Makalah Akhlak

Oleh Bahrum Siregar

130 KB 8 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Makalah Akhlak

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Membahas tentang akhlak, tidak pernah lepas dari perilaku manusia. Karena akhlak sudah ada sejak manusia itu di lahirkan. Mulai dari manusia yang pertama kali, yaitu Nabi Adam AS sampei sekarang ini. Baik buruknya akhlak seseorang akan terlihat dari bagaiman perilaku mereka. Tentunya akhlak seseorang akan mempengaruhi kedudukan mereka dalam masyarakat luas serta di hadapan Allah SAW. Karena akhlak sudah ada sejak manusia pertama kali, yaitu Nabi Adam AS. Tentu akhlak memiliki sejarah yang luar biasa. Pertumbuhan dan perkembangannya pun tentu sangat menarik untuk kita pelajari. Mulai dari hubungan akhlak dengan ilmu lain, akhlak periode arab samapai akhlak periode abad modern. Di mana memiliki pemikirpemikir yang berbeda setiap perkembangannya. B. Rumusan Masalah 1. Apa Pengertian Akhlak ? 2. Apa Saja Pembagian Akhlak? 3. Apa Saja Macam-Macam Akhlak ? C. Tujuan Penulisan 1. Untuk Mengetahui Pengertian Akhlak. 2. Untuk Mengetahui Pembagian Akhlak. 3. Untuk Mengetahui Macam-Macam Akhlak. 1 BAB II PEMBAHASAN A. Pengertian Akhlak Akhlak berasal dari bahasa Arab, bentuk jamak dari khuluqun yang berarti budi pekerti, sopan santun, atau tata krama. Sedangkan menurut istilah akhlak adalah sifat yang tertanam didalam diri kita yang mendorong untuk melakukan perbuatan dengan mudah tanpa perlu berfikir dan pertimbangan terlebih dahulu.1 B. Pembagian Akhlak 1. Akhlak Falsafi atau akhlak teoritik yaitu akhlak yang menggali kandungan al-qur’an dan As-sunnah secara mendalam,rasional untuk dirumuskan sebagai teori dalam bertindak. 2. Akhlak Amali atau akhlak praktis yaitu dalam arti yang sebenarnya, berupa perbuatan, sedikit bicara dan banyak bekerja. 3. Akhlak fardhi atau akhlak individu, yaitu perbuatan seseorang manusia yang tidak terkait dengan orang lain. 4. Akhlak Ijtima’i atau akhlak jamaah, yaitu tindakan yang disepakati secara bersama-sama,misalnya akhlak organisasi, akhlak partai politik, akhlak masyarakat yang normatif, dan akhlak yang merujuk pada adat kebiasaan. C. Macam – Macam Akhlak Berdasarkan sifatnya, akhlak dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu akhlak terpuji (akhlak mahmudah) dan akhlak tercela (akhlak madzmumah). Adapun penjelasan dan macam-macam akhlak terpuji dan akhlak tercela adalah sebagai berikut: 1 H. A. Mustofa, Akhlak Tasawuf, (Bandung : Pustaka Setia,1997), hlm. 11-12. 2 a. Akhlak Terpuji (akhlak mahmudah) Akhlak terpuji merupakan terjemahan dari ungkapan bahasa Arab, akhlaq mahmudah. Mahmudah merupakan bentuk maf’ul dari kata hamida yang berarti “dipuji”. Akhlak terpuji disebut pula dengan akhlak karimah (akhlak mulia), atau makarim al-akhlaq (akhlaq mulia), atau akhlaq almunjiyat (akhlak yang menyelamatkan pelakunya).2 1. Akhlak Terhadap Allah SWT 1) Menauhidkan Allah SWT Yaitu pengakuan bahwa Allah SWT satu-satunya yang memiliki sifat rubbubiyah (Allallah yang mencipta, memiliki, mengatur, memberi, mengkehendaki dll) dan uluhiyyah (mengimani Allah SWT sebagai satusatunya yang disembah), serta kesempurnaan nama dan sifat-Nya. 2) Berbaik Sangka (Husnu zhann) Berbaik sangka terhadap keputusan Allah SWT merupakan salah satu akhlak terpuji kepada-Nya. Di antara cirri akhlak terpuji ini adalah ketaatan yang sungguh-sungguh kepadanya. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW : “Janganlah salah seorang diantara kalian meninggal, melainkan dia berbaik sangkaterhadap Rabbnya.” (HR. Muslim) 3) Zikrullah Mengingat Allah (Zikrullah) adalah asas dari setiap ibadah kepada Allah SWT. karena pertanda hubungan antara hamba dan pencipta pada sitiap saat dan tempat. 4) Tawakal Hakikat tawakal adalah menyerahkan segala urusan kepada Allah SWT. membersihkannya dari ikhtiar yang keliru, dan tetap menapaki kawasan-kawasan hokum dan ketentuan. Tawakal merupakan gambaran keteguhan hati dalam menggantungkan diri hanya kepada Allah SWT. 2 Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf ,( Jakarta : Raja Grafindo Persada, 2010), hlm. 38. 3 2. Akhlak terhadap Diri Sendiri 1) Sabar Sabar adalah menahan diri dari dorongan hawa nafsu demi menggapai keridhoan Tuhannya dan menggantinya dengan bersungguhsungguh menjalani cobaan-cobaan Allah swt. terhadapnya. Sabar terbagi menjadi tiga, yakni sabar dari maksiat (bersabar diri untuk tidak melakukan hal yang dilarang agama), sabar karena taat kepada Allah swt (sabar untuk tetap melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangannya) dan sabar karena musibah yakni ketika ditimpa kemalangan, ujian serta cobaan dari Allah.3 2) Syukur Syukur merupakan sikap seseorang untuk tidak menggunakan nikmat yang diberikan oleh Allah swt dalam melakukan maksiat kepada-Nya. Bentuk syukur terhadap nikmat Allah swt adalah dengan jalan mempergunakan nikmat tersebut dengan sebaik-baiknya. Apabila kita sudah mensyukuri nikmat yang telah diberikan oleh Allah SWT berarti kita telah berskukur kepada-Nya sebagai pencipta. Semakin banyak kita bersyukur, maka semakin banyak pula nikmmat yang akan kita terima. 3) Menunaikan Amanah Amanah secara bahasa adalah kesetiaan, ketulusan hati, kepercayaan atau kejujuran. Amanah adalah suatu sifat dan sikap pribadi yang setia, tulus hati dan jujur dalam melaksanakan sesuatu yang dipercayakan kepadanya, baik berupa harta benda, rahasia ataupun rugas kewajiban. 4) Benar dan Jujur Maksut akhlak terpuji ini adalah berlaku benar dan jujur, baik dalam perkataan maupun perbuatan. Benar dalam perkataan adalah mengatakan yang sebenarnya, tidak mengada-ada dan tidak pula menyembunyikan. Benar dalam perbuatan adalah mengerjakan sesuatu sesuai dengan perintah agama. 3 Asmaran, Pengantar Studi Akhlak ,(Jakarta : Raja Grafindo Persada, 1994), hlm. 61. 4 5) Menepati Janji Dalam Islam, janji merupakan utang dan utang harus di bayar. Firman Allah SWT dalam QS. Al-Isra’ : 34 “…Dan tepatilah janji karena janji itu pasti dimintai pertanggung jawabannya.” (QS. Al-Isra’ : 34) 6) Memelihara Kesucian Diri Yaitu menjaga diri dari segala tuduhan, fitnah dan memelihara kehormatan. Upaya memelihara kesucian diri hendaknya dilakukan setiap hari agar diri tetap berada dalam status kesucian. 3. Akhlak Terhadap Keluarga 1) Berbakti kepada Orang Tua Berbakti kepada orang tua merupakan factor utama diterimanya doa seorang anak, juga merupakan amal shalih yang paling utama yang dilakukan oleh seorang muslim. Salah satu keutamaan berbuat baik terhadap orang tua selain melaksanakan ketaatan atas perinta Allah SWT adalah menghapus dosa-dosa besar. 2) Bersikap baik kepada Saudara Agama Islam memerintahkan untuk berbuat baik kepada sanak saudara atau kaum kerabat sesudah menunaikan kewajiban kepada Allah SWT. dan Ibu Bapak.4 4. Akhlak terhadap Masyarakat 1) Berbuat Baik Terhadap Tetangga Tetangga adalah orang yang terdekat dengan kita. Rasullullah SAW bersabada: “Demi Allah, tidaklah beriman. Demi allah tidaklah beriman. Demi Allah tidaklah beriman”. kemudian beliau ditanya,’siapa wahai rasullullah:’. beliau menjawab “Orang yang tetangganya tidak aman dari kejelekannya (kejahatannya)” (HR. Bukhari dan Muslim). 4 Mustafa, Akhlak Tasawuf, (Bandung: CV Pustaka Setia, 1999), hlm. 81. 5 2) Suka Menolong Orang Lain Dalam hidup ini jarang sekali ada orang yang tidak memerlukan pertolongan orang lain. Ada kalanya karena sengsara dalam hidup, penderitaan batin atau kegelisahan jiwa, mendapat musibah dll. Oleh sebab itu, semua manusia baik kaya maupun miskin sangat memerlukan bantuan dari orang lain. Baik berupa material maupun immaterial. 5. Akhlak Terhadap Lingkungan Pada dasarnya, akhlak yang diajarkan Al-Qur’an terhadap lingkungan bersumber dari fungsi manusia sebagai khalifah. Kekhalifahan menuntut adanya interaksi manusia dengan sesamanya dan manusia terhadap alam. Kekhalifahan mengandung arti pengayoman, pemeliharaan, serta pembimbingan agar setiap makhluk mencapai tujuan penciptaannya. b. Akhlak Tercela (akhlaq madzmumah) 1. Al-Nani’ah Yaitu sifat egois, tidak memperhatikan kepentingan orang lain. Manusia sebagai makhluk pribadi dan sekaligus makhluk sosial. Oleh karenanya, dalam mengejar kepentingan pribadi, hendaknya memperhatikan kepentingan orang lain janganlah boros dan juga kikir, namun hendaknya berada di antaranya yaitu pemurah. 2. Al-Bukhlu Yaitu kikir. Orang yang kikir, tidak mau membelanjakan hartanya, baik untuk dirinya, misalnya biar makan tidak baik dan bergizi, padahal uang ada, baik untuk kepentingan keluarganya, maupun untuk kepentingan orang banyak, yang merupakan zakat, infak atau sadakah. Bagi orang yang kikir, mendengar istilah-istilah tersebut bagaikan petir di siang hari. Sifat kikir ini dapat mempersempit pergaulan, sering menuduh orang tama’ (ingin diberi). Kemudian orang yang kikir itu apabila hartanya telah berkumpul, ia merasa kaya dan tidak lagi memerlukan bantuan orang lain 6 yang juga lupa kepada pemberinya. Allah berfirman dalam surat al-Lail ayat 8-10 yang artinya, “Tetapi orang yang kikir dan merasa dirinya serba cukup, dan mendustakan yang baik, akan kami mudahkan baginya (jalan) kesukaran.” 3. Al-Butan Yaitu suka berdusta. Berdusta adalah mengada-adakan sesuatu baik dengan ucapan, tulisan, maupun dengan isyarat, padahal sebenarnya tidak ada, mungkin untuk kepentingan dirinya atau membela orang lain, atau sengaja untuk menjatuhkan nama orang lain, apalagi lempar batu sembunyi tangan. Firman Allah dalam surat al-Nisa ayat 112 yang artinya, “Siapa yang mengerjakan kesalahan atau dosa, kemudian dituduhkan kepada orang lain yang tidak bersalah, sesungguhnya dia memikul kebohongan dan dosa yang jelas.” 4. Khianat Yaitu tidak menempati janji. Khianat ini lawan dari amanat, apabila amanat dapat melapangkan rezeki, maka khianat akan dapat menimbulkan kefakiran. Sifat khianat ini seringkali tidak nampak, sehingga kadangkadang ada orang yang membela orang yang khianat karena ia tidak mengetahuinya. Allah berfirman dalam surat al-Nisa ayat 107 yang artinya, “Dan janganlah engkau membela orang-orang yang khianat kepada dirinya sendiri, sesungguhnya Tuhan tidak menyukai orang-orang yang khianat dan berdosa.” 5. Al-Jubn Yaitu pengecut. Orang pengecut penuh dengan rasa takut, yang menyebabkan dirinya menjadi hina, sebab sudah mundur sebelum dicoba, tidak berani berjalan untuk mendapatkan kemenangan. Ia selalu iri terhadap keuntungan atau hasil yang dicapai orang lain. Allah berfirman dalam surat al-Nisa ayat 72 dan 73 yang artinya, “Dan sesungguhnya di antara kamu ada orang yang lembek/pengecut kalau kamu ditimpa bahaya (dalam perjuangan), dia berkata, sesungguhnya Tuhan memberi karunia kepadaku karena aku tidak ikut beserta mereka. Dan kamu memperoleh 7 karunia dari Tuhan (atas perjuanganmu), mereka tentu mengatakan, sebagai tidak ada hubungan kasih sayang antara kamu dengan mereka, supaya aku turut mendapat kemenangan yang besar.” 6. Al-Gibah Yaitu menggunjing atau mengumpat. Menggunjing adalah mengatakan keadaan orang lain dibelakangnya dengan celaan kepada orang-orang yang ada dimukanya, dengan tujuan untuk menjatuhkan nama orang tersebut atau tujuan lain, meskipun memang sebenarnya keburukan itu ada pada orang yang digunjingnya. Bila tidak ada, hal itu merupakan fitnah. Firman Allah dalam surat al-Hujurat ayat 12 yang artinya, “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka, karena sebagian kecurigaan itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang, dan janganlah mempergunjingkan orang satu sama lain.”.5 7. Al-Hasad Yaitu dengki. Dengki atau hasud suatu perbuatan kerusakan terhadap orang lain, kemungkinan timbul disebabkan ni’mat Tuhan yang dianugerahkan kepada orang lain dengan keinginan agar ni’mat orang lain itu terhapus. Dengki juga karena benci dan dendam atas kegagalan usaha dirinya, kemudian membuat cara-cara yang tidak diridlai Allah Swt. Allah berfirman dalam surat al-Falak ayat 1-5 yang artinya, “Katakanlah. Aku berlindung kepada Tuhan subuh, terhadap bahaya makhluk yang diciptakan-Nya, dan dari kegelapan ketika ia telah datang, dan dari bahaya hembusan dalam ikatan, dan dari bahaya dengki ketika ia mendengki.” 8. Al-Ifsad Yaitu berbuat kerusakan. Seringkali sifat perusak mendorong manusia dalam usaha mencapai kepentingan pribadinya dengan tidak memperhatikan akibatnya, misalnya merusak lingkungan baik sendirisendiri, maupun bersama-sama dengan orang lain. Dalam surat Asyu’ara ayat 151-152 Allah berfirman yang artinya, “Dan janganlah kamu turuti perintah orang-orang yang melanggar batas. Yaitu orang-orang yang 5 Thaib, Risalah Akhlak, (Yogyakarta: CV Bina Usaha, 1984), hlm. 97. 8 membuat kerusakan (bencana) di muka bumi, dan tidak mengadakan perbaikan.”. 9. Al-Israf Yaitu berlebih-lebihan. Allah berfirman dalam surat al-A’raf ayat 31 yang artinya, “Hai anak-anak Adam, pakailah perhiasanmu setiap waktu shalat dan makan minumlah kamu, dan janganlah melampaui batas, sesungguhnya Tuhan tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” Masih banyak lagi akhlak tercela yang terdapat dalam al-Qur’an dan hadits, misalnya: al-bagyu, yaitu lacut; al-gadab, yaitu pemarah; al-gurur, yaitu memperdayakan; al-hikdu, yaitu dendam; al-intihar, yaitu menjerumuskan diri; al-namimah, yaitu mengadu domba; dan lain sebagainya. 9 BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Dari seluruh rangkaian pembahasan di atas dapat di simpulkan bahwa : 1. Akhlak adalah daya kekuatan (sifat) yang tertanam dalam jiwa dan mendorong perbuatan-perbuatan spontan tanpa memerlukan terlalu banyak pertimbangan dan pemikiran yang lama.Ruang lingkup akhlak pun dalam Islam meliputi semua aktifitas manusia dalam segala bidang hidup dan kehidupan. Dalam garis besarnya, akhlak dibagi atas akhlak terhadap Allah atau Khalik (pencipta), dan akhlak terhadap makhluk. 2. Akhlak adalah suatu sifat yang harus di jaga dan di pelihara, karena merupakan kunci sukses untuk hidup. Akhlak ialah bunga diri, indah di pandang mata, nikmat di rasa oleh hati dan memberi mamfaat. Intinya adalah mencapai keridhaan Allah SWT. 3. Akhlak adalah faktor terpenting dalam kehidupan manusia. Karena akhlak berkaiatan dengan perilaku manusia di dunia ini. Seorang akan berwarak pembangun atau perusak tergantung pada akhlaknya. Tegak atau hancurnya sebuah keluarga, bahkan masyarakat dalam sebuah bangsa, sangat di tentukan oleh akhlak mulia atau rusaknya akhlak. B. Saran Sebagai pembaca yang baik,kami berharap ada kritik dan saran dari hasil makalah yang kami buat. Mudah-mudahan bermanfaat bagi yang membacanya. walaupun makalah ini di buat dengan sederhana. Di dalam banyak mengandung perluasan makna dan arti. 10

Judul: Makalah Akhlak

Oleh: Bahrum Siregar


Ikuti kami