Makalah Pip

Oleh Kanyun Gendeng#001

9 tayangan
Bagikan artikel

Transkrip Makalah Pip

MAKALAH PENNGANTAR ILMU PERTANIAN
Diajukan sebagai tugas mata kuliah

pengantar ilmu pertanian
Dosen pengampu:Istanto,S.P.,M.SI.

Disusun oleh :
Amoreyzha Iwang S

174010065

KATA PENGANTAR
Dengan menyebut nama allah SWT yang maha pengasih lagi maha penyayang,
atas limpahan rahmat dan karuniayanya yang telah memberi izin untuk
menyelesikan makalah tentang strategi pembanunan pertanian di Indonesia.
Terima kasih kami sampaikan kepada seluruh elemen yang teah ikut
bberpartisipasi dalam pembuatan makalah ini
Terlepas dari itu semua saya menyadari sepenuhya bahwa masih banyak
kekurangan dalam makalah ini, oleh karena itu dengan tangan terubuka saya
menerima kritik dari pembaca agsr naninya menjadi pedoman dalam menyusun
mkalah yang selanjutnya.
Akhir kata semoga akalah tentng strategi pengembangan pertanian di Indonesia
ini dapat bermanfaat bgi pembaca

Semarang,
November 2017

Penulis

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL………………………………………………………….
KATA PENGANTAR………………………………………………………..
DAFTAR ISI……………………………………………………………………
BAB I PENDAHULUAN……………………………………………………
1. LATAR BLAKANG……………………………………………………
2. RUMUSAN MASALAH……………………………………………
3. TUJUAN…………………………………………………………………
BAB II TINJAUAN PUSTAKA........……………………………………
BAB III PEMBAHASAN……………………………………………………
1.
2.
3.
4.

PERMASALAHAN SAAT INI……………………………….
DATA YANG ADA………………………………………………
PEMBANGUNAN DI SEKTPR AGRIBISNIS…………..
MEMBANGUN PERTANIAN KREATIF…………………

BAB IV KESIMPULAN……………………………………………………..
DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………………

LATAR BELAKANG
Pada saat ini telah di terapkan pasar global yang menjadikan persaingan menjadi
semakin sngat ketat dan salah satunya juga di bidang pertanian tetapi hal itu tidak
berbanding lurus dengan perkembangan pertanian di negri ini malah cenderung
berbanding terbalik, mayarakat saat ini memandang sebelah mata bidang
pertanian itu sendiri, yang sebenarnya terjadi malah sektor pertanian adalah sektor
yang fatal dan termasuk sebagai patokan idielnya Negara ini, tak hanya itu kita
harus mengubah cara berfikir masyarakat bahwa pertanian tak hanya dengan cara
tradisional dan tidak hany melulu dengan satu atau dua komodity, harus di
terapkan tata cara pertanian yang maju agar pertanian di Indonesia ini seakin maju
dalam semua aspek di dalam nya, oleh Karena itu kita seharusnya turut ikut andil
dalam perkembangan pertanian saat ini.

RUMUSAN MASALAH
Saat ini negri kita yang di akui sebagai Negara agraris kehilangan jati dirinya
karena merosotnya dari segi ualitas maupun kuantitas di sektor pertanian, entah
itu karena semakin sedikitnya orang yang berminat untuk menggluti pertanian itu
sendiri maupun kurang maju nya tekhnik dan tata cara pengolahan pertanian di
Indonesia, oleh karena itu kita sebagai kader muda bangsa seharusnya bias
mendobrak kembali pertanian banga di kancah nasional maupun internasional.

TUJUAN

Makalah ini bertujuan supaya para pembaca bias memahami apa itu pertanian dan
bias ikut dalam memajukan pertanian di negri ini dengan cara membantu
memgembangkan sumber daya di sektor pertanian itu sendiri tnpa harus
menunggu tindakan dari orang lain maupun dari sebuah instansi terkait, bias
membuktikan bahwa pertanian memiliki daya saig yang harus di pertimbangkan

PERMASALAHAN SAAT INI
Saat ini banyak permasalahan yang ada di Negara kita di bidang budidaya
pertanian dalam bidang pertanian, perikanan maupun perternakan, entah masalah
internal mupun eksternal
STRATEGI PEMBANGUNAN PERTANIAN DI INDONESIA
A. Pembangunan agribisnis
merupakan pembangunan industri dan pertanian serta jasa yang
dilakukan sekaligus, dilakukan secara simultan dan harmonis.
Yang sering kita dapatkan selama ini adalah industri pengolahan
(Agroindustri) berkembang di Indonesia, tapi bahan bakunya dari
impor.Di pihak lain, peningkatan produksi pertanian tidak diikuti oleh
perkembangan industri pengolahan (membangun industri berbasis
sumberdaya domestik/lokal), sehingga perlu pengembangan Agribisnis
Vertikal.
membangun keunggulan bersaing di atas keunggulan komparatif
Dalam arti bahwa membangun daya saing produk agribisnis melalui
transformasi keunggulan komparatif menjadi keunggulan bersaing, yaitu
dengan cara:
• Mengembangkan subsistem hulu (pembibitan, agro-otomotif, agrokimia) dan pengembangan subsistem hilir yaitu pendalaman industri
pengolahan ke lebih hilir dan membangun jaringan pemasaran secara
internasional.
• Pembangunan sistem agribisnis yang digerakkan oleh kekuatan inovasi
Strategi swasembada berkelanjutan bagi pangan strategis: beras, jagung, kedelai,
gula, dan daging telah mulai menjadi agenda diskusi publik yang menarik.
Pencapaian Indonesia dalam peningkatan produksi pangan strategis mungkin
perlu diapresiasi, sekalipun masih terdapat kontroversi statistik dan metode
penghitungan. Misalnya, angka resmi dari Badan Pusat Statistik (BPS)
menyebutkan bahwa produksi beras pada 2009 mencapai 62,6 juta ton gabah
kering giling atau meningkat 3,71 persen dari 60,3 juta ton produksi tahun 2008.
Kecenderungan yang terus meningkat ini tentu sangat diharapkan untuk
mendukung pencapaian swasembada berkelanjutan.
Karakter produksi beras yang sangat politis juga perlu menjadi perhatian berbagai
pengampu kepentingan, karena sensitivitas komoditas pangan pokok ini terhadap

beberapa keputusan politis, gejolak harga, manajemen stok, dan beberapa
perubahan yang terlalu radikal. Opsi strategi peningkatan produksi wajib
diteruskan, tidak setengah-setengah atau hanya bertumpu pada strategi perluasan
areal panen (pencetakan sawah-sawah baru), tapi perlu bervisi peningkatan
produktivitas per satuan lahan dan per satuan tenaga kerja atau dalam konteks
peningkatan efisiensi teknis dan ekonomis sesuai dengan karakter setempat.
Produksi jagung tahun 2009 sekitar 17 juta ton, terutama karena peningkatan luas
panen di beberapa sentra produksi jagung di Sulawesi dan Sumatera, terutama
jagung hibrida yang juga menjadi input industri makanan ternak. Pada tahun 2010
produksi jagung juga masih diperkirakan meningkat, karena penggunaan benih
unggul jagung hibrida semakin memasyarakat, dan bahkan cenderung telah
menjadi kebutuhan petani. Di luar musim panen Indonesia harus mengandalkan
jagung impor, maka tugas berat pemerintah menjadi lebih berat dalam stabilitas
harga jagung.Jika harga jagung domestik tidak stabil, maka lonjakan harga pakan
ternak menjadi ancaman yang serius, karena subsektor peternakan unggas ini
banyak melibatkan peternak skala kecil subsisten.
Opsi strategi peningkatan produksi jagung hibrida sebagai salah satu andalan baru
pemenuhan konsumsi jagung yang terus meningkat perlu memperoleh dukungan
dalam kebijakan pengelolaan air. Berhubung jagung hibrida ini memerlukan
relatif banyak air, maka manajemen infrastruktur irigasi dan drainase menjadi
hampir mutlak, agar tidak terjadi kejutan-kejutan persaingan faktor produksi
dengan padi, kedelai dan palawija lainnya. Dukungan penelitian dan
pengembangan (R&D) yang bervisi pada pengembangan protokol zonasi,
sertifikasi dan standarisasi jagung hibrida akan sangat membantu mengurangi
inefisiensi pada usahatani jagung.
Produksi kedelai tahun 2009 telah mendekati 701 ribu ton biji kering, suatu
peningkatan signifikan dibandingkan angka produksi tahun 2008 yang hanya
tercatat 590 tibu ton. Namun demikian, pada tahun 2010, prospek produksi
kedelai tetap menghadapi tantangan berat karena faktor internal ekonomi dan
kebijakan di dalam negeri sendiri. Sepanjang produksi dalam negeri masih berada
jauh di atas konsumsinya, maka ketergantungan pada kedelai impor akan menjadi
bom waktu yang membahayakan. Strategi peningkatan produksi kedelai perlu
dilakukan melalui pengembangan benih unggul tahan kering, varietas kedelai
dengan galur murni asli Indonesia, seperti kedelai hitam Varietas Cikuray,
Mallika, dan lain-lain yang mampu mendukung pengembangan industri pangan,
seperti kecap, industri kuliner dan sebagainya.

Jika Pemerintah tetap meneruskan kebijakan liberalisasi perdagangan kedelai dan
memberlakukan tarif bea masuk rendah 0 %, maka dampak negatif yang
ditimbulkannya adalah ketergantungan Indonesia terhadap kedelai impor yang
makin besar. Ketika produksi di dalam negeri telah mampu mendekati tingkat
konsumsinya, maka kebijakan proteksi dapat diterapkan, termasuk mengenakan
tarif impor tinggi dan/atau kebijakan kuota sebagai implementasi pencadangan
usaha untuk kemajuan industri mikro kecil dan koperasi.Hal yang perlu
dikedepankan adalah upaya menjunjung tinggi prinsip kemitraan swasta besar,
usaha mikro, kecil dan koperasi dalam kerangka persaingan usaha yang sehat.
Produksi gula tahun 2009 mencapai 2,84 juta ton yang masih cukup jauh dari total
kebutuhan konsumsi gula di Indonesia yang diperkirakan mencapai 4,85 juta ton.
Harga gula dunia yang melambung tinggi pada awal tahun 2010 ini seharusnya
menjadi insentif tersendiri bagi pelaku ekonomi di sektor gula untuk
meningkatkan produksi dan produktivitasnya.Keputusan impor gula seharusnya
dilandasi taktis-strategis yang jitu agar tidak mengganggu sistem insentif di atas.
Manajemen harga gula di dalam negeri sebenarya lebih banyak ditentukan oleh
mitra dagang atau importir produsen (IP) untuk mengimpor gula mentah dan
status importir terdaftar (IT) dengan 75 persen bahan baku berasal dari tebu
petani. Empat BUMN masuk klasifikasi IT adalah: PT Perkebunan Nusantara
(PTPN) IX, PTPN X, PTPN XI, dan PT Rajawali Nusantara Indonesia (PT RNI).
Manajemen harga gula juga tergantung pada tingkah laku beberapa importir
strategis dan pelaku industri gula rafinasi yang mulai menunjukkan perannya pada
kinerja fluktuasi harga gula di dalam negeri. Langkah pencapaian swasembada
gula dapat ditempuh dengan operasionalisasi revitalisasi pabrik gula dapat
dilaksanakan misalnya, dengan pembentukan satu-dua perusahaan induk (holding
company) pabrik gula yang terintegrasi dari kebun tebu di hulu sampai gula putih
di hilir, dan yang memproduksi tebu di hulu sampai gula mentah di hilir. Langkah
audit keuangan dan audit investigasi lainnya harus dilakukan secara menyeluruh
dan akuntabel untuk melihat apakah spesifikasi dan diversifikasi usaha seperti ini
akan lebih baik atau tidak. Dampak multiplier suatu investasi bagi pembangunan
ekonomi dan kesejahteraan lainnya tidak akan terjadi apabila aransemen
kelembagaan atau kualitas institusi negara masih primitif.
Produksi daging pada tahun 2009 masih berkisar 2.3 juta ton, dengan dominasi
daging ayam ras pedaging yang demikian besar.Produksi daging sapi hanya 352
ribu ton, sehingga Indonesia tetap mengimpor sekitar 520 ekor sapi setiap tahun.
Produksi daging sapi, daging ayam dan produk sektor peternakan atau yang
menjadi sumber protein hewani di Indonesia sebenarnya tidaklah terlau besar
untuk memenuhi kebutuhan daging yang masih akan meningkat setiap tahun.

Akibatnya, Indonesia masih harus menggantunkan pada daging impor, terutama
dari Australia, Selandia Baru dan negara lain yang bebas penyakit hewan, seperti
penyakit mulut dan kuku, antraks, dan sapi gila. Di Indonesia, Revolusi
Peternakan ditandai oleh berkembang pesatnya industri ayam petelur, ayam
pedaging, dan ayam kampung sendiri.
Tidak kalah pentingnya, industri pakan ternak yang umumnya terkait dengan
investasi asing dan beroperasi dengan skala besar juga tumbuh pesat, yang
ditandai dengan maju dan membaiknya tingkat efisiensi, bahkan di seluruh sistem
agribisnis berbasis peternakan.Strategi peningkatan produksi daging dalam negeri
dan perbaikan konsumsi daging sebagai salah satu sumber protein perlu berjalan
bersama-sama. Untuk daging sapi, strategi pengembangan agribisnis peternakan
sapi potong Indonesia perlu terus menerapkan asas kelestarian (keseimbangan
antara pemotongan dan jumlah populasi sapi potong atau menghindari
“pengurasan” populasi), asas kesinambungan (iklim usaha tetap kodusif dan tidak
saling merusak), serta asas kemandirian (berkurangnya ketergantungan pada
daging impor).

B. Membangun pertanian kreatif
Sektor pertanian masih menjadi andalan dalam pembangunan
perekonomian Indonesia (Daryanto, 2011), meskipun sektor ini hanya
berkontribusi terhadap produk domestik bruto (PDB) sebesar 14,43%
(BPS, 2014a). Kontribusi yang cukup rendah terhadap PDB menunjukkan
bahwa sektor pertanian tidak produktif, padahal sektor ini menyerap
tenaga kerja hingga 40 % (BPS, 2014b).Hal tersebut terjadi karena
pembangunan sektor pertanian dibiarkan saja untuk ditopang oleh para
pelaku utama berpendidikan rendah (BPPSDMP, 2011).
ingkat pendidikan mayoritas petani yang rendah menjadi alasan terhambatnya
transfer teknologi pertanian (Mulyandari et al. 2010). Selain itu, masyarakat
berpendidikan tinggi juga umumnya kurang tertarik bekerja sebagai petani, karena
sektor pertanian masih dipandang kurang bergengsi (Herwibawa, 2014).Berbagai
pandangan negatif tersebut tercipta dan dibiarkan menjadi gambaran tentang
pertanian di Indonesia selama bertahun tahun.Oleh sebab itu, perlu diupayakan
peran aktif masyarakat ilmuwan dan teknolog Indonesia untuk meningkatkan citra
sektor pertanian nasional.
Citra sektor pertanian dapat ditingkatkan melalui perbaikan sistem perekonomian,
sehingga menggeser kecenderungan perilaku ekonomi pertanian konvensional
menjadi modern.Kegiatan pertanian sudah seharusnya tidak hanya terbatas pada
pelestarian tradisi budidaya, namun harus mampu mengikuti perkembangan era

ekonomi.Optimalisasi peran industri pertanian yang berorientasi pada teknologi
informasi perlu dikemas secara kreatif, sehingga mampu membidik target sesuai
dengan segmentasinya untuk mendapatkan posisi pasar yang menguntungkan.
Menurut Amaliya (2014a), pemasaran yang berorientasi pada sudut
pandang penjual berdasarkan prinsip 4P (product, price, place dan promotion), di
era ekonomi informasi seperti sekarang ini telah digantikan oleh prinsip ABCDE
(anyplace, brand, communication, discovery, dan experience). Penerapan prinsip
ABCDE dalam kegiatan pertanian merupakan terobosan kreatif dengan
mengintensifkan ide dan informasi sebagai faktor produksi utama.Produksi
pertanian diharapkan dapat bersaing untuk menciptakan kapitalisasi pasar,
sehingga mampu menguasai perekonomian dan memperbaiki perilaku ekonomi
pertanian saat ini.
Masa depan perilaku ekonomi pertanian nasional sangat bergantung pada generasi
muda berpendidikan tinggi. Namun menurut Amaliya (2014b), generasi muda saat
ini memiliki karakter yang pantas dikritik oleh generasi tua, seperti tidak mampu
bekerja dalam kelompok, tidak realistis, tidak konsisten, rendahnya motivasi dan
etos kerja, serta enggan memulai karir dari bawah. Berbagai hal tersebut
merupakan tantangan dan pertanyaan perihal kemampuan generasi muda untuk
meningkatkan citra sektor pertanian di Indonesia.
Perlu disadari bahwa generasi muda saat ini merupakan sumber daya
kepemimpinan selama tiga dasawarsa mendatang (Hansen, 2008).Oleh sebab itu,
berbagai strategi, kebijakan, dan prosedur kerja konvensional harus segera
dirubah, untuk mengoptimalkan kinerja generasi yang sangat fasih teknologi
ini.Generasi muda diharapkan mampu mengakomodir permasalahan klasik
seputar kegiatan pertanian, seperti terjaminnya kualitas, kuantitas, dan kontinuitas
produksi, serta kestabilan harga.Pemecahan masalah pertanian yang terintegrasi
melalui penerapan teknologi budidaya pertanian secara kreatif, bukanlah hal yang
sulit untuk diwujudkan. Beberapa produk aplikasi kreatif teknologi budidaya
pertanian yang berhasil meningkatkan citra sektor pertanian di Indonesia, antara
lain sebagai berikut.


Mungil Culture (http://mungil-culture.blogspot.com/)

Mungil culture merupakan produk kreatif kultur jaringan dalam botol yang
dikomersialkan sebagai suvenir, antara lain berupa gantungan kunci, hiasan meja,
dan hiasan tempel (Mungil-Culture, 2014). Kreasi mungil culture membuktikan
bahwa komersialisasi produk pertanian tidak harus menunggu hingga panen,
bahkan perawatannya cukup dengan menjaga tanaman pada kondisi sejuk
(maksimal suhu kamar). Oleh sebab itu, segmentasi pasar mungil culture akan
terus membidik konsumen yang menyukai tanaman, namun tidak ingin repot
dengan perawatannya.



Terrarium Indonesia (http://terrariumindonesia.wordpress.com/)

Terrarium Indonesia merupakan produk kreatif arsitektur lanskap yang berhasil
memadukan sains dan seni miniatur dalam wadah kaca, sehingga dapat
dikomersialkan sebagai suvenir dan eksklusif display (Terrarium-Indonesia,
2014). Biosfer buatan ini sering dikatakan mampu memberikan relaksasi bagi
penggemarnya.Selain itu, bentuknya yang unik dan mampu mempercantik
ruangan, ternyata tidak memerlukan perawatan yang rumit, cukup tiga hari hingga
seminggu sekali disemprot dengan larutan nutrisi.
Goodplant Indonesia merupakan produk kreatif berupa paket teknologi hidroponik
yang dikomersialkan melalui pelatihan disertai diskusi, konsultasi, dan berbagi
pengalaman seputar hidroponik (Goodplant-Indonesia, 2011).Budidaya tanaman
secara hidroponik ini terbukti mampu menghilangkan kesan bahwa menjadi
seorang petani adalah pekerjaan yang menjijikkan, kotor, dan kurang
menjanjikan.Selain itu, hidroponik juga merupakan jembatan dalam
pengembangan teknologi budidaya pertanian konvensional menuju modernitas
yang didukung oleh konsep otomatisasi.
Melalui penerapan teknologi budidaya pertanian berbasis industri, dan
berorientasi pada teknologi informasi serta dikelola secara kreatif, bukan tidak
mungkin sektor pertanian akan semakin diminati oleh generasi muda. Perbaikan
paradigma menuju era pertanian kreatif, tentu akan berdampak bagi peningkatan
kesejahteraan masyarakat Indonesia.

PENUTUP

Judul: Makalah Pip

Oleh: Kanyun Gendeng#001


Ikuti kami