Makalah Dbd.docx

Oleh Nurussya'adah Dwi Ayuningrum

263,5 KB 9 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Makalah Dbd.docx

BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Demam berdarah dengeu atau DBD merupakan salah satu penyakit yang ditularkan oleh nyamuk Aedes aegyepty. Nyamuk ini akan banyak kita jumpai pada saat memasuki musim penghujan. Perkembanganbiakan yang cepat dan banyaknya genangan air pada saat musim penghujan membuat nyamuk ini semakin banyak dan semakin rentan menyebarkan bibit penyakit. Di Indonesia sendiri bukan hal baru mengenai penyakit yang ditularkan nyamuk ini. Demam berdarah dengue atau DBD bisa menyerang siapa saja dan dari kalangan apa saja. Baik itu anak – anak, remaja bahkan sampai orang dewasa sekalipun. Peningkatan jumlah nyamuk Aedes aegyepty ini membuat peningkatan pada angka pasien demam berdarh pula. Salah satu cara untuk menekan angka pasien demam berdarah dengan cara melakukan tindakan preventif terhadap perkembangbiakan nyamuk Aedes aegyepty. Tindakan preventif sangat diperlukan agar kita sebagai masyarakat awam dapat menanggulangi penyakit ini tanpa harus melalukan pengobatan. Salah satu tindakan preventif yang dapat kita lakukan untuk menanggulangi demam berdarah adalah dengan melakukan inspeksi rutin terhadap jentik nyamuk Aedes aegyepty. 1 1.2. RUMUSAN MASALAH 1. Mengapa terjadi peningkatan angka pasien demam berdarah pada saat memasuki musim penghujan? 2. Bagaimana dampak yang timbul akibat peningkatan angka pasien demam berdarah bagi kualitas kesehatan masyarakat? 3. Bagaimana solusi dan tindakan yang dapat digunakan untuk mengurangi angka pasien demam berdarah? 1.3. TUJUAN 1. Membuktikan bahwa inspeksi rutin terhadap jentik nyamuk dapat mengurangi angka pasien demam berdarah. 2. Menunjukkan kepada pembaca bahwa peningkatan angka pasien demam berdarah dapat memengaruhi kualitas kesehatan masyarakat. 3. Membuktikan bahwa tindakan preventif dapat menekan perkemabangbiakan nyamuk penyebab demam berdarah. 1.4. MANFAAT 1. Menambah wawasan dan pengetahuan kepada pembaca untuk menanggulangi demam berdarah tanpa melakukan pengobatan. 2. Menambah pengalaman bagi penulis dalam hal tindakan preventif untuk menanggulangi demam berdarah. 2 1.5. SISTEMATIKA Karya tulis ini disusun berdasarkan urutan sebagai berikut: 1. Halaman cover 2. Kata pengantar 3. Daftar isi 4. Daftar Gambar yang berisi tentang gambar yang mendukung materi pembahasan maupun landasan teori. 5. Bab I, yang menjelaskan latar belakang, permasalahan, tujuan, manfaat, metode pengumpulan data dan sistematika penulisan. 6. Bab II, yang menjelaskan landasan teori yang menunjang topik utama. 7. Bab III, yang menjelaskan tentang pembahasan dari permasalah utama. 8. Bab IV, yang menjelaskan tentang simpulan serta saran. 9. Daftar pustaka 3 BAB II LANDASAN TEORI Demam berdarah adalah penyakit akut yang disebabkan oleh virus dengue, yang ditularkan oleh nyamuk. Penyakit ini ditemukan di daerah tropis dan subtropis, dan menjangkit luas di banyak negara di Asia Tenggara. Terdapat empat jenis virus dengue, masing-masing dapat menyebabkan demam berdarah, baik ringan maupun fatal. Nyamuk Aedes aegypti menempati banyak tempat. Nyamuk ini dapat bersarang di dalam ruangan dan tempat tempat yang gelap. Di lingkungan luar nyamuk ini bersarang di tempat yang dingin dan juga gelap. Untuk nyamuk betina akan bertelur pada genangan air yang jernih yang terdapat di lingkungan sekitar. Telur nyamuk akan berkembang dalam waktu yang relatif singkat yaitu sekitar sepuluh hari sampai menjadi nyamuk dewasa. Demam berdarah ditularkan pada manusia melalui gigitan nyamuk betina Aedes yang terinfeksi virus dengue. Penyakit ini tidak dapat ditularkan langsung dari orang ke orang. Penyebar utama virus dengue yaitu nyamuk Aedes aegypti, tidak ditemukan di Hong Kong, namun virus dengue juga dapat disebarkan oleh spesies lain yaitu Aedes albopictus. Virus dengue biasanya menginfeksi nyamuk Aedes betina saat dia menghisap darah dari seseorang yang sedang dalam fase demam akut (viraemia), yaitu dua hari sebelum panas sampai lima hari setelah demam timbul. Nyamuk menjadi infektif 8 – 12 hari (periode inkubasi ekstrinsik) sesudah mengisap darah penderita yang sedang viremia dan tetap infektif selama hidupnya. 4 Setelah melalui periode inkubasi ekstrinsik tersebut, kelenjar ludah nyamuk bersangkutan akan terinfeksi dan virusnya akan ditularkan ketika nyamuk tersebut menggigit dan mengeluarkan cairan ludahnya ke dalam luka gigitan ke tubuh orang lain. Setelah masa inkubasi di tubuh manusia selama 34 hari (rata – rata selama empat samapi enam hari) timbul gejala awal penyakit. Demam berdarah umumnya ditandai oleh demam tinggi mendadak, sakit kepala hebat, rasa sakit di belakang mata, otot dan sendi, hilangnya napsu makan, mual-mual dan ruam. Gejala pada anak-anak dapat berupa demam ringan yang disertai ruam. Demam berdarah yang lebih parah ditandai dengan demam tinggi yang bisa mencapai suhu 40 – 41◦C selama dua sampai tujuh hari, wajah kemerahan, dan gelaja lainnya yang menyertai demam berdarah ringan. Berikutnya dapat muncul kecenderungan pendarahan, seperti memar, hidung dan gusi berdarah, dan juga pendarahan dalam tubuh. Pada kasus yang sangat parah, mungkin berlanjut pada kegagalan saluran pernapasan, shock dan kematian. Setelah terinfeksi oleh salah satu dari empat jenis virus, tubuh akan memiliki kekebalan terhadap virus itu, tapi tidak menjamin kekebalan terhadap tiga jenis virus lainnya. Setelah seseorang terinfeksi virus dengeu yang ditularkan oleh nyamuk, secara otomatis orang tersebut terkena demam berdarah. Demam berdarah sendiri terdapat tiga fase yang akan dilalui oleh pasien demam berdarah. Fase – fase tersebut diantaranya : 1. Fase demam, kehadiran virus dalam aliran darah yang menyebabkan demam tinggi. Tingkat veremia dan demam biasanya 5 erat mengikuti satu sama lain. Kehadiran virus dengue yang tertinggi ialah tiga atau empat hari setelah demam pertama muncul. 2. Fase kritis, terdapat berbagai kebocoran plasma secara tiba-tiba ke dalam rongga pleura dan perut. Pasien menunjukkan tanda-tanda penyempitan intravaskuler, syok, atau pendarahan berat, dan harus segera di rawat di rumah sakit. 3. Fase penyembuhan, kebocoran plasma berhenti, seiring dengan reabsorpsi plasma dan cairan. Indikator yang menunjukkan masuknya fase penyembuhan ialah kembalinya nafsu makan, stabilnya tanda - tanda vital (tekanan nadi melebar, denyut nadi teraba kuat), kadar hematokrit kembali normal, meningkatnya urin dan pemulihan ruam-ruam dengue (kulit kadang terasa gatal dan berbintik-bintik merah, dengan pulau-pulau bulat kecil yang tidak mempengaruhi kulit). Saat memasuki tiga fase tersebut pasien penderita demam berdarah dengue atau DBD akan mengalami beberapa gejala klinis. Pada fase demam atau fase pertama akan terjadi peningkatan suhu tubuh, dehidrasi, nyeri otot, hilangnya nafsu makan, sakit kepada disertai lemas. Pada fase ini biasanya suhu tubuh akan sangat tinggi berkisara antara 38C sampai dengan 39C. Pada fase kedua atau fase kritis pasien penderita demam berdarah dengue akan mengalami pendarahan, melemahnya denyut nadi, penurunan suhu tubuh dan menurunnya kesadaran penderita. Pada fase ini memang terjadi penurunan suhu tubu namub belum mendekati suhu tubuh normal dan mungkin masih bisa naik 6 lagi. Pada fase ini jika tidak mendapat penanganan yang tepat akan berakibat pada kematian pasien penderita demam berdarah dengue. Pada fase penyembuhan atau fase recovery merupakan fase terakhir bagi pasien penderita demam berdarah dengue. Pada fase ini suhu tubuh mulai berangsue normal yaitu antara 36C – 37C. Selain itu mulai meningkatnya nafsu makan, frekuensi nadi dan interaksi pasien dengan lingkungan sekitar.Fase – fase tersebut dapat dijelaskan dengan tabel sebagai berikut. Gambar 1.1 tabel fase demam berdarah Penyebab utama banyaknya kasus penyakit demam berdarah dengue adalah lingkungan yang kotor. Selama ini masyarakat cenderung acuh terhadap kebersihan lingkungan apalagi saat musim penghujan. Mereka akan membiarkan genangan air maupun bak – bak terbuka sehingga memberi kesempatan kepada nyamuk untuk berkembangbiak dan menyebarkan penyakit DBD. 7 BAB III PEMBAHASAN A. Angka Pasien Demam Berdarah Penyakit Demam Berdarah Dengue pertama kali ditemukan diManila (Philipina) pada tahun 1953 dan selanjutnya menyebar ke berbagai negara. Menurut Perkiraan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (Center for Disease Control and Prevention), Amerika Serikat bahwa setiap tahun diseluruh dunia terjadi 50 juta – 100 juta kasus Demam Berdarah Dengue. Sementara itu di Indonesia penyakit Demam Berdarah Dengue pertama kali ditemukan di Surabaya dan Jakarta pada tahun 1968 kemudian menyebar ke seluruh provinsi di Indonesia. Kejadian Luar Biasa (KLB) Demam Berdarah Dengue terbesar pertama kali terjadi di Indonesia pada tahun 1998 dengan Incidence Rate (IR) sebesar 35,19/100.000 penduduk dan Case Fatality Rate (CFR) sebesar 2% (Posangi J, 2006). Penyakit Demam Berdarah Dengue adalah penyakit infeksi virus akut yang disebabkan oleh virus Dengue. Virus ini termasuk kelompokArthropoda Borne Viruses (Arbovirosis) dan terutama menyerang anak- anak dengan ciriciri demam tinggi mendadak dengan manifestasi perdarahan dan bertendensi menimbulkan shock dan kematian. Penyakit ini ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan mungkin jugaAlbopictus. Kedua jenis nyamuk ini terdapat hampir diseluruh pelosok Indonesia kecuali ketinggian lebih dari 1000 meter diatas permukaan laut. Masa inkubasi penyakit ini diperkirakan lebih kurang 7 hari.(Siregar, 2009) 8 Memasuki musim penghujan seperti saat ini sering kali menimbulkan berbagai jenis penyakit, mulai dari flu, pilek, masuk angin bahkan munculnya penyakit demam berdarah. Demam berdarah sendiri merupakan penyakit yang timbul akibat gigitan nyamuk. Nyamuk yang menyebabkan penyakit tersebut adalah nyamuk Aedes aegypti yang membawa virus dengue yang kemudian menggigit manusia dan menimbulkan penyakit demam berdarah dengue atau kita mengenal dengan nama DBD. Demam berdarah dengue atau DBD ini bisa dikatakan sebagai salah satu penyakit yang tidak sepele. Hal ini terjadi jika salah pemahaman dan penanganan maka penyakit ini dapat berakibat pada kematian. DBD merupakan penyakit endemik. Dilansir dari media elektronik, penyakit DBD merupakan penyakit endemik yang 75% berasal dari kawasan Asia Tenggara dan Indonesia berada diurutan ketiga negara dari 30 negara di dunia dengan jumlah angka pasien demam berdarah paling tinggi dengan jumlah mencapai 101.218 orang dari seluruh provinsi dan 1.240 orang korban meninggal pada tahun 2015 (CNN, 2016). Gambar 1.2 penyebaran DBD di kawasan Asia Tenggara 9 Di Indonesia sendiri terdapat beberapa daerah rawan demam berdarah dengue atau DBD. Hal ini terjadi karena Indonesia merupakan daerah tropis yang hanya memiliki dua musim. Dan saat memasuki musim penghujan maraknya kasus demam berdarah akibat gigitan nyamuk yang berkembangbiak lebih cepat. Tercatat beberapa daerah di Indonesia dengan tingkat kerawanan demam berdarah dengue diantaranya Jawa Tengah, Sumatra Selatan, Kalimantan Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan Irian Jaya. Gambar 1.3 daerah rawan DBD di Indonesia Pada tahun 2016, jumlah pasien demam berdarah bertambah menjadi 202.314 dengan jumlah pasien meninggal sebanyak 1.593 orang ( VIVA, 2016). Dari kedua tahun tersebut terjadi lonjakan angka yang sangat drastis. Hal ini terjadi akibat perilaku masyarakat yang kurang peduli dengan kebersihan lingkungan terutama saat memasuki musim penghujan. Pada tahun 2017 angka pasien demam berdarah dengue mengalami penurunan dengan rata – rata pasien sebesar 26,8 per 100.000 penduduk di Indonesia. Hal ini jelas memberikan angin segar bagi pemerintah khususnya bagi Kementrian Kesehatan karena berhasil mengendalikan angka penyakit 10 demam berdarah. Melihat pada tahun 2016 terjadi lonjakan pasien demam berdarah yang sangat besar. Namun, tidak menutup kemungkinan terjadinya lagi demam berdarah di kalangan masyarakat. Pada awal tahun 2018, pemerintah kota Yogyakarta menemukan kasus serupa pada bulan Januari sampai bulan Mei 2018. Tercatat terdapat 40 kasus demam berdarah di daerah Yogyakarta. Meskipun jumlah kasus demam berdarah pada tahun ini tidak seektrim pada tahun 2016, diharapkan pemerintah terutama Dinkes maupun Kemenkes untuk tetap bersiaga agar tidak terjadi lonjakan angka pasien di tahun berikutnya. B. Dampak Demam Berdarah Terhadap Kualitas Kesehatan Tingkat angka pasien demam berdarah dengue di Indonesia bisa berdampak pada kualitas kesehatan masyarakat. Hal ini dapat terjadi karena semakin tingginya angka pasien demam berdarah dengue artinya tingkat kesadaran masyarakat akan pentingnya kebersihan lingkungan sangat rendah. Kesadaran masyarakat yang rendah inilah yang memicu banyaknya sarang nyamuk Aedes aegypti. Banyaknya sarang nyamuk berarti semakin banyak virus dengue yang ditularkan oleh nyamuk. Hal ini berakibat pada munculnya penyakit demam berdarah dengue atau DBD. Semakin banyaknya pasien DBD berarti tingkat kesehatan lingkungan sekitar rendah yang berakibat pula pada rendahnya kualitas kesehatan masyarakat bila ditinjau dari segi kebersihan lingkungan. Berbanding terbalik apabila masyarakat sekitar paham mengenai masalah kebersihan dan kesehatan lingkungan. Hal ini berarti masyarakat sekitar sudah bisa meminimalisasi sarang nyamuk Aedes aegypti agar tidak menularkan virus 11 dengue pada masyarakat. Semakin sedikit keberadaan sarang nyamuk Aedes aegypti berarti perkembangbiakannya dapat diawasi secara intensif. Sehingga memungkinkan tidak adanya pasien demam berdarah dengue atau DBD. Hal ini akan berdampak pada meningkatnya kualitas kesehatan lingkungan. Meningkatnya kualitas kesehatan lingkungan akan berdampak baik bagi kualitas kesehatan masyarakat pula. C. Tindakan Untuk Menanggulangi Demam Berdarah Untuk menekan angka pasien demam berdarah dengue, kita sebagai masyarakat awam dapat melakukan beberapa tindakan yang dapat membantu mengurangi angka korban demam berdarah. Salah satu caranya adalah melakukan gerakan 3M atau gerakan menutup, menguras dan mengubur. Namun, selain cara tersebut masih ada cara preventif lain yang dapat kita lakukan untuk menanggulangi demam berdarah. Tindakan tersebut adalah melakukan inspeksi rutin terhadap perkembangan jentik nyamuk. Dengan tindakan ini kita dapat mengetahui perkembangan jentik – jentik nyamuk Aedes aegypti dan kapan kita dapat melakukan pembersihan terhadap jentik – jentik tersebut agar tidak berkembang menjadi bibit penyakit. Kita dapat melakukan inspeksi rutin ini minimal 2 kali dalam seminggu. Kegiatan ini dapat kita lakukan pada pagi atau sore hari. Untuk melakukan inspeksi rutin ini cukup menggunakan senter. Sasaran utama dari inspeksi jentik ini adalah bak mandi. Namun kita juga bisa lakukan pada bak – bak air lainnya untuk menghindari bibit penyakit. 12 Kita dapat melakukan kegiatan ini pada bak mandi rumah kita sendiri. Caranya dengan melihat jentik – jentik nyamuk yang berada di dalam bak mandi menggunakan senter. Jika terlihat jentik – jentik nyamuk, kita dapat mengambilnya dengan menggunakan gayung lalu buang agar tidak berkembangbiak. Namun jangan buang air yang berisi jentik – jentik di daerah yang memungkinkan terjadi genangan air. Karena hal tersebut sama saja akan menambah banyak populasi nyamuk Aedes aegyepti. Jika terdapat banyak jemtik – jentik nyamuk pada bak mandi rumah, kita dapat langsung menguras agar semua jentik – jentik hilang dan bak mandi bersih dari jentik – jentik. Untuk menghambat telur nyamuk agar tidak berubah menjadi jentik – jentik, kita dapat menambahkan abate atau obat penghambat jentik – jentik nyamuk ke dalam bak mandi yang telah dikuras. Hal serupa juga dapat dilakukan pada bak – bak penampungan air lainnya misal pada bak penampungan air untuk memasak yang ada di dapur. Setelah melakukan inspeksi jentik – jentik hendaknya menutup bak penampungan air untuk mencegah nyamuk untuk meletakkan telurnya. Seperti yang kita ketahui bahwa nyamuk Aedes aegyepti akan meletakkan telur – telurnya pada air tenang dan jernih. Dan air seperti itu banyak terdapat pada rumah – rumah warga masyarakat. Selain di rumah, kita juga bisa melakukan inspeksi rutin ini pada instanti – instansi seperti sekolah dan instansi pemerintahan. Kegiatan ini juga dapat digalakkan di sekolah – sekolah untuk mendisplinkan murid – murid dalam menanggulangi demam berdarah. Tindakan yang dapat dilakukan adalah membuat piket untuk melakukan inspeksi rutin ini. Biasanya pihak sekolah 13 mengadakan inspeksi rutin yang dinamakan jumantik. Dengan bekerja sama dengan PMR dapat dilakukan kegiatan tersebut setiap minggunya. Untuk menunjang hasil yang bagus, selain inspeksi rutin juga harus dilakukan kegitan lain yang bisa membantu mencegah penyebaran demam berdarah dengue. Misalnya dengan tetap melakukan gerakan 3M disamping kegitan inspeksi rutin jentik. Atau membuat perangkap nyamuk sederhana dengan memanfaatkan bahan – bahan yang mudah didapat lalu tempatkan pada sudut ruangan. 14 BAB IV PENUTUP 1.1. Simpulan Demam berdarah dengue merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus dengue yang dibawa oleh nyamuk Aedes aigyepti. Penyebaran virus ini dengan gigitan nyamuk Aedes aigyepti. Demam berdarah merupakan penyakit yang bisa dikatakan mematikan melihat kenyataan di lapangan bahwa banyak terjadi kasus DND dan telah banyak warga negara kita yang meninggal akibat demam berdarah. Hal ini terjadi karena masyarakat yang terlalu acuh dengan kebersihan lingkungan terutama pada sarang nyamuk. Tingginya angka pasien DBD menyebabkan menurunnya kualitas kesehatan masyarakat begitu pula sebaliknya. Untuk itu dapat dilakukan tindakan preventif untuk mencegah tingginya angka pasien DBD dengan melakukan inspeksi rutin terhadap jentik – jentik nyamuk. 1.2. Saran Sebagai masyarakat hendaknya kita peduli terhadap kebersihan lingkungan sekitar agar tidak timbul berbagai jenis bibit penyakit. Mulai lakukan tindakan sedini mungkin untuk mencegah penyakit contohnya demam berdarah. Dengan melakukan inspeksi rutin terhadap jentik agar tidak terjadi perkembangbiakan nyamuk sehingga dapat menimbulkan penyakit. 15 Daftar Pustaka https://www.chp.gov.hk/files/pdf/ol_dengue_fever_indonesian_version.pdf (Minggu, 4 November 2018) http://www.pusdatin.kemkes.go.id/resources/download/pusdatin/profil-kesehatanindonesia/Data-dan-Informasi_Profil-Kesehatan-Indonesia-2017.pdf (Minggu, 4 November 2018) http://scholar.unand.ac.id/26674/2/bab%201.pdf (Minggu, 4 November 2018) http://www.depkes.go.id/article/view/15011700003/demam-berdarah-biasanyamulai-meningkat-di-januari.html (Minggu, 4 November 2018) https://www.jawapos.com/jpg-today/08/06/2018/2018-tercatat-40-kasus-dbd-dijogja (Minggu, 4 November 2018) https://hellosehat.com/pusat-kesehatan/demam-berdarah-dengue-dbd/5-faktayang-perlu-anda-tahu-mengenai-demam-berdarah/ (Jumat, 9 November 2018) https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20160616170332-255-138672/ indonesia-peringkat-dua-negara-endemis-demam-berdarah (Sabtu, 10 November 2018) https://www.viva.co.id/gaya-hidup/kesehatan-intim/1054977-kasus-demamberdarah-pada-4-daerah-di-indonesia-masih-tinggi (Sabtu, 10 November 2018) https://www.researchgate.net/publication/ 322714675_Daerah_Rawan_Kasus_Demam_Berdarah_di_Indonesia/download (Sabtu, 10 November 2018) 16

Judul: Makalah Dbd.docx

Oleh: Nurussya'adah Dwi Ayuningrum


Ikuti kami