Tugas Ekpol

Oleh Abd Rahman

97,3 KB 8 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Tugas Ekpol

BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Daerah ini, yang dimaksud dengan: 1. Kota adalah Kota Makassar; 2. Walikota adalah Walikota Makassar; 3. Dewan adalah Dewan Perwakilan Rakyat Daerah; -54. Polisi Pamong Praja adalah perangkat Pemerintah Daerah Kota, dipimpin oleh seorang kepala yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Walikota melalui Sekretaris Daerah; 5. Pejabat Penyidik Pegawai Negeri Sipil dapat disingkat PPNS adalah Pejabat Penyidik Pegawai Negeri Sipil tertentu di lingkungan Pemerintah Daerah yang diberi wewenang khusus oleh undang-undang untuk melakukan penyidikan terhadap pelanggaran Peraturan Daerah; 6. Peraturan Daerah adalah Peraturan Daerah Kota Makassar; 7. Ruang adalah wadah yang meliputi ruang daratan, ruang lautan, dan ruang udara sebagai satu kesatuan wilayah, tempat manusia dan mahluk lainnya hidup dan melakukan kegiatan serta memelihara kelangsungan hidupnya; 8. Tata Ruang adalah wujud struktural dan pola pemanfaatan ruang, baik direncanakan maupun tidak; 9. Penataan Ruang adalah proses perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang, dan pengendalian pemanfaatan ruang; 10. Rencana Tata Ruang adalah hasil perencanaan tata ruang; 11. Wilayah adalah ruang yang merupakan kesatuan geografis beserta segenap unsur terkait padanya yang batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan aspek administratif dan atau aspek fungsional; 12. Wilayah Kota adalah wilayah yang mempunyai kegiatan utama bukan pertanian dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perkotaan, pemusatan dan distribusi pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial, dan kegiatan ekonomi; 13. Rencana Tata Ruang Wilayah selanjutnya dapat disingkat RTRW merupakan hasil perencanaan tata ruang wilayah; 14. Visi Tata Ruang adalah suatu pandangan ke depan yang menggambarkan arah dan pengelolaan Wilayah Kota untuk mencapai visi pembangunan yang telah ditetapkan di peringkat Kota; 15. Misi Tata Ruang adalah komitmen dan panduan arah bagi pembangunan dan pengelolaan Wilayah Kota untuk mencapai visi pembangunan yang telah ditetapkan di peringkat Kota. 16. Kawasan adalah ruang yang merupakan kesatuan geografis beserta segenap unsur terkait padanya yang batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan aspek fungsional serta memiliki ciri tertentu; 17. Kawasan Lindung adalah kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama melindungi kelestarian lingkungan hidup yang mencakup sumber daya alam dan sumber daya buatan; 18. Kawasan Budi Daya adalah kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama untuk dibudidayakan atas dasar kondisi dan potensi sumber daya alam, sumber daya manusia dan sumber daya buatan; 19. Kawasan Hijau adalah ruang terbuka hijau yang terdiri dari kawasan hijau lindung dan hijau binaan 20. Kawasan Hijau Lindung adalah bagian dari kawasan hijau yang memiliki karakteristik alamiah yang perlu dilestarikan untuk tujuan perlindungan habitat setempat maupun untuk tujuan perlindungan wilayah yang lebih luas; -621. Kawasan Hijau Binaan adalah bagian dari kawasan hijau di luar kawasan hijau lindung untuk tujuan penghijauan yang dibina melalui penanaman, pengembangan, pemeliharaan maupun pemulihan vegetasi yang diperlukan dan didukung fasilitasnya yang diperlukan baik untuk sarana ekologis maupun sarana sosial Kota yang dapat didukung fasilitas sesuai keperluan untuk fungsi penghijauan tersebut; 22. Kawasan Tangkapan Air adalah kawasan atau areal yang mempunyai pengaruh secara alamiah atau binaan terhadap keberlangsungan badan air seperti waduk, situ, sungai, kanal, pengolahan air limbah dan lain-lain; 23. Kawasan Permukiman adalah kawasan yang diarahkan dan diperuntukkan bagi pengembangan permukiman atau tempat tinggal/hunian beserta prasarana dan sarana lingkungan yang terstruktur dengan Koefisien Dasar Bangunan lebih besar dari 20% (dua puluh persen) ; 24. Kawasan Permukiman dengan Koefisien Dasar Bangunan Rendah adalah kawasan yang secara keseluruhan Koefisien Dasar Bangunannya maksimum 20% (dua puluh persen); 25. Kawasan Ekonomi Prospektif adalah kawasan yang mempunyai nilai strategis bagi pengembangan ekonomi Kota; 26. Kawasan Bangunan Umum adalah kawasan yang diarahkan dan diperuntukkan bagi pengembangan perkantoran, perdagangan, jasa, pemerintahan dan fasilitas umum/fasilitas sosial beserta fasilitas penunjangnya dengan Koefisien Dasar Bangunan lebih besar dari 20% (dua puluh persen); 27. Kawasan Bangunan Umum Koefisien Dasar Bangunan Rendah adalah kawasan yang secara keseluruhan Koefisien Dasar Bangunannya maksimum 20% (dua puluh persen); 28. Kawasan Campuran adalah kawasan yang diarahkan dan diperuntukkan bagi pengembang kegiatan campuran bangunan umum dengan permukiman beserta fasilitasnya dengan Koefisien Dasar Bangunan lebih besar dari 20% (dua puluh persen); 29. Kawasan Sistem Pusat Kegiatan adalah kawasan yang diarahkan bagi pemusatan berbagai kegiatan campuran maupun yang spesifik, memiliki fungsi strategis dalam menarik berbagai kegiatan pemerintahan, sosial, ekonomi, dan budaya serta kegiatan pelayanan Kota menurut hirarkhi terdiri dari sistem pusat kegiatan utama yang berskala Kota, regional, nasional dan internasional dan sistem pusat penunjang yang berskala lokal; 30. Kawasan Sentra Primer adalah kawasan dalam sistem pusat kegiatan yang menurut hirarkhinya termasuk dalam sistem pusat utama.; 31. Kawasan Terpadu selanjutnya dapat disingkat KT adalah kawasan yang memiliki fungsi lebih dari satu, terdiri atas fungsi utama dan penunjang, yang saling terkait dan bersinergi serta saling mempengaruhi dan mendukung dalam satu sistem; 32. Kawasan Khusus adalah kawasan yang membutuhkan penanganan khusus akibat fungsi dengan tingkat kompleksitas, tingkat strategis, dan tingkat sensitifitas yang tinggi yang sangat berpengaruh dan memberi dampak vital bagi perkembangan pembangunan Kota; 33. Kawasan Pusat Kota adalah KT yang tumbuh sebagai pusat Kota dengan percampuran berbagai kegiatan, memiliki fungsi strategis dalam peruntukannya -7seperti kegiatan pemerintahan, sosial, ekonomi, dan budaya serta kegiatan pelayanan Kota; 34. Kawasan Permukiman Terpadu adalah KT yang diarahkan dan diperuntukkan bagi pemusatan dan pengembangan permukiman atau tempat tinggal/hunian beserta prasarana dan sarana lingkungannya yang terstruktur secara terpadu; 35. Kawasan Pelabuhan Terpadu adalah KT yang diarahkan sebagai kawasan yang memberi dukungan kuat dalam satu sistem ruang yang bersinergi terhadap berbagai kepentingan dan kegiatan yang lengkap berkaitan dengan aktivitas kepelabuhanan dan segala persyaratannya; 36. Kawasan Bandara Terpadu adalah KT yang diarahkan dan diperuntukkan sebagai kawasan yang memberi dukungan kuat dalam satu sistem ruang yang bersinergi terhadap berbagai kepentingan dan kegiatan yang lengkap berkaitan dengan aktivitas bandara dan segala persyaratannya; 37. Kawasan Maritim Terpadu adalah KT yang diarahkan dan diperuntukkan sebagai kawasan dengan pemusatan dan pengembangan berbagai kegiatan kemaritiman yang dilengkapi dengan kegiatan-kegiatan penunjang yang lengkap yang saling bersinergi dalam satu sistem ruang yang solid; 38. Kawasan Industri Terpadu adalah KT yang diarahkan dan diperuntukkan sebagai kawasan dengan pemusatan dan pengembangan berbagai kegiatan industri yang dilengkapi dengan kegiatan-kegiatan penunjang yang lengkap yang saling bersinergi dalam satu sistem ruang yang solid; 39. Kawasan Pergudangan Terpadu adalah KT yang diarahkan dan diperuntukkan sebagai kawasan dengan pemusatan dan pengembangan berbagai kegiatan pergudangan yang dilengkapi dengan kegiatan-kegiatan penunjang yang lengkap yang saling bersinergi dalam satu sistem ruang yang solid; 40. Kawasan Pendidikan Tinggi Terpadu adalah KT yang diarahkan dan diperuntukkan sebagai kawasan dengan pemusatan dan pengembangan berbagai kegiatan pendidikan tinggi yang dilengkapi dengan kegiatan-kegiatan penunjang yang lengkap yang saling bersinergi dalam satu sistem ruang yang solid; 41. Kawasan Penelitian Terpadu adalah KT yang diarahkan dan diperuntukkan sebagai kawasan dengan pemusatan dan pengembangan berbagai kegiatan penelitian yang dilengkapi dengan kegiatan-kegiatan penunjang yang lengkap yang saling bersinergi dalam satu sistem ruang yang solid; 42. Kawasan Budaya Terpadu adalah KT yang diarahkan dan diperuntukkan sebagai kawasan dengan pemusatan dan pengembangan berbagai kegiatan budaya yang dilengkapi dengan kegiatan-kegiatan penunjang yang lengkap yang saling bersinergi dalam satu sistem ruang yang solid; 43. Kawasan Olahraga Terpadu adalah KT yang diarahkan dan diperuntukkan sebagai kawasan dengan pemusatan dan pengembangan berbagai kegiatan olahraga yang dilengkapi dengan kegiatan-kegiatan penunjang yang lengkap yang saling bersinergi dalam satu sistem ruang yang solid; 44. Kawasan Bisnis dan Pariwisata Terpadu adalah KT yang diarahkan dan diperuntukkan sebagai kawasan dengan pemusatan dan pengembangan berbagai kegiatan bisnis dan pariwisata yang dilengkapi dengan kegiatan- 8kegiatan penunjang yang lengkap yang saling bersinergi dalam satu sistem ruang yang solid; 45. Kawasan Bisnis Global Terpadu adalah KT yang diarahkan dan diperuntukkan sebagai kawasan dengan pemusatan dan pengembangan berbagai kegiatan bisnis global yang dilengkapi dengan kegiatan-kegiatan penunjang yang lengkap yang saling bersinergi dalam satu sistem ruang yang solid; 46. Industri adalah kegiatan ekonomi yang mengolah bahan mentah, bahan baku, barang setengah jadi dan atau barang jadi menjadi barang dengan nilai yang lebih tinggi untuk penggunaannya, termasuk kegiatan rancang bangun dan perekayasaan industri; 47. Industri selektif adalah kegiatan industri yang kriteria pemilihannya disesuaikan dengan kondisi Makassar sebagai Kota Maritim, Niaga, Pendidikan Budaya dan Jasa, yakni industri yang hemat lahan, hemat air, tidak berpolusi, dan menggunakan teknologi tinggi. 48. Tujuan adalah Nilai-nilai dan kinerja yang mesti dicapai dalam pembangunan Wilayah Kota berkaitan dalam kerangka visi dan misi yang telah ditetapkan; 49. Strategi Pengembangan adalah Langkah-langkah penataan ruang dan pengelolaan Kota yang perlu dilakukan untuk mencapai visi dan misi pembangunan Wilayah Kota yang telah ditetapkan; 50. Ruang Terbuka Hijau yang selanjutnya dapat disebut RTH adalah Kawasan atau areal permukaan tanah yang didominasi oleh tumbuhan yang dibina untuk fungsi perlindungan habitat tertentu, dan atau sarana Kota/lingkungan, dan atau pengaman jaringan prasarana, dan atau budidaya pertanian; 51. Intensitas Ruang adalah besaran ruang untuk fungsi tertentu yang ditentukan berdasarkan pengaturan Koefisien Lantai Bangunan, Koefisien Dasar Bangunan dan Ketinggian Bangunan tiap kawasan bagian Kota sesuai dengan kedudukan dan fungsinya dalam pembangunan Kota; 52. Koefisiensi Dasar Bangunan yang selanjutnya dapat disebut KDB adalah angka prosentase berdasarkan perbandingan jumlah luas lantai dasar bangunan terhadap luas tanah perpetakan/daerah perencanaan yang dikuasai sesuai rencana tata ruang Kota; 53. Koefisiensi Lantai Bangunan yang selanjutnya dapat disebut KLB adalah besaran ruang yang dihitung dari angka perbandingan jumlah luas seluruh lantai bangunan terhadap luas tanah perpetakan/daerah perencanaan yang dikuasai sesuai rencana teknis ruang Kota; 54. KLB rata-rata adalah besaran ruang yang dihitung dari nilai KLB rata-rata pada suatu kawasan berdasarkan ketetapan nilai KLB menurut pemanfaatan ruang yang sejenis; 55. Koefisien Tapak Besmen yang selanjutnya dapat disebut KTB adalah angka prosentase luas tapak bangunan yang dihitung dari proyeksi dinding terluar bangunan di bawah permukaan tanah terhadap luas perpetakan/daerah perencanaan yang dikuasai sesuai rencana tata ruang; 56. Koefisiensi Daerah Hijau yang selanjutnya dapat disebut KDH adalah angka prosentase berdasarkan perbandingan jumlah luas lahan terbuka untuk penanaman tanaman dan/atau peresapan air terhadap luas tanah perpetakan/daerah perencanaan yang dikuasai sesuai dengan rencana Kota; -957. Ketinggian Bangunan yang selanjutnya dapat disebut KB adalah jumlah lantai penuh suatu bangunan dihitung mulai dari lantai dasar sampai lantai tertinggi; 58. Kawasan Prioritas adalah kawasan yang diprioritaskan pembangunannya dalam rangka mendorong pertumbuhan Kota ke arah yang direncanakan dan atau menanggulangi masalah-masalah yang mendesak; 59. Tipologi Kawasan adalah penggolongan kawasan sesuai karakter dan kualitas kawasan, lingkungan, pemanfaatan ruang, penyediaan prasarana dan sarana lingkungan, yang terdiri dari kawasan mantap, dinamis dan peralihan; 60. Perbaikan Lingkungan adalah pola pengembangan kawasan dengan tujuan untuk memperbaiki struktur lingkungan yang telah ada, dan dimungkinkan melakukan pembongkaran terbatas guna penyempurnaan pola fisik prasarana yang telah ada. 61. Pemeliharaan Lingkungan adalah pola pengembangan kawasan dengan tujuan untuk mempertahankan kualitas suatu lingkungan yang sudah baik agar tidak mengalami penurunan kualitas lingkungan; 62. Pemugaran Lingkungan adalah pola pengembangan kawasan yang ditujukan untuk melestarikan, memelihara serta mengamankan lingkungan dan atau bangunan yang memiliki nilai sejarah budaya dan/atau keindahan/estetika; 63. Peremajaan Lingkungan adalah pola pengembangan kawasan dengan tujuan mengadakan pembongkaran menyeluruh dalam rangka pembaharuan struktur fisik dan fungsi; 64. Pembangunan Baru adalah pola pengembangan kawasan pada areal tanah yang masih kosong dan atau belum pernah dilakukan pembangunan fisik; 65. Badan Koordinasi Penataan Ruang Daerah selanjutnya dapat disingkat BKPRD merupakan badan yang bertanggung jawab dalam perencanaan, pemenfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatn ruang Kota; 66. Panduan Rancang Kota (Urban Design Guidelines) adalah panduan bagi perencanaan kawasan yang memuat uraian teknis secara terinci tentang kriteria, ketentuan-ketentuan, persyaratan-persyaratan, standar dimensi, standar kualitas yang memberikan arahan bagi pembangunan suatu kawasan yang ditetapkan mengenai fungsi, fisik bangunan prasarana dan fasilitas umum, fasilitas sosial, utilitas maupun sarana lingkungan; 67. Panduan Pembangunan Kawasan adalah panduan bagi pembangunan kawasan sebagai implementasi dari hasil Panduan Rancang Kota dan memuat ketentuanketentuan yang mengatur mengenai komposisi peruntukan-peruntukan, intensitas pemanfaatan ruang, tahapan dan tata cara pembangunan, pembiayaan pembangunan, dan pengaturan mengenai keseimbangan antara manfaat ruang yang diperoleh para pihak yang terkait dengan kewajiban penyediaan prasarana, fasilitas umum, fasilitas sosial, utilitas umum, dan sarana lingkungan, serta sistem pengelolaan kawasan yang akan dibangun. BAB II RUANG LINGKUP Pasal 2 - 10 (1) Ruang Lingkup RTRW Kota mencakup strategi dan struktur pemanfaatan ruang wilayah Kota sampai dengan batas ruang daratan, ruang lautan, dan ruang udara sesuai dengan peraturan perUndang-undangan yang berlaku. (2) RTRW Kota sebagaimana dimaksud ayat (1) pasal ini berisi: 1. Asas, visi dan misi pembangunan, serta tujuan penataan ruang Kota Makassar; 2. Kebijakan dan strategi pengembangan tata ruang; 3. Struktur dan pola pemanfaatan ruang; 4. Pengelolaan kawasan lindung dan pemanfaatan kawasan budidaya; 5. Pengendalian pemanfaatan ruang; 6. Hak, kewajiban dan peran serta masyarakat. BAB III ASAS, VISI DAN MISI, SERTA TUJUAN Bagian Pertama Pasal 3 Asas RTRW Kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 disusun berasaskan: 1. Pemanfaatan ruang bagi semua kepentingan secara terpadu, serasi, selaras, seimbang, berdaya guna, berhasil guna, berbudaya dan berkelanjutan. 2. Keterbukaan, persamaan, keadilan, dan perlindungan hukum. Bagian Kedua Visi dan Misi Pasal 4 Visi Visi Penataan Ruang Kota adalah mewujudkan Makassar sebagai Kota Maritim, Niaga, Pendidikan, Budaya, dan Jasa yang berorientasi Global, Berwawasan Lingkungan dan Paling Bersahabat” Pasal 5 Misi Untuk mewujudkan Visi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4, ditetapkan Misi Penataan Ruang Kota sebagai arahan penataan ruang wilayah sebagai berikut: 1. Membangun Kota Makassar yang berbasis pada masyarakat; 2. Mengembangkan lingkungan kehidupan perkotaan yang berkelanjutan; 3. Mengembangkan Kota Makassar sebagai Kota Maritim, Niaga, Pendidikan, Budaya dan Jasa Berskala Nasional dan Internasional. Bagian Ketiga Pasal 6 Tujuan - 11 Tujuan Penataan Ruang Kota adalah: 1. Terwujudnya kehidupan masyarakat yang sejahtera, berbudaya, dan berkeadilan; 2. Terselenggaranya pemanfaatan ruang wilayah yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan hidup sesuai dengan kemampuan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup, kemampuan masyarakat dan pemerintah, serta kebijakan pembangunan nasional dan daerah; 3. Terwujudnya keterpaduan dalam penggunaan sumber daya alam dan sumber daya buatan dengan memperhatikan sebesar-besarnya sumber daya manusia; 4. Terselenggaranya pengaturan pemanfaatan ruang pada kawasan lindung dan kawasan budidaya. BAB IV KEBIJAKAN DAN STRATEGI PENGEMBANGAN TATA RUANG Bagian Pertama Pasal 7 Kebijakan Pengembangan Penataan Ruang Kota Kebijakan pengembangan penataan ruang Kota adalah: 1. Memantapkan fungsi Kota Makassar sebagai Kota Maritim, Niaga, Pendidikan, Budaya dan Jasa berskala Nasional dan Internasional; 2. Memprioritaskan arah pengembangan Kota ke arah koridor Timur, Selatan, Utara, dan membatasi pengembangan ke arah Barat agar tercapai keseimbangan ekosistem; 3. Melestarikan fungsi dan keserasian lingkungan hidup di dalam penataan ruang dengan mengoptimalkan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup; 4. Mengembangkan sistem prasarana dan sarana Kota yang berintegrasi dengan sistem regional, nasional dan internasional; Pasal 8 Wilayah Pengembangan Sesuai dengan karakteristik fisik dan perkembangannya, Makassar dibagi atas 13 (tiga belas) Kawasan Terpadu dan 7 (tujuh) Kawasan Khusus sebagaimana tercantum pada Gambar 1 Lampiran Peraturan Daerah ini, dengan kebijakan pembangunan untuk masing-masing wilayah pengembangan sebagai berikut: 1. Wilayah Pengembangan (WP) I dibagian atas Sungai Tallo, tepatnya dibagian Utara dan Timur Kota, dengan dasar kebijakan utamanya diarahkan pada peningkatan peran dan fungsi-fungsi kawasan yang berbasiskan pada pengembangan infrastruktur dasar ekonomi perkotaan melalui pengembangan kegiatan secara terpadu seperti pengembangan fungsi dari sektor industri dan pergudangan, pusat kegiatan perguruan tinggi, pusat penelitian, bandar udara yang berskala internasional, kawasan maritim dan pusat kegiatan penelitian sebagai sentra primer baru bagian Utara Kota; 2. Wilayah Pengembangan (WP) II dibagian bawah Sungai Tallo, tepatnya dibagian Timur dari Jalan Andi Pengeran Pettarani sampai dengan batas bagian bawah - 12 dari Sungai Tallo, dengan dasar kebijakan utamanya mengarah pada pengembangan kawasan pemukiman perkotaan secara terpadu dalam bingkai pengembangan sentra primer baru bagian Timur Kota; 3. Wilayah Pengembangan (WP) III Pusat Kota, tepatnya berada pada sebelah Barat dari Jalan Andi Pengeran Pettarani sampai dengan Pantai Losari dan batas bagian atas dari Sungai Balang Beru (Danau Tanjung Bunga), dengan dasar kebijakan utamanya mengarah pada kegiatan revitalisasi Kota, pengembangan pusat jasa dan perdagangan, pusat bisnis dan pemerintahan serta pengembangan kawasan pemukiman secara terbatas dan terkontrol guna mengantisipasi semakin terbatasnya lahan Kota yang tersedia dengan tanpa mengubah dan mengganggu kawasan dan atau bangunan cagar budaya; 4. Wilayah Pengembangan (WP) IV dibagian bawah Sungai Balang Beru (Danau Tanjung Bunga), tepatnya batas bagian bawah dari Sungai Balang Beru sampai dengan batas administrasi Kabupaten Gowa, dengan dasar kebijakan utamanya mengarah pada pengembangan kawasan secara terpadu untuk pusat kegiatan kebudayaan, pusat bisnis global terpadu yang berstandar internasional, pusat bisnis dan pariwisata terpadu dan pusat olahraga terpadu yang sekaligus menjadi sentra primer baru bagian Selatan Kota; 5. Wilayah Pengembangan (WP) V Kepulauan Spermonde Makassar, dengan dasar kebijakan utamanya yang diarahkan pada peningkatan kegiatan pariwisata, kualitas kehidupan masyarakat nelayan melalui peningkatan budidaya laut dan pemanfaatan sumber daya perikanan dengan konservasi ekosistem terumbu karang; Pasal 9 Kawasan Pengembangan Terpadu Kawasan Pengembangan Terpadu Kota Makassar sebagaimana dimaksud Pasal 8, terdiri atas: 1. Kawasan Pusat Kota, yang berada pada bagian tengah Barat dan Selatan Kota mencakup wilayah Kecamatan Wajo, Bontoala, Ujung Pandang, Mariso, Makassar, Ujung Tanah dan Tamalate; 2. Kawasan Permukiman Terpadu, yang berada pada bagian tengah pusat dan Timur Kota, mencakup wilayah Kecamatan Manggala, Panakukang, Rappocini dan Tamalate; 3. Kawasan Pelabuhan Terpadu, yang berada pada bagian tengah Barat dan Utara Kota, mencakup wilayah Kecamatan Ujung Tanah dan Wajo; 4. Kawasan Bandara Terpadu, yang berada pada bagian tengah Timur Kota, mencakup wilayah Kecamatan Biringkanaya dan Tamalanrea; 5. Kawasan Maritim Terpadu, yang berada pada bagian Utara Kota, mencakup wilayah Kecamatan Tamalanrea; 6. Kawasan Industri Terpadu, yang berada pada bagian tengah Timur Kota, mencakup wilayah Kecamatan Tamalanrea dan Biringkanaya; 7. Kawasan Pergudangan Terpadu, yang berada pada bagian Utara Kota, mencakup wilayah Kecamatan Tamalanrea, Biringkanaya dan Tallo; - 13 8. Kawasan Pendidikan Tinggi Terpadu, yang berada pada bagian tengah Timur Kota, mencakup wilayah Kecamatan Panakukang, Tamalanrea dan Tallo; 9. Kawasan Penelitian Terpadu, yang berada pada bagian tengah Timur Kota, mencakup wilayah Kecamatan Tallo; 10. Kawasan Budaya Terpadu, yang berada pada bagian Selatan Kota, mencakup wilayah Kecamatan Tamalate; 11. Kawasan Olahraga Terpadu, yang berada pada bagian Selatan Kota, mencakup wilayah Kecamatan Tamalate; 12. Kawasan Bisnis dan Pariwisata Terpadu, yang berada pada bagian tengah Barat Kota, mencakup wilayah Kecamatan Tamalate; 13. Kawasan Bisnis Global Terpadu, yang berada pada bagian tengah Barat Kota, mencakup wilayah Kecamatan Mariso. Pasal 10 Kawasan Pengembangan Khusus Kawasan Pengembangan Khusus Kota Makassar sebagaimana dimaksud Pasal 8, terdiri atas: 1. Kawasan Khusus Pariwisata Maritim, yang berada pada kepulauan Spermonde Makassar, mencakup wilayah Kecamatan Ujung Pandang dan Ujung Tanah; 2. Kawasan Khusus Pengembangan Sungai Tallo, yang berada sepanjang koridor Sungai Tallo; 3. Kawasan Khusus Pengembangan Sungai Jeneberang yang berada sepanjang koridor Sungai Jeneberang; 4. Kawasan Khusus Pengendalian Pantai Makassar, yang berada sepanjang ±35 km pesisir pantai Makassar; 5. Kawasan Khusus Konservasi Budaya, yang letak dan posisinya tersebar di beberapa titik dalam wilayah Kota Makassar; 6. Kawasan Khusus Pusat Energi dan Bahan Bakar Terpadu, yang letaknya berada di bagian Utara Kota (muara Sungai Tallo), mencakup wilayah Kecamatan Tallo; 7. Kawasan Khusus Tempat Pembuangan dan Pemrosesan Sampah Terpadu, berada pada Kecamatan Manggala. Bagian Kedua Strategi Pengembangan Tata Ruang Paragraf 1 Misi dan Strategi Pengembangan Tata Ruang Kota Pasal 11 Misi Pengembangan Tata Ruang Kota Untuk mewujudkan Misi Penataan Ruang Kota dimaksud Pasal 5, maka ditetapkan Misi Pengembangan Kawasan Tata Ruang sebagai berikut: - 14 1. Kawasan Terpadu mempunyai Misi, yaitu: a. Misi Kawasan Pusat Kota adalah menjadikan kawasan pusat Kota sebagai kawasan dengan kualitas standar pelayanan yang lebih baik kepada lingkungan dan masyarakatnya, dengan mendorong aktivitas pembangunan fisik berkembang secara vertikal dan pengelolaan lingkungan yang lebih terkendali; b. Misi Kawasan Permukiman Terpadu adalah mewujudkan dan mengembangkan kawasan pemukiman yang berkepadatan sedang dan tinggi ke arah Timur Kota serta mengendalikan kegiatan Jasa dan Niaga yang melebihi kebutuhan kawasan; c. Misi Kawasan Pelabuhan Terpadu adalah mendukung pengembangan pelabuhan beserta lingkungannya menjadi kawasan dengan tingkat pelayanan terbaik yang berstandar internasional dan meningkatkan Kualitas Ruang dari kondisi eksisting kawasan yang ada dengan jalan Meremajakan, Menata Kembali dan Merevitalisasi dalam rangka mendukung Fungsi Utama sebagai Pusat Jasa Kepelabuhanan; d. Misi Kawasan Bandara Terpadu adalah mewujudkan kawasan Bandara sebagai Gerbang (gate) dan Ruang Tamu (living room) Kota Makassar dengan penataan kembali kawasan dan mengarahkan pengembangan kawasan sebagai Kawasan Berikat (bounded zone) dalam mendukung peran Bandara Hasanuddin sebagai pusat koordinasi di Kawasan Timur Indonesia; e. Misi Kawasan Maritim Terpadu adalah mewujudkan kawasan Untia menjadi kawasan Maritim Terpadu berskala regional dan nasional, Mewujudkan pengembangan kawasan menjadi Kota Nelayan Terpadu sekaligus menjadi percontohan yang dapat dibanggakan, Mengembangkan pariwisata berwawasan lingkungan (eco tourism) dengan melestarikan dan mengelola kawasan mangrove di Pesisir Pantai Utara Makassar; f. Misi Kawasan Industri Terpadu adalah meningkatkan pengembangan kawasan sebagai Pusat Industri (Selektif) Terpadu dalam skala Global, membatasi pertumbuhan dan pemanfaatan ruang sebagai kawasan pergudangan, serta mendorong tumbuhnya ruang-ruang pendukung kawasan yang bisa mendukung Kawasan dapat Tumbuh dan berkembang secara optimal; g. Misi Kawasan Pergudangan Terpadu adalah mengarahkan pengembangan kawasan sebagai pusat pergudangan yang lengkap dan terpadu, memberhentikan pertumbuhan pemanfaatan ruang pergudangan yang tidak tertata baik, dan menata dan mewujudkan kawasan sebagai kawasan bebas banjir dengan merencanakan sistem drainase terpadu serta mendorong tumbuhnya ruang-ruang pendukung kawasan yang bisa mendukung kawasan dapat tumbuh dan berkembang secara optimal; h. Misi Kawasan Pendidikan Tinggi Terpadu adalah meningkatkan fungsi kawasan sebagai pusat Pendidikan Tinggi dengan standar global, image yang baik dan atmosfir akademik yang tinggi, membatasi kegiatan pemanfaatan ruang yang bertentangan dengan fungsi utama kawasan, menata kawasan kosong sekitar kawasan Sungai Tallo dengan model - 15 Pemanfaatan ruang berbasis Lingkungan yang berstandar global, serta Mendorong tumbuhnya ruang-ruang pendukung kawasan; i. Misi Kawasan Penelitian Terpadu adalah mewujudkan fungsi kawasan sebagai pusat pengembangan iImu pengetahuan dan teknologi (technopark) yang berbasis agropolitan dan maritim, yang menjadi penentu utama dalam percepatan pembangunan Kota Makassar, menetapkan sebagai pusat kawasan hijau binaan dalam bentuk Kota Taman (garden city), mewujudkan Kota Tepi Sungai (riverside city) sebagai usaha untuk memberi batas jelas antara kawasan konservasi dengan kawasan budidaya perkotaan dan mendorong tumbuhnya ruang-ruang pendukung kawasan; j. Misi Kawasan Budaya Terpadu adalah melakukan perencanaan dan penataan kembali (Re-Masterplan) Kawasan Benteng Somba Opu sebagai pusat budaya dan sejarah Sulawesi, mengembangkan ruang-ruang pendukung kawasan untuk memperkuat daya tarik fungsi utama kawasan, menetapkan bahwa seluruh bangunan yang ada pada kawasan ini diwajibkan bergaya tradisional (vurnicular) serta memberi batas jelas dengan kawasan Kota Baru Tanjung Bunga; k. Misi Kawasan Olahraga Terpadu adalah mewujudkan fungsi kawasan sebagai pusat semua olahraga baik olahraga air maupun olahraga lainnya, memanfaatkan kebutuhan mitigasi pantai sebagai ruang untuk fungsi olahraga dan rekreasi, mendorong tumbuhnya ruang-ruang pendukung kawasan; l. Misi Kawasan Bisnis dan Pariwisata Terpadu adalah melakukan peninjauan kembali (review) terhadap Masterplan Tanjung Bunga, mengendalikan kegiatan pemanfaatan ruang sesuai penetapan fungsi kawasan sebelum dan sesudahnya; m. Misi Kawasan Bisnis Global Terpadu adalah mewujudkan Kawasan Tanjung Beringin sebagai kawasan bisnis dengan standar Internasional, mewujudkan kegiatan mitigasi pantai sebagai kebutuhan lingkungan yang mendesak, mengembangkan fungsi kawasan hanya pada fungsi bisnis yang berskala global, serta memperjelas status tanah dalam upaya mempersiapkan atmosfir investasi berdaya tarik tinggi. 2. Kawasan Khusus mempunyai Misi, yaitu: a. Misi Kawasan Khusus Pariwisata Maritim adalah mengembangkan potensi pulau, laut, dan pesisir menjadi lebih produktif dan bermanfaat langsung bagi peningkatan ekonomi masyarakat maritim, menggerakkan sistem maritim melalui kegiatan pariwisata sebagai lokomotif, mewujudkan tata ruang laut yang mampu memberi manfaat besar bagi ekonomi masyarakat maritim; b. Misi Kawasan Khusus Pengembangan Koridor Sungai Tallo adalah mengendalikan kawasan Sungai Tallo dari bahaya sendimentasi, pendangkalan, banjir dan pencemaran, memanfaatkan secara maksimal fungsi Sungai Tallo sebagai sarana transportasi air, pariwisata, sumber air baku, dan budidaya perikanan, mewujudkan koridor Sungai Tallo sebagai ikon alam bagian Utara yang menjadi kebanggan Kota Makassar; - 16 c. Misi Kawasan Khusus Pengembangan Sungai Jeneberang adalah mengendalikan koridor Sungai Jeneberang dari bahaya sedimentasi berat dan bahaya banjir yang berakibat langsung ke kawasan pusat kota, mensinergikan dan menjalin aliansi tentang konsep pengembangan koridor Sungai Jeneberang yang terpadu dengan pemerintah Kabupaten Gowa, memanfaatkan secara maksimal fungsi Sungai Jeneberang sebagai sumber air baku potensial, sarana transportasi air, kegiatan pariwisata dan budidaya perikanan, mewujudkan koridor Sungai Jeneberang sebagai Ikon Alam bagian Selatan yang menjadi kebanggan Kota Makassar; d. Misi Kawasan Khusus Pengendalian Pantai Makassar adalah mewujudkan kegiatan mitigasi secara keseluruhan dan terpadu di sepanjang pantai Makassar termasuk pengaruh dari rencana kegiatan pembangunan sepanjang pantai Makassar, mewujudkan pemanfaatan ruang secara maksimal dari hasil ruang yang dibutuhkan dari kegiatan mitigasi (ruang mitigasi) dengan pertimbangan azas manfaat yang sebesar-besarnya bagi Kota Makassar serta membatasi secara ketat kegiatan pemanfaatan ruang terhadap fungsi-fungsi ruang (selektif). e. Misi Kawasan Khusus Konservasi Warisan Budaya adalah merivitalisasi kawasan-kawasan budaya (heritage) Makassar, merenovasi bangunanbangunan yang ditetapkan sebagai ”heritage” Makassar, melarang pembongkaran bagunan-bangunan yang telah ditetapkan sebagai ”heritage” Makassar, memanfaatkan kemungkinan memproduktifkan kawasan-kawasan dan atau bangunan-bangunan yang ditetapkan sebagai ”heritage” Makassar, dan mewujudkan kawasan-kawasan dan bangunan-bangunan ”heritage” Makassar sebagai motor dan inti dari kegiatan wisata budaya dan sejarah Kota Makassar; f. Misi Kawasan Khusus Pusat Energi dan Bahan Bakar Terpadu adalah mewujudkan fungsi kawasan sebagai kawasan Khusus dengan status kawasan beresiko tinggi tingkat dua (highrisk zona level two) yang menjadi pusat bahan bakar dan gas serta menjadi kawasan untuk pembangkit tenaga listrik (power plant) yang lengkap dan terpadu, mengembangkan pemanfaatan hasil sedimentasi alam Sungai Tallo secara maksimal sekaligus menjadi usaha mitigasi pada pantai Utara Makassar dan muara Sungai Tallo, mewujudkan dukungan prasarana jalan dan jembatan kepada kawasan Khusus ini sebagai daya tarik yang sangat tinggi bagi keterlibatan investor untuk berpartisipasi penuh dalam kegiatan ini; g. Misi Kawasan Khusus Tempat Pembuangan dan Pemrosesan Sampah Terpadu adalah mewujudkan fungsi kawasan tempat pembuangan sampah sesuai dengan standar lingkungan global, mengembangkan fungsi positif sampah sebagai komoditi yang memiliki nilai ekonomis, mengembangkan sistem yang terpadu tentang keterlibatan masyarakat dalam sistem persampahan makassar baik dalam pengumpulan, transportasi maupun dalam mengolah/memproses sampah, mengembangkan dan mensosialisasikan bahwa sampah menjadi bukan sampah setelah terjadi proses pemilihan sampah dan oleh masyarakat; - 17 Pasal 12 Strategi Pengembangan Tata Ruang Kota Untuk mewujudkan Misi Pengembangan Tata Ruang Kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11, maka Strategi Pengembangan Tata Ruang Kota yang ditempuh di masing-masing kawasan terpadu dan khusus sebagai berikut: 1. Strategi Pengembangan Kawasan Terpadu Kota a. Strategi Pengembangan Kawasan Pusat Kota meliputi: 1) Mendorong pengembangan kawasan strategis skala Nasional dan Internasional pada kawasan ekonomi prospektif terutama di kawasan sekitar Lapangan Karebosi, Sepanjang Pantai Losari, Kawasan Pecinan bagian Utara Makassar, koridor jalan Jenderal Sudirman – jalan DR. Ratulangi dan koridor jalan Andi Pengerang Pettarani; 2) Mengembangkan sarana dan fasilitas transportasi yang mendukung pengembangan sistem angkutan umum massal; 3) Mengembangkan progam peremajaan kawasan kumuh berat terutama pada konsentrasi kawasan kumuh Mariso, kawasan kumuh sekitar jalan Abubakar Lambogo dan kawasan kumuh Baraya dengan peremajaan terbatas untuk pembangunan rumah susun murah; 4) Merevitalisasi kawasan Pantai Losari secara terpadu dengan mereklamasi terbatas ruang pantai; 5) Membatasi pembangunan pada ruang belakang Pantai Losari sekitar kawasan Makassar Golden Hotel (MGH) dan sekitarnya dengan membuat jalan arteri pembatas sampai ke depan Benteng Jumpandang sekaligus memecahkan masalah kemacetan akibat jalur sempit lalu lintas pada daerah sekitar Makassar Golden Hotel dan memperkuat eksistensi Benteng Jumpandang; 6) Menata sistem drainase kawasan pesisir pantai Makassar dengan pembuatan saluran tangkap sepanjang pantai yang dilengkapi dengan sistem instalasi pengolahan limbah; 7) Mengembangkan sistem interkoneksi antarjaringan transportasi darat dan jaringan transportasi air serta jaringan pedestrian secara terpadu dengan sistem transportasi makro; 8) Mendukung pembangunan kawasan dengan konsep bangunan bergedung tinggi ”highrise building” yang sudah terencana dengan standar global. b. Strategi Pengembangan Kawasan Permukiman Terpadu meliputi: 1) Mendorong pembangunan kluster permukiman dengan standar yang baik dan baku dan memberikan kemudahan kepada setiap developer yang mampu mewujudkan dan memelihara kawasannya dengan keasrian yang tinggi dan estetik dalam kegiatan melaksanakan kelanjutan pembangunan kawasannya; 2) Mendukung pembangunan kawasan sentra primer Timur Baru pada kawasan Panakkukang Mas sebagai Daerah Pusat Bisnis (Central business district = CBD) kawasan permukiman; - 18 3) Mengembangkan dan menata sistem drainase kawasan permukiman terpadu serta menetapkan/mengawasi derajat ketinggian terhadap kawasan-kawasan permukiman tersebut agar bebas banjir dan bebas genangan; 4) Mendorong pertumbuhan kawasan permukiman kepadatan sedang sampai tinggi dalam upaya efesiensi pemanfaatan ruang. c. Strategi Pengembangan Kawasan Kawasan Pelabuhan Terpadu meliputi: 1) Mendukung rencana pembangunan Pelabuhan Soekarno-Hatta tahap 2 dan peningkatannya menjadi pelabuhan skala Internasional serta menjadi kawasan di Timur Indonesia; 2) Mendukung pola pemanfaatan ruang baru dengan jalan kegiatan reklamasi rencana sesuai dengan kaidah lingkungan dalam rangka memanfaatkan hasil sendimentasi yang ada; 3) Mengembangkan ruang-ruang kawasan yang baru hasil reklamasi terencana menjadi sentra-sentra primer baru di Utara dengan fungsifungsi yang mendukung fungsi utama kegiatan kepelabuhanan; 4) Mengembangkan jaringan jalan dan jembatan baru menyusuri pesisir pantai Utara Makassar sebagai jalan arteri alternatif tanpa melalui jalan bebas hambatan menghubungkan kepada semua sistim pusat kegiatan kawasan-kawasan ekonomi; 5) Mengembangkan ruang-ruang kawasan yang baru hasil reklamasi terencana menjadi sentra-sentra primer baru di Utara dengan fungsifungsi yang mendukung fungsi utama kegiatan kepelabuhanan; 6) Menata kembali ruang-ruang kawasan berkualitas rendah dengan peremajaan ruang kawasan dengan model rumah susun murah; 7) Meningkatkan kualitas Daerah Aliran Sungai (DAS) dengan kegiatan Normalisasi Sungai Tallo mulai dari muara sampai menuju ke hulu. d. Strategi Pengembangan Kawasan Bandara Terpadu meliputi: 1) Mendukung pembangunan bandara Internasional Hasanuddin tahap 2 (dua) dengan fungsi-fungsi baru yang strategis; 2) Mendukung pembangunan jalan bebas hambatan Makassar – Mandai ; 3) Mengendalikan koefisien lantai bangunan sesuai dengan persyaratan bandara pada wilayah Kawasan Keselamatan Operasi Penerbangan (KKOP); 4) Mengembangkan kawasan pusat industri kecil yang berikat pada koridor KKOP; 5) Mengembangkan Ruang Terbuka Hijau (RTH) pada koridor Mandai – Makassar; 6) Membangun jaringan transportasi air dengan sarana terminal dan dermaga yang terhubung dengan jaringan jalan tersingkat menuju Bandara dalam bentuk koridor wisata sebagai terobosan dalam upaya meningkatkan kegiatan parawisata berdasarkan keunggulan dan keunikan lokal. e. Strategi Pengembangan Kawasan Maritim Terpadu meliputi: - 19 1) Melanjutkan pembangunan kawasan permukiman nelayan terpadu di Untia dengan melengkapi sarana dan prasarana yang lebih layak; 2) Mendukung kegiatan reklamasi terencana guna penyediaan ruang untuk pembangunan pelabuhan perikanan nusantara; 3) Mengembangkan pembangunan jaringan jalan baru ke kawasan bandara, kawasan pelabuhan, kawasan pergudangan dan kawasan industri; 4) Mengembangkan sentra-sentra primer baru yang melengkapi dan memperkuat fungsi kemaritiman kawasan diantaranya kawasan bisnis maritim, kawasan rekreasi pesisir, kawasan wisata berwawasan lingkungan ”eco tourism” Mangrove”, kawasan industri maritim, dan pusat restoran makanan laut ”seafood”; 5) Mengembangkan kawasan RTH koridor pesisir pantai Utara; 6) Menerapkan prinsip-prinsip mitigasi pada setiap kegiatan pembangunan pada kawasan ini. f. Strategi Pengembangan Kawasan Industri Terpadu meliputi: 1) Mendorong pengembangan Kawasan Industri Makassar (KIMA) yang menjadi magnet kawasan; 2) Mendorong pembangunan IPA, IPAL dan pembangkit tenaga listrik untuk memenuhi kebutuhan Kawasan ini; 3) Menetapkan kontrol Intensitas bangunan dengan ketat dan menentukan waktu dimana Intensitas bangunan Industri harus dinaikkan; 4) Mendukung pembangunan jalan bebas hambatan Makassar – Mandai; 5) Mengembangkan jaringan jalan baru menuju kawasan ini; 6) Mendorong pembangunan sentra-sentra kegiatan bisnis industri, permukiman pekerja industri, dan pusat kegiatan sektor informal. g. Strategi Pengembangan Kawasan Pergudangan Terpadu meliputi: 1) Mendukung kegiatan pembangunan bagian-bagian kawasan pergudangan yang terencana; 2) Mengembangkan sistim drainase kawasan yang terpadu dengan sistem kanalisasi yang juga mampu difungsikan sebagai sarana transportasi air dalam upaya membebaskan kawasan dari bahaya banjir dan genangan serta menghidupkan kegiatan parawisata; 3) Mendorong pembangunan sentra-sentra bisnis, permukiman, rekreasi dan pusat kegiatan sektor informal didalam mendukung fungsi utama kawasan. h. Strategi Pengembangan Kawasan Pendidikan Tinggi Terpadu meliputi: 1) Mengembangkan kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) belakang Kampus Universitas Hasanuddin, Kampus Universitas Muslim Indonesia dan Kampus Universitas 45 menjadi pengikat kawasan dan menjadi muka baru yang ditata dengan standar global sekaligus memanfaatkan peluang untuk menata kawasan secara terencana dan mengalihkan orientasi lama pada koridor jalan Perintis Kemerdekaan; 2) Mendorong pembangunan sentra-sentra bisnis pendidikan, permukiman, asrama-asrama, sarana rekreasi dan sarana perpustakaan serta dekat - 20 dengan kawasan penelitian terpadu sebagai kegiatan pendukung fungsi utama kawasan; 3) Mengembangkan jaringan jalan baru untuk mewujudkan titik orientasi baru bagi Kawasan Pendidikan Tinggi Terpadu dengan memanfaatkan daya tarik Sungai sebagai tolak banding alam; 4) Mengembangkan dan menata kawasan Ruang Terbuka Hijau pada keseluruhan kawasan dengan standar yang tinggi dan dengan ratio tutupan hijau (greencover) minimum 50% (lima puluh persen) atau diatas standar optimal 47% (empat puluh tujuh persen). i. Strategi Pengembangan Kawasan Penelitian Terpadu meliputi: 1) Mengembangkan kawasan Pulau Lakkang yang merupakan delta Sungai Tallo sebagai Pusat Penelitian dan Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi yang terpadu untuk memenuhi percepatan pembangunan dalam usaha untuk menguasai teknologi unggulan khususnya bidang maritim dan agropolitan. 2) Menetapkan menjadi Pusat Kawasan Hijau Binaan dengan ratio tutupan hijau (green cover) minimum sebesar 60% (enam puluh persen). 3) Mengembangkan prasarana jaringan jalan baru yang melintasi kawasan ini serta prasarana instalasi pengolahan limbah (IPAL) untuk menjaga kualitas lingkungan yang ada. 4) Mendorong pembangunan sentra-sentra permukiman berkepadatan rendah, sarana wisata berwawasan lingkungan, sarana bisnis berwawasan lingkungan dan sarana wisata dan olahraga air sebagai pendukung dan pelengkap kegiatan utama. j. Strategi Pengembangan Kawasan Budaya Terpadu meliputi: 1) Menetapkan kawasan sekitar Benteng Somba Opu sebagai kawasan konservasi budaya dan sejarah dan menjadi pusat budaya Sulawesi Selatan yang di tata secara terpadu; 2) Mengembangkan dengan cara menyusun kembali Masterplan Kawasan Taman Miniatur Sulawesi (TMS) menjadi Kawasan Somba Opu yang lebih terpadu dan bernilai produktivitas ekonomi tinggi, yang mana selama ini cenderung menunjukkan keadaan lingkungan yang tidak terurus dan terdegradasi berat secara fisik yang disebabkan oleh besarnya beban biaya pemeliharaan; 3) Mengalihkan orientasi pintu utama ke arah barat melewati pinggir danau Tanjung Bunga dan membuka pintu utama yang baru dari arah Selatan melalui pinggir Sungai Jeneberang; 4) Mengembangkan kawasan ini menjadi Pusat Hijau Binaan dengan tingkat tutupan hijau (green cover) minimum 60% (enam puluh persen); 5) Mengembangkan sentra-sentra bisnis berwawasan budaya, kegiatan wisata air, kegiatan Meeting, Incentive, Convention, and Exibition (MICE) dan kegiatan hotel serta restoran sebagai kegiatan pendukung dan pelengkap fungsi utama kawasan. k. Strategi Pengembangan Kawasan Olahraga Terpadu meliputi: - 21 1) Mendorong pembangunan stadion sepak bola dan lapangan-lapangan olahraga lainnya baik untuk sarana latihan maupun untuk match atau pertandingan yang didesain secara terpadu dengan konsep simbiosis mutualistis antara konsep ”Olahraga, Wisata, dan Bisnis” dan antara olahraga darat dan olahraga laut di sepanjang garis pantai Barombong; 2) Mengembangkan sistem jaringan transportasi massa menuju kawasan ini sebagai kawasan tujuan bagian Selatan Kota; 3) Mendukung kegiatan penataan kembali terencana bentuk pesisir pantai Barombong dengan cara mereklamasi pesisir pantai dari deposit pasir hasil sendimentasi alam sebagai upaya Mitigasi terhadap bencana sepanjang pesisir pantai Barombong. Dan mendukung pemanfaatan ruang untuk kegiatan ”Olahraga, Wisata, dan Bisnis” hasil dari kegiatan mereklamasi dan mereshaping pantai Barombong; 4) Mendorong tumbuhnya sentra-sentra bisnis olahraga, kegiatan wisata air dan darat, ruang-ruang permukiman beratmosfir resort sebagai kegiatan– kegiatan pendukung dan pelengkap dari fungsi utama kawasan; 5) Mengembangkan RTH dengan tingkat green cover minimum 50% sebagai upaya untuk mengeleminir kecepatan angin yang berlebih serta upaya untuk menurunkan tempratur lingkungan dalam rangka mendukung tuntutan atmosfir kawasan. l. Strategi Pengembangan Kawasan Bisnis dan Pariwisata Terpadu meliputi: 1) Mendorong kelanjutan pembangunan Kota Baru Tanjung Bunga sesuai dengan masterplan yang telah disahkan sesuai peraturan perundangundangan yang berlaku dan sesuai dengan penetapan komposisi yang seimbang antara kawasan bisnis, wisata, dan permukiman; 2) Mengembangkan fungsi jalan H.M Dg. Patompo yang merupakan fasilitas umum dari kawasan ini sebagai jalan lingkar Kota yang sangat strategis dan penting yang menghubungkan Kawasan Pusat Kota dengan kawasan Barat dan Selatan Kota; 3) Mengembangkan kawasan Danau Tanjung Bunga menjadi kawasan wisata publik dan kawasan olahraga air berstandar Internasional serta menjadi kawasan pusat jajan dan makanan unggulan Makassar di sepanjang kedua pesisir danau dengan atmosfir yang berwawasan lingkungan; 4) Mendukung kegiatan penataan kembali dari bentuk pesisir pantai Tanjung Bunga melalui kegiatan reklamasi dari deposit pasir hasil sendimentasi alam dalam upaya me MITIGASI pesisir pantai Tanjung Bunga terhadap bencana dan memanfaatkannya menjadi kawasan Kota Tepian Air dengan standar dan style Internasional pada kawasan sekitar muara pembuangan Danau Tanjung Bunga (Ex Sungai Balang Beru); 5) Mengembangkan kawasan Riverside Sungai Jeneberang sebelah Barat ”Dam Karet” sebagai jalur transportasi air Kota dan kawasan sebelah Timur ”Dam Karet” sebagai kawasan wisata air bergerak; - 22 6) Mengembangkan RTH dengan tingkat tutupan hijau (green cover) minimum 50% (lima puluh persen) untuk mewujudkan kenyamanan lingkungan yang baik dan asri di seluruh kawasan ini; 7) Mendorong pembangunan sentra-sentra bisnis baru, kegiatan wisata yang lengkap dan spesifik serta unik dan permukiman-permukiman bernuansa resort dengan standar dan style Internasional. m. Strategi Pengembangan Kawasan Bisnis Global Terpadu meliputi: 1) Mengembangkan kawasan tanah tumbuh yang merupakan tanah kosong milik negara sebagai pusat bisnis berstandar Global yang terpadu dan menjadi wajah Internasional Kota Makassar; 2) Mengembangkan pembangunan kawasan dengan KLB tinggi dan KDB rendah dengan pola pemanfaatan ruang standar Internasional dalam upaya mewujudkan misi kawasan sebagai wajah masa depan Kota Makassar; 3) Mendorong percepatan pembangunan ”Celebes Convention Center” ; 4) Mengembangkan pembangunan sistim jaringan jalan baru yang terpadu pada kawasan ini; 5) Mempercepat kegiatan penataan kembali bentuk pesisir pantai kawasan tanah tumbuh dan sekitarnya dengan jalan mereklamasi kawasan sekitar tanah tumbuh dari deposit pasir hasil sendimentasi alam berdasarkan kaidah-kaidah lingkungan sebagai usaha untuk memenuhi kebutuhan Mitigasi pantai tanah tumbuh dan Pantai Losari dan memanfaatkan ruang hasil reklamasi secara terencana dan produktif sesuai dengan fungsi utama kawasan; 6) Mendorong percepatan 6) Mendorong percepatan dan keberlanjutan pembangunan Rumah Susun di Mariso sebagai usaha untuk meremajakan kawasan kumuh yang ada di sekitar kawasan ini; 7) Mengembangkan RTH di seluruh kawasan dengan tingkat tutupan hijau (green cover) minimum 47% (enam puluh persen). 2. Strategi Pengembangan Kawasan Khusus a. Strategi Pengembangan Kawasan Khusus Pariwisata Maritim: mendorong revitalisasi kawasan maritim sebagai objek wisata dengan meningkatkan sarana dan prasarana pendukungnya guna mendorong laju percepatan pembangunan di kawasan maritim; b. Strategi Pengembangan Kawasan Khusus Pengembangan Sungai Tallo: menata kawasan koridor Sungai Tallo sebagai upaya pengendali banjir dan penyediaan ruang terbuka hijau, mendorong program peremajaan lingkungan kawasan hilir Sungai Tallo menjadi kawasan konservasi dengan peremajaan terbatas terhadap beberapa kegiatan pembangunan yang direncanakan didalamnya; c. Strategi Pengembangan Kawasan Khusus Pengembangan Sungai Jeneberang: menata kawasan koridor Sungai Jeneberang sebagai upaya pengendali banjir dan sebagai sumber bahan baku air bersih Kota, mendorong program peremajaan lingkungan kawasan hilir Sungai - 23 - Jeneberang menjadi kawasan konservasi dengan peremajaan terbatas terhadap beberapa kegiatan pembangunan yang direncanakan didalamnya; d. Strategi Pengembangan Kawasan Khusus Pengendalian Pantai Makassar: mendukung pelaksanaan program mitigasi pantai sebagai satu bentuk kegiatan yang dapat memberikan advis perencanaan secara terstruktur terhadap apa saja yang bisa dan tidak bisa dilakukan sepanjang pesisir pantai Makassar; e. Strategi Pengembangan Kawasan Khusus Konservasi Budaya: mendukung program pelestarian budaya (lingkungan dan bangunan) melalui penataan kembali kawasan konservasi budaya yang bisa tetap bersinergi dengan pertumbuhan lingkungan sekitarnya; f. Strategi Pengembangan Kawasan Khusus Pusat Energi dan Bahan Bakar Terpadu: menata kembali kawasan muara Sungai Tallo secara terpadu dengan pengembangan reklamasi; g. Strategi Pengembangan Kawasan Khusus Tempat Pembuangan dan Pemrosesan Sampah Terpadu: mengembangkan sistem pembuangan dan pemrosesan sampah secara terpadu dengan sistem perencanaan ruang makro Makassar.

Judul: Tugas Ekpol

Oleh: Abd Rahman


Ikuti kami