Makalah Alk

Oleh Renie Pratiwi

574,3 KB 8 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Makalah Alk

1. Rasio Likuiditas Rasio untuk mengukur kemampuan perusahaan untuk memenuhi kemampuan finansialnya dalam jangka pendek. Current Ratio Menurut Agnes Sawir (2003:8), menerangkan bahwa : “Current ratio merupakan ukuran yang paling umum digunakan untuk mengetahui kesanggupan memenuhi kewajiban jangka pendek, karena rasio ini menunjukan seberapa jauh tuntutan dari kreditor jangka pendek dipenuhi oleh aktiva yang diperkirakan menjadi uang tunai dalam periode yang sama dengan jatuh tempo utang”. Current Ratio = (Aktiva Lancar/Kewajiban Lancar) x 100% Tahun 2013 Current Ratio = Tahun 2014 Current Ratio = (16.846.248/2.740.089) x (16.086.773/3.260.559) 100% = 6.1% 100% = 4.9 % Analisa Current ratio yang rendah biasanya dianggap x menunjukkan terjadinya masalah dalam likuidasi, sebaliknya current ratio yang terlalu tinggi juga kurang bagus, karena menunjukkan banyaknya dana menganggur yang pada akhirnya dapat mengurangi kemampuan laba perusahaan. Pada laporan keuangan diatas terjadi penurunan current ratio daritahun 2013 ke tahun 2014 sebesar 1.2%. Quick Ratio/Acid Test Ratio Pengertian Quick Ratio menurut Mamduh M.Hanafi & Abdul Halim (2003:204), yaitu : “ Quick Ratio sering juga disebut Acid-test Ratio, rasio ini menggunakan aset-aset yang akan berubah menjadi kas dengan lebih cepat. Karena persediaan dianggap sebagai aktiva lancar yang paling lama untuk berubah menjadi kas, maka dalam perhitungan Quick ratio persediaan dikeluarkan dari angka yang dibagi (numerator). “ Quick Ratio = ((Aktiva Lancar – Persediaan)/Kewajiban Lancar)) x 100% Tahun 2013 Quick Ratio/Acid Test Tahun 2014 Quick Ratio/Acid Test Analisa Rasio ini menunjukan kemampuan aktiva Ratio= Ratio= lancar yang paling likuid mampu menutupi ((16.846.248 1.473.645) - ((16.086.773 - 1.665.546) /3.260.559) x 100% hutang lancar. Semakin besar rasio ini = semakin baik. Rasio ini disebut juga Acid /2.740.089) x 100% = 4.42% test rasio. Untuk quick rasio ukuran 5.6% berdasarkan prinsaip hati-hati adalah 100% atau 1:1dianggap cukup memuaskan tetapi quick rasio disini menurun tahun 2013 mendapatkan hasil 5,6% mendapatkan hasil 4,42 dan % 2014 didalam perusahaan apabila kurang / menurun maka dianggap kurang baik. Cash Ratio Cash Ratio adalah perbandingan daripada kas dan saldo giro/tabungan bank yang dimiliki oleh perusahaan dengan hutang lancar yang ada, semakin tinggi nilai ini tentunya akan semakin baik Cash Ratio = (Kas/Kewajiban Lancar) x 100% Tahun 2013 Cash Ratio = Tahun 2014 Cash Ratio = Analisa Nilai Cash Ratio PT. Indocement Tunggal (12.595.187/2.740.089) x (11.256.129/3.260.559) x Prakarsa Tbk dari tahun 2013 100% = 4.5% 100% = 3.4% mengalami penurunan. Hal ini disebabkan dan 2014 karena penurunan pada jumlah kas yang dimiliki perusahaan dan kenaikan pada kewajiban lancar yang tidak sesuai sehingga perusahaan tidak likuid. Working Capital to Total Assets Ratio Working capital to total assets ratio (WCTA ratio) adalah likuiditas dari total aktiva dan posisi modal kerja. WCTAR = Aktiva Lancar – Kewajiban Lancar / Jumlah Aktiva x 100% Tahun 2013 ((16.846.248 Tahun 2014 – ((16.086.773 – 3.260.559) Analisa Rasio yang tinggi relatif kurang baik, karena 2.740.089) /28.884.973) x 100% = bila /26.607.241) x 100% = 0.44% mengalami kesukaran (Syafaruddin Alwi, 0.53% terjadi likuidasi perusahaanakan 1993). Tetapi dari analisis tersebut dari tahun 2013 ke tahun 2014 mengalami penurunan 0.09%. Kreditur lebih menyukai rasio utang yang rendah karena semakin rendah rasio ini, maka semakin besar perlindungan terhadap kerugian kreditur dalam peristiwa likuidasi. 2. Rasio Solvabilitas Solvabilitas, berguna untuk menunjukkan kemampuan perusahaan untuk memenuhi segala kewajiban finansialnya jika perusahaan tersebut dilikuidasi. Suatu perusahaan dikatakan Solvabel jika perusahaan itu mempunyai aktiva yang cukup untuk membayar semua hutanghutangnya ,baik yang jangka panjang maupun jangka pendek. Jika perusahaan tidak mempunyai cukup aktiva untuk membayar segala hutangnya, maka perusahaan tersebut dikatakan insolvabel. Dalam hubungan antara likuiditas dan solvabilitas dapat dialami oleh perusahaan yaitu : a. Perusahaan yang likuid tetapi insolvable b. Perusahaan yang likuid dan solvable c. Perusahaan yang solvabel tetapi ilikuid d. Perusahaan yang insolvabel dan ilikuid ada empat kemungkinan yang Tingkat solvabilitas diukur dengan beberapa rasio, yaitu : Total Debt to Equity Ratio Merupakan Perbandingan antara hutang – hutang dan ekuitas dalam pendanaan perusahaan dan menunjukkan kemampuan modal sendiri, perusahaan untuk memenuhi seluruh kewajibanya . Total Debt Equty Ratio = (Total Utang/Ekuitas) x 100% Tahun 2013 Perputaran Piutang = Tahun 2014 Perputaran Piutang = Analisa Bagian setiap rupiah modal sendiri yang (3.629.554/22.947.271) x (4.100.172/24.784.801) x dijadikan jaminan untuk keseluruhan hutang. 100% = 0.15% 100% = 0.16% dari setiap rupiah modal sendiri menjadi jaminan hutang. Rasio di samping sebesar 0,15 % dan 0,16 % untuk tahun 2013 dan 2014. Maka kurang dari 100% maka dari itu perusahaan tidak perlu takut tidak bisa membayar hutangnya. Total Debt to Assets Ratio Rasio ini merupakan perbandingan antara hutang lancar dan hutang jangka panjang dan jumlah seluruh aktiva diketahui. Rasio ini menunjukkan berapa bagian dari keseluruhan aktiva yang dibelanjai Total Debt Assets Rasio = (Total Utang/Total Aktiva) x 100% Tahun 2013 Total Debt Assets Rasio = Tahun 2014 Total Debt Assets Rasio = Analisa Beberapa bagian dari keseluruhan dana yang (3.629.554/26.607.241) x (4.100.172/28.884.973) x dibelanjai dengan utang. Atau Berapa bagian 100% = 0.13% 100% = 0.14% dari aktiva yang digunakan untuk menjamin hutang. 13% untuk 2013 dan 14% untuk 2014, dari setiap aktiva digunakan untuk menjamin utang. 3. Rasio Profitabilitas Profitabilitas suatu perusahaan menunjukkan perbandingan antara laba dengan aktiva atau modal yang menghasilkan laba tersebut. : Gross Profit Margin ( Margain Laba Kotor) Merupakan perandingan antar penjualan bersih dikurangi dengan Harga Pokok penjualan dengan tingkat penjualan, rasio ini menggambarkan laba kotor yang dapat dicapai dari jumlah penjualan. GPM = (Laba Kotor/Penjualan Bersih) x 100% Tahun 2013 GPM = Tahun 2014 GPM = Analisa Laba Bruto per rupiah penjualan. Setiap (8.654.654/18.691.286) x (9.086.669/19.996.264) x Penjualan menghasilkan laba bruto Rp 100% = 0.46% 100% = 0.45% 0,46% tahun 2013 dan 0,45% tahun 2014. Semakin besar rasio ini semakin baik karena dianggap kemampuan perusahaan dalam mendapatkan laba cukup tinggi /menguntungkan. Net Profit Margin ( Margain Laba Bersih) Merupakan rasio yang digunaka nuntuk mengukur laba bersih sesudah pajak lalu dibandingkan dengan volume penjualan. NPM = (Laba Setelah Pajak/Total Aktiva) x 100% Tahun 2013 NPM = Tahun 2014 NPM = Analisa NPM merupakan rasio yang mengukur (5.012.294/26.607.241) x (5.274.009/28.884.973) x jumlah laba bersih per nilai dolar penjualan, 100% = 0.18% 100% = 0.18% yang dihitung dengan membagi laba bersih dengan penjualan. Apabila kinerja keuangan perusahaan dalam menghasilkan laba bersih atas penjualan semakin meningkat maka hal ini akan berdampak pada meningkatnya pendapatan yang akan diterima oleh para pemegang saham. Earning Power of Total Invesment Merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan dari modal yang diinvestasikan dalam keseluruhan aktiva untuk menghasilkan keuntungan netto. EPTI = (Laba Sebelum Pajak/Ekuitas) x 100% Tahun 2013 EPTI = Tahun 2014 EPTI = Analisa Pada tahun 2014 earning power of total (6.595.154/22.947.271) x (6.789.602/24.784.801) x investment 100% = 0.28% 100% = 0.27% penurunan ini disebabkan oleh baik biaya langsung meningkat menurun usaha dan sedangkan menjadi tidak 0.27%, langsung pendapatan dari penjualan menurun sehingga laba menurun. Return On Equity (Pengembalian Atas Equitas) Merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan dari modal sendiri untuk menghasilkan keuntungan bagi seluruh pemegang saham, baik saham biasa maupun saham preferen. ROE = (Laba Setelah Pajak/Ekuitas) x 100% Tahun 2013 ROE = Tahun 2014 ROE = Analisa Dari hasil tersebut tahun 2014 laba bersih (5.012.294/22.947.271) x (5.274.009/24.784.801) x dan ekuitas mengamalami penaikan dari 100% = 0.21% 100% = 0.21% tahun 2013, sehingga semakin besar ROE semakin besar pula harga pasar, karena besarnya ROE memberikan indikasi bahwa pengembalian yang akan diterima investor akan tinggi sehingga investor akan tertarik untuk membeli saham tersebut, dan hal itu menyebabkanharga pasar saham cendrung naik.

Judul: Makalah Alk

Oleh: Renie Pratiwi


Ikuti kami