Makalah Fadil

Oleh Adin Ahmad

139,2 KB 7 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Makalah Fadil

PENDIDIKAN SEBAGAI ILMU Tugas Ilmu Pendidikan Disusun oleh : Fadil Muhammad Hasan (F.1710880) PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA ARAB FAKULTAS ILMU KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS DJUANDA BOGOR 2017 KATA PENGANTAR Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala limpahan Rahmat, dan Hidayahnya sehingga saya dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini dalam bentuk maupun isinya yang sangat sederhana. Harapan saya semoga makalah ini membantu menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca. Makalah ini saya akui masih banyak kekurangan karena pengalaman yang saya miliki sangat kurang. Oleh kerena itu saya harapkan kepada para pembaca untuk memberikan masukan-masukan yang bersifat membangun untuk kesempurnaannya. Dalam penulisan makalah ini saya mengucapkan banyak terima kasih yang sebesar - besarnya, kepada semua pihak yang telah membantu saya dalam penyusunan ini yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu semoga Allah SWT memberikan balasan yang setimpal kepada mereka amin yaa rabbal alamin. Bogor, 08 Oktober 2017 Penulis DAFTAR ISI KATA PENGANTAR DAFTAR ISI BAB I PENDAHULUAN A. Pengertian Ilmu dan Pendidikan BAB II PEMBAHASAN A. Pendidikan Sebagai Ilmu B. Persyaratan Pendidikan Sebagai Ilmu C. Sifat – Sifat Ilmu Pendidikan D. Pengembangan Pendidikan BAB III PENUTUP Kesimpulan Daftar Pustaka BAB I PENDAHULUAN A. Pengertian Ilmu dan Pendidikan Ilmu adalah rangkaian aktivitas manusia yang rasional dan kognitif dengan berbagai metode berupa aneka prosedur dan tata langkah sehingga menghasilkan kumpulan pengetahuan yang sistematis mengenai gejala-gejala kealaman dan kemasyarakatan untuk mencapai kebenaran, memperoleh pemahaman, memberi penjelasan ataupun melakukan penerapan. Pendidikan adalah suatu proses mentransfer ilmu dari pendidik kepada peserta didik. Ilmu pengetahuan erat kaitannya dengan obyek pendidikan. Ilmu yang ditransfer umumnya ilmu pengetahuan yang bersifat memberi pengetahuan peserta didik dengan harapan peserta didik mampu mengetahui segala macam keadaan alam, sosial dan kebudayaan yang ada di dunia. Misalnya pada pendidikan formal atau sekolah, obyek utama dalam proses pendidikan adalah ilmu pengetahuan. Kenapa pendidikan itu disebut ilmu? Karena ilmu merupakan obyek utama dari pendidikan. Tanpa ilmu, segala sesuatu tidak dapat berjalan dengan.misalnya, anak sejak kecil dididik oleh orang tuanya kalau makan supaya menggunakan tangan kanan, itulah yang dinamakan pendidikan dan makan menggunakan tangan kanan itulah yang disebut ilmu karena kalau menggunakan tangan kiri tidak sopan. Contoh lain misalnya orang melamar pekerjaan, sebelum orang tersebut diterima menjadi karyawan tetap ia harus ditraining. Training inilah yang dinamakan pendidikan dan materi-materi yang dilakukan selama training itulah yang disebut ilmu. BAB II PEMBAHASAN A. Pendidikan sebagai Ilmu Pendidikan adalah fenomena yang fundamental atau asasi dalam kehidupan manusia. Dapat dikatakan bahwa, dimana ada kehidupan manusia, disitu ada pendidikan (Driyarkara, 1980:32). Pendidikan sebagai gejala yang universal adalah suatu keharusan bagi manusia, karena disamping pendidikan sebagai gejala universal sekaligus menjadi upaya untuk memanusiakan manusia itu sendiri. Dengan perkembangan kebudayaan manusia, timbullah tuntutan adanya pendidikan yang terselenggara lebih lebih baik, teratur dan atas didasarkan atas pemikiran yang matang. Manusia ingin lebih bertanggung jawab pada cara ia mendidik generasi penerus agar lebih berhasil dalam menjalani hidupnya dalam pergaulan dengan sesame dan hubunganya dengan Tuhan. Satu hal yang menjadi jelas dari apa yang disebut pendidikan adalah upaya sadar untuk mengembangkan potensi yang dimiliki manusia (Soedomo 1990:30), selalu dipegang oleh kalangan pendidikan. Dengan pernyataan lain kalangan pendidikan mencermati pendidikan, disamping sebagai gejala, juga sebagai upaya. Pada gilirannya, pandangan bahwa pendidikan sebagi gejala sekaligus upaya ini melahirkan teori-teori pendidikan (theories of education). George F. Kneller (1971:231), memberi arti tentang teori pendidikan. Kata teori menurutnya mempunyai 2 makna sentral: 1. Menunjuk suatu hipotesis / serangkaian hipotesis yang telah diverifikasi dengan observasi / eksperimen. 2. Pemikiran sistematik / serangkaian pemikiran-pemikiran yang koheren, teori dalam artian ini, pendidikan telah menghasilkan teori yang banyak sekali. Ernest E. Bayles, mengatakan teori pendidikan adalah berkenaan tidak hanya dengan apa yang ada, bahkan banyak juga dengan apa yang harus ada. Sebagai teori yang dikembangkan secara sadar dalam kaitannya dengan pendidikan, maka teori pendidikan mempnuyai keunikan tersendiri bila dibandingkan dengan teori penjelas yang seolah memadang teori pendidikan sebagi gejala/fenomena/fakta. Teori pendidikan dikategorikan sebagai teori praktis (practical theory) karena berkaitan antara kegiatan teori dan kegiatan pendidikan. Pandangan sejumlah ahli mengenai ilmu pendidikan: • M.J. Langeveld (1995), paedagogiek (ilmu mendidik atau ilmu pendidikan) adalah suatu ilmu yang bukan saja menelaah objeknya untuk mengetahui betapa keadaan atau hakiki objek itu, melainkan mempelajari pula betapa hendaknya bertindak. • S. Brodjonagoro (1966: 35), ilmu pendidikan/ paedagogiek adalah teori pendidikan, perenungan tentang pendidikan. Dalam arti luas paedagogiek adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari soal-soal yang timbul dalam praktek pendidikan. • Carter V. Good (1945: 36), ilmu pendidikan adalah suatu bangunan pengetahuan yag sistematis mengenai aspek-aspek kuantitatif dan objek dan proses belajar, menggunakan instrumen secara seksama dalam mengajukan hipotesis-hipotesis pendidikan untuk diuji dan pengalaman, seringkali dalam bentuk eksperimental. • Imam Bernadib (1987: 7), ilmu pendidikan/ paedagogiek adalah ilmu yang membicarakan masalah-masalah umum pendidikan, secara meyeluruh dan abstrak, paedagodiek, selain bercorak teoritis, juga bersifat praktis. Untuk yang teoritis diutamakan hal-hal yang bersifat normative, ialah menunjuk standart nilai tertentu; sedangkan yang praktis menunjukkan bagaimana pendidikan itu harus dilaksanakan. • Driyarkara (1980: 66-67), ilmu pendidikan adalah pemikiran ilmiah tentang realitas yang kita sebut pendidikan. Ilmu pendidikan dalam bentuknya yang lebih sistematik termasuk ilmu yang sangat muda. Ilmu pendidikan lahir dan berkembang jauh lebih belakang dari praktik upaya pendidikan. dapat dikatakan ilmu pendidikan masih membentuk dirinya/ dalam keadaan sedang berkembang. Selain itu, ilmu pendidikan harus berpacu dengan masalah-masalah praktis mendesak yang memang tidak dapat diabaikan. B. Persyaratan Pendidikan sebagai Ilmu Struktur ilmu pendidikan yang masih dalam keadaan berkembang, dalam menghadapi tantangan zaman tidak perlu menjadikan kita ragu akan eksistensinya sebagai ilmu. Seberapa jauh ilmu pendidikan telah memadai ditinjau dari ciri-ciri yang harus dipenuhi oleh suatu ilmu yang utuh? Ilmu adalah suatu pengetahuan yang disusun secara kritis, metodis dan sistematis yang berasal dari observasi, studi dan eksperimentasi untuk menentukan hakikat dan prinsip-prinsip yang dipelajari. Suatu kawasan studi dapat menampilkan diri sebagai suatu disiplin ilmu, bila memenuhi setidaknya 3 syarat: -memiliki objek studi(material dan formal) -memiliki sitematika -memiliki metode Yang menjadi objek material pendidikan adalah perilaku manusia. Perilaku manusia dapat dilihat dari segi pendidikan dan segi-segi yang lain seperti segi psikologis, sosiologis dan antropologis. Seperti yang diketahui, psikologi adalah ilmu yang mempelajari perilaku manusia. Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari perilaku manusia dalam kelompok. Antropologi adalah ilmu yang mempelajari perilaku manusia sebagai makhluk biososial, yaitu makhluk yang berbudaya. Dari segi lain dan peilaku manusia yaitu sebagai insan politik, insan ekonomi, insan hokum/ insane sejarah. Jadi yang membedakan ilmu dan ilmu lain adalah objeknya. Objek formal pendidikan adalah menelaah fenomena pendidikan dan semua fenomena yang ada hubungannya dengan pendidikan dalam prespektif yang luas dan integratif. Semua fenomena yang ada hubungannya dengan pendidikan ini bukan hanya merupakan gejala yang melekat pada manusia, melainkan juga upaya memanusiakan manusia agar menjadi benar-benar manusia (insan). Upaya pendidikan mencakup keseluruhan aktivitas pendidikan dan pemikiran yang sistematik tentang pendidikan. Syarat kedua bagi disiplin ilmu, yaitu memiliki sistematika. Secara teoritik sistematika ilmu pendidikan dapat dibedakan menjadi 3 segi tinjauan, yaitu: -melihat pendidikan sebagi gejala mausiawi -melihat pendidikan sebagai upaya sadar -melihat pendidikan sebagai gejala manusiawi sekaligus sebagai upaya sadar dengan mengantisipasi perkembangan sosio-budaya di masa depan. Sistematika yang pertama, pendidikan sebagai gejala, dapat dianalisis dari proses atau situasi pendidikan, yaitu adanya komponen-komponen pendidikan yang secara saling berinteraksi dalam suatu rangkaian kesuluruhan kebulatan kesatuan dalam mencapai tujuan. Komponenkomponen pendidikan yaitu: -tujuan pendidikan -peserta didik -pendidik -isi pendidikan -metode pendidikan -alat pendidikan dan lingkungan pendidikan Sistematika yang kedua, pendidikan sebagai upaya sadar untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan manusia (peserta didik). Sistematika yang keduaini menurut Noeng Muhadjir (1987: 19-37) bertolak dan fungsi pendidikan, yaitu: -menumbuhkan kreativitas peserta didik (pendidikan kreativitas); -menjaga lestarinya nilai-nilai insan -menyiapkan tenaga kerja produktif Sistematika ketiga melihat pendidikan sebagai gejala manusiawi sekaligus sebagai upaya sadar mengantisipasi konteks perkembangan sosio-budaya di masa depan. Mochtar Buchori (1994: 81-86) ilmu pendidikan memiliki 3 dimensi: dimensi lingkungan pendidikan, dimensi jenis-jenis persoalan pendidikan, dimensi waktu dan ruang. Syarat ketiga bagi disiplin ilmu, yaitu memiliki metode. Dalam arti kata, metode (Yunani:methodos) adalah cara/ jalan. Sehubungan upaya ilmiah, maka dapat memahami dan mengembangkan ilmu yang bersangkutan. Metode-metode yang digunakan untuk ilmu pendidikan: 1) Metode Normatif berkenaan dengan konsep manusia yang diidealkan yang ingin dicapai oleh pendidikan. 2) Metode Eksplanatori bersangkut paut dengan pertanyaan tentang kondisi dan kekuatan apa yang membuat suatu proses pendidikan berhasil. 3) Metode Teknologis mempunyai fungsi untuk mengungkapkan bagaimana melakukannya dalam menuju keberhasilan pencapaian tujuan-tujuan yang diinginkan. 4) Metode Deskriptif-Fenomenologis, metode ini mencoba menguraikan kenyataankenyataan pendidikan dan kemudian mengklasifikasikan sehingga ditemukan yang hakiki. 5) Metode Hermeneutis, metode ini untuk memahami kenyataan pendidikan yang konkrit dan historis untuk menjelaskan makna dan struktur dari kegiatan pendidikan. 6) Metode Analisis Kritis (Filosofis), menganalisis secara kritis tentang istilah, pernyataan, konsep dan teori yang ada atau digunakan dalam pendidikan. C. Sifat-sifat Ilmu Pendidikan Pendidikan sebagai ilmu (ilmu pendidikan) bersifat empiris, rohaniah, historis, teoritis dan praktis (Soetjipto Wirowidjojo, 1986: 8-9; 30-31, Sutani Imam Bernadib, 1984: 15-19). Ilmu pendidikan bersifat empiris, karena obejknya dijumpai dalam dunia pengalaman. Ilmu pendidikan bersifat rokhaniah, karena situasi pendidikan berdasar atas tujuan menusia tidak membiarkan pada keadaan alamnya, namun memandangnya sebagai makhluk susila dan ingin membawanya kearah manusia susila berbudaya. Ilmu pendididikan bersifat normative, karena berdasar atas pemilihan antara yag baik dan yang tidak baik untuk eserta didik pada khususnya dan manusia pada umumnya. Sesuatu yang normative baik itu mempunyai 3 ragam, yaitu: a. Berupa nilai hidup yang memang dapat diterima sebagai nilai hidup yang baik. b. Berupa perkembangan atau pertumbuhan peserta didik yang bila diuji denga hakikat perkembangan atau pertumbuhan memang baik. c. Berupa suatu alat untuk mencapai tujuan. Ilmu pendidikan bersifat historis, karena memberikan uraian teoritis tentang system-sistem pendidikan sepanjang jaman dengan mengingat latar belakang kebudayaan dan filsafat yang berpengaruh pada jaman-jaman tertentu. Ilmu pendidikan bersifat teoritis, karena memberikn pemikiran yang tersusun secara teratur dan logis (sistematis) tentang masalah dan ketentuan pendidikan. ilmu pendidikan bersifat praktis, karena memberikan pemikiran tentang masalah dan ketentuan pendidikan yang langsung ditujukan kepada perbuatan mendidik. Ilmu ini menempatkan diri didalam fenomena/ situasi pendidikan dan mengarahkan diri pada perwujudan dari ide-ide yang dibentuk dan kesimpulan-kesimpulan yang diambil. D. Pengembangan Pendidikan Secara hierarkhis ilmu pendidikan memiliki dasar yang sekaligus juga sebagai sumbernya , yakni filsafat pendidikan. Brubacher (1962: 18) filsafat pendidikan dan ilmu pendidikan dipandang sebagai “complementary disciplines”. Namun dalam pengembangan ilmu pendidikan disamping berdasar dan bersumber dari filsafat pendidikan, juga dapat diperkaya dengan mengkaji fondasi pendidikan. Fondasi-fondasi pendidikan adalah studi tentang fakta-fakta dan prinsip-prinsip dasar yang melandasi pencarian kebijakan dan praktik pendidikan yang berharga dan efektif. Prinsip-prinsip inia adalah dasar untuk dibangunnya rumah pendidikan. Jika dasar itu adalah subtansial, sandarac dan struktur itu kemungkinan akan kuat, dan sebaliknya (Standart W. Reitman, 1977: 10). Menurut Van Cleve Morris, fondasi-fondasi pendidikan dapat dikelompokkan menjadi 2 bentuk umum: (1) fondasi-fondasi historis dan filosofis tentang pendidikan dan (2) fondasifondasi sosiologis dan psikologis tentang pendidikan (Morris, 1963: 10). Studi-studi pada fondasi-fondasi sosiologis dan psikologis tentang pemdidikan meneliti proses edukatif sebagai suatu usaha taktik dalam membentuk tingkah laku individu dan kelompok. Dalam semua bidang fondasi itu ada suatu hubungan implicit antara suatu ide dan penerapannya yang dapat terjadi dalam suatu situasi kehidupan yang nyata. Kita mempelajari untuk membawanya lebih berarti bagi kehidupan. Suatu pemahan tentang fondasi-fondasi pendidikan akan membantu seorang pendidik (guru) prospektif untuk berfikir secara lebih jernih tentang mana yang esensial tentang pekerjaan yang ia akan terlibat sebagai seorang guru. Dalam perkembangan sekarang ini fondasifondasi pendidikan selain melipti 4 fondasi diatas , Reitman menambahkan pendidikan komparatif, dan yang sekarang yang sedang dikembangkan meliputi: antropologi pendidikan, politik pendidikan, ekonomi pendidikan dan estetika pendidikan (Reitman, 1977: 12). Sejalan dengan pendapat diatas, Frank H. Blackington & Robert S. Patterson (1868) mengusulkan diagram struktur fondasi-fondasi pendidikan interaksi dan komponenkomponennya sebagai berikut (Beckner & Dumas, 1970: 4) BAB III PENUTUP A. KESIMPULAN Pendidikan merupakan suatu proses mentransfer ilmu yang pada umumnya dilakukan melalui tiga cara yaitu lisan, tulisan dan perbuatan. Pada dasarnya, pendidikan erat hubunganya dengan ilmu karena obyek utama dari pendidikan adalah ilmu. Pendidikan yang berlangsung beberapa puluh tahun menunjukkan perkembangannya sebagai ilmu yang semakin mantap, baik dalam artian isi maupun metode. Maka, perkembangan isi cabang ilmu pendidikan ini selain mengenai perbangdingan sistem pendidikan, tetapi juga meliputi kaitan atau peranan pendidikan terhadap perkembangan aspek- aspek kehidupan lai yang meliputi ekonomi, sosial dan politik. Ilmu pendidikan di Indonesia saat ini, praktis hanya memperhatikan dan menganalisis persoalan- persoalan pendidikan formal di sekolah. Perhatian ilmu pendidikan terhadap masalah- masalah non-formal relatif kecil. Pertumbuhan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh pengalaman- pengalaman pendidikan formal, tetapi juga dipengaruhi oleh pendidikan non-formal dan informal. Ilmu pengetahuan menurut sistematikanya dibagi menjadi 2 yaitu: 1) Ilmu-ilmu murni adalah ilmu yang mendahului pengalaman atau bebas dari pengalaman. Contohnya matematika. 2) Ilmu terapan adalah ilmu yang dikaji berdasarkan pengalaman (empiris), penelitian, pengkajian dan penyimpulan yang disusun secara teoritis dan dilaksanakan secara praktis. ilmu pendidikan adalah ilmu yang berdasarkan pengalaman(empiris), pendidikan, rohani, normatif, memiliki obyek yang jelas, dapat diuji kebenarannya dan disusun secara teoritis dan dilaksanakan secara praktis. DAFTAR PUSTAKA Siswoyo Dwi, dkk. 2013. Ilmu Pendidikan. Yogyakarta: UNY Press. Yahya. “makalah ilmu pendidikan” 27 September 2015. http://hamkamodern.blogspot.co.id/2009/11/makalah-ilmu-pendidikan-pendidikan.html

Judul: Makalah Fadil

Oleh: Adin Ahmad


Ikuti kami