Makalah Hasil

Oleh Eka Askafi

778,1 KB 10 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Makalah Hasil

Hasil Penelitian HUBUNGAN MANAJEMEN MUTU PEMBELAJARAN DENGAN PROFESIONALISME GURU DI MTS NEGERI PARE KABUPATEN KEDIRI Untuk memenuhi persyaratan memperoleh gelar Magister Pendidikan Islam PROGRAM STUDI PENDIDIKAN ISLAM Oleh: A. TURYANTO NIRM : 122066 PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS DARUL ‘ULUM JOMBANG 2013 0 1 ABSTRAKSI A.Turyanto. 122066. Hubungan Manajemen mutu Pembelajaran dengan Profesionalisme Guru di MTs Negeri Pare Kabupaten Kediri. Pasca Sarjana Universitas Darul Ulum Jombang. Program Studi Manajemen Pendidikan Islam kata kunci : manajemen mutu, profesionalisme guru Dalam rangka meningkatkan profesional guru seperti diamanahkan oleh undang-undang dan peraturan pemerintah, maka diperlukan manajemen mutu untuk mewujudkan sumber daya pendidik yang bermutu, profesional, produktif dan memiliki komitmen yang tinggi. Hal ini untuk menanggulangi kemorosotan dan penurunan kompetensi profesional guru yang selama ini menjadi salah satu problema pendidikan khususnya di madrasah. Penelitian ini bertujuan untuk menggali dan menggambarkan implementasi manajemen yang berkaitan dengan peningkatan kompetensi profesional guru di MTs Negeri Pare dengan fokus penelitian sebagai berikut: (1). Bagaimana bentuk pembinaan dalam meningkatkan kompetensi profesional Guru MTs Negeri Pare (2). Bagaimana manajemen mutu dalam meningkatkan kualitas professional pendidik MTs Negeri Pare Untuk mencapai tujuan tersebut diatas, peneliti menggunakan pendekatan kuantitatif. pengumpulan data dilakukan dengan wawancara tak terstruktur, observasi partisipan dan dokumentasi. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh 65 guru di MTsN Pare dan semuanya ditetapkan sebagai responden. Dalam penelitian ini terdapat Variabel X (mutu) dan Y (profesionalisme). Metode pengumpulan data menggunakan angket yang dibagikan kepada seluruh siswa klas VII sebagai responden untuk kemudian diolah melalui analisa pearson correlation dengan menggunakan software SPSS versi 17. Berdasarkan uji hipotesis didapati kesimpulan bahwa (1) Ha diterima atau terdapat korelasi yang signifikan (0,000<0,01) manajemen mutu pembelajaran terhadap profesionalisme guru siswa kelas VII MTs Negeri Pare (2) koefisien korelasi manajemen mutu pembelajaran dengan profesionalisme guru siswa di MTs Negeri Pare adalah sebesar 0,971 yang menunjukkan korelasi yang sangat kuat sesuai tabel interpretasi. Berdasarkan penelitian tersebut disarankan agar implementasi manajemen mutu dapat ditingkatkan. Semakin baik dalam penerapan manajemen mutu akan semakin meningkatkan profesionalisme guru yang akan diikuti pula peningkatan kualitas pendidikan di Madrasah atau Sekolah. Kepada segenap guru, hendaknya selalu berusaha untuk mengembangkan profesionalisme guru, sehingga benar – benar dapat memenuhi tuntutan masyarakat yang semakin meningkat 2 ABSTRACT A.Turyanto. 122066. Correlation between quality management of Lessons and teachers professionalism in Islamic Yunior High School of Pare Kediri. Postgraduate University Darul Ulum Jombang. Islamic Education Management Studies Program. keywords: quality management, teachers professionalism Improvement of the professional teachers as part of the fulfillment of standards of competence of national education as diamanahkan by the laws and regulations of the Government, it is necessary to realize the quality management resources educator quality, professional, productive and has a high commitment. This is to cope with increase and a decrease in professional competence of teachers who had been one of the problems of education especially in the madrasah. This research aims to unearth and describes quality management implementation with regard to the improvement of professional teachers in Islamic Yunior High School of Pare Kediri with research focus as follows: (1). How to increase competency forms coaching Professional eachers Islamic Yunior High School of Pare (2). How quality management in improving the quality of professional teachers in Islamic Yunior High School of Pare. To achieve those goals, quantitative approach using researcher. data collection is carried out by sampling methods. the interview is a structured, observation and documentation of the participants. The population and sample in this research is all the teachers in the Islamic Islamic Yunior High School of Pare which is 65 teachers, because the population is less than 100 in its account, then the sample is taken from that populationDesign of this research is a quantitative research because testing the relationship between two variable there is independent variable (teachers personal competency) and dependent variable (students morality). Collecting data methods using questionnaire which is given to students class VII in Islamic Junior High School of Pare as the respondents than it is analyzed using pearson correlation and proceed with 17th version of SPSS software. The results of this study indicate that: (1) Ha accepted or there is significant correlation (0,000<0,01) between quality management of lessons and teachers professionalism in Islamic Junior High School of Pare (2) correlation coeficients amounted 0,971 is showing there is a very high level as category of coefficients the relationship between quality management of lessons and teachers professionalism in Islamic Junior High School of Pare Kediri. Based on these studies it is suggested that the implementation of quality management can be improved. The better the quality management implementation will further enhance the professionalism of teachers who will be followed also improving the quality of education in Madrasah or school. To all teachers, should always strive to develop the professionalism of teachers, so really - really can meet the ever increasing demands of society 3 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tuntutan terhadap lulusan dan layanan lembaga pendidikan yang bermutu semakin mendesak karena semakin ketatnya persaingan dalam lapangan kerja. Salah satu implikasi globalisasi dalam pendidikan yaitu adanya deregulasi yang memungkinkan peluang lembaga pendidikan asing membuka sekolahnya di Indonesia. Oleh karena itu persaingan antar lembaga penyelenggara pendidikan dan pasar kerja akan semakin kompetitif. Mengantisipasi perubahan-perubahan yang begitu cepat serta tantangan yang semakin besar dan kompleks, tiada jalan lain bagi lembaga pendidikan kecuali hanya mengupayakan segala cara untuk meningkatkan daya saing lulusan serta produk-produk akademik dan layanan lainnya, yang antara lain dicapai melalui peningkatan mutu pendidikan. Keberhasilan pembangunan dalam bidang pendidikan perlu didukung oleh tersedianya sumber daya manusia yang berkualitas untuk menghadapi arus globalisasi yang sangat memerlukan kemampuan, pengetahuan dan keterampilan. Untuk itu, pendidikan nasional dewasa ini lebih diarahkan pada usaha-usaha pembentukan pribadi yang mandiri, yang mampu menyerap ilmu pengetahuan dan teknologi karena arus globalisasi tidak lagi terletak pada tenaga kerja yang murah dan sumber daya alam (SDA) yang melimpah, akan tetapi pada kualitas sumber daya manusia (SDM) dengan penguasaan yang tinggi terhadap informasi, Ilmu pengetahuan dan Teknologi. Keunggulan kompetitif nasional akan sangat tergantung pada angkatan kerja yang memiliki pendidikan profesional, keterampilan kerja yang canggih dan memiliki etos kerja yang tinggi.1 Untuk itu, agar bangsa Indonesia unggul dalam percaturan Internasional, dunia pendidikan perlu dikelola oleh tenaga yang professional dan mampu menghasilkan lulusan yang berkompeten.2 Guru sebagai tenaga kependidikan merupakan faktor yang menentukan keberhasilan program pendidikan, karena itu peningkatan mutu sekolah mempersyaratkan adanya guru yang profesional.3 Tenaga kependidikan harus betul-betul profesional dengan memiliki kompetensi sebagaimana yang diisyaratkan diatas dan mampu mengelola segala sesuatu secara sistematis, efektif dan efisien. Dunia pendidikan kalau boleh 1 Muslim, Era Era Globalisasi dan berbagai implikasinya terhadap dunia pendidikan, Media Pendidikan dan Ilmu Pengetahuan, Juli 1997 hal 34 2 Djojonegoro. Dunia Pendidikan harus Berdialog dengan Dunia Nyata, Jakarta: Media Indonesia, 20 Desember 1995 hal. 20 3 Bafadal, Ibrahim. Peningkatan Profesionalisme Guru Sekolah Dasar, Jakarta: PT. Bumi Aksara 2004 hal v 4 diibaratkan sebuah industri yang harus dikelola secara profesional agar menghasilkan komoditi yang bermutu tinggi dan dapat dipasarkan. Ini artinya bahwa keberhasilan pendidikan sangat ditentukan oleh profesionalisme guru. Tenaga guru profesional yang merupakan unsur terpenting harus dipersiapkan, karena akan sangat menentukan produktifitas sekolah. Pengadaan atau rekrutmen guru-guru harus selektif, sehingga mampu menghasilkan output sekolah yang siap bersaing ditengah-tengah percaturan global. Harriwung , Guru merupakan unsur utama yang harus diberikan perhatian lebih jika ditinjau dari segi posisi yang ditempati dalam struktur organisasi pendidikan maupun kalau dilihat dari tugas yang diemban4. Guru merupakan pelopor terdepan didalam mensukseskan tujuan pendidikan nasional, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Oleh karena itu, setiap guru harus kreatif dan inovatif didalam melaksanakan tugas kependidikannya. Tidak berlebihan kiranya, kalau dikatakan bahwa lulusan suatu sekolah sangat ditentukan oleh peranan guru didalam melaksanakan proses belajar mengajar. Sebagaimana tercantum dalam Al-Qur’an surat Al-Mujadalah ayat 11 yang berbunyi :                                  Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. Namun tidak bisa dipungkiri bahwa standar kualifikasi pendidikan guru secara nasional belum terpenuhi sebagaimana disyaratkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 / 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, bahwa standar 4 Harriwung, A.J.. Supervisi Pendidikan, Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, ProyekPengembangan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan 1989 hal 13 5 pendidikan seorang guru minimal S1 / D4. Di lapangan masih banyak ditemukan bukti bahwa guru SD/MI yang belum berijazah D2, hanya tamatan SMA, guru SMP/MTs dan SMA/MA juga masih banyak ditemukan berijazah dibawah D3. Ini artinya bahkan kompetensi guru boleh dikata jauh dari harapan karena masih banyak guru-guru yang mengajar bidang studi yang bukan merupakan spesialisasi keilmuannya, bahkan banyak juga guru yang background pendidikannya non keguruan. Sehingga pembinaan tenaga guru dihadapkan pada tingkat profesionalisme guru, baik substansi ilmu dalam mata pelajaran yang dipegang ataupun kemampuan dan penguasaan metodologi. Hal ini merupakan persoalan pendidikan secara nasional yang masih dihadapi bangsa Indonesia sejak dulu sampai saat ini. Hasil penelitian Tilaar, juga mengungkap realitas mutu dan profesi guru, bahwa dari 2,17 juta guru SD, SMP dan SMA, ternyata banyak juga yang tidak memenuhi syarat kalau dilihat dari latar belakang keilmuannya. Keadaan ini sangat mempengaruhi kualitas produk yang dihasilkan.5 Permasalahan inilah yang kemudian memunculkan masalah lain, yaitu ketidaksesuaian keahlian dengan mata pelajaran yang diajarkan. Persoalan profesionalisme guru ini menuntut peranan sekolah (dalam hal ini kepala sekolah) dalam mengembangkan dan memberdayakan potensi guru yang dimiliki dengan pendidikan dan pelatihan terkait. Namun ketika persoalannya demikian, maka pelatihan-pelatihan yang diselenggarakan akan tidak efektif karena dihadapkan pada profesionalisme.6 Untuk mengungkap persoalan profesionalisme guru tersebut, peneliti terdorong melakukan penelitian di lembaga pendidikan Islam dari segi aspek Manajemennnya dalam Pengembangan Profesionalisme guru di Madrasah Prinsip untuk membentuk komponen pendidikan didasarkan pada upaya sistematis yang berkesinambungan untuk peningkatan kualitas lembaga pendidikan yang dimanifestasikan dalam bentuk siklus kegiatan jaminan kualitas.7 Kehadiran Madrasah ditengah masyarakat tidak hanya berfungsi sebagai lembaga pendidikan, akan tetapi juga sebagai lembaga penyiaran agama dan sosial keagamaan. Dengan sifatnya yang lentur sejak kehadirannya serta memenuhi tuntutan masyarakat, maka seiring dengan perubahan zaman, maka secara dinamis ia tetap berkembang memenuhi tuntutan masyarakat. 5 6 7 H.A.R Tilaar, , Membenahi Pendidikan Nasional, Jakarta: Rineka Cipta 2002 hal 266 Sanusi, A.. Beberapa Dimensi Mutu Pendidikan, Bandung: FPS IKIP 1990 hal 10 Riyadi, Ali , Filsafat Pendidikan Islam Yogyakarta,Teras. 2010 hal 264 6 B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka peneliti memformulasikan permasalahan dalam penelitian ini yaitu “Seberapa besar hubungan manajemen mutu dengan peningkatan profesionalisme guru di MTsN Pare Kabupaten Kediri?” C. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa besar hubungan manajemen mutu dengan peningkatan profesionalisme guru di MTsN Pare Kabupaten Kediri. D. Manfaat Penelitian Penelitian ini diharapkan mampu memberikan konstribusi yang berharga bagi khazanah pendidikan, khususnya terkait dengan isu-isu peningkatan profesionalisme guru yang merupakan faktor utama dalam dunia pendidikan. Dengan demikian penelitian ini mempunyai beberapa manfaat, yaitu: a. Bagi peneliti, akan lebih memahami persoalan-persoalan seputar manajemen mutu dalam pengembangan profesionalisme guru madrasah. b. Bagi Lembaga terkait, sebagai bahan masukan bagi pengelola lembaga pendidikan akan pentingnya arti manajemen mutu dalam pengembanganeningkatkan Profesionalisme guru madrasah. c. Bagi dunia pendidikan pada umumnya, sebagai khazanah intelektual yang perlu dikaji kembali. II. KAJIAN PUSTAKA A. Manajemen Mutu Dari definisi kata manajemen dan mutu tersebut, maka manajemen mutu dapat dipahami sebagai keseluruhan aktivitas dari fungsi-fungsi manajemen yang menentukan kebijaksanaan mutu, tujuan dan tanggung jawab. Fungsi-fungsi manajemen tersebut terimplementasikan dalam bentuk perencanaan mutu, pengendalian mutu, penjaminan mutu dan peningkatan mutu. Manajemen Mutu dalam pendidikan telah dinyatakan oleh Sallis, bahwa "Quality Management is about creating a quality culture where the aim of every member of staff is to delight 7 their customer, and where the stucture of their organizations allow to do so”.8 Mengandung pengertian bahwa Manajemen mutu (Quality Management) berhubungan dengan penciptaan budaya kualitas, dimana guru dan staf berusaha menyenangkan hati pelanggan sesuai dengan tujuan organisasi. Menyenangkan konsumen berarti terpenuhinya semua kebutuhan sesuai dengan harapan. Seiring dengan probabilitas zaman dan berkembangnya berbagai kebutuhan manusia, maka manajemen mutu harus seiring dengan perkembangan zaman. karena itu menuntut perbaikan mutu secara berkesinambungan (continous improvement) dengan harapan dapat memberikan kepuasan pada para pelanggan sesuai dengan tuntutan zaman yang terus berkembang Dalam upaya untuk meningkatkan kualitas yang diinginkan dengan didasarkan pada kepuasan pelanggan, maka diperlukan strategi penerapan manajemen mutu yang tepat agar tujuan yang telah direncanakan tercapai secara maksimal. Implementasi Mutu merupakan realisasi dari ajaran ihsan, yakni berbuat baik kepada semua pihak disebabkan karena Allah telah berbuat baik kepada manusia dengan aneka nikmatNya, dan dilarang berbuat kerusakan dalam bentuk apapun seperti dalam Q.S Al Qashas : 77. 9                                Artinya : ”Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan”. (Al Qashas : 77).10 Seseorang tidak boleh bekerja dengan ”sembrono” (seenaknya) dan acuh tak 8 Sallis,Edward Total Quality Management in Education : Manajemen Mutu Pendidikan, Terj. Ahmad Ali Riyadi dan Fahrurrazi, 2002 Yogyakarta : IRCISOD 9 Muhaimin, Manajemen Penjaminan Mutu di UIN Malang, (Malang: UIN Malang. 2005), hlm 12 10 Al Qur’an dan Terjemahnya (Jakarta: Departemen Agama, 1990), hlm. 623. 8 acuh, sebab akan berarti merendahkan makna demi ridha Allah atau merendahkan Tuhan seperti dalam surat Q.S Al Kahfi : 110. 11                           Artinya: “Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa Sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa". Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadat kepada Tuhannya". (Q.S Al Kahfi : 110). 12 Seseorang harus bekerja secara efisien dan efektif atau mempunyai daya guna yang setinggi-tingginya. Seperti dalam Q.S Al Sajdah : 7.13              Artinya : ”Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan yang memulai penciptaan manusia dari tanah”. (Q.S Al Sajadah : 7). 14 B. Profesionalisme Guru Istilah profesionalisme guru terdiri dari dua suku kata yang masing-masing mempunyai pengertian tersendiri, yaitu kata Profesionalisme dan Guru. Ditinjau dari segi bahasa (etimologi), istilah profesionalisme berasal dari kata Bahasa Inggris “profession” yang berarti jabatan, pekerjaan, pencaharian, yang mempunyai keahlian 15, sebagai mana disebutkan oleh S.Wojowasito. Selain itu, 11 Ibid hlm 12 Al Qur’an dan Terjemahnya, loc. cit, hlm. 460. 13 Muhaimin, op. cit. hlm. 12 14 Al Qur’an dan Terjemahnya, loc .cit, hlm. 661 15 S. Wojowasito, WJS. Poerwadarminto, Kamus Bahasa Inggris Indonesia-Indonesia Inggris (Bandung: Hasta, 1992), hal. 162 12 9 Drs. Petersalim dalam kamus bahasa kontemporer mengartikan kata profesi sebagai bidang pekerjaan yang dilandasi pendidikan keahlian tertentu. 16 Dengan demikian kata profesi secara harfiah dapat diartikan dengan suatu pekerjaan yang memerlukan keahlian dan ketrampilan. tertentu, dimana keahlian dan ketrampilan tersebut didapat dari suatu pendidikan atau pelatihan khusus. C. Hubungan Manajemen Mutu dalam peningkatan Profesionalisme Guru Pemikiran tentang manajemen modern seperti halnya manajemen mutu, semula berasal dari dunia bisnis, baik yang bersifat produksi maupun jasa. Mutu merupakan program utama karena kelanggengan dan kemajuan usaha sangat ditentukan oleh mutu sesuai dengan permintaan dan tuntutan pasar. Permintaan dan tuntutan pasar terhadap produk dan jasa layanan harus selalu ditingkatkan. Dalam perkembangan selanjutnya, mutu bukan saja menjadi kepedulian dunia bisnis saja, akan tetapi telah memasuki sektor-sektor lain, seperti pemerintahan, layanan sosial, pendidikan, bahkan bidang keamanan dan ketertiban (Sukmadinata, 2006: 8).17 Dalam dunia pendidikan, faktor mutu meliputi banyak hal, yaitu mutu lulusan, mutu pengajaran, bimbingan dan latihan dari guru, serta mutu profesionalime dan kinerja guru. Mutu-mutu tersebut mengisyaratkan perlunya manajer yang mampu memberdayakan potonsi-potensi yang dimiliki, keterbatasan dana dan prasarana, fasilitas pendidikan, media, sumber belajar, alat dan bahan latihan, iklim sekolah, lingkungan pendidikan, serta dukungan dari pihak-pihak yang terkait dengan pendidikan. Lemahnya mutu dari komponen-komponen pendidikan tersebut akan berujung pada rendahnya mutu lulusan. Untuk itu, hal mendasar yang harus diperhatikan adalah sistem manajemen yang kuat. Dalam penerapan manajemen mutu ini dikenal ada trilogy mutu, yaitu: 1) perencanaan mutu, 2) Pengendalian mutu dan 3) perbaikan mutu. Terkait dengan pengembangan profesionalisme guru, trilogi mutu tersebut bertujuan untuk mendapatkan guru yang professional dengan harapan akan menghasilkan mutu lulusan yang kompetitif sesuai dengan dinamika pasar tenaga kerja. Untuk mengejar mutu, maka manajemen mutu dalam pengembangan profesionalisme guru harus mantap, mantap pada perencanaan mutu guru yang profesional, mantap dalam pelaksanaan mutu dan mantap pula dalam pengendalian mutu. Dengan 16 Salim, Yeny salim, Kamus Indonesia Kontemporer, Moderninglish (Jakarta: Pres,1991), hal. 92 Nana Syaodih Sukmadinata, , Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek , 2005 Bandung : Remaja Rosdakarya 17 10 demikian maka kesalahan dalam pelaksanaan proses kependidikan di lembaga-lembaga pendidikan dapat dieliminasi dan dapat mencapai keunggulan kompetitif lulusannya sesuai dengan kebutuhan. A. Hipotesis Penelitian Ha = Terdapat Korelasi Antara Manajemen Mutu Pembelajaran dengan Profesionalisme Guru di MTs Negeri Pare Kabupaten Kediri III. METODE PENELITIAN A. Jenis penelitian Penelitian ini bermaksud untuk mengkaji pengaruh manajemen mutu terhadap peningkatan profesionalisme guru. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif karena penelitian ini mencakup hal-hal yang didasarkan atas perhitungan prosentasi, perhitungan statistik dan lain-lain.18 B. Variabel Penelitian 1. Variabel bebas (independent variabel) Yaitu manajemen mutu dengan indikator : a. Perencanaan b. Organizing c. Actuating d. Controling 2. Variabel terikat (dependent variabel) Yaitu Peningkatan Profesionalisme Guru dengan indikator : a. Kompetensi Pedagogik b. Kompetensi Kepribadian c. Kompetensi Profesional d. Kompetensi Sosial C. Subyek Penelitian Dalam penelitian ini populasi yang akan diteliti sejumlah seluruh guru yaitu sekitar 65 guru. Jadi Subyek dari penelitian ini merupakan keseluruhan populasi yang menjadi target untuk diteliti. D. Instrumen Penelitian 18 Sukardi, Metodologi Penelitian Pendidikan: Kompetensi dan Praktiknya, (Jakarta: Bumi Aksara, 2007), Cet: IV, hlm. 15 11 Instrumen dalam penelitian ini adalah angket yang merupakan daftar pertanyaan yang diajukan kepada responden untuk dijawab. Pada pengambilan data dengan instrumen angket, penentuan skor item pernyataan terhadap masalah yang diteliti dilakukan dengan pengukuran item yang terdiri dari empat opsi yang mempunyai gradasi dari positif sampai negatif ( lihat Tabel berikut) Tabel Skoring Alternatif Jawaban 1. 2. 3. 4. 5. Sangat sesuai dengan diri anda Sesuai dengan diri anda Biasa saja Tidak sesuai dengan diri anda Sangat tidak sesuai dengan diri anda Nilai 5 4 3 2 1 E. Validitas dan Realibilitas Instrumen a. Uji Validitas Instrumen Uji validitas terhadap instrumen penelitian menggunakan perhitungan Product Moment, dengan alasan karena skala data dalam penelitian ini termasuk data interval. Adapun formula Product Moment adalah sebagai berikut:14 Dimana r xy N ∑ XY ∑X ∑Y = = = = = koefisien korelasi jumlah kasus jumlah hasil perkalian antara skor x dan skor y jumlah keseluruhan skor x jumlah kesleuruhan skor y b. Uji Reliabilitas lnstrumen Teknik pengujian reliabilitas adalah dengan menggunakan nilai Alpha Cronbach. Rumus alpha ini digunakan untuk mencari reliabelitas 12 yang skornya bukan 1 dan 0,16 atau dengan kata lain bukan variabel diskrit. Seperti yang telah dikemukakan di atas, bahwa variabel dalam penelitian ini termasuk variabel interval dengan skala perhitungan koefisien Alpha Cronbach sebagai berikut: 19 Menurut Malhotra (1996) 19 jika koefisien alpha > 0,6 maka dapat dikatakan bahwa item-item dalam kuesioner tersebut adalah reliabel. Jadi, kriteria pengambilan keputusannya adalah apabila nilai dari Alpha Cronbach lebih besar dari 0,6 maka variabel tersebut sudah dianggap reliabel (handal). Lebih lengkap mengenai keputusan reliabilitas instrumen berdasarkan koefisien Alpha Cronbach, dapat dilihat dalam tabel berikut: Tabel Kriteria Reliabilitas Mengacu pada Koefisien Alpha Cronbach No Interval Kriteria 1. < 0,200 Sangat rendah 2. 0,200-0,399 3. 0,400-0,599 4. 0,600-0,799 5. 0,800-1,00 Rendah Cukup Tinggi Sangat Tinggi F. Analisa Data 1. Analisis Deskriptif Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data kuantitatif yang dinyatakan dalam angka dan dianalisis dengan teknik statistik. 2. Uji Hipotesis 19 Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktek, (Jakarta: Renika Cipta, 2002), hlm 145 13 Hipotesis dibuktikan dengan analisis korelasi sederhana (simple correlation) dengan menggunakan SPSS 17 atau dengan rumus product moment, yakni : rxy  N  x N  xy -  x  y  2 -  x  2 N  y 2 -  y  2  a. Untuk menyatakan dan menentukan tingkat signifikansi pada korelasi product moment dengan software SPSS 17 penulis berpijak pada : a) Nilai probabilitas (p) dengan kriteria sebagai berikut :  Jika nilai p < α (0,01 atau 0.05) maka Ha diterima atau terdapat korelasi signifikan  Jika nilai p > α (0,01 atau 0.05) maka Ha ditolak atau tidak terdapat korelasi signifikan b) Nilai rhitung atau rxy  Jika nilai rhitung > rtabel maka Ha diterima atau terdapat korelasi signifikan  Jika nilai rhitung < rtabel maka Ha ditolak atau tidak terdapat korelasi signifikan b. Untuk menyatakan dan menentukan bobot besaran tingkat korelasi menggunakan kriteria rentang nilai koefisien korelasi, ysitu : 0,800 sampai dengan 1,000 Tinggi 0,600 sampai dengan 0,800 Cukup 0,400 sampai dengan 0,600 Agak rendah 0,200 sampai dengan 0,400 Rendah 0,000 sampai dengan 0,200 Sangat rendah 20 IV. Analisis Deskriptif a. Hasil Analisis Descriptif (Descriptive Analysis) Tabel Descriptive Statistics Descriptive Statistics N mutu profess Valid N (listwise) 20 Range 65 65 32.00 28.00 Minimum 44.00 47.00 Maximum 76.00 75.00 Mean Std. Deviation 59.8615 60.4154 65 Sutrisno Hadi,.. Metodologi Research Jilid 1. (Yogyakarta : Andi Offset, 2000) 8.37010 8.41296 Variance 70.059 70.778 14 Tabel Interval variabel Manajemen mutu pembelajaran No Interval Keterangan 1 20 - 36 Tidak Baik 2 37 - 53 Kurang Baik 3 54 - 70 Sedang 4 71 - 87 Baik 5 88 - 104 Sangat Baik Jumlah Jumlah 16 41 8 65 Prosentase 24,6% 63,1% 12,3% 100% Sumber: data primer Berdasarkan tabel diatas maka dapat dijelaskan bahwa sebanyak 16 responden guru MTs Negeri Pare (24,6%) kurang baik dalam menerapkan Manajemen mutu pembelajaran di MTsN Pare, 40 guru (61,5%) diantaranya sedang, sementara sisanya yaitu sebanyak 8 guru (13,9%) yang baik dalam menerapkan Manajemen mutu pembelajaran di MTsN Pare. Hasil temuan ini menunjukkan bahwa penerapan manajemen mutu pembelajaran siswa di MTs Negeri Pare perlu ditingkatkan lagi. Gambar Grafik Manajemen mutu pembelajaran 15 Tabel Interval variabel Profesionalisme guru No 1. Interval 20 - 36 Keterangan Jumlah Prosentase Sangat rendah - - 2. 37 - 53 rendah 17 26,2% 3. 54 - 70 sedang 40 61,5% 4. 71 - 87 Tinggi 8 12,3% 5. 88 - 104 Sangat tinggi - - 65 100% Jumlah Sumber: data primer Berdasarkan hasil data diatas maka dapat dijelaskan bahwa sebanyak 17 responden (26,2%) guru MTsN Pare yang mempunyai Profesionalisme guru yang rendah, 40 guru (61,5%) dalam kategori Profesionalisme guru sedang dan sisanya sebanyak 8 guru (12,3%) dalam kategori Profesionalisme guru yang tinggi. Ini menunjukkan bahwa peningkatan profesionalisme guru di MTs Negeri Pare cukup signifikan, namun masih jauh dari harapan sehingga sangat perlu untuk ditingkatkan lagi. Gambar 4.2 Grafik Profesionalisme guru 16 C. Uji Hipotesis Uji hipotesis untuk mengetahui ada tidaknya korelasi antara manajemen mutu pembelajaran dan profesionalisme guru di MTs Negeri Pare menggunakan analisis pearson corrrelation dengan bantuan program SPSS 17.00 for Windows. dengan taraf probabilitas 0,01. Dimana : a. H0 : p > 0,01 ada korelasi yang signifikan manajemen mutu pembelajaran dengan profesionalisme guru di MTs Negeri Pare b. Ha : p < 0,01 tidak ada korelasi yang signifikan manajemen mutu pembelajaran dengan profesionalisme guru di MTs Negeri Pare Tabel Uji korelasi Correlations mutu mutu Pearson Correlation profess 1 Sig. (2-tailed) N profess Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N .971 ** .000 65 65 ** 1 .971 .000 65 65 **. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed). Berdasarkan tabel diatas tingkat signifikansi manajemen mutu pembelajaran dan profesionalisme guru menunjukkan angka 0,00 (p < 0,01), berarti Ha diterima atau terdapat korelasi yang signifikan antara manajemen mutu pembelajaran dan profesionalisme guru MTs Negeri Pare Dari hasil analisis korelasi sederhana (r) didapat korelasi antara manajemen mutu pembelajaran dengan profesionalisme guru adalah 0,971. Hal ini menunjukkan bahwa terjadi hubungan yang sangat kuat (sesuai kategori interpretasi koefisien) korelasi antara manajemen mutu pembelajaran dengan profesionalisme guru klas VII di MTsN Pare. 17 V. PENUTUP A. Kesimpulan 1. Gambaran penerapan manajemen mutu yang dipersepsikan responden tergolong kategori sedang sehingga perlu ditingkatkan, dan peningkatan profesionalisme guru di MTsN Pare yang dipersepsi responden cukup signifikan, namun masih jauh dari harapan sehingga sangat perlu untuk ditingkatkan lagi.. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan manajemen mutu dan peningkatan profesionalisme guru di MTs Negeri Pare sudah cukup baik. 2. Ada Hubungan yang signifikan manajemen mutu terhadap peningkatan profesionalisme guru di MTs Negeri Pare. Semakin baik penerapan manajemen mutu, maka profesionalisme guru akan semakin meningkat. Pola hubungan manajemen mutu terhadap profesionalisme guru dibuktikan dengan uji korelasi product moment person menunjukkan hasil analisis korelasi sederhana (r) didapat korelasi antara manajemen mutu dengan peningkatan profesionalisme guru (r) adalah 0,971. Sedangkan interpretasi koefisien korelasi 0,80 - 1,000 = sangat kuat. Hal ini menunjukkan bahwa terjadi hubungan yang sangat kuat antara manajemen mutu dengan peningkatan profesionalisme guru. Sedangkan arah hubungan adalah positif karena nilai r positif, berarti semakin tinggi manajemen mutu maka semakin meningkatkan profesionalisme guru. B. Saran 1. Untuk meningkatkan profesionalisme guru hendaknya implementasi manajemen mutu dapat ditingkatkan. Semakin baik dalam penerapan manajemen mutu akan semakin meningkatkan profesionalisme guru yang akan diikuti pula peningkatan kualitas pendidikan di Madrasah atau Sekolah. 2. Kepada segenap guru, hendaknya selalu berusaha untuk mengembangkan profesionalisme guru, sehingga benar – benar dapat memenuhi tuntutan masyarakat yang semakin meningkat. 3. Kepada pihak manajemen madrasah hendaknya dapat memberikan dorongan kepada guru – guru agar kompetensi guru dapat terpenuhi yang berimbas pada peningkatan kualitas pendidikan di madrasah atau sekolah. 4. Bagi Peneliti Selanjutnya diharapkan untuk menjadikan penelitian ini sebagai referensi. 18 DAFTAR PUSTAKA Abdurrahman An-Nahlawi, Prinsip-Prinsip dan Metode Pendidikan Islam, Diponegoro Bandung : Abudin Nata , 2006. Paradigma Pendidikan Islam, Jakarta : Grasindo dan IAIN Syarif Hidayatullah Ahmad Tafsir, 1994, Ilmu Pendidikan Dalam Persepektif Rosdakarya Islam. Bandung: Remaja Ali Riyadi, 2010, Filsafat Pendidikan Islam, Teras, Yogyakarta Amidjaja dan Tisna, 2002, Pola Pembaharuan Sistem Tenaga Kependidikan, Jakarta : DEPDIKBUD Bill Creech, 1996, Lima Pilar (Manajemen Mutu Terpadu) TQM : Cara membuat Total Quality Manajemen Bekerja Bagi Anda , Jakarta : Binapura Aksara. Burhanuddin dkk, 2004, Manajemen Pendidikan, Malang : Universitas Negeri Malang. E. Mulyasa, 2007, Standar Kompetensi dan Sertifikasi Guru, Bandung: Remaja Rosdakarya E. Mulyasa, 2002, Kurikulum Berbasis Kompetensi, Bandung : Remaja Rosdakarya George R Terry, 2006, Prinsip -Prinsip Manajemen, Jakarta : Bumi Aksara. H.A.R Tilaar, 2002, Membenahi Pendidikan Nasional, Jakarta: Rineka Cipta Hadari Nawawi. 1988. Administrasi Pendidikan . Jakarta: Haji Masagung Hasan Langgulung , 1998, Pedidikan Islam Menghadapi abad 21, Jakarta: Pustaka Al-Husna Lexy Moleong, 2001, Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya Made Pidarta. 1998. Manajemen Pendidikan Indonesia . Jakarta : PT. Bina Aksara Moh. User Usman, 1994, Menjadi Guru Profesional, Bandung : Remaja Rosdakarya Muhammad Surya, 2007, Organisasi Profesi. Kode Etik dan Kehormatan Guru , tanpa nama kota dan penerbit Muhibbin Syah, 1996, Psikologi Pendidikan : Suatu Pendekatan Baru , Bandung : Remaja Rosdakaraya Mulyasa , 2007, Menjadi Kepala Sekolah Profesional, Bandung : Remaja Rosda Karya 19 Ngalim Purwanto, 1998, Administrasi dan Supervisi Pendidikan. Bandung : Remaja Rosdakarya Nana Syaodih Sukmadinata, 2005, Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek , Bandung : Remaja Rosdakarya Nana Sudjana, 1989, Penelitian dan Penilaian Pendidikan, Bandung : Sinar Baru Nana Sudjana, 2000, Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar, Bandung : Sinar Baru Algesindo Nanang Fattah, 2000, Landasan Manajemen Pendidikan, Bandung: PT Remaja Rosda Karya Nurhaidah Amin Das, Perdito, 1981, Desain Instruksional, Jakarta : P35, Depdikbud Oemar Hamalik, 2001, Proses Belajar Mengajar, Jakarta : Bumi Aksara S. Nasution, 2007, Metode Reseach (Penelitian Ilmiah), Jakarta : Bumi Aksara Sardiman, 1992, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar Pedoman Bagi Guru dan Calon Guru, Jakarta: Rajawali Syaiful Bahri Djamarah, 2000, Guru dan Anak Didik , Jakarta : Rineka Cipta Syaiful Sagala, 2009, Kemampuan Profesional Guru dan Tenaga Kependidikan, Bandung; Alfabeta Soekidjo Notoatmojo, 1992,Pengembangan Sumber Daya Manusia , Jakarta,: Rineka Cipta Sondang P. Siagian, 1992, Fungsi-Fungsi Manajemen , Jakarta: Bumi Aksara, Suharsimi Arikunto, 2002, Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktis, Jakarta: PT Bima Karya Suharsimi Arikunto, 1998, Manajemen Pengajaran Secara Manusiawi, Jakarta : Rineka Cipta Suryo Subroto, 1997, Manajemen Pendidikan di Sekolah,Jakarta: Rineka Cipta Uwes S., 1999, Majemen Pengembangan Mutu Dosen, Jakarta : Logos Wacana Ilmu Zuhairini, 1995, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara

Judul: Makalah Hasil

Oleh: Eka Askafi


Ikuti kami