Makalah Perkembangan

Oleh Christie Sartika Febriyanto

173,6 KB 9 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Makalah Perkembangan

a. Pekerjaan & Pensiun Kemampuan kognitif adalah salah satu prediktor terbaik untuk performa kerja pada orang lansia. Para pekerja lansia lebih cenderung lebih sedikit absen, lebih sedikit mengalami kecelakaan dan lebih memperoleh kepuasan kerja, dibandingkan dengan rekan yang lebih muda (Warr, 2004). Yang berarti pekerja yang lebih tua dapat memiliki nilai yang cukup penting bagi perusahaan,melebihi kompetensi kognitif mereka. Banyak orang lansia juga menjadi pekerja yang tidak dibayar, sebagai sukarelawan atau partisipan aktif dalam asosiasi sukarela. Stereotip terhadap pekerja lansia & jenis tugas yang di tangan, dapat membatasi peluang karier mereka & mendorong pensiun dini atau pembatasan pekerja yang berdampak pada mereka (Finkelstein & Farrell,2007). Contoh, sebuah studi menemukan bahwa stereotip negatif yang berkembang cukup luas yang ditujukan pada orang lansia menyatakan bahwa mereka sebaiknya tidak di pekerjakan lagi (Gringart, Helmes, Speelman, 2005) Phyllis Moen (2007), menjelaskan orang dengan usia mencapai 60 tahun, jalan hidup yang mereka ikuti menjadi kurang jelas: 1)beberapa individu tidak pensiun, melanjutkan pekerjaan karier mereka, 2)sebagian individu pensiun dari karier mereka kemudian mengambil pekerjaan yang baru dan berbeda, 3)sebagian individu pensiun dari pekerjaan karier mereka tapi melakukan pekerjaan sukarela, 4) sebagian individu berhenti dari pekerjaan setelah masa pensiun dan melanjutkan pekerjaan lain, 5)beberapa individu keluar masuk lapangan pekerjaan sehingga mereka tidak pernah benar-benar memiliki karier dari pekerjaan mereka sebelum pensiun, 6)beberapa individu kondisi kesehatannya buruk, berubah status menjadi penyandang difabilitas yang perlahan harus mengambil pensiun, 7)sebagian individu lainnya yang diberhentikan & dianggap pensiun. Pensiun merupakan suatu proses, bukan merupakan suatu peristiwa (Moen,2007). Bahwa laki-laki memiliki semangat juang yang lebih tinggi ketika pensiun dalam periode dua tahun, dibandingkan laki-laki yang pensiun dalam periode waktu yang lebih lama (Kim&Moen, 2002). Para pensiunan perempuan yang menikah atau menikah kembali menyatakan lebih puas dengan kehidupannya dan lebih sehat, dibandingkan pensiunan perempuan yang hidup menjanda, berpisah, bercerai, dan tak pernah menikah (Price&Joo, 2005). Perempuan meluangkan lebih sedikit waktu untuk merencanakan pensiun dibandingkan para laki-laki (Jacobs, Lawson, Hershey, Neukam, 2005). Orang lansia menunjukkan penyesuaian paling baik terhadap pensiun, adalah mereka yang sehat, memiliki keuangan yang memadai, aktif, lebih terdidik, memiliki jaringan sosial yang luas meliputi kawan & keluarga, serta biasanya puas dengan kehidupannya sebelum mereka pensiun (Jokela, Raymo, Sweeney, 2010, 2006). Orang lansia dengan keuangan yang tidak memadai, memiliki kesehatan yang buruk, harus menyesuaikan diri dengan stres lain yang bersamaan dengan ketika pensiun, seperti kematian pasangan, kesulitan menyesuaikan diri terhadap pensiun (Reichstadt, 2007). b. Kesehatan Mental Pada Usia Lansia Depresi mayor adalah gangguan suasana hati di mana individu merasa sangat tidak bahagia, kehilangan semangat, merendahkan diri, & bosan. orang ini tidak merasa baik, mudah kehilangan stamina, memiliki nafsu yang rendah, tidak bergairah dan tidak termotivasi. Depresi mayor sering disebut “demam umum” dari gangguan mental. lebih dari setengah kasus depresi pada orang dewasa lanjut usia merepresentasikan pertama kalinya individu mengalami depresi dalam hidup mereka (Fiske, Wetherell, Gatz, 2009). Orang dewasa lansia yang melakukan olahraga rutin, kemungkinan menderita depresinya lebih kecil, sementara orang dewasa lanjut usia yang kesehatannya buruk dan merasakan sakit lebih besar kemungkinannya untuk menderita depresi (Mavandi, 2007). Depresi mayor tidak hanya mengakibatkan kesedihan, namun juga tendensi bunuh diri (Bergman, Levy, 2010). Demensia adalah gangguan neurologis yang gejala utamanya meliputi kemunduran fungsi mental. Individu mengalami demensia sering kali kehilangan kemampuan untuk merawat diri sendiri dan dapat kehilangan kemampuan untuk mengenali dunia sekitar dan orang yang sudah biasa dikenalnya, termasuk anggota keluarga (Mast, Healy, Okura, Travers, Martin-Kahn, Lie, 2010). Penyakit Alzheimer, adalah kerusakan otak yang bersifat progresif, tidak dapat dipulihkan kembali, yang ditandai oleh memburuknya memori, penalaran, bahasa, dan fungsi fisik secara bertahap. Faktor gaya hidup yang sehat dapat menurunkan risiko terkena penyakit Alzheimer, orang lansia menderita penyakit Alzheimer cenderung menderita penyakit kardiovaskuler (Helzner, Reynolds, Sonnen, Sottero, 2009). Olahraga dapat mengurangi risiko terkena penyakit Alzheimer (Geda, Radak, Vellas, 2010). Gangguan kognitif ringan adalah suatu kondisi peralihan antara perubahan kognitif normal yang terkait dengan proses menjadi tua dengan penyakit Alzheimer paling awal serta jenis demensia lainnya. Multi infarct dementia adalah hilangnya fungsi intelektual yang berlangsung secara sporadis dan progresif yang disebabkan oleh gangguan aliran darah temporer dan berulang arteri otak (Solans-Laque, Thompson, 2010). Gejala multi infarct dementia adalah kebingungan, menghindari percakapan, gangguan menulis, kekauan pada salah satu sisi dari wajah, lengan, kaki (Hoyer&Roodin, 2009). Penyakit Parkinson adalah suatu penyakit kronis dan progresif yang ditandai oleh gemetar, oto, gerakan melambat, dan kelumpuhan sebagian dari wajah. Para orang lansia menjadi korban kejahatan tanpa kekerasan seperti penipuan, vandalisme, penjambretan, pelecahan (Fulmer, Guadagno, Bolton, 2004). Perlakuan yang salah terhadap lansia bisa saja dilakukan oleh semua orang tapi hal tersebut terutama dilakukan oleh anggota keluarga mereka(Dakin, Pearlmutter, 2009). c. Menghadapi Kematian Elisabeth Kubler Ross (1969) membagi perilaku dan pikiran dari orang yang mendekati ajal ke dalam lima tahap: penolakan dan isolasi, kemarahan, tawar- menawar, depresi dan penerimaan. Bagi sejumlah individu, penolakan dapat menjadi suatu cara yang baik dalam menghadapi kematian. Penolakan dapat digunakan untuk menghindari pengaruh negatif yang disebabkan oleh perasaan terkejut. Penolakan ini mencegah individu agar tidak mengatasi dengan perasaan marah dan terluka. TUGAS KELOMPOK PERKEMBANGAN II ‘MASA DEWASA AKHIR” DISUSUN OLEH : PUTRI MAHARANI 802012047 MARCHAN O.A KEDOH 802012084 KRISNA NARENDRA T 802012112 CHRISTI S. FEBRIYANTO 802012115 FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS KRISTEN SATYA WACANA SALATIGA 2016 Hasil Mini Research Kesimpulan dan kaitan teori : Christie sartika F  Hasil wawancara 1. Aktivitas atau pekerjaan saat ini? Aktivitas mbah uti saat ini adalah menjahit, memasak, mengikuti pengajian, menjalankan usaha keluarga. 2. Suka/duka ? Sukanya saat ini mbah cuti merasa senang karena 6 orang anaknya berhasil dan memiliki rumah tangga. Dukanya kadang mbah uti merasa sedih ketika memikirkana suaminya yang sudah meninggal.  Rangkuman hasil Pekerjaan sehari-hari mbah uti adalah mengerjakan pekerjaan rumah dan melakukan aktivitas diluar rumah seperti pengajian. Mbah uti merasa senang karena anaknya semua berhasil dan merasa sedih ketika mengingat suaminya yang telah meninggal.  Kesimpulan Mbah uti yang memiliki profesi sebagai ibu rumah tangga sejak muda tidak memiliki dampak yang negatif pada kemampuan kognitifnya. Mbah uti masih dapat melakukan kegiatan sehari-hari dengan baik. Mbah uti terlihat memiliki kemampuan penyesuaian diri pada masa tua dengan baik karena mbah uti tidak terlihat terserang penyakit yang kronis. Kesehatan mental mbah uti tidak begitu mengganggu kegiatan mbah uti sehari-hari mbah uti hanya merasakan perasaan sedih ketika mengingat suaminya yang telah tiada dan mbah uti tidak pernah berlarut-larut dalam memikirkan suaminya. Mbah uti dapat mengontrol perasaannya dengan baik. Putri Maharani  Kesimpulan dan kaitan teori Dari segi kegiatan dirumah, memang subjek saya lebih senang bersosialisasi tanpa mengharapkan imbalan seperti ikut membantu di posyandu, dan kegiatan lainnya, seperti teori, (Moen Spencer 2006), banyak orang lansia menjadi pekerja yang tidak dibayar, sebagai sukarelawan atau partisipan aktif dalam asosiasi sukarela. Kemudian pada tahap menghadapi kematian adanya penerimaan dari diri subjek. menurut teori Kubler-Ross orang tersebut mengembangkan rasa damai, menerima nasibnya, dan ingin dibiarkan sendiri.

Judul: Makalah Perkembangan

Oleh: Christie Sartika Febriyanto


Ikuti kami