Tugas Akhir

Oleh Isma Arsyitah

384,4 KB 8 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Tugas Akhir

TUGAS AKHIR ANALISIS PERBANDINGAN ANTARA NILAI PREMI DENGAN NILAI KLAIM ASURANSI PADA AJB BUMIPUTERA 1912 CABANG LHOKSEUMAWE Disusun Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Menyelesaikan Pendidikan Program Diploma III Pada Politeknik Negeri Lhokseumawe Jurusan Tata Niaga Program Studi Keuangan Dan Perbankan Oleh HARRI ASHARI Nim : 1261406012 KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI POLITEKNIK NEGERI LHOKSEUMAWE 2015 KATA PENGANTAR Bismillahirrahmanirrahiim… Syukur Alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, shalawat dan salam penulis sanjung sajikan kepada Nabi Muhammad SAW yang telah membawa umat manusia ke alam yang berilmu pengetahuan. Adapun tujuan penulisan Tugas Ahir ini adalah sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan Program Studi DIII Keuangan dan Perbankan di Politeknik Negeri Lhokseumawe. Pembuatan Tugas Akhir ini didasarkan pada petunjuk yang telah ditetapkan, namun demikian penulis menyadari bahwa pembuatan Tugas Akhir ini masih jauh dari kesempurnaan baik isi maupun susunan bahasa, oleh sebab itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun dari pembaca demi penyempurnaan penulisan Tugas Akhir ini. Terselesainya Tugas Akhir ini tidak terlepas dari dorongan berbagai pihak baik secara langsung maupun tidak langsung, oleh karena itu pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada : 1. Ayahanda Fakhrurrazi dan Ibunda Yusnidar tercinta yang telah memberikan dorongan semangat kepada penulis 2. Bapak Lukman, SE. M.Si.Ak. selaku Ketua Jurusan Tata Niaga Politeknik Negeri Lhokseumawe 3. Bapak Mukhlis, SE. M.Ec. selaku Sekretaris Jurusan Tata Niaga Politeknik Negeri Lhokseumawe 4. Ibu Fakriah, SE. M.Si. selaku Ketua Prodi Keuangan & Perbankan Politeknik Negeri Lhokseumawe 5. Bapak Abdul Hakim SE. selaku Pembimbing Utama Tugas Akhir 6. Bapak Syawal Harianto SE. M.Si.Ak selaku Pembimbing Pembantu Tugas Akhir 7. Bapak Ismed Wijaya SE. M.Si. selaku Koordinator Tugas Akhir Prodi Keuangan dan Perbankan Jurusan Tata Niaga Politeknik Negeri Lhokseumawe. 8. Kepada seluruh dosen yang telah memberikan ilmunya kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan Tugas Akhir ini. 9. Bapak Syaladin T. SE selaku Kepala Cabang AJB Bumiputera 1912 Cabang Lhokseumawe. 10. Bapak Fickry Harmiko, SE.AAAI.J. selaku Kepala Urusan Administrasi dan Keuangan (KUAK) sekaligus Supervisor AJB Bumiputera 1912 Cabang Lhokseumawe. 11. Kepada sahabat-sahabat dan teman-teman seangkatan yang tercinta serta adik-adik di Politeknik Negeri Lhokseumawe yang telah memberikan bantuan dan dukungan moral, terima kasih atas persahabatan yang terjalin dengan tulus ikhlas. Akhirnya, penulis menyadari akan adanya kekurangan dan kekeliruan dalam penulisan ini karena kesempurnaan itu hanya milik Allah SWT, untuk itu segala kritik dan saran yang bersifat membangun sangat penulis harapkan demi kesempurnaan Tugas Akhir ini di masa mendatang. Kiranya Tugas Akhir ini dapat bermanfaat bagi pembaca sekalian. Lhokseumawe, Agustus 2015 HARRI ASHARI 1261406012 DAFTAR ISI Hal LEMBAR PENGESAHAN LEMBAR PENGESAHAN KOMISI SIDANG KATA PENGANTAR ........................................................................ i DAFTAR ISI ....................................................................................... iv DAFTAR TABEL ……………………………………………………. vi DAFTAR GRAFIK ………………………………………………….. vii DAFTAR LAMPIRAN………………………………………………. viii BAB I PENDAHULUAN ................................................................. 1 1.1. Latar Belakang ………......................................................... 1 1.2. Perumusan Masalah ............................................................ 5 1.3. Tujuan Penulisan Tugas Akhir ............................................. 5 1.4. Manfaat Penulisan Tugas Akhir ............................................ 6 1.5. Metode Penelitian ………..................................................... 6 1.6. Sistematika Penelitian ............................................................ 7 1.7. Lokasi dan Waktu Penelitian ................................................. 8 BAB II TINJAUAN TEORITIS ………………................................ 9 2.1 Pengertian Asuransi ………………....................................... 9 2.2 Unsur-unsur Asuransi ……………………………………..... 11 2.3 Jenis-jenis Asuransi …………............................................... 12 2.4 Manfaat Asuransi …………………………………...…........ 15 2.5 Prinsip-prinsip dalam Asuransi atau Pertanggungan………… 16 2.5.1. Bentuk dan Isi Perjanjian Asuransi atau Pertanggungan .. 17 2.5.2. Pengertan Polis Asuransi …………….............................. 18 2.5.2.1. Pengertian Premi Asuransi .................................... 20 2.5.2.2. Pengertian Klaim Asuransi .................................... 22 BAB III PEMBAHASAN ……...………………................................ 23 3.1. Gambaran Umum Asuransi Jiwa Bersama (AJB) Bumiputera 1912…………………………………………… 23 3.1.1. Sejarah Singkat Perusahaan………………………….. 23 3.1.2. Struktur Organisasi…………………………………… 25 3.1.3. Visi dan Misi AJB Bumiputera 1912………………… 29 3.2. Prosedur Pembayaran Premi Asuransi……………………… 30 3.3. Prosedur Pengajuan Klaim Asuransi……………………….. 31 3.4. Analisis Perbandingan Antara Nilai Premi dengan Nilai Klaim Asuransi pada AJB Bumiputera 1912 Cabang Lhokseumawe……………………………………… BAB IV PENUTUP ………………………….................................... 38 44 4.1. Kesimpulan…………………………………………………. 44 4.2. Saran………………………………………………………... 45 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN BIODATA PENULIS DAFTAR TABEL 3.1. Jumlah Nilai Premi dan Jumlah Nilai Klaim AJB Bumiputera 1912 Periode Januari 2014 – Maret 2015……………………………... 38 DAFTAR GRAFIK 1.1. Jumlah Nilai Premi dan Nilai Klaim Asuransi AJB Bumiputera 1912 Cabang Lhokseumawe Periode 2013……………………………….. 4 3.1. Pendapatan Premi ………………………………………………….. 3.2. Pengeluaran Klaim …………………………………………………. 3.3. Perbandingan Nilai Premi Dengan Nilai Klaim…………………….. 39 40 42 DAFTAR LAMPIRAN Lampiran I Logo AJB Bumiputera 1912 Cabang Lhokseumawe Lampiran II Struktur Organisai AJB Bumiputera 1912 Cabang Lhokseumawe Lampiran III Data Jumlah Nilai Premi Dan Nilai Klaim Asuransi Pada AJB Bumiputera 1912 Cabang Lhokseumawe BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sejak kemerdekaan tahun 1945, Bangsa Indonesia terus berupaya dalam melakukan pembangunan di segala bidang. Pembangunan nasional yang dilaksanakan bersama oleh rakyat dan Pemerintah itu telah membawa kemajuan hampir di semua segi kehidupan, seperti yang dapat di lihat dan rasakan saat ini. Salah satunya adalah Pembangunan dibidang ekonomi, yang mempunyai kedudukan sangat penting, bahkan bidang ekonomi dijadikan titik berat Pembangunan jangka panjang. Dalam era pembangunan sekarang, asuransi mempunyai peranan yang sangat penting. Disamping memberikan jaminan kepada individu serta pengembangan dibidang usaha, asuransi merupakan alat penghimpun dana bagi pembangunan serta menjaga kestabilan pembangunan itu sendiri. Dimasa pembangunan saat ini, tuntutan perubahan dan peningkatan dalam tahapan kehidupan manusia memunculkan resiko (risk), dan sekaligus peluang (opportunities) bagi setiap orang. Resiko berkenaan dengan kemungkinan terjadinnya kegagalan dan kerugian bagi setiap orang. Dalam hal ini, bagi sebagian besar orang, kebutuhan dasar akan jaminan kehidupan terutama jaminan finansial merupakan hal yang umum. Namum, kebutuhan tersebut berbeda untuk setiap orang. Dimana kebutuhan finansial seseorang pun cenderung berubah dari waktu ke waktu. Asuransi adalah salah satu cara yang dapat digunakan oleh masyarakat untuk membantu mereka dalam penyediaan jaminan finansial dan membeli asuransi untuk mencukupinya. Tetapi ada juga sebagian lainnya yang tidak menyadari betapa perlu dan pentingnya asuransi. Kemampuan seseorang untuk mencari penghasilan atau bekerja akan menurun seiring dengan bertambahnya usia. Ketika seseorang sudah tidak mampu lagi bekerja dan memperoleh penghasilan, ia butuh memiliki suatu jaminan finansial untuk menghadapi situasi seperti ini dalam kehidupannya. Dengan memiliki perlindungan asuransi jiwa, biaya hidup tetap dapat ditopang dan kehidupan serta kondisi keuangannya pun akan memperoleh jaminan. Kepastian bahwa setiap orang pasti akan meninggal, inilah yang juga disebut dengan resiko murni. Inilah satu-satunya resiko yang dapat diasuransikan. Dengan menghitung rata-rata usia hidup dan rata-rata pada usia beberapa orang akan meninggal, perusahaan asuransi dapat memperkirakan resiko murni ini. Tujuan dari asuransi itu sendiri adalah meberikan kesempatan untuk mendapatkan keuntungan finansial. Dalam menghadapi setiap resiko, setiap orang memiliki cara yang berbeda-beda. Ada beberapa cara pengelolaan resiko yang digunakan untuk mengendalikan tingkat resiko yang digunakan untuk mengendalikan tingkat resiko finansial yang dihadapi, yaitu dengan cara menghindari resiko ( avoiding risk ), mengendalikan resiko ( controlling risk ), menerima resiko ( accepting risk ) , mengalihkan resiko ( transferring risk ). Salah satu upaya manusia untuk menanggulangi setiap resiko yang akan dihadapinya adalah dengan jalan mengadakan perjanjian pelimpahan resiko kepada pihak lain. Maka dari itu, dibutuhkannya suatu lembaga usaha yang bisa menanggung resiko dan memberikan jaminan kepada setiap orang. Dalam hal ini, perusahaan asuransi jiwa merupakan pilihan yang tepat bagi setiap orang yang ingin resikonya dialihkan atau dilimpahkan kepada pihak lain (perusahaan asuransi jiwa). Perusahaan asuransi jiwa yang kegiatannya menerima pelimpahan resiko dari pihak lain tentu saja memiliki beban resiko yang lebih berat dibandingkan dengan pihak tertanggung. Hal ini disebabkan karena selain penanggung harus membayar kerugian apabila terjadi klaim, penanggung juga harus meneruskan kegiatan usahanya sendiri. AJB Bumiputera 1912 merupakan perusahaan asuransi jiwa yang memberikan jaminan finansial kepada para nasabahnya untuk menekan atau mengurangi kerugian dari kemungkinan terjadinya suatu peristiwa yang tidak menguntungkan. Dalam melakukan kegiatan operasionalnya, AJB Bumiputera 1912 berusaha untuk menyediakan produk-produk asuransi yang dirancang untuk memenuhi dan melengkapi kebutuhan nasabahnya. Dalam hal ini, AJB Bumiputera 1912 dapat menghimpun dana dari masyarakat atas produk-produk yang ditawarkan melalui pengumpulan premi asuransi dan kemudian memberikan perlindungan finansial ( klaim ) kepada nasabahnya sesuai dengan kesepakatan tercantum di dalam polis asuransi. Grafik 1.1 Jumlah Nilai Premi dan Nilai Klaim Asuransi Periode 2013 JUMLAH PREMI DAN JUMLAH KLAIM PERIODE JAN - DES 2013 15.000.000 10.000.000 5.000.000 JUMLAH NILAI PREMI 2013 10.764.351 JUMLAH NILAI KLAIM 8.430.570 Dalam Rp (000) Sumber : AJB Bumiputera 1912 Cabang Lhokseumawe Dari grafik diatas bisa dilihat pendapatan premi dari Januari 2013 sampai dengan Desember 2013 sebesar Rp. 10.764.351.000,00 yang di peroleh dari semua jenis asuransi yang ada pada AJB Bumiputera 1912 Cabang Lhokseumawe dibandingkan dengan pengeluaran perusahaan yang sebesar Rp. 8.430.570.000,00 untuk membayar semua klaim asuransi yang diajukan oleh para nasabahnya. Jika di lihat pada jumlah penerimaan dan pengeluaran perusahaan mendapatkan selisih yang cukup besar dalam menjalankan aktivitas perusahaan nya. Dana yang di peroleh dari selisih yang sebesar Rp. 2.333.781.000,00 inilah yang akan dikelola lebih lanjut oleh perusahaan untuk mendapatkan keuntungan yang lebih besar lagi nantinya. Berdasarkan uraian di atas, maka penulis tertarik untuk lebih mengetahui tentang pengelolaan dana dalam asuransi mulai dari pengumpulan dana ( premi ) dari setiap nasabah, hingga pendanaan klaim dari setiap resiko, khususnya yang dilaksanakan pada asuransi AJB Bumiputera 1912, sehingga penulis memilih judul “ANALISIS PERBANDINGAN ANTARA NILAI PREMI DENGAN NILAI KLAIM ASURANSI PADA AJB BUMIPUTERA 1912 CABANG LHOKSEUMAWE” sebagai judul Tugas Akhir. 1.2. Perumusan Masalah Adapun dalam penelitian ini penulis merumuskan masalah tentang “Analisis perbandingan antara nilai premi dengan nilai klaim asuransi pada AJB Bumiputera 1912 Cabang Lhokseumawe”. 1.3. Tujuan Penelitian Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan Analisis perbandingan antara nilai premi dengan nilai klaim asuransi pada AJB Bumiputera 1912 Cabang Lhokseumawe. 1.4. Manfaat Penulisan Tugas Akhir Adapun manfaat dan penulisan tugas akhir ini adalah sebagai berikut : 1. Memberikan sumbangan terhadap perkembangan ilmu pengetahuan pada umumnya, khususnya tentang pembayaran klaim dan premi dalam asuransi jiwa. 2. Menambah referensi bagi perpustakaan Politeknik Negeri Lhokseumawe 3. Melatih penulis dalam mengungkapkan permasalahan tertentu secara sistematis dan berusaha memecahkan permasalahan yang ada tersebut dengan metode ilmiah, sehingga menunjang pengembangan ilmu pengetahuan tersebut. 4. Memberi sumbangan pemikiran bagi instansi terkait dengan masalah penyelesaian nilai premi dengan nilai klaim pada AJB Bumiputera 1912 Cabang Lhokseumawe. 1.5. Metode Penelitian Dalam melakukan penelitian, penulis menggunakan dua metode penelitian untuk mendukung penulisan Proposal Tugas Akhir. Dimana dua metode penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Metode Observasi Terhadap objek penelitian, dalam hal ini yang diamati adalah lokasi atau dengan metode ini penulis mengadakan pengamatan secara langsung tempat penelitian. Dari sana dapat diketahui beberapa data yang dibutuhkan dalam kegiatan penelitian ini. 2. Metode Analisa Data Setelah mengadakan serangkaian kegiatan (penelitian) dengan beberapa metode di atas, maka data-data yang terkumpul dianalisa dengan menggunakan teknik deskriptif. Teknik ini dipergunakan untuk menganalisa data yang bersifat kuantitatif. 1.6. Sistematika Penulisan Tugas Akhir Penulisan Tugas Akhir ini dibuat dengan prosedur yang ditentukan oleh jurusan Tata Niaga. Adapun sistematika penulisan Tugas Akhir ini adalah sebagai berikut : BAB I PENDAHULUAN Pada bab ini penulis menjelaskan tentang latang belakang pemillihan judul, rumusan masalah, tujuan penulisan Tugas Akhir, manfaat penulisan Tugas Akhir, dan sistematika penulisan Tugas Akhir. BAB II TINJAUAN TEORITIS Bab ini penulis menjelaskan tentang pengertian asuransi, jenis-jenis asuransi, manfaat asuransi, prosedur pembayaran premi, dan pengejuan klaim asuransi jiwa. BAB III PEMBAHASAN Bab ini menjelaskan tentang hasil penelitiaan dan pembahasan mengenai analisis perbandingan antara nilai premi dengan nilai klaim asuransi pada AJB Bumiputera 1912 Cabang Lhokseumawe. BAB IV PENUTUP Bab ini menjelaskan tentang kesimpulan dan saran-saran yang membangun untuk menyempurnakan analisis perbandingan antara nilai premi dengan nilai klaim asuransi pada AJB Bumiputera 1912 Cabang Lhokseumawe. 1.7. Lokasi dan waktu penelitian Lokasi yang penulis pilih untuk melakukan penelitian ini pada Kantor AJB Bumiputera 1912 Cabang Lhokseumawe yang berlokasi di Jalan Darussalam No.2 Lhokseumawe, Aceh. Penelitian dilakukan dari tanggal 1 Juli 2014 s/d 31 Maret 2015 BAB II TINJAUAN TEORITIS 2.1. Pengertian Asuransi Asuransi atau dalam bahasa Belanda “Verzekering” yang berarti pertanggungan. Dalam pasal 246 Kitab Undang-undang Hukum Dagang (KUHD) atau Wetboek Van Koophandle, bahwa asuransi atau pertanggungan adalah suatu perjanjian dengan mana seorang penanggung mengikatkan diri dengan seseorang tertanggung dengan menerima uang premi untuk memberikan penggantian kepadanya karena suatu kerugian, kerusakan atau kehilangan keuntungan yang diharapkan yang mungkin akan didenda karena suatu peristiwa tak tentu. Ketentuan ini berlaku bagi semua macam pertanggungan, baik yang ada di dalam Kitab Undang-undang Hukum Dagang (KUHD) maupun yang ada di luar Kitab Undang-undang Hukum Dagang (KUHD) . Jadi pemberian uang oleh penanggung bukanlah murni merupakan suatu penggantian kerugian, oleh karena jiwa manusia tidak mungkin dinilai dengan uang. Rumusan definisi pertanggungan dalam Pasal 246 Kitab Undang-undang Hukum Dagang (KUHD) berlaku bagi segala macm pertanggungan, dengan demikian berlaku bagi pertanggungan kerugian maupun bagi pertanggungan sejumlah uang atau pertanggungan jiwa. Asuransi merupakan sarana keuangan dalam tata kehidupan rumah tangga, baik dalam menghadapi resiko atas harta benda yang dimiliki. Bicara masalah asuransi atau pertanggungan sudah pasti didalamnya terdapat resiko-resiko, yaitu kemungkinan dideritanya suatu kerugian akibat dari suatu peristiwa yang tidak dapat dipastikan kapan terjadinya kerugian dapat berupa hilannya harta benda, meninggalnya kepala keluarga sebagai pencari nafkah sehingga hilangnya tumpuan harapan yang menjadi sumber bertanggungnya kehidupan akan keluarga serta cacat tetap yang mengakibatkan seorang tidak mampu menjalankan aktifitas kehidupan untuk membiayai kehidupan dan keluarganya. Menurut UU Republik Indonesia No. 40 Tahun 2014 tentang Usaha Perasuransian, Asuransi adalah sebagai berikut : “Asuransi adalah perjanjian antara dua pihak, yaitu perusahaan asuransi dan pemegang polis, yang menjadi dasar bagi penerimaan premi oleh perusahaan asuransi sebagai imbalan untuk memberikan penggantian kepada tertanggung atau pemegang polis karena kerugian, kerusakan,biaya yang timbul, kehilangan keuntungan, atau tanggung jawab hukum kepada pihak ketiga yang mungkin diderita tertanggung atau pemegang polis karena terjadinya suatu peristiwa yang tidak pasti atau memberikan pembayaran yang didasarkan pada meninggalnya tertanggung atau pembayaran yang didasarkan pada hidupnya tertanggung dengan manfaat yang besarnya telah ditetapkan dan/atau didasarkan pada hasil pengelolaan dana.” Selanjutnya Salim (2002:1) mendefnisikan “ Asuransi adalah suatu kemauan untuk menetapakan kerugian kecil yang sudah pasti sebagai pengganti (subtitusi) kerugian-kerugian yang belum pasti.” Dari definisi di atas asuransi merupakan suatu perjanjian antara dua pihak atau lebih yang pihak penanggung mengikat diri kepada tertanggung dengan menerima premi asuransi, atau suatu pembayaran yang didasrkan atas meninggal atau hidupnya seseorang yang dipertangggungkan, sebagai pengganti kerugiankerugian yang belum nyata. 2.2. Unsur-unsur Asuransi Dalam menjalankan usaha perasuransian ada 3 (tiga) unsur mutlak yang peerlu diperhatikan, hal ini disebutkan dalam pasal 246 Kitab Undang-undang Hukum Dagang (KUHD), yaitu : 1. Adanya Kepentingan 2. Adanya Peristiwa Tak Tentu 3. Adanya Kerugian Berdasarkan arti asuransi menurut Undang-Undang Republik Indonesia No. 40 Tahun 2014 tentang Usaha Perasuransian diatas, maka dalam asuransi terdapat 4 unsur,yaitu : 1. Pihak tertanggung (insured) yaitu seseorang / badan yang berjanji untuk membayar uang premi kepada pihak penanggung, sekaligus atau secara berangsur-angsur. Hak dari tertanggung adalah mendapatkan klaim asuransi, kewajiban tertanggung adalah membayar premi kepada pihak asuransi. 2. Pihak penanggung (insure) yaitu suatu badan yang berjanji akan membayar sujumlah uang (santunan) kepada pihak tertanggung, sekaligus atau secara berangsur-angsur apabila terjadi sesuatu yang mengandung unsure tak tertentu. Hak dari penanggung adalah mendapatkan premi, kewajiban penanggung adalah memberikan klaim sejumlah uang kepada pihak tertanggung apabila terjadi sesuatu hal yang sudah diperjanjikan. 3. Suatu peristiwa yang tak tertentu (tidak diketahui sebelumnya) 4. Kepentingan yang mungkin akan mengalami kerugian karena peristiwa yang tak tentu. Dalam situs http://www.WordPerss.com menyebutkan bahwa Asuransi pun memiliki unsur – unsur sebagai berikut : 1. Pihak Penanggung (Insure) Pihak penanggung adalah pihak yang berkomitmen akan membayar sejumlah uang kepada pihak tertanggung, secara berangsur atau secara sekaligus jika terjadi sesuatu yang mengandung unsur yang tidak tentu. 2. Pihak Tertanggung (Insured) Pihak tertanggung adalah pihak yan g berkomitmen untuk membayar uang premi kepada pihak penanggung, secara berangsur ataupun secara sekaligus. 3. Peristiwa (Accident) Peristiwa yang dimaksud dalam konteks ini adalah suatu kejadian yang tidak tentu ataupun tidak diketahui sebelumnya. 4. Kepentingan (Intereset) Kepentingan yang dimaksud dalam konteks ini yang mungkin akan mengalami kerugian karena peristiwa yang tidak tentu. Dari uraian yang telah disebutkan diatas, dapat disimpulkan bahwa asuransi memiliki unsur-unsur, yaitu unsur pihak penanggung, unsur pihak tertangung, unsur peristiwa, dan unsur kepentingan. 2.3. Jenis-jenis Asuransi Pada saat ini telah berkembang berbagai jenis asuransi di masyarakat, dalam manajemen resiko asuransi memungkinkan berbagi dan mentransfer resiko. Hal ini merupakan cara terbaik untuk mengganti kerugian. Kebanyakan orang tidak mengerti perbedaan mendasar pada jenis-jenis asuransi. Padahal untuk menentukan program asuransi yang paling cocok dengan kebutuhan, harus dipahami jenis-jenis asuransi tersebut. Berdasarkan pasal 247 Kitab Undang-undang Hukum Dagang (KUHD) menyebutkan tentang lima macam asuransi ialah: 1. Asuransi terhadap kebakaran 2. Asuransi terhadap bahaya hasil-hasil pertanian 3. Asuransi terhadap kematian orang ( Asuransi jiwa ) 4. Asuransi terhadap bahaya dilaut dan perbudakan 5. Asuransi terhadap bahaya dalam pengangkutan didarat dan disungaisungai Dalam usaha asuransi biasanya ada 2 (dua) jenis asuransi, yaitu asuransi atas orang dan asuransi atas harta. Menurut Darmawi (2004:26-27) pengertian kedua jenis asuransi tersebut adalah sebagi berikut: 1. Asuransi atas orang (personal insurance), yaitu asuransi yang objeknya orang atau penutupan asuransi atas individu-individu, dengan kata lain adalah asuransi yang berkaitan dengan individu. Adapun risiko yang ditanggung (peril) dalam asuransi atas orang adalah:  Kematian  Kecelakaan dan sakit  Pengangguran, dan  Karena umur tua 2. Asuransi atas harta (property insurance), yaitu asuransi yang ditujukan terhadap peril-peril yang mungkin menghancurkan properti atau harta kekayaan. Asuransi ini di Indonesia digolongkan sebagai asuransi kerugian. Dengan pertumbuhan asuransi yang cukup signifikan, maka jenis – jenis asuransi pun bertambah banyak. Menurut Djojosoedarso (2003 : 74-75), jenis – jensi asuransi dapat dibedakan dari beberapa segi, Ada beberapa pengklasifikasian asuransi. di antaranya adalah : 1. Asuransi dari Segi Sifatnya Jika dilihat dari sifatnya, maka asuransi dibedakan menjadi dua jenis, yaitu : a. Asuransi Sosial atau Asuransi Wajib b. Asuransi Sukarela 2. Asuransi dari Segi Jenis Obyeknya Jika dilihat dari segi jenis obyeknya, asuransi dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu : a. Asuransi Orang b. Asuransi Umum atau Asuransi Kerugian Jika dilihat dari perkembangannya di Indonesia, ada berbagai jenis-jenis asuransi, di antaranya adalah : 1. Asuransi Kerugian 2. Asuransi Kebakaran 3. Asuransi pengangkutan 4. Asuransi Kesehatan 5. Asuransi Pendidikan 6. Asuransi Properti dan Kendaraan 7. Asuransi Kredit 8. Asuransi Jiwa Secara umum, asuransi jiwa dibagi menjadi dua, yaitu : a. Asuransi Jiwa Term Life b. Asuransi Jiwa Whole Life 9. Reasuransi Pertanggungan ulang seluruh ataupun sebagian resiko dan perusahaan asuransi kepada perusahaan lainnya berdasarkan perjanjian, Jenis asuransi ini digolongkan ke dalam :  Bentuk Facultatife  Bentuk Treaty  Gabungan dari keduanya Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa jenis asuransi terdiri dari asuransi atas orang dan asuransi atas harta. Asuransi atas orang adalah asuransi yang objeknya orang sedangkan asuransi atas harta adalah asuransi yang ditujukan terhadap hal-hal yang mungkin dapat menghancurkan harta kekayaan. 2.4. Manfaat Asuransi Memiliki asuransi merupakan salah satu wujud nyata dari konsep perencanaan keuangan di masa depan, banyak manfaat asuransi yang bisa di dapatkan. Dengan memiliki asuransi akan membantu memberikan rasa aman dan nyaman bila suatu saat terjadi sesuatu diluar batas kemampuan manusia. Manfaat asuransi menurut Budisantoso dan Triandaru (2009:178) bahwa pada dasarnya asuransi dapat memberikan manfaat bagi tertanggung, antara lain: 1. 2. 3. 4. 5. 6. Rasa aman dan perlindungan Pendistribusian biaya dan manfaat yang lebih adil Polis asuransi dapat dijadikan sebagai jaminan dalam memperoleh kredit Berfungsi sebagai tabungan dan sumber pendapatan Alat penyebar resiko Membantu meningkatkan kegiatan usaha Asuransi pun pastinya memiliki manfaat yang sangat diperlukan oleh orang – orang yang memerlukannya. Manfaat – manfaat asuransi yang dikemukakan oleh Darmawi (2004 : 10) adalah sebagai berikut : 1. Asuransi sebagai Sumber Dana Investasi 2. Asuransi Dapat Mengurang Kekhawatiran 3. Asuransi Menjamin Kestabilan Perusahaan 4. Asuransi Dapat Menyediakan Layanan Profesional 5. Asuransi Membantu Pemeliharaaan Kesehatan 6. Asuransi Melindungi Resiko Investasi 7. Asuransi untuk Melengkapi Persyaratan Kredit 8. Asuransi Mengurangi Biaya Modal 9. Asuransi Dapat Meratakan Keuntungan 10. Asuransi Mendorong Usaha Pencegahan Kerugian Dari uraian diatas asuransi dapat memberikan manfaat bagi pihak tertanggung, antara lain dapat memberikan rasa aman dan perlindingan, sebagai pendistribusian biaya dan manfaat yang lebih, polis asuransi yang dapat dijadikan sebagai jaminan untuk memperole kredit, dan dapat juga sebagai tabungan dan sumber pendapatan, sebagai alat penyebaran resiko, serta dapat membantu meningkatkan kegiatan usaha. 2.5. Prinsip-prinsip dalam Asuransi atau Pertanggungan Dalam dunia asuransi ada 6 macam prinsip dasar yang harus dimiliki perusahaan asuransi untuk mendukung kegiatannya dalam bisnis asuransi. Menurut Kitab Undang-Undang Hukum Dagang (KUHD), yang merupakan prinsip dasar asuransi atau pertanggungan adalah sebagai berikut: 1. Prinsip Kepentingan yang Dapat Diasuransikan atau Dipertanggungkan (insurable interest) Prinsip kepentingan yang bisa diasuransikan atau dipertanggungkan ini terkandung dalam ketentuan Pasal 250 Kitab Undang-Undang Hukum Dagang yang pada intinya menentukan bahwa agar suatu perjanjian asuransi dapat dilaksanakan, maka objek yang diasuransikan haruslah merupakan suatu kepentingan yang dapat diasuransikan (insurable interest), yakni kepentingan yang dapat dinilai dengan uang. Dengan perkataan lain, menurut asas ini seseorang boleh mengasuransikan barang-barang apabila yang bersangkutan mempunyai kepentingan atas barang yang dipertanggungkan. 2. Prinsip Keterbukaan Prinsip keterbukaan (utmost good faith) ini terkandung dalam ketentuan Pasal 251 Kitab Undang-Undang Hukum Dagang yang pada intinya menyatakan bahwa penutupan asuransi baru sah apabila penutupannya didasari itikad baik. 3. Prinsip Indemnity Prinsip indemnity terkandung dalam ketentuan Pasal 252 dan Pasal 253 Kitab Undang-Undang Hukum Dagang. Menurut prinsip indemnity bahwa yang menjadi dasar penggantian kerugian dari penanggung kepada tertanggung adalah sebesar kerugian yang sesungguhnya diderita oleh tertanggung dalam arti tidak dibenarkan mencari keuntungan dari ganti rugi asuransi atau pertanggungan. Dengan perkataan lain, inti dari prinsip indemnity adalah seimbang, yakni seimbang antara kerugian yang betul-betul diderita oleh tertanggung dengan jumlah ganti kerugiannya. 4. Prinsip Subrogasi untuk Kepentingan Penanggung Prinsip subrogasi ini terkandung dalam ketentuan Pasal 284 Kitab UndangUndang Hukum Dagang yang pada intinya menentukan bahwa apabila tertanggung sudah mendapatkan penggantian atas dasar prinsip indemnity, maka tertanggung tidak berhak lagi memperoleh penggantian dari pihak lain, walaupun jelas ada pihak lain yang bertanggung jawab pula atas kerugian yang dideritanya. Penggantian dari pihak lain harus diserahkan pada penanggung yang telah memberikan ganti rugi dimaksud. 5. Prinsip Sebab Akibat ( Proximate Cause ) Dengan ditutupnya perjanjian asuransi, menimbulkan kewajiban kepada penanggung untuk memberikan ganti rugi karena tertanggung mengalami kerugian. Untuk itu harus dapat ditentukan apakah penyebab kerugian berada dalam tanggungan penanggung. Dengan kata lain harus ditelaah kaitan dengan peristiwa tersebut dengan kerugian yang terjadi. Apabila kerugian tersebut disebabkan oleh peristiwa yang tidak termasuk penyebab kerugian yang diakui dalam asuransi, maka penanggung dibebaskan dari kewajiban. 6. Prinsip Gotong Royong Prinsip ini maksudnya penyelesaian masalah yang timbul dilakukan dengan cara bersama-sama. Dari uraian diatas asuransi memiliki beberapa prinsip yang harus diperhatikan dalam menjalankan kegiatannya di dalam perasuransian, yaitu Prinsip Kepentingan yang Dapat Diasuransikan atau Dipertanggungkan, Prinsip keterbukaan, Prinsip Indemnity, Prinsip Subrogasi untuk Kepentingan Penanggung, Prinsip Sebab Akibat, dan Prinsip Gotong Royong. 2.5.1. Bentuk dan Isi Perjanjian Asuransi atau Pertanggungan Asuransi atau pertanggungan merupakan perjanjian timbal balik, dalam arti suatu perjanjian, dalam mana kedua belah pihak masing-masing mempunyai kewajiban yang senilai, di mana pihak tertanggung mempunyai kewajiban untuk membayar premi, yang jumlahnya ditentukan oleh penanggung, sedangkan pihak penanggung memiliki kewajiban untuk mengganti kerugian yang diderita oleh tertanggung. Menurut ketentuan Pasal 255 Kitab Undang-Undang Hukum Dagang ditentukan bahwa semua asuransi atau pertanggungan harus dibentuk secara tertulis dengan suatu akta yang dinamakan polis. Polis asuransi atau pertanggungan merupakan isi dari perjanjian asuransi. Dalam ketentuan Pasal 256 Kitab Undang-Undang Hukum Dagang ditentukan bahwa isi polis untuk asuransi atau pertanggungan pada umumnya kecuali asuransi jiwa harus memuat: 1. Hari pembentukan asuransi 2. Nama pihak yang selaku tertanggung menyetujui terbentuknya asuransi, yaitu atas tanggungannya sendiri atau atas tanggungan orang lain 3. Penyebutan yang cukup terang dari hal atau objek yang dijamin 4. Jumlah uang, untuk mana diadakan jaminan (uang asuransi) 5. Bahaya-bahaya yang ditanggung oleh si penanggung 6. Mulai dan akhir tenggang waktu di mana diadakan jaminan oleh penanggung 7. Uang premi yang harus dibayar oleh tertanggung 8. Pada umumnya semua hal-hal yang perlu diketahui oleh pihak penanggung, serta semua janji-janji tertentu yang diadakan antara kedua belah pihak. 2.5.2. Pengertian Polis Asuransi Dalam menjalankan kegiatannya, perusahaan akan melakukan hal terbaik untuk meyakinkan para nasabah dalam menggunakan jasanya. Perusahaan membuat kesepakatan dengan nasabahnya dengan memberikan polis asuransi sebagai bukti tertulis atau surat perjanjian yang telah disepakati oleh kedua belah pihak. Menurut ketentuan Pasal 255 Kitab Undang-Undang Hukum Dagang, perjanjian asuransi harus dibuat secara tertulis dalam bentuk akta yang disebut polis. Selanjutnya, Pasal 19 ayat (1) Peraturan Pemerintah Nomor 73 Tahun 1992 menentukan, polis atau bentuk perjanjian asuransi dengan nama apapun, berikut lampiran yang merupakan satu kesatuan dengannya, tidak boleh mengandung kata-kata atau kalimat yang dapat menimbulkan penafsiran yang berbeda mengenai resiko yang ditutup asuransinya, kewajiban penanggung dan kewajiban tertanggung, atau mempersulit tertanggung mengurus haknya. Menurut Budisantoso dan Triandaru (2009:182) bahwa “Polis Asuransi merupakan bukti tertulis atau surat perjanjian antara pihak-pihak yang mengadakan perjanjian asuransi.” Polis memegang peranan penting dalam menjaga konsistensi pertanggungjawaban baik pihak penanggung maupun tertanggung. Dengan adanya polis asuransi perjanjian antara kedua belah pihak mendapat kekuatan secara hukum. Dengan memiliki polis asuransi tersebut, maka pihak tertanggung memiliki jaminan bahwa pihak penanggung akan mengganti kerugian yang mungkin dialami oleh tertanggung akibat peristiwa yang tidak terduga. Polis tersebut merupakan bukti otentik yang dapat digunakan oleh tertanggung untuk mengajukan klaim apabila pihak penanggung mengabaikan tanggungjawabnya. Penggantian finansial dari penanggung akan sangat bermanfaat untuk mengembalikan tertanggung kepada kedudukannya semula sebelum mengalami kerugian dan menghindarkan tertanggung dari kebangkrutan. Polis asuransi juga berfungsi sebagai bukti pembayaran premi kepada penanggung. Di dalam perjanjian yang dilakukan perusahaan dengan nasabah ada halhal yang harus diperhatikan dalam polis asuransi untuk mendukung perjanjian tersebut, agar kedepannya kelak tidak akan menimbulkan masalah dalam penyelesain perjanjian yang telah di sepakati oleh kedua pihak sebelumnya. Dalam Kitab Undang-Undang Hukum Dagang (KUHD) Pasal 256, menyebutkan setiap polis kecuali mengenai asuransi jiwa, harus memuat syarat-syarat khusus berikut ini : 1. 2. 3. 4. 5. 6. Hari dan tanggal pembuatan asuransi Nama tertanggung, untuk diri sendiri atau untuk pihak ketiga Uraian yang jelas mengenai benda yang diasuransikan Jumlah yang diasuransikan Bahaya-bahaya yang ditanggung oleh penanggung Saat bahaya/evanemen mulai berjalan dan berakhir yang menjadi tanggungan penanggung 7. Premi asuransi 8. Umumnya semua keadaan yang perlu diketahui oleh penanggung dan penanggung dan segala janji-janji khusus yang diadakan antar pihak. Syarat-syarat yang telah disebutkan di atas harus diisi dengan benar untuk memudahkan penanggung dan tertanggung menyelesaikan perjanjian yang telah disepakati, agar nantinya tidak menimbulkan masalah dalam penyelesaian polis asuransi. 2.5.2.1. Pengertian Premi Asuransi Setiap keikutsertaan nasabah pada asuransi, nasabah harus membayar sejumlah uang setiap bulannya sebagai kewajiban kepada perusahaan asuransi atau penanggung atas keikutsertaanya dalam asuransi. Besarnya jumlah uang ( premi ) yang harus dibayarkan telah ditetapkan oleh perusahaan asuransi dengan memperhatikan keadaan-keadaan dari tertanggung atau nasabah. Menurut Budisantoso dan Triandaru (2009:183) bahwa “Premi asuransi adalah kewajiban pihak tertanggung kepada pihak penanggung yang berupa pembayaran uang dalam jumlah tertentu secara periodik.” Menurut Irmayanto dkk (2000:144) bahwa “Premi adalah sesuatu yang diberikan sebagi hadiah atau sesuatu yang dibayarkan ekstra sebagai pendorong atau perancang atau sesuatu pembayaran tambahan di atas pembayaran normal.” Menurut Subagyo (2002:84) bahwa “Premi asuransi adalah sebagai uang yang dibayarkan oleh tertanggung terhadap perusahaan asuransi yang dapat ditentukan dengan cara tertentu.” Menurut Djojosoedarso (2003:127) “Premi asuransi merupakan pembayaran dari tertanggung kepada penanggung, sebagai imbalan atas pengalihan resiko para penanggung.” Jumlah premi sangat tergantung pada faktor- faktor yang menyebabkan tinggi rendahnya tingkat resiko dan jumlah nilai pertanggungan. Apabila kemungkinan terjadinya resiko kerugian sangat tinggi, pihak penanggung tentu saja akan memperhitungkan tingkat premi yang jauh lebih tinggi daripada pertanggungan yang kemungkinan terjadinya kerugian kecil. Selain itu, biasanya pihak penanggung juga memperhitungkan nilai waktu uang yang dibayarkan oleh pihak tertanggung. Jangka waktu pembayaran premi sangat tergantung pada perjanjjian yang sudah dituangkan di dalam polis asuransi. Jangka waktu pembayaran dapat dibayar secara bulanan, triwulanan, semesteran, maupun tahunan. 2.5.2.2. Klaim Asuransi Jiwa Dalam menjalankan kegiatan asuransi pasti akan timbul resiko-resiko yang akan dihadapi oleh nasabahnya dimasa yang akan datang, dimana resiko tersebut akan menimbulkan klaim bagi pihak perusahaan. Dan pihak perusahaan wajib menanggung semua resiko tersebut sesuai dengan perjanjian yang telah disepakati dan tercantum dalam polis asuransi. Dalam situs http://bumiputera.com menyatakan bahwa “Umumnya klaim merupakan tuntutan atas hak sebagai akibat dari pemenuhan ketentuan-ketentuan yang ditetapkan sebelumnya dalam perjanjian asuransi. Secara khusus, klaim asuransi jiwa merupakan tuntutan dari pemegang polis/ penerima pengalihan hak kepada penanggung atas pembayaran jumlah uang pertanggungan ( UP ) atau saldo tunai sebagai akibat dari pemenuhan ketentuan-ketentuan dalam perjanjian asuransi.” Menurut Budi (2012) menyatakan bahwa “Klaim asuransi adalah tuntutan dari pihak tertanggung sehubungan dengan adanya kontrak perjanjian antara asuransi dengan pihak tertanggung yang masing-masing pihakmengikatkan diri untuk menjamin pembayaran ganti rugi oleh penanggung jika pembayaran premi asuransi telah dilakukan oleh pihak tertanggung, ketika terjadi musibah yang diderita oleh pihak tertanggung.” Dalam Kamus Bahasa Indonesia menyebutkan bahwa “Klaim adalah tuntutan pengakuan atas suatu fakta bahwa seseorang berhak (memiliki atau mempunyai) atas sesuatu, dan klaim merupakan pernyataan tentang pernyataan suatu fakta atau kebenaran sesuatu. Dari pengertian diatas disimpulkan bahwa klaim merupakan tuntutan yang harus dipenuhi penanggung kepada tertanggung sesuai dengan perjanjian yang telah disepakati di dalam polis asuransi. BAB III PEMBAHASAN 3.1. Gambaran Umum Asuransi Jiwa Bersama (AJB) Bumiputera 1912 3.1.1. Sejarah Singkat Perusahaan Asuransi Jiwa Bersama Bumiputera 1912 merupakan perusahaan asuransi jiwa nasional yang pertama dan tertua di Indonesia. Perusahaan asuransi ini terbentuk tanggal 12 Februari 1912, di Magelang, Jawa Tengah, dengan nama Onderlinge Levensverzekring Maatschapij PGHB ( bahasa Belanda) disingkat dengan O.L Mij. PGHB atau lebih dikenal dengan bahasa inggrisnya Mutual Life Insurance ( Asuransi Jiwa Bersama ). Dengan bentuk badan usaha seperti ini, maka pemilik usaha adalah para pemegang polis. O.L Mij. PGHB didirikan berdasarkan keputusan dalam siding pada Kongres Perserikatan Guru-Guru Hindia Belanda yang pertama di Magelang, saat itu pesertanya hanya terbatas pada kalangan guru saja. Para peserta kongres pun menyambut positif. Jumlah peserta yang terdaftar sebagai anggota O.L Mij. PGHB baru 5 orang. Karena perusahaan ini dibentuk oleh para guru, maka pengurusnya pun pertama kali, hanya terdiri dari tiga orang pengurus PGHB, yang terdiri dari : 1. Mas Karto Hadi (M.K.H) Soebroto, sebagai Direktur. 2. Mas Ngabehi (M.Ng) Dwidjosewojo, Sebagai Presiden Konisaris 3. Mas (M) Adimidjojo, sebagai Bendahara. Dengan bertambahnya anggota, maka para pengurus sepakat untuk mengubah nama perusahaannya. Berdasarkan Rapat Anggota/Pemegang Polis di Semarang, November 1914, nama O.L Mij. PGHB diubah menjadi O.L Mij. Boemi Poetra. Pada tahun 1942 ketika Jepang berada di Indonesia, nama O.L Mij. Boemi Poetra yang menggunakan bahasa asing segera diganti. Maka pada tahun 1943 O.L Mij. Boemi Poetra kembali di ubah namanya menjadi Perseroan Pertanggungan Jiwa (PTD) Boemi Poetra, yang merupakan satu-satunya perusahaan asuransi jiwa nasional yang tetap bertahan. Namun karena dirasa kurang memiliki rasa kebersamaan, maka pada tahun 1953 Perseroan Pertanggungan Jiwa (PTD) Boemi Poetra dihapuskan. Dan, hingga sekarang terkenal dengan nama Asuransi Jiwa Bersama (AJB) Bumiputera 1912 yang merupakan bentuk badan hukum. Asuransi Jiwa Bersama (AJB) Bumiputera 1912 memulai usahanya dengan modal awal nol sen. Dengan demikian, perusahaan asuransi ini berbentuk onderling atau mutual (Usaha Bersama), karena perusahaan dapat didirikan tanpa harus menyediakan modal lebih dahulu. Uang yang diterima perusahaan untuk pertama kalinya berasal dari kelima peserta kongres PGHB yang menjadi O.L Mij. PGHB. Syarat utamanya adalah bahwa ganti rugi tidak akan diberikan kepada ahli waris pemegang polis yang meninggal sebelum polisnya berjalan selama tiga tahun penuh. Perusahaan ini hanya mengutamakan pembayaran premi sebagai modal kerjanya dan tidak mendapatkan honorarium bagi para penurusnya sehingga mereka bekerja dengan sukarela. 3.1.2. Struktur Organisasi Kepala Cabang Bumiputera 1912 Cabang Lhokseumawe Kepala Unit Operasional 4. (KUO) 5. Kepala Unit Administrasi dan Keuangan (KUAK) Supervisor / Pembimbing 6. Agen Bagian Kasir Agen Lapangan AJB Bumiputera 1912 Karyawan AJB Bumiputera 1912 / Bagian Administrasi Office Boy ( OB ) AGEN AGEN Sumber : AJB Bumiputera 1912 Cabang Lhokseumawe (2015) Stuktur organisasi merupakan suatu kerangka dimana seluruh anggota perusahaan akan terkoordinasi dengan baik dalam menjalankan kegiatan usahanya, agar terjadi keterpaduan yang selaras antara sistem kerja organisasi dan manajemen sehingga berdampak positif untuk perusahaan. Seperti halnya AJB Bumiputera 1912 Cabang Lhokseumawe memiliki struktur organisasi tersendiri dalam melaksanakan kegiatan operasionalnya. Pada umumnya struktur organisasi merupakan suatu gambaran grafis yang menunjukkan hubungan antara unit-unit organisasi serta garis-garis wewenang yang ada. AJB Bumiputera 1912 Cabang Lhokseumawe menggunakan struktur organisasi dengan menggunakan metode fungsional yang disusun berdasarkan sifat dan macam pekerjaan yang harus dilakukan. Untuk lebih jelas tentang gambaran struktur organisasinya AJB Bumiputera 1912 Cabang Lhokseumawe dapat dilihat di atas. Adapun rincian dari struktur organisasi pada AJB Bumiputera 1912 Cabang Lhokseumawe sebagai berikut : 1. Kepala Cabang Merupakan seorang pejabat yang memimpin sebuah organisasi kantor cabang. Kepala Cabang berperan dalam melaksanakan pengembangan organisasi, kegiatan operasional produksi, operasional konservasi, operasional pengelolaan dana, kegiatan administrasi keuangan, kehumasan dan pelayanan kepada pemegang polis, serta melaksanakan pengendalian dan evaluasi atas pelaksanaannya. Tugas dan tanggung jawab Kepala Cabang yaitu : a. Melakukan recheck produksi dengan batas kewenangannya, yaitu : Uang Pertanggungan (UP) di atas Rp. 50.000.000,- s/d Rp. 100.000.000,UP di atas US$ 5,000.00 s/d US$ 10,000.00 b. Mengesahkan voucher titipan premi pertama dan menandatangani Surat Permintaan Asuransi Jiwa (SPAJ). c. Bertanggung jawab terhadap kebenaran pengisian SPAJ dan kelengkapan berkasnya. d. Memastikan bahwa data/informasi yang disampaikan adalah benar. 2. Kepala Unit Administrasi dan Keuangan (KUAK) Merupakan seorang pejabat yang berperan dalam melaksanakan, membina, mengawasi dan mengendalikan kegiatan administrasi keuangan, serta pelayanan kepada pemegang polis, agen coordinator, agen. Tugas dan tanggung jawab Kepala Unit Administrasi dan Keuangan : a. Memeriksa kebenaran pengisian SPAJ dan kelengkapan berkasnya. b. Menandatangani voucher dan berkas setoran titipan premi pertama. c. Bertanggung jwab atas tata tertib pengiriman SPAJ dan kelengkapannya ke kantor wilayah dan Departemen Pertanggungan. d. Memonitor penertiban polis. e. Create voucher pengakuan premi pertama. 3. Ketua Unit Operasional (KUO) Merupakan seorang pejabat yang berperan dalam melaksanakan, membina, mengendalikan kegiatan operasional penjualan, operasional konservasi dan pelayanan terhadap pemegang polis. Tugas dan tanggung jawab Kepala Unit Operasional yaitu mengkoordinir agen koordinasi dan agen-agen dibawah pengawasannya dalam unit kerja. 4. Kasir Merupakan seorang pejabat fungsional yang berperan dalam melaksanakan tertib administrasi, sirkulasi dan laporan keuangan. Tugas dan tanggung jawab Kasir yaitu : a. Menerima uang setoran titipan premi pertama dari agen. b. Mencetak voucher titipan premi pertama. c. Menandatangani bukti setoran premi pertama. d. Membubuhkan tanggal, nomor kas dan paraf pada sus kuitansi titipan premi pertama dan SPAJ beserta kelengkapannya sebagai berikut : - Sus kuitansi beserta SPAJ dan kelengkapannya ke pegawai Administrasi untuk diteruskan ke kantor wilayah. - Copy bukti setoran premi pertama kepada agen/penyetor. 5. Supervisor Merupakan agen yang memiliki tugas pokok melakukan pengawasan, pengendalian, dan pembinaan terhadap agen-agen yang berada dibawah koordinasinya. Tugas dan tanggung jawab Agen Koordinator adalah sebagai berikut : a. Memeriksa kebenaran SPAJ beserta kelengkapannya. b. Melakukan recheck produksi ke lapangan sesuai dengan batas kewenangannya, yaitu UP sampai dengan Rp. 50.000.000,- atau US$ 5,000.00. c. Memastikan bahwa data/informasi yang disampaikan adalah benar. 6. Agen Merupakan petugas yang mengelola portofolio polis pada suatu wilayah debit dengan kewajiban pokok melakukan kegiatan pengutipan premi dan pelayanan terhadap pemegang polis. Tugas dan tanggung jawab Agen adalah : a. Melakukan seleksi awal tentang pencalonan pemegang polis, memastikan bahwa data yang ditulis dalam SPAJ sesuai dengan fakta yang sebenarnya. b. Memberikan penjelasan cara pengisian SPAJ kepada pemegang polis. c. Melengkapi SPAJ dengan dokumen-dokumen sebagai berikut : 1. Fotokopi identitas diri (Kartu Tanda Penduduk/SIM/Pasport) yang masih berlaku. 2. Kuitansi pembayaran titipan premi pertama. 3. Laporan recheck. d. Menyerahkan SPAJ beserta kelengkapannya kepada agen koordinator untuk diteliti kebenaran dan kelengkapannya. e. Menyetorkan uang titipan premi pertama kepada kasir beserta berkas SPAJ. 3.1.3. Visi dan Misi AJB Bumiputera 1912 Visi AJB Bumiputera 1912 menjadi perusahaan asuransi jiwa nasional yang kuat, modern dan menguntungkan, didukung oleh Sumber Daya Manusia (SDM) profesionalisme yang menjunjung tinggi nilai-nilai idialisme serta mutualisme. Dalam hal ini untuk menjadikan AJB Bumiputera 1912 senantiasa berada dibenak dan di hati masyarakat Indonesia dengan misi sebagai berikut : a. Menyediakan pelayanan dan produk jasa asuransi jiwa berkualitas sebagai wujud partisipasi dalam pembangunan nasional melalui peningkatan kesejahteraan masyarakat Indonesia. b. Menyelenggarakan berbagai pendidikan dan pelatih untuk menjamin pertumbuhan kompotensi karyawan, peningkatan produktivitas dan peningkatan kesejahteraan dalam rangka penigkatan kualitas pelayanan perusahaan kepada pemegang polis. c. Mendorong terciptanya iklim kerja yang motivatif dan inofativ untuk mendorong proses bisnis internal perusahaan yang efektif dan efisien. 3.2. Prosedur Pembayaran Premi Asuransi Pada umumnya premi merupakan kewajiban yang harus dibayarkan tertanggung kepada perusahaan. Dalam hal ini, ada beberapa prosedur dalam pembayaran premi asuransi pada AJB Bumiputera 1912, yaitu : A. Pembayaran Premi 1. Premi asuransi ini merupakan premi tahunan dan atas persetujuan AJB Bumiputera 1912, premi ini dapat dibayar secara angsuran setiap triwulanan, semester, premi tunggal atau premi sekaligus berdasarkan premi tahunan. 2. Premi sekaligus berdasarkan premi tahunan merupakan premi yang dibayarkan sesuai dengan Premi Tahunan yang dipertimbangkan untuk pembayaran Premi Tahunan pada tanggal jatuh tempo. B. Setoran Premi Merupakan bagian dari premi sekaligus berdasarkan premi tahunan yang belum dimasukkan sebagai premi tahunan. C. Penangguhan Pembayaran Premi 1. Manfaat-manfaat asuransi tidak akan berlaku jika pembayaran premi ditangguhkan atau tunggakan premi belum diselesaikan selama tenggang waktu. 2. Jika pembayaran premi ditangguhkan atau tunggakan premi belum diselesaikan selama jangka waktu tenggang sementara polis telah memiliki saldo tunai, maka polis akan menjadi Polis Bebas Premi dengan jumlah Uang Pertanggungan yang akan ditentukan oleh AJB Bumiputera 1912 dan akan disebut sebagai Uang Pertanggungan Bebas Premi. 3. Uang Pertanggungan Bebas Premi harus dibayar ketika Penerima Manfaat meninggal dunia atau karena berakhirnya masa pertanggungan. D. Masa Tenggang Masa tenggang pembayaran premi adalah: 30 (tiga puluh) hari sejak tanggal jatuh tempo, atau 1 (satu) bulan kalender. 3.3. Prosedur Pengajuan Klaim Asuransi Pada umumnya klaim merupakan tuntutan yang harus dibayarkan penanggung atau perusahaan kepada tertanggung dengan besaran jumlah dana yang telah disepakati dalam polis asuransi. Dalam hal ini, ada beberapa prosedur dalam pengajuan klaim asuransi pada AJB Bumiputera 1912. A. Klaim Meninggal Dunia Sebelum membahas formulir dan dokumen yang diperlukan, terlebih dahulu mengetahui status almarhum yang meninggal dunia, apakah sebagai Tertanggung atau Pemegang Polis, karena formulir pengajuan klaim akan berbeda. Berikut ini dijelaskan perbedaan antara Tertanggung dengan Pemegang Polis. 1. Tertanggung merupakan orang yang atas jiwanya diasuransikan, misalnya bapak Joko membeli polis untuk anaknya, maka dalam hal ini anaknya merupakan tertanggung. 2. Pemegang Polis adalah orang yang mempunyai kepentingan atas jiwa tertanggung yang mengadakan perjanjian dengan perusahaan asuransi jiwa untuk mengasuransikan tertanggung. Jika yang meninggal dunia dalam hal ini adalah tertanggung, maka dokumen yang diperlukan adalah sebagai berikut: 1. Polis asli atau duplikat polis bila polis asli hilang atau sertifikat pengganti polis/surat pengakuan hutang bila polis asli menjadi jaminan peminjam. 2. Kwitansi asli bukti pembayaran premi terakhir. 3. Surat Keterangan Meninggal Dunia dari Lurah/Kepala Desa yang dilegalisir oleh Camat, atau Akte Kelahiran. 4. Surat Keterangan Kecelakaan dari Kepolisian atau pihak yang berwenang apabila tertanggung meninggal dunia karena kecelakaan. 5. Formulir Pengajuan Klaim Meninggal Dunia. 6. Daftar pertanyaan klaim. 7. Surat Keterangan Meninggal Dunia dari Dokter/Rumah Sakit apabila tertanggung meninggal dunia dari Dokter, atau Rumah Sakit apabila tertanggung meninggal dunia dalam perawatan Dokter/Rumah Sakit. 8. Fotokopi Kartu Keluarga dan Akte Kelahiran apabila pembayaran klaim diwakilkan oleh orang tua kandung. 9. Surat Kuasa dari yang ditunjuk dalam hal yang ditunjuk lebih dari satu, dan berhalangan. 10. Surat Penetapan Wali dari Pengadilan Negeri apabila yang ditunjuk dalam polis belum cakap bertindak menurut hukum/belum dewasa, sedangkan kedua orangtuanya meninggal dunia. 11. Surat penetapan ahli waris dari Pengadilan Negeri apabila pemegang polis yang ditunjuk menerima santunan dalam polis meninggal dunia. 12. Fotokopi Kartu Identitas tertanggung dan ahli waris/pihak yang ditunjuk. 13. Apabila pembayaran akan dikuasakan kepada suami/istri/orangtua/anak, harus menyerahkan surat kuasa disertai materai dari perusahaan asuransi jiwa. 14. Apabila pemegang polis mendapat perlindungan asuransi lain, maka harus dilengkapi dengan pernyataan asuransi tersebut terhadap jumlah yang telah dibayar disertakan dengan salinan dokumen lengkap yang telah dilegalisir. 15. Formulir Nomor Rekening Bank. 16. Surat Keterangan Pemeriksaan Mayat/Kematian dari Rumah Sakit/Dinas Kesehatan. 17. Surat Kuasa Pemaparan Isi Rekam Medis. Catatan: 1. Semua pertanyaan pada Formulir Klaim & Surat Keterangan Dokter harus diisi dengan benar, lengkap dan jelas tanpa pembebanan kepada AJB Bumiputera 1912. 2. Dokumen dan hasil pemeriksaan penunjang wajib dilampirkan. 3. Pengajuan klaim dan pembayaran manfaat tidak dikenakan biaya apapun, kecuali yang termasuk dalam ketentuan polis. 4. Berkas yang diajukan harus merupakan dokumen asli/legalisir oleh pihak yang berwenang oleh Staff Klaim Kantor Pusat, Wilayah atau Cabang. 5. Semua dokumen yang telah lengkap dikirimkan ke Kantor Pusat AJB Bumiputera 1912, selambat-lambatnya diterima AJB Bumiputera 1912 dalam waktu 30 hari sejak tanggal pengajuan klaim dilakukan. 6. Apabila pemegang polis dan atau peserta mengajukan dokumen klaim tidak secara lengkap, AJB Bumiputera 1912 akan menganggap sebagai klaim yang diajukan. 7. AJB Bumiputera 1912 berhak untuk mendapatkan segala keterangan/catatan medis dari rumah sakit dan atau pihak lain sehubungan dengan diagnosa dan atau pelayanan lainnya yang diberikan kepada peserta. 8. AJB Bumiputera 1912 berhak melakukan penolakan klaim apabila terdapat informasi yang berbeda dari beberapa pihak yang terkait. 9. Apabila Klaim disetujui oleh Kantor Pusat AJB Bumiputera 1912, maka akan dilakukan pembayaran atas manfaat asuransi sesuai dengan persetujuan AJB Bumiputera 1912 selambat-lambatnya 30 hari kerja sejak dokumen lengkap telah diterima AJB Bumiputera 1912. 10. Apabila pemegang polis asuransi meninggal dunia tanpa diketahui penyebab kematian secara pasti, maka pembayaran atas manfaat asuransi dengan persetujuan AJB Bumiputera 1912 selambat-lambatnya 90 hari kerja sejak dokumen lengkap diterima AJB Bumiputera 1912. 11. Pembayaran manfaat asuransi dinyatakan batal demi hukum karena pemegang polis melakukan bunuh diri, dan atau perkelahian yang dilakukan secara sengaja sehingga menyebabkan kematian bagi pemegang polis. B. Klaim Penebusan Polis Klaim penebusan timbul jika polis sudah mempunyai nilai tunai, sedang pemegang polis memutuskan perjanjian asuransinya. Berikut ini merupakan prosedur pembayaran klaim penebusan polis sebagai berikut: 1. Polis asli atau pengganti polis 2. Kwitansi asli pembayaran premi terakhir yang dikeluarkan oleh AJB Bumiputera 1912. 3. Mengisi dan mengajukan surat pengajuan klaim. 4. Bukti identitas diri (KTP, SIM) pemegang polis atau tertanggung. C. Klaim Habis Kontrak Klaim habis kontrak timbul jika jangka waktu perjanjian asuransi sudah berakhir, sedang polisnya dalam keadaan inforce (premi telah dibayar sampai jangka waktu kontrak). Berikut ini prosedur pembayaran klaim habis kontrak sebagai berikut: 1. Polis asli atau duplikat bila polis asli hilang atau sertifikat pengganti polis, surat pengakuan hutang bila polis asli menjadi jaminan pinjaman. 2. Kwitansi asli bukti pembayaran premi terakhir. 3. Surat Pengajuan Klaim. 4. Fotokopi bukti pemegang polis. Catatan: Apabila polis asli atau pengganti polis hilang, maka pemegang polis harus membuat pernyataan polis hilang di atas kertas bermaterai cukup dan didukung Surat Keterangan Lapor dari Kepolisian. D. Klaim Pengobatan Akibat Kecelakaan Klaim kecelakaan timbul akibat peserta mendapatkan kecelakaan dan polisnya masih inforce. Berikut ini prosedur pembayaran klaim pengobatan akibat kecelakaan sebagai berikut: 1. Surat Pengajuan Klaim 2. Fotokopi sertifikat 3. Fotokopi kwitansi pembayaran premi terakhir 4. Kwitansi biaya pengobatan dan perawatan 5. Proses verbal dari Kepolisian apabila akibat kecelakaan lalu lintas E. Klaim Rawat Inap dan Rawat Jalan Klaim rawat inap dan rawat jalan timbul akibat penderita menderita suatu penyakit dan perlu diopname atau cukup hanya dengan rawat jalan saja. Berikut ini prosedur pembayaran klaim rawat inap dan rawat jalan sebagai berikut: 1. Mencantumkan nomor kepesertaannya 2. Semua bukti-buki biaya rawat inap dan rawat jalan 3. Surat Keterangan dari rumah sakit yang merawat 4. Laporan operasi bila dilakukan tindakan operasi dan termasuk rincian biaya operasi. 5. Salinan resep 6. Formulir Klaim AJB Bumiputera 1912 diisi lengkap dengan data peserta dan ditandatangani oleh peserta 7. Formulir Klaim tentang resume medis yang diisi lengkap dan jelas serta mencantumkan tanda tangan, nama jelas yang memberikan layanan kesehatan 8. Salinan permintaan dari pemeriksaan penunjang diagnostik (laboratorium, rontgent, patologi anatomi dan lain-lain) berikut hasil salinan medisnya Catatan: Apabila Klaim disetujui oleh Kantor Pusat AJB Bumiputera 1912, maka akan dilakukan pembayaran atas manfaat asuransi sesuai dengan persetujuan AJB Bumiputera 1912 selambat-lambatnya 14 hari kerja sejak dokumen lengkap telah diterima AJB Bumiputera 1912. 3.4. Analisis Perbandingan Antara Nilai Premi dengan Nilai Klaim Asuransi pada AJB Bumiputera 1912 Cabang Lhokseumawe Tabel 3.1. Jumlah Nilai Premi Dan Jumlah Nilai Klaim AJB BUMIPUTERA 1912 Cabang Lhokseumawe Periode Januari 2014 – Maret 2015 BULAN JANUARI FEBRUARI MARET APRIL JUMLAH PREMI (000) PERUBAHAN (%) JUMLAH KLAIM (000) PERUBAHAN (%) 740,758 - 633,453 - 705,641 885,319 710,614 602,495 MEI JUNI JULI AGUSTUS SEPTEMBER OKTOBER NOVEMBER DESEMBER JANUARI FEBRUARI MARET JUMLAH 632,133 672,140 656,596 881,416 797,913 402,473 471,700 873,100 656,596 694,369 Rp 10,383,263 595,274 (4.74) 709,888 25.46 547,592 (19.73) 471,700 (15.21) 400,734 4.92 783,100 6.33 611,595 (2.31) 655,364 34.24 726,614 (9.47) 469,152 (49.56) 528,881 17.20 733,140 85.10 880,543 (24.80) 785,319 5.75 - Rp 9,532,349 RASIO (%) SELISIH 85.51 107,305 (6.03) 84.36 110,367 19.25 80.18 175,431 (22.86) 77.06 163,022 (13.86) 78.29 130,795 (15.04) 63.39 231,399 95.42 116.51 (110,960) (21.90) 93.15 45,001 7.16 74.35 226,052 10.87 91.06 71,299 (35.43) 116.57 (66,679) 12.73 112.12 (57,181) 38.62 83.97 139,960 20.11 134.11 (223,947) (10.81) 113.10 (90,950) - 850,914.00 Sumber : AJB Bumiputera 1912 Cabang Lhokseumawe (2015) Berdasarka data diatas dapat dilihat jumlah premi yang diperoleh dari aktivitas perusahaan AJB Bumiputera 1912 Cabang Lhokseumawe dalam menjalankan usahanya dari Januari 2014 sampai dengan Maret 2015 berjumlah Rp. 10.383.263.000,00 , nilai premi tersebut merupakan pendapatan bagi perusahaan atas semua jenis atau produk asuransi yang ada pada AJB Bumiputera 1912 Cabang Lhokseumawe. Grafik 3.1. Pendapatan Premi 900000 800000 700000 600000 885.319 740.758 705.641 710.614 881.416 797.913 873.100 694.369 656.596 672.140 632.133 656.596 602.495 471.700 402.473 500000 400000 300000 200000 100000 0 JUMLAH PREMI (000) Seperti yang terlihat pada grafik diatas, pendapatan premi pada bulan Januari 2014 sebesar Rp.740.758.000,00 dan kemudian pendapatan premi pada bulan Februari menurun 4.74 % sebesar menjadi Rp. 705.641.000,00 kemudian pada bulan Maret 2014 pendapatan premi kembali meningkat 25.46 % menjadi Rp. 885.319.000,00 dan selanjutnya pendapatan premi kembali menurun hingga Rp. 100.000.000,00 sampai dengan Rp. 200.000.000,00 yang dapat dilihat dari bulan April sampai bulan Oktober 2014 dibandingkan dengan pendapatan premi pada bulan Maret 2014, dan pada bulan September 2014 pendapatan premi meningkat sebesar 34,24 % hingga mencapai Rp. 881.416.000,00 dibandingkan dengan pendapatan bulan Agustus yang hanya memperoleh Rp. 656.596.000,00. Naik atau turunya pendapatan premi ini dikarenakan pendapatan premi tergantung pada setoran yang dilakukan oleh nasabah asuransi yang membayar premi asuransinya pada tanggal yang telah di tetapkan atau disetujui oleh kedua belah pihak dalam polis asuransi. Dari Tabel 3.1 diatas juga bisa dilihat jumlah nilai klaim dari Januari 2014 sampai dengan Maret 2015 sebesar Rp. 9.532.349.000,00 , nilai tersebut merupakan pengeluaran AJB Bumiputera 1912 Cabang Lhokseumawe terhadap seluruh pembayaran klaim yang diajukan oleh nasabah asuransi, total pengeluaran tersebut tidak sebesar dengan pendapatan premi yang diperoleh perusahaan. Grafik 3.2. Pengeluaran Klaim 880.543 900000 800000 700000 600000 500000 785.319 783.100 726.614 655.364 611.595 709.888 633.453 595.274 547.592 471.700 400.734 733.140 528.881 469.152 400000 300000 200000 100000 0 JUMLAH KLAIM (000) Dilihat pada Grafik 3.2 pengeluaran perusahaan terhadap pembayaran klaim kepada nasabah pada bulan Januari 2014 sebesar Rp. 633.453.000,00 dan kemudian pada bulan selanjutnya pembayaran klaim asuransi menurun 6.03 % menjadi Rp. 595.274.000,00 dan pada bulan Maret 2014 pembayaran klaim asuransi kembali meningkat 19.25 % menjadi Rp. 709.888.000,00 . Untuk selanjutnya pembayaran klaim yang di lakukan AJB Bumiputera 1912 terus mengalami penurunan dan peningkatan, hingga pada bulan Januari 2015 pengeluaran AJB Bumiputera 1912 Cabang Lhokseumawe terhadap pembayaran klaim asuransi meningkat 38,62 % hingga mencapai Rp. 733.140.000,00 dibandingkan bulan Desember 2014, dan pembayaran klaim meningkat lagi sebanyak 20,11 % menjadi Rp. 880.543.000,00 pada bulan Februari 2015. Hal ini dikarenakan nasabah asuransi meminta hak nya kepada perusahaan terhadap adanya musibah atau resiko-resiko yang dialami para nasabah dan juga terhadap pembayaran polis-polis asuransi yang telah jatuh tempo masa berlakunya. Jika terjadi resiko-resiko atau musibah yang dialami oleh para nasabah asuransi dan adanya polis asuransi yang tela jatuh tempo meningkat, hal ini juga akan berpengaruh terhadap pengeluaran perusahan, dimana perusahaan harus membayar segala klaim yang diajukan oleh para nasabahnya sesuai dengan peraturan-peraturan yang telah tercantum pada polis asuransi yang telah disepakati bersama oleh kedua belah pihak. Grafik 3.3. Perbandingan Nilai Premi dengan Nilai Klaim PERBANDINGAN NILAI PREMI DENGAN NILAI KLAIM ASURANSI PERIODE JANUARI 2014 - MARET 2015 JUMLAH NILAI PREMI 885,319 740,758 JUMLAH NILAI KLAIM 881,416 783,100 784,913 880,543 873,100 785,319 710,614 705,641 709,888 602,495 656,596 733,140 726,614 694,369 672,140 656,596 655,364 528,881 632,133 633,453 611,595 595,274 547,592 469,152 471,700 471,700 402,473 400,734 Dalam Rp (000) Jika diperhatikan pada Tabel 3.1 dan Grafik 3.3. diatas, dapat dilihat bahwa jumlah pemasukan premi setiap bulannya lebih tinggi daripada pengeluaran perusahaan terhadap pembayaran klaim asuransi. Dalam hal ini dapat dilihat bahwa pendapatan premi asuransi lebih mendominasi dibandingkan pengeluaran untuk membayar klaim asuransi, walaupun ada beberapa bulan dimana pengeluaran untuk membayar klaim asuransi lebih tinggi dibandingkan dengan pendapatan premi, seperti yang terlihat pada bulan Juli, November, Desember 2014 dan pada bulan Februari dan Maret 2015. Dimana bisa dilihat 70 % hingga 100 % pendapatan perusahaan yang diperoleh dari premi asuransi ini digunakan untuk membayar klaim-klaim asuransi yang di ajukan oleh nasabah asuransi. Maka dari itu, apabila pendapatan premi asuransi dikurangi oleh beban klaim akan diperoleh pendapatan premi bersih, dari pendapatan premi bersih inilah perusahaan AJB Bumiputera 1912 akan menggunakan dana tersebut untuk dikelola lebih lanjut agar mendapatkan keuntungan yang lebih besar lagi nantinya. Dan apabila pengeluaran untuk pembayaran klaim asuransi lebih tinggi dibandingkan dengan pendapatan premi asuransi maka perusahaan akan mengalami defisit, dalam hal ini kantor cabang akan meminta konfirmasi kepada kantor pusat untuk memperoleh dana lebih agar bisa membayar klaim asuransi kepada nasabah nya. Tetapi tingginya pembayaran klaim asuransi ini dibandingkan dengan pendapatan premi ini tidak serta merta akan berpengaruh buruk terhadap perusahaan AJB Bumiputera 1912, hal ini dikarenakan tidak semua klaim asuransi yang diajukan oleh nasabahnya ini akan merugikan atau menambah beban perusahaan, seperti Klaim Habis Kontrak. Berdasarkan data diatas perusahaan AJB Bumiputera 1912 Cabang Lhokseumawe harus lebih aktif lagi dalam menghimpun dana dari masyarakat dengan cara menawarkan produk-produk asuransinya untuk dapat memperoleh pendapatan yang lebih banyak lagi, agar nantinya dapat meningkatkan usahanya dalam dunia perasuransian dimasa yang akan datang dan memberikan kepuasaan terhadap para nasabah nya. BAB IV PENUTUP 4.1 Kesimpulan Dari uraian Bab I, II, dan III penulis dapat menyimpulkan diantaranya adalah sebagai berikut : 1. Premi asuransi adalah pembayaran dari tertanggung kepada penanggung, sebagai imbalan atas pengalihan resiko para penanggung dan Klaim asuransi merupakan tuntutan atas hak sebagai akibat dari pemenuhan ketentuan-ketentuan yang ditetapkan sebelumnya dalam perjanjian asuransi. 2. Naik dan turunnya jumlah premi dan jumlah klaim asuransi selama 15 bulan dimulai dari bulan Januari 2014 sampai dengan bulan Maret 2015 selalu mengalami perubahan yang dikarenakan oleh Surat Permintaan Asuransi Jiwa yang di ajukan kepada Perusahaan dan juga memberikan pelayanan asuransi yang sangat di butuhkan oleh masyarakat disekitarnya. Sementara jumlah premi terbanyak adalah pada bulan Maret 2014 yaitu mencapai Rp. 885.319.000,00 dan jumlah premi yang paling sedikit adalah pada bulan November 2014 yaitu sebesar Rp. 402.473.000,00. 3. Dan jumlah klaim yang harus dibayar perusahaan kepada nasabahnya yang paling besar adalah pada bulan Februari 2015 yaitu sebesar Rp. 880.543.000,00 dan jumlah klaim yang paling sedikit adalah pada bulan Juni 2014 yaitu sebesar Rp. 400.734.000,00. 4.2 Saran Adapun saran yang mungkin akan dapat menjadi masukan bagi pihak pembaca dan AJB Bumiputera 1912 Cabang Lhokseumawe adalah sebagai berikut : 1. Sebagai salah satu lembaga keuangan, AJB Bumiputera 1912 Cabang Lhokseumawe Cabang Lhokseumawe diharapkan mampu memberikan pelayanan yang prima melalui karyawan yang mampu menjalankan tugas dengan efektif dan efisien sesuai dengan target yang ingin dicapai. 2. Pihak perusahaan diharapkan untuk lebih meningkatkan srategi promosi kepada nasabah melalui spanduk dan brosur mengenai keunggulankeunggulan produk asuransi. 3. Untuk meningkatkan pelayanan yang akan diberikan kepada nasabah, maka AJB Bumiputera 1912 Cabang Lhokseumawe harus menjaga hubungan baik dengan nasabah yaitu dengan cara memperhatikan kebutuhan dan keinginan setiap nasbah serta memberikan pelayanan yang bersifat ramah tamah kepada setiap nasabah asuransi. DAFTAR PUSTAKA Budisantoso, Totok dan Triandaru, Sigit ( 2009 ). Bank dan Lembaga Keuangan Lain. Jakarta: Salemba Empat Budi, Afrianto (2012), Pengertian dan Tahapan Klaim. http://www.akademiaasuransi.org, 22 Februari 2015 Darmawi, Herman (2004), Manajemen Asuransi, Jakarta: PT Bumi Aksara Djojosoedarso, Soeisno (2003), Prinsip-prinsip Manajemen Resiko Dan Asuransi, Jakarta: Salemba Empat Irmayanto, July dkk (2000), Bank dan Lembaga Keuangan Lain. Jakarta: Universitas Trisakti (2010). Kitab Undang-Undang Hukum Dagang (KUHD) Yogyakarta : Pustaka Yustisia Petunjuk Operasional Pemasaran Asuransi dan Tabel Premi. Jakarta : PT. PP. Mardi Mulyo Salim, A. Abbas (2002), Dasar-dasar Asuransi, Jakarta: PT Bumi Aksara Subagyo, Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (2002) Bank dan Lembaga Keuangan Lain. Yogyakarta: Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (2014). UU Republik Indonesia No. 40/2014 Tentang Usaha Perasuransian, Manajemen Asuransi. www.hukumonline.com http://bumiputera.com , 6 november 2014 http://kamusbahasaindonesia.org/klaim, 22 Februari 2015 http://www.WordPerss.com, 15 Maret 2015 http://www.HukumOnline.com, 15 Maret 2015

Judul: Tugas Akhir

Oleh: Isma Arsyitah


Ikuti kami