Tugas Presentsi

Oleh Dzaki Yusuf Salam

116,8 KB 11 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Tugas Presentsi

Revisi Profesionalisme Pendidikan Islam Zaki Yusuf 201510010311085 Program Studi Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang Email: Profesor_zaki@yahoo.co.id Abstrak: Profesionalisme pendidikan khususnya pendidikan Islam merupakan sebuah usaha sadar dan keinginan kuat yang dilakukan guna tercapainya perkembangan serta kemajuan dalam mengolah, mencetak lulusan unggulan yang diharapkan bisa di terima masyarakat luas; profesional dapat tercapai bila segala sesuatu dilakukan sesuai bidang dan keahlian dengan kemampuan intelektual, keterampilan yang mana hal itu dapat menunjang keberhasilan dalam mengolah dan mengembangkan sebuah pendidikan. Profesionalisme dapat diketahui dengan adanya bukti-bukti kongkrit dalam pencapaiannya seperti lulusan yang dihasilkan melalui lembaga pendidikan tersebut dapat bersaing dan diterima dengan baik oleh masyarakat dimana tempat dia mengabdikan dirinya; selain keahlian khusus yang harus dimiliki, kesejahteraan pendidik juga menjadi tolak ukur untuk tercapainya profesional dalam melakukan tunggung jawabnya; semakin sejahtera seorang pendidik maka semakin profesional dalam menjalankan kewajibannya. Keyword: Profesionalisme, Penunjang, Kesejahteraan. Pendahuluan Latar Belakang Dalam lingkup sejarah, pendidikan pernah dilakukan manusia pertama dimuka bumi, yaitu Nabi Adam As (Buhari Luneto, 2015:38). Bahkan hal ini telah dijelaskan dalam al-Qur`an bahwa proses pendidikan terjadi pada saat Adam berdialog dengan Allah; sebagaimana firmanNya: Dan Dian mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukannya kepada para malaikat lalu berfirman: “Sebutlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang benar orang-orang yang benar” (QS. Al-Baqarah: 31) Pada awal era modern, para pemikir modern dan pemimpin muslim mulai menyadari betapa pentingnya pendidikan sebagai upaya memajukan umat, terutama untuk menghadapi hegemoni sosial, ekonomi dan kebudayaan Barat (Imam Hanafi, 2012:20). Tokoh-tokoh seperti Sayyed Ahmad Khan di India dan Muhammad Abduh di Mesir, dua tokoh reformis dan berpengaruh ini tidak hanya menjadikan pendidikan sebagai cara yang paling efektif untuk menghadapi persoalan kejumudan dan kemunduran umat selama ini. Mereka bahkan mengusahakan interpretasi ulang terhadap (pengetahuan) agama Islam secara Internal; supaya umat Islam bisa mengakomodasikan perkembangan-perkembangan baru di Barat (Imam Hanafi, 2012:20). Hal itu senada dengan yang dilakukan oleh Dedeng Rosidin dalam Bukunya Akar-akar Pendidikan yang mana dalam memahi arti sebuah pendidikan khususnya pendidikan Islam perlu adanya kajian mendalam tentang istilah-istilah yang terkait dengan pendidikan itu sendiri; seperti At-Tarbiyat, At-Ta`lim, At-Ta`dib, At-Tadris dan at-Tahdzib (Dedeng Rosidin, 2013:xii). Oleh karena itu, kebangkitan umat Islam tidak bisa hanya dipahami dan diawali dengan memberikan perhatian sepenuhnya terhadap pengadaan sarana pendidikan; yang lebih penting dari itu adalah bagaimana melakukan pembenahan tentang konsepsi pengetahuan atau ilmu yang selaras dengan nilai-nilai yang diajarkan oleh Islam (Imam Hanafi, 2012:20). Maka dengan demikian konsepsi tentang pengetahuan dalam dunia pendidikan sangat urgen dan prinsipil, artinya kesalahan dalam memahami konsep pengetahuan dalam pendidikan maka sudah tentu hal itu berimbas pada tujuan utama dari pendidikan itu sendiri. Karena dalam pendidikan tidak hanya sebagai sarana pencapaian tujuan-tujuan sosial-ekonomi, lebih jauh dari itu ia berperan penting untuk mencapai tujuan-tujuan spiritualitas manusia. Disamping pemahaman tentang konsep pengetahuan dalam pendidikan itu penting; untuk meningkatkan mutu dalam pendidikan khususnya pendidikan yang berlabelkan Islam maka perlu adanya penerapan profesionalisme dalam pengolahannya. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Prof. Dr. Ahmad Tafsir bahwa salah satu penyebab dari rendahnya mutu pendidikan Islami adalah kurang bahkan tidak adanya penerapan profesionalisme dalam pengolahan pendidikan itu (Ahmad Tafsir, 2013:161). Sehingga, sangatlah penting bagi seorang pendidik untuk mengetahui tentang beberapa hal diatas; adanya krisis akhlak dan moral yang mengingatkan kepada kritik sosial yang sangat tajam yang dilontarkan pujangga dari Kraton Surakarta, R.Ng. Ranggawasita terhadap realistis sosial, sekitar 140-an tahun lalu melalui “serat Kalatida” (Mukhibat, 2012:248). Dalam serat ini dijelaskan adanya istilah “zaman edan”. Bahkan istilah zaman edan ini semakin populer di kalangan masyarakat pada era modern saat ini (Simuh, 1999:189). Istilah tersebut dianggap sangat cocok dengan perkembangan sekarang ini yang ditandai dengan kemerosotan akhlak, aspek moralitas, dan etika kesantunan, tindak kekerasan, serta lemahnya jati diri bangsa (Mukhibat, 2012:248). Begitu besar peran pendidik dalam sebuah keberhasilan pendidikan, hal ini dapat dilihat bahwa pendidikan merupakan sebuah sistem yang mengandung aspek visi, misi, tujuan, kurikulum, bahan ajar, pendidik, peserta didik, sarana dan prasarana, dan lingkungan (Abbudin Nata, 2010:90). Diantara kedelapan aspek tersebut satu sama lain tidak dapat dipisahkan; karena hal tersebut saling berkaitan satu sama lain sehingga membentuk sebuah sistem (Buhari Luneto, 2015:38). Beberapa aspek tersebut dapat berjalan dengan baik dan bisa mencapai pendidikan yang bermutu maka perlu adanya profesionalisme dalam pelaksanaannya. Sehingga dengan demikian, penyelenggara pendidikan dituntut harus mewujudkan pendidikan yang berkualitas dimana pendidikan sebagai tonggak utama penentu keberhasilan untuk mencapai tujuan pendidikan (Buhari Luneto, 2015:38). Sehingga dari pandangan itu, timbullah sebuah pertanyaan, pendidikan yang seperti apa yang dapat dikatakan sebagai pendidikan yang berkualitas? Bagaimana pandangan Islam tentang Profesionalisme? Kemudian bagaimana penerapan profesionalisme dalam pengolahan pendidikan? Oleh karena itu, penulis akan membahas hal tersebut sebagai berikut. Pembahasan Profesionalisme Dalam Pendidikan Islam Profesionalisme adalah sebuah paham yang mengajarkan bahwa setiap pekerjaan harus dilakukan oleh orang yang profesional, orang yang profesional adalah orang yang memiliki profesi (Ahmad Tafsir, 2013:161). Dalam pendidikan orang yang memiliki profesi disebut pendidik atau guru. Profesionalisme berasal dari kata profesi, Mc Cully mengartikan profesi adalah “a vocation in which professed knowledge of some departement of learning or science is used in its aplication to the affairs or others or in the practice of an art founded upon it” (Buhari Luneto, 2015:39). Maksudnya profesi mengandung arti bahwa dalam suatu pekerjaan profesional selalu digunakan teknik serta prosedur yang bertumpu pada landasan intelektual yang secara sengaja harus dipelajari, dan kemudian secara langsung dapat di abadikan bagi kemaslahatan orang lain (Arif Rohman, 2007:123). Selain itu profesional juga merupakan pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dan menjadi sumber pengahasilan kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran, atau kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi (Buhari Luneto, 2015:39). Apa itu profesi? Muthtar Lutfhi mengatakan bahwa seseorang dikatakan memiliki profesi bila ia memenuhi kriteria: (1) Profesi harus mengandung keahlian (2) Profesi dipilih karena panggilan hidup dan dijalani sepenuh waktu (3) Profesi memiliki teori-teori yang baku secara universal (4) Profesi adalah untuk masyarakat (5) Profesi harus dilengkapi dengan kecakapan diagnostik dan kompetensi aplikatif (6) pemegang profesi memiliki otonomi dalam melakukan tugas profesinya (7) Profesi mempunyai kode etik (8) Profesi harus memiliki klien yang jelas (Ahmad Tafsir, 2013:162). Selanjutnya Finn (1953) menambahkan bahwa suatu profesi memerlukan organisasi profesi yang kuat; gunanya untuk memperkuat dan mempertajam profesi itu; suatu profesi harus mengenali dengan jelas hubungannya dengan profesi lain (Miarso Yusuf (penerjemah), 1986:2829). Dari bebarapa kriteria tentang “profesi” sebenarnya ada dua kriteria pokok yaitu: (1) Merupakan panggilan hidup dan (2) keahlian (Ahmad Tafsir, 2013:169). Kriteria yang lain juga diperlukan untuk memperkuat kedua kriteria pokok ini. Kriteria “panggilan hidup” sebenarnya mengacu kepada pengabdian; sekarang orang lebih suka menyebutnya dengan dedikasi, sedangkan keahlian mengacu pada mutu layanan (Ahmad Tafsir, 2013:169). Oleh karena itu, dedikasi dan keahlian merupakan ciri utama suatu bidang yang disebut dengan suatu profesi. Selain itu juga menambahkan Achmad Sunasi; beberapa ciri pokok sebuah profesi Pertama, pekerjaan itu mempunyai fungsi dan signifikasi sosial karena diperlukan mengabdi kepada masyarakat Kedua, profesi menuntut keterampilan tertentu yang diperoleh melalui pendidikan yang lama dan intensif serta dilakukan dalam lembaga tertentu yang secara sosial dapat dipertanggungjawabkan (Accountable). Ketiga, profesi di dukung oleh suatu disiplin ilmu (a systematic body of knowledge), bukan sekedar serpihan atau hanya common Sense. Keempat, ada kode etik yang menjadi pedoman perilaku anggotanya beserta sanksi yang jelas dan tegas terhadap pelanggar kode etik. Kelima, sebagai konsekuensi dari layanan yang diberikan kepada masyarakat, maka anggota profesi baik secara perorangan maupun kelompok memperoleh imbalan finansial atau materil (D. Deni Koswara halimah, 2008:36). Adapun pandangan Islam tentang profesi; suatu profesi merupakan pekerjaan yang harus dilakukan karena Allah; maksudnya adalah karena diperintahkan Allah. Jadi, profesi dalam Islam harus dijalani karena merasa bahwa itu adalah perintah Allah, meskipun dalam kenyataannya pekerjaan itu dilakukan untuk orang lain, tetapi niat yang mendasarinya adalah perintah Allah. Profesional dalam Islam khususnya di bidang pendidikan, seseorang harus benar-benar mempunyai kualitas keilmuan kependidikan dan berkeinginan yang memadai guna menunjang tugas jabatan profesinya, karena sejatinya tidak semua orang bisa melakukan tugas dengan baik (Buhari Luneto, 2015:41). Dalam Islam, setiap pekerjaan harus dilakukan secara profesional, dalam arti harus dilakukan secara benar; dalam al-Qur`an Allah berfirman dalam QS. Al-Isra` ayat 48: ”katakanlah: tiap-tiap orang berbuat menurut keadannya masing-masing, maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya” Sehingga dengan demikian sebenarnya antara profesional dengan profesi merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan dalam pemberian maknanya; dalam bebapa literatur ditemukan berbagai macam deskripsi tentang ciri-ciri atau unsur esensial suatu profesi. Meskipun rumusan-rumusan tentang profesi tersebut dinyatakan dalam kata-kata yang berbeda pada hakekatnya memperlihatkan persamaan yang besar dalam substansinya (Buhari Luneto, 2015:39). Berkenaan dengan judul diatas bagaimana profesionalisme dalam pendidikan Islam; sudah tentu yang dimaksud bukan hanya sekedar kenirja seorang pemegang profesi (Guru); melainkan bagaimana pendidikan yang profesional berdasarkan pandangan Islam seperti yang di jelaskan diatas. Semuan itu dikarenakan dalam pendidikan tidak hanya ada guru dan murid saja, idealnya dalam pendidikan terdapat beberapa unsur; sehingga dapat dikatakan sebuah pendidikan misalnya sarana dan prasarana, administrasi dan layanan, visi dan misi dan lain sebagainya. Sehingga untuk mengetahui bagaimana profesional dalam pendidikan perlu kita mengkaji lagi apa yang dimaksud dengan pendidikan? Menurut Ki Hajar Dewantara pendidikan yaitu tuntutan di dalam hidup tumbuhnya anak-anak (http//www.e-jurnal.com/2013/11/pengertian-pendidikan-menurut-para-ahli.html di akses pada 23 April 2017) adapun maksudnya pendidikan menuntun segala kekuatan kodrat agar sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapatlah mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya. Sedangkan menurut Plato (filosof yunani yang hidup dari tahun 429 SM- 346 M) pendidikan itu ialah membantu perkembangan masing-masing dari jasmani dan akal dengan sesuatu yang memungkinkan tercapainya kesempurnaan (http//www.e-jurnal.com/2013/11/pengertian-pendidikan-menurut-para-ahli.html di akses pada 23 April 2017). Pendidikan dapat diperoleh baik secara formal maupun non formal; dengan kata lain bisa didapatkan di suatu lembaga yang dikenal dengan sekolah atau sejenisnya dan juga bisa didapatkan di luar lembaga seperti lingkungan sekitar. Berdasarkan hal itu bahwasannya pendidikan merupakan media yang membantu manusia untuk mencapai kebahagiaannya maupun membantu menyelesaikan permasalahan dalam hidupnya yang kerap terjadi sehingga pada akhirnya manusia mencapai kesempurnaan dalam hidupnya. Maka untuk mencapai hal itu perlu adanya pendidikan yang berkualitas yang pada saat ini lebih dikenal dengan mutu pendidikan. Ada beberapa pengertian terkait mutu pendidikan; sebagaimana menurut Sallis (2003) mengatakan bahwa mengemukakan mutu adalah konsep yang absolut dan relatif (http//www.ejurnal.com/2014/02/pengertian-mutu-pendidikan.html di akses pada 23 April 2017). Maksudnya yakni mutu yang absolut ialah idealismenya tinggi dan harus dipenuhi, berstandar tinggi, dengan sifat produk bergensi tinggi. Sedangkan mutu yang relatif bukanlah sebuah akhir, namun sebagai alat yang telah ditetapkan atau jasa di nilai, yaitu apakah telah memenuhi standar yang telah ditetapkan. Berkaitan dengan mutu pendidikan ini Hari Sudrajat (2005) juga berpendapat bahwa pendidikan yang bermutu merupakan pendidikan yang mampu menghasilkan lulusan yang memiliki kemampuan atau kompetensi, baik kompetensi akademik maupun kompetensi kejuruan, yang dilandasi oleh kompetensi personal dan sosial, serta nilai-nilai akhlak mulia, yang keseluruhannya merupakan kecakapan hidup (life skill) (http//www.e-jurnal.com/2014/02/pengertian-mutu-pendidikan.html di akses pada 23 April 2017) Dalam Islam sendiri menurut Prof. Baharuddin mangatakan bahwa ada beberapa perspektif mengenai hakikat mutu pendidikan Islam, misalnya (1) mutu diidentifikasi sebagai adanya kecocokan kurikulum yang disusun sebuah lembaga pendidikan Islam dengan kebutuhan masyarakat (Fitness for use) (http//pasca.UIN-malang.ac.id/mutu-pendidikan-islamdalam-berbagai-perspektif/ di akses pada 23 April 2017). Dalam perspektif itu dapat dipahami bahwa mutu yang baik dimaknai sebagai sebuah sistem yang mana lulusannya (output) terserap di berbagai pekerjaan; masyarakat sudah mengakui kualitas dan kompetensi dari lulusan lembaga pendidikan Islam tersebut, meskipun masyarakat itu sendiri masih belum tentu mengetahui sistem pendidikan apa yang diterapkannya (http//pasca.UIN-malang.ac.id/mutu-pendidikan-islam-dalam-berbagai-perspektif/ di akses pada 23 April 2017). Selain itu, dalam perspektif yang lain Prof. Baharuddin juga mengatakan bahwa mutu pendidikan juga dikaitkan dengan kepuasan total (Full Customer Satisfaction) para pengguna pelayanan pendidikan Islam (http//pasca.UIN-malang.ac.id/mutu-pendidikan-islam-dalam- berbagai-perspektif/ di akses pada 23 April 2017). Dalam pandangan ini mutu di definisikan sebagai bentuk pelayanan maksimal sehingga pelanggan dunia pendidikan (siswa, mahasiswa, dosen dan lain sebagainya) mendapatkan kepuasan. Kepuasan tersebut dapat diidentifikasi dengan melihat mereka merasa nyaman, senang, atau bahkan loyal dan fanatik dengan lembaga Islam yang dikelolanya. Sehingga dapat dikatakan bahwa mutu pendidikan itu dianggap baik dalam konsep yang demikian itu, manakala sesuai dengan standar nasional Sekolah / Madrasah (BAN S/M), Badan Akreditasi Perguruan Tinggi (BAN-PT) ataukah ISO 9001:2008 (http//pasca.UIN- malang.ac.id/mutu-pendidikan-islam-dalam-berbagai-perspektif/ di akses pada 23 April 2017). Kemudian beliau juga menegaskan bahwa apapun perspektif yang digunakan, sepatutnya harus dikawal dengan sikap istiqomah (konsisten) yang dijiwai continous improvement (http//pasca.UIN-malang.ac.id/mutu-pendidikan-islam-dalam-berbagai-perspektif/ di akses pada 23 April 2017). Dari pemaparan diatas maka penulis dapat menyimpulkan bahwa dalam profesionalisme pendidikan Islam khususnya; tidak hanya pemegang profesi saja yang berperan penting di dalamnya, namun berkenaan dengan hal itu harus adanya sebuah mutu dalam penyelenggaran pendidikan yang harus dicapai; dalam menciptakan mutu yang baik dalam pendidikan Islam memerlukan profesionalitas dalam menajalankannya dan mengelola pendidikan tersebut. Baik itu dari segi pengajarannya, pelayanannya atau bahkan menciptakan lulusan yang berkualitas; seperti berdedikasi tinggi, berkompetensi, ahli dalam bidangnya dan yang terpenting dapat diterima dengan baik oleh masyarakat dimana dia mengabdikan dirinya. Profesionalisme dalam pendidikan Islam tidak hanya menciptakan mutu pendidikan yang baik kemudian stangnan (menetap) dengan itu. Namun, perlu adanya pembenahanpembenahan yang mungkin dibutuhkan seiring berjalannya zaman. Sehingga pendidikan itu tidak di katakan sebagai pendidikan yang menoton. Apabila semua itu terpenuhi bukan tidak mungkin bahwa dalam pendidikan akan melahirkan sosok pelajar, guru, dosen atau bahkan ilmuan yang benar-benar ahli dalam bidangnya yang tidak kalah saing dengan perkembangan zaman yang semakin pesat seperti saat ini. Daftar Rujukan Buku Halimah D. Deni Koswara, 2008, Seluk-Beluk Profesi Guru, Bandung: PT Pribumi Mekar Nata Abuddin, 2010, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Kencana Pranada Media Group Rohman Arif, 2007, dalam Dwi Siswono dkk (ed), Pendidik dan Peserta Didik: Ilmu Pendidikan, Jogjakarta: UNY Press Rosidin Dedeng, 2003, Akar-akar Pendidikan Dalam al-Qur`an dan al-Hadist, Bandung: Pustaka Umat Simuh, 1999, Sufisme Jawa, Transformasi Tasawuf Islam ke Mistik Jawa. Yogyakarta: Bentang Budaya Tafsir Ahmad, 2013, Ilmu Pendidikan Islam, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya Yusuf Miarso (penerjemah), 1986, Defenisi Teknologi Pendidikan, Deikerjakan oleh satuan tugas definisi terminologi AECT, Jakarta: Rajawali Jurnal Hanafi Imam, 2012, Basis Epitemologi Dalam Pendidikan Islam, Jurnal Pendidikan Islam, Volume 1 Nomor 1 Juni, Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga Luneto Buhari, 2015, TADBIR: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam, Volume3 Nomor 1 Februari, ISSN: 2338-6673, E ISSN: 2442-8280. Mukhibat, 2012, Reinventing Nilai-Nilai Islam, Budaya, Dan Pancasila Dalam Pengembangan Pendidikan Karakter, Jurnal Pendidikan Islam, Volume 1 Nomor 2 Desember, Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga. E-Jurnal http//www.e-jurnal.com/2013/11/pengertian-pendidikan-menurut-para-ahli.html (di akses pada 23 April 2017) http//www.e-jurnal.com/2014/02/pengertian-mutu-pendidikan.html (di akses pada 23 April 2017) Web http//pasca.UIN-malang.ac.id/mutu-pendidikan-Islam dalam-berbagai-perspektif/ (di akses pada 23 April 2017)

Judul: Tugas Presentsi

Oleh: Dzaki Yusuf Salam


Ikuti kami