Makalah Tamansiswa.docx

Oleh Siti Nurjanah (janah)

197,4 KB 7 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Makalah Tamansiswa.docx

MAKALAH TUGAS KETAMANSISWAAN II FATWA, AJARAN KI HADJAR DEWANTARA , DAN CONTOH PENERAPANNYA DISUSUN OLEH : 1. RINDA EVA S (2015017071) 2. SITI NURJANAH (2015017060) 3. BERNADETA ASTUTI (2015017038) 4. WENDY FITRIA RAMADHANI (2015017068) 5. ANNDARA DEVI (2015017067) 6. ANGGIANI DWI LESTRI (2015017156) 7. YUSENTINUS BERTO (2015017048) 8. ANDREAS MAHENDRA (2015017042) PRODI AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS SARJANAWIYATA TAMANSISWA YOGYAKARTA TAHUN 2018 KATA PENGANTAR Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala karunia nikmatnya sehingga makalah ketamansiswaan yang berjudul “fatwa, ajaran dan contoh penerapannya ” ini dapat diselesaikan dengan maksimal, tanpa ada halangan yang berarti. Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas ketamansiswaan II mata kuliah Ketamansiswaan II . makalah ini disusun selain guna untuk memenuhi tugas ketamansiswaan II makalah ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi pembacanya mengenai fatwa, ajaran ki hadjar dewantara dan penerapannya dalam sehari-harinya. Makalah ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya tidak lepas dari bantuan dan dukungan dari berbagai pihak yang tidak bisa kami sebutkan satu persatu. Untuk itu kami ucapkan terima kasih. Penulis menyadari bahwa masih banyak kesalahan dalam penyusunan makalah ini, baik dari segi EYD, kosa kata, tata bahasa, etika maupun isi. Oleh karenanya penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca sekalian untuk kami jadikan sebagai bahan evaluasi untuk penulisan makalah kami selanjutnya. Demikian, semoga makalah ini dapat diterima sebagai ilmu yang menambah kekayaan intelektual bangsa. Yogyakarta, 28 Februari 2018 Penulis i DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL KATA PENGANTAR BAB I (PENDAHULUAN ) A. Latar Belakang ...................................................................................... B. Rumusan Masalah.................................................................................. C. Tujuan Penulisan.................................................................................... BAB II (PEMBAHASAN ) A. AJARAN HIDUP KI HADJAR DEWANTARA B. FATWA UNTUK HIDUP MERDEKA C. TRILOGI TAMANSISWA BAB III (PENUTUP) A. KESIMPULAN B. SARAN DAFTAR PUSTAKA ii BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Ketamansiswaan tidak bisa lepas dengan adanya fatwa, ajaran ki hadjar dewantara sebagai peneguh hidup kita. Fatwa untuk hidup merdeka yang diberikan kepada kita atau disebut juga dengan bundelan untuk diingat- ingat, direnungkan dan diamalkan terdiri dari 10 fatwa tersebut terdiri dari Lawan Sastra Ngesti Mulya, Suci Tata Ngesti Tunggal, Hak Diri untuk menuntut Salam Dan Bahagia, Salam Bahagia diri tak boleh menyalahi damainya masyarakat, Kodrat alam penunjuk untuk hidup sempurna, Alam hidup manusia adalah alam hidup berbulatan, Dengan bebas dari segala ikatan dan suci hati berhambalah kita kepada sang anak, Tetep mantep antep, Ngandel kendel bandel , Neng Ning Nung Nang. Dari sepuluh fatwa ki Hadjar itu merupakan welingan, pesanan dan amanat kepada kaum Tamansiswa yang berjuang menghadi kesulitan hidup dan Rintangan – rintangan yang hebat terutama di waktu jaman pemerintahan kolonial. Ia menjadi mantra yang menguatkan keyakinan perjuangan kaum Tamnsiswa. Sedangkan untuk ajaran hidup Ki Hajdar Dewantara suatu wadah dan wujud ajaran hidup ki Hadjar Dewantara yang merupakan konsepsi kehidupan manusia baru, untuk manusia salam bahagia, masyarakat tertib damai . wujud ajaran ki Hadjar Dewantara berupa Asas, sendi organisasi, sistem pendidikan, dan cara-cara kebiasaan hidup, sebagai syarat-syarat pelaksanaan dan perwujudan cita-cita kehidupan Tamansiswa. B. Rumusan Masalah 1. Apakah yang dimaksud dengan Ajaran hidup Tamansiswa ? 2. Apakah yang artifatwa Ki Hadjar Dewantara ? 3. Apa saja contoh kongkrit dari Fatwa dan ajaran Ki Hadjar Dewantara ? C. Tujuan penulisan 1. Untuk memahami yang dimaksud dengan fatwa Ki Hadjar Dewantara 2. Untuk memahami yang dimaksud dengan Ajaran Ki Hadjar Dewantara/ Tmansiswa 1 3. Agar bisa memberikan contoh kongkrit dalam kehidupan sehari – hari berdasarkan fatwa dan ajaran Ki Hadjar Dewantar 4. Guna untuk menambah wawasan mengenai Fatwa dan ajaran Ki Hadjar Dewantara 5. Dapat mengamalkan dalam kehidupan sehari-hari sesuai dengan fatwa dan ajaran Ki Hadjar Dewantara . 2 BAB II PEMBAHASAN A. AJARAN HIDUP KI HADJAR DEWANTARA 1. Cita – Cita Manusia Salam – Bahagia, Dunia Tertib – Damai Hidup salam dan bahagia, yang berarti selamat lahirnya dan bahagia batinnya, dicapai dengan kecukupan sandang pangan keperluan jasmaniah dan bebas merdeka jiwanya, bebas dari gangguan lahir dan gangguan batin, bebas dari ketakutan. Contoh : Orang tak akan bahagia apabila hanya dengan kecukupan makanan dan pakaian, kalau dia hidup dalam ketidakbebasan dan ketakutan. 2. Kemerdekaan Diri, Tertib – Damai Hak mengatur diri sendiri, dicantumkan sebagai asas Tamansiswa yang utama dan pertama menjadi dasar mencapai cita – cita hidup salam bahagia dan masyarakat tertib damai. Ketertiban menjadi syarat mendatangkan damai, tetapi ketertiban oleh karena paksaan dan tekanan tidak akan mendatangkan kedamaian hidup. Contoh : Orang tua memberikan kebebasan kepada anaknya, tetapi tetap ada batasan atau aturan tertib dan damainya pergaulan hidup. 3. Democratie En Leiderschap-Demokrasi Dan Pimpinan Kebijaksanaan Kebebasan seseorang berarti hak orang itu untuk menindas kebebasan orang lain. Bahkan demokrasi yang dijalankan untuk menindas demokrasi itu sendiri. Contoh : Dalam suatu keluarga diperlukan kebulatan pendapat, kalau rapat belum mencapai suara bulat, maka bisa ditunda 24 jam untuk memberikan istirahat dan menenangkan fikiran agar dapat mempertimbangkan matang-matang, untuk mengambil keputusan. 4. Sistem Among, Tut Wuri Handayani Sistem among yaitu cara pendidikan yang dipakai dalam Tamansiswa, dengan maksud mewajibkan pada guru, supaya mengingatkan dan 3 mementingkan kodrat alam anak – anak murid, dengan tidak melupakan segala keadaan yang mengelilinginya. Contoh : “Sistem among” yaitu cara pendidikan yang dipakai dalam tamansiswa, dengan maksud mewajibkan pada guru, supaya mengingati dan mementingkan “kodrat alam” anak-anak murid, dengan tidak melupakan segala keadaan yang mengelilinginya. 5. Merdeka, Kesanggupan Dan Kemampuan Untuk Berdiri Sendiri Menurut faham Tamansiswa, kemerdekaan seseorang tidak saja berarti bebas lepasnya orang itu dari perintah dan penguasaan orang lain, tetapi juga berarti sanggup dan kuatnya berdiri sendiri, tidak tergantung pada pertolongan orang lain. Contoh :Kemerdekaan seseorang tidak saja berarti bebas lepasnya orang itu dari perintah dan penguasaan orang lain, tetapi juga berarti sanggup dan kuatnya berdiri sendiri, tidak tergantung pada pertolongan orang lain. 6. Zelfbedruiping Systeem – Opor Bebek Mateng Saka Awake Dewek Untuk hidup merdeka tidak tergantung pada pertolongan orang lain. Tamansiswa mendasarkan cara hidupnya atas sistem opor bebek, membiayai hidupnya dari usaha sendiri. Contoh :Untuk hidup merdeka tidak tergantung pada pertolongan orang lain. Tamansiswa mendasarkan cara hidupnya atas sistem opor bebek, membiayai hidupnya dari usaha sendiri, sebagai masakan opor itik, yang dapat masak oleh minyak yang ada pada badannya sendiri. 7. Hidup Hemat Dan Sederhana Berani hidup hemat dan sederhana, sebagai akibat tidak mau menerima bantuan orang lain yang mengikat, konsekuensinya orang yang ingin hidup merdeka, tidak mau menjadi budak orang lain. 4 Contoh :Berani hidup hemat dan sederhana, sebagai akibat tidak mau menerima bantuan orang lain yang mengikat, konsekuensinya orang yang ingin hidup merdeka, tidak mau menjadi budak orang lain. 8. Tamansiswa Masyarakat Tidak Berkelas Tamansiswa menolak peraturan “loobelasting” (pajak upah) dari peraturan Pemerintah Hindia Belanda. Satu pengakuan dasar kekeluargaan dari Pemerintah Belanda, bahwa di dalam Tamansiswa tak mengenal buruh dan majikan. Contoh :Secara prinsipil Tamansiswa menolak peraturan itu dikenakan kepada Tamansiswa. Bahwa di dalam Tamansiswa tak mengenal buruh dan majikan. 9. Kekeluargaan – Demokrasi Dengan Kepemimpinan Kehidupan satu keluarga menggambarkan di mana tiap – tiap orang dalam keluarga itu sama derajatnya, sama haknya, sama – sama bebas merdeka. Contoh :Perintah harus dijalankan, demi keselamatan bersama. Itulah kekeluargaan yang dibatasi dengan leiderschap untuk kebahagiaan dan keselamatan bersama. 10. Terug Naar Het Nationale – Kembalilah Pada Asalmu Ki Hadjar Dewantara dengan Tamansiswanya telah menyerukan bangsa Indonesia kembali kepada kepribadian nasionalnya. Supaya bangsa Indonesia menempuh jalan kehidupan menurut garis hidupnya. Contoh :Ki Hadjar Dewantara dengan Tamansiswa telah menyerukan bangsa Indonesia kembali kepada kepribadian nasionalnya. Supaya bangsa Indonesia menempuh jalan kehidupan menurut garis hidupnya. 5 11. Kebangsaan – Kodrat Alam Kodrat alam merupakan petunjuk bagi hidup manusia, karena apa yang diwujudkan oleh atau dari dan di dalam kodrat alam itu merupakan sifat lahirnya kekuasaan dan ketertiban Tuhan Yang Maha Sempurna. Oleh karena keadaan kodrat alamnya manusia mempunyai kebiasaan hidup, yang berbeda – beda antara satu bangsa dengan bangsa lainnya. Contoh : itik dan Ayam . si itik beralat paruh seperti sudu, si ayam berparuh untuk mencotok. Kaki si bebek dilengkapi dengan alat untuk berenang, si ayam dengan cakarnya. Si ayam makan dengan mengais, si itik makan dengan menyudu. Berbeda – beda kodrat pemberian Tuhan baginya. 12. Kebangsaan – Kemanusiaan Hidup kebangsaan adalah Differensiasi atau kekhususan hidup kemanusiaan sebagai kewajaran menurut dasar – dasar dan kepentingan yang khusus bagi hidup bangsa. Karena itu, hidup kebangsaan harus selalu sesuai dengan hidup kemanusiaan. Tidak boleh bertentangan, bahkan bertali erat dan merupakan kesatuan antara sifat- siafat yang khusus dan yang umum dalam hidup manusia didunia. Contoh : pada jaman sekarang ini, banyak Adu Ayam dan dianggap sebagai tontonan yang biasa dan bisa disebut Nasional namun oleh karena perbuatan itu merupakan penyiksaan terhadap binatang, Tamansiswa tidak mengijinkan adu ayam atau pun adu binatang Apapun. 13. Kebangsaan – Persatuan Dan Kesatuan Nasional Dengan menjunjung dan mengakui satu bangsa, satu tanah air dan satu bahasa indonesia, Ki Hadjar memahamkan persatuan dan kesatuan bangsa indonesia berdasarkan pengertian, bahwa hidup tiap – tiap bangsa 6 adalah pula bagian-bagian yang beraneka warna sifat dan bentuknya. Persatuan dan kesatuan kebangsaan janganlah dicapai dengan mempersatukan atau menyatukan segala keadaan yang bermacammacam, sifat dan bentuknya menurut kodratnya sendiri. Contoh : perkumpulan bangsa indonesia dengan berbagai macam suku dan budaya tanpa adanya perbedaan berdasarkan model pakaian / ciri khas pakaian masing-masing yang mereka pakai. Contohnya orang sumatra harus dipaksa mengganti sarungnya dengan kain panjang dari jawa. 14. Kebangsaan – Kerakyatan Hidup suatu bangsa tidak boleh terlepas dari hubungannya dengan hidup manusia didunia pada umumnya agar dapat menambah kekayaan lahir dan batin. Tidak pula boleh terlepas dari pertaliannya dengan hidup manusia didalam daerahnya, agar dapat menimbulkan kebahagiaan dari rakyatnya. Karena itu kenasioanalan menurut tamansiswa tidak boleh memisahkan bangsa dari kerakyatan. Contoh : mahasiswa fakultas ekonomi UST terdiri dari banyak suku, dan budaya hampir dari sabang sampai merauke banyak dijumpai, setiap dari mereka mempunyai ciri khas masing- masing yang tetap terbawa sampai saat ini, dari gaya bahasa contohnya orang yang berasal dari daerah batak / sumatra terbisa berbahasa keras sedangkan orang yang asli dari jawa lebih berbahasa halus dan pelan, mereka semua tidak akan lepas dengan hidup dalam daerahnya. 15. Teori Trikon Teori Trikon ditemukan ki hajar dewantara untuk melestarikan dan mengembangkan kebudayaan nasional indonesia. a. Kontinuita : dalam melestarikan kebudayaan asli indonesia kita harus terus menerus dan berkesinambungan. 7 b. Kovergensi : dalam upaya mengembangkan kebudayaan nasional indonesia kita harus memadukan dengan kebudayaan asing yang dipandang dapat memajukan bangsa indonesia . c. Konsentrisita : dalam pergaulan dengan bangsa – bangsa lain didunia kita harus berusaha menyatukan kebudayaan nasional kita dengan kebudayaan dunia (global) dengan catatan harus tetap berpegang pada khas kepribadiaan bangsa indonesia . Contoh : di era modern ini banyak orang yang meniru cara berbudaya kebudayaan orang-orang barat, yang cenderung terbuka, mungkin kita yang hidup dijawa lebih baik bisa memilih dan memilah mana yang baik ditiru dan mana yang tidak bisa ditiru atau ditinggalkan. 16. Dasar Kulturil – Kontinu Kebudayaan itu sifatnya kontinu, bersambung tak terputus-putus, berkembang maju. Contoh : kebudayaan jawa yang ada pada era sekarang ini harusnya semakin maju. Contohnya adalah gamelan jawa adalah suatu kebudayaan yang berasal dari nenek moyang kita yang sampai saat ini dapat didengarkan, namun banyak gamelan saat ini sudah dimodifikasi dengan alat-alat lainnya sebagai penambahnya. 17. Dasar Nasional – Konsentris Alam hidup manusia itu merupakan alam hidup berbulatan (kensentris), yang digambarkan sebagai lingkaran besar kecil yang semua bersatu titik pusat dimana orang duduk atau berdiri diatas titik pusat itu . lingkaran terkecil adalah alam diri pribadi seseorang, lingkaran diluarnya yang lebih luar ialah alam keluarga. Yang lebih luas bagi diluarnya ialah alam bangsa dan kebangsaan, dan yang terluas ialah alam manusia dan kemanusiaan. Disela- sela itu terdapat lingkaran alam kehidupan 8 kedaerahan, golongan, faham dan keyakinan, golongan politik/kepartaian ataupun golongan-golongan lainnya. Contoh : timbulnya bentrokan antar daerah dengan daerah dan daerah dengan pusat kehidupan bangsa, bisa terjadi oleh karena semangat yang berlebih-lebihan mementingkan kepentingan dirinya, baik oleh karena kurangnya kesadaran dari suku akan kepentingan keseluruhan persatuan, atau terkadang oleh berlebih- lebihannya semangat ingin mempersatukan dengan tidak mengingati atau menindas perasaan dan kepentingan golongan. 18. Dasar Kemasyarakatan – Konvergen Dasar kemasyarakatan yang sambung dan hubungan kita dengan masyarakat yang lebih luas/ konvergensi, sebagai lembaga masyarakat Tamansiswa tidak memisahkan diri dari masyarakat yang lebih luas. Ia harus menghubungkan dirinya dengan masyarakat. Contoh : dari kebudayaan tari jatilan yang terkenal dijawa suatu kesenian daerah, kini meningkat kepada kesenian dan kebudayaan yang dikenal didunia yang akan menambah kekayaan kita sebagai bangsa, dan memudahkan hubungan bangsa kita dengan bangsabangsa didunia yang lain. 19. Tirulah Hidup Cecak Pendidikan nasioanal yang menegakkan jiwa anak-anak sebagai bangsa yang juga bermaksud membimbing anak-anak untuk menjadi manusia yang bisa hidup dengan kecakapan dan kepandaiannya, berbuat sesuatu berguna tidak saja untuk dirinya, tetapi juga untuk kepentingan masyarakat. Contoh: orang yang telah sekolah bisa mencari makan dengan menjual kacang, berjualan sayuran yang bisa hidup dari hasil berjaja itu, tetapi anak yang yang sekolah dari kalangan atas yang dianggap 9 sebagai anak pandai, malah tidak bisa mencari makan sendiri . atau bisa juga ambil dari cecak, cecak adalah makluk yang tidak sekolah, dia juga tidak diploma , tetapi dia tidak pernah menganggur dia tahu dimana harus mencari makan. Dia tau, dimana ada lampu, disana banyak datang nyamuk, dan disanalah cecak mencari makan menanangkap nyamuk untuk makannannya. B. FATWA UNTUK HIDUP MERDEKA 1. LawanSastraNgestiMulya Denganpengetahuankitamenujukemuliaan.Inilah yang dicita-citakan Ki HadjardenganTamansiswanya, untuk kemuliaan nusa bangsa dan rakyat. Sastra herdrayu ningrat pangruwatingdyu. Ilmu yang luhur dan mulia akan menyelamatkan dunia serta melenyapkan kebiadaban. Contoh : orang yang berilmudengantidakberilmu 2. Suci Tata Ngesti Tunggal Dengan suci batinnya, tertib lahirnya menuju kesempurnaan, sebagai janji yang harus diamalkan oleh tiap-tiap peserta perjuangan Tamansiswa. Contoh : Orang yang baik dengan orang tidak baik 3. Hakdiriuntukmenuntutsalamdanbahagia Berdasarkan asas tamansiswa yang menjadi syarat hidup mereka berdasarkan pada ajaran agama, bahwa bagi Tuhan semua manusia itu pada dasarnya sama, sama haknya dan sama kewajibannya. Sama haknya mengatur hidupnya serta sama haknya menjalankan kewajiban kemanusiaan untuk mengejar keselamatan hidup lahir dan bahagia dalam hidup batinnya. Jangan kita hanya mengejar keselamatan lahir. Dan jangan pula hanya mengejar kebahagiaan hidup batin. Contoh: Tidak boleh sombong 10 4. Salam bahagia diri tak boleh menyalahi damainya masyarakat. Bahwa kemerdekaan diri kita dibahasi oleh kepentingan keselamatan masyarakat. Batas kemerdekaan diri kita ialah hak-hak orang lain yang seperti kita masing-masing sama-sama mengejar kebahagiaan hidup. Segala kepentingan bersama harus diletakkan diatas kepentingan diri masing-masing akan hidup selamat & bahagia. Contoh: melakukan musyawarah mufakat, semua anggota musyawarah berhak menyampaikan pendapatnya. 5. Kodrat alam penunjuk untuk hidup sempurna Sebagai pengakuan bahwa kodrat alam yakni sebagai kekuatan dan kekuasaan yang mengelilingi dan melingkungi hidup kita itu adalah sifat lahirnya kekuasaan Tuhan yang maha kuasa, yang berjalan tertib dan sempurna diatas segala kekuasaan manusia. Contoh: manusia harus bersahabat dengan alam, tidak merusak alam. 6. Alam hidup manusia adalah alam hidup berbulatan Hidup kita masing-masing ada dalam lingkungan berbagai alam-alam kekhususan yang saling berhubungan dan berpengaruh. Alam khusus ialah alam diri, alam kebangsaan dan alam kemanusiaan. Contoh: 7. Dengan bebas dari segala ikatan dan suci hati berhambalah kita kepada sang anak Penghambaan kepada sang anak tidak lain daripada penghambaan kita sendiri. Sungguh pun pengorbanan kita itu kita tunjukan kepada sang anak, tetapi yang memerintahkan kita dan memebri titah untuk berhamba dan berkorban itu bukan si anak, tetapi kita sendiri masing-masing. Contoh: 8. Tetep-Mantep-Antep Dalam melaksanakan tugas perjuangan kita, kita harus tetap hati. Tekun bekerja, tidak boleh menoleh kekanan dan kekiri. Kita harus tetap tertib dan berjalan maju. Kita harus selalu “mantep”, setia dan taat pada asas itu, 11 teguh iman hingga tak ada yang akan dapat menahan gerak kita atau membelokkan aliran kita. Contoh: 9. Ngandel-kendel-bandel Kita harus “ngandel”, percaya jika kepada kekuasaan Tuhan dan percaya kepada diri sendiri. “kendel” berani tidak ketakutan dan was-was oleh karena kita percaya kepada Tuhan dan kepada diri sendiri. “bandel”, yang berarti tahan, dan tawakal. Dengan demikian maka kita menjadi “kendel”, tebal, kuat, lahir dan batin, berjuang untuk meraih cita-cita kita. Contoh: orang yang gigih dalam memperjuang kan cita-citanya 10. Neng-ning-nung-nang Dengan “meneng”, tentram lahir batin, tidak nerveus kita menjadi “ning”, wening, bening, jernih pikiran kita, mudah membedakan mana hak dan mana batil, mana benar dan mana salah, kita menjadi “nung” hanung, kuat sentosa, kokoh lahir dan batin untuk mencapai cita-cita. Akhirnya “nang” menang, dan dapat wewenang, berhak dan kuasa atas usaha kita. Contoh: ketika manusia diam dengan pikiran yang jernih dalam menyikapi segala hal kita menjadi orang yang kuat maka dari itu kita akan menjadi orang yang bias mencapai apa yang kita inginkan. 12 C. TRILOGI TAMANSISWA Hidup salam dan bahagia, yang berarti selamat lahirnya dan bahagia batinnya, dicapai dengan kecukupan sandang pangan keperluan jasmaniah dan bebas merdeka jiwanya, bebas dari gangguan lahir dan gangguan batin, bebas dari ketakutan. Orang tak akan bahagia apabila hidupnya hanya dengan kecukupan makanan dan pakaian, kalau dia hidup dalam ketidakbebasan dan ketakutan. Kecukupan sandang pangan tanpa kebebasan dan kemerdekaan jiwa, tak akan memberi bahagia. Sebaliknya kebahagiaan tak akan ada selama orang masih menderita kekurangan keperluan jasmanihnya. Ki Hadjar Dewantara mengisahkan orang yang serba cukup keperluan materiil tetapi jiwanya menderita, tak merasa bahagia, sebagai orang: “nunggang montor mrebes mili” (naik mobil dengan menangis), sedang orang yang melarat materil tetapi merasa puas, merasa bahagia, digambarkan sebagai orang: “mikul dawet rengeng-rengeng” (memikul cendol yang berat dengan bernyanyi), menggambarkan orang yang merasa tentram walaupun merasa berat hidupnya. Cita-cita hidup salam dan bahagia hanya bisa di capai dalam satu masyarakat yang tertib dan damai, tata lan tentrem (orde en vrede). Ketertiban menjadi syarat mendatangkan damai, tetapi ketertiban oleh paksaan dan tekanan tidak akan mendatangkan kedamaian hidup. Tertib lahirnya, damai batinya itulah masyarakat yang akan dicapai oleh tamansiswa. Salam bahagia bagi tiap orang, tertib damai bagi masyarakat. 1. TRI SAKTI  Cipta Cipta ialah kekuatan yang membuat gambar-gambar terhadap rencana dan segala sesuatu yang telah terjadi berupa Citraan (gambaran) yang ada di benak kita  Rasa Rasa ialah kekuatan halus yang menyelimuti dan menyatu dari setiap gambar-gambar atau citraan terhadap segala sesuatu yang membawa kesan, hal ini sering kita namakan perasaan (emosi pribadi).  Karsa Karsa atau kehendak/tekad. Inilah kekuatan yang menggerakkan segala Cipta dan Rasa itu menjadi terlaksana. 13 2. TRI HAYU a. Mamayu hayuning sarira Manusia harus memanfaatkan dan mengatur alam semesta dengan proses yang berkelanjutan dan tidak dengan cara serta merta. Manusia lebih dahulu harus belajar menata dirinya, mengendalikan perilakunya, disiplin terhadap aturan dan norma yang berlaku serta doktrin agama yang dianutnya, mencari jati dirinya untuk mampu mengendalikan nafsu hingga jiwanya tertata mencapai rahayuning jiwa. Contohnya adalah kita sebagai individu harus belajar mengendalikan diri sendiri mengikuti norma yang ada agar tercipta jiwa yang bahagia dan menemukan jatidiri kita b. Mamayu hayuning bangsa Setelah menemukan jati dirinya dan sanggup mengendalikan diri dari nafsunya, manusia akan menuju pada tingkatan langkah berikutnya yaitu bagaimana ia akan berinteraksi dengan sesamanya. Contohnya adalah keluarga, bagaimana ia bisamenjadi pelita, membina, menjaga, dan mengatur keluarganya dengan baik. Keluarga akan menjadi anggota masyarakat. Manusia hidup bersama, saling membantu, membina, mengasihi, saling menjaga, bersama-sana berusaha keras meningkatkan kualitas hidup dan kesejahtraan. Selanjutnya, masyarakat akan menjadi pilar berdirinya suatu bangsa.masyarakat yang baik, tangguh dan berkualitas akan mempunyai peran yang sangat penting dalam membangun Negara dan mewujudkan tujuan Negara. c. Mamayu hayuningmanungsa (bawana) Manusia tidak bisa seenaknya melakukan perusakan alam. Manusia harus sadar bahwa keberadaan setiap individu dalam tatanan alam raya ini tidaklah berdiri sendiri. mereka memiliki kaitan yang erat dengan seluruh komponen alam yang saling bergantungan dalam struktur yang rapid an bertingkat. Falsafa tepo seliro akan menciptakan lingkungan sejuk nan harmonis. Contohnya adalah tidak sembarangan menebang pohon yang akan mengakibatkan banyak kerugian, seperti bencana alam, dan mengganggu banyak makhluk hidup yang tinggal di dalam hutan tersebut. 3. TRI PUSAT PENDIDIKAN 14 a. Pendidikan dilingkkungan keluarga Pendidikan di alam keluarga adalah pusat pendidikan yang pertama dan terpenting. Sejak timbul adab kemanusiaan hingga kini, hidup keluarga selalu mempengaruhi bertumbuhnya budi pekerti atau karakter dari tiap-tiap manusia. Contohnya adalah orangtua mengajarkanajaran keagamaan, ajaran emosional,dan pelajaran moral anak b. Pendidikan di lingkungan sekolah Alam perguruan merupakan pusat perguruan yang teristimewa berkewajiban mengusahakan kecerdasan pikiran (perkembangan intelektual) beserta pemberian ilmu pengetahuan (balai-wiyata). Contohnya mengajarkan bagaimana cara mengajar dan yang berkaitan tentang pengetahuan. c. Alam kemasyarakatan atau alam pemuda merupakan kancah pemuda untuk beraktivitas dan beraktualisasi diri mengembangkan potensi dirinya. 4. TRINGA a. Ngerti Ngerti adalah mengerti atau mengetahui apa yang dilihatnya Contohnya belajar tentang apa itu kebaikan. b. Ngrosa Ngrasaatau ikut merasakan terhadap apa yang telah dia mengerti setelah belajar mengetahui segala sesuatu dari guru,lingkungan dan dari alam melalui peng-alamannya untuk kemudian memikirkan jalan keluar dan menentukan sikap sebagai pribadi dengan pendirian yang kokoh, tangguh dan jelas-jelas memperlihatkan kepribadian bangsa Indonesia yang terhormat. Dengan demikian siswa sungguh mengerti apa yang akan dilakukan dan sadar akan apa yang dilakukan. Contohnya merasakan apa itu kebaikan dan sadar itu baik dilakukan atau tidak baik dilakukan. c. Nglakoni Nglakoniartinya melakukan atau berbuat dengan tindakan nyata bukan hanya berpangku tangan menunggu wahyu dari langit. Merasa dan mengerti saja tidak cukup,apa yang telah dimengerti dan dirasakan harus diaplikasikan dalam tindakan untuk membuktikan bahwa subyek belajar mau nglakoni atau melakukan tindakan. 15 Contohnya mengamalkan kebaikian yang telah ia pelajari dan ia rasakan baik untuk dilakukan. 5. TRILOGI KEPEMIMPINAN a. Ing Ngarso Sung Tulodo (di depan memberikan teladan), seorang pemimpin harus memberikan tauladan yang baik bagi orang yg dipimpinnya Contohnya seorang pemimpin yang selalu bertindak dan bertutur kata yang baik b. Ing Madyo Mangun Karso (di tengah memberikan bimbingan), seorang pemimpin haruslah bisa bekerjasama dengan orang yang dipimpinnya. Contohnya pemimpin harus bisa memposisikan dirinya untuk bekerjasama dengan masa yang dipimpinnya dan bisa memotivasi sehingga bisa menggerakkan masa yang dipimpin untuk mencapai visinya c. Tut Wuri Handayani (dibelakang memberi dorongan),memberikan kesepatan kepada orang lain yang dipimpinnya untuk maju. Contohnya pemimpin memberikan bekal ilmu yang akan menambah wawasan dan kepintaran orang yang dipimpinnya 6. TRI PANTANGAN Tri pantangan yaitu 3 larangan yang harus dijauhi a. Tidak Boleh Menyalah Gunakan Kekuasaan Contohnya seseorang yang memiliki kekuasaan tidak boleh menggunakan kekuasaannya untuk mencari keuntungan bagi dirinya sendiri. b. Penyalah Gunaan Keuangan Contohnya seseorang yang diberi tanggungjawab untuk bekerja atau mengelola keuangan tidak boleh korupsi. c. Tidak Boleh Merusak Pagar Ayu (Selingkuh) Contohnya seseorang yang telah menikah tidak boleh berselingkuh serta harus menjaga harkat dan martabat keluarga. 7. TRI DARMA a. Berani Berintrospeksi Memahami kelemahan pribadi. Introspeksi diri diawali dengan sikap rendah hati. Menyadari bahwa kita tidak luput dari kekeliruan atau kesalahan. Orang yang sombong tidak mau melakukan evaluasi diri karena selalu merasa benar. Akibatnya tidak ada pertumbuhan pribadi, karena 16 hanya bersikap menyalahkan orang lain, situasi atau bahkan Tuhan. Memahami titik kritis berarti memiliki sikap waspada dan antisipasi. Kemampuan untuk menjaga diri dan mewaspadai situasi sebelum terjadi hal-hal yang fatal. b. Merasa Ikut Memiliki  takwa pada Tuhan  Tidak membeda2kan satu sm lain  Menjaga lingkungan alam sekitar  Saling menjaga sikap,toleransi,Musyawarah,Tidak sombong  Rela berkorban c. Berkewajiban mebela Setiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam usaha dan upaya pembelaan negara sesuai dengan dasar hukum bela negara diatas. Kesadaran bela negara sendiri hakikatnya merupakan kesediaan berbakti terhadap negara dan juga kesediaan berkorban dalam membela negara. Jenis-jenis upaya dan usaha bela negara amatlah luas, dari yang paling halus hingga yang paling keras. Mulai dari dengan menciptakan hubungan baik antar warga negara hingga penangkalan ancaman yang bersifat nyata dari musuh bersenjata. Dalam bela negara pun memiliki beberapa unsu-unsur dasar yakni sebagai berikut: a. Cinta tanah air. b. Kesadaran berbangsa dan bernegara. c. Keyakinan akan Pancasila sebagai ideologi negara. d. Rela berkorban demi bangsa dan negara. e. Memiliki kemampuan dasar bela negara. 17 BAB III PENUTUP A. KESIMPULAN ajaran hidup ki hadjar dewantara a. Cita – Cita Manusia Salam – Bahagia, Dunia Tertib – Damai b. Kemerdekaan Diri, Tertib – Damai c. Democratie En Leiderschap-Demokrasi Dan Pimpinan Kebijaksanaan d. Sistem Among, Tut Wuri Handayani e. Merdeka, Kesanggupan Dan Kemampuan Untuk Berdiri Sendiri f. Zelfbedruiping Systeem – Opor Bebek Mateng Saka Awake Dewek g. Hidup Hemat Dan Sederhana h. Tamansiswa Masyarakat Tidak Berkelas i. Kekeluargaan – Demokrasi Dengan Kepemimpinan j. Terug Naar Het Nationale – Kembalilah Pada Asalmu k. Kebangsaan – Kodrat Alam l. Kebangsaan – Kemanusiaan m. Kebangsaan – Persatuan Dan Kesatuan Nasional n. Kebangsaan – Kerakyatan o. Teori Trikon p. Dasar Kulturil – Kontinu q. Dasar Nasional – Konsentris r. Dasar Kemasyarakatan – Konvergen s. Tirulah Hidup Cecak fatwa untuk hidup merdeka a. LawanSastraNgestiMulya b. Suci Tata Ngesti Tunggal c. Hakdiriuntukmenuntutsalamdanbahagia d. Salam bahagia diri tak boleh menyalahi damainya masyarakat. e. Kodrat alam penunjuk untuk hidup sempurna f. Alam hidup manusia adalah alam hidup berbulatan g. Dengan bebas dari segala ikatan dan suci hati berhambalah kita kepada 18 h. Tetep-Mantep-Antep i. Ngandel-kendel-bandel j. Neng-ning-nung-nang trilogi tamansiswa Hidup salam dan bahagia, yang berarti selamat lahirnya dan bahagia batinnya, dicapai dengan kecukupan sandang pangan keperluan jasmaniah dan bebas merdeka jiwanya, bebas dari gangguan lahir dan gangguan batin, bebas dari ketakutan. Orang tak akan bahagia apabila hidupnya hanya dengan kecukupan makanan dan pakaian, kalau dia hidup dalam ketidakbebasan dan ketakutan. Kecukupan sandang pangan tanpa kebebasan dan kemerdekaan jiwa, tak akan memberi bahagia. Sebaliknya kebahagiaan tak akan ada selama orang masih menderita kekurangan keperluan jasmanihnya. Cita-cita hidup salam dan bahagia hanya bisa di capai dalam satu masyarakat yang tertib dan damai, tata lan tentrem (orde en vrede). Ketertiban menjadi syarat mendatangkan damai, tetapi ketertiban oleh paksaan dan tekanan tidak akan mendatangkan kedamaian hidup. Tertib lahirnya, damai batinya itulah masyarakat yang akan dicapai oleh tamansiswa. Salam bahagia bagi tiap orang, tertib damai bagi masyarakat. a. b. c. d. TRI SAKTI  Cipta  Rasa  Karsa TRI HAYU  Mamayu hayuning sarira  Mamayu hayuning bangsa  Mamayu hayuningmanungsa (bawana) TRI PUSAT PENDIDIKAN  Pendidikan dilingkkungan keluarga  Pendidikan di lingkungan sekolah  Alam kemasyarakatan atau alam pemuda merupakan kancah pemuda untuk beraktivitas dan beraktualisasi diri mengembangkan potensi dirinya. TRINGA  Ngerti 19 e. f. g.  Ngrosa  Nglakoni TRILOGI KEPEMIMPINAN  Ing Ngarso Sung Tulodo (di depan memberikan teladan)  Ing Madyo Mangun Karso (di tengah memberikan bimbingan)  Tut Wuri Handayani (dibelakang memberi dorongan) TRI PANTANGAN  Tidak Boleh Menyalah Gunakan Kekuasaan  Penyalah Gunaan Keuangan  Tidak Boleh Merusak Pagar Ayu (Selingkuh) TRI DARMA  Berani Berintrospeksi  Merasa Ikut Memiliki  Berkewajiban mebela B. SARAN a. Ajaran – ajaran Tamansiswa sebaiknya diterapkan dan dilakukan oleh mahasiswa, organisasi – organisasi dan seluruh keluarga di Tamansiswa. b. Dedikasi, loyalitas dan keikhlasan para pelaksana Perguruan Tamansiswa agar tetap terpelihara dan dipertahankan. 20 DAFTAR PUSTAKA Ki Sutikno, Ketamansiswaan 1. Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta http://adityaphisca.blogspot.co.id/2014/03/trilogi-kepemimpinan-idealdalam.html?m=1

Judul: Makalah Tamansiswa.docx

Oleh: Siti Nurjanah (janah)


Ikuti kami