Jawaban Modul 1 Kb 2

Oleh Muhammad Ardhi Maulana

13 tayangan
Bagikan artikel

Transkrip Jawaban Modul 1 Kb 2

Nama : Muh. Ardhi Maulana
No

: 18036502710019

Kelas : A PPG SD Tahap 2

JAWABAN MODUL 1 KB 2
A. Mari membaca materi utama dan diskusi!
1. Bacalah materi utama pada Kegiatan Belajar 2 dan tuliskan hal-hal yang sulit dipahami pada
tabel di bawah!
2. Diskusikanlah hal-hal yang sulit dipahami tersebut bersama rekan guru di sekolah dan
tulislah hasilnya pada tabel di bawah ini!

Materi yang Sulit Dipahami

Hasil Diskusi

Proses trial and error

Usaha suatu individu untuk dapat menyeleksi cara yang
dapat digunakan untuk mencari jalan keluar dari suatu
permasalahan, dan menghubungkan kejadian-kejadian yang
telah terjadi sebagai suatu patokan untuk dapat menemukan
jalan keluar yang benar.

Metode scaffolding

Pembelajaran terjadi apabila anak bekerja atau belajar
menangani tugas-tugas yang belum dipelajari namun tugastugas itu masih berada dalam jangkauan kemampuannya

Skemata

Fungsi di dalam otak yang bertujuan untuk mengatur,
menafsirkan, dan menarik kembali informasi

Zone of Proximal Development

Perbedaan atau selisih antara kemampuan potensial dengan
kemampuan aktualnya

3. Tulislah materi-materi yang penting untuk dipelajari pada materi utama!
Materi-Materi Penting
Teori Belajar Aliran
Behaviorisme

Deskripsi Materi
Behaviorisme secara etimologis terdiri dari dua kata yaitu
behave yang berarti berperilaku dan isme yang berarti
aliran.
Behaviorisme merupakan salah satu aliran yang
mendeskripsikan bahwa belajar merupakan aktivitas yang
dapat mengubah perilaku individu, dan perilaku tersebut

Materi-Materi Penting

Deskripsi Materi
dapat dipelajari dan dijelaskan secara ilmiah sebagai respon
terhadap stimulus yang diberikan.
Aliran ini memfokuskan pada munculnya berbagai respon
individu sebagai akibat berbagai stimulus yang diberikan.

Hukum kesiapan (law of a. Hukum kesiapan
readiness), hukum latihan (law
of exercise) dan hukum akibat Hukum kesiapan ini menerangkan tentang bagaimana
kesiapan siswa untuk beraktivitas dalam belajar. Menurut
(law of effect)
hukum ini, seorang siswa akan lebih berhasil belajarnya jika
menurut Edward L. Thorndike siswa tersebut telah siap secara fisik dan psikis untuk
melakukan aktivitas apapun dalam belajar.
Kegiatan pendahuluan guru wajib mengondisikan siswa
secara fisik dan psikis untuk mengikuti pembelajaran di
kelas, menyampaikan cakupan materi yang hendak
disampaikan, menyampaikan tujuan pembelajaran, dan
memberikan apersepsi. Kegiatan tersebut dilaksanakan
dalam rangka menyiapkan siswa untuk belajar.
b. Hukum latihan
Hukum latihan ini menerangkan bahwa siswa akan berhasil
belajarnya apabila hubungan antara stimulus yang
diberikan dengan respon siswa terjadi dan diperkuat
dengan kegiatan latihan dan pengulangan. Jika pengulangan
sering dilakukan maka akan memberikan dampak positif
terhadap keberhasilan siswa dalam belajar. Semakin sering
pengulangan dilakukan, akan semakin kuat konsep tertanam
dalam ingatan siswa.
Kegiatan inti guru wajib memfasilitasi aktivitas siswa dalam
melakukan eksplorasi, elaborasi dan konfirmasi. Khususnya
pada fase elaborasi, guru harus memfasilitasi siswa dalam
berlatih untuk mengembangkan materi ajar yang telah
digalinya pada fase eksplorasi dan menguatkan
pengetahuan yang telah didapatkannya sebagai hasil dari
belajar melalui fase konfirmasi.
Penguatan
tersebut
dapat
berupa
pengulangan,
pengembangan dan penyempurnaan hasil kerja dengan
berbagai teknik penguatan.

Materi-Materi Penting

Deskripsi Materi
c. Hukum akibat
Hukum akibat menerangkan bahwa seseorang dalam
melakukan suatu tindakan akan menimbulkan pengaruh
terhadap dirinya. Jika seorang siswa melakukan suatu
tindakan yang dianggap benar, kemudian mendapatkan
ganjaran berupa pujian dari gurunya, tentunya hal ini akan
memberikan kepuasan bagi siswa tersebut, dan siswa
tersebut cenderung untuk berusaha melakukan tindakan
yang lebih baik lagi.
Dalam pembelajaran di sekolah, pada saat siswa dapat
mengerjakan tugas dengan baik, menjawab soal dengan
benar atau berperilaku positif, guru selalu memberikan
penghargaan kepada siswa dengan berbagai cara seperti
kata-kata pujian cerdas, juara, bagus, pandai, hebat dan lainlain.

Prinsip Teori Belajar Burhus a. Prinsip penguatan
Frederic Skinner
Penguatan merupakan suatu proses yang dapat
memperbesar kesempatan supaya perilaku positif tersebut
terjadi lagi dan memperkuat perilaku positif tersebut.
Penguatan terdiri dari penguatan positif yang dapat
memperkuat perilaku positif melalui stimulus yang
menyenangkan contoh dengan memberikan pujian atau
penghargaan ketika siswa dapat mengerjakan tugasnya
dengan baik dan penguatan negatif yang dapat memperkuat
perilaku positif dengan cara menghilangkan stimulus yang
tidak menyenangkan .
.
b. Prinsip hukuman
Berbeda dengan penguatan yang dapat memperkuat
perilaku positif, hukuman merupakan suatu proses yang
dapat memperbesar kesempatan supaya perilaku negatif
tersebut tidak terjadi lagi dan memperlemah perilaku
negatif. Terdapat dua jenis hukuman yaitu hukuman positif
dan negatif. Hukuman positif dapat mengurangi perilaku
negatif dengan memberikan stimulus yang tidak
menyenangkan jika perilaku negatif itu terjadi.

Materi-Materi Penting

Deskripsi Materi
c. Prinsip pembentukan
Pembentukan merupakan suatu proses untuk mengajar
perilaku individu yang belum pernah mereka lakukan
sebelumnya.
d. Prinsip penghapusan
Penghapusan merupakan suatu proses menarik kembali
penguat dari perilaku individu. Contoh penerapan prinsip
penghapusan dalam pembelajaran di sekolah adalah pada
saat guru memberikan scaffolding terhadap siswa pada saat
siswa menulis tegak bersambung. Pertama guru
memberikan bimbingan yang maksimal, kemudian
bimbingan tersebut berangsur-angsur dikurangi bahkan
dihilangkan agar siswa dapat melakukannya sendiri.
e. Prinsip diskriminasi
Diskriminasi merupakan proses belajar bahwa suatu
perilaku akan diperkuat dalam suatu situasi dan tidak
berlaku dalam situasi lainnya. Contoh penerapan
prinsip diskriminasi dalam pembelajaran di sekolah dasar
adalah ketika guru mengajar di pagi hari dengan gaya
kharismatik atau tegas, kemudian pada siang hari ketika
siswa mulai lelah maka guru mengajar dengan penuh humor
dan permainan.
f. Prinsip generalisasi
Generalisasi merupakan proses bahwa suatu perilaku akan
diperkuat dalam suatu situasi dan berlaku juga dalam situasi
lainnya. Contoh penerapan prinsip generalisasi dalam
pembelajaran di sekolah dasar adalah ketika suatu hari guru
mengajar dengan menerapkan metode permainan dan pada
saat refleksi pembelajaran siswa memberikan testimoni
positif, maka pembelajaran pada hari berikutnya guru akan
menerapkan metode permainan kembali dengan harapan
siswa akan termotivasi untuk belajar.

Teori belajar Jeans Piaget a. Fase eksplorasi
menghasilkan
tiga
fase
pembelajaran
yaitu
fase Fase eksplorasi merupakan fase pembelajaran dimana siswa
eksplorasi, pengenalan konsep aktif menggali pengetahuan dengan cara mengamati
struktur materi pembelajaran berupa pengetahuan faktual

Materi-Materi Penting
dan aplikasi konsep.

Deskripsi Materi
(fakta) yang terdiri dari peristiwa, fenomena, simbol, dan
fakta lainnya.
b. Fase pengenalan konsep
Fase pengenalan konsep merupakan fase dimana siswa aktif
melakukan konseptualisasi dari fakta yang diamatinya
sehingga pada fase ini akan terbentuk struktur materi ajar
berupa pengetahuan konseptual yang terdiri dari konsep
dan prinsip.
c. Fase aplikasi konsep
Fase aplikasi konsep merupakan fase dimana siswa
mengaplikasikan atau menggunakan konsep yang telah
dipelajarinya untuk mengeksplorasi gejala lain yang ada
kaitannya dengan konsep yang telah dipelajari tersebut.

Teori Belajar Jerome Bruner

Teori
Belajar
Humanisme

a. Tahap enaktif
Tahap enaktif melibatkan tindakan siswa dalam
memanipulasi objek konkret, mengamati suatu fakta berupa
gejala alam, fenomena, peristiwa dan fakta lainnya secara
langsung. Pada tahap ini siswa berinteraksi dengan objek
konkret untuk menggali berbagai informasi tentang objek
tersebut.
b. Tahap ikonik
Tahap ikonik melibatkan aktivitas siswa dalam mengamati
gambar dari objek yang diamatinya baik gambar yang semi
konkret maupun gambar yang semi abstrak. Tahap ini
merupakan tahap yang menjembatani antara objek konkret
pada tahap enaktif dan objek abtrak pada tahap simbolik.
c. Tahap simbolik
Tahap simbolik melibatkan aktivitas siswa dalam mengenal
atau membuat notasi, simbol, atau lambang-lambang tanpa
terikat dengan objek konkret, semi konkret atau semi
abtrak. Objek tersebut telah diwakili oleh notasi, simbol atau
lambang-lambang yang bersifat abstrak. Pada tahap ini
dilakukan proses konseptualisasi yang menghasilkan
konsep-konsep yang bersifat abstrak.

Aliran Implementasi teori belajar ini dalam dunia pendidikan
adalah bahwa guru sebaiknya memberikan kesempatan
kepada siswa untuk mengerjakan tugastugas belajar secara

Materi-Materi Penting
Teori Belajar Carl Rogers
Teori
Belajar
Konstruktivisme

Deskripsi Materi
bebas, tanpa dipaksa, dan penuh tanggung
Selanjutnya, teori ini dinamakan teori belajar bebas.

jawab.

Aliran 1. Tahap eksplorasi pengetahuan awal siswa
Pada tahap ini siswa didorong untuk mengungkapkan
pengetahuan awal tentang konsep yang akan dipelajari. Bila
perlu guru memancing dengan memberikan pertanyaanpertanyaan problematis tentang fenomena yang sering
ditemui sehari-hari dengan mengaitkan konsep yang akan
dibahas.
Siswa
diberi
kesempatan
untuk
mengkomunikasikan, mengilustrasikan pemahaman tentang
konsep tersebut.
2. Tahap pemberian pengalaman langsung
Pada tahap ini siswa diajak untuk menemukan konsep
melalui
penyelidikan,
pengumpulan
data,
dan
penginterpretasian data melalui suatu kegiatan yang telah
dirancang oleh guru. Pemberian pengalaman langsung dapat
berupa pengamatan, melakukan percobaan, demonstrasi,
mencari informasi melalui buku atau surfing di internet
secara berkelompok. Pada tahap ini dirancang agar rasa
ingin tahu siswa tentang fenomena alam di sekelilingnya
dapat terpenuhi secara keseluruhan. Pada tahap ini guru
memberi kebebasan pada siswa untuk mengeksplorasi rasa
keingintahuannya melalui pengalaman dan kegiatan belajar
siswa.
3. Tahap pengaktifan interaksi sosial
Pada tahap ini siswa diberi kesempatan untuk berinteraksi
sosial dengan guru maupun temannya secara berkelompok
untuk melakukan tanya jawab maupun diskusi hasil
observasi atau temuannya dalam kegiatan pembelajaran
atau pengalamannya.
4. Tahap pencapaian kepahaman
Pada tahap ini guru memberikan penguatan bukan memberi
informasi. Dengan demikian siswa sendiri yang membangun
pemahaman baru tentang konsep yang sedang dipelajari.
Bila konsepsinya/ pengetahuan awalnya benar, maka siswa
menjadi tidak ragu-ragu lagi tentang konsepsinya. Bila
pengetahuan awalnya salah, maka eksplorasi akan
merupakan jembatan antara konsepsi siswa dengan konsep
baru. Dengan demikian diharapkan
konsep yang dipelajarinya akan menjadi bermakna.

Materi-Materi Penting
Teori Belajar Sosial
Albert Bandura

Deskripsi Materi
1. Tahap memperhatikan (attention)
Pada tahap ini siswa harus menaruh perhatian pada detaildetail yang penting dari perilaku model. Guru harus dapat
mengarahkan pengamatan siswa pada hal-hal penting yang
menjadi fokus pengamatan. Guru dapat memberikan
pertanyaan-pertanyaan pengarah untuk memeriksa fokus
pengamatan siswa.
2. Tahap mengingat (retention)
Pada tahap ini siswa harus dapat mengingat atau
menyimpan semua informasi dalam memorinya. Guru harus
memfasilitasi
supaya
model
dapat
memberikan
pengulangan-pengulangan perilaku supaya perilaku
tersebut mudah diingat oleh siswa.
3. Tahap memotivasi (motivation)
Pada tahap ini siswa harus memiliki motivasi untuk
menirukan model. Guru dapat mengiming-imingi hadiah
atau memberikan penguatan agar siswa termotivasi untuk
menirukan model.
4. Tahap mereproduksi (reproduction)
Pada tahap ini siswa harus memiliki keterampilan dan
koordinasi fisik yang dibutuhkan. Guru dapat melatih siswa
secara berulang-ulang supaya mereka dapat melakukan
perilaku sesuai dengan model yang diamatinya

B. Mari membaca materi penunjang dan diskusi!

1. Bacalah materi penunjang pada Kegiatan Belajar 2 berbentuk ppt1. dan tuliskan hal-hal
yang sulit dipahami dan tidak dibahas pada materi utama ke dalam tabel di bawah!
2. Diskusikanlah hal-hal yang sulit dipahami tersebut bersama rekan guru di sekolah dan
tulislah hasilnya pada tabel di bawah ini!
Materi yang Sulit Dipahami
teori sosio-kultural

Hasil Diskusi
Belajar ditentukan karena adanya karsa individu artinya
pengetahuan berasal dari individu. Siswa berinteraksi
dengan lingkungan sosial yaitu teman sebayanya dibanding
orang-orang yang lebih dewasa.

3. Tulislah materi-materi yang penting untuk dipelajari pada materi penunjang, tetapi tidak
dibahas pada materi utama!
Materi-Materi Penting
teori sosio-kultural

Deskripsi Materi
Belajar ditentukan karena adanya karsa individu artinya
pengetahuan berasal dari individu. Siswa berinteraksi
dengan lingkungan sosial yaitu teman sebayanya dibanding
orang-orang yang lebih dewasa.

C. Mari membaca literatur lainnya dan diskusi!
1. Bacalah berbagai literatur lainnya tentang teori-teori belajar yang relevan untuk
pembelajaran di SD dan implementasinya dan tuliskan hal-hal yang sulit dipahami dan tidak
dibahas pada materi utama dan penunjang ke dalam tabel di bawah!!
2. Diskusikanlah hal-hal yang sulit dipahami tersebut bersama rekan guru di sekolah dan
tulislah hasilnya pada tabel di bawah ini!
Materi yang Sulit Dipahami

Hasil Diskusi

Piaget membagi empat tahap
tingkat perkembangan kognitif
individu menurut umur rata-rata
yaitu:

1.Tahap sensorimotor (umur 0 - 2 tahun) :

Tahap Sensori Motor (0-2 tahun)

b. Mencari rangsangan melalui sinar lampu dan suara.

Tahap Pre
tahun)

Operasional

a. Melihat dirinya sendiri sebagai makhluk yang berbeda
dengan objek di sekitarnya.

(2-7 c.Suka memperhatikan sesuatu lebih lama.
d. Mendefinisikan sesuatu dengan memanipulasinya.

Tahap Operasi Konkret (7-11 e. Memperhatikan objek sebagai hal yang tetap, lalu ingin
tahun)
merubah tempatnya.
Tahap Operasi Formal (11 tahun
ke atas)

2.Tahap preoperasional (umur 2 - 7/8 tahun) :
a. ada penggunaan symbol atau bahasa tanda, dan mulai
berkembangnya konsep-konsep intuitif. Tahap ini dibagi
menjadi dua, yaitu preoperasional dan intuitif.
Anak telah mampu menggunakan bahasa dalam
mengembangkan konsep nya, walaupun masih sangat
sederhana. Maka sering terjadi kesalahan dalam memahami
objek. Karakteristik tahap ini adalah:
a. Self counter nya sangat menonjol.
b. Dapat mengklasifikasikan objek pada tingkat dasar secara
tunggal dan mencolok.
c. Mampu mengumpulkan barang-barang menurut kriteria,
termasuk kriteria yang benar.
d. Dapat menyusun benda-benda secara berderet, tetapi
tidak dapat menjelaskan perbedaan antara deretan.
Tahap intuitif (umur 4 - 7 atau 8 tahun), anak telah dapat
memperoleh pengetahuan berdasarkan pada kesan yang

Materi yang Sulit Dipahami

Hasil Diskusi
agak abstraks. Dalam menarik kesimpulan sering tidak
diungkapkan dengan kata-kata. Oleh sebab itu, pada usia ini,
anak telah dapat mengungkapkan isi hatinya secara
simbolik terutama bagi mereka yang memiliki pengalaman
yang luas. Karakteristik tahap ini adalah :
a.Anak dapat membentuk kelas-kelas atau kategori objek,
tetapi kurang disadarinya.
b.Anak mulai mengetahui hubungan secara logis terhadap
hal-hal yang lebih kompleks.
c.Anak dapat melakukan sesuatu terhadap sejumlah ide.
d.Anak mampu memperoleh prinsip-prinsip secara benar.
Dia mengerti terhadap sejumlah objek yang teratur dan cara
mengelompokkannya. Anak kekekalan masa pada usia 5
tahun, kekekalan berat pada usia 6 tahun, dan kekekalan
volume pada usia 7 tahun. Anak memahami bahwa jumlah
objek adalah tetap sama meskipun objek itu dikelompokkan
dengan cara yang berbeda.
3.Tahap operasional konkret (umur 7 atau 8-11 atau 12
tahun)
Ciri pokok perkembangan pada tahap ini adalah anak sudah
mulai menggunakan aturan-aturan yang jelas dan logis, dan
ditandai adanya reversible dan kekekalan. Anak telah
memiliki kecakapan berpikir logis, akan tetapi hanya dengan
benda-benda yang bersifat konkret. Operation adalah suatu
tipe tindakan untuk memanipulasi objek atau gambaran
yang ada di dalam dirinya. Karenanya kegiatan ini
memerlukan proses transformasi informasi ke dalam
dirinya sehingga tindakannya lebih efektif. Anak sudah tidak
perlu coba-coba dan membuat kesalahan, karena anak
sudah dapat berpikir dengan menggunakan model
"kemungkinan" dalam melakukan kegiatan tertentu. Ia
dapat menggunakan hasil yang telah dicapai sebelumnya.
Anak mampu menangani sistem klasifikasi.
Namun sungguhpun anak telah dapat melakukan
pengklasifikasian, pengelompokan dan pengaturan masalah
(ordering problems) ia tidak sepenuhnya menyadari adanya
prinsip-prinsip yang terkandung di dalamnya. Namun taraf

Materi yang Sulit Dipahami

Hasil Diskusi
berpikirnya sudah dapat dikatakan maju. Anak sudah tidak
memusatkan diri pada karakteristik perseptual pasif. Untuk
menghindari keterbatasan berpikir anak perlu diberi
gambaran konkret, sehingga ia mampu menelaah persoalan.
Sungguhpun demikian anak usia 7-12 tahun masih memiliki
masalah mengenai berpikir abstrak.
4.Tahap operasional formal (umur 11/12-18 tahun) :
Ciri pokok perkembangan pada tahap ini adalah anak sudah
mampu berpikir abstrak dan logis dengan menggunakan
pola berpikir "kemungkinan". Model berpikir ilmiah dengan
tipe hipothetico-dedutive dan inductive sudah mulai dimiliki
anak,
dengan
kemampuan
menarik
kesimpulan,
menafsirkan dan mengembangkan hipotesa. Pada tahap ini
kondisi berpikir anak sudah dapat :
a. Bekerja secara efektif dan sistematis.
b. Menganalisis secara kombinasi. Dengan demikian telah
diberikan dua kemungkinan penyebabnya, C1 dan C2
menghasilkan R, anak dapat merumuskan beberapa
kemungkinan.
c.Berpikir secara proporsional, yakni menentukan macammacam proporsional tentang C1, C2 dan R misalnya.
d.Menarik generalisasi secara mendasar pada satu macam
isi. Pada tahap ini mula-mula Piaget percaya bahwa sebagian
remaja mencapai formal operations paling lambat pada usia
15 tahun. Tetapi berdasarkan penelitian maupun studi
selanjutnya menemukan bahwa banyak siswa bahkan
mahasiswa walaupun usianya telah melampaui, belum dapat
melakukan formal operation.

3. Tulislah materi-materi yang penting untuk dipelajari yang terdapat pada literatur yang
telah dibaca, tetapi tidak dibahas pada materi utama dan penunjang!
Materi-Materi Penting

Deskripsi Materi

Piaget membagi empat tahap 1.Tahap sensorimotor (umur 0 - 2 tahun) :
tingkat perkembangan kognitif
individu menurut umur rata- a. Melihat dirinya sendiri sebagai makhluk yang berbeda
dengan objek di sekitarnya.
rata yaitu:
Tahap Sensori
tahun)

Motor

(0-2 b. Mencari rangsangan melalui sinar lampu dan suara.
c.Suka memperhatikan sesuatu lebih lama.

Tahap Pre Operasional (2-7 d. Mendefinisikan sesuatu dengan memanipulasinya.
tahun)
e. Memperhatikan objek sebagai hal yang tetap, lalu ingin
Tahap Operasi Konkret (7-11 merubah tempatnya.
tahun)
2.Tahap preoperasional (umur 2 - 7/8 tahun) :
Tahap Operasi Formal (11
tahun ke atas)
a. ada penggunaan symbol atau bahasa tanda, dan mulai
berkembangnya konsep-konsep intuitif. Tahap ini dibagi
menjadi dua, yaitu preoperasional dan intuitif.
Anak telah mampu menggunakan bahasa dalam
mengembangkan konsep nya, walaupun masih sangat
sederhana. Maka sering terjadi kesalahan dalam memahami
objek. Karakteristik tahap ini adalah:
a. Self counter nya sangat menonjol.
b. Dapat mengklasifikasikan objek pada tingkat dasar secara
tunggal dan mencolok.
c. Mampu mengumpulkan barang-barang menurut kriteria,
termasuk kriteria yang benar.
d. Dapat menyusun benda-benda secara berderet, tetapi
tidak dapat menjelaskan perbedaan antara deretan.
Tahap intuitif (umur 4 - 7 atau 8 tahun), anak telah dapat
memperoleh pengetahuan berdasarkan pada kesan yang
agak abstraks. Dalam menarik kesimpulan sering tidak
diungkapkan dengan kata-kata. Oleh sebab itu, pada usia ini,
anak telah dapat mengungkapkan isi hatinya secara
simbolik terutama bagi mereka yang memiliki pengalaman

Materi-Materi Penting

Deskripsi Materi
yang luas. Karakteristik tahap ini adalah :
a.Anak dapat membentuk kelas-kelas atau kategori objek,
tetapi kurang disadarinya.
b.Anak mulai mengetahui hubungan secara logis terhadap
hal-hal yang lebih kompleks.
c.Anak dapat melakukan sesuatu terhadap sejumlah ide.
d.Anak mampu memperoleh prinsip-prinsip secara benar.
Dia mengerti terhadap sejumlah objek yang teratur dan cara
mengelompokkannya. Anak kekekalan masa pada usia 5
tahun, kekekalan berat pada usia 6 tahun, dan kekekalan
volume pada usia 7 tahun. Anak memahami bahwa jumlah
objek adalah tetap sama meskipun objek itu dikelompokkan
dengan cara yang berbeda.
3.Tahap operasional konkret (umur 7 atau 8-11 atau 12
tahun)
Ciri pokok perkembangan pada tahap ini adalah anak sudah
mulai menggunakan aturan-aturan yang jelas dan logis, dan
ditandai adanya reversible dan kekekalan. Anak telah
memiliki kecakapan berpikir logis, akan tetapi hanya dengan
benda-benda yang bersifat konkret. Operation adalah suatu
tipe tindakan untuk memanipulasi objek atau gambaran
yang ada di dalam dirinya. Karenanya kegiatan ini
memerlukan proses transformasi informasi ke dalam
dirinya sehingga tindakannya lebih efektif. Anak sudah tidak
perlu coba-coba dan membuat kesalahan, karena anak
sudah dapat berpikir dengan menggunakan model
"kemungkinan" dalam melakukan kegiatan tertentu. Ia
dapat menggunakan hasil yang telah dicapai sebelumnya.
Anak mampu menangani sistem klasifikasi.
Namun sungguhpun anak telah dapat melakukan
pengklasifikasian, pengelompokan dan pengaturan masalah
(ordering problems) ia tidak sepenuhnya menyadari adanya
prinsip-prinsip yang terkandung di dalamnya. Namun taraf
berpikirnya sudah dapat dikatakan maju. Anak sudah tidak
memusatkan diri pada karakteristik perseptual pasif. Untuk
menghindari keterbatasan berpikir anak perlu diberi
gambaran konkret, sehingga ia mampu menelaah persoalan.

Materi-Materi Penting

Deskripsi Materi
Sungguhpun demikian anak usia 7-12 tahun masih memiliki
masalah mengenai berpikir abstrak.
4.Tahap operasional formal (umur 11/12-18 tahun) :
Ciri pokok perkembangan pada tahap ini adalah anak sudah
mampu berpikir abstrak dan logis dengan menggunakan
pola berpikir "kemungkinan". Model berpikir ilmiah dengan
tipe hipothetico-dedutive dan inductive sudah mulai dimiliki
anak,
dengan
kemampuan
menarik
kesimpulan,
menafsirkan dan mengembangkan hipotesa. Pada tahap ini
kondisi berpikir anak sudah dapat :
a. Bekerja secara efektif dan sistematis.
b. Menganalisis secara kombinasi. Dengan demikian telah
diberikan dua kemungkinan penyebabnya, C1 dan C2
menghasilkan R, anak dapat merumuskan beberapa
kemungkinan.
c.Berpikir secara proporsional, yakni menentukan macammacam proporsional tentang C1, C2 dan R misalnya.
d.Menarik generalisasi secara mendasar pada satu macam
isi. Pada tahap ini mula-mula Piaget percaya bahwa sebagian
remaja mencapai formal operations paling lambat pada usia
15 tahun. Tetapi berdasarkan penelitian maupun studi
selanjutnya menemukan bahwa banyak siswa bahkan
mahasiswa walaupun usianya telah melampaui, belum dapat
melakukan formal operation.

D. Mari mengamati video pembelajaran!
Amati video pembelajaran video 1. lalu tulislah hasil pengamatan Anda pada tabel di bawah ini!
Teori Belajar yang Relevan
Teori Belajar Behavioristik

Aktivitas Guru dan Siswa


Edward L. Thorndike




Teori Belajar Behavioristik
Frederic Skinner

Teori Belajar Kognitivisme
Lev Vygotsky

Guru menyiapkan peserta didik pada waktu
mengawali kegiatan pelajaran, agar siswa secara fisik
dan psikis untuk melakukan aktivitas apapun dalam
belajar. Guru juga mengajukan pertanyaan tentang
materi yang akan dipelajari (hukum kesiapan).
Guru juga menerangkan bahwa siswa akan berhasil
belajarnya apabila hubungan antara stimulus yang
diberikan dengan respon siswa dengan kegiatan
latihan (hukum latihan)
Guru mengajak siswa bekerja sama dalam kegiatan
tarik tambang



Guru mengajak siswa mengikuti kegiatan tarik
tambang untuk melatih sikap sportif, kerja sama dan
diskusi menyusun strategi (operant conditioning/
pengondisian yang disadari).
 Guru memberi penguatan positif terhadap kegiatan
kerja sama siswa.
Guru menerapkan aktivitas pembelajaran kooperatif,
diantaranya:







Menyampaikan
tujuan
dan
perlengkapan
pembelajaran
Menyampaikan informasi
Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompokkelompok belajar
Membantu siswa belajar dan bekerja dalam kelompok
Memberikan evaluasi dan umpan balik
Memberikan penghargaan atas kerja kelompok

E. Mari membuat laporan!
Buatlah laporan hasil bacaan, hasil diskusi, dan hasil pengamatan video dengan struktur pokok
sebagai berikut:
1. Hasil bacaan tentang teori-teori belajar yang relevan untuk pembelajaran di SD dan
implementasinya
2. Hasil diskusi tentang teori-teori belajar yang relevan untuk pembelajaran di SD dan
implementasinya!
3. Hasil pengamatan video tentang teori-teori belajar yang relevan untuk pembelajaran di SD
dan implementasinya

4. LAPORAN TEORI-TEORI BELAJAR
TEORI-TEORI BELAJAR YANG RELEVAN
UNTUK PEMBELAJARAN DI SD DAN IMPLEMENTASINYA
Pembelajaran yang efektif dapat dicapai apabila guru menguasai berbagai teori belajar sebagai
landasan dalam mengimplementasikan pembelajarannya. Teori belajar merupakan hasil pemikiran
para ahli pendidikan berupa deskripsi temuan tentang bagaimana individu belajar. Terdapat
beberapa aliran teori belajar diantaranya aliran Behaviorisme, Kognitivisme, Humanisme dan
Konstruktivisme. Persepsi awal yang harus dimiliki oleh seorang guru ketika memilih salah satu
aliran untuk diimplementasikan dalam pembelajaran adalah bahwa tidak ada satupun aliran yang
paling baik. Implementasi keempat aliran teori belajar tersebut sangat bergantung pada
karakteristik siswa, materi pembelajaran dan lingkungan belajarnya.
A. Teori Belajar Aliran Behaviorisme
Behaviorisme secara etimologis terdiri dari dua kata yaitu behave yang berarti berperilaku dan
isme yang berarti aliran. Dengan demikian, behaviorisme merupakan salah satu aliran yang
mendeskripsikan bahwa belajar merupakan aktivitas yang dapat mengubah perilaku individu, dan
perilaku tersebut dapat dipelajari dan dijelaskan secara ilmiah sebagai respon terhadap stimulus
yang diberikan. Aliran ini memfokuskan pada munculnya berbagai respon individu sebagai akibat
berbagai stimulus yang diberikan. Tokoh-tokoh yang menekuni dan memberikan pengaruh yang
kuat terhadap aliran ini adalah Edward L. Thorndike, B.F. Skinner, Gagne, Baruda, Ivan Pavlov, John
B. Watson dan David Ausubel.
Berikut merupakan deskripsi teori belajar menurut para tokoh di atas beserta implementasinya
dalam pembelajaran di sekolah dasar.
1. Teori Belajar Edward L. Thorndike
Edward L. Thorndike merupakan pakar psikologi yaang tidak setuju dengan pernyataan bahwa
hewan memecahkan masalah dengan nalurinya. Pernyataannya tersebut dituangkan dalam
bukunya yang berjudul Animal Intelligence setelah Ia melakukan eksperimen terhadap beberapa
hewan diantaranya anjing, ikan, kera, kucing dan ayam untuk membuktikan bahwa hewan-hewan
tersebut juga memiliki kecerdasan. Gagasannya tersebut menginisiasi munculnya teori
koneksionisme yang mendeskripsikan tentang keterkaitan antara stimulus tertentu dengan respon
berupa perilaku yang disadari (Operant Conditioning).
Terkait pembelajaran, menurut Edward L. Thorndike, belajar merupakan proses pembentukan
hubungan antara stimulus dan respon. Belajar akan lebih berhasil bila respon siswa terhadap suatu
stimulus segera diikuti dengan rasa senang atau kepuasan. Rasa senang atau kepuasan pada diri
siswa bisa timbul sebagai akibat siswa mendapat pujian atau ganjaran dari gurunya. Selanjutnya
Thorndike menamakan kondisi tersebut sebagai hukum efek (Law of Effect).

Hasil penelitiannya menghasilkan beberapa dalil atau hukum yang melandasi pembelajaran di
sekolah dasar yaitu hukum kesiapan (law of readiness), hukum latihan (law of exercise) dan hukum
akibat (law of effect).
a. Hukum kesiapan
Hukum kesiapan ini menerangkan tentang bagaimana kesiapan siswa untuk beraktivitas dalam
belajar. Menurut hukum ini, seorang siswa akan lebih berhasil belajarnya jika siswa tersebut telah
siap secara fisik dan psikis untuk melakukan aktivitas apapun dalam belajar.
b. Hukum latihan
Hukum latihan ini menerangkan bahwa siswa akan berhasil belajarnya apabila hubungan antara
stimulus yang diberikan dengan respon siswa terjadi dan diperkuat dengan kegiatan latihan dan
pengulangan. Jika pengulangan sering dilakukan maka akan memberikan dampak positif terhadap
keberhasilan siswa dalam belajar. Semakin sering pengulangan dilakukan, akan semakin kuat
konsep tertanam dalam ingatan siswa. Tentunya pengulangan yang dimaksud adalah pengulangan
dengan frekuensi teratur dan disajikan dengan cara yang menarik.
c. Hukum akibat
Hukum akibat menerangkan bahwa seseorang dalam melakukan suatu tindakan akan
menimbulkan pengaruh terhadap dirinya. Jika seorang siswa melakukan suatu tindakan yang
dianggap benar, kemudian mendapatkan ganjaran berupa pujian dari gurunya, tentunya hal ini
akan memberikan kepuasan bagi siswa tersebut, dan siswa tersebut cenderung untuk berusaha
melakukan tindakan yang lebih baik lagi.
Implementasi teori belajar menurut Edward L. Thorndike dalam pembelajaran di sekolah dasar
adalah berupa model pembelajaran dengan sintaks yang berlandaskan pada pemikiran Edward L.
Thorndike berdasarkan ketiga hukum di atas yang terdiri dari fase kesiapan, latihan dan pemberian
ganjaran atau penghargaan.
1) Fase kesiapan
2) Fase latihan
3) Fase pemberian ganjaran atau penghargaan

2. Teori Belajar Burhus Frederic Skinner
Burhus Frederic Skinner adalah seorang pakar psikologi lulusan Universitas Harvard Amerika
Serikat dan mengabdikan diri untuk menjadi dosen pada almamaternya. Penelitiannya secara
berkelanjutan terhadap belajar dan perilaku selama bertahun-tahun menghasilkan teori belajar
yang dikenal dengan Operant Conditioning (pengondisian yang disadari).

Menurutnya, ganjaran dan penguatan dalam proses pembelajaran mempunyai peranan yang sangat
penting bagi siswa. Ganjaran merupakan respon yang sifatnya menggembirakan siswa misalnya
tepuk tangan apabila siswa mampu menjawab pertanyaan dari gurunya. Sedangkan penguatan
merupakan sesuatu yang mengakibatkan meningkatnya kemungkinan suatu respon misalnya
memberikan hadiah pensil bagi siswa yang mampu menjawab pertanyaan dari gurunya.
Menurutnya, hasil percobaan tersebut membuktikan bahwa perubahan pola pemberian makanan
mempengaruhi kecepatan dan pola perilaku hewan. Hasil penelitiannya menghasilkan beberapa
prinsip yang melandasi pembelajaran di sekolah yaitu prinsip penguatan (reinforcement), prinsip
hukuman (punishment), prinsip pembentukan (shaping), prinsip penghapusan (extinction), prinsip
diskriminasi (discrimination), dan prinsip generalisasi (generalization).
a. Prinsip penguatan
Penguatan merupakan suatu proses yang dapat memperbesar kesempatan supaya perilaku positif
tersebut terjadi lagi dan memperkuat perilaku positif tersebut. Penguatan terdiri dari penguatan
positif yang dapat memperkuat perilaku positif melalui stimulus yang menyenangkan contoh
dengan memberikan pujian atau penghargaan ketika siswa dapat mengerjakan tugasnya dengan
baik dan penguatan negatif yang dapat memperkuat perilaku positif dengan cara menghilangkan
stimulus yang tidak menyenangkan misalnya saja dengan melarang siswa melakukan perbuatan
yang tidak sesuai dengan kontrak belajar yang telah disepakati bersama atau memberikan bantuan
terhadap siswa yang mengalami kesulitan dalam belajar.
b. Prinsip hukuman
Berbeda dengan penguatan yang dapat memperkuat perilaku positif, hukuman merupakan suatu
proses yang dapat memperbesar kesempatan supaya perilaku negatif tersebut tidak terjadi lagi dan
memperlemah perilaku negatif. Terdapat dua jenis hukuman yaitu hukuman positif dan negatif.
Hukuman positif dapat mengurangi perilaku negatif dengan memberikan stimulus yang tidak
menyenangkan jika perilaku negatif itu terjadi. Contoh hukuman positif dari guru adalah
menghukum siswa yang melanggar tata tertib kelas untuk berdiri di depan kelas dengan
mengangkat salah satu kakinya supaya siswa pelaku jera. Hukuman negatif dapat mengurangi
perilaku negatif dengan menghilangkan stimulus yang menyenangkan jika perilaku negatif itu
terjadi.
Contoh hukuman negatif dari guru adalah menghukum siswa yang melanggar aturan permainan
dalam pembelajaran di kelas dengan cara tidak mengikutsertakan siswa pelaku dalam permainan
kelas berikutnya.
c. Prinsip pembentukan
Pembentukan merupakan suatu proses untuk mengajar perilaku individu yang belum pernah
mereka lakukan sebelumnya. Contoh penerapan prinsip pembentukan dalam pembelajaran
menulis permulaan pada siswa baru kelas 1 SD adalah pada saat siswa mulai menulis tegak
bersambung, guru memfasilitasinya dengan buku siswa yang di dalamnya terdapat titik-titik yang
membentuk huruf tegak bersambung untuk dilengkapi siswa, selanjutnya pada pembelajaran

berikutnya siswa mulai menulis tegak bersambung dibantu oleh guru dengan cara memegangi
pensil siswa untuk diarahkan, berikutnya siswa menulis tegak bersambung secara mandiri.
d. Prinsip penghapusan
Penghapusan merupakan suatu proses menarik kembali penguat dari perilaku individu. Contoh
penerapan prinsip penghapusan dalam pembelajaran di sekolah adalah pada saat guru
memberikan scaffolding terhadap siswa pada saat siswa menulis tegak bersambung. Pertama guru
memberikan bimbingan yang maksimal, kemudian bimbingan tersebut berangsur-angsur dikurangi
bahkan dihilangkan agar siswa dapat melakukannya sendiri.
e. Prinsip diskriminasi
Diskriminasi merupakan proses belajar bahwa suatu perilaku akan diperkuat dalam suatu situasi
dan tidak berlaku dalam situasi lainnya. Contoh penerapan prinsip diskriminasi dalam
pembelajaran di sekolah dasar adalah ketika guru mengajar di pagi hari dengan gaya kharismatik
atau tegas, kemudian pada siang hari ketika siswa mulai lelah maka guru mengajar dengan penuh
humor dan permainan.
f. Prinsip generalisasi
Generalisasi merupakan proses bahwa suatu perilaku akan diperkuat dalam suatu situasi dan
berlaku juga dalam situasi lainnya. Contoh penerapan prinsip generalisasi dalam pembelajaran di
sekolah dasar adalah ketika suatu hari guru mengajar dengan menerapkan metode permainan dan
pada saat refleksi pembelajaran siswa memberikan testimoni positif, maka pembelajaran pada hari
berikutnya guru akan menerapkan metode permainan kembali dengan harapan siswa akan
termotivasi untuk belajar.
Implementasi teori belajar menurut Burhus Frederic Skinner dalam pembelajaran di sekolah dasar
adalah berupa model pembelajaran dengan sintaks yang berlandaskan pada pemikiran Skinner
berdasarkan keenam prinsip di atas yang terdiri dari fase pembentukan, fase penguatan dan
hukuman, fase penghapusan, dan fase generalisasi dan diskriminasi.
3. Teori Belajar Ivan Petrovich Pavlov
Ivan Petrovich Pavlov adalah seorang Rusia yang menemukan teori belajar pengondisian klasik
(Clasical Conditioning) sebelum ditemukan teori pengondisian yang lebih maju seperti teori
Operant Conditioning dari Skinner.
Perbedaan antara teori Pavlov dan Skinner adalah pada bentuk pengondisiannya, teori belajar
Pavlov dengan clasical conditioning lebih menekankan bentuk pengondisian secara refleks atau
ditemukan secara kebetulan dari percobaannya, sedangkan teori belajar Skinner dengan operant
conditioning lebih menekankan bentuk pengondisian secara disadari melalui percobaan yang
dilakukannya.

Hasil penelitiannya menghasilkan proses belajar yang terdiri dari empat fase yaitu fase akuisisi
(acquisition), fase eliminasi (extinction), fase generalisasi (generalization), dan fase diskriminasi
(discrimination).
a. Fase akuisisi
Fase akuisisi merupakan fase belajar awal dari pengondisian respon yang menggunakan stimulus
kondisi selain stimulus utama dengan memperhatikan urutan stimulus tersebut dan selang waktu
antara stimulus kondisi dan stimulus utama.
Stimulus utama pada kegiatan pembelajaran tersebut adalah pemberian pertanyaan dari guru,
sedangkan stimulus kondisinya adalah iming-iming hadiah dari guru. membaca buku dengan aktif
dan tekun supaya dapat menjawab pertanyaan dari guru dengan selalu tepat merupakan respon
kondisi.
b. Fase eliminasi
Fase eliminasi merupakan fase belajar yang secara berangsur-angsur mengurangi bahkan
menghilangkan stimulus kondisi sehingga yang tersisa adalah stimulus utama supaya respon tetap
terjadi meskipun tanpa stimulus kondisi. Contoh implementasi fase eliminasi dalam pembelajaran
di sekolah adalah ketika setelah beberapa kali pembelajaran guru mengiming-imingi hadiah jika
siswa dapat menjawab pertanyaan dari guru dengan tepat, kemudian pertemuan berikutnya siswa
tidak diiming-imingi hadiah tetapi langsung diberikan tugas oleh guru. Karena motivasi belajar
mulai tumbuh meskipun tidak diiming-imingi hadiah, siswa tetap membaca buku dengan aktif dan
tekun supaya dapat menjawab pertanyaan dari guru dengan tepat.
c. Fase generalisasi
Fase generalisasi pada teori belajar Pavlov hampir sama dengan prinsip generalisasi pada teori
belajar Skinner. Generalisasi merupakan proses bahwa suatu perilaku akan diperkuat dalam suatu
situasi dan berlaku juga dalam situasi lainnya. Contoh penerapan prinsip generalisasi dalam
pembelajaran di sekolah dasar adalah ketika suatu hari semua siswa aktif dan tekun membaca buku
karena diiming-imingi hadiah kalau mereka dapat menjawab pertanyaan dari guru dengan tepat.
Pada pertemuan berikutnya, supaya semua siswa aktif dan bersungguh-sungguh mengerjakan
pekerjaan rumahnya maka guru mengiming-imingi hadiah bagi siswa yang mengerjakan pekerjaan
rumahnya dengan bersungguh-sungguh.
d. Fase diskriminasi
Fase diskriminasi pada teori belajar Pavlov hamir sama dengan prinsip diskriminasi pada teori
belajar Skinner. Diskriminasi merupakan proses belajar bahwa suatu perilaku akan diperkuat
dalam suatu situasi dan tidak berlaku dalam situasi lainnya. Contoh penerapan prinsip diskriminasi
dalam pembelajaran di sekolah dasar adalah ketika guru mengiming-imingi hadiah pensil kalau
siswa dapat menjawab pertanyaannya dengan tepat. Pada pembelajaran awal, siswa yang tidak
memiliki pensil masih termotivasi untuk

membaca buku dengan tekun supaya dapat menjawab pertanyaan dari guru dengan tepat dan
mendapatkan hadiah pensil, tetapi pada pembelajaran berikutnya setelah siswa memiliki pensil
maka siswa tidak termotivasi lagi untuk membaca buku dengan tekun. Perubahan situasi
pembelajaran terjadi dari situasi dimana siswa tidak memiliki pensil menjadi situasi pembelajaran
dimana siswa telah memiliki pensil.
Implementasi teori belajar menurut Ivan Petrovich Pavlov dalam pembelajaran di sekolah dasar
adalah berupa model pembelajaran dengan sintaks yang berlandaskan pada pemikiran Pavlov yang
terdiri dari fase akuisisi, fase eliminasi, fase generalisasi, dan fase diskriminasi.

4. Teori Belajar John Watson
John Watson merupakan pakar psikologi berkebangsaan Amerika Serikat yang banyak meneliti
perilaku berbagai jenis hewan dan membandingkan perilaku adaptasi berbagai jenis hewan
terhadap lingkungannya. Oleh sebab itu, John Watson dijuluki sebagai pakar teori belajar StimulusRespons (S-R).
Subjek penelitian John Watson adalah seorang balita bernama Albert yang pada awal
eksperimennya tidak takut terhadap tikus. Pada percobaannya, ketika balita tersebut memegang
tikus, Watson mengeluarkan suara keras dengan tiba-tiba yang menyebabkan balita tersebut
menangis karena kaget dan takut. Akhirnya, balita tersebut menjadi takut dengan tikus meskipun
tidak ada suara keras sekalipun.
John Watson menyimpulkan bahwa stimulus khusus tertentu dapat dihadirkan untuk
mengeliminasi stimulus kondisi yang menyebabkan respon kondisi tertentu berubah. Stimulus
khusus tersebut mengasimilasi sebagian besar atau seluruh fungsi dari refleks.
Seperti halnya Skinner, hasil penelitiannya menghasilkan proses belajar yang terdiri dari empat
fase yaitu fase akuisisi (acquisition), fase eliminasi (extinction), fase generalisasi (generalization),
dan fase diskriminasi (discrimination). Perbedaannya adalah pada fase eliminasi, John Watson
menghadirkan stimulus khusus tertentu untuk mengeliminasi stimulus kondisi dalam rangka
mengubah respon kondisi semula.
Contoh implementasi teori belajar Watson dalam pembelajaran di sekolah adalah ketika guru
bertanya pada salah satu siswa, kemudian siswa tersebut selalu tidak berani mengemukakan
pendapat atau jawabannya. Kemudian guru menggunakan strategi undian menggunakan kartu
nama siswa yang dikocok dengan kesepakatan bahwa yang namanya muncul harus menjawab
pertanyaan dari guru. Guru dengan sengaja telah menuliskan nama siswa yang tidak memiliki
keberanian menyampaikan pendapatnya tersebut pada banyak kartu supaya kesempatan untuk
mendapat giliran menjawabnya besar.
Ketika kartu nama siswa tersebut muncul, maka siswa tersebut terpaksa untuk menyampaikan
jawaban dari pertanyaan guru, sehingga pada pertemuan berikutnya siswa tersebut menjadi berani
menyampaikan pendapatanya. Stimulus kondisi dari ilustrasi di atas adalah pemberian pertanyaan

dari guru, respon kondisi semula adalah siswa tidak berani mengemukakan pendapatnya, stimulus
khusus dari ilustrasi di atas berupa giliran seketika hasil undian untuk menjawab pertanyaan dari
guru, respon kondisi akhir setelah stimulus khusus diterapkan berupa keberanian siswa dalam
menyampaikan pendapat atau jawaban atas pertanyaan guru.

5. Teori Belajar Robert M. Gagne
Gagne mengemukakan bahwa dalam belajar terdapat dua hal yang dapat diperoleh siswa, yaitu;
objek langsung dan objek tidak langsung. Objek langsung adalah fakta, keterampilan, konsep dan
aturan, sedangkan objek tidak langsung antara lain ialah kemampuan menyelidiki dan
memecahkan masalah, belajar mandiri, bersikap positif, dan tahu bagaimana semestinya belajar.
Belajar merupakan kegiatan yang kompleks yang dapat menghasilkan sejumlah kemampuan
berupa keterampilan, pengetahuan, sikap dan nilai sebagai akibat dari stimulus yang berasal dari
lingkungan dan proses kognitif yang dilakukan oleh pebelajar. Menurutnya, kegiatan belajar
meliputi tiga tahapan yaitu tahap persiapan, tahap pemerolehan dan unjuk kinerja, serta tahap
pengulangan dan evaluasi. Ketiga tahapan tersebut dapat diurai menjadi sintaks yang spesifik
sebagai berikut:
a. Tahap persiapan
1) Guru mengarahkan perhatian melalui kegiatan mengkondisikan siswa secara fisik dan psikis
contoh dengan menayangkan masalah yang tidak terstruktur (ill-structured problem)
2) Guru menyampaikan tujuan pembelajaran
3) Guru memberikan apersepsi dengan merangsang siswa untuk mengingat kembali materi
pembelajaran sebelumnya
b. Tahap pemerolehan dan unjuk kinerja
1) Guru menugaskan siswa untuk mengerjakan tugas
2) Guru membimbing siswa dalam mengerjakan tugas
3) Setiap siswa mempresentasikan hasil kerjanya
4) Guru memberikan penguatan terhadap hasil kerja siswa
c. Tahap pengulangan dan evaluasi
1) Guru memberikan penilaian terhadap proses dan hasil kerja siswa
2) Guru memberikan penguatan terhadap materi yang dipelajari siswa melalui tanya jawab
(pengulangan)
3) Guru menyampaikan materi yang akan dipelajari pada pertemuan berikutnya

B. Teori Belajar Aliran Kognitivisme
Aliran kognitivisme muncul sebagai kritik terhadap aliran behaviorisme yang lebih memfokuskan
pada stimulus dan respon serta perubahan perilaku individu. Aliran ini menganggap bahwa
penyimpanan dan pemrosesan informasi sangat penting dalam proses belajar yang melibatkan
proses mental yang kompleks, termasuk memori, perhatian, bahasa, pembentukan konsep dan
pemecahan masalah. Tokoh dari aliran kognitivisme ini terdiri dari Jeans Piaget, Edward C.
Tollman, Jerome Bruner, Lev Vygotsky, dan Noam Chomsky.
1. Teori Belajar Jeans Piaget
Jeans Piaget merupakan pakar psikologi dari Universitas Jenewa, Swiss. Piaget berpendapat bahwa
pengetahuan dibentuk oleh individu melalui interaksi terus menerus dengan lingkungan melalui
proses asimilasi dan akomodasi untuk menghasilkan pengetahuan dengan tingkatan yang lebih
tinggi dibandingkan dengan pengetahuan awal sebelumnya yang telah tersimpan pada skemata
siswa. Pemrosesan informasi dalam skemata siswa terdiri dari asimilasi yang merupakan proses
masuknya informasi baru kedalam skemata siswa dan akomodasi yang merupakan proses
bergabungnya informasi baru dengan informasi awal dalam skemata siswa membentuk struktur
kognitif atau skema yang lebih tinggi tingkatannya (ekuilibrasi).
Dengan kata lain, struktur kognitif yang lebih tinggi akan terbentuk ketika terjadi keseimbangan
(ekuilibrasi) antara proses asimilasi dan akomodasi. Piaget membagi empat tahap tingkat
perkembangan kognitif individu menurut umur rata-rata yaitu:
1) Tahap Sensori Motor (0-2 tahun);
2) Tahap Pre Operasional (2-7 tahun);
3) Tahap Operasi Konkret (7-11 tahun);
4) Tahap Operasi Formal (11 tahun ke atas).
Pada tahap sensori motor anak mengenal lingkungan dengan kemampuan sensorik dan motorik
menggunakan penglihatan, penciuman, pendengaran, perabaan, dan gerakan. Pada tahap praoperasional anak belum mengenal operasi atau pikiran logis tetapi lebih mengandalkan persepsi
realitas dengan menggunakan simbol, bahasa, konsep sederhana, gambar, dan pengelompokan.
Pada tahap operasional konkret anak mulai mengenal operasi atau pikiran logis melalui bendabenda konkret. Sedangkan pada tahap operasional formal anak mulai berpikir secara abstrak dan
menggunakan konsep yang rumit atau kompleks.
Dengan demikian menurut Piaget, siswa sekolah dasar tergolong pada tahap operasional konkret.
Sehingga dalam pembelajaran di sekolah dasar, penyampaian materi yang abstrak hendaknya
dimulai dengan objek yang konkret untuk menjembataninya.
Teori belajar Jeans Piaget menghasilkan tiga fase pembelajaran yaitu fase eksplorasi, pengenalan
konsep dan aplikasi konsep.

a. Fase eksplorasi
Fase eksplorasi merupakan fase pembelajaran dimana siswa aktif menggali pengetahuan dengan
cara mengamati struktur materi pembelajaran berupa pengetahuan faktual (fakta) yang terdiri dari
peristiwa, fenomena, simbol, dan fakta lainnya.
b. Fase pengenalan konsep
Fase pengenalan konsep merupakan fase dimana siswa aktif melakukan konseptualisasi dari fakta
yang diamatinya sehingga pada fase ini akan terbentuk struktur materi ajar berupa pengetahuan
konseptual yang terdiri dari konsep dan prinsip.
c. Fase aplikasi konsep
Fase aplikasi konsep merupakan fase dimana siswa mengaplikasikan atau menggunakan konsep
yang telah dipelajarinya untuk mengeksplorasi gejala lain yang ada kaitannya dengan konsep yang
telah dipelajari tersebut.
Contoh implementasi teori belajar Piaget dalam pembelajaran di sekolah dasar dengan
menerapkan ketiga fase di atas adalah sebagai berikut:
1) Tahap eksplorasi
a) Guru memberikan apersepsi dengan menayangkan video tentang suatu fenomena
b) Siswa mengamati tayangan video tentang fenomena di atas
c) Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya tentang halhal yang belum dan
ingin dipahaminya tentang fenomena yang terdapat pada tayangan video
2) Tahap pengenalan konsep
a) Guru menjelaskan materi ajar yang akan dipelajari
b) Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya tentang materi ajar yang tidak
dipahaminya
c) Siswa mengumpulkan informasi dari berbagai sumber tentang materi yang sedang dipelajari
d) Setiap siswa mempresentasikan hasil pengumpulan informasinya
e) Guru memberikan penguatan terhadap presentasi siswa
3) Tahap aplikasi konsep
a) Guru memberikan evaluasi untuk menguji pemahaman siswa
b) Guru menyampaikan materi ajar dan rencana kegiatan belajar pada pertemuan berikutnya
dengan mengaitkannya dengan materi ajar yang telah dipelajari siswa

2. Teori Belajar Jerome Bruner
Jerome Brunner merupakan guru besar di Universitas Harvard di Amerika Serikat dan Universitas
Oxford di Inggris. Melalui bukunya yang berjudul A Study in Thinking, Ia mendefinisikan proses
kognitif sebagai alat bagi individu untuk memperoleh, menyimpan, dan mentransformasikan
informasi. Bruner yang merupakan pelopor utama teori konstruktivisme menyatakan bahwa
belajar adalah proses pembentukan kategori-kategori. Bruner mengemukakan tahapan proses
belajar siswa, yaitu tahap enaktif dengan melibatkan tindakan siswa secara langsung dalam
memanipulasi objek, tahap ikonik dengan mengamati gambar dari objek yang diamatinya, dan
tahap simbolik yang melibatkan notasi, simbol, atau lambang-lambang tanpa terikat dengan objek.
Pembelajaran di sekolah dasarpun seyogyanya dimulai dengan objek real (konkret), dilanjutkan
dengan gambar dari objeknya (semi konkret), menuju notasi atau lambang dari objek tersebut
(abstrak).
a. Tahap enaktif
Tahap enaktif melibatkan tindakan siswa dalam memanipulasi objek konkret, mengamati suatu
fakta berupa gejala alam, fenomena, peristiwa dan fakta lainnya secara langsung. Pada tahap ini
siswa berinteraksi dengan objek konkret untuk menggali berbagai informasi tentang objek
tersebut.
b. Tahap ikonik
Tahap ikonik melibatkan aktivitas siswa dalam mengamati gambar dari objek yang diamatinya baik
gambar yang semi konkret maupun gambar yang semi abstrak. Tahap ini merupakan tahap yang
menjembatani antara objek konkret pada tahap enaktif dan objek abtrak pada tahap simbolik.
c. Tahap simbolik
Tahap simbolik melibatkan aktivitas siswa dalam mengenal atau membuat notasi, simbol, atau
lambang-lambang tanpa terikat dengan objek konkret, semi konkret atau semi abtrak. Objek
tersebut telah diwakili oleh notasi, simbol atau lambang-lambang yang bersifat abstrak. Pada tahap
ini dilakukan proses konseptualisasi yang menghasilkan konsep-konsep yang bersifat abstrak.
Contoh implementasi teori belajar Bruner dalam pembelajaran di sekolah dasar dengan
menerapkan ketiga tahap di atas adalah sebagai berikut:
1) Tahap enaktif
a) Guru menyiapkan berbagai benda konkret untuk diamati siswa
b) Siswa mengamati benda konkret tersebut dan menuliskan berbagai informasi tentang benda
tersebut dari hasil pengamatannya
c) Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya tentang halhal yang belum dan
ingin dipahaminya tentang benda tersebut.

2) Tahap ikonik
a) Guru menayangkan gambar benda-benda lain yang tidak disediakan untuk diamati siswa
b) Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya tentang halhal yang belum
dipahaminya dari benda-benda yang terdapat pada gambar
c) Guru menugaskan siswa untuk mengumpulkan insformasi dari berbagai sumber tentang bendabenda yang terdapat dalam gambar dan mencatatnya dalam LKS
d) Setiap siswa mempresentasikan hasil kerjanya
e) Guru memberikan penguatan terhadap proses dan hasil kerja siswa
3) Tahap simbolik
a) Guru menjelaskan informasi tentang benda-benda yang telah diamati siswa baik benda konkret
maupun benda dalam gambar mulai dari pengertian dan ciri-cirinya.
b) Guru memberikan evaluasi untuk menguji pemahaman siswa

3. Teori Belajar Lev Vygotsky
Lev Vygotsky merupakan pakar psikologi dari Institut Psikologi Moskow Rusia. Vygotsky
menyatakan bahwa proses kognitif tingkat tinggi individu merupakan hasil dari perkembangan
sosial dan interaksi dengan lingkungannya. Teori belajar Vygotsky disebut sebagai teori sosiokultural yang melatar belakangi munculnya pendekatan pembelajaran kooperatif dalam dunia
pendidikan. Menurutnya, interaksi anak-anak dengan orang dewasa berkonstribusi dalam
pengembangan berbagai keterampilannya. Anak tidak mampu melakukan suatu kegiatan belajar
tanpa bantuan namun dapat melakukannya secara baik di bawah bimbingan orang dewasa.
Interaksi tersebut dapat meningkatkan kemampuan potensialnya yaitu kemampuan siswa setelah
berinteraksi dengan lingkungan dibandingkan dengan kemampuan aktualnya yang merupakan
kemampuan siswa melalui belajar secara mandiri tanpa berinteraksi dengan lingkungannya.
Perbedaan atau selisih antara kemampuan potensial dengan kemampuan aktualnya menandakan
adanya zona perkembangan kognitif siswa yang selanjutnya dalam teori belajar Vygotsky disebut
Zone of Proximal Development (ZPD). Implementasi teori belajar
Vygotsky dalam pembelajaran di sekolah terdiri dari tahap-tahap pembelajaran kooperatif sebagai
berikut:
a. Menyampaikan tujuan pembelajaran dan perlengkapan pembelajaran
b. Menyampaikan informasi
c. Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar

d. Membantu siswa belajar dan bekerja dalam kelompok
e. Evaluasi atau memberikan umpan balik
f. Memberikan penghargaan kelompok.
Contoh implementasi teori belajar Vygotsky dalam pembelajaran di sekolah dasar dengan
menerapkan tahap-tahap di atas adalah sebagai berikut:
a. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang hendak dicapai
b. Guru menjelaskan kelengkapan belajar yang dibutuhkan
c. Guru menjelaskan langkah pembelajaran yang akan dilakukan
d. Guru menjelaskan materi ajar
e. Guru mengelompokkan siswa secara heterogen terdiri dari 4 s.d. 6 orang setiap kelompoknya
f. Guru memberikan tugas untuk dikerjakan siswa secara berkelompok
g. Siswa belajar, berbagi tugas dan bekerjasama dalam kelompok
h. Setiap kelompok mengumpulkan hasil kerja kelompoknya
i. Guru memberikan penilaian terhadap proses dan hasil kerja kelompok
j. Guru memberikan penguatan terhadap proses dan hasil kerja kelompok
k. Guru memberikan reward atau penghargaan kepada kelompok terbaik
l. Guru memberikan evaluasi
m. Guru menutup pembelajaran

4. Teori Belajar Gestalt
Gestalt secara etimologis berasal dari bahasa Jerman berarti bentuk yang utuh, pola, kesatuan, dan
keseluruhan. Teori belajar Gestalt ini menganut aliran kognitivisme yang menganggap bahwa
belajar merupakan aktivitas mengetahui atau mencari tahu (knowing) bukan aktivitas
menghubungkan antara stimulus dan respon seperti anggapan para pakar behaviorisme.
Teori belajar Gestalt ini lahir di Jerman pada tahun 1912 dipelopori dan dikembangkan oleh Max
Wertheimer. Pakar-pakar lainnya yang mengembangkan teori Gestalt ini antara lain Wolfgang
Kohler, Kurt Koffka, dan Kurt Lewin.
Penelitian Kohler difokuskan pada mentalitas Simpanse di pulau Canary. Kohler dan pakar lainnya
menyatakan bahwa belajar adalah proses yang didasarkan pada insight yaitu pengamatan dan

pemahaman mendadak terhadap hubungan antar bagian dalam suatu situasi permasalahan.
Implementasi dari teori belajar Gestalt ini dalam pembelajaran adalah bahwa belajar harus melalui
pemahaman dan pemecahan masalah. Dalam belajar melalui pemahaman siswa harus memahami
makna hubungan antara satu bagian dengan bagian lainnya sehingga belajar penuh dengan
keterkaitan antarkonsep, keterkaitan antarmata pelajaran, dan keterkaitan antara konsep yang
dipelajari dengan kehidupan siswa sehari-hari. Dalam belajar melalui pemecahan masalah siswa
mencoba menggabungkan seluruh pengetahuan dan pemahamannya untuk menyelesaikan masalah
tersebut.
Contoh implementasi teori belajar ini berupa langkah-langkah pembelajaran di sekolah dasar
sebagai berikut:
a. Guru memberikan apersepsi dengan mengaitkan materi pelajaran yang akan dipelajari dengan
materi ajar sebelumnya atau dengan pengalaman siswa
b. Guru menjelaskan materi pembelajaran
c. Guru memberikan masalah terkait materi pembelajaran yang telah dijelaskan guru untuk
dipecahkan siswa
d. Siswa memahami masalah yang diberikan guru dengan menuliskan apa yang diketahui dan
ditanyakan
e. Siswa merencanakan solusi untuk masalah tersebut
f. Siswa menyelesaikan masalah menggunakan konsep-konsep atau pengetahuan yang telah
dipelajarinya
g. Siswa memeriksa kembali hasil kerjanya
h. Guru memberikan penilaian dan penguatan
i. Guru memberikan evaluasi
j. Guru menutup pembelajaran

C. Teori Belajar Aliran Humanisme
Aliran humanisme lebih memusatkan perhatian pada psikologis sifat dasar manusia untuk meraih
sepenuhnya apa yang diinginkan dan berperilaku dalam cara yang konsisten menurut diri mereka
sendiri. Aliran ini merupakan aliran alternatif selain behaviorisme dan kognitivisme yang
selanjutnya disebut sebagai kekuatan ketiga. Pakar dari aliran humanisme ini adalah Carl Rogers
dan Abraham Maslow.

1. Teori Belajar Carl Rogers
Carl Roger merupakan pakar psiko-terapi yang mengembangkan personcentered therapy, suatu
pendekatan yang tidak bersifat menilai ataupun tidak memberi arahan yang membantu klien
mengklarifikasi dirinya tentang siapa dirinya sebagai suatu upaya fasilitasi proses memperbaiki
kondisinya. Dalam praktiknya, Carl Rogers memberikan kebebasan kepada kliennya untuk
mengeluarkan segala isi hatinya sepuas-puasnya, yang baik maupun yang buruk dengan
menerapkan metode non-directive counseling. Rogers mencoba memahami dan merasakan jiwa
kliennya dan menjauhkan diri dari segala macam penilaian normatif tentang ucapan, pikiran,
perasaan, atau perbuatan kliennya. Dengan demikian, klien tersebut akan lebih mengenal dirinya,
menerima dirinya sebagaimana adanya dan akhirnya merasa bebas untuk memilih dan berbuat
menurutnya dengan penuh tanggung jawab.
Dengan demikian, menurut teori belajar Rogers, manusia yang lahir sudah membawa dorongan
untuk meraih sepenuhnya apa yang diinginkan dan berperilaku dalam cara yang konsisten
menurut diri mereka sendiri.
Implementasi teori belajar ini dalam dunia pendidikan adalah bahwa guru sebaiknya memberikan
kesempatan kepada siswa untuk mengerjakan tugastugas belajar secara bebas, tanpa dipaksa, dan
penuh tanggung jawab.
Selanjutnya, teori ini dinamakan teori belajar bebas. Rogers mengemukakan prinsip-prinsip
pendidikan dan pembelajaran sebagai berikut:
a. Siswa tidak harus belajar tentang hal-hal yang tidak ada artinya
b. Siswa akan mempelajari hal-hal yang bermakna bagi dirinya
c. Pengorganisasian bahan pengajaran berarti mengorganisasikan bahan dan ide baru, sebagai
bagian yang bermakna bagi siswa
d. Belajar bermakna berarti belajar tentang proses-proses belajar, keterbukaan belajar mengalami
sesuatu, bekerja sama dengan melakukan pengubahan diri terus menerus
e. Belajar yang optimal akan terjadi, bila siswa berpartisipasi secara bertanggung jawab dalam
proses belajar
f. Belajar mengalami (experiential learning) dapat terjadi, bila siswa mengevaluasi dirinya sendiri.
Belajar mengalami dapat memberi peluang untuk belajar kreatif, penilaian diri (self evaluation),
dan kritik diri.
g. Belajar mengalami menuntut keterlibatan siswa secara penuh dan sungguhsungguh.Berdasarkan
prinsip di atas, dapat disimpulkan bahwa belajar akan efektif apabila dilakukan secara bermakna
dan siswa mengalami langsung untuk terlibat dalam pembelajaran. Rogers mengemukakan
langkah-langkah pembelajaran sesuai dengan teori belajarnya sebagai berikut:

a. Guru memberikan kepercayaan kepada kelas agar kelas memilih belajar secara tersetruktur
b. Guru dan siswa membuat kontrak belajar
c. Guru menggunakan metode inkuiri atau diskoveri
d. Guru menggunakan metode simulasi
e. Guru mengadakan latihan kepekaan agar siswa mampu menghayati perasaan dan berpartisipasi
dengan kelompok lain
f. Guru bertindak sebagai fasilitator belajar
g. Sebaiknya guru menggunakan pengajaran berprogram, agar tercipta peluang bagi siswa untuk
timbulnya krativitas.
Berikut merupakan contoh implementasi teori belajar Rogers ini dalam pembelajaran di sekolah
dasar.
a. Guru menjelaskan langkah-langkah pembelajaran yang akan dilakukan
b. Guru bersama siswa membuat kontrak belajar
c. Guru mengelompokkan siswa kedalam beberapa kelompok yang terdiri dari 4 s.d. 6 orang
d. Guru membagikan LKS kepada setiap kelompok
e. Guru menjelaskan langkah kerja pada LKS
f. Siswa secara berkelompok melakukan penyelidikan dan penemuan sesuai dengan langkahlangkah kerja pada LKS dan menuliskan hasilnya
g. Wakil dari setiap kelompok mempresentasikan proses dan hasil kerja kelompoknya dan guru
memberikan penguatan
h. Guru bersama siswa menyimpulkan dan merefleksi pembelajaran
i. Guru menjelaskan cakupan materi yang akan dipelajari pada pertemuan berikutnya dan bertanya
kepada siswa tentang harapan pada pembelajaran berikutnya.
j. Guru menutup pembelajaran

2. Teori Belajar Abraham Maslow
Maslow mengemukakan teorinya bahwa semua orang memiliki motivasi untuk memenuhi
kebutuhannya yang bersifat hierarkis mulai dari hierarki terbawah sebagai berikut:
a. Kebutuhan-kebutuhan fisik seperti rasa lapar dan haus.

b. Kebutuhan akan rasa aman
c. Kebutuhan akan rasa memiliki dan cinta
d. Kebutuhan akan status dan pencapaian
Ketika berbagai kebutuhan di atas terpenuhi, individu akan meraih aktualisasi diri, suatu dorongan
untuk mengembangkan potensi secara penuh. Menurut teori belajarnya, setiap individu memiliki
potensi untuk dikembangkan. Implementasi teori belajar Maslow dalam pendidikan adalah bahwa
guru harus memahami karakteristik setiap siswa dan memahami kebutuhannya, sehingga setiap
siswa mempelajari apa yang dia butuhkan berdasarkan lintasan belajar dan potensinya masingmasing. Beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh seorang guru untuk mengimplementasikan
teori belajar Maslow dalam pembelajaran adalah:
a. Guru mengidentifikasi kebutuhan belajar dan potensi setiap siswa
b. Guru memberikan tugas yang beragam kepada setiap siswa sesuai dengan kebutuhan dan
potensinya
c. Guru memfasilitasi proses belajar dan memberikan bimbingan kepada setiap siswa yang
mengalami kesulitan belajar
d. Guru memberikan penghargaan kepada setiap siswa sesuai dengan kinerjanya

D. Teori Belajar Aliran Konstruktivisme
Aliran ini merupakan pengembangan dari aliran kognitivisme, sehingga pakarpakar pada aliran ini
merupakan pakar pada aliran kognitivisme. Menurut aliran ini, belajar merupakan proses dimana
pembelajar secara aktif mengkonstruksi atau membangun pengetahuan, gagasan-gagasan, atau
konsepkonsep baru didasarkan atas pengetahuan awal yang telah dimilikinya.
Implementasi teori belajar ini dalam pembelajaran di sekolah melahirkan prinsip-prinsip
pembelajaran sebagai berikut:
1. Siswa telah memiliki pengetahuan awal
2. Belajar merupakan proses pengkonstruksian suatu pengatahuan berdasarkan pengetahuan yang
telah dimiliki siswa
3. Belajar adalah perubahan konsepsi siswa
4. Proses pengkonstruksian pengetahuan berlangsung dalam suatu konteks sosial tertentu
5. Siswa bertanggung jawab terhadap proses belajarnya.

Tahapan pembelajaran berdasarkan teori belajar konstruktivisme terdiri dari empat tahap yaitu:
1. Tahap eksplorasi pengetahuan awal siswa
Pada tahap ini siswa didorong untuk mengungkapkan pengetahuan awal tentang konsep yang akan
dipelajari. Bila perlu guru memancing dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan problematis
tentang fenomena yang sering ditemui sehari-hari dengan mengaitkan konsep yang akan dibahas.
Siswa diberi kesempatan untuk mengkomunikasikan, mengilustrasikan pemahaman tentang
konsep tersebut.
2. Tahap pemberian pengalaman langsung
Pada tahap ini siswa diajak untuk menemukan konsep melalui penyelidikan, pengumpulan data,
dan penginterpretasian data melalui suatu kegiatan yang telah dirancang oleh guru. Pemberian
pengalaman langsung dapat berupa pengamatan, melakukan percobaan, demonstrasi, mencari
informasi melalui buku atau surfing di internet secara berkelompok. Pada tahap ini dirancang agar
rasa ingin tahu siswa tentang fenomena alam di sekelilingnya dapat terpenuhi secara keseluruhan.
Pada tahap ini guru memberi kebebasan pada siswa untuk mengeksplorasi rasa keingintahuannya
melalui pengalaman dan kegiatan belajar siswa.
3. Tahap pengaktifan interaksi sosial
Pada tahap ini siswa diberi kesempatan untuk berinteraksi sosial dengan guru maupun temannya
secara berkelompok untuk melakukan tanya jawab maupun diskusi hasil observasi atau temuannya
dalam kegiatan pembelajaran atau pengalamannya.
4. Tahap pencapaian kepahaman
Pada tahap ini guru memberikan penguatan bukan memberi informasi. Dengan demikian siswa
sendiri yang membangun pemahaman baru tentang konsep yang sedang dipelajari. Bila
konsepsinya/ pengetahuan awalnya benar, maka siswa menjadi tidak ragu-ragu lagi tentang
konsepsinya. Bila pengetahuan awalnya salah, maka eksplorasi akan merupakan jembatan antara
konsepsi siswa dengan konsep baru. Dengan demikian diharapkan konsep yang dipelajarinya akan
menjadi bermakna.
Contoh implementasi teori belajar konstruktivisme ini berupa langkah-langkah dalam
pembelajaran di sekolah dasar sebagai berikut:
1. Guru memberikan apersepsi dengan menggali pengetahuan awal siswa melalui bertanya
menggunakan pertanyaan-pertanyaan eksploratif dikaitkan dengan materi yang akan dipelajari
2. Guru mengelompokkan siswa secara heterogen terdiri dari 4 s.d. 6 orang
3. Guru membagikan LKS, alat dan bahan kepada setiap kelompok dan menjelaskan langkah kerja
pada LKS serta alat dan bahan yang tersedia

4. Siswa secara berkelompok melakukan percobaan sesuai dengan langkah kerja pada LKS dengan
bimbingan guru
5. Siswa secara berkelompok mendiskusikan temuan-temuan pada saat percobaan berlangsung dan
menuliskannya pada LKS
6. Siswa secara berkelompok menyimpulkan hasil percobaannya dan menuliskan kesimpulannya
pada LKS dengan bimbingan guru
7. Wakil dari setiap kelompok mempresentasikan proses dan hasil kerja kelompoknya dan guru
memberikan penguatan
8. Guru memberikan evaluasi
9. Guru menutup pembelajaran

E. Teori Belajar Sosial
Teori belajar ini merupakan perluasan dari teori konstruktivisme yang lebih memfokuskan pada
pembelajaran kolaboratif dan sosial. Teori ini menyatakan bahwa manusia belajar melalui
pengamatannya terhadap perilaku orang lain sebagai model, dan kemudian meniru perilaku model
tersebut. Pakar pada teori belajar sosial ini adalah Albert Bandura dan Bernard Weiner.
Berdasarkan penelitiannya tersebut, selanjutnya teori belajar sosial ini disebut sebagai teori belajar
imitasi. Implementasi teori belajar sosial ini dalam pembelajaran di sekolah melahirkan empat fase
pembelajaran yaitu:
1. Tahap memperhatikan (attention)
Pada tahap ini siswa harus menaruh perhatian pada detail-detail yang penting dari perilaku model.
Guru harus dapat mengarahkan pengamatan siswa pada hal-hal penting yang menjadi fokus
pengamatan. Guru dapat memberikan pertanyaan-pertanyaan pengarah untuk memeriksa fokus
pengamatan siswa.
2. Tahap mengingat (retention)
Pada tahap ini siswa harus dapat mengingat atau menyimpan semua informasi dalam memorinya.
Guru harus memfasilitasi supaya model dapat memberikan pengulangan-pengulangan perilaku
supaya perilaku tersebut mudah diingat oleh siswa.
3. Tahap memotivasi (motivation)
Pada tahap ini siswa harus memiliki motivasi untuk menirukan model. Guru dapat mengimingimingi hadiah atau memberikan penguatan agar siswa termotivasi untuk menirukan model.
4. Tahap mereproduksi (reproduction)

Pada tahap ini siswa harus memiliki keterampilan dan koordinasi fisik yang dibutuhkan. Guru
dapat melatih siswa secara berulang-ulang supaya mereka dapat melakukan perilaku sesuai dengan
model yang diamatinya
Contoh implementasi teori belajar sosial berupa langkah-langkah pembelajaran di sekolah dasar
sebagai berikut:
1. Guru menjelaskan langkah-langkah pembelajaran yang akan dilakukan
2. Guru mengelompokkan siswa menjadi beberapa kelompok yang terdiri dari 4 s.d. 6 siswa
3. Guru membagikan LKS kepada setiap kelompok
4. Guru menjelaskan langkah kerja, alat dan bahan yang dibutuhkan
5. Guru mendemonstrasikan setiap percobaan dalam LKS yang harus dilakukan oleh setiap
kelompok supaya mereka dapat melakukan setiap percobaannya dengan baik
6. Guru bertanya kepada siswa untuk menguji pemahamannya terhadap demonstrasi yang telah
dilakukan
7. Guru memberikan kesempatan kepada setiap siswa untuk bertanya tentang hal-hal yang belum
dipahaminya
8. Guru memanggil satu orang siswa berkemampuan tinggi untuk mendemonstrasikan ulang setiap
percobaan sesuai dengan demostrasi yang telah dilakukan oleh guru
9. Guru memotivasi siswa untuk melakukan setiap percobaan sesuai dengan langkah kerja pada
LKS dan demonstrasi yang telah dilakukan dengan cara menyampaikan bentuk hadiah yang akan
diberikan kepada setiap kelompok yang dapat melakukan percobaannya dengan tepat
10. Siswa secara berkelompok melakukan setiap percobaan sesuai dengan langkah kerja pada LKS
dan demonstrasi yang telah dilakukan
11. Setiap kelompok mengumpulkan hasil kerjanya
12. Guru memberikan penilaian dan hadiah kepada setiap kelompok yang melakukan
percobaannya dengan tepat
13. Guru menutup pembelajaran

Judul: Jawaban Modul 1 Kb 2

Oleh: Muhammad Ardhi Maulana


Ikuti kami