Makalah Estuary

Oleh Fistiadin Madiara

201,9 KB 10 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Makalah Estuary

BAB I. PENDAHULUAN A. Latar belakang Ekologi estuaria merupakan daerah atau lingkungan yang merupakan campuran antara air sungai dan air laut, sehingga mengakibatkan daerah estuaria ini mempunyai air yang bersalinitas lebih rendah daripada lautan terbuka. Meskipun demikian proses percampuran ini adalah merupakan pencampuran yang kompleks. Dimana air tawar yang mempunyai densitas lebih kecil dari air laut cenderung mengembang diatasnya. Pada daerah estuaria ini juga terdapat fluktuasi perubahan salinitas yang berlangsung sacara tetap yang berhubungan dengan gerakan air pasang. Massa air yang masuk kedalam daerah estuaria pada waktu terjadi air surut hanya bersumber dari air tawar, akibatnya salinitas air didaerah estuaria pada saat itu umumnya rendah. Pada waktu air pasang air masuk kedalam estuaria dari air laut bercampur dengan estuaria, sehingga mengakibatkan salinitas naik. Mengakibatkan organisme-organisme laut tidak dapat hidup didaerah estuaria, kebanyakan organisme-organisme laut tersebut hanya dapat bertoleransi terhadap perubahan salinitas yang kecil. Dan akibatnya mereka tidak di bisa hidup didaerah estuaria. Sebagian besar jenis flora dan fauna yang hidup didaerah estuaria tersebut adalah organisme yang telah beradaptasi dengan kondisi yang terbatas didaerah tersebut. Akibatnya wilayah estuaria tersebut merupakan suatu tempat yang sulit untuk ditempati, daerah ini bersifat sangat produktif yang dapat mendukung sejumlah besar biota. Oleh karena itu, umumnya daerah ini dikatakan bahwa estuaria relatif hanya dapat dihuni oleh beberapa spesies saja. Pada daerah estuaria ini selain dari turun naiknya salinitas yang disebabkan oleh air pasang, juga terjadi penurusan salinitas yang bertahap ketika air dari mulut estuaria (muara sungai) bergerak ke arah sumber mata air (hulu sungai) sehingga terdapat wilayah dari flora dan fauna yang hidup di daerah ini. Estuari merupakan wilayah pesisir semi tertutup yang mempunyai hubungan bebas dengan laut terbuka dan menerima masukan air tawar dari daratan. Sebagian besar estuary di dominasi oleh substrat berlumpur yang merupakan endapan yang di bawa oleh air tawar dan air laut. Perilaku estuari sangat tergantung pada aksi pasang surut dan aliran sungai, dimana keduanya merupakan perubahan yang bebas. Lingkungan estuari umumnya merupakan pantai tertutup atau semi terbuka ataupun terlindung oleh pulau-pulau kecil, terumbu karang dan bahkan gundukan pasir dan tanah liat. Pada daerah-daerah tropis, lingkungan estuari umumnya di tumbuhi dengan tumbuhan khas yang di sebut Mangrove. Di sinilah banyak terdapat berbagai jenis hewan serta tumbuhan hidup di dalamnya. Ekosistem merupakan suatu interaksi yang kompleks dan memiliki penyusun yang beragam. Komponen penyusun ekosistem: 1. Komponen Autotrof, contohnya tumbuh-tumbuhan hijau 2. Komponen Heterotrof, contohnya manusia, hewan, tanah, air Pantai adalah wilayah yang menjadi batas antara daratan dan lautan. Bentuk-bentuk pantai berbeda-beda. Hal ini disebabkan oleh perbedaan proses yang ada di wilayah tersebut seperti pengikisan, pengangkutan dan pengendapan yang disebabkan karena adanya gelombang, arus dan angin yang berlangsung secara terus menerus sehingga membentuk daerah pantai.Organisme yang hidup di pantai memiliki adaptasi struktural sehingga dapat melekat keras di subtrat keras. Pesisir adalah wilayah antara batas pasang tertinggi hingga batas air laut yang terendah pada saat surut. Pesisir dipengaruhi oleh gelombang air laut. Pesisir juga merupakan zona yang menjadi tempat pengendapan hasil pengikisan air laut dan merupakan bagian dari pantai. Jadi, Ekosistem Pantai merupakan ekosistem yang ada di wilayah perbatasan antara air laut dan daratan, yang terdiri dari komponen biotik dan komponen abiotik. Komponen biotik pantai terdiri dari tumbuhan dan hewan yang hidup di daerah pantai, sedangkan komponen abiotik pantai terdiri dari gelombang, arus, angin, pasir, batuan dan sebagainya. B. Tujuan dan manfaat Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah antara lain sebagai berikut: 1. Mengetahui dan memahami tentang pengertian dari ekosistem Estuari dan pesisir pantai. 2. Mengetahui dan memehami mengenai karakteristik Estuari dan pesisir pantai. Adapun penulisan makalah ini diharapkan mempunyai manfaat bagi semuanya untuk mengatahui sumber informasi tentang Ekologi laut tropis, yang nantinya dapat bermanfaat bagi semuanya dalam mendalami tentang pengatahuan dan mengimplementasikan ilmunya dan peranannya sebagai mahasiswa/i dalam universitas borneo tarakan. BAB II. TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertia muara Sungai (Estuaria) Estuaria adalah perairan yang semi tertutup yang berhubungan bebas dengan laut, sehingga air laut dengan salinitas tinggi dapat bercampur dengan air tawar (Pickard, 1967). Kombinasi pengaruh air laut dan air tawar tersebut akan menghasilkan suatu komunitas yang khas, dengan kondisi lingkungan yang bervariasi, antara lain 1. tempat bertemunya arus sungai dengan arus pasang surut, yang berlawanan menyebabkan suatu pengaruh yang kuat pada sedimentasi, pencampuran air, dan ciri-ciri fisika lainnya, serta membawa pengaruh besar pada biotanya. 2. pencampuran kedua macam air tersebut menghasilkan suatu sifat fisika lingkungan khusus yang tidak sama dengan sifat air sungai maupun sifat air laut. 3. perubahan yang terjadi akibat adanya pasang surut mengharuskan komunitas mengadakan penyesuaian secara fisiologis dengan lingkungan sekelilingnya. 4. tingkat kadar garam di daerah estuaria tergantung pada pasangsurut air laut, banyaknya aliran air tawar dan arus-arus lain, serta topografi daerah estuaria tersebut. Secara umum estuaria mempunyai peran ekologis penting antara lain : sebagai sumber zat hara dan bahan organik yang diangkut lewat sirkulasi pasang surut (tidal circulation), penyedia habitat bagi sejumlah spesies hewan yang bergantung pada estuaria sebagai tempat berlindung dan tempat mencari makanan (feeding ground) dan sebagai tempat untuk bereproduksi dan/atau tempat tumbuh besar (nursery ground) terutama bagi sejumlah spesies ikan dan udang. Perairan estuaria secara umum dimanfaatkan manusia untuk tempat pemukiman, tempat penangkapan dan budidaya sumberdaya ikan, jalur transportasi, pelabuhan dan kawasan industri (Bengen, 2004). Aktifitas yang ada dalam rangka memanfaatkan potensi yang terkandung di wilayah pesisir, seringkali saling tumpang tindih, sehingga tidak jarang pemanfaatan sumberdaya tersebut justru menurunkan atau merusak potensi yang ada. Hal ini karena aktifitas-aktifitas tersebut, baik secara langsung maupun tidak langsung, mempengaruhi kehidupan organisme di wilayah pesisir, melalui perubahan lingkungan di wilayah tersebut. Sebagai contoh, adanya limbah buangan baik dari pemukiman maupun aktifitas industri, walaupun limbah ini mungkin tidak mempengaruhi tumbuhan atau hewan utama penyusun ekosistem pesisir di atas, namun kemungkinan akan mempengaruhi biota penyusun lainnya. Logam berat, misalnya mungkin tidak berpengaruh terhadap kehidupan tumbuhan bakau (mangrove), akan tetapi sangat berbahaya bagi kehidupan ikan dan udangudangnya (krustasea) yang hidup di hutan tersebut (Bryan, 1976). Parameter Fisika dan Kimia Kualitas Air  Suhu Suhu air di daerah estuaria biasanya memperlihatkan fluktuasi annual dan diurnal yang lebih besar daripada laut, terutama apabila estuaria tersebut dangkal dan air yang datang (pada saat pasang-naik) ke perairan estuaria tersebut kontak dengan daerah yang substratnya terekspos (Kinne, 1964). Suhu dan salinitas merupakan parameter-parameter fisika yang penting untuk kehidupan organisme di perairan laut dan payau. Parameter ini sangat spesifik di perairan estuaria. Kenaikan suhu di atas kisaran toleransi organism dapat meningkatkan laju metabolisme, seperti pertumbuhan, reproduksi dan aktifitas organisme. Kenaikan laju metabolisme dan aktifitas ini berbeda untuk spesies, proses dan level atau kisaran suhu.  Salinitas Salinitas perairan menggambarkan kandungan garam dalam suatu perairan. Garam yang dimaksud adalah berbagai ion yang terlarut dalam air termasuk garam dapur (NaCl). Pada umumnya salinitas disebabkan oleh 7 ion utama yaitu : natrium (Na), kalium (K), kalsium (Ca), magnesium (Mg), klorit (Cl), sulfat (SO4) dan bikarbonat (HCO3). Salinitas dinyatakan dalam satuan gram/kg atau promil (0/00) (Effendi, 2003) Variasi salinitas di daerah estuaria menentukan kehidupan organism laut/payau. Hewanhewan yang hidup di perairan payau (salinitas 0,5-30o/oo), hipersaline (salinitas 40-80o/oo) atau air garam (salinitas >80o/oo), biasanya mempunyai toleransi terhadap kisaran salinitas yang lebih besar dibandingkan dengan organisme yang hidup di air laut atau air tawar.  Derajat Keasaman (pH) Nilai derajat keasaman (pH) suatu perairan mencirikan keseimbangan antara asam dan basa dalam air dan merupakan pengukuran konsentrasi ion hidrogen dalam larutan (Saeni, 1989). Sebagian besar biota akuatik sensitive terhadap perubahan pH dan menyukai nilai pH sekitar 78,5 (Effendi, 2003).  Padatan Tersuspensi (TSS) Padatan tersuspensi total (total suspended solid) adalah bahan-bahan tersuspensi (diameter > 1 m) yang tertahan pada saringan millipore dengan diameter pori 0,45 m. TSS terdiri atas lumpur dan pasir halus serta jasad-jasad renik, yang terutama disebabkan oleh kikisan tanah atau erosi tanah yang terbawa ke badan air (Effendi, 2003). B. Pesisir pantai Berbagai istilah berkaitan dengan penyebutan pantai sering digunakan secara rancu, secara singkat diuraikan berikut ini untuk memperjelas terminologi yang dimaksud. Suatu pantai memiliki karakteristik sebagai berikut : 1) Pantai berhubungan langsung dengan laut. 2) Pantai berkedudukan di antara garis air tinggi dan garis air rendah. 3) Pantai dapat terjadi dari material padu, lepas atau lembek. 4) Pantai yang bermaterial lepas dengan ukuran kerikil atau pasir disebut sebagai gisik (beach). 5) Pantai dapat berelief rendah (datar, berombak, atau bergelombang), namun dapat pula berelief tinggi (berbukit atau bergunung). 6) Pantai secara genetik dapat berasal dari bentukan marin, organik, vulkanik, tektonik, fluviomarin, denudasional, atau solusional. Pesisir merupakan daerah yang membentang di pedalaman dari laut, umumnya sejauh perubahan topografi pertama di permukaan daratan. Pesisir merupakan sebidang lahan tidak lebar tidak tentu yang membentang dari garis pantai ke arah pedalaman hingga perubahan besar pertama kali pada kenampakan lapangan. Pesisir merupakan mintakat fisoografis yang relatif luas, membentang sejauh ratusan kilometer di sepanjang garis pantai dan seringkali beberapa kilometer ke arah pedalaman dari pantai. Pengertian lain menyebutkan pesisir merupakan sebidang lahan yang membentang di pedalaman dari garis pesisir sejauh pengaruh laut, yang dibuktikan pada bentuk lahannya. Garis pesisir adalah garis yang membentuk batas antara pesisir dan pantai. Garis pesisir membatasi pesisir dan pantai yang kedudukannya relatif tetap, garis pesisir akan berimpit dengan garis pantai saat terjadi pasang tertinggi atau gelombang yang relatif besar. Untuk mengidentifikasi pesisir harus terlebih dahulu disamakan cara pandang atau pendekatan yang digunakan Secara geomorfologis pesisir dapat diidentifikasi dari bentuklahannya yang secara genetik berasal dari proses marin, fluviomarin, organik, atau aeoiomarin. Secara biologi, karakteristik pesisir dapat diketahui dari persebaran ke arah darat biota pantai, baik persebaran vegetasi maupun persebaran hewan pantai. Secara klimatologi, karakteristik pesisir ditentukan berdasarkan pengaruh angin laut. Secara hidrologi, karakteristik pesisir ditentukan seberapa jauh pengaruh pasang air laut yang masuk ke darat. Ekosistem pantai letaknya berbatasan dengan ekosistem darat, laut, dan daerah pasang surut. Ekosistem pantai dipengaruhi oleh siklus harian pasang surut laut. Organisme yang hidup di pantai memiliki adaptasi struktural sehingga dapat melekat erat di substrat keras. Daerah paling atas pantai hanya terendam saat pasang naik tinggi. Daerah ini dihuni oleh beberapa jenis ganggang, moluska, dan remis yang menjadi konsumsi bagi kepiting dan burung pantai. Daerah tengah pantai terendam saat pasang tinggi dan pasang rendah. Daerah ini dihuni oleh ganggang, porifera, anemon laut, remis dan kerang, siput herbivora dan karnivora, kepiting, landak laut, bintang laut, dan ikan-ikan kecil. Daerah pantai terdalam terendam saat air pasang maupun surut. Daerah ini dihuni oleh beragam invertebrata dan ikan serta rumput laut. Jenis-jenis Ekosistem Pesisir Pantai meliputi : 1. Pantai berlumpur Jika pantai berlumpur dilihat dengan menggunakan foto udara kawasan delta di pantai Utara Jawa Tengah. Kenampakan yang didapatkan meliputi rataan lumpur, dataran delta, tanggul fluvio deltaik. Rataan lumpur ada di sepanjang aliran muara, dataran delta muncul pada ujung-ujung muara yang menghambat aliran air sungai sehingga muara-muaranya membentuk percabangan baru. Disamping kenampakan tersebut terdapat tanggul fluvio deltaik dengan kenampakan yang lebih cerah tapi kadang telah ditumbuhi vegetasi sehingga tidak begitu tampak nyata. Tidak dapat diidentifikasi rataan pasutnya, karena foto yang ada merupakan waktu yang bersamaan. Delta yang terbentuk memanjang, menandakan bahwa energi darat lebih kuat dari pada energi gelombang maupun pasut. Arti penting delta diantaranya adalah merupakan gerbang perpindahan species aquatik, terutama dalam menjalani siklus reproduksi. Merupakan tempat berlindung, bertelur dan membesarkan anak. Merupakan area yang kaya nutrisi, banyak jenis tumbuhan marin dan pantai. Daerah estuarinya memiliki produktivitas yang tinggi dalam menunjang perikanan. Merupakan daerah yang kaya mineral dan minyak. Pantai berlumpur banyak terbentuk pada kawasan yang landai dan sering berasosiasi dengan ekosistem mangrove dan lamun. Kadang sulit dibedakan antara pantai berlumpur dengan pantai berpasir landai, karena pantai berpasir landai cenderung tersusun oleh pasir halus yang dapat bercampur lumpur. 2. Pantai berpasir : Pada foto udara dari arah laut tampak warna hitam disusul segaris warna putih yang merupakan kenampakan ombak pecah dan disusul dengan kenampakan abu-abu yang merupakan pasir basah. Semakin ke atas kenampakan bergradasi menjadi warna abu-abu cerah. terdiri dari bura, gisik, beting gisik, swalle. Bura terdapat langsung di sekitar batas warna putih (hempasan ombak), disusul gisik dengan kenampakan abu-abu cerah, merupakan area terbuka dengan arah memanjang berbatasan dengan beting gisik. Gisik berbatasan dengan beting gisik dan swalle yang tersusun di jalur berikutnya ke arah darat, dengan kenampakan abu-abu cerah hingga keputih-putihan. Pada jalur berikutnya kadang terbentuk gumuk-gumuk pasir yang merupakan hasil aktifitas marin-aeolin. Kenampakan abu-abu cerah, tapi tidak selalu demikian karena kadang telah ditumbuhi vegetasi. Sebagian besar pantai di wilayah tropis adalah pantai berpasir. Pantai berpasir secara ekologis penting sebagai habitat dari berbagai macam organisme, termasuk kepiting dan burung, dan pada beberapa lokasi berfungsi sebagai tempat bertelur bagi penyu. Pantai berpasir dapat memiliki nilai ekonomi yang tinggi, karena banyak dari pantai ini merupakan kawasan rekreasi yang penting. Pantai berpasir juga banyak digunakan oleh perahu-perahu ikan dan berbagai aktivitas perikanan sebagai landasan (base) atau lokasi kegiatan. Minyak umumnya akan terakumulasi pada permukaan sedimen di kawasan antara-pasang-surut (intertidal), dan dapat menimbulkan dampak pada organisme –organisme termasuk burung-burung dan penyu yang mendarat di pantai. Minyak juga dapat masuk kedalam lapisan bawah permukaan, tingkat penetrasi ini dipengaruhi oleh ukuran butir sedimen, tingkat penterasi air, kekentalan minyak, dan keberadaan lubang jejak-jejak jalan kepiting atau cacing. Penetrasi minyak kedalam pasir kuarsa lebih besar dibanding pasir halus, sementara kemungkinan penetrasi minyak kedalam sedimen yang memiliki lubang jalan air lebih kecil dibanding sedimen yang kering. Minyak ringan dapat melakukan penetrasi dengan mudah, sedang minyak yang kental cenderung tetap berada pada permukaan. Minyak yang masuk kedalam lubang jejak-jejak jalan kepiting atau cacing dapat mengakibatkan dampak kematian pada kepiting atau cacing yang hidup dalam lubang-lubang tersebut. Minyak yang tetap berada pada atau sekitar permukaan pasir dan minyak yang terkena aksi gelombang yang besar tidak akan tinggal pada pantai berpasir dalam jangka waktu lama, namun minyak yang berada di lapisan bawah pemrukaan dapat tetap tinggal hingga beberapa tahun, kecuali dibersihkan secara mekanis. Sedimen minyak yang terangkat dari permukaan pantai berpasir oleh aksi gelombang dapat terbawa dan terendapkan pada kawasan yang lebih kearah lepas pantai, dimana minyak dapat memberi dampak pada organisme di dasar perairan. Kandungan minyak hidrokarbon pada daging kerang telah terdeteksi dari beberapa kasus tumpahan minyak, khususnya pada kawasan teluk yang landai. Dampak ini cenderung tidak terjadi pada pantai yang terbuka, dimana sedimen terkontaminasi minyak dapat tersebar dan terendapkan dalam lingkungan kawasan yang lebih luas. BAB III. PEMBAHASAN A. Pengertian Estuaria Estuaria adalah wilayah pesisir semi tertutup yang mempunyai hubungan bebas dengan laut terbuka dan menerima masukan air tawar dari daratan. Secara sederhana estuaria didefinisikan sebagai tempat pertemuan air tawar dan air asin (Nybakken, 1988). Sebagian besar estuaria didominasi oleh substrat berlumpur yang merupakan endapan yang dibawa oleh air tawar dan air laut. Estuaria adalah perairan yang semi tertutup yang berhubungan bebas dengan laut, sehingga laut dengan salinitas tinggi dapat bercampur dengan air tawar (Bengen, 2002, Pritchard, 1976). Kombinasi pengaruh air laut dan air tawar akan menghasilakan suatu komunitas yang khas, dengan lingkungan yang bervariasi (Supriharyono, 2000), antara lain: 1) Tempat bertemunya arus air dengan arus pasang-surut, yang berlawanan menyebabkan suatu pengaruh yang kuat pada sedimentasi, pencampuran air dan ciri-ciri fisika lainnya, serta membawa pengaruh besar pada biotanya. 2) Pencampuran kedua macam air tersebut menghasilkan suatu sifat fisika lingkungan khusus yang tidak sama dengan sifat air sungai maupun air laut. 3) Perubahan yang terjadi akibat adanya pasang-surut mengharuskan komunitas mengadakan penyesuaian secara fisiologis dengan lingkungan sekelilingnya. 4) Tingkat kadar garam didaerah estuaria tergantung pada pasang-surut air laut, banyaknya aliran air tawar dan arus-arus lainnya, serta topografi daerah estuaria tersebut. Estuaria dapat diklasifikasikan berdasarkan pada karakteristik, diantaranya: 1) Geomorfologis: lembah sungai tergenang, estuaria jenis fyord, estuaria bentukan tanggul dan estuaria bentukan tektonik. a. Estuaria daratan pesisir, paling umum dijumpai, dimana pembentukannya terjadi akibat penaikan permukaan air laut yang menggenangi sungai bagian pantai yang landai b. Laguna (Gobah) atau teluk semi tertutup, terbentuk oleh adanya beting pasir yang terletak sejajar dengan garis pantai sehingga menghalangi interaksi langsung dan terbuka dengan perairan laut. c. Fyords, merupakan estuaria yang dalam, terbentuk oleh aktivitas glester yang mengakibatkan tergenangnya lembah es oleh air laut d. Estuaria tektonik, terbentuk akibat aktivitas tektonik (gempa bumi atau letusan gunung berapi), yang mengakibatkan turunnya permukaan tanah yang kemudian digenangi oleh air laut pada saat pasang. Variasi salinitas di daerah estuaria menentukan kehidupan organisme laut/payau. Hewanhewan yang hidup di perairan payau (salinitas 0,5 - 30¡ë), hipersaline (salinitas 40 - 80¡ë), atau air garam (salinitas > 80¡ë), biasanya mempunyai toleransi terhadap kisaran salinitas yang lebih besar dibandingkan dengan organisme yang hidup di air laut atau air tawar (Supriharyono, 2000). Organisme yang dapat tahan terhadap konsentrasi garam mulai dari air berkristal dalam kondisi kehidupan latent (benih, spora, cysta), dan mulai dari air destilata sampai salinitas hampir mencapai 300¡ë dalam kondisi kehidupan yang aktif (Ruinen, dalam Supriharyono, 2000a). Terdapat beberapa spesies yang dapat bertahan hidup pada salinitas di atas 200¡ë seperti brine shrimp, Artemia salina dan larva dipteran, Ephydra (Remane dan Schlieper dalam Kinne, 1964). Pada estuaria Laguna Madre, terdapat paling sedikit 25 spesies hewan yang tahan pada salinitas sekitar 75 - 80¡ë. Beberapa diantara spesies tersebut seperti Nemopsis bacheri, Acartia tonsa, Balanus eburneus, dan beberapa jenis ikan juga dijumpai pada salinitas serendah 15 ¡ë (Hedgpeth, 1967). Hewan-hewan yang toleran pada kisaran salinitas yang luas disebut euryhaline, sedangkan yang toleran pada kisaran salinitas yang sempit disebut stenohaline (Kinne, 1964). Pengaruh salinitas terhadap organisme dapat terjadi melalui perubahan-perubahan total osmoconsentration, relatif proporsi kandungan garam, koefisien absorpsi dan saturation gas-gas terlarut, densitas dan viskositas, dan kemungkinan juga melalui absorpsi radiasi, transmisi suara, dan konduktivitas listrik (Kinne, 1967). Jumlah spesies organisme yang mendiami estuaria jauh lebih sedikit jika dibandingkan dengan organisme yang hidup di perairan tawar dan laut. Sedikitnya jumlah spesies ini terutama disebabkan oleh fluktuasi kondisi lingkungan, sehingga hanya spesies yang memiliki kekhususan fisiologis yang mampu bertahan hidup di estuaria. Selain miskin dalam jumlah spesies fauna, estuaria juga miskin akan flora. Keruhnya perairan estuaria menyebabkan hanya tumbuhan mencuat yang dapat tumbuh mendominasi. Rendahnya produktivitas primer di kolom air, sedikitnya herbivora dan terdapatnya sejumlah besar detritus menunjukkan bahwa rantai makanan pada ekosistem estuaria merupakan rantai makanan detritus. Detritus membentuk substrat untuk pertumbuhan bakteri dan algae yang kemudian menjadi sumber makanan penting bagi organisme pemakan suspensi dan detritus. Suatu penumpukan bahan makanan yang dimanfaatkan oleh organisme estuaria merupakan produksi bersih dari detritus ini. Fauna di estuaria, seperti ikan, kepiting, kerang, dan berbagai jenis cacing berproduksi dan saling terkait melalui suatu rantai makanan yang kompleks (Bengen, 2002). 2) Sirkulasi dan stratifikasi air: a. Stratifikasi tinggi atau estuaria baji garam, dicirikan oleh adanya batas yang jelas antara air tawar dan air asin b. Tercampur sebagian merupakan tipe yang paling umum dijumpai. Pada estuaria ini aliran air tawar dari sungai seimbang dengan air laut yang masuk melalui arus pasang. Pencampuran ini dapat terjadi karena adanya turbulensi yang berlangsung secara berkala oleh aksi pasang surut. c. Tercampur sempurna. Estuaria jenis ini terjadi di lokasi-lokasi dimana arus pasang-surut sangat dominan dan kuat. Berdasarkan salinitas ( kadar garamnya ), estuaria dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu :  Oligohalin yang berkadar garam rendah (0,5% – 3 %)  Mesohalin yang berkadar garam sedang (3% – 17 %)  Polihalin yang berkadar garam tinggi, yaitu diatas 17 % 1. Kondisi Lingkungan Perpaduan antara beberapa sifat fisik estuaria mempunyai peranan yang penting terhadapa kehidupan biota estuaria. Beberapa sifat yang penting antara lain: a. Salinitas. Estuaria memiliki gradien salinitas yang bervariasi, terutama bergantung pada masukan air tawar dari sungai dan air laut melalui pasang surut. Variasi ini menciptakan kondisi yang menekan bagi organisme, tetapi mendukung kehidupan biota yang padat dan juga menangkal predator dari laut yang pada umumnya tidak menyukai perairan dengan salinitas rendah. b. Substrat. Sebagian besar estuaria didominasi oleh substrat berlumpur yang berasal dari sedimen yang dibawa melalui air tawar (sungai) dan air laut. Sebagian besar lumpur estuaria bersifat organik, sehingga substrat ini kaya akan bahan organik. Bahan organik ini menjadi cadangan makanan yang penting bagi organisme estuaria c. Sirkulasi air. Selang waktu mengalirnya air dari sungai ke dalam estuaria dan masuknya air laut melalui arus pasang surut menciptakan suatu gerakan dan transpor air yang bermanfaat bagi biota estuaria, khususnya plankton yang hidup tersuspensi dalam air d. Pasang surut. Arus pasang surut berperan sebagai pengangkut zat hara dan plankton. Disamping itu arus ini juga berperan untuk mengencerkan dan menggelontorkan limbah yang sampai si estuaria. e. Penyimpanan zat hara. Peranan estuaria sebagai penyimpanan zat hara sangat besar. Pohon mangrove dan lamun serta ganggang lainnya dapat mengkonversi zat hara dan menyimpannya sebagai bahan organik yang akan digunakan kemudian oleh organisme hewani. Dengan kondisi lingkungan fisik yang bervariasi dan merupakan daerah peralihan antara darat dan laut, estuaria mempunyai pola pencampuran air laut dan air tawar yang tersendiri. Menurut (Kasim, 2005), pola pencampuran sangat dipengaruhi oleh sirkulasi air, topografi , kedalaman dan pola pasang surut karena dorongan dan volume air akan sangat berbeda khususnya yang bersumber dari air sungai. Berikut pola pencampuran antara air laut dengan air tawar: 1. Pola dengan dominasi air laut (Salt wedge estuary) yang ditandai dengan desakan dari air laut pada lapisan bawah permukaan air saat terjadi pertemuan antara air sungai dan air laut. Salinitas air dari estuaria ini sangat berbeda antara lapisan atas air dengan salinitas yang lebih rendah dibanding lapisan bawah yang lebih tinggi. 2. Pola percampuran merata antara air laut dan air sungai (well mixed estuary). Pola ini ditandai dengan pencampuran yang merata antara air laut dan air tawar sehingga tidak terbentuk stratifikasi secara vertikal, tetapi stratifikasinya dapat secara horizontal yang derajat salinitasnya akan meningkat pada daerah dekat laut. 3. Pola dominasi air laut dan pola percampuran merata atau pola percampuran tidak merata (Partially mixed estuary). Pola ini akan sangat labil atau sangat tergantung pada desakan air sungai dan air laut. Pada pola ini terjadi percampuran air laut yang tidak merata sehingga hampir tidak terbentuk stratifikasi salinitas baik itu secara horizontal maupun secara vertikal. 4. Pada beberapa daerah estuaria yang mempunyai topografi unik, kadang terjadi pola tersendiri yang lebih unik. Pola ini cenderung ada jika pada daerah muara sungai tersebut mempunyai topografi dengan bentukan yang menonjol membetuk semacam lekukan pada dasar estuaria. Tonjolan permukaan yang mencuat ini dapat menstagnankan lapisan air pada dasar perairan sehingga, terjadi stratifikasi salinitas secara vertikal. Pola ini menghambat turbulensi dasar yang hingga salinitas dasar perairan cenderung tetap dengan salinitas yang lebih tinggi. 2. Peranan Ekosistem estuaria Produktifitas estuaria, pada kenyataannya bertumpu atas bahan-bahan organik yang terbawa masuk estuaria melalui aliran sungai atau arus pasang surut air laut. Produktifitas primernya sendiri, karena sifat-sifat dinamika estuaria sebagaimana telah diterangkan di atas dan karena kekeruhan airnya yang berlumpur, hanya dihasilkan secara terbatas oleh sedikit jenis alga, rumput laut, diatom bentik dan fitoplankton. Meski demikian, bahan-bahan organik dalam rupa detritus yang terendapkan di estuaria membentuk substrat yang penting bagi tumbuhnya alga dan bakteri, yang kemudian menjadi sumber makanan bagi tingkat-tingkat trofik di atasnya. Banyaknya bahan-bahan organik ini dibandingkan oleh Odum dan de la Cruz (1967, dalam Nybakken 1988) yang mendapatkan bahwa air drainase estuaria mengandung sampai 110 mg berat kering bahan organik per liter, sementara perairan laut terbuka hanya mengandung bahan yang sama 1-3 mg per liter. Oleh sebab itu, organisme terbanyak di estuaria adalah para pemakan detritus, yang sesungguhnya bukan menguraikan bahan organik menjadi unsur hara, melainkan kebanyakan mencerna bakteri dan jasad renik lain yang tercampur bersama detritus itu. Pada gilirannya, para pemakan detritus berupa cacing, siput dan aneka kerang akan dimakan oleh udang dan ikan, yang selanjutnya akan menjadi mangsa tingkat trofik di atasnya seperti ikan-ikan pemangsa dan burung. Melihat banyaknya jenis hewan yang sifatnya hidup sementara di estuaria, bisa disimpulkan bahwa rantai makanan dan rantai energi di estuaria cenderung bersifat terbuka. Dengan pangkal pemasukan dari serpih-serpih bahan organik yang terutama berasal dari daratan (sungai, rawa asin, hutan bakau), dan banyak yang berakhir pada ikan-ikan atau burung yang kemudian membawa pergi energi keluar dari sistem. 3. Komposisi Biota dan Produktifitas Hayati Di estuaria terdapat tiga komponen fauna, yaitu fauna laut, air tawar dan payau. Komponen fauna yang terbesar didominasi oleh fauna laut yaitu hewan stenohalin yang terbatas kemampuannya dalam mentolerir perubahan salinitas dan hewan euryhalin yang mempunyai kemampuan mentolerir berbagai penurunan salinitas yang lebar. Komponen air payau terdiri dari spesies organisme yang hidup di pertengahan daerah estuaria pada salinitas antara 5-300/00. Spesies-spesies ini tidak ditemukan hidup pada perairan laut maupun tawar. Komponen air tawar biasanya terdiri dari yang tidak mampu mentoleril salinitas di atas 5 dan hanya terbatas pada bagian hulu estuaria. Ciri khas estuaria cenderung lebih produktif daripada laut ataupun air tawar. Estuaria adalah ekosistem yang miskin dalam jumlah spesies fauna dan flora. Faunanya: ikan, kepiting, kerang dan berbagai jenis cacing berproduksi dan saling terkait melalui suatu rantai makanan yang kompleks. Detritus membentuk substrat untuk pertumbuhan bakteri dan alga dan kemudian menjadi sumber makanan penting bagi organisme pemakan suspensi dan detritus. Secara fisik dan biologis, estuaria merupakan ekosistem produktif karena: a) Estuaria yang berperan sebagai jebak zat hara yang cepat di daur ulang b) Beragamnya komposisi tumbuhan di estuaria baik tumbuhan makro (makrofiton) maupun tumbuhan mikro (mikrofiton), sehingga proses fotosintesis dapat berlangsung sepanjang tahun. c) Adanya fluktuasi permukaan air terutama akibat aksi pasang-surut, sehingga antara lain memungkinkan pengangkutan bahan makanan dan zat hara yang diperlukan berbagai organisme estuaria. Kolam air di estuaria merupakan habitat untuk plankton dan nekton.Di dasar perairan hidup mikro dan makro bentos. Setiap kelompok organisme dalam habitatnya menjalankan fungsi biologisnya masing-masing. Antara satu kelompok organisme terjalin jaringan trofik (rantai makanan) sehingga membentuk jaringan jala makanan. Jumlah spesies organisme yang mendiami estuaria jauh lebih sedikit jika dibandingkan dengan organisme yang hidup di perairan tawar dan laut. Sediktnya jumlah spesies ini terutama disebabkan oleh fluktuasi kondisi lingkungan, sehingga hanya spesies yang memiliki kekhususan fisiologis yang mampu bertahan hidup di estuaria. Selain miskin dalam jumlah spesies fauna, estuaria juga miskin dalam flora. Keruhnya perairan estuaria menyebabkan hanya tumbuhan mencuat yang dapat tumbuh mendominasi. Rendahnya produktifitas primer di kolam air, sedikitnya herbivora dan terdapatnya sejumlah besar detritus menunjukkan bahwa rantai makanan pada ekosistem estuaria merupakan rantai makanan detritus (Bangen, 2002). Karakteristik ( ciri – ciri ) ekosistem estuaria adalah sebagai berikut :  Keterlindungan Estuaria merupakan perairan semi tertutup sehingga biota akan terlindung dari gelombang laut yang memungkinkan tumbuh mengakar di dasar estuaria dan memungkinkan larva kerang-kerangan menetap di dasar perairan.  Kedalaman Kedalaman estuaria relatif dangkal sehingga memungkinkan cahaya matahari mencapai dasar perairan dan tumbuhan akuatik dapat berkembang di seluruh dasar perairan, karena dangkal memungkinkan penggelontoran (flushing) dengan lebih baik dan cepat serta menangkal masuknya predator dari laut terbuka (tidak suka perairan dangkal).  Salinitas air Air tawar menurunkan salinitas estuaria dan mendukung biota yang padat.  Sirkulasi air Perpaduan antara air tawar dari daratan, pasang surut dan salinitas menciptakan suatu sistem gerakan dan transport air yang bermanfaat bagi biota yang hidup tersuspensi dalam air, yaitu plankton.  Pasang Energi pasang yang terjadi di estuaria merupakan tenaga penggerak yang penting, antara lain mengangkut zat hara dan plangton serta mengencerkan dan meggelontorkan limbah.  Penyimpanan dan pendauran zat hara Kemampuan menyimpan energi daun pohon mangrove,lamun serta alga mengkonversi zat hara dan menyimpanya sebagai bahan organik untuk nantinya dimanfaatkan oleh organisme hewani. 4. Tipe-tipe Estuari Pembagian tipe-tipe estuari dapat dipengaruhi oleh tiga faktor yaitu, kekuatan gelombang, pasang surut dan keberadaan sungai. Kuat lemahnya ketiga faktor ini tergantung dari bentuk geomorfologinya. Secara umum tipe-tipe estuari dapat dibagi menjadi tujuh tipe, yaitu: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Embayments and drown river valleys (Teluk dengan sungai dari lembah bukit) Wave-dominated estuaries (Estuari dengan dominasi gelombang) Wave-dominated deltas (Delta dengan dominasi gelombang) Coastal lagoons and strandplains (Lagun dengan hamparan tanah datar) Tide-dominated estuaries (Estuari dengan dominasi pasang surut) Tide-dominated deltas (Delta dengan dominasi pasang surut) Tidal creeks (Daerah pasang surut dengan banyak anak sungai) 5. Biota Estuari Sebagai wilayah peralihan atau percampuran, estuaria memiliki tiga komponen biota, yakni fauna yang berasal dari lautan, fauna perairan tawar, dan fauna khas estuaria atau air payau. Fauna lautan yang tidak mampu mentolerir perubahan-perubahan salinitas yang ekstrem biasanya hanya dijumpai terbatas di sekitar perbatasan dengan laut terbuka, di mana salinitas airnya masih berkisar di atas 30‰. Sebagian fauna lautan yang toleran (eurihalin) mampu masuk lebih jauh ke dalam estuaria, di mana salinitas mungkin turun hingga 15‰ atau kurang. Sebaliknya fauna perairan tawar umumnya tidak mampu mentolerir salinitas di atas 5‰, sehingga penyebarannya terbatas berada di bagian hulu dari estuaria. Fauna khas estuaria adalah hewan-hewan yang dapat mentolerir kadar garam antara 530‰, namun tidak ditemukan pada wilayah-wilayah yang sepenuhnya berair tawar atau berair laut. Di antaranya terdapat beberapa jenis tiram dan kerang (Ostrea, Scrobicularia), siput kecil Hydrobia, udang Palaemonetes, dan cacing polikaeta Nereis.Di samping itu terdapat pula faunafauna yang tergolong peralihan, yang berada di estuaria untuk sementara waktu saja. Beberapa jenis udang Penaeus, misalnya, menghabiskan masa juvenilnya di sekitar estuaria, untuk kemudian pergi ke laut ketika dewasa. Jenis-jenis sidat (Anguilla) dan ikan salem (Salmo, Onchorhynchus) tinggal sementara waktu di estuaria dalam perjalanannya dari hulu sungai ke laut, atau sebaliknya, untuk memijah. Dan banyak jenis hewan lain, dari golongan ikan, reptil, burung dan lain-lain, yang datang ke estuaria untuk mencari makanan (Nybakken, 1988). Akan tetapi sesungguhnya, dari segi jumlah spesies, fauna khas estuaria adalah sangat sedikit apabila dibandingkan dengan keragaman fauna pada ekosistem-ekosistem lain yang berdekatan. Umpamanya dengan fauna khas sungai, hutan bakau atau padang lamun, yang mungkin berdampingan letaknya dengan estuaria. Para ahli menduga bahwa fluktuasi kondisi lingkungan, terutama salinitas, dan sedikitnya keragaman topografi yang hanya menyediakan sedikit relung (niche), yang bertanggung jawab terhadap terbatasnya fauna khas setempat. 6. Rantai Makanan di Estuaria Rantai makanan adalah perpindahan energi makanan dari sumber daya tumbuhan melalui seri organisme atau melalui jenjang makan (tumbuhan-herbivora-carnivora). Pada setiap tahap pemindahan energi, 80%–90% energi potensial hilang sebagai panas, karena itu langkah-langkah dalam rantai makanan terbatas 4-5 langkah saja. Dengan perkataan lain, semakin pendek rantai makanan semakin besar pula energi yang tersedia.(Anonim,2010) Pada ekosistem estuaria dikenal 3 (tiga ) tipe rantai makanan yang didefinisikan berdasarkan bentuk makanan atau bagaimana makanan tersebut dikonsumsi : grazing, detritus dan osmotik. Fauna diestuaria, seperti udang, kepiting, kerang, ikan, dan berbagai jenis cacing berproduksi dan saling terkait melalui suatu rantai dan jaring makanan yang kompleks (Komunitas tumbuhan yang hidup di estuari antara lain rumput rawa garam, ganggang, dan fitoplankton. Komunitas hewannya antara lain berbagai cacing, kerang, kepiting, dan ikan. Bahkan ada beberapa invertebrata laut dan ikan laut yang menjadikan estuari sebagai tempat kawin atau bermigrasi untuk menuju habitat air tawar. Estuari juga merupakan tempat mencari makan bagi vertebrata semi air, yaitu unggas air. Ada dua tipe dasar rantai makanan: 1. Rantai makanan rerumputan (grazing food chain). Misalnya: tumbuhan-herbivora-carnivora. 2. Rantai makanan sisa (detritus food chain). Bahan mati mikroorganisme (detrivora = organisme pemakan sisa) predator. Suatu rantai adalah suatu pola yang kompleks saling terhubung, rantai makanan di dalam suatu komunitas yang kompleks antar komunitas, selain daripada itu, suatu rantai makanan adalah suatu kelompok organismE yang melibatkan perpindahan energi dari sumber utamanya (yaitu., cahaya matahari, phytoplankton, zooplankton, larval ikan, kecil ikan, ikan besar, binatang menyusui). Jenis dan variasi rantai makanan adalah sama banyak seperti jenis/spesies di antara mereka dan tempat kediaman yang mendukung mereka. Selanjutnya, rantai makanan dianalisa didasarkan pada pemahaman bagaimana rantai makanan tersebut memperbaiki mekanisme pembentukannya. Ini dapat lebih lanjut dianalisa sebab bagaimanapun jenis tunggal boleh menduduki lebih dari satu tingkatan trophic di dalam suatu rantai makanan. (Johannessen et al, 2005) Dalam bagian ini, diuraikan tiga bagian terbesar dalam rantai makanan yaitu: phytoplankton, zooplankton, dan infauna benthic. Sebab phytoplankton dan zooplankton adalah komponen rantai makanan utama dan penting, dimana bagian ini berisi informasi yang mendukung keberadaan organisme tersebut. Sedangkan, infauna benthic adalah proses yang melengkapi pentingnya rantai makanan di dalam ekosistem pantai berlumpur. Selanjutnya, pembahasan ini penekananya pada bagaimana mata rantai antara rantai makanan dan tempat berlindungnya (tidal flat; pantai berlumpur).(Johannessen et al, 2005) Keruhnya perairan estuaria menyebabkan hanya tumbuhan mencuat yang dapat tumbuh mendominasi. Rendahnya produktivitas primer di kolom air, sedikitnya herbivora dan terdapatnya sejumlah besar detritus menunjukkan bahwa rantai makanan pada ekosistem estuaria merupakan rantai makanan detritus. Detritus membentuk substrat untuk pertumbuhan bakteri dan algae yang kemudian menjadi sumber makanan penting bagi organisme pemakan suspensi dan detritus. Suatu penumpukan bahan makanan yang dimanfaatkan oleh organisme estuaria merupakan produksi bersih dari detritus ini. Fauna di estuaria, seperti ikan, kepiting, kerang, dan berbagai jenis cacing berproduksi dan saling terkait melalui suatu rantai makanan yang kompleks (Bengen, 2002). Sebagai lingkungan perairan yang mempunyai kisaran salinitas yang cukup lebar, estuary menyimpan berjuta keunikan yang khas. Hewan-hewan yang hidup pada lingkungan perairan ini adalah hewan yang mampu beradaptasi dengan kisaran salinitas tersebut. Dan yang paling penting adalah lingkungan perairan estuary merupakan lingkungan yang sangat kaya akan nutrient yang menjadi unsure terpenting bagi pertumbuhan phytoplankton. Inilah sebenarnya kunci dari keunikan lingkungan estuary. Sebagai kawasan yang sangat kaya akan unsur hara (nutrient) estuary di kenal dengan sebutan daerah pembesaran (nursery ground) bagi berjuta ikan, invertebrate (Crustacean, Bivalve, Echinodermata, annelida dan masih banyak lagi kelompok infauna). Tidak jarang ratusan jenis ikan-ikan ekonomis penting seperti siganus, baronang, sunu dan masih banyak lagi menjadikan daerah estuari sebagai daerah pemijahan dan pembesaran. Pada kawasan-kawasan subtripic sampai daerah dingin, fungsi estuary bukan hanya sebagai daerah pembesaran bagi berjuta hewan penting, bahkan menjadi titik daerah ruaya bagi jutaan jenis burung pantai. Kawasan estuary di gunakan sebagai daerah istrahat bagi perjalanan panjang jutaan burung dalam ruayanya mencari daerah yang ideal untuk perkembanganya. Disamping itu juga di gunakan oleh sebagian besar mamalia dan hewan-hewan lainnya untuk mencari makan. Jumlah spesies organisme yang mendiami estuaria jauh lebih sedikit jika dibandingkan dengan organisme yang hidup di perairan tawar dan laut. Sedikitnya jumlah spesies ini terutama disebabkan oleh fluktuasi kondisi lingkungan, sehingga hanya spesies yang memiliki kekhususan fisiologis yang mampu bertahan hidup di estuaria. Selain miskin dalam jumlah spesies fauna, estuaria juga miskin akan flora. Pada ekosistem estuaria dikenal 3 (tiga ) tipe rantai makanan yang didefinisikan berdasarkan bentuk makanan atau bagaimana makanan tersebut dikonsumsi : grazing, detritus dan osmotik. Fauna diestuaria, seperti udang, kepiting, kerang, ikan, dan berbagai jenis cacing berproduksi dan saling terkait melalui suatu rantai dan jaring makanan yang kompleks 7. Adaptasi Organisme Estuaria Variasi sifat habitat estuaria, terutama dilihat dari fluktuasi salinitas dan suhu, membuat estuaria menjadi habitat yang menekan dan keras. Bagi organisme, agar dapat hidup dan berhasil membentuk koloni di daerah ini mereka harus memilki adaptasi tertentu. Adaptasi tersebut antara lain: a) Adaptasi morfologis: organisme yang hidup di lumpur memiliki rambut-rambut halus untuk menghambat penyumbatan permukaan ruang pernafasan oleh partikel lumpur; b) Adaptasi fisiologis: berkaitan dengan mempertahankan keseimbangan ion cairan tubuh; c) Adaptasi tingkah laku: pembuatan lubang ke dalam lumpur organisme khususnya avertebrata. Kebanyakan organisme yang menempati daerah ini menunjukkan adaptasi dalam menggali dan melewati substrat yang lunak atau menempati saluran yang permanen dalam substrat. Dikarenakan pantai lumpur juga agak tandus, hal ini dapat dilihat dari sedikitnya organisme yang menempati permukaan daratan lumpur. Kehadiran organisme di pantai berlumpur ditunjukkan oleh adanya berbagai lubang di permukaan dengan ukuran dan bentuk yang berbeda. Jadi, salah satu adaptasi utama dari organisme di daratan lumpur adalah kemampuan untuk menggali substrat atau membentuk saluran yang permanen. Adaptasi utama yang kedua berkaitan dengan kondisi anaerobik yang merata di seluruh substrat. Jika organisme ingin tetap hidup ketika terkubur dalam substrat, mereka harus beradaptasi untuk hidup dalam keadaan anaerobik atau harus membuat beberapa jalan yang dapat mengalirkan air dari permukaan yang mengandung banyak oksigen ke bawah. Untuk mendapatkan air dari permukaan yang kaya oksigen dan makanan maka muncul berbagai lubang dan saluran di permukaan daratan lumpur. Adaptasi yang umum terhadap rendahnya ketersediaan oksigen adalah dengan membentuk alat pengangkut (misalnya, hemoglobin) yang dapat terus-menerus mengangkut oksigen dengan konsertasi yang lebih baik dibandingkan dengan pigmen yang sama pada organisme lain. (Nybakken, 1982)  Tipe Organisme Pantai berlumpur sering menhasilkan suatu pertumbuhan yang besar dari berbagai tumbuhan. Di atas daratan lumpur yang kosong, tumbuhan yang paling berlimpah adalah diatom, yang hidup di lapisan permukaan lumpur dan biasanya menghasilkan warna kecoklatan pada permukaan lumpur pada saat terjadi pasang-turun. Tumbuhan lain termasuk makroalga, Glacilaria, Ulva, dan Enteromorpha. Pada daerah lain, khusus pada pasut terendah hidup berbagai rumput laut, seperti Zostera. Daratan berlumpur mengandung sejumlah besar bakteri, yang memakan sejumlah besar bahan organik. Bakteri ini merupakan satu-satunya organisme yang melimpah pada lapisan anaerobikdi pantai berlumpurdan membentuk biomassa yang berarti. Bakteri ini dinamakan Bakteri Kemosintesis atau Bakteri Sulfur, bakteri ini mendapatkan energi dari hasil oksidasi beberapa senyawa sulfur yang tereduksi, seperti berbagai sulfida (misalnya, H2S). Mereka menghasilkan bahan organik dengan menggunakan energi yang didapat dari oksidasi senyawa sulfur yang tereduksi, berbeda dengan tumbuhan yang menghasilkan bahan organik menggunakan energi matahari. Karena bakteri ototrofik ini berlokasi di lapisan anaerobik di lumpur, maka daratan lumpur merupakan daerah yang unik di lingkungan laut, mereka mempunyai dua lapisan yang berbeda di mana produktivitas primer terjadi, daerah tempat diatom, alga, dan rumput lautmelakukan fotosintesis, dan lapisan dalam tempat bakteri melakukan kemosintesis. Mahluk dominan yang terdapat pada daratan lumpur, yaitu cacing polichaeta, moluska bivalvia, dan krustacea besar dan kecil, tetapi dengan jenis yang berbeda. (Nybakken, 1982)  Phytoplankton Pertumbuhan phytoplankton di wilayah pantai estuaria berlumpur diatur dengan suatu interaksi antara matahari, hujan, bahan gizi, dan gerakan massa air, serta convergensi yang di akibatkan oleh arus laut. Sampai jumlah tertentu produksi phytoplankton tergantung pada cuaca, dengan pencampuran dan stratifikasi kolom air yang mengendalikan produktivitas utama. Percampuran massa air vertikal yang kuat mempunyai suatu efek negatif terhadap produktivitas, dengan mengurangi perkembangan phytoplankton maka terjadi penambahan energi itu sendiri dan penting bagi fotosintesis. Bagaimanapun, pencampuran vertikal adalah juga diuntungkan karena proses penambahan energi, yang membawa bahan gizi (nutrient) dari air menuju ke permukaan di mana mereka dapat digunakan oleh phytoplankton.  Zooplankton dan Heterotrophs Lain Zooplankton dan heterotrophs lain (suatu tingkatan organisma trophic sekunder yang berlaku sebagai consumer utama organik) di dalam kolom air mengisi suatu relung ekologis penting sebagai mata rantai antara produksi phytoplankton utama dan produktivitas ikan. Ikan contohnya, dengan ukuran panjang antara 50 - 200 milimeter, seperti; ikan herring juvenile dan dewasa, smelt, stickleback, sand lance, dan ikan salem dewasa, minyak ikan, hake, pollock, lingcod, sablefish, dan ikan hiu kecil, memperoleh bagian terbesar gizi mereka dari zooplankton dan heterotrophs lain. Penambahan konsumen utama ini adalah mangsa utama untuk sculpins, rockfish, ikan hiu, burung, dan paus ballen. Di muara 4), ditemukan ikan salem muda±sungai Duwamish (dengan kedalaman memangsa gammarid amphipods yang lebih besar dari ukuran tubuhnya. Selain itu, ikan salem juga menyukai jenis Corophium salmonis dan Eogammarus confervicolus. Sebagai tambahan, gammarid amphipods, dalam bentuk juvenille mengkonsumsi calanoid dan harpacticoid copepods. Merah muda pemuda ikan salem, pada sisi lain, lebih menyukai harpacticoids yang diikuti oleh calanoid copepods. Juvenille chinook mempercayakan kepada gammaridean amphipods dan calanoid copepods sebagai betuk diet mereka. Menunjukkan bahwa 85 sampai 92 % zooplankton di teluk adalah calanoid copepods. Secara teknis, istilah zooplankton mengacu pada format hewan plankton, yang tinggal di kolom air dan pergerakan utama semata-mata dikendalikan oleh keadaan insitu lingkungan (current movement). Bagaimanapun, yang mereka lakukan akan mempunyai kemampuan untuk berpindah tempat vertikal terhadap kolom air dan boleh juga berpindah tempat secara horisontal dari pantai ke laut lepas sepanjang yaitu musim semi dan musim panas dalam untuk mencari lokasi yang cocok untuk pertumbuhan mereka. Migrasi vertikal menciptakan sonik lapisan menyebar ketika zooplankton bergerak ke permukaan pada malam hari dan tempat yag terdalam pada siang hari. Pada daerah berlumpur dengan olakan gelombang besar, migrasi vertical zooplankton akan terhalang. Sedangkan, migrasi horisontal musiman mengakibatkan zooplankton akan mengalami blooming (pengkayaan).  Infauna dan Epifauna Benthic Infauna Benthic (organisma yang tinggal di sedimen) dan epifauna (organisma yang mempertahankan hidup di sedimen) adalah suatu kumpulan taxa berbeda-beda mencakup clam, ketam, cacing, keong, udang, dan ikan. Sedangkan burrowers, adalah binatang pemakan bangkai, pemangsa, dan pemberi makan/tempat makan sejumlah phytoplankton, zooplankton, sedimen, detritus dan nutrient lainnya. Mereka berperan penting dalam jaring makanan di pantai berlumpur, juga bertindak sebagai konvertor untuk pembuatan bahan-bahan organik pada tingkatan trophic lebih tinggi, sehingga menyokong peningkatan produktivitas alam bebas (wildlife) dan ikan. Di lain pihak, ikan-ikan demersal, neretic, dan pemangsa terestrial contohnya elasmobranchs ( ikan hiu, skates dan manta rays-pari), flatfish dan bottomdwelling jenis lainnya; shorebirds; mamalia laut, termasuk ikan paus dan berang-berang laut; dan manusia. Dengan diuraikannya secara rinci bagaimana berbagai rantai makanan terhubung ke dalam suatu jaringan makanan terpadu pada benthic community dalam system dinamika pantai berlumpur adalah penting untuk di jawab bahwa ekosistem pantai berlumpur ini berperan di dalam keseimbangan produktifitas primer perairan. Zedler (1980) Predator asli di dataran lumpur ini mencakup beberapa cacing polychaeta seperti Glycera spp., siput bulan (Polinices, Natica) dan kepiting. Jadi, struktur trofik dataran lumpur sering terbentuk berdasarkan dua hal, yaitu : berdasarkan detritus – bakteri dan berdasarkan tumbuhan. 8. Fungsi Ekologis Estuaria Secara umum estuaria mempunyai peranan ekologis penting diantaranya sebagai berikut; a) Sebagai sumber zat hara dan bahan organik yang diangkut lewat sirkulasi pasang surut (tidal circulation); b) Penyedia habitat bagi sejumlah spesies hewan yang bergantung pada estuaria sebagai tempat berlindung dan tempat mencari makan; c) Sebagai tempat untuk bereproduksi dan atau tempat tumbuh besar (nursery ground) terutama bagi sejumlah spesies udang dan ikan. Sedangkan secara umum estuaria dimanfaatkan oleh manusia sebagai berikut: a) Sebagai tempat pemukiman; b) Sebagai tempat penangkapan dan budidaya sumberdaya ikan; c) Sebagai jalur transportasi; d) Sebagai pelabuhan dan kawasan industri. 9. Peran ekologis estuaria Secara singkat peran ekologi estuaria yang penting adalah sebagai berikut: a) Merupakan sumber zat hara dan bahan organik bagi bagian estuari yang jauh dari garis pantai maupun yang berdekatan denganya lewat sirkulasi pasang surut (tidal circulation). b) Menyediakan habitat bagi sejumlah spesies ikan yang ekonomis penting sebagai tempat berlindung dan tempat mencari makan (feeding ground). c) Memenuhi kebutuhan bermacam spesies ikan dan udang yang hidup dilepas pantai, tetapi bermigrasi keperairan dangkal dan berlindung untuk memproduksi dan/atau sebagai tempat tumbuh besar (nursery ground) anak mereka. d) Sebagai potensi produksi makanan laut di estuaria yang sedikit banyak didiamkan dalam keadaan alami. Kijing yang bernilai komersial (Rangia euneata) memproduksi 2900 kg daging per ha dan 13.900 kg cangkang per ha pada perairan tertentu di texas. e) Perairan estuaria secara umum dimanfaatkan manusia untuk tempat pemukiman f) Tempat penangkapan dan budidaya sumberdaya ikan g) Jalur transportasi, pelabuhan dan kawasan industry Ada tiga komponen fauna di estuaria yaitu komponen lautan,air tawar dan air payau.Binatang laut stenohalin merupakan tipe yang tidak mampu mentolerir perubahan salinitas. Komponen ini terbatas pada mulut estuaria. Binatang laut eurihalin membentuk subkelompok kedua. Spesies ini mampu menembus hulu estuaria. Komponen air payau terdiri atas polikaeta Nereis diversicolor,berbagai tiram(crassostrea), kerang(Macoma balthica), siput kecil (hydrobia) dan udang (palaemonetes). Komponen terakhir berasal dari air tawar. Organisme ini tidak dapat mentolerir salinitas di atas 5‰ dan terbatas hulu estuaria. Spesies yang tinggal di estuaria untuk sementara seperti larva, beberapa spesies udang dan ikan yang setelah dewasa berimigrasi ke laut.Spesies ikan yang menggunakan estuaria sebagai jalur imigrasi dari laut ke sungai dan sebaliknya seperti sidat dan ikan salmon. Jumlah spesies yang mendiami estuaria sebagaimana yang dikemukakan Barnes (1974),pada umumnya jauh lebih sedikit daripada yang mendiami habitat air tawar atau air asin di sekitarnya. Hal ini karena ketidakmampuan organisme air tawar mentolerir kenaikan salinitas dan organisme air laut mentolerir penurunan salinitas estuaria. 10. Sifat-sifat ekologis Sebagai tempat pertemuan air laut dan air tawar, salinitas di estuaria sangat bervariasi. Baik menurut lokasinya di estuaria, ataupun menurut waktu. Secara umum salinitas yang tertinggi berada pada bagian luar, yakni pada batas wilayah estuaria dengan laut, sementara yang terendah berada pada tempat-tempat di mana air tawar masuk ke estuaria. Pada garis vertikal, umumnya salinitas di lapisan atas kolom air lebih rendah daripada salinitas air di lapisan bawahnya. Ini disebabkan karena air tawar cenderung ‘terapung’ di atas air laut yang lebih berat oleh kandungan garam. Kondisi ini disebut ‘estuaria positif’ atau ‘estuaria baji garam’ (salt wedge estuary) (Nybakken, 1988). Akan tetapi ada pula estuaria yang memiliki kondisi berkebalikan, dan karenanya dinamai ‘estuaria negatif’. Misalnya pada estuaria-estuaria yang aliran air tawarnya sangat rendah, seperti di daerah gurun pada musim kemarau. Laju penguapan air di permukaan, yang lebih tinggi daripada laju masuknya air tawar ke estuaria, menjadikan air permukaan dekat mulut sungai lebih tinggi kadar garamnya. Air yang hipersalin itu kemudian tenggelam dan mengalir ke arah laut di bawah permukaan. Dengan demikian gradien salinitas airnya berbentuk kebalikan daripada ‘estuaria positif’. Dalam pada itu, dinamika pasang surut air laut sangat mempengaruhi perubahanperubahan salinitas dan pola persebarannya di estuaria. Pola ini juga ditentukan oleh geomorfologi dasar estuaria. Sementara perubahan-perubahan salinitas di kolom air dapat berlangsung cepat dan dinamis, salinitas substrat di dasar estuaria berubah dengan sangat lambat. Substrat estuaria umumnya berupa lumpur atau pasir berlumpur, yang berasal dari sedimen yang terbawa aliran air, baik dari darat maupun dari laut. Sebabnya adalah karena pertukaran partikel garam dan air yang terjebak di antara partikel-partikel sedimen, dengan yang berada pada kolom air di atasnya berlangsung dengan lamban. 11. Pemanfaatan estuaria Secara umum estuaria dimanfaatkan oleh manusia sebagai berikut : • Sebagai tempat pemukiman. • Sebagai tempat penangkapan dan budidaya sumberdaya ikan. • Sebagai jalur transportasi. • Sebagai pelabuhan dan kawasan industri. 12. Sisi Sosial dan Ekonomi Perairan Estuari Wilayah pesisir memiliki arti strategis karena merupakan wilayah peralihan antara ekosistem darat dan laut, serta memiliki potensi sumberdaya alam dan jasa-jasa lingkungan yang sangat kaya. Dari sisi sosial-ekonomi, pemanfaatan kekayaan laut khususnya daerah estuari masih terbatas pada kelompok pengusaha besar dan pengusaha asing. Nelayan sebagai jumlah terbesar merupakan kelompok profesi paling miskin di Indonesia. Kekayaan sumberdaya laut tersebut menimbulkan daya tarik bagi berbagai pihak untuk memanfaatkan sumberdayanya dan berbagai instansi untuk meregulasi pemanfaatannya. Akan tetapi, kekayaan sumberdaya pesisir tersebut mulai mengalami kerusakan. Sejak awal tahun 1990-an, fenomena degradasi biogeofisik sumberdaya pesisir semakin berkembang dan meluas. Laju kerusakannya telah mencapai tingkat yang mengkhawatirkan, terutama pada ekosistem mangrove terumbu karang dan estuari (muara sungai). Gambar 7. Gambaran Mengenai Sisi Sosial dan Ekonomi Perairan Estuari Rusaknya ekosistem saerah estuari berimplikasi terhadap penurunan kualitas lingkungan untuk sumberdaya ikan serta erosi pantai. Sehingga terjadi kerusakan tempat pemijahan dan daerah asuhan ikan, berkurangnya populasi benur, nener, dan produktivitas tangkap udang. Semua kerusakan biofisik lingkungan tersebut adalah gejala yang terlihat dengan kasat mata dari hasil interaksi antara manusia dengan sumberdaya pesisir yang tidak memperhatikan kaidah-kaidah kelestarian dan daya dukung lingkungannya. Persoalan yang mendasar adalah mekanisme pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil tidak efektif untuk memberi kesempatan kepada sumberdaya hayati pesisir yang dimanfaatkan pulih kembali atau pemanfaatan sumberdaya non-hayati disubstitusi dengan sumberdaya alam lain dan mengeliminir faktor-faktor yang menyebabkan kerusakannya. Gambar 8. Gambaran Mengenai Kerusakan Ekosistem Estuari 13. Strategi pengelolaan ekosistem estuaria Sebagian pihak mungkin memiliki pengetahuan terbatas mengenai Ekosistem Estuari. Sejumlah Ekosistem Estuari ternyata memiliki keunikan dan keunggulan tersendiri. Akan tetapi ekosistem ini ternyata juga sangat rentan terhadap perubahan lingkungan dan bencana alam seperti gempa bumi, tsunami, gelombang pasang maupun pemanasan global. Ekosistem Estuari juga berpeluang besar untuk rusak akibat perbuatan manusia baik langsung maupun tidak langsung. Sehubungan dengan kondisi tersebut, maka perlu keseimbangan antara pemanfaatan dan pelestarian yang disesuaikan dengan daya dukung lingkungan dan alokasi penataan ruang. Keterbatasan sarana dan prasarana, data dan informasi tentang potensi sumber daya alam dan jasa-jasa lingkungan terhadap Ekosistem Estuari beserta ekologisnya perlu segera diatasi agar tingkat kesejahteraan masyarakat pesisir meningkat. Beberapa aspek yang digunakan sebagai dasar pertimbangan dalam perumusan kebijakan dan strategi penataan ruang Ekosistem Estuari adalah  Daya dukung lingkungan,  Kondisi sosial budaya,  Target perencanaan yang realistis, kepastian hukum,  Letak geografis dan kondisi geopolitik. Dimana Penataan ruang Ekosistem Estuari dapat dilakukan pada 4 kawasan yaitu : kawasan pemanfaatan umum, kawasan konservasi, alur laut dan kawasan strategis nasional tertentu. Kawasan strategis nasional tertentu dapat didefinisikan sebagai kawasan yang ditetapkan secara nasional mempunyai nilai strategis. Kawasan strategis nasional tertentu dikembangkan dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat, mempercepat pertumbuhan ekonomi kawasan, meningkatkan upaya pertahanan negara, memperkuat integrasi nasional dan melestarikan fungsi lingkungan hidup. Sehingga pengelolaan Ekosistem Estuari harus dilakukan dengan cara : secara ekonomi efisien dan optimal (economically sound), di mana secara sosial-budaya berkeadilan dan dapat diterima (socio-culturally acepted and just). Dan secara ekologis tidak melampaui daya dukung lingkungan (environmentally friendly). Akan tetapi, kebijakan mengenai pengelolaan Ekosistem Estuari harus berorientasi kepada kepentingan umum, bukan kepentingan perorangan atau golongan. B. Pengertian Pesisir Pantai Berbagai istilah berkaitan dengan penyebutan pantai sering digunakan secara rancu, secara singkat diuraikan berikut ini untuk memperjelas terminologi yang dimaksud. Suatu pantai memiliki karakteristik sebagai berikut : 1. Pantai berhubungan langsung dengan laut. 2. Pantai berkedudukan di antara garis air tinggi dan garis air rendah. 3. Pantai dapat terjadi dari material padu, lepas atau lembek. 4. Pantai yang bermaterial lepas dengan ukuran kerikil atau pasir disebut sebagai gisik (beach). 5. Pantai dapat berelief rendah (datar, berombak, atau bergelombang), namun dapat pula berelief tinggi (berbukit atau bergunung). 6. Pantai secara genetik dapat berasal dari bentukan marin, organik, vulkanik, tektonik, fluviomarin, denudasional, atau solusional. 1. 2. 3. 1. Pesisir merupakan daerah yang membentang di pedalaman dari laut, umumnya sejauh perubahan topografi pertama di permukaan daratan. Pesisir merupakan sebidang lahan tidak lebar tidak tentu yang membentang dari garis pantai ke arah pedalaman hingga perubahan besar pertama kali pada kenampakan lapangan. Pesisir merupakan mintakat fisoografis yang relatif luas, membentang sejauh ratusan kilometer di sepanjang garis pantai dan seringkali beberapa kilometer ke arah pedalaman dari pantai. Pengertian lain menyebutkan pesisir merupakan sebidang lahan yang membentang di pedalaman dari garis pesisir sejauh pengaruh laut, yang dibuktikan pada bentuk lahannya. Garis pesisir adalah garis yang membentuk batas antara pesisir dan pantai. Garis pesisir membatasi pesisir dan pantai yang kedudukannya relatif tetap, garis pesisir akan berimpit dengan garis pantai saat terjadi pasang tertinggi atau gelombang yang relatif besar. Untuk mengidentifikasi pesisir harus terlebih dahulu disamakan cara pandang atau pendekatan yang digunakan Secara geomorfologis pesisir dapat diidentifikasi dari bentuklahannya yang secara genetik berasal dari proses marin, fluviomarin, organik, atau aeoiomarin. Secara biologi, karakteristik pesisir dapat diketahui dari persebaran ke arah darat biota pantai, baik persebaran vegetasi maupun persebaran hewan pantai. Secara klimatologi, karakteristik pesisir ditentukan berdasarkan pengaruh angin laut. Secara hidrologi, karakteristik pesisir ditentukan seberapa jauh pengaruh pasang air laut yang masuk ke darat. Daerah kepesisiran adalah suatu jalur yang kering dan ruang lautan di sekitarnya yang pada jalur itu proses-proses daratan dan penggunaan lahan secara langsung mempengaruhi proses-proses dan pemanfaatan lautan, dan sebaliknya. Ciri pokok daerah kepesisiran : Mencakup komponen-komponen darat dan laut. Mempunyai batas darat dan laut yang ditentukan oleh tingkat pengaruh darat pada laut dan pengaruh laut pada darat. Memiliki lebar, kedalaman dan ketinggian yang tidak selalu seragam. Batas ke arah laut bagi daerah kepesisiran adalah pada lokasi awal pertama kali gelombang pecah terjadi ketika surut terendah. Daerah kepesisiran mencakup pesisir, pantai dan perairan laut dekat pantai. Secara skematis pantai, pesisir dan daerah kepesisiran nampak pada gambar berikut : Gambar Penampang melintang daerah kepesisiran (Snead, 1982 dalam Sunarto, 2002) Beting pantai. Pola dari beting pantai adalah sejajar dengan pantai dan betingnya menunjukan lebar yang bervariasi. Material pada lokasi ini terdiri dari pasir, tetapi dengan tekstur yang lebih halus dibandingkan dengan beting dekat pantai, karena kuatnya pelapukan. Gumuk pasir (sand dunes) adalah bentuk lahan asal proses aktivitas angin (aeolin depositional landform), lahan ini terbentuk jika ada material klastik dan lepas-lepas seperti pasir dan tenaga angin yang memindahkan material tersebut. Proses ini juga dikenal dengan deflation processes (Zuidam, 1986). Pasir hitam terendapkan di muka muara sungai dan oleh kombinasi ombak yang kuat dari selatan dan arus laut terpapar di sepanjang pantai dan membentuk gisik tepi laut, suatu gisik tepi laut terdiri dari beberapa sub zone. Daerah yang dinamakan backshore dapat terendam pada waktu pasang laut yang tinggi dan ombak besar. Apabila angin cukup kuat, pasir dari backshore akan terbawa secara saltasi (meloncat), yaitu butir-butir pasir yang berganti-ganti terbang dan jatuh ke arah darat. Penghalang kecil seperti vegetasi sudah dapat memaksakan pengendapan butir pasir di tepi yang teduh terhadap kekuatan angin. Dengan proses ini suatu gumuk pasir kecil akan terbentuk dan menyebabkan pengendapan butir pasir di bagian teduh dari angin (side of the sand leap). Menurut Zuidam (1986) karakteristik gumuk pasir adalah sebagai berikut : relief morfologi pendek, permukaan dengan lereng curam dan topografi irreguler, terjadi pengangkutan pasir oleh angin, material utama berupa pasir, tanah belum terbentuk secara nyata, air permukaan sedikit atau cenderung tidak ada, air tanah mungkin ada, drainase sangat baik, vegetasi atau penggunaan lahan pada dasarnya tidak ada, tapi di kaki gumuk yang tinggi beberapa vegetasi dimungkinkan ada. Deflasi pasir merupakan proses geomorlogis utama di daerah gumuk pasir yang memiliki angin yang bertiup dengan kuat. Deflasi adalah perpindahan material pasir atau debu karena aktifitas angin. Pada dasarnya deflasi melibatkan beberapa aspek yang berupa angin yang bertiup di permukaan medan, material permukaan medan dan kondisi permukaan medan. Kemampuan angin untuk mengangkut partikel pada tahap awal adalah angin yang bersifat turbulen. Parameter angin yang mempengaruhi deflasi adalah kepadatan, kecepatan dan arah angin bertiup. Ekosistem pantai letaknya berbatasan dengan ekosistem darat, laut, dan daerah pasang surut. Ekosistem pantai dipengaruhi oleh siklus harian pasang surut laut. Organisme yang hidup di pantai memiliki adaptasi struktural sehingga dapat melekat erat di substrat keras. Daerah paling atas pantai hanya terendam saat pasang naik tinggi. Daerah ini dihuni oleh beberapa jenis ganggang, moluska, dan remis yang menjadi konsumsi bagi kepiting dan burung pantai. Daerah tengah pantai terendam saat pasang tinggi dan pasang rendah. Daerah ini dihuni oleh ganggang, porifera, anemon laut, remis dan kerang, siput herbivora dan karnivora, kepiting, landak laut, bintang laut, dan ikan-ikan kecil. Daerah pantai terdalam terendam saat air pasang maupun surut. Daerah ini dihuni oleh beragam invertebrata dan ikan serta rumput laut. Komunitas tumbuhan berturut-turut dari daerah pasang surut ke arah darat dibedakan sebagai berikut : 1. Formasi pres caprae Dinamakan demikian karena yang paling banyak tumbuh di gundukan pasir adalah tumbuhan Ipomoea pes caprae yang tahan terhadap hempasan gelombang dan angin; tumbuhan ini menjalar dan berdaun tebal. Tumbuhan lainnya adalah Spinifex littorius (rumput angin), Vigna, Euphorbia atoto, dan Canaualia martina. Lebih ke arah darat lagi ditumbuhi Crinum asiaticum (bakung), Pandanus tectorius (pandan), dan Scaeuola Fruescens (babakoan). 2. Formasi Baringtonia Daerah ini didominasi tumbuhan baringtonia, termasuk di dalamnya Wedelia, Thespesia, Terminalia, Guettarda, dan Erythrina. Bila tanah di daerah pasang surut berlumpur, maka kawasan ini berupa hutan bakau yang memiliki akar napas. Akar napas merupakan adaptasi tumbuhan di daerah berlumpur yang kurang oksigen. Selain berfungsi untuk mengambil oksigen, akar ini juga dapat digunakan sebagai penahan dari pasang surut gelombang. Yang termasuk tumbuhan di hutan bakau antara lain Nypa, Acathus, Rhizophora, dan Cerbera. Jika tanah pasang surut tidak terlalu basah, pohon yang sering tumbuh adalah: Heriticra, Lumnitzera, Acgicras, dan Cylocarpus. Secara ekologis wilayah pesisir adalah suatu wilayah peralihan antara ekosistem darat dan laut, dimana batas ke arah daratan mencakup daerah-daerah yang tergenang air dan maupun tidak tergenang air yang masih dipengaruhi oleh proses-proses laut, seperti : pasang surut, percikan gelombang, angin laut dan interusi garam, sedangkan batas ke laut adalah daerah - daerah yang dipengaruhi oleh proses-proses alamiah dan kegiatan manusia di daratan seperti : aliran air tawar (river run off and surface run off), sedimentasi, pencemaran dan lainnya (Clark 1996, Dahuri et al, 1996). 2. Jenis-jenis Ekosistem Pesisir Pantai a) Pantai berlumpur Jika pantai berlumpur dilihat dengan menggunakan foto udara kawasan delta di pantai Utara Jawa Tengah. Kenampakan yang didapatkan meliputi rataan lumpur, dataran delta, tanggul fluvio deltaik. Rataan lumpur ada di sepanjang aliran muara, dataran delta muncul pada ujung-ujung muara yang menghambat aliran air sungai sehingga muara-muaranya membentuk percabangan baru. Disamping kenampakan tersebut terdapat tanggul fluvio deltaik dengan kenampakan yang lebih cerah tapi kadang telah ditumbuhi vegetasi sehingga tidak begitu tampak nyata. Tidak dapat diidentifikasi rataan pasutnya, karena foto yang ada merupakan waktu yang bersamaan. Delta yang terbentuk memanjang, menandakan bahwa energi darat lebih kuat dari pada energi gelombang maupun pasut. Arti penting delta diantaranya adalah merupakan gerbang perpindahan species aquatik, terutama dalam menjalani siklus reproduksi. Merupakan tempat berlindung, bertelur dan membesarkan anak. Merupakan area yang kaya nutrisi, banyak jenis tumbuhan marin dan pantai. Daerah estuarinya memiliki produktivitas yang tinggi dalam menunjang perikanan. Merupakan daerah yang kaya mineral dan minyak. Pantai berlumpur banyak terbentuk pada kawasan yang landai dan sering berasosiasi dengan ekosistem mangrove dan lamun. Kadang sulit dibedakan antara pantai berlumpur dengan pantai berpasir landai, karena pantai berpasir landai cenderung tersusun oleh pasir halus yang dapat bercampur lumpur. b) Pantai berpasir : Pada foto udara dari arah laut tampak warna hitam disusul segaris warna putih yang merupakan kenampakan ombak pecah dan disusul dengan kenampakan abu-abu yang merupakan pasir basah. Semakin ke atas kenampakan bergradasi menjadi warna abu-abu cerah. terdiri dari bura, gisik, beting gisik, swalle. Bura terdapat langsung di sekitar batas warna putih (hempasan ombak), disusul gisik dengan kenampakan abu-abu cerah, merupakan area terbuka dengan arah memanjang berbatasan dengan beting gisik. Gisik berbatasan dengan beting gisik dan swalle yang tersusun di jalur berikutnya ke arah darat, dengan kenampakan abu-abu cerah hingga keputih-putihan. Pada jalur berikutnya kadang terbentuk gumuk-gumuk pasir yang merupakan hasil aktifitas marin-aeolin. Kenampakan abu-abu cerah, tapi tidak selalu demikian karena kadang telah ditumbuhi vegetasi. Sebagian besar pantai di wilayah tropis adalah pantai berpasir. Pantai berpasir secara ekologis penting sebagai habitat dari berbagai macam organisme, termasuk kepiting dan burung, dan pada beberapa lokasi berfungsi sebagai tempat bertelur bagi penyu. Pantai berpasir dapat memiliki nilai ekonomi yang tinggi, karena banyak dari pantai ini merupakan kawasan rekreasi yang penting. Pantai berpasir juga banyak digunakan oleh perahu-perahu ikan dan berbagai aktivitas perikanan sebagai landasan (base) atau lokasi kegiatan. Minyak umumnya akan terakumulasi pada permukaan sedimen di kawasan antara-pasang-surut (intertidal), dan dapat menimbulkan dampak pada organisme –organisme termasuk burung-burung dan penyu yang mendarat di pantai. Minyak juga dapat masuk kedalam lapisan bawah permukaan, tingkat penetrasi ini dipengaruhi oleh ukuran butir sedimen, tingkat penterasi air, kekentalan minyak, dan keberadaan lubang jejak-jejak jalan kepiting atau cacing. Penetrasi minyak kedalam pasir kuarsa lebih besar dibanding pasir halus, sementara kemungkinan penetrasi minyak kedalam sedimen yang memiliki lubang jalan air lebih kecil dibanding sedimen yang kering. Minyak ringan dapat melakukan penetrasi dengan mudah, sedang minyak yang kental cenderung tetap berada pada permukaan. Minyak yang masuk kedalam lubang jejak-jejak jalan kepiting atau cacing dapat mengakibatkan dampak kematian pada kepiting atau cacing yang hidup dalam lubang-lubang tersebut. Minyak yang tetap berada pada atau sekitar permukaan pasir dan minyak yang terkena aksi gelombang yang besar tidak akan tinggal pada pantai berpasir dalam jangka waktu lama, namun minyak yang berada di lapisan bawah pemrukaan dapat tetap tinggal hingga beberapa tahun, kecuali dibersihkan secara mekanis. Sedimen minyak yang terangkat dari permukaan pantai berpasir oleh aksi gelombang dapat terbawa dan terendapkan pada kawasan yang lebih kearah lepas pantai, dimana minyak dapat memberi dampak pada organisme di dasar perairan. Kandungan minyak hidrokarbon pada daging kerang telah terdeteksi dari beberapa kasus tumpahan minyak, khususnya pada kawasan teluk yang landai. Dampak ini cenderung tidak terjadi pada pantai yang terbuka, dimana sedimen terkontaminasi minyak dapat tersebar dan terendapkan dalam lingkungan kawasan yang lebih luas. Karakteristik pantai berpasir 1. Kebanyakan terdiri dari kwarsa dan feldspar, bagian yang paling banyak dan paling keras sisasisa pelapukan batu di gunung. 2. Dibatasi hanya di daerah dimana gerakan air yang kuat mengangkut partikel-partikel yang halus dan ringan. 3. Total bahan organik dan organisme hidup di pantai yang berpasir jauh lebih sedikit dibandingkan dengan jenis pantai lainnya. 4. Pantai berpasir didominasi oleh 3 kelas invertebrate : - Cacing Polikaeta - Moluska Bivalvia - Rustasea Fungsi pantai berpasir 1. Tempat beberapa biota meletakkan telurnya 2. Tidak dapat menahan air dengan baik karena sedimennya yang kasar akibatnya lapisan permukannya menjadi kering sampai sedalam beberapa cm di bagian atas pantai yang terbuka terhadap matahari pada saat pasang surut. Parameter Lingkungan 1. Pola arus yang akan mengankut pasir yang halus 2. Gelombang yang akan melepaskan energinya di pantai 3. Angin yang juga merupakan pengangkut pasir. c) Pantai berbatu Pantai berbatu adalah pantai dengan tebing cliff, sehingga karena adanya tenaga gelombang sebagian tebing tersebut runtuh dan terbawa kembali ke arah pantai sehingga membentuk pantai dengan serpihan batu karang. Pantai berbatu dapat tersusun dan batuan keras atau kumpulan batu besar atau kerikil. Pantai berbatu di huni oleh banyak spesies alga dan binatang tak bertulang belakang (invertebrata). Binatang invertebrata ini menghasilkan sejumlah besar telur dan larva yang masuk kedalam perairan dekat pantai, yang selanjutnya merupakan bagian dari sumber makanan bagi ikan-ikan hias. Kotoran-kotoran dari alga juga masuk kedalam rantai makanan dari sistem perairan dekat pantai. Ikan-ikan dapat mencari makan secara langsung pada pantai berbatu saat air pasang, sementara burung laut mencari makan pada pantai berbatu saat air surut. Pantai berbatu yang relatif jauh ke arah laut dapat merupakan lokasi tempat bertelur yang penting bagi burung laut. Beberapa spesies pada pantai berbatu (seperti mussels dan rocky oyster), merupakan sumber makanan bagi masyarakat pesisir. Banyak pantai berbatu di wilayah tropis terdiri atas karang atau jenis batuan gamping lainnya yang memiliki lubang-lubang dan celah-celah yang dalam. Minyak cenderung memiliki waktu tinggal yang relatif lama pada pantai berbatu dengan kondisi tersebut, dan hal ini akan menyulitkan operasi pembersihan. 3) Makhluk Hidup Penghuni Ekosistem Pantai Adapun makhluk yang hidup pada Ekosistem pantai terbagi menurut pasang surut air laut yaitu : a. Pada daerah paling atas pantai hanya terendam saat pasang naik tinggi. Daerah ini dihuni oleh beberapa jenis ganggang, moluska, dan remis yang menjadi konsumsi bagi kepiting dan burung pantai. b. Pada daerah tengah pantai terendam saat pasang tinggi dan pasang rendah. Daerah ini dihuni oleh ganggang, porifera, anemon laut, remis dan kerang, siput herbivora dan karnivora, kepiting, landak laut, bintang laut, dan ikan-ikan kecil. c. pada daerah pantai terdalam terendam saat air pasang maupun surut. Daerah ini dihuni oleh beragam invertebrata dan ikan serta rumput laut. d. Pantai juga memiliki ekosistem – ekosistem yang spesifik dan khas, seperti terumbu karang, padang lamun dan hutan mangrove. 4) Manfaat Ekosistem Pantai Ekosistem pantai memilik manfaat bagi kehidupan manusia yaitu : a. Sebagai penyedia sumberdaya alam seperti mangrove, terumbu karang, padang lamun, perikanan serta diversitas flora & fauna (wildlife) b. Penerima limbah ; - Limbah industri/pabrik ; timah, merkuri, tembaga, kadmilan - Limbah pertambangan ; minyak, batu bara, merkuri yang merupakan batu bara hitam yang dapat mencemari lingkungan perairan. - Limbah pemukiman penduduk - Limbah Pertanian - Limbah perikanan c. Penyedia jasa-jasa pendukung kehidupan manusia (life support services) d. Penyedia jasa-jasa kenyamanan (amenity services). Yang menyediakan beranekaragam ruang yang segar, nyaman dan murah untuk melakukan kegiatan seperti : 1) Olah raga pantai, yang meliputi : bola volley pantai, selancar (surfing), motor boating sport, parasailing & layang gantung by boat dan sebagainya. 2) Melakukan kegiatan budidaya laut (marine culture) seperti : budidaya rumput laut (Eucheuma cottonii, E, spinosum dan Gracilaria lechinoides), kerang (Cassostrea sp, Pinctada maxima & Tridacna gigas) sebagai penghasil mutiara, karang-karang hias (artificial reef transplantasi), ikan kerapu bebek (Cromileptes altivelis), kakap merah (Lutjanus johni), bandeng (Chanos chanos), udang windu (Penaeus monodon & P, merguensis), kuda laut (Hippocampus spp) dan sebagainya. 3) Menyediakan ruang dengan kualitas yang baik, segar dan murah untuk mandi & berenang 4) Wilayah pesisir mempunyai nilai dalam menunjang kehidupan umat manusia dalam kehidupan keagamaan (religius). Manfaat lainnya yaitu sebagai tempat beberapa biota meletakkan telurnya 5) Dampak Negatif dari Kegiatan Manusia pada Kelestarian Ekosistem Pantai Sampah merupakan salah satu bahan utama yang terkandung dalam buangan limbah domestic. Menurut jenisnya sampah dapat dibedakan menjadi 3 (tiga) yaitu: 1. Sampah organik, yaitu sampah yang terdiri dari bahan – bahan yang bisa terurai secara alami/biologis, seperti sisa – sisa makanan, kulit buah atau sayuran. 2. Sampah nonorganik, yaitu sampah yang terdiri dari bahan – bahan yang sulit terurai secara alamiah/biologis sehingga penghancurannya membutuhkan penanganan lebih lanjut, seperti plastic dan sterofoam 3. Sampah B3 (bahan berbahaya dan beracun), yaitu sampah yang terdiri dari bahan – bahan berbahaya dan beracun, seperti sisa bahan kimia yang mudah meledak, mudah bereaksi terhadap oksigen, korosit atau menimbulkan karat dan beracun. 4. Dampak buruk buangan sampah ke laut ini sepertinya lebih terletak pada masalah keindahan, akan tetapi sebenarnya, sampah ini pun mempunyai pengaruh besar terhadap kehidupan laut. Sampah – sampah tersebut mengapung di lautan dan akhirnya terdampar di pantai. Bahan yang lebih berat akan tenggelam ke dasar laut dan berpengaruh terhadap komunitas bentos. Makhluk hidup laut juga terganggu oleh sampah – sampah yang tenggelam. 5. Banyak kawasan pesisir yang sudah mulai tercemar, terutama dipenuhi oleh sampah – sampah. Hal ini jelas sangat merugikan secara ekonomi, karena disamping penggunaan kawasan pesisir dan laut sebagai area pariwisata dan rekreasi, namun kerugian juga menimpa nelayan yang hasil tangkapannya berkurang. Selain itu, yang paling utama, dampakanya terhadap lingkungan dan kesehatan manusia yang sering dilupakan. 6. Sampah – sampah yang banyak terapung di laut dapat terbawa ke tepi oleh ombak maupun arus laut. Kemudian pada saat surut, sampah – sampah tersebut akan tertinggal di antara biota – biota daerah terumbu karang, ataupun tertimbun pasir pantai. Timbunan sampah – sampah ini kadang dihanyutkan kembali aleh ombak dan arus laut, sehingga pantai ataupun biota yang tertempel dapat bersih kembali. Tetapi terkadang ketika penghanyutan kembali, sampah – sampah tersebut tidak terbawa semua, bahkan kadang bertambah banyak sehingga akhirnya terjadi kebusukan di 7. a. b. c. d. e. f. g. h. i. j. 1. 2. 3. 4. lokasi tersebut. Hal ini ditinjau dari segi estetika maupun efek biologisnya jelas sangat merugikan. Dalam usaha perikanan selain menghasilkan nilai ekonomis yang tinggi, tetapi juga ikut berperan dalam menghasilkan limbah. Limbah yang dominan dari usaha perikanan adalah limbah dan pencemaran yang berupa limbah cair yang membususk sehingga menghasilkan bau amis/busuk yang sangat mengganggu estetika lingkungan. Limbah yang dihasilkan dari industri pengolahan hasil perikanan umumnya dapat digolongkan menjadi : Limbah padat : basah dan kering Limbah cair Limbah sampingan Limbah padat basah yaitu berupa potongan – potongan ikan yang tidak dimanfaatkan. Limbah ini berasal dari proses pembersihan ikan sekaligus mengeluarkan isis perutnya yang berupa jerohan dan gumpalan – gumpalan darah. Selain itu limbah ini juga berasal dari proses cleaning, yaitu membuang kepala, ekor, kulit dan bagian tubuh ikan yang lain, seperti sisik dan insang. Limbah padat kering berupa sisa/potongan karton kemasan, plastic, kertas, kaleng, tali pengemas, label kemasan dan potongan sterofoam dan sebagainya. Kondisi limbah ini dapat dalam keadaan bersih (belum terkontaminasi oleh bahan lain) maupun sudah terkontaminasi bahan lain seperti ikan/udang, bahan pencuci produk, darah dan lendir ikan. Adanya limbah tersebut menimbulkan masalah yang serius terhadap lingkungan bila tidak dikelola dengan baik. Permasalah yang mungkin timbul adanya bau amis yang disertai bau bususk karena proses pembusukannya sehingga mengundang datangnya berbagai vector penyakit diantaranya adalah lalat dan tikus. Limbah cair berupa sisa cucian ikan/udang, darah dan lender ikan, yang banyak mengandung minyak ikan sehingga menimbulakan bau amis yang menyengat. Limbah cair juga berasal dari sanitasi dan toilet pada lokasi usaha tersebut. Limbah sampingan berupa jenis – jenis ikan hasil tangkapan yang tidak/kurang ekonomis untuk diolah lanjut sehingga kemudian dibuang ke laut tanpa melaui IPAL (instalasi pengolahan air limbah). Biasanya ini biasa dilakukan oleh pengolahan tradisional yang dilaksanakan dirumah – rumah yang berlokasi di pinggir pantai, ataupun di atas permukaan air laut. Dan juga limbah dari tumpahan minyak, yang disengaja maupun tidak merupakan sumber pencemaran yang sangat membahayakan. Tumpahan minyak kelaut berasal dari kapal tenker yang mengalami tabrakan atau kandas atau berasal dari proses yang disengaja seperti pencucian tangki balas, transfer minyak antarkapal maupun kelalaian awak kapal. Komponen minyak yang tidak larut didalam air akan mengapung pada permukaan air laut sehingga menyebabkan air laut berwarna hitam. Beberapa komponen akan tenggelam dan terakumulasi didalam sedimen sebagai deposit hitam pada pasir dan batuan – batuan di pantai. Pencemaran dari tumpahan minyak ini menimbulkan pengaruh yang luas terhadap hewan dan tumbu – tumbuhan yang hidup di perairan, dimana menghancurkan hewan dan tumbuh – tumbuhan yang hidup di batu – batuan dan pasir di wilayah pantai, juga termasuk area mangrove. Kejadian minyak tumpah dapat merusak lingkunagndalam beberapa aspek, diantaranya : Pertukaran gas dan oksigen dari laut ke atmosfer akan terhambat dengan adanya lapisan minyak di permukaan air laut Kematian terumbu karang akibat minyak yang menempel pada permukaan Lapisan licin dari minyak akan mempengaruhi burung laut dan binatang laut lainnya bahkan sering mematikan Akumulasitar di pantai sangat terganggu dan merusak potensi turisme dan daerah pantai. 6) Penanggulangan Pencemaran pada Ekosistem Pantai Tidak semua efek dari pembuangan sampah ke laut buruk. Pada kasus pembuangan sampah berupa kerangka mobil bekas, ban roda atau bahan karung dapat turun kedasar laut dan menjadi habitat buatan untuk organisme laut. Binatang – binatang laut dapat tinggal didalam atapun berada didekat struktur. Keberadaan habitat buatan ini dapat mempengaruhi perubahan lokal pada habitat dan distribusi ikan disekitar lokasi tersebut. Untuk itu diperlukan kegiatan memilah – memilah sampah, organik dan anorganik atau sampah yang masih bisa dimanfaatkan kembali. Mendorong masyarakat untuk berperan serta dalam pengendalian pencemaran laut dapat dilakukan melalui penerapan 4R : reduce, reuse, recycle, dan replant dalam upaya mengurangi terjadinya pencemaran laut. Selain itu, penerapan tersebut dapat juga digunakan sebagai sumber alternatif pendapatan keluarga bagi masyarakat pesisir, seperti pengolahan sampah menjadi kertas daur ulang atau pupuk kompos, sedangkan limbah atau sisa pemanfaatan ikan dapat diolah menjadi makan ikan, pembuatan kerupuk, terasi atau produk makanan lainnya. Upaya penanggulangan pencemaran laut akibat sampah dapat juga dilakukan dengan Gerakan Bersih Pantai dan Laut. Pembersihan sampah dilakukan pada wilayah/ daerah aliran sungai, muara, pantai dan laut, serta pemukiman masyarakat pesisir dan kemudian memisahkannya menjadi sampah organik dan non organik. Hal ini dilakukan secara periodik dengan mengerahkan komponen masa, dari kelompok anak – anak sekolah dasar hingga mahasiswa, organisasi pemuda, nelayan, pembudidaya ikan, masyarakat umum, serta segenap organisasi – organisasi dan partai akan cukup efektif sebagai media informasi, disamping tindakan nyata yang dilakukan, kepada masyarakat akan pentingnya lingkungan yang bersih dan sehat, termasuk juga lingkungan pesisir dan laut. Bentuk kampaye dan penyebarluasan informasi mengenai pencemaran pesisir dan laut harus selalu digalakan terhadap seluruh masyarakat, berikut berbagai aspek yang terkait dengan bahayanya, seperti dengan mengurangi limbah plastik, mengurangi limbah B3, menggunakan bahan ramah lingkungan, menjaga kebersihan pantai dan laut terutama dari sampah non organik agar mengurangi beban nelayan karena dirugikan oleh adanya limbah terutama sampah. Sedangkan pembersihan pantai akibat limbah dari tumpahan minyak, dimana pantai merupakan wilayah yang berhubungan langsung dengan manusia, sehingga pembersihan tumpahan minyak menjadi suatu keharusan yang dituntut oleh banyak pihak. Secara umum ada tiga metode yang dapat dipakai untuk membersihkan minyak yaitu : 1. Pembersihan secara fisik, dengan cara menyapu/mengangkut material pantai yang terkena minyak. Ini dapat dilakukan dengan menggunakan alat grader, buldoser, front loader atau jika skalanya kecil dapat dengan menggunakan sekop dan keranjang. Penggunaan alat berat kadang menyebabkan sejumlah bessar pasir terangkut. Untuk daerah pantai berbatu pembersihannya lebih suoit dilakukan karena tumpahan minyak dapat masuk kesela – sela batu dan teresap sampai ke dalam pori – pori batu. Sehingga untuk kasus – kasus tertentu, dibiarkan saja merupakan langkah yang baik. Pembersihan minyak yang ada pada batu dapat menggunakan alat high pressure water jets atau dengan steam. Cara ini memang menghilangkan minyak tetapi berpengaruh juga pada organisme yang hidup di batu. Penggunaan absorben juga telah di gunakan dengan menyebarkan absorben ke lokasi tumpahan minyak untuk menghalangi penyebaran minyak lebih luas dan kerusakan lebih lanjut. Namun langkah ini tidak begitu berhasil, karena hanya menyerap minyak seberat absorben itu sendiri sehingga memerlukan jumlah absorben yang besar. 2. Dispersan, ada dua fungsi penggunaan dispersan, yaitu dispersan dengan konsentrasi rendah digunakan untuk mencegah minyak masuk ke dalam pantai (disebarkan pasang surut) dan digunakan untuk pembersihan tumpahan minyak. Namun penggunaan dispersan malah menyebabkan kerusakan lain, yaitu dispersan terlalu masuk kedalam material pasir daripada tersebar ke arah laut. Ditambah sifak toksisitas dari dispersan sendiri membawa pengaruh buruk terhadap ekosistem sekitar. 3. Pembakaran dan Pemotongan, pembakaran merupakan pilihan yang memungkinkan dalam upaya membersihkan tumpahan minyak di pantai. Tetapi pembakaran di pantai yang dekat dengan populasi manusia dan organisme lain akan membawa dampak yang lebih basar. Pemotongan tumbuhan yang tekena minyak bisa dilakukan untuk mengurangi pengaruhnya pada perkembangan tumbuhan. Tetapi hal ini juga tidak dapat dilakukan secara besar – besaran, karena akan dapat merusak ekosistem secara keseluruhan. Pembuangan Material akibat Tumpahan Minyak, pembersihan tumpahan minyak tidaklah cukup tapi juga harus dilakukan pembuangan material yang terkena tumpahan minyak, misalnya rumput laut, tumbuhan, hewan, pasir, lumpur dan sampah lainnya. Jika sampah dan material yang terkena minyak tersebut ditimbun di suatu tempat, maka dikhawatirkan akan mencemari tanah. Namun biasanya sampah ini digunakan sebagai land fill, dengan catatan perlu diperhatikan juga saluran drainase untuk leachetenya, sehingga tidak mencemari tanah. Metode lain adalah, membiarkannya pada tempat terbuka sampai beberapa minggu. Kemudian akan oksigen. Kelembapan. Dan nutrien yang cukup akan menyebabkan minyak terbiodegradasi. Solusi secara garis besar, haruslah dimulai dari pemerintah, walaupun yang mencemari lingkugan adalah rakyat bukan pemerintah. Pemerintah bekerjasama dengan pengusaha, karena dengan adanya pabrik – pabrik dapat mendukung anggaran pembelanjaan daerah yang salah satunya merupakan hal yang harus dipenuhi. Sehingga, pemerintah seharusnya mengambil jalan tengah yang bijaksana jika pemerintah mewajibkan tiap – tiap pabrik harus mempunyai filter atau penyaring terhadap limbah yang dihasilkannya, yang sekarang lazim di sebut IPAL (Instalasi Pengelolaan Air Limbah). Sehingga air limbah yang tercemar itu tidak langsung menuju ke air yang merupakan sumber kehidupan bagi makhluk hidup yang ada di sekitarnya termasuk manusia. BAB IV. PENUTUP A. Kesimpulan Estuaria adalah wilayah pesisir semi tertutup yang mempunyai hubungan bebas dengan laut terbuka dan menerima masukan air tawar dari daratan. Dengan kondisi lingkungan fisik yang bervariasi dan merupakan daerah peralihan antara darat dan laut, estuaria mempunyai pola pencampuran air laut dan air tawar yang tersendiri. Secara fisik dan biologis, estuaria merupakan ekosistem produktif karena: 1. Estuaria yang berperan sebagai jebak zat hara yang cepat di daur ulang; 2. Proses fotosintesis berlangsung sepanjang tahun; 3. Adanya fluktuasi permukaan air. Bagi organisme, agar dapat hidup

Judul: Makalah Estuary

Oleh: Fistiadin Madiara


Ikuti kami