Tugas Broadcasting

Oleh Komisi Remaja Gki Pamz

50,1 KB 8 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Tugas Broadcasting

Nama : Nehemia Lantis Jw Prodi : Ilmu Komunikasi / D NIM : 153170107 Tugas Broadcasting Radio Komunitas adalah stasiun siaran radio yang dimiliki, dikelola, diperuntukan, dan didirikan oleh sebuah komunitas. Di Indonesia sendiri radio komunitas sudah berkembang sejak tahun 2000-an, keberadaan radio komunitas di Indonesia semakin kuat setelah disahkannya Undang – undang nomor 32 tahun 2002 tentang Penyiaran. Saat ini di Indonesia terdapat lebih dari 300 radio komunitas dan terorganisasi dalam Jaringan Radio Komunitas Indonesia ( JRKI ), Jaringan Independen Radio Komunitas ( JIRAK CELEBES ). Contoh lain radio komunitas di daerah Yogyakarta CRAST UPN, AJR UAJY, Sheila Corner, IKOM UMY, AGRICIA UGM, Suara Malioboro, dan sebagainya. Radio komunitas juga sering disebut sebagai radio sosial, radio pendidikan, atau radio alternatif. Pada intinya radio komunitas adalaha “dari, oleh, untuk dan tentang komunitas”. Perbedaan radio komunitas dengan radio swasta yaitu tata cara pengelolaan dan tujuan pendiriannya. Pengelolaan radio komunitas memperhatikan aspek keterlibatan warga atau komunitas. Tujuan kegiatan penyiaran di radio komunitas melayani kebutuhan informasi warganya sehingga keterlibatan mereka dalam merumuskan program siaran sangatlah penting. Hal ini berbeda di dunia radio swasta, lembaga ii berdiri untuk meraih pendengar sebanyak – banyaknya sehingga aspek rating sangat diperhitungkan sebagai ukuran gengsi radio. Hidup dan matinya radio swasta tergantung pada pemasukan iklan sehingga seluruh kreativitsd diukur dari segmen pasar yang disasar. Radio komunitas menyajikan tema – tema yang dibutuhkan warga setempat, bahasa yang digunakan oleh penyiar mengikuti dialog lokal dan kebiasaan berbicara setempat. Hal ini berbeda dengan banyak radio lainnya, radio swasta cenderung mengikuti gaya bicara orang kota supaya terlihat lebih modern dan gaul. Untuk radio komunitas sendiri memiliki kendala diantaranya terbatasnya frekuensi dan jangkauan. Menurut Kepmenhub no 15 tahun 2002 dan no 15A tahun 2003 yakni frekuensi FM 107,7 Mhz; 107,8 Mhz; 107,9 Mhz, dengan jangkauan terbata makimal 50 watt dan jangkauan layanan maksimal 2,5 Km. Di sisi lain juga minimnya partisipasi komunitas yang sangat terlihat jelas adalah banyaknya keinginan dari pihak luar untuk mendorong agar komunitanya tertarik untuk memiliki radio komunitas. Lalu apakah radio komunitas dapat bersaing dengan radio – radio lainnya ? Menurut saya bisa, karenan itu bukan menjadi alasan dan kendala untuk memiliki kualitas profesional. Walaupun terbatas dengan frekuensi dan jangkauan kru atau pengelola radio komunitas dapat meningkatkan kualitas penyiarannya, seperti meningkatkan kualitas siaran, program, audio. Radio komunitas juga dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusianya, mengadakan pelatihan siaran radio yang baik dan benar untuk para anggota atau krunya. Dari sisi konten atau materi siaran, radio komunitas harus berbeda dari radio swasta, dalam hal lagu, tidak ada perbedaan, kecuali dari sisi kualitas audio. Semua lagu sama, yang membedakan adalah kualitas audio. Praktisi radio dari Yogyakarta, Masduki, dalam sebuah karya ilmiah mengatakan, banyak lembaga internasional tertarik pada pengembangan radio komunitas, seperti UNESCO, UNDP, FNS, Yayasan TIFA karena secara definitif radio komunitas diyakini berpeluang sebagai medium antisipasi, fasilitasi dan mediasi dialog apalagi dalam situasi konflik ( as a post – conflict or disaster tool ) Radio komunitas juga menjadi instrumen menciptakan pemerintahan yang bersih, memperkuat pemenuhan hak dan kewajiban, akses keadilan dan pertanggung jawaban publik penguasa birokrasi.

Judul: Tugas Broadcasting

Oleh: Komisi Remaja Gki Pamz


Ikuti kami