida. Penggunaan larutan kimia sangat tergantung dari macam butir pembentuk batuan dan jenis semen. Oleh sebab itu, sebelum dilakukan penguraian batuan tersebut perlu diteliti jenis butirannya, masa dasar dan semen. 2. Proses Pengayakan Dasar proses pengayakan adalah bahwa fosil-fosil dan butiran lain hasil penguraian terbagi menjadi berbagai kelompok berdasarkan ukuran butirnya masing-masing yang ditentukan oleh besar lubang. Namun, perlu diperhatikan bahwa tidak semua butiran mempunyai bentuk bulat, tetapi ada juga yang panjang yang hanya bisa lolos dalam kedudukan vertikal. Oleh karena itu, pengayakan harus digiyang sehingga dengan demikian berarti bahwa yang dimaksudkan dengan besar butir adalah diameter yang kecil / terkecil. Ukuran ayakan dinyatakan dalam Mesh yang berarti jumlah jaringan perinchi. Standar dan merek dari sistem mesh ini bermacam-macam, antara lain : ASTM (American Standard for Testing Material), dimana juga tertera besarnya lubang dalam milimeter. Dari beberapa unsur mesh ini harus dipilih satu unit ayakan dengan selang besar lubang tertentu dan lebih kecil selang lubangnya lebih teliti analisisnya. Pengayakan dapat dilakukan dengan cara basah dan cara kering :  Cara kering 1) Keringkan seluruh contoh batuan yang telah terurai 2) Masukkan kedalam ayakan paling atas dari unit ayakan yang telah tersusun baik sesuai denagn keperluan 3) Mesin kocok dijalankan selama + 10 menit 4) Contoh batuan yang tertinggal di tiap-tiap ayakan ditimbang dan dimasukkan dalam botol/plastik contoh batuan  Cara basah Pengayakan dilakukan dalam air sehingga contoh batuan yang diperoleh masih harus dikeringkan terlebih dahulu. Skala ayakan yang digunakan dalam analisis fosil berdasarkan ASTM, yaitu seperti pada tabel 4 seperti berikut : Tabel 4. Skala Ayakan menurut ASTM MESH Besar Lubang Ayakan (mm) 5 4,00 6 3,36 7 2,83 8 2,38 10 2,00 12 1,68 14 1,41 16 1,19 18 1,00 20 0,84 25 0,71 30 0,59 35 0,50 40 0,42 45 0,35 50 0,297 60 0,250 70 0,210 80 0,177 100 0,149 120 0,125 140 0,105 170 0,088 200 0,074 230 0,062 270 0,053 0,044 3. Proses Pemisahan Fosil Setelah contoh batuan selesai diayak, maka pekerjaan selanjutnya adalah pemisahan fosil dari butiran lainnya.Pemisahan ini menggunakan alat : a) Cawan untuk tempat contoh batuan b) Jarum c) Cawan tempat air d) Lem untuk merekatkan fosil e) Kertas untuk memberi nama fosil f) Tempat fosil g) Mikroskop Fosil-fosil dipisahkan dari butiran lainnya dengan menggunakan jarum. Untuk menjaga agar fosil yang telah dipisahkan tidak hilang, maka fosil perlu disimpan di tempat yang aman. Setelah selesai pemisahan fosil, penelitian terhadap masing-masing fosil dilakukan. IV. 2. Determinasi Fosil Beberapa cara mendeterminasi foraminifera untuk memberikan nama genusnya, antara lain dengan : 1. Membandingkan dengan koleksi fosil yang ada 2. Menyamakan foram, yang belum dikenal dengan gambar-gambar yang ada di leteratur/publikasi 3. Lengsung mendeterminasi fosil foram yang belum dikenal tersebut dengan mempelajari ciri-ciri morfologinya 4. Kombinasi 1,2 dan 3 Ciri-ciri morfologi : 1. Komposisi dinding test (bahan pembentuk test) 2. Bentuk test, bentuk kamar, susunan kamar dan jumlah kamar 3. Bentuk dan letak mulut, aperture utama dan aperture tambahan serta jumlah aperture 4. Bentuk dan posisi suture 5. Bentuk dan letak ornamentasi/hiasan 2.2 Foraminifera Foraminifera adalah organisme bersel tunggal (protista) yang mempunyai cangkang atau test (istilah untuk cangkang internal). Foraminifera diketemukan melimpah sebagai fosil, setidaknya dalam kurun waktu 540 juta tahun. Cangkang foraminifera umumnya terdiri dari kamar-kamar yang tersusun sambungmenyambung selama masa pertumbuhannya. Bahkan ada yang berbentuk paling sederhana, yaitu berupa tabung yang terbuka atau berbentuk bola dengan satu lubang. Cangkang foraminifera tersusun dari bahan organik, butiran pasir atau partikel-partikel lain yang terekat menyatu oleh semen, atau kristal CaCO3 (kalsit atau aragonit) tergantung dari spesiesnya. Foraminifera yang telah dewasa mempunyai ukuran berkisar dari 100 mikrometer sampai 20 sentimeter. Penelitian tentang fosil foraminifera mempunyai beberapa penerapan yang terus berkembang sejalan dengan perkembangan mikropaleontologi dan geologi. Fosil foraminifera bermanfaat dalam biostratigrafi, paleoekologi, paleobiogeografi, dan eksplorasi minyak dan gas bumi Foraminifera jumlah genusnya sedikit, tetapi jumlah spesiesnya banyak. Planktonik pada umumnya hidup mengambang dan bergerak tergantung oleh arus pasifn di permukaan laut.Fosil planktonik ini dapat digunakan dalam memecahkan masalah geologi antara lain sebagai berikut. 1. Sebagai fosil petunjuk. 2. Digunakandalampengkorelasianbatuan. 3. Penentuanumur relative suatu lapisan batuan. 4. Penentuan lingkungan pengendapan a. Biostratigrafi Foraminifera memberikan data umur relatif batuan sedimen laut. Ada beberapa alasan bahwa fosil foraminifera adalah mikrofosil yang sangat berharga khususnya untuk menentukan umur relatif lapisan-lapisan batuan sedimen laut. Data penelitian menunjukkan foraminifera ada di bumi sejak jaman Kambrium, lebih dari 500 juta tahun yang lalu. Foraminifera mengalami perkembangan secara terus-menerus, dengan demikian spesies yang berbeda diketemukan pada waktu (umur) yang berbedabeda. Foraminifera mempunyai populasi yang melimpah dan penyebaran horizontal yang luas, sehingga diketemukan di semua lingkungan laut. Alasan terakhir, karena ukuran fosil foraminifera yang kecil dan pengumpulan atau cara mendapatkannya relatif mudah meskipun dari sumur minyak yang dalam b. Kegunaan Dari Mikro Fosil Foraminifera Beberapa manfaat fosil antara laian sebagai berikut: 1. Dalam korelasi untuk membantu korelasi penampang suatu daerah dengan daerah lain baik bawah permukaan maupun di permukan 2. Menentukan umur misalnya umur suatu lensa batu pasir yang terletak di dalam lapisan serpih yang tebal dapat ditentukan dengan mikrofosil yang ada dalam batuan yang melingkupi. 3. Membantu studi mengenai spesies. 4. .Dapat memberikan keterangan-keterengan palenteologi yang penting dalam menyusun suatu standar section suatu daerah. 5. Membantu menentukan batas-batas suatu transgresi/regresi serta tebal/tipis lapisan. c. Sistem Reproduksi Foraminifera bereproduksi dengan 2 cara yaitu aseksual dan seksual. Cara aseksual yaitu pada individu yang telah dewasa terdapat sebuah inti pada protoplasmanya. Inti tersebut kemudian membelah diri terus menerus selama menjadi dewasa membentuk nuclei-nuclei. Pada tahap selanjutnya inti-inti akan meninggalkan cangkangnya dan keluar sambil membawa sebagian protoplasmanya. Kemudian inti-inti dengan protoplasma tersebut membentuk cangkang baru dengan proloculum (kamar utama) yang besar dan cangkang yang relatif kecil (megalosfer). Sedangkan selanjutnya dengan pada tahap seksual, pada bentuk-bentuk megalosfer ini membentuk kembali inti-inti kecil (nucleioli) yang semakin banyak pada tahapan dewasa, dan akhirnya pecah keluar melalui apertur sambil membawa protoplasma dan membentuk flagel untuk pergerakkannya. intiinti dengan flagel itu disebut sebagai gamet jantan/betina. gamet-gamet tersebut saling beregerak mencari pasangan yang berlawanan untuk kemudian berkonjugasi (seksual fase) membentuk individu baru dengan proloculum kecil dan cangkang yang relatif besar, disebut mikrosfer. pada tahap selanjutnya mikrosfeer ini akan membelah diri kembali seperti pada tahap asexual dan selanjutnya terulang kembali siklus yang sama . d .Morfologi Foraminifera Bentuk luar foraminifera, jika diamati dibawah mikroskop dapat menunjukkan beberapa kenampakan yang bermacam-macam dari cangkang foraminifera, meliputi : a. Dinding, lapisan terluar dari cangkang foraminifera yang berfungsi melindungi bagian dalam tubuhnya. Dapat terbuat dari zat-zat organik yang dihasilkan sendiri atau dari material asing yang diambil dari sekelilingnya. b. Kamar, bagian dalam foraminifera dimana protoplasma berada. c. Protoculum, kamar utama pada cangkang foraminifera. d. Septa, sekat-sekat yang memisahkan antar kamar. e. Suture, suatu bidang yang memisahkan antar 2 kamar yang berdekatan.. Aperture, lubang utama pada cangkang foraminiferra yang berfungsi sebagai mulut atau juga jalan keluarnya protoplasma. Macam – macam morfologi atau cangkang foraminifera dapat dilihat pada gambar 5 Gambar 5. Bagian-bagian cangkang foraminifera (Sumber: panduan praktikum mikropaleontologi)  Bentuk Cangkang, Bentuk dan Susunan Kamar Bentuk cangkang merupakan bentuk cangkang fosil secara keseluruhan, artinya tidak sama dengan bentuk kamar dalam fosil tersebut. Foraminifera mempunyai cangkang yang bermacam-macam bentuknya, biasanya terdiri dari satu/lebih kamar dimana antara kamar satu dan lainnya dibatasi oleh septa. Cangkang tersebut dikelilingi oleh sebuah dinding. Tempat pertemuan dinding dengan septa ini disebut suture yang penting untuk klasifikasi yang ditunjukkan pada gambar Secara garis besar bentuk-bentuk cangkang, meliputi : 1. Tabular (tabung) 15. Clavate (ganda) 2. Radial (bola) 16. Cuneate (tanduk) 3. Ellips 17. Flaring (mekar) 4. Lagenoid (botol) 18. Fistulose (jantung) 5. Sagittate (anak panah) 19. Sirkular 6. Fusiform (kumparan) 20. Kipas 7. Palmate (tapak/jejak) 21. Biconvex trochospiral 8. Lencticular (lensa) 22. Spiroconvex trochospiral 9. Rhomboid (ketupat) 23. Umbilicus biconvex trochospiral 10. Globular (seperti peluru) 24. Evolute planispiral 11. Subglobular 25. Involute planispiral 12. Kerucut 26. Streptospiral 13. Biconvex 27. Enrolled biserial 14. Tabulospinate (berduri) 28. Globular (bulat) Gambar 6. Berbagai bentuk dasar test (cangkang) Foraminifera (Sumber : buku panduan praktikum mikropaleontologi ,ist akprind) e. Klasifikasi Foraminifera Foraminifera dibedakan atas foraminifera kecil dan foraminifera besar. Untuk foraminifera kecil, proses pengamatan dan pemerian secara langsung, artinya fosil-fosil diamati langsung dibawah mikroskop, sedangkan foraminifera besar pemeriannya menggunakan sayatan tipis. Foraminifera kecil, berdasarkan cara hidupnya dapat dibedakan menjadi foram planktonik dan foram benthonik.. Cara hidup dari ordo ini adalah : a. Planktonik (mengambang) b. Benthonik (Di dasar laut) -. Nektonik ; aktif bergerak -. Secil ; menambatkan diri -. Pelagik -. Vagil ; merayap/berpindah ; pasif bergerak Dari phylum protozoa, khususnya foraminifera sangat penting dalam geologi karena memiliki bagian yang keras dengan ciri masing-masing foraminifera, foraminifera kecil dibagi menjadi 2 yaitu : a. Foraminifera Planktonik (mengambang), ciri-ciri : 1) Susunan kamar trochospiral. 2) Bentuk test bulat. 3) Komposisi test Hyaline b. Foraminifera Benthonik (di dasar laut), ciri-ciri : 1) Susunan kamar planispiral. 2) Bentuk test pipih. 3) Komposisi test adalah aglutine dan aranaceous Foram kecil benthos sering dipakai untuk penentuan lingkungan pengendapan, sedangkan foraminifera besar dipakai untuk penentuan umur foram kecil benthos sudah sejak lama dipakai dan sangat berharga untuk mengetahui lingkungan pengendapan purba. Lingkungan laut di bagi menjadi yang dapat dilihat pada gamabar 4. yaitu: a. Zona neritik : kedalaman 0-200m b. Zona bthyal : kedalaman 200-300m c. Zona abysal : kedalaman lebih 3000m Gambar: Ekologi Foraminifera Benthos(Sumber: http www.mikropeda blogspot) 2.3 Foraminifera plantonik Foraminifera planktonik jumlah genusnya sedikit, tetapi jumlah spesiesnya banyak. Plankton pada umumnya hidup mengambang di permukaan laut dan fosil plankton ini dapat digunakan untuk memecahkan masalah-masalah geologi, antara lain :  Sebagai fosil petunjuk  Korelasi  Penentuan lingkungan pengendapan Foram plankton tidak selalu hidup di permukaan laut, tetapi pada kedalaman tertentu :  Hidup antara 30 – 50 meter  Hidup antara 50 – 100 meter  Hidup pada kedalaman 300 meter  Hidup pada kedalaman 1000 meter Ada golongan foraminifera plankton yang selalu menyesuaikan diri terhadap temperatur, sehingga pada waktu siang hari hidupnya hampir di dasar laut, sedangkan di malam hari hidup di permukaan air laut. Sebagai contoh adalah Globigerina pachyderma di Laut Atlantik Utara hidup pada kedalaman 30 sampai 50 meter, sedangkan di Laut Atlantik Tengah hidup pada kedalaman 200 sampai 300 meter. Foram plankton sangat peka terhadap kadar garam. Pada keadaan normal, ia berkembangbiak dengan cepat, tetapi bila terjadi perubahan lingkungan ia akan segera mati atau sedikit terpengaruhi perkembangannya. Namun demikian, ada juga beberapa jenis yang tahan terhadap perubahan kadar garam, misalnya di Laut Merah meskipun kadar garamnya tinggi, tetapi masih dijumpai Globigerina bulloides dan Globigerinoides sacculifer A.Pengenalan Genus dan Spesies Foraminifera Planktonik Foraminifera planktonik khusus terdapat pada superfamili Globigerinicea, yang dapat dibagi menjadi : 1. Family Globigeriniidae Famili ini pada umumnya mempunyai bentuk test spherical atau hemispherical, bentuk kamar globural dan susunan kamar trochospiral rendah atau tinggi. Aperture pada umumnya terbuka lebar dengan posisi yang terletak pada umbilicus dan juga pada suture atau pada apertural face. Beberapa genus yang termasuk dalam family Globigeriniidae : a. Genus Orbulina Ciri khas dari genus ini adalah adanya aperture small opening. Aperture ini adalah akibat dari terselubungnya seluruh kamar sebelumnya oleh kamar terakhir. Beberapa spesies yang termasuk dalam genus ini (dapat dilihat pada gambar 14) : 1) Orbulina universa Gambar 14. Spesies Orbulina Universa (Sumber: http://www.paleontology.com ) 2) Orbulina bilobata (dapat dilihat pada gambar 15) Gambar 15. Spesies Orbulina bilobata (Sumber: http://www.paleontology.com ) 3) Orbulina suturalis (dapat dilihat pada gambar 16) Gambar 16. Spesies Orbulina Saturalis (Sumber: http://www.paleontology.com) b. 1) Genus Globigerina Globigerina nephentes (dapat dilihat pada gambar 17) Ciri khas : aperturenya melengkung semi bulat dengan pinggiran melipat ke atas. Gambar 17. Spesies Globigerina nephentes (Sumber: http://www.paleontology.com) 2) Globigerina praebulloides (dpat dilihat pada gambar 18) Ciri khas : kamar menggembung, suture pada bagian spiral radial sehingga sangat melengkung, tertekan, pada bagian umbilical radial, tertekan, umbilicusnya dalam. Gambar 18. Spesies Globigerina praebulloides (Sumber: http://www.paleontology.com) 3) Globigerina seminulina (dapt dilihat pada gambar 19) Ciri khas : kamar spherical satu yang terakhir elongate, umbilicus kecil hingga sangat lebar, sangat dalam. Aperture berbentuk elongate atau melengkung rendah, interiomarginal umbilical dibatasi oleh lengkungan. c. Genus Globigerinoides Ciri morphologinya sama dengan Globigerina tetapi pada Globigerinoides terdapat supplementary aperture. Beberapa spesies yang termasuk dalam genus ini : 4) Globigerinoides trilobus (dapat dilihat pada gambar ) Ciri khas : tiga kamar pada putaran terakhir membesar sangat cepat. Umbilicusnya sangat sempit. Aperture primernya interiomarginal umbilical, melengkung lemah sampai sedang dibatasi oleh rim, pada kamar terakhir terdapat aperture sekunder. Gambar . Spesies Globigerina trilobus (Sumber: http://www.paleontology.com) 5) Globigerinoides conglobatus (dapat dilihat pada gambar ) Ciri khas : kamar awalnya subspherical, tiga kamar terakhir bertambah secara perlahan. Umbilicus sempit, tertutup dan dalam. Aperture primer interiomarginal umbilical, umbilical panjang, melengkung dibatasi oleh sebuah lengkungan, serta terdapat aperture sekunder. Gambar . Spesies Globigerina conglobatus (Sumber: http://www.paleontology.com ) 6) Globigerina extremus (dapat dilihat pada gambar 23) Ciri khas : empat kamar terakhir bertambah besar, suture melengkung, blique pada spiral-spiral dan pada bagian umbilicusnya tertekan, umbilicusnya sempit, dalam. Semua kamar pada putaran terakhir yang tertekan, oblique lateral. Terdapat hiasan berupa tooth pada aperturenya. Gambar 23. Spesies Globigerina extremus (Sumber: http://www.paleontology.com) 7) Globigerinoides fistulosus (dapat diliht pada gambar 24) Mempunyai kamar spherical, kamar terakhir bergerigi pada peri-peri, suture pada bagian spiral melengkung tertekan, umbilicusnya sangat lebar. Aperture primer interiomarginal umbilical, lebar, terbuka dengan adanya sebuah lip. Terdapat aperture sekunder pada kamar awalnya. Gambar 24. Spesies Globigerina fistulosus (Sumber: http://www.paleontology.com) 8) Globigerinoides immaturus (dapat dilihat pada gambar 25) Tiga kamar terakhir bertambah besar tidak begitu cepat. Umbilicus sempit. Aperture primer interiomarginal umbilical dengan lengkungan yang rendah sampai sedang, dibatasi oleh sebuah rim. Terdapat aperture sekunder pada kamar terakhir. Gambar 25. Spesies Globigerina immaturus (Sumber: http://www.paleontology.com) 9) Globigerinoides obliquus (dapat dilihat pada gambar 26) Satu kamar terakhir berbentuk oblique. Aperture primer interiomarginal umbilical, sangat melengkung yang dibatasi oleh sebuah rim. Sebagian kecil dari kamar terakhir memperlihatkan sebuah aperture sekunder yang berseberangan dengan aperture primer. Gambar 26. Spesies Globigerina obliquus (Sumber: http://www.paleontology.com) 10) Globigerinoides primordius (dapat dilihat pada gambar 27) Ciri khasnya hampir sama dengan Globigerina praebulloides tetapi mempunyai aperture sekunder pada sisi dorsal. Gambar 27. Spesies Globigerina primordius (Sumber: http://www.paleontology.com) 11) Globigerinoides ruber (dapat dilihat pada gambar 28)Perputaran kamarnya terlihat mulai dari samping. Aperture interiomarginal umbilical, dengan lengkungan sedang yang terbuka dibatasi oleh sebuah rim. Pada sisi dorsal terdapat aperture sekunder. Gambar 28. Spesies Globigerina ruber (Sumber: http://www.paleontology.com) c. Genus Globoquadrina Bentuk test spherical, bentuk kamar globural,aperture terbuka lebar dan terletak pada umbilicus dengan bentuk segiempat,yang kadang-kadang mempunyai bibir. Beberapa spesies yang termasuk dalam genus ini : 1) Globoquadrina dehiscens (dapat dilihat pada gambar 29) Kamar subglobular menjadi semakin melingkupi pada saat dewasa. Tiga kamar terakhir bertambah ukurannya secara cepat. Pada kenampakan samping sisi dorsal terlihat datar. Spesies ini banyak ditemukan di daerah laut sedang yang memiliki kedalaman dari 200- 350 meter di bawah permukaan air laut dengan cara hidup melayang – layang di laut dan terfosilkan di dasar laut. Gambar 29. Spesies Globigerina dehiscens (Sumber: http://www.paleontology.com) 2) Globoquadrina altispira (dapat dilihat pada gambar 30) Empat kamar terakhir bertambah ukurannya secara sedang, umbilicus sangat lebar, dalam, aperture interiomarginal sangat lebar terlihat elongate pada bagian atas, terdapat flap. Gambar 30. Spesies Globigerina Altispira (Sumber: http://www.paleontology.com) d. Genus Sphaeroidinella Bentuk test spherical atau oval, bentuk kamar globular dengan jumlah kamar tiga buah yang saling berangkuman (embracing). Aperture terbuka lebar dan memanjang di dasar suture. Pada dorsal terdapat supplementary aperture. Mempunyai hiasan berupa suture bridge. Spesies yang termasuk dalam genus ini: 1) Sphaeroidinella dehiscens (dapat dilihat pada gambar 31) Gambar 31. Spesies Sphaeroidinella dehiscens (Sumber: http://www.paleontology.com) e. Genus Sphaeroidinellopsis Mempunyai ciri hampir sama dengan genus Sphaeroidinella tapi tidak mempunyai aperture sekunder. Spesies yang termasuk dalam genus ini: 1) Sphaeroidinellopsis seminulina (dapat dilihat pada gambar 32) Gambar 32. Spesies Sphaeroidinellopsis seminulina (Sumber: http://www.paleontology.com) f. Genus Pulleniatina Susunan kamar trochospiral terpuntir. Aperture terbuka lebar memanjang dari umbilicus kearah dorsal dan terletak didasar apertural face. Pada genus ini sering ditemukan terfosilkan pada kedalaman 200-350 meter dibawah permukaan air laut, tapi genus ini sangat jarang di jumpai mungkin karena kebanyakan sudah hancur karna memiliki test atau cangkang yang kurang kuat Spesies yang termasuk dalam genus ini: 1) Pulleniatina obliqueloculata (dapat dilihat pada gambar 33) Gambar 33. Spesies Pullenitina (Sumber: http://www.paleontology.com) g. Genus Catapsydrax Mempunyai hiasan pada aperture berupa bulla pada Catapsydrax dissimilis dan tegilla pada Catapsydrax stainforthi. Juga mempunyai accessory aperture yaitu infralaminal accessory aperture pada tepi hiasan aperturenya. Spesies yang termasuk dalam genus ini: 1) Catapsydrax dissimillis (dapat dilihat pada gambar 34) Gambar 34. Spesies Catapsydrax dissimillis (Sumber: http://www.paleontology.com) 2. Family Globorotaliidae Umumnya mempunyai bentuk test biconvex, bentuk kamar subglobular atau angular conical, susunan kamar trochospiral. Aperture mamanjang dari umbilicus kepinggir test dan terletak pada dasar apertural face. Pada pinggir test ada yang mempunyai keel dan ada pula yang tidak. Genus yang termasuk dalam family Globorotaliidae: a. Genus Globorotalia Berdasarkan ada tidaknya keel maka genus ini dibagi menjadi 2 subgenus,yaitu: 1) Subgenus Globorotalia Subgenus ini mencakup seluruh Globorotalia yang mempunyai keel. Untuk membedakan subgenus ini dengan subgenus lainnya maka penulisannya diberi kode sebagai berikut : Globorotalia (G) Beberapa spesies yang termasuk subgenus ini : a) Globorotalia tumida (dapat dilihat pada gambar 35) Test trochospiral rendah sampai sedang, sisi spiral lebih convex daripada sisi umbilical, permukaannya licin kecuali pada kamar dari putaran akhir dan umbilical pada kamar akhir yang pustulose. Suture disisi spiral pada mulanya melengkung halus lalu melengkung tajam mendekati akhir hampir lurus hingga radial, pada distal kembali melengkung hamper tangensial ke peri-peri. Gambar 35. Subgenus globorotalia-spesies Globorotalia tumidae (Sumber: http://www.paleontology.com) b) Globorotalia plesiotumida (dapat dilihat pada gambar 36) Test trochospiral sangat rendah, biconvex, tertekan, peri-peri equatorial globulate, keel tipis. Suture pada bagian spiral melengkung satu pada bagian yang terakhir subradial, pada sisi distalnya melengkung sangat kuat. Umbilical sempit dan tertutup dalam, aperture interiomarginal umbilical extra umbilical melengkung lemah dibatasi oleh lip yang tipis. Gambar 36. Subgenus globorotalia-spesies Globorotalia plesiotumida (Sumber: http://www.paleontology.com) 2) Subgenus Turborotalia Mencakup seluruh Globorotalia yang tisak mempunyai keel. Untuk penulisannya diberi kode sebagai berikut: Globorotalia (T) Beberapa spesies yang termasuk subgenus ini: c) Globorotalia siakensis (dapat dilihat pada gambar 37) Susunan kamar trochospiral lemah, peri-peri equatorial globulate, kamar tidak rata, subglobular, kamar 5-6 terakhir membesar tidak teratur. Pada kedua sisi suturenya radial, tertekan, umbilical agak lebar sampai agak sempit, dalam. Aperture interiomarginal umbilical extra umbilical, agak rendah, terbuka, melengkung, dibatasi oleh bibir atau rim. Gambar 37. Subgenus Turborotalia-spesies Globorotalia Siakensis (Sumber: http://www.paleontology.com) 3. Family Hantkeniidae Pada test terdapat dua umbilicus yang masing-masing terletak pada salah satu sisi test yang berseberangan. Susunan kamr planispiral involute. Pada beberapa genus kamar-kamar ditumbuhi oleh spine-spine panjang. Beberapa genus yang termasuk dalam family Hantkeniidae: a. Genus Hantkenina (dapat dilihat pada gambar 38) Bentuk test biumbilicate, bentuk kamar tabular spinate dan susunan kamar planispiral involute, tiap-tiap kamar terdapat spine yang panjang, bentuk cangkang genus ini kebanyakan memiliki duri – duri banyak ditemukan cangkang dalam keadaan keropos atau sudah rusak karena proses sedimentasi. Contoh: Hantkenina alabamensis. Gambar 38. Genus Hantkenina-spesies Hantkenina alabamensis (Sumber: http://www.paleontology.com) b. Genus Cribohantkenina (dapat dilihat pada gambar 39) Mempunyai ciri hampir sama dengan Hantkenina tetapi kamar akhir sangat gemuk dan mempunyai cribate yang terletak pada apertural face. Contoh: Cribohantkenina bermudezi Gambar 39. Genus Cribohantkenina-Spesies Cribohantkenina Bermudezi (Sumber: http://www.paleontology.com) c. Genus Hastigerina Bentuk test biumbilicate, susunan kamar planispiral involute atau loosely coiled. Mempunyai aperture equatorial yang terletak pada apertural face. Contoh: Hastigerina aequilateralis (dapat dilihat pada gambar 40) Gambar 40. Genus Hastigerina-Spesies Hastigerina aequilateralis (Sumber: http://www.paleontology.com) 2.4. Foraminifera Benthonik Fosil foraminifera benthonik sering dipakai untuk penentuan lingkungan pengendapan, sedangkan fosil foram benthonik besar dipakai untuk penentuan penentuan lingkungan purba. Foraminifera yang dapat dipakai sebagai lingkungan laut secara umum adalah :  Pada kedalaman 0 – 5 m, dengan temperatur 0-27 derajat celcius, banyak dijumpai genus-genus Elphidium, Potalia, Quingueloculina, Eggerella, Ammobaculites dan bentuk-bentuk lain yang dinding cangkangnya dibuat dari pasiran.  Pada kedalaman 15 – 90 m (3-16º C), dijumpai genus Cilicides, Proteonina, Ephidium, Cuttulina, Bulimina, Quingueloculina dan Triloculina.  Pada kedalaman 90 – 300 m (9-13oC), dijumpai genus Gandryna, Robulus, Nonion, Virgulina, Cyroidina, Discorbis, Eponides dan Textularia.  Pada kedalaman 300 – 1000 m (5-8º C), dijumpai Listellera, Bulimina, Nonion, Angulogerina, Uvigerina, Bolivina dan Valvulina. A. Genus dan Family Foriminifera Benthonik Berikut adalah foraminifera dengan beberapa genus dan keterangan determinasinya, yang di tunjukkan pada gambar Gambar . Contoh genus foraminifera bentonik dan keterangannya (Sumber: http://www.micropaleontology.com) BAB III PENUTUP 3.1 KESIMPULAN 1. Mikropaleontologi merupakan cabang dari ilmu paleontologi yang mempelajari sisasisa organisme yang telah terawetkan di alam berupa fosil yang berukuran mikro. 2. Sebelum zaman masehi, fosil-fosil mikro terutama ordo foraminifera sangat sedikit untuk di ketahui. Meskipun demikian filosofi-filosofi Mesir banyak yang menuis tentang keanehan alam. Termasuk pada waktu menjumpai fosil.  Herodotus dan Strabo pada abad ke lima dan ke tujuh sebelum masehi menemukan benda-benda aneh di daerah piramida. Mereka mengatakan bahwa benda-benda tersebut adalah sisa-sisa makanan para pekerja yang telah menjadi keras, padahal benda tersebut sebetulnya adalah fosil-fosil numulites. Fosil ini terdapat dalam batugamping brumur Eosen yang di gunakan sebagai bahan bangunan piramida di negara tersebut.  Agricola pada tahun 1546 mengambarkan benda-benda aneh tersebut sebagai “Stone Lentils” Gesner tahun 1565 menulis tentang sistematika paleontology.  Van Leewenhoek (tahun 1660) menemukan miroskop, terhadap fosil mikro berkembang dengan pesat.  Beccarius (tahun 1739) pertama kali menulis tentang foraminifera yang dapat dilihat dengan mikrosop.  Carl Von Lineous adalah orang swedia yang memperkenalkan tata nama baru (1758) dalam bukunya yang berjudul (System Naturae) tata nama baru ini penting, karena cara penamaan ini lebih sederhana dan sampai sekarang ini digunakan untuk penamaan binatang maupun tumbuhan pada umumnya.  D’orbigny (1802-1857) menulis tentang foraminifera yang digolongkan dalam kelas Chepalopoda. Beliau juga menulis tentang fosil mikro seperti Ostracoda, Conodonta, beliau dikenal sebagai Bapak Mikropaleontologi.  Ehrenberg dalam penyelidikan organisme mikro menemukan berbagai jenis Ostracoda, Foraminifera dan Flagellata, penyelidikan tentang sejarah perkembangan foraminifera dilakukan oleh Carpenter (1862) dan Lister (1894). Selain itu mereka juga menemukan bentuk-bentuk mikrosfir dan megalosfir dari cangkang-cangkang foraminifera.  Chushman (1927) pertama kali menulis tentang fosil-fosil foraminifera dan menitikberatkan penelitianya pada study determinasi foraminifera, serta menyusun kunci untuk mengenal fosil-fosil foraminifera.  Jones (1956) banyak membahas fosil mikro diantaranya Foraminifera, Gastropoda, Conodonta, Ostracoda, Spora dan Pollen serta kegunaan fosil-fosil tersebut, juga membahas mengenai ekologinya. 3. Foraminifera adalah organisme bersel tunggal (protista) yang mempunyai cangkang atau test (istilah untuk cangkang internal). Foraminifera diketemukan melimpah sebagai fosil, setidaknya dalam kurun waktu 540 juta tahun. 4. Foraminifera dibedakan atas foraminifera kecil dan foraminifera besar. Untuk foraminifera kecil, proses pengamatan dan pemerian secara langsung, artinya fosil-fosil diamati langsung dibawah mikroskop, sedangkan foraminifera besar pemeriannya menggunakan sayatan tipis. Foraminifera kecil, berdasarkan cara hidupnya dapat dibedakan menjadi foram planktonik dan foram benthonik.. Cara hidup dari ordo ini adalah : a. Planktonik (mengambang) b. Benthonik (Di dasar laut) 3.2 SARAN Penulis menyadari bahwa makalah diatas banyak sekali kesalahan dan jauh dari kesempurnaan. Penulis akan memperbaiki makalah tersebut dengan berpedoman pada banyak sumber yang dapat dipertanggungjawabkan. Maka dari itu penulis mengharapkan kritik dan saran mengenai pembahasan makalah dalam kesimpulan diatas DAFTAR PUSTAKA  Mahap Maha, 2007. Panduan Pratikum Mikropaleontologi, UPN Veteran Yogyakarta.  Sanjoto Siwi, Defri H, Sri P.K., 2005, Buku Petunjuk Praktikum Mikropaleontologi, ISTA Yogyakarta  Sanjoto Siwi, Suharsono, 1994, Petunjuk Praktikum Mikropaleontologi Dasar ; Ordo Foraminifera, ISTA Yogyakarta  Postuma J. A., Manual of Planctonic Foraminifera, Elsevier Publishing Company Amsterdam London, New York  Katili, Dr.J & Marks, Dr.P .Geologi.Jakarta :Departement Urusan Research Nasional  Geologifugm.blogspot.com. 24 Desember 2013.,17.30 wib. Yogyakarta.  http://www.lemigas.esdm.go.id  http://www.paleontology.com  http://www.radiolaria.org/  http://www.micropaleontology.com

Judul: Makalah Mikropaleontologi

Oleh: Eldin Tguho


Ikuti kami