Tugas Ipi

Oleh Rikudo Afdhal

11 tayangan
Bagikan artikel

Transkrip Tugas Ipi

BAB II
PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN SISTEM
Kata sistem berasal dari bahasa Yunani yaitu systema yang berati “cara,
strategi”. Dalam bahasa Inggris system berarti “sistim, susunan, jaringan,
cara”. Sistem juga diartikan “sebagai suatu strategi, cara berpikir atau model
berfikir.
Definisi tradisional menyatakan

bahwa sistem adalah seperangkat

komponen atau unsur-unsur yang saling berinteraksi untuk mencapai suatu
tujuan. Misalnya mobil adalah suatu sistem, yang meliputi komponenkomponen seperti roda, rem, kemudi, rumah-rumah, mesin dan sebagainya.
Dalam artian yang luas, mobil sebenarnya adalah suatu subsistem atau
komponen dalam sistem transportasi, di samping alat-alat transportasi lainnya
seperti, sepeda, motor, pesawat terbang dan sebagainya. Dan dalam arti yang
lebih luas lagi transportasi adalah sub-sistem atau komponen dari sistem
kehidupan manusia di samping sub-sistem ekonomi.
Definisi modren juga tidak jauh berbeda dengan definisi tradisional seperti
dikemukakan oleh para pakar, Cuma agak lebih terinci.
Roger A Kanfman mendefinisikan sistem, yaitu suatu totalitas yang
tersusun dari bagian-bagian yang bekerja secara sendiri-sendiri (independent)
atau bekerja bersama-sama untuk mencapai hasil atau tujuan yang diingnkan
berdasar kebutuhan.
Mc Ashan mendefinisikan sistem sebagai strategi yang menyeluruh atau
rencana diskomposisi oleh satu set lemen, yang harmonis, mereprentasikan
kesatuan unit, masing-masing elemen, yang mempunyai tujuan tersendiri
yang semuanya berkaitan terurut dalam bentuk yang logis .

Immegart mendefinisikan esensi sistem dalam adalah suatu keseluruhan
yang memiliki bagian-bagian yang tersusun secara sistematis, bagian-bagian
itu terelasi antara satu dengan yang lain, serta perduli terhadap konteks
lingkungannya. Dari pendapat di atas jelaslah bahwa sistem itu memiliki
struktur yang teratur, yang saling terkait dan saling bekerjasama dalam
mencapai tujuan.

B. CIRI-CIRI SUATU SISTEM DAN KOMPONENNYA
Sesuatu teori sistem menurut Reja Mudyaharjo mempunyai ciri-ciri
sebagai berikut :
1) Keseluruhan adalah hal yang utama dan bagian-bagian adalah hal yang
kedua.
2) Integrasi adalah kondisi saling hubungan antara bagian-bagian dalam
satu sitem
3) Bagian-bagian membentuk sebuah keseluruhan yang tak dapat
dipisahkan.
4) Bagian-bagian memainkan peran mereka dalam kesatuannya untuk
mencapai tujuan dari keseluruhan.
5) Sifat bagian dan fungsinya dalam keseluruhan dan tingkah lakunya
diatur oleh keseluruhan terhadap hubungan-hubungan bagiannya.
6) Keseluruhan adalah sebuah sistem atau sebuah kompleks atau sebuah
konfigurasi dari energi dan berperilaku seperti sesuatu unsur tunggal
yang tiga kompleks.
7) Segala sesuatu haruslah dimulai dari keseluruhan sebagai suatu dasar,
dan bagian-bagian serta hubungan-hubungan; baru kemudian terjadi
secara berangsur-angsur.
Sedangkan J.W. Getzel dan E.G. Guba menyatakan bahwaw pada
umumnya sistem sosial mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :
1) Terdiri atas unsur-unsur yang saling berkaitan antara satu sama lain.
2) Berorientasi kepada tujuan yang di tetapkan

3) Didalamnya terdapat peraturan-peratuan dan tata tertib berbagai
kegiatan dan sebagainya.
Sebuah sistem terdiri atas beberapa sub-sistem, setiap sub-sistem
mungkin terdiri dari beberapa sub-sistem, selanjutnya setiap sub-sistem
mungkin terdiri dari beberapa sub-sub-sistem, begitu seterusnya sampai
bagian itu tidak dapat dibagi lagi yang disebut komponen. Setiap sub-sistem
itu dalam kemandiriannya merupakan satu sistem pula.
Bila diaplikasikan dalam sistem pendidikan maka komponenkomponennya pendidikan seperti yang dikemukakan para pakar sebagai
berikut:
1) Noeng Muhadjir membagi komponen sistem kepada tiga kategori
yaitu:
a. Bertolak dari lima unsur dasar pendidikan, meliputi: yang
memberi, yang menerima, tujuan, cara/jalan, dan konteks
posistif.
b. Bertolak dari empat komponen pokok pendidikan, yaitu
kurikulum, subjek didik, personifikasi pendidik, dan konteks
belajar mengajar.
c. Bertolak dari tiga fungsi pendidikan, yaitu pendidikan
kreativitas, pendidkan moralitas, dan pendidikan produktivitas.
2) Selanjutnya membagi sistem pendidikan tersebut atas empat unsur
yaitu:
a. Kegiatan pendidkan yang meliputi : pendidikan diri sendiri,
pendidikan

oleh lingkungan, pendidikan oleh seseoran

terhadap orang lain
b. Binaan pendidikan, mencakup: jasmani, akal dan qalbu.
c. Tempat penididikan, mencakup: rumah tangga, sekolah, dan
masyarakat
d. Komponen pendidikan, mencakup: dasar, tujuan, materi,
metode, media, evaluasi, administrasi biasa, dana dan
sebagainya.

C. PENDEKATAN SISTEM
Menurut Reja Mudyahardja, pendekatan sistem adalah cara-cara berpikir
dan bekerja yang menggunakan konsep-konsep teori sistem yang relavan
dalam memecahkan masalah.
Pada awalnya pendekatan sistem digunakan dalam bidang teknik, tetapi
pada akhir tahun 1950 dan awal tahun 1960-an, pendekatan sistem mulai
diaplikasikan dalam bidang pendidikan seperti merumuskan masalah, analisis
kebutuhan, analisis masalah, desain metode, dan materi instruksional
pelaksanaan secara eksperimental, menilai dan merivisi dan sebagainya.
Menurut Redja Mudyahardja, sistem tersebut ada yang tertutup da nada
yang terbuka.
1. Sistem Tertutup
Sistem

yang

struktur

organisasi,

bagian-bagiannya

tidak

mudah

menyesuaikan diri dengan lingkungannya, sekurang-kurangnya dalam jangka
waktu pendek. Struktur bagian-bagian tersusun secara tetap dan bentuk
operasinya berjalan otomatis.
2. Sistem Terbuka
Sistem yang struktur bagian-depannya erus menyesuaikan diri dengan
masukan dari lingkungan yang terus-menerus berubah-ubah, dalam usaha
dapat mencapai kapasitas optimalnya. Struktur bagian-bagian dalam sistem
dapat berubah karateristik dan posisinya.
Pendidikan Islam dalam satu sisi bias dikategorikan sebagai sistem
tertutup karena ada prinsip-prinsip dasar dalam sistem tersebut yang sudah
baku (tidak berubah dan tidak boleh diubah) yaitu al-Qur’an dan Hadis, tapi
dalam sisi lain sistem pendidikan Islam dikategorikan sebagai sistem terbuka
karena dalam perkembangannya selalu berkaitan erat dengan berbagai sistem

dalam kehidupan masyarakat, seperti sistem ekonomi, politik, sistem social
budaya dari masyarakat yang mempengaruhi sistem pendidikan Islam.
D. MODEL PERUMUSAN SISTEM PENDIDIKAN ISLAM
1. Model Idealistik
Model Idealistik adalah model yang lebih mengutamakan penggalian
sistem pendidikan Islam dari ajaran dasar Islam sendiri, yaitu al-Qur’an dan
Hadis yang mengandung prinsip-prinsip pokok berbagai aspek kehidupan,
termasuk aspek pendidikan.
Menurut Abd Mujib produser penyusunan model ini sebagai berikut:
1. Digali pemecahan persoalan kependidikan Islam berdasarkan nash
secara langsung. Prosedur ini biasanya menggunakan pendekatan
madhu’i (tematik), yaitu mengklasifikasi ayat atau hadist menurut
kategorinya lalu menyimpulkannya.
2. Digali dari hasil interpretasi nash para ahli filosof Islam, seperti
konsep jiwa manusia menurut al-Farabi, al-Kindi, Ibn Sina, Ibn
Maskawaih, Ibn Thufail dan sebagainya.
3. Digali dari hasil interpretasi para Suft muslim, seperti konsep jiwa dan
konsep ilmu menurut al-Ghazali dan lainnya.
4. Digali dari hasil interpretasi para mufassir dan para ahli pendidikan
modern, seperti Muhammad Abduh, Rasyid Ridha, Iqbal dan
sebagainya.
2. Model Pragmatis
Model pragmatis adalah model yang lebih mengutamakan aspek
praktis dan kegunaannya. Artinya, formulasi sistem pendidikan Islam
itu diambil dari sistem pendidikan kontemporer yang telah mapan. Apa
saja yang terdapat pada pendidikan kontemporer dapat dikembangkan
dalam pendidikan Islam, selama tidak bertentangan dengan prinsipprinsip dasar yang terdapat dalam al-Qur’an dan Sunah.

Model pragmatis dilakukan dengan cara : (1) adopsi, yaitu
mengambil secara utuh sistem pendidikan non-Islam, (2) asimilasi
yaitu

mengambil

sistem

pendidikan

non-Islam

dengan

menyesuaikannya disana sini dan (3) legitimasi yaitu mengambil
sistem pendidikan non Islam kemudian dicarikan Nash untuk
justifikasinya.

E. PERBEDAAN SISTEM PENDIDIKAN ISLAM DENGAN SISTEM
PENDIDIKAN NON ISLAM
1. Sistem Ideologi
Islam memiliki idiologi al-tauhid yang bersumber dari al-Qur’an
dan Sunnah. Sedangkan non-Islam memiliki berbagai macam ideologi
yang bersumber dari isme-isme materialis, komunis, ateis, sosialis,
kapitalis dan sebagainya. Dengan begitu maka perbedaan kedua sistem
tersebut adalah muatan ideologi yang mendasarinya.
Apabila ide pokok ideologi Islam berupa al-tauhid, maka setiap
komponen dan tindakan sistem pendidikan Islam harus berdasarkan altauhid pula makna tauhid bukan hanya sekedar meng-Esakan uhan
seperti yan di pahami oleh kaum monoties, melainkan juga
meyakinkan kesatuan penciptaan (unity of creation), kesatuan
kemanusiaan (unity of mankind), kesatuan tujuan hidup (unity of
purpose of life).
2 . Sistem Nilai
Pendidikan Islam bersumber dari nilai al-Qur’an dan Sunnah,
sedang pendidikan non-Islam bersumberkan dari nilai yang lain.
Pendidikan non-Islam sebenarnya ada juga sumber nilainya, namun
sumber nilainya hanya dari hasil pemikiran, hasil penelitian para ahli,
dan adat kebiasaan masyarakat.

Dalam pendidikan Islam nilai-nilai yang diambil dalam al-Qur’an
dan sunah tersebut diinternalisasikan kepada peserta didik melalui
proses pendidikan.
3. Orientasi Pendidikan
Pendidikan Islam berorientasi kepada duniawi dan ukhrawi,
sedangkan pendidikan non-Islam, orientasinya duniawi semata. Di
dalam Islam kehidupan akhirat merupakan kelanjutan dari kehidupan
dunia, bahkan suatu mutu kehidupan akhirat konsekuensi dari mutu
kehidupan dunia. Segala perbuatan muslim dalam bidang apapun
memiliki kaitan dengan akhirat.
Islam sebagai agama yang bersifat universal berisi ajaran-ajaran
yang dapat membimbing manusia kepada kebahagiaan hidup di dunia
dan akhirat.
Firman Allah SWT:
Artinya:
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah
kepadamu kebahagiaan negeri akhirat dan janganlah kamu
melupakan kebahagiaan dan kenikmatan (dunia)…”. (QS.,alMukmin:77)
Berdasarkan hal tersebut pendidikan Islam berfungsi untuk
menghasilkan manusia yang dapat menempuh kehidupan yang indah di
dunia dan kehidupan yang indah di akhirat serta terhindar dai siksaan
Allah yang maha pedih.
Berbeda dengan pendidikan Barat yang bertitik tolak dari filsafat
pragmatisme, yaitu yang mengukur kebenaran menurut kepentingan
waktu,tempat dan situasi, dan berakhir pada garis hayat. Filsafat ilmunya
adalah kegunaan/utilitas. Fungsi penddikan tidaklah sampai untuk
menciptakan manusia yang dapat menepuh kehidupan yang idah di
akhirat, akan tetapi terbatas pada kehidupan duniawiyah semata.

F. PRINSIP-PRINSIP SISTEM PENDIDIKAN ISLAM
Prinsip berarti asas (kebenaran yang jadi pokok dasar orang
berpikir, bertindak dan sebagainya. Dagobert D. Runes mengartikannya
sebagai kebenaran yang bersifat universal (universal truth)yang menjadi
sifat dari sesuatu.
Dikaitkan dengan pendidikan, agaknya prinsip pendidikan dapat
diartikan dengan kebenaran yang universal sifatnya, yang dijadikan dasar
dalam merumuskan perangkat pendidikan.
Prinsip pendidikan terambil dari dasar pendidikan, baik berupa
agama ataupun ideologi Negara yang dianut.
Berikut ini adapun prinsip-prinsip yang dimaksud.
1. Prinsip Pendidikan Islam Merupakan Implikasi Dari Caracteristic
(ciri-ciri) Manusia Menurut Islam.
Ajaran Islam mengemukakan empat macam ciri-ciri manusia yang
membedakannya dengan makhluk lain yaitu:
1) Fitrah
2) Kesatuan roh dan Jasad (wadah al-ruh wa al jism)
3) Kebebasan berkehendak (hurriyah al-iradah)
a. Agama yang diturunkan melalui rasulnya adalah agama fitrah
Firman Allah SWT:
Artinya :
“Hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada Agama (Allah);
(tetapkanlah alas )fitrah Allah yang telah menciptakan manusia
menurut itu”…(Q.S. Al-Rum:30)
b. Ketentuan roh dan jasad
Manusia tersusun dari dua unsur yaitu: (1) roh, dan (2) jasa.
Dari segi jasad sebagai karakteristik manusia sama dengan
binatang, sama-sama memiliki dorongan untuk berkembang dan

mempertahankan diri serta berketurunan. Namun dari segi roh
manusia sama sekali berbeda dengan makhluk lain. Allah
menyempurnakan kejadian manusia dengan meniupkan roh ketika
struktur jaad manusia untuk menerimanya.
Allah SWT berfirman:
Artinya:
“Maka apabila aku telah menyempurnakan kejadiannya
dan telah meniupkan kedalamnya roh (ciptaan) Ku, maka
tunduklah kamu kepadaNya dengan bersujud”. (Q.S. Al-Hajr : 29)
c. Manusia memiliki karakter kebebasan berkemauan (huriyah alIradah) dalam segala aspek kehidupannya.
Kebebasan sebagai karakteristik manusia meliputi berbagai
dimensi seperti kebebasan dalam beragama, berbuat, mengeluarkan
pendapat, memliki berpikir, berekspresi dan sebagainya.
Allah SWT menegaskan:
Artinya :
“Tidak

ada

paksaan

untuk

memasuki

agama

(Islam):sesungguhnya telah jelas yang benar dan jalan yang salah
“. (Q.S.al-Baqarah :256).
2. Prinsip Pendidikan Islam Adalah Pendidikan Integral dan Terpadu
Pendidikan Islam tidak mengenal adanya pemisahan antara sains
dan agama. Penyatuan antara kedua system pendidikan adalah tuntutan
akidah Islam. Allah dalam doktrin ajaran Islam adalah pencipta alam
semesta termasuk manusia. Sedangakan pedoman hidup dan hokumhukum untuk kehidupan manusia telah ditentukan pla dalam ajaran agama
yang dinamakan din Allah, yang mencakup akidah dan syariah.

Implikasi dalam pendidikan adalah bahwa dalam pendidikan Islam
tidak dibenarkan adanya dikotomi pendidikan yaitu antara pendidikan
agama dengan pendidikan sains. Kalau dikotomi itu tidak dapat dihindari,
minimal seorang pendidik harus dapat melakukan perubahan orientasi
mengenal konsep “ilmu”yang secara langsung dikaitkan dengan dalil-dalil
keagamaan, dan sebaliknya ajaran agama dikorelasikan dengan ilmu
pengetahuan sehingga wawasan peserta didik anak didik menyatu dalam
agama dan ilmu pengetahuan.
3. Prinsip Pendidikan Islam Adalah Pendidikan yang Seimbang
Ada beberapa prinsip keseimbangan yang mendasari pendidikan
Islam yaitu:
a. Keseimbangan antara kehidupan duniawi dan ukhrawi
b. Keseimbangan antara jasmani dan rohani
c. Keseimbangan antara individu dan masyarakat

4. Prinsip Pendidikan Islam adalah Pendidikan yang Universal
Prinsip ini maksudnya adalah pendangan yang menyeluruh pada
seluruh aspek kehidupan manusia. Agama Islam yang menjadi dasar
pendidikan Islam iu bersifat meenyeluruh terhadap wujud, alam jagat, dan
hidup. Ia menekankan pandangan yang menghimpun ro da badan, antara
individu dan masyarakat, antara dunia dan akhirat antara materil dan
spiritual. Pendidikan Islam yang berdasarkan prinsip ini, bertujuan untuk
menumbuhkan,
kepribadian

mengembangkan,

manusia

dan

dan

segala

membangun

potensi

dan

segala

aspek

dayanya.

Juga

mengembangkan segala segi kehidupan dalam masyarakat, seperti sosial
budaya, ekonomi, politik, dan berusaha urut serta menyelesaikan masalahmasalah masyarakat masa kini dan bersiap menghadapi tuntutan-tuntutan
masa depan dan memelihara sejarah dan kebudayaan.

Menurut Muhammad Munir Mursy, yang dimaksud dengan prinsip
ini adalah pendidikan Islam itu hndaknya meliputi seluruh aspek
kepribadian manusia dan hendaknya melihat manusia itu dengan
pandangan yang menyeluruh yang terdiri dari aspek jiwa, badan, dan akal,
sehingga nantinya pendidikan Islam itu diarahkan pada pendidikan
Jasmani, pendidikan Jiwa, dan pendidikan akal.

5. Prinsip Pendidikan Islam adalah Pendidikanyang Dinamis
Pendidikan Islam dalam prinsip ini tidak statis dalam tujuan materi,
kurikulum media, dan metodenya, tetapi ia selalu membaharui diri dan
berkembang. Ia memberikan respon terhadap kebutuhan-kebutuhan
masyarakat sesuai dengan perkembangan dan perubahan social yang tidak
bertentangan dengan ajaran Islam. Begitu juga ia memberi respon terhadap
kepentingan

individu

dan

masyarakat

dan

syariat

Islam

memeliharanya,dan ia juga selalu membaharui diri untuk berkembang. Di
antara

cara-cara

pembaruan

dalam

pendidikan

adalah

dengan

memperbanyak penelitian dan eksperimen dalam pendidikan, dan bersifat
terbuka terhdap perubahan.
Pendidikan

Islam

berusaha

mengadakan

perubahan

yang

diinginkan oleh individu dam masyarakat. Pada hakikatnya pendidikan itu
merupakan proses perubahan tingkah laku, oleh karena itu pendidikan
Islam memerlukan kedinamisan.
Implikasinya dalam pendidikan Islam terlihat pada saat pendidikan
Islam memberikan respon terhadap pembangunan yang sesuai dengan
kebutuhan masyarakat.

Sistem pendidikan islam di Indonesia
Sebagaimana dijelaskan sebelumnya bahwa sistem menurut Ryansialah
sejumlah elemen (objek) orang, aktivitas, rekaman, informasi dan lain-lain
yang saling berkaitan dengan proses dan struktur secara teratur, dan
merupakankesatuan organisasi yang berfungsi untuk mewujudkan hasil yang
diamati (dapat dikenal wujudnya) sedangkan tujuan tercapai. Sedangkan
menurut Imam Barnadib, sistem adalah suatu gagasan atau prinsip yang
bertautan, yang tergabung menjadi suatu keseluruhan. Dengan demikian maka
sistem pendidikan adalah himpunan gagasan atau prinsip-prinsip pendidkan
yang saling bertautan dan tergabung sehingga menjadi suatu keseluruhan.
Sistem pendidkan disuatu negara didasarkan atas falsafah hidup negara itu.
Falsafah hidup negara menggambarkan aspirasi rakyat dan pemerintah yang
membuat sistem pendidikan itu mempunyai kekhususan.
Negara-negara Barat yang mempunyai falsafah hidup rasionalis, materialis,
dan progmatis membuat sistem pendidikannya yang bercorak rasionalis,
progmatis dan materialis. Begitu pula falsafah negara kita yaitu pancasila,
membuat Sistem Pendidikan Nasional Indonesia bercorak khusus Indonesia
yang tidak ditemui pada sistem pendidkan lainnya. Pendidkan Nasional adalah
pendidikan yang berakar pada kebudayaan bangsa Indonesia yang berdasrakan
pada Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945.

A. SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL
Sistem Pendidikan Nasional seperti dijelaskan dalam UU RI No. 20 Tahun
2003

tentang SISDIKNAS adalah Sistem Pendidikan Nasional adalah

keseluruhan komponen pendidikan yang saling terkait secara terpadu untuk
mencapai tujuan pendidikan nasional.

Di dalam pasal-pasal dan penjelasan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003
tentang Sistem Pendidikan Nasional ini ditemukan sebagai berikut :
1. Dalam penyelengara pendidikan ada beberapa prinsip-prinsip yang harus
dipedomani yaitu :
a. Pendidikan diselenggarakan secara demokratis dan berkaitan serta
tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai
keagamaan, nilai kultural, dan kemajemukan bangsa.
b. Pendidikan diselenggarakan sebagai satu kesatuan yang sistematik
dengan sistem terbuka dan multi makna.
c. Pendidikan diselenggarakan sebagai suatu proses pembudayaan dan
pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat.
d. Pendidikan

diselenggarakan

dengan

memberi

keteladanan,

membangun kemauan, dan mengembangkan kreativitas peserta didik
dalam proses pembelajaran.
e. Pendidikan

diselenggarakan

dengan

mengembangkan

budaya

membaca, menulis dan berhitung bagi segenap warga masyarakat.
f. Pendidikan diselenggarakan dengan memberdayakan semua komponen
masyarakat

melalui

peran

serta

dalam

penyelenggaraan

dan

pengendalian mutu layanan pendidikan.
2.

Pendidikan

Nasional

berfungsi

mengembangkan

kemampuan

dan

membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka
mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi
peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada
Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu dan cakap (Bab II
pasal 3 ayat 1-6). Butir-butir dalam tujuan nasional tersebut terutama yang
menyangkut nilai-nilai dan berbagai aspeknya, sepenuhnya adalah nilainilai dasar agama islam, tidak ada yang bertentangan dengan tujuan
pendidikan islam, oleh karena itu, berkembangnya pendidikan Islam akan
berpengaruh sekali terhadap keberhasilan pencapaian tujuan pendidikan
nasional dimaksud.

3.

Selanjutnya didalam Undang-undang tersebut dijelaskan tentang jalur,
jenjang dan jenis pendidikan :
a. Jalur pendidikan dilaksanakan melalui :
1) Pendidikan formal adalah jalur pendidikan yang terstruktur dan
berjenjang yang terdiri dari atas pendidikan dasar, pendidkan
menengah, dan pendidikan tinggi.
2) Pendidikan non formal adalah jalur pendidikan diluar pendidikan
formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang.
3) Pendidikan informal adalah jalur pendidikan keluarga dan
lingkungan. (Bab 1 pasal 1 ayat 11-13).
Pendidkan Islam dilaksanakan pada semua jalur tersebut
olehkarena itu pendidikan Islam merupakan bagian yang tak
terpisahkan dari pendidkan nasional.
b. Jenis pendidkan mencakup pendidkan umum, kejuruan akademik,
profesi, vokasi, keagamaan, dan khusus. (Bab V pasal 16).
Yang dimaksud dengan pendidikan keagamaan di sini adalah
merupakan pendidikan dasar, menengah, tinggi yang mempersiapkan
peserta didk untuk dapat menjalankan peran yang menuntut
penguasaan pengetahuan tentang ajaran agama dan/atau menjadi ahli
ilmu agama.
Oleh karena itusetiap orang Islam, dalam menjalankan peran
hidupnya sebagai orang muslim, sangat berkepentingan dengan
pengetahuan tentang ajaran-ajaran islam, terutama yang berhubungan
dengan nilai, moral, dan sosial budaya keagamaan. Oleh karena nya,
pendidikan Islam dengan lembaga-lembaganya, tidak bisa dipisahkan
dari sitem pendidkan nasional.

4.

Dalam pasal berikutnya dijelaskan lagi sebagai berikut
Pendidikan Dasar berbentuk Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah
Ibtidaiyah (MI) atau bentuk lain yang sederajat serta Sekolah Menengah
Pertama (SMP) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs), atau bentuk lain yang
sederajat. (Pasal 17 ayat 2).

Pendidikan menengah berbentuk Sekolah Menengah Atas (SMA),
dan Madrasah Aliyah (MA), Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), dan
Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK), atau bentuk lain yang sederajat.
(pasal 18 ayat 3).
Satuan pendidkan Islam yang disebut dengan Madrasah dalam PP no
20 tahun 1990 pasal 4 ayat 1 menegaskan bahwa SD dan SLTP yang
berciri khas, agama Islam, yang diselenggarakan oleh Departemen
Agama, masing-masing disebut Madrasah Ibtidaiyah dan Madrasah
Tsanawiyah. Dengan demikian, Madrasah diakui sama dengan sekolah
umum, dan merupakan satuan pendidikan yang terintegrasi dalam sistem
pendidkan nasional.
5.

Selain jalur pendidikan formal, dalam jalur pendidikan non-formal pun
pendidikan agama diakui eksistensinya, seperti dilihat dalam pasal-pasal
berikut :
Pendidikan keagamaan dapat diselenggarakan oleh pemerintah
dan/atau kelompok masyarakat dari pemeluk agama, sesuai dengan
peraturan perundang-undangan.
Pendidikan keagamaan berfungsi mempersiapkan peserta didik
menjadi anggota masyarakat yang memahami dan mengamalkan nilainilai ajaran agama dan/ atau menjadi ahli ilmu agama.
Pendidikan

keagamaan

dapat

diselenggarakan

pada

jalan

pendidikan formal, nonformal, dan informal. Pendidikan keagamaan
berbentuk pendidikan diniyah, pesantren, pasraman, pabhaja samanera,
dan bentuk lain yang sejenis.
6. Selanjutnya tentang kurikulum dijelaskan
a. Kurikulum pendidikan dasar dan menengah wajib memuat:
1) Pendidikan agama
2) Pendidikan kewarganegaraan
3) Bahasa
4) Matematika
5) Ilmu pengetahuan alam

6) Ilmu pengetahuan sosial
7) Seni dan budaya
8) Pendidikan jasmani dan olahaga
9) Keterampilan/kejuruan dan
10) Muatan lokal
b. Kurikulum pendidikan tinggi wajib memuat :
1) Pendidikan agama
2) Pendidikan kewarganegaraan
3) Bahasa
Berdasarkan

kurikulum

tersebut

pendidikan

agama

termasuk

pendidikan agama termasuk pendidikan agama Islam merupakan bagian dari
dasar dan inti kurikulum pendidikan agama Islam pun terpadu dalam sistem
pendidikan nasional.
Kenyataan tersebut pada dasarnya cukup menguntungkan bagi
pendidikan Islam, sebab posisinya semakin kuat. Kalau selama ini mungkin
pendidikan agama merasa tersisih, dengan UU Nomor 20 tahun 2003 ini status
pendidikan agama adalah sama kuatnya dengan pendidkan umum.
Pendidikan Islam seperti uraian sebelumnya dikatakan sebagai suatu
sitem karena ia sebagai totalitas fungsional dan bertujuan yang tersusun dari
berbagai rangkaian elemen, unsur atau komponen. Totalitas fungsional yang
dimaksud tentu saja dalam rangka pembinaan dan pengembangan baik sebagai
pribadi maupun sebagai anggota masyarakat. Setiap komponen pendidikan
Islam tersebut mempunyai bentuk tersendiri yang jauh berbeda dengan
komponen-komponen Sistem Pendidikan Barat (non Islam).

B. KEDUDUKAN DAN PERAN PENDIDIKAN ISLAM DALAM
SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL
1. Kedudukan Pendidikan Islam
Kedudukan pendidikan Islam dalam Sistem Pendidikan Nasional
adakalanya sebagai mata pelajaran dan adakala sebagai lembaga (satuan
pendidikan).
a.

Sebagai mata pelajaran

Istilah “Pendidikan Agama Islam” di Indonesia dipergunakan untuk
nama suatu mata pelajaran dilingkungan sekolah-sekolah yang berada
dibawah pembinaan Departemen Pendidikan Nasional Pendidikan
Agama dalam hal ini agama Islam termasuk dalam struktur kurikulum.
Ia termasuk kedalam kelompok mata pelajaran wajib dalam setiap
jalur jenis dan jenjang pendidikan, berpadanan dengan mata pelajaran
lain seperti pendidikan kewarganegaraan, bahasa, matematika, sosial,
dan budaya (pasal37 ayat 1). Memang semenjak proklamasi
Kemerdekaan Republik Indonesia sampai terwujudnya UndangUndang Nomor 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan
disempurnakan dengan UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional eksistensi pendidikan Islam sudah diakui oleh
pemerintah sebagai mata pelajaran wajib di sekolah (SD s.d PT)
b.

Sebagai lembaga
Apabila pendidikan agama Islam di lingkungan lembaga
pendidikan yang berada di bawah naungan Departemen Pendidikan
Nasional terwujud sebagai mata pelajaran, maka di lingkungan
Departemen Agama terwujud sebagai satuan pendidikan yang
berjenjang naik mulai dari Taman Kanak-Kanak (Raudat al-Athfat),
sampai ke perguruan tinggi (Al-Jami’at). Pengertian Pendidikan
Keagamaan Islam disini mengacu kepada satuan pendidikan
keagamaan atau lembaga pendidikan keagamaan Islam.
Kalau dalam UU No. 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan
Nasional, lembaga pendidikan keagamaan yang di akui eksistensinya
hanaya yang berada pada jalur pendidikan formal (sekolah). Namun
dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional,
Lembaga pendidikan non formal (pesantren, madrasah diniyah) dan
dalam jalur pendidikan in-formal (keluarga).

2. Peran Pendidikan Islam
a. Sebagai Mata Pelajaran

Pendidikan Agama Islam sebagai mata pelajaran wajib di seluruh
sekolah di Indonesia berperan :
1) Memepercepat proses pencapaian tujuan Pendidikan Nasional
Pendidikan Nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi
peserta didik agar menjadi manusia yang beriman kepada Tuhan
Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, keatif,
mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta
bertanggung jawab.
Secara sederhana dapat di rinci point-point yang terdapat dalam
tujuan Nasional tersebut :
1.1) Berkembangnya potensi peserta didik
1.2) Beriman dan Bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa
1.3) Berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, dan mandiri
1.4) Menjadi warga negara yang demokratis
1.5) Bertanggung jawab
2) Memberikan nilai terhadap mata pelajaran umum
Seperti kita ketahui bahwa mata pelajaran umum yang di ajarakan
di sekolah adalah ilmu pengetahuan produk Baratyang bebas dari
nilai (values free). Agar mata pelajaran umum yang di ajarkan di
sekolah/madrasah telah mempunyai nilai maka pendidikan agama
Islam dapat diintegrasikan dalam setiap mata pelajaran tersebut –
apalagi dalam kurikulum sekolah mata pelajaran pendidikan
agama terletak pada urutan pertama. Nilai-nilai yang terdapat
dalam ajaran Islam inilah yang diinternalisasikan dalam proses
pembelajaran.
b. Sebagai Lembaga (institusi)
1) Lembaga

pendidikan

Islam

(pondok

pesantren)

berperan

mencerdaskan kehidupan bangsa. Jauh sebelum adanya sekolah,
pesantren sudah lebih kurang tiga abad mencerdaskan kehidupan
bangsa. Tercatat dalam Sejarah Pendidikan Nasional, pesantren
sudah ada semenjak masuknya Islam ke Indonesia mulai dari masa

kolonial Belanda sampai sekarang. Apalagi pesantren yang bersifat
populis banyak sekali diminati oleh masyarakat.
2) Lembaga Pendidikan Islam (madrasah dan pesantren) bersama
dengan satuan pendidikan lainnya dalam sistem pendidikan
Nasional bersama-sama menuntaskan pelaksanaan wajib belajar 9
tahun.
3) Lembaga Pendidikan Islam (madrasah diniyah) berperan mendidik
anak-anak yang drop-out, anak-anak yang tidak berkesempatan
memasuki

lembaga

pendidikan

formal-dan

sekaligus

juga

menambah dan memperkuat pelaksanaan pendidikan agama Islam
di sekolah karena keterbatasan jam pelajaran pendidikan agama
Islam di sekolah, maka peserta didik dapat memperluas dan
memperdalam mata pelajaran ini di Madrasah Diniyah (MDA,
MDW dan MDU).

Judul: Tugas Ipi

Oleh: Rikudo Afdhal


Ikuti kami