Makalah Kwu

Oleh Noer Irna

151,3 KB 10 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Makalah Kwu

BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Banyak pada perusahaan-perusahaan melakukan presentasi hanya bertujuan menyampaikan berupa informasi saja. Informasi/pesan yang disampaikan bisa bersifat biasa, penting atau bahkan rahasia. Perusahaan mengundang seseorang yang dianggap pantas untuk menyampaikan informasi sesuai tema yang telah ditentukan. Dalam hal ini pembicara memiliki keahlian sesuai dengan bidang dan pengalamannya. Dalam ilmu ekonomi dikenal istilah bisnis yang berarti suatu organisasi yang menjual barang atau jasa kepada konsumen atau bisnis lainnya. Ada 3 hal penting dalam bisnis, yaitu semua bisnis menghasilkan barang atau jasa, semua bisnis mencari keuntungan, dan semua bisnis mencoba meneruskan keinginan konsumen. Sebuah bisnis memiliki pengaruh yang sangat kuat dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, bisnis bisa dijadikan sebuah pilihan karir atau profesi. Alasan lain yang mendorong kita untuk berbisnis adalah keinginan untuk memiliki dan untuk menjelaskan kepada konsumen tentang produk yang dihasilkan. Menjalankan sebuah bisnis bukan suatu hal yang mudah, karena dalam pelaksanaannya kita memerlukan persiapan yang matang serta memiliki keterampilan dalam aspek-aspek yang mendukung berjalannya bisnis. Salah satu keterampilan penting dalam menjalankan sebuah bisnis adalah keterampilan dalam bernegosiasi. Tidak bisa dipungkiri, dalam bisnis kita tidak bisa berjalan secara individu. Dalam bisnis, kita akan memerlukan dan akan berinteraksi dengan orang lain. Keterampilan dalam bernegosiasi akan mempermudah. perjalanan suatu bisnis, karena kita akan dengan mudah mendapatkan kesepakatan yang sesuai dengan keinginan kedua belah pihak yang melakukan kerja sama. B. Rumusan Masalah 1. Apa yang dimaksud dengan Selling skill, Memasarkan, Tahapan proses menjual, Negosiasi, Presentasi dan Relasi ? 2. Bagaimana teknik, syarat dan jenis serta tujuan Memasarkan, Negosiasi, Presentasi dan Relasi ? BAB II PEMBAHASAN A. SELLING SKILLS Selling Skills adalah kemampuan seseorang untuk menjual sesuatu barang atau jasa. Semua orang pasti ingin menjadi penjual yang sukses akan tetapi tidak semua penjual tahu bagaimana caranya. Untuk menjadi seorang penjual yang sukses ada beberapa hal yang harus dimiliki, yaitu: talent atau yang disebut dengan bakat. Bakat yang dimiliki oleh seseorang yang merupakan pembawaan dari lahir yang mana merupakan potensi atau modal dasar bagi seseorang untuk menjadi penjual yang sukses. Orang yang sudah memiliki bakat sebagai penjual bisa kita lihat dari beberapa karakter dibawah ini, misalanya: bertanggung jawab, sopan, mudah bergaul, cerdas, disiplin, tekun, jujur, rajin, ulet, kreatif, berkomitmen dll. Terlepas dari apakah orang tersebut bisa memanfaatkan potensi yang dimilikinya. Talenta tidak hanya diperlukan bagi seseorang yang ingin menjadi penjual yang sukses saja akan tetapi dibutuhkan bagi semua orang dalam segala aspek pekerjaan. Melakukan suatu pekerjaan sesuai dengan talenta akan mempermudah mencapai kesuksesan. Karena seseorang dapat melakukan pekerjaannya secara maksimal. Orang yang tidak memiliki bakat menjual bisa menjadi penjual yang sukses kalau dia mau belajar dan mempelajarinya. Dengan semangat dan keyakinan yang kita miliki dapat membantu kita membangun sikap mental yang positif, karena segala sesuatu yang berawal dengan hal-hal yang positif akan mengkasilkan buah yang positif juga, dan perlu kita ketahui bahwa pada dasarnya semua manusia dilahirkan positif, hanya terkadang dikondisikan menjadi negative. Berikut 10 tips untuk mengasah kemampuan menjual yang bisa diterapkan demi kemajuan bisnis : 1. Temukan tingkat kenyamanan. Menurut Matthew Schwartz, penulis Fundamentals of Sales Management for Newly Appointed Sales Manager (AMACOM, 2006), berjualan juga membutuhkan tingkat kenyamanan tersendiri dan hal itu menjadi kunci pertama entrepreneur untuk meraih kesuksesan. 2. Tentukan target konsumen. Mengindentifikasi konsumen bisa membantu memperbaiki strategi penjualan dan menjadi lebih efisien. Misalkan, usahanya adalah fotocopy. Cari tahu siapa sesungguhnya konsumen yang ingin dibidik, apakah perusahaan corporate atau anak sekolah atau mahasiswa 3. Pelajari budaya membeli konsumen. Setelah mengidentifikasinya, langkah selanjutnya adalah mencari tahu perilaku konsumen. Contohnya jika menjual produk berharga tinggi, konsumen sering kali butuh waktu relatif lebih lama untuk membuat keputusan. Itu artinya, harus merencanakan waktu yang lebih lama juga untuk closing atau melakukan transaksi. 4. Perlakukan konsumen pertama sebaik mungkin. Menurut Schwartz ketika mulai menjual, perlakukan konsumen pertama sebaik mungkin dengan pelayanan ekstra bila diperlukan. Meski transaksi penjualannya tidak sebesar yang diinginkan, namun bila konsumen itu merasa puas dengan pelayanan yang diberikan, mereka bisa menjadi ‘duta’ bagi reputasi bisnis atau perusahaan yang kita didirikan. 5. Sisihkan waktu untuk membangun relasi. Salah satu kesalahan terbesar entrepreneur adalah gagal membangun relasi dengan konsumen. Begitulah pendapat Rick Segel, penulis Retail Business Kit for Dummies (Wiley, 2001). “Hal pertama yang Anda jual adalah diri Anda sendiri. Jika konsumen tak menyukai Anda, transaksi penjualan takkan pernah terjadi,” tuturnya 6. Pertahankan relasi. Ketika telah berhasil menjalin relasi dengan konsumen, cari cara untuk mempertahankan relasi tersebut. Lakukan hal itu misalnya dengan mengirim newsletter mengenai bisnis yang dibangun secara regular. 7. Jangan mudah berasumsi. Menurut Keith Rosen, penulis Coaching Salespeople into Sales Champion (Wiley, 2008), pelaku bisnis kecil biasanya sering menyabotase penjualan mereka dengan terlalu cepat berasumsi mengenai apa yang diinginkan atau yang akan dibayar oleh konsumen. Alih-alih berasumsi, lebih baik tanyakan secara langsung kepada konsumen tentang apa yang membuat mereka membelanjakan uanganya dan apa kriteria mereka dalam mengambil keputusan. 8. Buat agenda harian. Sangat mudah untuk mengabaikan prospek penjualan bila fokus perusahaan terpecah kepada urusan lainnya yang berkaitan dengan bisnis. Untuk mencegah terjadinya hal tersebut, buatlah jadwal rutinitas penjualan. Hal itu bisa diwujudkan dengan menyisihkan satu atau dua jam untuk menangani penjualan atau membuat target mingguan untuk menggapai 10 klien potensial. 9. Perlihatkan kesuksesan Situs perusahaan yang bisa menjadi satu-satunya pintu penghubung dengan konsumen. Tak hanya mampu menambah kredibilitas perusahaan, tapi upaya itu juga bisa membuat perusahaan terlihat lebih profesional di mata konsumen. Schwartz merekomendasikan kepada pelaku bisnis untuk memasukkan testimoni di setiap pengalaman bisnis yang tercipta dengan klien. “Orang-orang menyukai studi kasus,” jelasnya. “Mereka (konsumen) tidak membeli ucapan, mereka membeli aksi (Anda).” 10. Menjadi pakar industri. Menurut pendapat Rosen, memposisikan diri sebagai pemimpin di bidang yang sedang digeluti bisa meningkatkan penjualan. Dengan cara bisa menulis artikel, membuat blog atau mempublikasikan usaha ke media untuk membangun kredibilitas. “Orang-orang ingin memandang Anda sebagai seseorang yang mengenal dengan baik industri (yang Anda geluti),” jelas Schwartz. B. Memasarkan Versus Menjual Marketing adalah kegiatan penting dalam mewujudkan tujuan perusahaan, yaitu terjadinya transaksi. Di dalam konsep strategi pemasaran terdapat dua bagian penting, yaitu tujuan promosi dan selling. Tujuan promosi terdiri dari Jangka panjang adalah kekuatan merek dan jangka pendek adalah menjual. Sedangkan kegiatan menjual (selling) adalah salah satu misi dan tujuan aktivitas jangka pendek dari strategi pemasaran sedangkan visinya adalah membangun “kekuatan merek” di benak pelanggan. Salesman : Menjual Produk atau Bisnis Anda Seorang salesman itu menawarkan menfaat (benefit), bukan apa yang dilihat dan disentuh oleh pelanggan (product feature). Salesman menjual manfaat produk dan binisnya, bukan menjual barang dan jasanya karena fisik produk adalah sesuatu yang di “deliver” ke pelanggan dan manfaat adalah apa yang dirasakan oleh pelanggan. Salesman itu Menjual Kualitas, Bukan hanya Produk atau Bisnis Yang dijual oleh salesman adalah dirinya (personal selling), merek produk (company selling) dan kualitas produknya (quality produk). Kualitas secara keseluruhan terdiri dari 3 aspek 1. What Will You Dilever? apa yang akan diberikan kepada konsumen yang melekat pada suatu produk/jasa meliputi: (1) ciri-ciri produk atau jasanya, (2) fungsinya, (3) kemasan atau nilai tambah dari jasa anda, (4) warna dan ciri khas dari jasa yang ditawarkan, (5) jaminan, dll. 2. Who Will Dilever? siapa yang akan menawarkan produk atau jasa kepada konseume. faktor kesuksesannya meliputi : (1) sikap penjual, (2) cara komunikasi, (3) gerak tubuh harus baik, (4) Mimik wajah dari penjual tidak membuat calon pelanggan malas melihatnya (5) pengetahun produk harus dikusai dan bisa membuat calon konsumen yakin, percaya dan termotivasi untuk membeli produk anda (5) semangat dan gairah dalam berkunjung, (6) mental pantang menyerah, (7) keterampilan dalam membantu calon konsumen, (8) kreatifitas dan inovasi dalam membantu kesulitan yang dialami konsumen. 3. How Will You Deliver? bagaimana cara seorang penjual meyakinkan, memotivasi, dan membuat calon konsumen percaya atas pembelian yang ia putuskan. Oleh karena itu, penjual membutuhkan selling skill. Cara Orang Mendapatkan Produk Ada beberapa cara seseorang untuk mendapatkan produk yang ia inginkan : 1. membuat sendiri – bila bisa 2. meminta atau merayu – bila diperbolehkan 3. mamaksa – bila anda tidak mempunyai skill 4. pertukaran nilai (barter) – transaksi jual beli Salesmanship Level Salesmanship level adalah kemampuan untuk menawarkan suatu produk agar prospek bisa membeli produk dari anda, meliputi : 1. Memaksa atau meminta (kurang etis) 2. Merayu atau manipulate (kurang etis) 3. Bergaining atau barter (bersifat lebih terbuka) 4. Motivation (bersifat terbuka) Wirausahawan Sukses Adalah Salesman Sukses Berikut adalah beberapa hal yang harus dipunyai oleh entrepreneur untuk menjadi salesman yang kuat : 1. Personality 2. Knowledge 3. Idea and Creativity 4. Selling skill 5. Concept Faktor Kesuksesan Penjual Faktor keberhasilan seorang penjual tidak hanya bisa dilihat dari sisi meningkatnya jumlah dan nilai penjualannya, namun ada faktor lain yang menjadi kreteria keberhasilan, seperti: 1. Konsumen selalu mencari penjual tersebut jika ingin membeli produk karena merasa yakin, aman, dan tenang. 2. Selalu ingin disuplai dari penjual tersebut 3. Berkomunikasi secara dekat dan intens 4. selalu berhubungan dengan penjual tersebut jika ingin memecahkan masalah pembelian produk 5. Bangga bila ditelpon atau dihubungi penjual 6. enggan membeli dari penjual lain 7. semua kebutuhan ingin diberikan kepada penjual tersebut 8. menolak untuk bertemu dengan salesman lain Motif Membeli Seseorang Secara spesifik, jenis motif membeli seseorang (secara emosional) tampak sebagai berikut : 1. kebanggaan 2. untuk mencintai seseorang 3. ingin lebih dikenal dari sebelumnya 4. kenyamanan 5. keamanan 6. bagian dari sebuh komonitas atau kelompok Secara rasional motif membeli digolongkan sebagai berikut: 1. efisiensi 2. layanan yang lebih baik, cepat, dan cukup 24 jam 3. harga murah, tetapi mutunya bagus 4. kualitas yang di dukung dengan data teknis, uji laboratorium, dsb. 5. atribut atau faktor pendukung dari produk utama 6. kecepatan, yang dihasilkan dari sebuah produk 7. akurasi dan presisinya 8. kesederhanaan proses membukanya 9. kemudahan pemakaiannya 10. efektifitasnya Sedangkan apabila ditinjau dari posisi calon pelanggan dalam fungsi sebuah organisasi, maka motif pembelian dikelompokkan dalam 5 kategori:] 1. motif membeli untuk kepentingan pengambilan keputusan (decision making) 2. motif membeli untuk kepentingan bagian pembelian 3. motif membeli untuk menggunakan produk tersebut 4. motif membeli untuk orang yang menyetujui penggunaan produk tersebut 5. motif membeli dari orang-orang yang memengaruhi penganbilan keputusan perusahaan untuk meminta dan membeli produk tersebut. C. Tahapan – tahapan proses menjual Salah satu aspek yang ada dalam penjualan adalah penjualan dengan bertemu muka (face-to-face selling) di mana seorang penjual langsung berhadapan muka dengan calon pembelinya. Masalah tersebut menjadi titik-berat dalam pembahasan tentang proses penjualan berikut. Tahapan dalam penjualan yang bisa dipraktikkan tenaga penjual atau salesman dalam penjualan barang atau jasa di antaranya adalah: 1. Prospecting and Qualifying. Langkah pertama dalam menjual adalah mengidentifikasi dan mengkualifikasi prospek. Secara historis, kebanyakan perusahaan akan memberikan tugas menemukan leads ini kepada tenaga penjualan mereka. Namun sekarang, banyak perusahaan mengambil tanggungjawab untuk menemukan dan mengkualifikasikan leads sehingga tenaga penjualan dapat menggunakan waktu mereka untuk melakukan apa yang dapat mereka lakukan dengan sebaik-baiknya, yaitu: menjual. Perusahaan dapat memperoleh leads melalui cara-cara berikut: a. Mencari sumber data (koran, buku telepon) dalam usaha untuk mencari namanama. Perusahaan dapat mendapatkan informasi mengenai perusahaan dan industri melalui penjual daftar komersial. b. Membuka kios di pameran perdagangan (trade show) untuk mendorong leads untuk mampir c. Mengundang pelanggan yang sudah ada untuk menyarankan nama – nama dari prospek. d. Mengolah sumber referral yang lain, seperti pemasok, dealer, sales representatives bukan pesaing, banker, dan eksekutif asosiasi perdagangan. e. Menghubungi organisasi dan asosiasi dimana prospek berada atau menjadi anggota di dalamnya. f. Terlibat dalam aktifitas bicara atau menulis yang akan menarik perhatian g. Menggunakan telepon, surat dan internet untuk menemukan leads h. Kontak dengan pelanggan prospek tanpa janji temu terlebih dahulu (cold canvassing). Setelah memperoleh leads, kemudian perusahaan dapat mengkualifikasikan leads dengan menghubungi mereka melalui surat atau telepon untuk memperkirakan tingkat ketertarikan dan kapasitas finansial mereka. Leads ini dapat dikategorikan menjadi hot prospects, warm prospects, dan cool prospects, dengan hot prospect ditangani oleh tenaga penjual, dan warm prospects ditangani melalui telemarketing untuk follow-up. Biasanya diperlukan 4 kali kunjungan pada prospek untuk menyelesaikan sebuah transaksi bisnis. 2. Preapproach. Pada tahap ini, tenaga penjualan perlu untuk mempelajari sebanyak mungkin mengenai perusahaan prospek (apa yang dibutuhkan, siapa yang terlibat dalam kebutusan pembelian) dan pembeli dari prospek (bagaimana karakter personal dan model pembelian). Tenaga penjual harus menetapkan tujuan kunjungan: mengkualifikasikan prospek, mengumpulkan informasi, melakukan penjualan secepatnya. Tugas yang lain adalah: menentukan pendekatan kunjungan yang paling baik, bisa kunjungan personal, telepon atau surat. Timing yang baik juga harus dipertimbangkan karena banyak prospek sibuk pada jam jam tertentu. Akhirnya, tenaga penjual harus merencanakan keseluruhan strategi penjualan untuk prospek. 3. Approach. Tenaga penjualan harus tahu bagaimana menyapa pembeli untuk mendapatkan hubungan sebagai awal yang baik. Tenaga penjual bisa mempertimbangkan mengenakan pakaian yang setara dengan yang dipakai pembeli; menunjukkan kesopanan dan perhatian pada pelanggan; dan menghindari tingkah laku yang mengganggu, misalnya memelototi pelanggan. 4. Presentation and demonstration Pada tahap ini, tenaga penjualan memberitahukan mengenai produk kepada pembeli, dengan menggunakan formula AIDA (attention, interest, desire, action). Perusahaan dapat memilih 3 tipe presentasi penjualan berikut: a. Canned approach Pendekatan ini adalah yang tertua, dimana sales berbicara. Hal ini berdasarkan pada pemikiran stimulus - respon bahwa pembeli pasif dan dapat didorong untuk melakukan pembelian dengan menggunakan stimulus kata, gambar, cara dan tindakan yang tepat b. Formulated approach Pendekatan ini juga berdasarkan pemikiran stimulus-respon tetapi pertamatama mengidentifikasi kebutuhan pelanggan dan gaya pembelian kemudian menggunakan pendekatan yang telah dirumuskan untuk tipe-tipe pembeli tertentu. c. Need - satisfaction approach Pendekatan dimulai dengan mencari kebutuhan pelanggan yang sesungguhnya dengan mendorong pelanggan untuk lebih banyak berbicara. Tenaga penjual berperan sebagai konsultan bisnis yang diharapkan untuk membantu pelanggan menghemat uang atau menghasilkan uang lebih banyak. Presentasi penjualan dapat dikembangkan dengan alat-alat demonstrasi yaitu booklet, slide, film, audio, dan kaset video, sampel produk, dan simulasi menggunakan komputer. 5. Overcoming Objections. Pelanggan biasanya selalu mengutarakan keberatan selama presentasi atau ketika ditanya untuk order. Keberatan dapat terdiri dari harga, jadwal pengiriman, atau karakteristik dari produk atau perusahaan. Untuk mengatasi keberatan ini, tenaga penjual memelihara pendekatan yang positif, yaitu dengan menanyakan pembeli untuk mengklarifikasi keberatan, menanyai pembeli dengan cara dimana pembeli harus menjawab keberatannya sendiri, menolak kevalidan dari keberatan, atau mengubah keberatan menjadi alasan untuk membeli. Mengatur dan mengatasi keberatan adalah perluasan keahlian dari negosiasi. 6. Closing. Beberapa tenaga penjual tidak bisa mencapai tahap ini atau tidak melakukannya dengan baik. Ada beberapa teknik menutup penjualan. a. Mereka dapat meminta order b. Meringkas point-point persetujuan c. Menawarkan untuk membantu sekretasisnya menulis order d. Menanyakan apakah pembeli menginginkan A atau B e. Membuat pelanggan untuk membuat pilihan minor seperti warna atau ukuran f. Menunjukkan apa yang akan pelanggan lewatkan bila order tidak dilakukan sekarang g. Tenaga penjual dapat menawarkan rangsangan untuk menutup penjualan, seperti harga spesial, ekstra kuantiti, atau hadiah yang bisa didapat. 7. Following up and maintenance. Diperlukan untuk mengukur kepuasan pelanggan dan bisnis ulang. Tenaga penjual harus menjadwalkan untuk melakukan follow-up ketika order pertama sudah diterima untuk memastikan pelaksanaan, petunjuk dan pelayanan yang layak. Kunjungan ini akan mendeteksi masalah-masalah yang ada, mengukur kepuasan pelanggan, dan mengurangi halhal yang tidak diinginkan yang mungkin timbul. D. Negosiasi Negosiasi adalah Interaksi sosial antara pihak - pihak yang mempunyai kepentingan berbeda demi untuk mencapai kesepakatan bersama baik secara formal maupun informal. 1. Formal yang dimaksud disini yaitu kesepakatan negosiasi yang ditandai dengan sebuah bukti tertulis. misalnya, negosiasi karyawan dengan pemilik perusahaan. 2. Informal yang dimaksud disini yaitu kesepakatan negosiasi yang hanya disepakati kedua belah pihak saja tanpa ada bukti tertulis. misalnya, negosiasi antara anak dengan orang tua. Pada umumnya negosiasi digunakan dalam sengketa yang tidak terlalu pelik, di mana para pihak masih beriktikad baik dan bersedia untuk duduk bersama memecahkan masalah. Menurut pasal 6 ayat 2 Undang Undang nomor 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa, pada dasarnya para pihak berhak untuk menyelesaikan sendiri sengketa yang timbul di antara mereka. Kesepakatan mengenai penyelesaian tersebut selanjutnya harus dituangkan dalam bentuk tertulis yang disetujui oleh para pihak. 1. Tujuan Negosiasi  Untuk mendapatkan atau mencapai kata sepakat yang mengandung kesamaan persepsi, saling pengertian dan persetujuan.  Untuk mendapatkan atau mencapai kondisi penyelesaian atau jalan keluar dari masalah yang dihadapi bersama.  Untuk mendapatkan atau mencapai kondisi saling menguntungkan dimana masingmasing pihak merasa menang (win-win solution). Negosiasi dilakukan karena pihak-pihak yang berkepentingan perlu membuat kesepakatan mengenai persoalan yang menuntut penyelesaian agar mendapatkan kesepakatan bersama. Negosiasi yang tidak efektif dalam organisasi akan berdampak : 1. Tidak dapat mempertahankan kontrol emosi dalam diri dan lingkungan 2. Tidak tercapainya tujuan dikarenakan masing-masing pihak belum dapat mempunyai persepsi yang sama. 3. Timbulnya suatu konflik yang menyebabkan hubungan menjadi kurang baik 4. Timbulnya stress pada orang yang terlibat pada negosiasi. 5. High Cost dalam sisi waktu, pikiran, tenaga dan biaya. 2. Keterampilan-keterampilan dasar Bernegosiasi Berikut ini, adalah keterampilan -keterampilan dasar dalam bernegosiasi : 1. Ketajaman pikiran / kelihaian 2. Sabar 3. Kemampuan beradaptasi 4. Daya tahan 5. Kemampuan bersosialisasi 6. Konsentrasi 7. Kemampuan berartikulasi 8. Memiliki selera humor Karakreistik negosiasi yang baik yaitu: 1. Senantiasa melibatkan orang, baik sebagai individual, perwakilan organisasi atau perusahaan, sendiri atau dalam kelompok 2. Memiliki ancaman terjadinya atau didalamnya mengandung konflik yang terjadi kesepakatan dalam akhir negosiasi 3. Menggunakan cara-cara pertukaran sesuatu, baik berupa tawar menawar (bargain) maupun tukar menukar (barter) 4. Hampir selalu berbentuk tatap muka yang menggunakan bahasa lisan, gerak tubuh maupun ekspresi wajah 5. Negosiasi biasanya menyangkut hal-hal di depan ata sesuatu yang belum terjadi dan kita inginkan terjadi 6. Ujung dari negosiasi adalah adanya kesepakatan yang diambil oleh kedua belah pihak, meskipun kesepakatan itu misalnya kedua belah pihak sepakat untuk tidak sepakat 3. Proses Negosiasi a. Pihak yang memiliki program (pihak pertama) menyampaikan maksud dengan kalimat santun, jelas, dan terinci. b. Pihak mitra bicara menyanggah mitra bicara dengan santun dan tetap menghargai maksud pihak pertama. c. Pemilik program mengemukakan argumentasi dengan kalimat santun dan meyakinkan mitra bicara disertai dengan alasan yang logis. d. terjadi pembahasan dan kesepakatan terlaksananya program/ maksud negosiasi. 4. Manfaat Negosiasi Selain mempunyai tujuan, negosiasi juga mempunyai manfaat. Manfaat yang diperoleh dari sebuah proses negosiasi di dalam pengertian bisnis resmi antara lain adalah : 1. Untuk mendapatkan atau menciptakan jalinan kerja sama antar badan usaha atau institusi ataupun perorangan untuk melakukan suatu kegiatan atau usaha bersama atas dasar saling pengertian. Dengan terjalinnya kerjasama antar kedua belah pihak inilah maka tercipta sebuah transaksi bisnis yang saling terkait, sehingga membuat hidup perekonomian. Dengan kata lain, bahwa suatu proses negosiasi bisnis merupakan bagian dari suatu proses interaksi guna menghidupkan perekonomian dalam skala yang lebih luas. 2. Dalam sebuah perusahaan, sebuah proses negosiasi akan memberikan manfaat untuk menjalin hubungan bisnis yang lebih luas dan juga untuk mengembangkan pasar, yang diharapkan memberikan peningkatan penjualan. Proses negosiasi bisnis juga akan menghasilkan harga yang lebih baik dan efisiens, yang memberikan keuntungan yang lebih besar. Dalam jangka panjang hal ini akan memberikan kemajuan dari sebuah perusahaan 3. Negosiasi adalah sebuah bentuk interaksi sosial saat pihak - pihak yang terlibat berusaha untuk saling menyelesaikan tujuan yang berbeda dan bertentangan. E. KOMUNIKASI Secara etimologis berasal dari bahasa Latin yaitu communicatus yang bersumber pada kata communis. Kata communis bermakna ‘berbagi’ atau ‘menjadi milik bersama’ yaitu suatu usaha yang memiliki tujuan untuk kebersamaan atau kesamaan makna. Komunikasi adalah proses penyampaian suatu pesan oleh seseorang kepada orang lain untuk memberitahu atau untuk mengubah sikap, pendapat, atau perilaku, baik langsung secara lisan maupun tidak langsung melalui media; proses penyampaian bentuk interaksi gagasan kepada orang lain dan proses penciptaan arti terhadap gagasan atau ide yang disampaikan, baik sengaja maupun tidak sengaja. Pada prinsipnya dapat disimpulkan bahwa komunikasi mengacu pada tindakan, oleh satu orang atau lebih, yang mengirim dan menerima pesan yang terdistorsi oleh gangguan (noise), terjadi dalam suatu konteks tertentu, mempunyai pengaruh tertentu dan ada kesempatan untuk melakukan umpan balik. (Gambar Model Komunikasi menurut Berelson, 1968) 1. Komponen Komunikasi a. Lingkungan Komunikasi  Fisik : Ruang di mana komunikasi berlangsung nyata atau berwujud.  Sosial-psikologis : Tata hubungan status di antara pihak yang terlibat, peran yang dijalankan orang dan aturan budaya masyarakat di mana orang-orang berkomunikasi.  Temporal (waktu) : Mencakup waktu dalam hitungan jam, hari, atau sejarah di mana Komunikasi. b. Sumber-Penerima Lebih dikenal dikenal dengan istilah sumber (komunikator) – penerima (komunikasi) sebagai satu kesatuan yang tak terpisahkan untuk menegaskan bahwa setiap orang yang terlibat dalam komunikasi adalah sumber (atau pembicara), sekaligus penerima (atau pendengar). c. Enkoding-Dekoding Enkoding (encoding atau penyandian) adalah tindakan menghasilkan pesan (misalnya, berbicara atau menulis) dengan menuangkan gagasan-gagasan kita ke dalam gelombang suara atau ke atas selembar kertas, maka kita menjelmakan gagasan-gagasan tadi ke dalam kode tertentu. Sedangkan Dekoding (decoding atau pemecahan sandi) adalah tindakan menerima pesan (misalnya, mendengarkan atau membaca) dengan menerjemahkan gelombang suara atau kata-kata di atas kertas menjadi gagasan, sehingga dapat di uraikan kode tadi. Pembicara atau penulis sebagai enkoder (encoder) dan pendengar atau pembaca sebagai dekoder (decoder). d. Kompetensi Komunikasi Kemampuan seseorang untuk berkomunikasi secara efektif mencakup hal-hal seperti pengetahuan tentang peran lingkungan dalam mempengaruhi kandungan dan bentuk pesan komunikasi yang layak dikomunikasikan kepada pendengar tertentu di lingkungan tertentu. e. Pesan Pesan komunikasi dapat mempunyai banyak bentuk. Kita mengirimkan dan menerima pesan ini melalui salah satu atau komunikasi tertentu dari panca indera. Pesan dapat dibedakan dalam dua bentuk yaitu komunikasi verbal (lisan atau tertulis) dan komunikasi nonverbal (tanpa kata atau isyarat, gerak dan mimik). f. Saluran Saluran komunikasi adalah media yang dilalui pesan. Jarang sekali komunikasi berlangsung melalui hanya satu saluran, yaitu umumnya kita menggunakan dua, tiga, atau empat saluran yang berbeda secara simultan. Saluran dalam komunikasi dapat dibagi menjadi empat jenis yaitu, saluran suara (berbicara dan mendengarkan), saluran visual (isyarat atau gerakan tubuh), saluran olfaktori (memancarkan dan mencium bau-bauan) dan saluran taktil (sentuhan). g. Umpan Balik Umpan balik adalah informasi yang dikirimkan balik ke sumbernya. Umpan balik dapat berasal dari anda sendiri atau dari orang lain. h. Gangguan Gangguan (noise) adalah gangguan dalam komunikasi yang mendistorsi pesan. Gangguan menghalangi penerima dalam menerima pesan dan sumber dalam mengirimkan pesan. Gangguan dikatakan ada dalam suatu sistem komunikasi, hal ini membuat pesan yang disampaikan berbeda dengan pesan yang diterima. Gangguan dapat dibedakan dalam tiga jenis yaitu :  Fisik : Interferensi dengan transmisi fisik isyarat atau pesan lain.  Psikologis : Interferensi kognitif atau mental.  Semantik : Pembicaraan dan pendengar memberi arti yang berlainan. 2. Tujuan dan Fungsi Komunikasi a. Agar menjadi tahu dan memberitahukan. b. Menilai masukan (input) atau hasil (output) atau suatu pola pemikiran. c. Mengarahkan atau diarahkan. d. Mempengaruhi dan dipengaruhi. e. Mengandung beberapa fungsi insidental, atau netral (yang ridak langsung mempengaruhi tercapainya tujuan dan hubungan dalam pergaulan sosial). 3. Kegunaan Mempelajari Ilmu Komunikasi Adapun beberapa alasan yang mendasari kegunaan mempelajari ilmu komunikasi yaitu : a. Komunikasi adalah fundamental dalam kehidupan kita. b. Komunikasi adalah merupakan suatu aktifitas kompleks. c. Komunikasi adalah vital untuk suatu kedudukan/posisi efektif. d. Suatu pendidikan tinggi tidak menjamin kompetensi komunikasi yang baik. e. Komunikasi adalah populer. 4. Komunikasi dalam Organisasi a. Komunikasi berdasarkan ruang lingkupnya terbagi menjadi 2, yaitu : 1) Komunikasi Makro : Komunikasi yang terjadi antara organisasi tersebut dengan organisasi lainnya. 2) Komunikasi Mikro : Komunikasi yang terjadi diantara para anggota organisasi atau dapat disebut sebagai komunikasi interpersonal dalam organisasi. b. Komunikasi berdasarkan sifatnya terbagi menjadi 2, yaitu : 1) Komunikasi Formal : Komunikasi resmi yang menempuh jaringan organisasi struktur formal. 2) Komunikasi Informal : Komunikasi yang menempuh jaringan yang biasanya jauh lebih cepat dibandingkan dengan saluran-saluran resmi. c. Komunikasi berdasarkan arah aliran informasinya terbagi menjadi 4, yaitu : 1) Komunikasi ke atas (Upward Communication) : Komunikasi dari bawahan ke atasan yang mencakup sistem-sistem saran, kebijaksanaan pintu terbuka, mendengarkan keluhan-keluhan karyawan dan survei semangat. 2) Komunikasi ke bawah (Downward Commucation) : Komunikasi dari tingkat yang lebih rendah dari suatu organisasi, mencakup pedoman perusahaan, publikasi ke dalam, memo, papan buletin dan rak informasi. 3) Komunikasi horizontal (Horizontal Communication) : Komunikasi horizontal terdiri dari penyampaian informasi diantara rekan sejawat dalam unit kerja yang sama. 4) Komunikasi Silang (Across Communication) : Komunikasi ini merupakan penyampaian informasi rekan sejawat yang melewati batasbatas fungsional dengan individu yang tidak menduduki posisi atasan maupun bawahannya. 5. Lima Kaidah Komunikasi Lima kaidah dalam berkomunikasi yang efektif diantaranya adalah : a. Respect : Menghargai atau menganggap penting keberadaan orang yang diajak berkomunikasi b. Empathy : Kemampuan untuk menempatkan diri pada situasi atau kondisi yang dihadapi oleh orang lain. c. Audible : Dapat didengarkan atau dimerngerti dengan baik. d. Clarity : Kejelasan pesan yang disampaikan. e. Humble : Bersikap rendah hati dalam menyampaikan pesan atau berkomunikasi. G. PRESENTASI Presentasi adalah komunikasi lisan, atau pidato yang telah dipersiapkan dan disampaikan dengab cara formal. Presentasi dapat berupa laporan kemajuan, penjelasan produk/jasa baru kepada klien, kuliah, pelatihan, wawancara pekerjaan seminar ipmiah, bisnis dan sebagainya yang disampaikan dihadapan khalayak yang kebih khusus. Dalam menyampaikan presentasi, sebagai pembicara atau presenter perlu memahami 5 komponen atau unsur penting yang harus diperhatikan, yakni : 1. Pengirim pesan (sender) 2. Pesan yang dikirimkan (message) 3. Bagaimana pesa tersebut dikirimkan (delivery channel) 4. Penerima pesan (receiver) 5. Umpan balik (feedback) Menurut Guffey (1991), dalam melaksanakan suatu presentasi, setidak-tidaknya ada 9 hal penting yang harus dilaksanakan, yaitu : 1. Mulailah dengan sebuah pause (jeda) 2. Menyajikan kalimat pertama yang ada dalam ingatan. 3. Memelihara kontak mata 4. Kontrol kosa kata dan suara 5. Kendalikan tempo dalam berbicara, sebaiknya jangan terlalu cepat 6. Bergerak secara alami 7. Menggunakan alat peraga visual secara efektif 8. Hindari pembicaraan yang keluar dari topik pembahasan 9. Ringkaslah poin-poin utama Menurut Gumbira Sa’id (2005) terdapat The Eight’s Be untuk melakukan presentasi secara prima, yaitu : 1. Be front : tepat waktu (lebih awal) 2. Be presentable : hadir, menarik dan bermanfaat 3. Be prepared : mempersiapkan secara matang 4. Be relevant : sesuai dengan apa yang diharapkan audiens 5. Be organized : teratur dan sistematis 6. Be receptive : terbuka dalam menerima kritik dan saran 7. Be throught : jelas dan menyeluruh 8. Be brief : optimal dan sesingkat mungkin Pada intinya, di dalam melakukan presentasi efektif diperlukan kemampuan mengatur posisi postur tubuh di depan audiens, kemampuan menggunakan alat bantu, persiapan, menghadapi kecemasan, penyampaian dan teknik tanya jawab. H. RELASI Relasi berarti suatu hubungan kita dengan manusia lain atau dengan teman. Relasi bisa juga berarti jejaring. Ketahuilah bahwa kita tidak bisa hidup sendiri. Dalam hidup, kita harus dibantu orang lain. Kita bisa meminta bantuan orang lain untuk mempromosikan bisnis kita. Namun sangat susah jika kita hanya mengandalkan orang lain. Maka dari itulah kita memerlukan sebuah relasi. Relasi adalah hubungan yang terkait dengan aspek emosianal, pertumbuhan dan perkembangan manusia adalah hasil dari relasi dengan orang lain, hal ini disebabkan karena : 1. Manusia sebagai makhluk sosial, karena manusia selalu berinteraksi dengan lingkungannya. Oleh karena itulah manusia tumbuh dan berkembang adalah hasil dari relasi. 2. Relasi mengandung kadar emosional. Maksudnya manusia tumbuh dan berkembang dipengaruhi oleh aspek emosional, contohnya apabila orang tua selalu memarahi anaknya maka didalam perkembangannya anak itu bersifat keras. 3. Reasi mengandung energi dan mental sosial, maksudnya didalam relasi itu mengandung energi atau motivasi-motivasi, sehingga mempengaruhi perkembangan manusia. 4. Relasi memberikan pengaruh terutama terhadap sikap dan emosi. Macam – macam relasi : a. Relasi Sosial Relasi yang tumbuh secara alami disebut relasi sosial, sperti orang tua dengan anak. Relasi sosial sifatnya informal. b. Relasi Profesional Relasi secara profesional yaitu, relasi tertentu yang digunakan di dalam menjalanjan tugasnya seperti guru dengan murid. Relasi profesional sifatnya formal. Relasi sosial dan relasi profesional memiliki dimensi yang sama yaitu bersifat polaristik. Maksudnya polaristik adalah konsentrasi dari pembicara pada bagian tertentu dari hadirin yang ada contohnya persahabatan dengan permusuhan, cinta dengan benci. Felix B mengumpamakan relasi sebagai BRIDGE/jembatan artinya yang dapat menghubungkan anatara lain : a. Relasi itu sebagai atmosfir. Yang dimaksud atmosfir adalah suasan artinya harus bisa memberikan suasana dalam hubungan antara peksos dengan kalayan. b. Relasi bisa diumpamakan darah dan daging artinya memberikan hidup, maksudnya hidupnya peksos dengan kelayan bergantung pada relasi. c. Relasi sebagai open table atau meja terbuka artinya suatu keleluasaan tersedia untuk diisi dengan relasi. d. Relasi itu merupakan interplay yaitu saling pertukaran antara peksos dengan kalayan. e. Dalam peksos terjadi saling pertukaran emosional yang sifatnya kooperatif. emotional cooperatif artinya bekerjasama bukan kepada konflik f. Relasi memiliki sifat yang dinamik artinya selalu berubah rubah dan berkembang. BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Berdasarkan uraian pada makalah di atas dapat disimpulkan sebagai berikut: a. Selling Skills adalah kemampuan seseorang untuk menjual sesuatu barang atau jasa. Semua orang pasti ingin menjadi penjual yang sukses akan tetapi tidak semua penjual tahu bagaimana caranya. Untuk menjadi seorang penjual yang sukses ada beberapa hal yang harus dimiliki, yaitu: talent atau yang disebut dengan bakat. b. Marketing adalah kegiatan penting dalam mewujudkan tujuan perusahaan, yaitu terjadinya transaksi. Di dalam konsep strategi pemasaran terdapat dua bagian penting, yaitu tujuan promosi dan selling. Tujuan promosi terdiri dari Jangka panjang adalah kekuatan merek dan jangka pendek adalah menjual. Sedangkan kegiatan menjual (selling) adalah salah satu misi dan tujuan aktivitas jangka pendek dari strategi pemasaran sedangkan visinya adalah membangun “kekuatan merek” di benak pelanggan. c. Tahapan dalam penjualan yang bisa dipraktikkan tenaga penjual atau salesman dalam penjualan barang atau jasa di antaranya adalah: 1. Prospecting and Qualifying. 2. Preapproach. 3. Approach. 4. Presentation and demonstration 5. Overcoming Objections. 6. Closing. 7. Following up and maintenance. d. Negosiasi (perundingan) adalah suatu upaya untuk mengatasi perbedaan pendapat antara kedua belah pihak. e. Komunikasi adalah proses penyampaian suatu pesan oleh seseorang kepada orang lain untuk memberitahu atau untuk mengubah sikap, pendapat, atau perilaku, baik langsung secara lisan maupun tidak langsung melalui media; proses penyampaian bentuk interaksi gagasan kepada orang lain dan proses penciptaan arti terhadap gagasan atau ide yang disampaikan, baik sengaja maupun tidak sengaja. f. Presentasi adalah komunikasi lisan, atau pidato yang telah dipersiapkan dan disampaikan dengab cara formal. Presentasi dapat berupa laporan kemajuan, penjelasan produk/jasa baru kepada klien, kuliah, pelatihan, wawancara pekerjaan seminar ipmiah, bisnis dan sebagainya yang disampaikan dihadapan khalayak yang kebih khusus. g. Relasi berarti suatu hubungan kita dengan manusia lain atau dengan teman. Relasi bisa juga berarti jejaring. Relasi adalah hubungan yang terkait dengan aspek emosianal, pertumbuhan dan perkembangan manusia adalah hasil dari relasi dengan orang lain, B. Saran Berdasarkan kesimpulan di atas, penulis dapat memberikan saran kepada pembaca sebagai berikut: 1. Sebagai generasi muda hendaknya kita memiliki pengetahuan yang luas dengan banyak membaca referensi-referensi yang akurat dan dapat dipercaya. 2. Sebagai generasi penerus bangsa hendaknya kita mampu dan mau menyalurkan ilmu yang dimiliki untuk dibagi kepada sesama sehingga bermanfaat dan tercipta kelestarian lingkungan hidup. DAFTAR PUSTAKA http://hedisasrawan.blogspot.co.id/2012/06/relasi-itu-penting-mengapa.html?m=1 2015) (08 Des http://dr-sihnanto.blogspot.co.id/2014/01/komunikasi-dan -relasi-dalam-pekerjaan.html?m=1 (08 Des 2015) Soekamto, Toeti dan Drs. Udin Saripudin Winataputra, MA. 2013. Kewirausahaan. Jakarta : Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan Ditjen Pendidikan Tinggi Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. http://sariberitacoco.blogspot.co.id/2012/10/tahapan-penjualan-yang-efektif.html

Judul: Makalah Kwu

Oleh: Noer Irna


Ikuti kami