Makalah Kajimat

Oleh Ngadiyono Ngadiyono

139,3 KB 9 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Makalah Kajimat

MAKALAH KESULITAN SISWA DALAM MEMAHAMI MATERI DIMENSI TIGA PADA PEMBELAJARAN MATEMATIKA SMA Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Tugas dan Nilai dalam Mata Kuliah Kajian Masalah Pendidikan Matematika Dosen pengampu : Drs. Karso, M.Pd. Disusun oleh : Kania Diah Puspasari (1205259) Ngadiyono (1204829) Rindy Eka A. (1203073) Sefiana (1204947) DEPARTEMEN PENDIDIKAN MATEMATIKA FAKULTAS PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA BANDUNG 2014 KATA PENGANTAR Puji dan syukur penyusun panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan rahmat dan karunia-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan lancar. Penulisan makalah ini bertujuan untuk memenuhi salah satu tugas yang diberikan oleh dosen mata kuliah Kajian Masalah Pendidikan Matematika . Makalah ini berjudul “Kesulitan Siswa Dalam Memahami Materi Dimensi Tiga Pada Pembelajaran Matematika SMA”. Dengan tujuan, agar mengetahui kesulitan-kesulitan siswa dalam memahami materi dimensi tiga dan penyebab dari kesulitan siswa tersebut. Penulis berharap makalah ini dapat menjadi jalan manfaat bagi penyusun khususnya dan bagi para pendidik yang ingin mengetahui kesulitan-kesulitan siswa dan penyebabnya, sehingga tidak ada hambatan dalam mengajar. Ada pepatah mengatakan, “Tiada gading yang tak retak”, mungkin makalah ini masih jauh dari sempurna, maka kami mengharapkan kritik dan saran dari pembaca demi perbaikan menuju arah yang lebih baik. Bandung, Desember 2014 Penulis i DAFTAR ISI JUDUL ................................................................................................................. i KATA PENGANTAR .......................................................................................... ii DAFTAR ISI ........................................................................................................ iii BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ........................................................................................... 1 B. Rumusan Masalah .......................................................................................3 C. Tujuan .........................................................................................................3 D. Manfaat .......................................................................................................3 BAB II KESULITAN SISWA DALAM MEMAHAMI MATERI DIMENSI TIGA PADA PEMBELAJARAN MATEMATIKA SMA A. Pengertian Kesulitan Belajar ........................................ .............................4 B. Faktor Penyebab Kesulitan Belajar.............................................................5 C. Kesulitan Belajar Siswa Dalam Materi Dimensi Tiga ..............................10 D. Solusi Untuk Mengatasi Kesulitan Siswa Dalam Materi Dimensi Tiga ...13 BAB III PENUTUP A. Simpulan............... .....................................................................................15 B. Saran ........................ .................................................................................16 DAFTAR PUSTAKA ...........................................................................................17 ii BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Matematika merupakan mata pelajaran yang tidak asing lagi bagi kita, yang mana Matematika merupakan salah satu mata pelajaran dalam Kurikulum 2013 yang diberikan kepada siswa mulai dari SD hingga SMA untuk membekali siswa dengan kemampuan berpikir secara logis, analitis, sistematis, dan kritis. Untuk mempelajari matematika diperlukan kecerdasan dan keuletan yang matang, karena mata pelajaran ini dianggap sebagai mata pelajaran yang sulit bagi sebagian besar siswa. Salah satu cabang matematika yang memuat konsep mengenai titik, garis, bidang, dan benda-benda ruang beserta sifat-sifatnya, ukuranukurannya dan hubungannya antara satu dengan yang lainnya adalah geometri. Meskipun geometri tidak dipelajari secara mendalam di jenjang sekolah dasar, tetapi secara tidak langsung geometri sudah diperkenalkan kepada siswa pada saat jenjang tersebut. Dalam kehidupan sehari-haripun sering pula dijumpai hal-hal yang berkaitan dengan geometri, misalnya papan tulis, atap rumah, jendela pintu dan masih banyak yang lainnya. Sehingga geometri bukanlah hal asing lagi bagi siswa. Salah satu materi matematika yang diajarkan di SMA khususnya di kelas X pada semester 2 adalah materi dimensi tiga. Berdasarkan penelitian 1 2 yang telah dilakukan oleh banyak orang, sebagian besar dari mereka mengatakan bahwa dimensi tiga merupakan materi yang cukup sulit untuk dipahami dan sebagian besar siswa tidak menyukai materi ini. Hal tersebut disebabkan dalam materi ini siswa tidak hanya dituntut untuk dapat memahami konsepnya saja melainkan siswa juga harus mampu memvisualisasikan bangun yang ada pada soal ke dalam bentung tiga dimensi. Jika kesulitan belajar tersebut dibiarkan, maka tujuan pembelajaran matematika, khususnya materi dimensi tiga tidak akan tercapai dengan baik. Kesulitan belajar siswa tersebut, harus dapat diketahui dan diatasi sedini mungkin. Oleh karena itu, kami melakukan analisis terhadap kesulitan siswa dalam memahami materi dimensi tiga pada pembelajaran matematika SMA. B. Rumusan Masalah 1. Apa pengertian dari kesulitan belajar siswa? 2. Apa sajakah faktor-faktor penyebab kesulitan belajar siswa? 3. Apa saja kesulitan-kesulitan belajar siswa dalam memahami materi dimensi tiga? 4. Bagaimana solusi untuk mengatasi kesulitan belajar siswa dalam materi dimensi tiga? 3 C. Tujuan Dari rumusan masalah diatas, maka tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui: 1. Pengertian dari kesulitan belajar siswa 2. Faktor-faktor penyebab kesulitan belajar siswa 3. Kesulitan-kesulitan belajar siswa dalam memahami materi dimensi tiga 4. Solusi untuk mengatasi kesulitan belajar siswa dalam materi dimensi tiga D. Manfaat Adapun manfaat dari penulisan makalah ini adalah: 1. Bagi siswa, yaitu dapat mengetahui kesulitan-kesulitan dalam memahami materi dimensi tiga. 2. Bagi guru, yaitu dapat memberikan informasi tentang kesulitan-kesulitan siswa dalam memahami materi dimensi tiga, sehingga dapat memperbaiki proses pembelajaran yang selama ini dilaksanakan. 3. Bagi penulis, yaitu dapat memperoleh informasi tentang kesulitankesulitan siswa dalam memahami materi dimensi tiga. 4. Bagi peneliti lain, yaitu dapat memberikan informasi tentang kesulitankesulitan siswa dalam memahami materi dimensi tiga. BAB II KESULITAN SISWA DALAM MEMAHAMI MATERI DIMENSI TIGA PADA PEMBELAJARAN MATEMATIKA SMA A. Pengertian Kesulitan Belajar Kesulitan belajar siswa adalah suatu gejala atau kondisi dalam proses belajar mengajar yang ditandai oleh adanya hambatan-hambatan tertentu untuk mencapai hasil belajar (Askury,1999:136). Adakalanya hambatan-hambatan dalam proses belajar tidak disadari oleh siswa. Menurut Warkitri kesulitan belajar adalah suatu gejala yang nampak pada siswa yang ditandai adanya hasil belajar rendah serta dibawah norma yang telah ditetapkan. Pada umumnya proses belajar mengajar tidak terlepas dari upaya untuk membantu siswa dalam mengatasi kesulitan-kesulitan yang dihadapi siswa, walaupun kesulitankesulitan itu tidak selalu merupakan hal yang negatif bagi siswa. Guru dalam proses pembelajaran dapat mengambil manfaat dari kesulitankesulitan yang dialami siswa untuk perbaikan dalam pembelajaran yang sedang berlangsung atau untuk pembelajaran yang akan datang. Selain itu kesulitankesulitan siswa dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam menyusun sajian materi pelajaran, sehingga dapat untuk motivasi dalam belajar serta memilih metode yang tepat dalam pembelajaran. 4 5 B. Faktor Penyebab Kesulitan Belajar Sudjono dalam Askury (1999:137) mengklasifikasi kesulitan belajar matematika yang difokuskan pada penyebabnya, dibedakan atas faktor dasar umum dan faktor dasar khusus. 1. Faktor Dasar Umum Faktor dasar umum adalah faktor yang secara umum menjadi penyebab kesulitan belajar siswa, faktor-faktor itu terdiri dari; a. Faktor Fisiologis Hasil penelitian Brecker dan Bond dalam Askury (1999:137) mengungkapkan adanya hubungan yang positif antara kesulitan belajar dengan faktor fisiologis. Misalnya seorang yang pendengarannya lemah akan kesulitan dalam mengikuti penjelasan guru atau temannya. b. Faktor Intelektual Siswa yang mengalami kekurangan dalam daya abstraksi, generalisasi, dan kemampuan penalaran deduktif maupun induktif serta kemampuan numeriknya akan mengalami kesulitan dalam belajar matematika, karena kemampuan-kemampuan tersebut merupakan kemampuan dasar yang menentukan keberhasilan dalam belajar matematika. Misalnya siswa yang kesulitan memahami sifat komutatif dan sifat asosiatif dalam penjumlahan, maka siswa akan kesulitan meyelesaikan soal penyelesaiannya. yang melibatkan hukum-hukum itu dalam 6 c. Faktor Pedagogik Kesulitan yang disebabkan oleh guru, misalnya: 1) Guru tidak mampu memilih atau menggunakan metode mengajar yang sesuai dengan pokok bahasan dan kedalaman materinya. 2) Motivasi serta perhatian guru terhadap siswa kurang. 3) Cara pemberian motivasi yang kurang tepat, misalnya hukuman, membandingkan kemampuan individu siswa (siswa yang berkemampuan kurang selalu mendapatkan penilaian negatif dan sebaliknya). 4) Guru memperlakukan semua siswa secara sama. 5) Suasana kelas selama kegiatan belajar mengajar berlangsung cenderung kaku dan serius sehingga siswa kurang berani mengungkapkan pendapatnya. 6) Variasi bahasa yang digunakan guru dalam menyampaikan suatu konsep kurang, sehingga jika siswa kesulitan menangkap penyampaian guru maka akan timbul sikap negatif. d. Faktor Sarana dan Cara Belajar Siswa Kesulitan belajar matematika juga dapat disebabkan oleh keterbatasan sarana belajar seperti literatur, alat-alat bantu visualisasi, dan ruang tempat belajar. Literatur merupakan sarana belajar yang sangat penting karena merupakan sumber informasi yang utama tentang konsep atau prinsip yang harus dipahami siswa. Literatur juga dapat memberikan 7 informasi yang sifatnya ajeg dan dapat digunakan setiap saat. Disamping itu literatur juga memuat soal-soal, masalah-masalah, serta tantangan yang dapat menambah pengalaman serta penguasaan siswa atas suatu konsep atau prinsip. Penyajian konsep yang sederhana dan sistematis dapat menimbulkan sikap positif dalam diri siswa dan mendorong siswa untuk belajar secara mandiri. e. Faktor Lingkungan Sekolah Lingkungan sekolah yang nyaman, indah dan sejuk akan membuat siswa menjadi bergairah untuk belajar. Sebaliknya jika sekolah berada di dekat pusat-pusat keramaian seperti gedung bioskop, pusat perbelanjaan, terminal, bengkel yang mengeluarkan suara bising, atau pabrik maka suasana belajar menjadi tidak nyaman akibatnya aktivitas belajar siswa akan terganggu, sehingga siswa akan mengalami kesulitan dalam belajarnya. 2. Faktor Dasar Khusus Yang dimaksud dengan faktor dasar khusus adalah faktor yang secara spesifik menjadi penyebab siswa mengalami kesulitan melakukan aktivitas belajar. Faktor-faktor yang dimaksud meliputi: a. Kesulitan Menggunakan Konsep Dalam hal ini diasumsikan bahwa siswa telah memperoleh pembelajaran mengenai konsep, tetapi belum menguasai dengan baik karena mungkin lupa sebagian atau seluruhnya. Mungkin juga 8 penguasaan siswa atas suatu konsep masih kurang jelas atau kurang cermat sehingga ia kesulitan dalam menggunakannya. Menurut Sujono (1984) kesulitan menggunakan konsep disebabkan antara lain: 1) Siswa tidak mampu mengingat nama singkat suatu situasi, misalnya nama garis yang memotong lingkaran di dua titik, lambang ruas garis, sinar dan garis. 2) Ketidakmampuan siswa menyatakan arti istilah dalam suatu konsep, misalnya siswa tidak mampu menyatakan istilah, hukum komutatif, asosiatif, distributif, dan identitas. 3) Ketidakmampuan siswa mengingat satu atau lebih kondisi yang diharuskan (syarat perlu) untuk berlakunya suatu sifat tertentu, misalnya dalam mempelajari pengertian fungsi, bahwa fungsi adalah suatu relasi khusus bila dua anggota komponen pertama sama (anggota daerah asal) maka komponen kedua sama (anggota daerah hasil) merupakan syarat cukup untuk suatu fungsi atau siswa tidak mampu membedakan antara yang contoh dan bukan contoh. Disini siswa gagal mengklasifikasikan mana contoh dan mana yang bukan contoh. 4) Ketidakmampuan mengingat syarat perlu suatu objek yang dinyatakan oleh istilah yang ditunjukkan dalam konsep. Akibatnya siswa tidak dapat membedakan yang contoh dan yang bukan contoh. 9 Misalnya siswa lupa bahwa suatu relasi yang mempunyai dua anggota sama pada komponen pertama (anggota daerah asal) sedangkan anggota komponen kedua berbeda (anggota daerah hasil) bukan merupakan suatu fungsi. 5) Ketidakmampuan siswa membuat generalisasi berdasarkan suatu situasi tertentu, misalnya siswa tidak dapat menyimpulkan bahwa diagonal suatu belah ketupat berpotongan tegak lurus dan belah ketupat terdiri dari dua segitiga samakaki. Mungkin siswa juga mengalami kesulitan menerima generalisasi bahwa ‘luas daerah suatu belah ketupat sama dengan setengah dari hasil kali panjang diagonalnya’. b. Kurangnya Keterampilan Operasi Aritmetika Kesulitan siswa yang disebabkan oleh kurangnya keterampilan operasional aritmetika merupakan kesulitan yang disebabkan oleh kekurangmampuan dalam mengoperasikan secara tepat kuantitaskuantitas yang terdapat dalam soal. Operasi yang dimaksud meliputi penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian bilangan bulat, pecahan maupun desimal. Seperti yang dikemukan oleh Sa’dijah (1989) bahwa salah satu cabang matematika yang sangat berperan dalam melatih ketelitian, kecermatan dan ketepatan kerja adalah aritmetika. 10 c. Kesulitan Menyelesaikan Soal Cerita Soal cerita adalah soal yang disusun sedemikian rupa sehingga membentuk suatu cerita yang dapat dimengerti dan ditangkap secara matematis. Dapat juga dikatakan bahwa soal cerita merupakan pengungkapan masalah dalam kehidupan sehari-hari secara matematis. Kesulitan siswa dalam menyelesaikan soal cerita adalah kesulitan siswa memahami cerita itu, menetapkan besaran-besaran yang ada serta hubungannya sehingga diperoleh model matematika dan meyelesaikan model matematika tersebut secara matematika. Kadangkala siswa juga kesulitan dalam menentukan apakah bilangan yang merupakan selesaian model matematika itu merupakan jawab dari masalah semula. Kesulitan ini dialami tidak hanya oleh siswa sekolah menengah, tetapi juga siswa di jenjang pendidikan yang lebih tinggi. C. Kesulitan Belajar Siswa dalam Materi Dimensi tiga Materi dimensi tiga merupakan salah satu materi pelajaran matematika siswa kelas X SMA/MA. Ada sebagian siswa yang beranggapan bahwa materi dimensi tiga itu menyenangkan tetapi ada juga yang sebaliknya yaitu mengganggap bahwa materi dimensi tiga itu sulit dan menakutkan. Bagi siswa yang menyenangi materi dimensi tiga, mereka akan termotivasi dan merasa tidak terbebani ketika mempelajari dimensi tiga. Sehingga ketika dihadapkan 11 dengan berbagai permasalahan geometri, mereka akan dengan penuh semangat dan masalah rasa percaya diri berusaha untuk memecahkan masalah dimensi tiga. Sebaliknya bagi siswa yang beranggapan bahwa dimensi tiga itu sulit dan menakutkan, maka mereka akan merasa takut dan tidak bersemangat dalam mempelajari geometri. Sehingga ketika dihadapkan dengan permasalahan geometri, mereka akan merasa takut, terbebani, tidak bersemangat dan tidak percaya diri dalam memecahkan permasalahan geometri. Sikap-sikap tersebut tentu akan berpengaruh pada hasil belajar geometri siswa. Ada beberapa masalah yang dapat dijadikan indikasi sebagai penyebab kenapa sebagian siswa menganggap bahwa materi dimensi tiga itu sulit, antara lain: 1. Keterampilan siswa dalam menggambar dan menggunakan alat-alat untuk menggambar bangun-bangun ruang tiga dimensi masih rendah. 2. Kemampuan pemahaman konsep siswa masih kurang memuaskan. 3. Sebagian siswa hanya mengandalkan hafalan tanpa memahami konsep sehingga melakukan kesalahan dalam menyelesaikan soal. 4. Materi prasyarat adalah garis lurus, sudut, luas bangun datar, trigonometri, dan syarat-syarat berlakunya teorema Phytagoras belum dikuasai oelh sebagian siswa. Penyelesaian persoalan ruang dimensi tiga tidak hanya memerlukan keterampilan siswa namun juga melalui daya pikir dan penalaran. Disinilah 12 letak kesulitan siswa ketika mempelajari materi yang membuat siswa malakukan kesalahan dalam menyelesaikan soal-soal mengenai ruang dimensi tiga. Kesalahan adalah suatu bentuk penyimpangan dari suatu kebenaran prosedur yang telah ditetapkan sebelumnya atau menyimpang dari sesuatu yang diharapkan (kurniasari, 2007: 19). Banyaknya kesalahan yang dilakukan siswa dalam mengerjakan soal dapat menjadi petunjuk sejauh mana penguasaan siswa terhadap materi. Dari kesalahan yang dilakukan siswa dapat diteliti lebih lanjut mengenai penyebab kesalahan siswa dan penyebab tersebut harus segera mendapat pemecahan yang tuntas. Jika diperhatikan kesalahan siswa dalam menyelesaikan soal dimensi tiga sangatlah bervariasi. Menurut Ikan Kurniasari (2013) terdapat tiga jenis kesalahan yang sering dilakukan siswa dalam materi dimensi tiga, yaitu: kesalahan abstraksi, kesalahan prosedural, dan kesalahan konsep. 1. Kesalahan abstraksi yang dilakukan siswa meliputi: a. Kesalahan dalam pengabstraksian penentuan jarak pada bidang. Persentase kesalahan ini adalah 78% atau dilakukan oleh 55 orang siswa dari 70 orang siswa. b. Kesalahan siswa dalam pengabstraksian sudut antara garis dan bidang. Presentase kesalahan ini adalah 71% atau dilakukan oleh 50 orang siswa dari 70 orang siswa. 13 2. Kesalahan prosedural yang dilakukan siswa meliputi: a. Kesalahan pada perhitungan bentuk akar. Persentase kesalahan ini adalah 68% atau dilakukan oleh 48 orang siswa dari 70 orang siswa. b. Kesalahan penggunaan rumus phytagoras. Persentase kesalahan ini adalah 36% atau dilakukan oleh 25 orang siswa dari 70 orang siswa. 3. Kesalahan konsep yang dilakukan siswa meliputi: a. Kesalahan pada konsep jarak. Persentase kesalahan ini adalah 57% atau dilakukan oleh 40 orang siswa dari 70 orang siswa. b. Kesalahan pada konsep sudut. Persentase kesalahan ini adalah 36% atau dilakukan oleh 25 orang siswa dari 70 orang siswa. D. Solusi untuk Mengatasi Kesulitan Belajar Siswa dalam Materi Dimensi Tiga Adapun solusi untuk mengatasi kesulitan belajar siswa dalam memahami materi dimensi tiga diantaranya: 1. Dalam mengajarkan konsep, prinsip, atau keterampilan matematika terutama pada materi dimensi tiga guru harus mampu mengaitkan konsep, prinsip, serta keterampilan itu dengan pengalaman sehari-hari siswa yang diperoleh dari lingkungan sekitarnya. 14 2. Dalam pembelajaran matematika khususnya dimensi tiga guru hendaknya mampu menjelaskan konsep-konsep dalam dimensi tiga kepada siswa dengan bahasa yang sederhana. Jika memang diperlukan guru dapat menggunakan alat peraga matematika maupun software (seperti geogebra dan cabri) karena dengan bantuan alat peraga yang sesuai dengan pokok bahasan yang diajarkan, konsep dimensi tiga akan lebih mudah dipahami oleh siswa. 3. Dalam membantu mengatasi kesalahan yang dihadapi siswa, dilakukan dengan pembelajaran remidial. Kesalahan dibedakan dalam dua hal yaitu kesalahan konseptual atau kesalahan prosedural. Apabila terjadi kesalahan konseptual, dapat diatasi dengan cara mengajar kembali teori-teori atau rumus-rumus yang telah dipelajari. Pembelajaran dilaksanakan dengan cara yang berbeda dengaan cara sebelumnya. Kesalahan prosedural diatasi dengan mencoba kembali soal-soal atau permasalahan dengan memperhatikan fakta-fakta, konsep-konsep dan prinsip yang telah dipelajari sebelumnya. Pembelajaran dilaksanakan dengan cara yang berbeda dengan cara sebelumnya. 15 BAB III PENUTUP A. Simpulan Kesulitan belajar siswa adalah suatu gejala atau kondisi dalam proses belajar mengajar yang ditandai oleh adanya hambatan-hambatan tertentu untuk mencapai hasil belajar. Faktor-faktor penyebab kesulitan belajar siswa diantaranya terdiri dari faktor dasar umum dan faktor dasar khusus. Faktor dasar umum terdiri dari faktor fisiologis, faktor intelektual, faktor pedadogik, faktor sarana dan cara belajar siswa dan faktor lingkungan sekolah. Sedangkan faktor dasar khusus terdiri dari kesulitan menggunakan konsep, kurangnya keterampilan operasi aritmetika dan kesulitan menyelesaikan soal cerita. Kesalahan siswa dalam mempelajari materi dimensi tiga ini terdiri dari kesalahan abstraksi yaitu ketidakmampuan siswa dalam penentuan jarak pada pengabstraksian bidang dan ketidakmampuan siswa dalam pengabstraksian sudut antara garis dan bidang, kesalahan prosedural yaitu kesalahan pada perhitungan bentuk akar dan penggunaan rumus phytagoras dan kesalahan penggunaan rumus phytagoras serta kesalahan konsep yaitu kesalahan pada konsep jarak dan konsep sudut. Adapun solusi yang dapat mengatasi kesulitan siswa dalam memahami materi dimensi tiga adalah: 15 16 1. Dalam mengajarkan konsep, prinsip, atau keterampilan matematika terutama pada materi dimensi tiga guru harus mampu mengaitkan konsep, prinsip, serta keterampilan itu dengan pengalaman sehari-hari siswa yang diperoleh dari lingkungan sekitarnya. 2. Dalam pembelajaran matematika khususnya dimensi tiga guru hendaknya mampu menjelaskan konsep-konsep dalam dimensi tiga kepada siswa dengan bahasa yang sederhana. Jika memang diperlukan guru dapat menggunakan alat peraga matematika maupun software (seperti geogebra dan cabri) . 3. Dalam membantu mengatasi kesalahan yang dihadapi siswa, dilakukan dengan pembelajaran remidial. B. Saran 1. Pelajaran matematika perlu mendapatkan perhatian khusus agar tidak lagi dianggap sulit oleh siswa. 2. Guru perlu mempersiapkan rencana dan media pembelajaran yang mampu menarik minat dan mempermudah daya tangkap siswa terhadap materi yang diajarkan. 3. Siswa harus mampu memanfaatkan media pembelajaran yang telah difasilitasi oleh pendidik untuk meningkatkan pemahaman tentang materi pembelajaran yang disampaikan. DAFTAR PUSTAKA Hidayat, B.R., dkk. 2013. “Analisis Kesalahan Siswa dalam Menyelesaikan Soal pada Materi Ruang Dimensi Tiga Ditinjau dari Gaya Kognitif Siswa”. Jurnal Pendidikan Matematika Solusi Vol. 1 No. 1 Maret 2013. Surakarta: Universitas Negeri Sebelas Maret. Paridjo. 2008. “Sebuah Solusi Mengatasi Kesulitan Belajar Matematika”. Semarang: Universitas Terbuka Kurniasari, I. 2013. “Identifikasi Kesalahan Siswa dalam Menyelesaikan Soal Geometri Materi Dimensi Tiga Kelas XI IPA SMA”. 17

Judul: Makalah Kajimat

Oleh: Ngadiyono Ngadiyono


Ikuti kami