Tugas Artikel

Oleh Habi Burachman

103,2 KB 10 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Tugas Artikel

TUGAS ARTIKEL PEMETAAN Teknologi Pengindraan Jauh Dan Sistem Informasi Geografis Dalam Pengelolahan Terumbu Karang NAMA : ATIKA NURJUMITA (F1D014026) HARI/TANGGAL : RABU ,31 MEI 2017 JURUSAN BIOLOGI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS BENGKULU 2017 Indonesia merupkan negara kepulauan dengan jumlah pulau yang mencapai 17.508 dan panjang garis pantai kurang lebih 81.000 km (DKP, 2008). Keadaan ini menyebabkan kawasan pesisir menjadi andalan sumber pendapatan bagi masyarakat indonesia. Dengan keberadaan hutan mangrove yang terluas didunia, terumbu karang yang eksotik, rumput laut yang terhampar dihampir sepanjang pantai, sumber perikanan yang tidak ternilai banyaknya dan keadaan lahan yang relatif subur untuk pertanian menyebabkan tekanan terhadap wilayah pesisr semakin besar. Pengelolaan ekosistem terumbu karang pada hakekatnya adalah suatu proses pengontrolan tindakan manusia, agar pemanfaatan sumberdaya alam dapat dilakukan secara bijaksana dengan mengindahkan kaidah kelestarian lingkungan. Apabila dilihat permasalahan pemanfaatan sumberdaya ekosistem terumbu karang yang menyangkut berbagai sektor, maka pengelolaan sumberdaya terumbu karang tidak dapat dilakukan sendiri-sendiri, namun harus dilakukan secara terpadu oleh beberapa instansi terkait. Pengelolaan terumbu karang berbasis-masyarakat adalah pengelolaan secara kolaboratif antara masyarakat, pemerintah setempat, Lembaga Swadaya Masyarakat, dan pihak-pihak terkait yang ada dalam masyarakat yang bekerja sama dalam mengelola kawasan terumbu karang yang sudah ditetapkan/disepakati bersama. Tujuan dari pengelolaan terumbu karang berbasis-masyarakat adalah untuk menjaga dan melindungi kawasan ekosistem atau habitat terumbu karang supaya keanekaragaman hayati dari kawasan ekosistem atau habitat tersebut dapat dijaga dan dipelihara kelestariannya dari kegiatankegiatan pengambilan atau perusakan. Selain itu, lewat pengelolaan terumbu karang berbasismasyarakat maka produksi perikanan di sekitar lokasi terumbu karang yang dikelola/dilindungi dapat terjamin dan dimanfaatkan oleh masyarakat di sekitarnya. Terumbu karang yang dilindungi oleh masyarakat dapat juga dikembangkan sebagai lokasi pendidikan dan penelitian keanekaragaman hayati ekosistem dan habi- tat bagi institusi pendidikan (SD, SMP, SMU, Universitas, dll.) serta dikembangkan sebagai lokasi pariwisata ramah lingkungan (ekowisata) yang dapat memberikan kesempatan usaha wisata berbasismasyarakat. Dasar pemikiran pengelolaan terumbu karang seharusnya yaitu terumbu karang merupakan sumber pertumbuhan ekonomi yang harus dikelola dengan bijaksana, terpadu dan berkelanjutan dengan memelihara daya dukung dan kualitas lingkungan melalui pemberdayaan masyarakat dan stakeholders (pengguna) guna memenuhi kebutuhan dan kesejahteraan masyarakat dan pengguna secara berkelanjutan (sustainable). Diwilayah pesisir terdapat tiga ekosistem utama yang sangat berpengaruh terhadap produk tangkapan nelayan yaitu padang lamun, mangrove dan terumbu karang. Ketiga ekosistem ini memiliki kesatuan fungsi yang sangat terpadu dan saling mempengaruhi satu sama lain. Pemanfaatan ketika ekosistem kritis ini belum dapat dimanfaatkan secara optimal karena terbatasnya informasi ilmiah dan sumberdaya yang memformulasikan pengelolaannya. Pemanfatan teknologi penginderaan jarak jauh (inderaja) dan sistem informasi geografis (SIG) merupakan salah satu pilihan yang tepat dalam pengelolaan sumberdaya pesisir yang strategis ini. Dengan keunggulan yang dimiliki teknologi ini diharapkan pengelolaan sumberdaya pesisir, khususnya dalam perikanan tangkap skala kecil, dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan. Penginderaan jauh (Inderaja) dan sistem Informasi geografi Penginderaan jauh merupakan ilmu dan seni dalam interaksi informasi mengenai suatu objek, wilayah atau fenomena yang dikaji tersebut. Dan secara luas didefinisikan sebagai teknik pengumpulan gambar atau data lain tentang suatu objek dari pengukuran-pengukuran yang dibuat pada suatu jarak tertentu dari obyek, dan dapat merujuk misalnya kepada penggambaran satelit, foto udara atau batimetri laut dari kapal dengan menggunakan data radar. Akan tetapi, dalam konteks ini hanya akan dibahas gambar optik yang diperoleh melalui sensor angkasa luar. Penginderaan jauh (inderaja) digunakan untuk memantau permukaan lahan, laut dan bahkan atmosfer, dan bagaimana perubahan-perubahan terjadipada semua ini. Cakupan sebagian besar satelit penginderaan jauh meliputi seluruh permukaan bumi, membuatnya menjadi penting untuk fenomena berskala luas seperti sirkulasi air laut, iklim dan penebangan hutan global, juga pada daerah terpencil. Kemampuan ini membuatnya memungkinkan untuk memantau bencana dan secara sederhana mengendalikan penginderaan jauh. Sistem informasi geografi (SIG) adalah suatu sistem, pada umumnya berbasis komputer, yang digunakan untuk menyimpan, mengelola, menganalisis dan mengaktifkan kembali data yang mempunyai referensi keruangan, untuk berbagai tujuanyang berkaitan dengan pemetaan dan perencanaan. SIG memiliki kapabilitas menghubungkan berbagai lapisan data disuatu titik yang sama pada tempat tertentu, mengkombinasikan menganalisis data tersebut dan memetakan hasilnya. Kedua macam teknologi tersebut sangat bermanfaat dalam pengelolaan informasi keruangan mengenai kondisi permukaan (dan dekat permukaan) bumi. Pada perkembangan selanjutnya, keduanya cenderung diintergrasikan demi peningkatan efisiensi pemerolehan serta akurasi hasil pemetaan. Penggunaan inderaja dan SIG dalam penelitian ekosistem pesisir dan perikanan Penginderaan jauh dan SIG telah digunakan dalam studi ekosistem pesisir penting yaitu hutan mangrove, padang lamun dan terumbu karang. Suatu tantangan yang penting dalam pengelolaan ekosistem secara berkelanjutan adalah penggunaan SIG dalam mengintegrasikan data yang berasal dari ekologi, geografi, sosiologi dll. Peranan inderaja dalam memprediksi penurunan tangkapan di perairan laut dunia, pada masa yang akan terkait dengaan peningkatan temperatur telah diinvestasikan. Teknologi SIG dan inderaja menghadirkan alat penting yang dapat digunakan untuk menilai secara cepat pengukuran kualitas air, membuat data dasar, memadukan informasi, memvisualisasikan skenario dan memecahkan permasalahan polusi lingkungan yang rumit. Kesimpulan Teknologi penginderaan jauh (inderaja) dan sistem informasi geografi (SIG) merupakan teknologi baru yang sangat bermanfaat dalam pengelolaan informasi keruangan mengenai kondisi permukaan (dan dekat permukaan) bumi. Kemampuan inderaja dan SIG untuk menyajikan informasi secara cepat, akurat, memadukan informasi, dan memvisuslisasikan skenario yang akan terjadi, maka peggunaannya dalam mengembangkan terumbu karang dalam skala kecil berkelanjutan sangat dibutuhkan dan merupakan salah satu pilihan yang tepat. Dengan diketahui hutan luas dan penyebaran hutan terumbu karang maka penyusunan rencana dalam rangka pengelolahan kawasan pesisir dan kelautan dapat dilakukan secara baik dan benar. DAFTAR PUSTAKA Karnat. 2009. Penggunaan Penginderaan Dan Sistem Informasi Geografis Dalam Pengelaoaan Perikanan Tangkap Skala Kecil Berkelanjutan. Program Studi Pendidikan Biologi, PMIPA FKIP. Universitas Mataram http://isjd.pdii.lipi.go.id/admin/jurnal/101091723.pdf

Judul: Tugas Artikel

Oleh: Habi Burachman


Ikuti kami