Jawaban Uas Filsafat Ilham (1820110026)

Oleh Ilham Aji Asmara

229,9 KB 6 tayangan 0 unduhan
 


Bagikan artikel

Transkrip Jawaban Uas Filsafat Ilham (1820110026)

UAS FILSAFAT ILMU Diajukan kepada Dosen Pengampu Mata Kuliah Filsafat Ilmu Dr. Y. Suyitno, M.Pd Oleh: ILHAM AJI ASMARA DEWA 1820110026 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DASAR PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOKERTO TAHUN 2019 SOAL UAS FILSAFAT ILMU PRODI PENDIDIKAN DASAR PASCASARJANA UMP (S2) 2019 Dosen Pengampu: Dr. Y. Suyitno M.Pd A. Petunjuk: 1. Jawablah soal-soal berikut dengan disertai DAFTAR PUSTAKA pada akhir jawaban dan sumber rujukan lainnya, 2. Jawaban ditik dg jarak 1,5 spasi, huruf font 12, 3. Jawaban diserahkan dalam bentuk hard copy, dengan cover judul jawaban UAS Filsafat Ilmu, nama, nim, prodi, tahun angkatan, pada tgl. 27 Juli 2019 dikirim dalam 1 paket kelas, ke Alamat: Dr. Y. Suyitno, M.Pd Jl. Lembursawah no 12 RT 02/12 Utama Cimahi Selatan Cimahi, dan secara individual menyampaikan ke alamat email: suyitno.y@gmail.com 4. Bila ada yang masih belum menyerahkan tugas makalah, diserahkan bersama jawaban UAS. B. Soal-soal 1. Apa yang dimaksud dengan Filsafat Ilmu? Apa tujuan belajar Filsafat Ilmu, mengapa belajar Filsafat Ilmu, dan apa manfaat belajar Filsafat Ilmu? 2. Jelaskan implikasi kajian ontologi, epistemologi, dan aksiologi dari Ilmu Pendidikan terhadap rumusan tujuan pendidikan, isi pendidikan/kurikulum, dan terhadap metode dan strategi pendidikan/pembelajaran. 3. Coba jelaskan apa beda pendekatan deduktif dan induktif dalam riset pendidikan? 4. Apa beda perseptual dan konseptual, dan fakta dan data dalam pengamatan terhadap suatu obyek, berikan contoh secara konkrit. 5. Pendekatan Induktif versus pandangan ilmu gabungan Deduktif hipotetis menjadi sebuah alternatif bagi ilmuwan untuk memilih mana yang paling tepat. Coba jelaskan dari kedua pendekatan tadi secara gamblang/jelas. 6. Apa yang dapat dimanfaatkan dari prinsip ruang dan waktu terhadap hasil riset kita? Khususnya tentang ukuran validitas dan reliabilitas. 7. Apa isi dari sebuah ilmu? Coba uraikan secara detail sehingga dapat difahami struktur dari sebuah ilmu. 8. Menurut Thomas Khun perkembangan sebuah ilmu itu mengalami beberapa tahapan, sampai ilmu itu dapat digunakan sebagai landasan operasional dalam riset. Coba anda uraikan dari tahap awal samapi akhir perkembangan ilmu tersebut. 9. Bagaimana batas-batas ilmu (demarkasi) antara yang empiris dengan yang metafisis? dan berikan contoh menurut beberapa tokoh fisikawan dan biolog tentang kehidupan. 10. Dewasa ini perkembangan ilmu sudah mencapai tingkat yang terspesialisasi begitu ragam, sehingga untuk menganalisis permasalahan perkembangan peseta didik tidak hanya dilihat dari perspektif hasil belajar saja. Coba perspektif apa saja yang mungkin dapat mempengaruhi perkembangan peserta didik dalam perkembangannya secara lengkap. 11. Berikan contoh masalah pendidikan yang didekati dengan pendekatan kuantitatif dan masalah pendidikan yang didekati dengan pendekatan kualitatif? Berikan contoh hasil-hasil penelitian dari kedua pendekatan tersebut! 12. Selamat bekerja. Tidak ada plagiasi. Jika terjadi plagiasi/peniruan, maka dapat mengikuti kuliah tahun depan. Berikan daftar rujukan secara lengkap. JAWABAN UAS Nama : Ilham Aji Asmara Dewa, S. Pd NIM : 1820110026 Jenjang : S2 (Magister) Program Studi : Pendidikan Dasar Mata Kuliah : Filsafat Ilmu Dosen : Dr. Y. Suyitno, M. Pd 1. Apa yang dimaksud dengan Filsafat Ilmu? Apa tujuan belajar Filsafat Ilmu, mengapa belajar Filsafat Ilmu, dan apa manfaat belajar Filsafat Ilmu? a. Filsafat ilmu adalah kata filsafat berasal dari kata arab yang berhubungan rapat dengan kata Yunani, bahkan asalnya memang dari kata Yunani. Kata Yunaninya ialah philosophin. Dalam bahasa Yunani kata philosophia merupakan kata majemuk yang terdiri atas philo dan shopia; philo artinya cinta dalam arti luas, yaitu ingin, dan karena itu lalu berusaha mencapai yang diinginkan itu; sophia artinya kebijakan yang artinya pandai, pengertian yang mendalam. Jadi menurut namanya saja filsafat boleh diartikan ingin mencapai pandai, cinta pada kebijakan. Jadi, berdasarkan kutipan tersebut dapatlah diketahui bahwa dari segi bahasa, filsafat ialah keinginan yang mendalam untuk mendapat kebijakan, atau keinginan mendalam untuk menjadi bijak. Sedangkan berdasarkan dari segi istilah menurut Poedjawijatna dalam Tafsir (2016: 10)(1) mendefinisikan filsafat sebagai sejenis pengetahuan yang berusaha mencari sebab yang sedalam-dalamnya bagi segala sesuatu berdasarkan fikiran belaka. b. Tujuan belajar filsafat ilmu(2): 1) seseorang/peneliti dapat memahami persoalan ilmiah dengan melihat ciri dan cara kerja setiap ilmu atau penelitian ilmiah dengan cermat dan kritis. 2) seseorang/peneliti dapat melakukan pencarian kebenaran ilmiah dengan tepat dan benar dalam persoalan yang berkaitan dengan ilmunya (ilmu budaya, ilmu kedokteran, ilmu teknik, ilmu keperawatan, ilmu hukum, ilmu sosial, ilmu ekonomi dan sebagainya) tetapi juga persoalan yang menyangkut seluruh kehidupan manusia, seperti: lingkungan hidup, peristiwa sejarah, kehidupan sosial politik dan sebagainya. 3) Seseorang/peneliti dapat memahami bahwa terdapat dampak kegiatan ilmiah (penelitian) yang berupa teknologi ilmu (misalnya alat yang digunakan oleh bidang medis, teknik, komputer) dengan masyarakat yaitu berupa tanggung jawab dan implikasi etis. Contoh dampak tersebut misalnya masalah euthanasia dalam dunia kedokteran masih sangat dilematis dan problematik, penjebolan terhadap sistem sekuriti komputer, pemalsuan terhadap hak atas kekayaaan intelektual (HAKI) , plagiarisme dalam karya ilmiah. c. Mengapa belajar filsafat ilmu: Sebagai seorang kita harus mempelajari filsafat ilmu agar dapat mengembangkan semangat toleransi dalam perbedaan pandangan, mampu membiasakan diri untuk bersikap logis-rasional Opini & argumentasi, mampu berpikir secara cermat dan tidak kenal lelah, serta mampu membiasakan diri untuk bersikap kritis. Sebagai manusia yang bermasyarakat, mahasiswa juga harus bisa menerapkan apa yang telah dipelajarinya dalam filsafat ilmu. Mahasiwa dituntut untuk tidak hanya pandai dalam teori saja tapi harus bisa mempraktekannya langsung dalam masyarakat. d. Manfaat belajar filsafat ilmu(3): Manfaat lain dari belajar filsafat adalah belajar filsafat secara mendalam akan membentuk kemandirian secara intelektual, membangun sikap toleran tehadap perbedaan sudut pandang dan membebaskan dari jeratan dogmatisme. Hal ini dapat dipahami seperti ini. filsafat dapat membentuk seorang pembelajar untuk berpikir kritis berarti kita tidak menerima begitu saja suatu pendapat yang didasarkan pada otoritas, serta selalu mempertanyakan asumsi-asumsi yang terdapat dalam penjelasan atau alasan yang dikemukakan (membebaskan dari jeratan dogmatisme). Inti filsafat adalah membentuk pemikiran dan bukan sekedar mengisi kepada kita dengan fakta-fakta atau informasi-informasi. Berfilsafat berarti menyusun dan mempertahankan keyakinan-keyakinan yang kita miliki dengan menggunakan argumentasi yang rasional. Filsafat membawa kita pada pemahaman (kemandirian secara intelektua), dan pemahaman itu dapat membawa kita untuk bertindak lebih layak (toleran terhadap perbedaan sudut pandang). Beberapa manfaat filsafat ilmu adalah: 1) Sebagai sarana pengujian penalaran ilmiah, sehingga menjadi kritis terhadap kegiatan ilmiah. 2) Merupakan metode untuk merefleksi, menguji, mengkritisi memberikan asumsi keilmuan. 3) Memberikan pendasaran logis terhadap metode keilmuan. (1) Tafsir, A. (2016). Filsafat Umum Akal dan Hati Sejak Thales Sampai Capra. Bandung: PT Remaja Rosdakarya (2) Anita puspa dewi. (2016). Tujuan belajar filsafat ilmu. http://anitapuspadewi15.blogspot.com/2016/12/tujuan-belajar-filsafatilmu.html (3) Yanto, A.R. (2017). Tujuan belajar filsafat ilmu, fungsi dan arah filsafat ilmu. Tersedia http://allahselaluuntukmu.blogspot.com/2017/05/tujuan-belajar- filsafat-ilmu-fungsi-dan.html. Di Akses: 25 Juli 2019. [Pukul 17.00 WIB] 2. Jelaskan implikasi kajian ontologi, epistemologi, dan aksiologi dari Ilmu Pendidikan terhadap rumusan tujuan pendidikan, isi pendidikan/kurikulum, dan terhadap metode dan strategi pendidikan/pembelajaran. Implikasi ontologi, epistemologi, dan aksiologi sebagai berikut. Menurut Jalaluddin & Idi (2002: 144-149) (4) ontologi adalah bagian filsafat yang menyelidiki tentang hakikat yang ada. Epistemologi adalah studi tentang pengetahuan atau kita mengetahui (adanya) benda-benda, epistemologi dapat juga berarti bidang filsafat yang menyelidiki sumber, syarat, proses terjadinya ilmu pengetahuan, batas validitas dan hakikat ilmu pengetahuan. Aksiologi adalah bidang filsafat yang menyelidiki nilai-nilai (value). Wina Sanjaya (2009)(5) mengemukakan, paling tidak ada empat fungsi filsafat dalam pengembangan kurikulum yang di dalamnya terdapat perencanaan dan implementasi kurikulum, yaitu pertama, filsafat dalam menentukan arah dan tujuan pendidikan. Kedua, filsafat dapat menentukan isi atau materi pelajaran yang harus diberikan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Ketiga, filsafat dapat menentukan strategi atau cara pencapaian tujuan. Keempat, melalui filsafat, dapat ditentukan bagaimana menentukan tolak ukur keberhasilan proses pendidikan. Filsafat sebagai suatu landasan yang fundamental, filsafat memegang peranan penting dalam merumuskan tujuan pendidikan, isi pendidikan/kurikulum serta metode dan strategi pendidikan. Tujuan pendidikan seperti yang dirumuskan dalam undang-undang Undang-undang RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional beserta peraturan peraturan pemerintah mempunyai dasar filosofis yang menggambarkan cita-cita negara. Isi pendidikan atau bahan/materi kurikulum adalah isi atau muatan kurikulum yang harus dipahami dalam upaya mencapai tujuan kurikulum. Isi pendidikan bahan/materi kurikulum berhubungan dengan pertanyaan filosofis tentang: apakah yang harus diajarkan dan dipahami siswa? Materi kurikulum merupakan salah satu komponen dalam pengembangan kurikulum yang berhubungan dengan pengalaman belajar yang harus dimiliki siswa. Isi kurkulum itu menyangkut semua aspek baik berhubungan dengan pengetahuan atau materi pelajaran maupun kegiatan siswa. Materi kurikulum harus bersumber pada tiga hal yaitu, masyarakat beserta budayanya, anak didik dan ilmu pengetahuan (Wina, 2009: 114). Strategi berkaitan dengan upaya yang harus dilakukan dalam rangka pencapaian tujuan. Dengan kata lain strategi pembelajaran merupakan suatu kegiatan pembelajaan yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat tercapai secara efektif dan efisien. Dengan demikian, strategi pembelajaran dapat diartikan sebagai suatu perencanaan yang berisi tentang rangkaian kegiatan yang didesain untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Tujuan pendidikan, isi pendidikan/kurikulum, metode dan strategi merupakan komponen pendidikan yan isinya terdapat landasan-landasan filosofis pendidikan. Ada 3 teori kebenaran dalam filsafat yaitu ontologi (mempelajari teori tentang ada), epistemoogi (mempelajari tentang pengetahuan/teori pengetahuan, dan aksiologi (mempelajari teori tentang nilai). Ketiga teori tersebut merupakan komponen dalam memyusun tujuan pendidikan, isi pendidikan/kurikulum serta metode dan strategi pendidikan yang ada. (4) Jalaluddin & Idi, A. (2002). Filsafat Pendidikan, Manusia, Filsafat dan Pendidikan. Jakarta: Gaya Media Pratama (5) Sanjaya, W. (2009). Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Prenada Media Group 3. Perbedaan pendekatan deduktif dan induktif dalam riset pendidikan.(6) Perbedaan antara penelitian deduktif dan induktif berasal dari pendekatan dan fokus mereka. Dalam semua disiplin ilmu, penelitian memainkan peran penting, karena memungkinkan berbagai akademisi untuk memperluas pengetahuan teoretis mereka tentang disiplin dan juga untuk memverifikasi teori yang ada. Pendekatan deduktif dan induktif terhadap penelitian atau penelitian deduktif dan induktif dapat dipahami sebagai jenis kategorisasi. Kedua tipe ini berbeda satu sama lain. Penelitian deduktif berfokus pada verifikasi teori, sedangkan penelitian induktif terutama berfokus pada pengembangan teori baru. Inilah perbedaan utama antara dua jenis pendekatan dalam penelitian penelitian. Beberapa perbedaan antara pendekatan dalam penelitian deduktif dan induktif a. Pendekatan: 1) Proses penelitian deduktif dan induktif harus dipandang sebagai pembalikan. 2) Penelitian deduktif menggunakan pendekatan top-down. 3) Penelitian induktif menggunakan pendekatan dari bawah ke atas. b. Tujuan: 1) Penelitian deduktif bertujuan untuk memverifikasi teori. 2) Penelitian induktif bertujuan menghasilkan pengetahuan baru atau menciptakan teori baru. c. Pertanyaan Penelitian vs Hipotesis: 1) Dalam penelitian deduktif, hipotesis diuji. 2) Dalam penelitian induktif, peneliti terutama berfokus pada menemukan jawaban atas pertanyaan penelitian. d. Penggunaan: 1) Pendekatan deduktif sebagian besar digunakan dalam penelitian kuantitatif yang sebagian besar berhubungan dengan angka. 2) Pendekatan induktif banyak digunakan dalam penelitian kualitatif yang bertujuan untuk menemukan data deskriptif yang kaya. e. Penggunaan Observasi: 1) Dalam penelitian deduktif, peneliti menggunakan observasi dengan maksud untuk memvalidasi pola tersebut. 2) Dalam penelitian induktif, peneliti mencoba menemukan pola melalui observasi. (6) https://id.betweenmates.com/difference-between-inductive-and-deductiveresearch-5995 Di Akses: 25 Juli 2019. [Pukul 17.06 WIB] 4. Perbedaan perseptual dan konseptual, dan fakta dan data dalam pengamatan terhadap suatu obyek. a. Menurut KBBI perseptual adalah perseptual berasal dari kata persepsi yang berarti proses seseorang mengetahui beberapa hal melalui pancaindranya. Perseptual jugaberarti kemampuan memahami dan menginterprestasikan informasi sensori atau kemampuan intelek untuk mencarikan makna yang diterima oleh panca indera. Contoh dari perseptual: Melalui gamabar tersebut kita bisa lihat bahwa orang yang berada di sebelah kiri mengatakan bahwa itu adalah angka 6 sedangkan orang yang berada di sebelah kanan mengatakan angka 9. Setiap orang mempunyai persepsi yang berbeda-beda, tergantung dari sisi mana kita melihat. b. konseptual menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berasal dari kata konsep yaitu rancangan; ide atau pengertian yang diabstrakkan dari peristiwa konkret; gambaran mental dari objek, proses, atau apa pun yang ada di luar bahasa, yang digunakan oleh akal budi untuk memahami hal-hal lain. Konseptual diartikan sebagai hal-hal yang berhubungan dengan konsep. Makna konseptual juga merupakan makna yang ada pada kata yang tidak tergantuk pada konteks kalimat tersebut. Contoh konseptual: Bunga memiliki makna konseptual bagian tumbuhan yang akan menjadi buah, biasanya elok warnanya dan baunya harum.(7) c. Fakta adalah apa yang membuat pernyataan itu betul atau salah. Suatu Fakta adalah sesuatu yang ada, apakah setiap orang berfikir demikian atau tidak. Pernytaan adalah adalah suatu fakta apakah itu benar atau salah, tetapi ia mnenyatakan suatu fakta bila itu benar. Sebagai contoh, Saya memperlihatkan suatu jadwal kereta yang berangkat jam 10, jika jadwal itu benar, maka terdapat kereta api yang sungguh-sungguh pergi yang merupakan suatu fakta. Dalam hal ini faktanya adalah benar jika sungguhsungguh ada kereta api. d. Data adalah catatan atas kumpulan fakta. Data merupakan bentuk jamak dari datum, berasal dari bahasa Latin yang berarti "sesuatu yang diberikan". Dalam penggunaan sehari-hari data berarti suatu pernyataan yang diterima secara apa adanya. Pernyataan ini adalah hasil pengukuran atau pengamatan suatu variabel yang bentuknya dapat berupa angka, kata-kata, atau citra. Data merupakan sesuatu yang belum mempunyai arti bagi penerimanya dan masih memerlukan adanya suatu pengolahan. Data bisa berwujut suatu keadaan, gambar, suara, huruf, angka, matematika, bahasa ataupun simbolsimbol lainnya yang bisa kita gunakan sebagai bahan untuk melihat lingkungan, obyek, kejadian ataupun suatu konsep. Dalam keilmuan (ilmiah), fakta dikumpulkan untuk menjadi data. Data kemudian diolah sehingga dapat diutarakan secara jelas dan tepat sehingga dapat dimengerti oleh orang lain yang tidak langsung mengalaminya sendiri, hal ini dinamakan deskripsi. Pemilahan banyak data sesuai dengan persamaan atau perbedaan yang dikandungnya dinamakan klasifikasi.(8) (8) Andreas Rinangga http://andre-arsaa.blogspot.com/2011/05/fakta-dan-data.html Di Akses: 26 Juli 2019. [Pukul 00.06 WIB] 5. Pendekatan Induktif versus pandangan ilmu gabungan Deduktif hipotetis menjadi sebuah alternatif.(9) a. Pendekatan induktif adalah cara berfikir untuk menarik kesimpulan dari pengamatan terhadap hal yang bersifat partikular kedalam gejala-gejala yang bersifat umum atau universal. Sehingga dapat dikatakan bahwa penalaran ini bertolak dari kenyataan yang bersifat terbatas dan khusus lalu diakhiri dengan statemen yang bersifat komplek dan umum. Generalisasi adalah salah satu ciri yang paling khas dalam metode induksi. Hanya saja, generalisasi di sini tidak berarti dengan mudahnya suatu proposisi yang diangkat dari suatu individu dibawa untuk digeneralisasikan terhadap suatu komunitas yang lebih luas. Justru, melalui metode ini, diberikan suatu kemungkinan untuk disimpulkan. Dalam artian, bahwa ada kemungkinan kesimpulan itu benar tapi tidak berarti bahwa itu pasti benar, sehingga akhirnya disinilah lahir probabilitas. Induksi sering pula diartikan dengan istilah logika mayor, karena membahas pensesuaian pemikiran dengan dunia empiris, ia menguji hasil usaha logika formal (deduktif), dengan membandingkannya dengan kenyataan empiris. Sehingga penganut paham empirme yang lebih sering mengembangkan pengetahuan bertolak dari pengalaman konkrit. Yang akhirnya mereka beranggapan satu-satunya pengetahuan yang benar adalah yang diperoleh langsung dari pengalaman nyata. Dengan demikian secara tidak langsung penggiat aliran inilah yang sering menggunakan penalaran induktif. Karena Penalaran ini lebih banyak berpijak pada observasi indrawi atau empiris. Dengan kata lain penalaran induktif adalah proses penarikan kesimpulan dari kasus-kasus yang bersifat individual nyata menjadi kesimpulan yang bersifat umum. Inilah alasan atas eratnya ikatan antara logika induktif dengan istilah generalisasi, serta empirisme. b. Pendekatan Deduktif adalah suatu kerangka atau cara berfikir yang bertolak dari sebuah asumsi atau pernyataan yang bersifat umum untuk mencapai sebuah kesimpulan yang bermakna lebih khusus. Ia sering pula diartikan dengan istilah logika minor, dikarenakan memperdalami dasar-dasar pensesuaian dalam pemikiran dengan hukum, rumus dan patokan-patokan tertentu. Pola penarikan kesimpulan dalam metode deduktif merujuk pada pola berfikir yang disebut silogisme. Yaitu bermula dari dua pernyataan atau lebih dengan sebuah kesimpulan. Yang mana kedua pernyataan tersebut sering disebut sebagai premis minor dan premis mayor. Serta selalu diikuti oleh penyimpulan yang diperoleh melalui penalaran dari kedua premis tersebut. Namun kesimpulan di sini hanya bernilai benar jika kedua premis dan cara yang digunakan juga benar, serta hasilnya juga menunjukkan koherensi data tersebut. Contoh dari penggunaan premis dalam deduksi: Premis Mayor: Perbuatan yang merugikan orang lain adalah dosa. Premis Minor: Menipu merugikan orang lain. Kesimpulan: Menipu adalah dosa. Selain itu, matematika sebagai salah satu disiplin keilmuan yang yang menerapkan prinsip koherensi di dalam pembuktian kebenarannya. Penalaran deduktif merupakan salah satu cara berfikir logis dan analistik, yang tumbuh dan berkembang dengan adanya pengamatan yang semakin intens, sistematis, dan kritis. Juga didukung oleh pertambahan pengetahuan yang diperoleh manusia, yang akhirnya akan bermuara pada suatu usaha untuk menjawab permasalahan secara rasional sehingga dapat dipertanggungjawabkan kandungannya, tentunya dengan mengesampingkan hal-hal yang irasional. Adapun penyelesaian masalah secara rasional bermakna adanya tumpuan pada rasio manusia dalam usaha memperoleh pengetahuan yang benar. Dan paham yang mendasarkan dirinya pada proses tersebut dikenal dengan istilah paham rasionalisme. Metode deduktif dan paham ini saling memiliki keterikatan yang saling mewarnai, karena dalam menyusun logika suatu pengetahuan para ilmuan rasionalis cenderung menggunakan penalaran deduktif. (9) Mustofa, I. (2016). Jendela Logika dalam Berfikir: Deduksi dan Induksi sebagai Dasar Penalaran Ilmiah. Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Islam, 6, 2, 122142 6. Manfaat dari prinsip ruang dan waktu terhadap hasil riset. Ruang adalah tempat di mana benda-benda berada terkait oleh panjang, lebar, tinggi, dan volume sedangkan waktu adalah keabadian yang tidak akan dimaterialisasikan oleh manusia. Yang dapat dimanfaatkan dari prinsip ruang dan waktu adalah Manusia dapat mengukur ruang dan waktu, hal ini berkaitan dengan logika manusia padahal dalam konteks logika Tuhan hidup adalah “satu detik”. Secara ilmiah ruang adalah tempat di mana benda-benda berada terkait oleh panjang, lebar, tinggi, dan volume. Ada misteri ruang yang tidak mampu di logika oleh manusia, tentang ruang langit yang tanpa batas. Sedangkan waktu adalah perpindahan saat ke saat lainnya.(10) Jadi, ruang dan waktu mempunyai pengertian yang berbeda pada setiap kerangka berpikir yang berbeda. Ruang dan waktu mengalami perkembangan pengertian mulai dari masa kalsik hingga masa modern. Dalam kerangka berpikir klasik ruang dianggap bersifat mutlak sedangkan dalam kerangka berpikir modern ruang dan waktu bersifat relatif. Dalam Al-Qur’an ruang dan waktu mempunyai pengertian yang sama dengan kerangka berpikir modern akan tetapi pengertian yang bersifat kultural juga diberlakukan terhadap istilah waktu. (10) Ifi, L. (2016). Diskusi Filsafat Tentang Ruang dan Waktu. Tersedia http://makalahtugasbahasaindonesia.blogspot.com/2016/03/diskusi-filsafattentang-ruang-dan-waktu.html. Di Akses: 6 Desember 2018. [Pukul 13.45 WIB] 7. Isi dari sebuah ilmu. Untuk memahami ilmu, ada banyak definisi yang menuntun dan mengarahkan kepada pengertian yang jelas. Secara etimologis “ilmu” merupakan kata serapan yang berasal dari bahasa Arab „alima yang berarti tahu atau mengetahui (Gazalba, 1992), sementara itu secara istilah ilmu diartikan sebagai Idroku syai bi haqiqotih (mengetahui sesuatu secara hakiki). (Suharsaputra, 2004). Dalam bahasa Inggeris Ilmu dipadankan dengan kata science, sedang pengetahuan dengan knowledge. Dalam bahasa Indonesia kata science berasal dari bahasa Latin dari kata Scio, Scire yang berarti (mengetahui) umumnya diartikan Ilmu tapi sering juga diartikan dengan Ilmu Pengetahuan, meskipun secara konseptual mengacu pada makna yang sama. Sinonim yang paling akurat dalam bahasa Yunani adalah episteme. Untuk lebih memahami pengertian Ilmu (science) di bawah ini akan dikemukakan beberapa pengertian : a. Ilmu adalah pengetahuan tentang sesuatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode-metode tertentu yang dapat digunakan untuk menerangkan gejalagejala tertentu dibidang (pengetahuan) itu. (Depdikbud,1989) b. Aristoteles memandang ilmu sebagai pengetahuan demonstratif tentang sebabsebab hal. (Bagus, 1996). c. Ilmu merupakan alat untuk mewujudkan tujuan politis secara efektif dan alamiah. (Suriasumantri, 1986). Selanjutnya dalam kutipannya juga dikemukakan pendapat The Liang Gie yang menyatakan pengertian ilmu dilihat dari ruang lingkupnya adalah sebagai berikut : a. Ilmu merupakan sebuah istilah umum untuk menyebutkan segenap pengetahuan ilmiah yang dipandang sebagai suatu kebulatan. Jadi ilmu mengacu pada ilmu seumumnya; b. Ilmu menunjuk pada masing-masing bidang pengetahuan ilmiah yang mempelajari pokok soal tertentu, ilmu berarti cabang ilmu khusus. Sedangkan jika dilihat dari segi maknanya The Liang Gie mengemukakan tiga sudut pandang berkaitan dengan pemaknaan ilmu/ilmu pengetahuan yaitu: - Ilmu sebagai pengetahuan, artinya ilmu adalah sesuatu kumpulan yang sistematis, atau sebagai kelompok pengetahuan teratur mengenai pokok soal atau subject matter. Dengan kata lain bahwa pengetahuan menunjuk pada sesuatu yang merupakan isi substantif yang terkandung dalam ilmu. a. Ilmu sebagai aktivitas, artinya suatu aktivitas mempelajari sesuatu secara aktif, menggali, mencari, mengejar atau menyelidiki sampai pengetahuan itu diperoleh. Jadi ilmu sebagai aktivitas ilmiah dapat berwujud penelaahan (study), penyelidikan (inquiry), usaha menemukan (attempt to find), atau pencarian (search). b. Ilmu sebagi metode, artinya ilmu pada dasarnya adalah suatu metode untuk menangani masalah-masalah, atau suatu kegiatan penelaahan atau proses penelitian yang mana ilmu itu mengandung prosedur Dari pengertian di atas nampak bahwa Ilmu memang mengandung arti pengetahuan, tapi bukan sembarang pengetahuan melainkan pengetahuan dengan ciri-ciri khusus yaitu yang tersusun secara sistematis, dan untuk mencapai hal itu diperlukan upaya mencari penjelasan atau keterangan. Lebih jauh dengan memperhatikan pengertian-pengertian Ilmu sebagaimana diungkapkan di atas, dapatlah ditarik beberapa kesimpulan berkaitan dengan pengertian ilmu yaitu : a. Ilmu adalah sejenis pengetahuan b. Tersusun atau disusun secara sistematis c. Sistimatisasi dilakukan dengan menggunakan metode tertentu Pemerolehannya dilakukan dengan cara studi, observasi, eksperimen.(11) Dengan demikian sesuatu yang bersifat pengetahuan biasa dapat menjadi suatu pengetahuan ilmiah bila telah disusun secara sistematis serta mempunyai metode berfikir yang jelas, karena pada dasarnya ilmu yang berkembang dewasa ini merupakan akumulasi dari pengalaman/pengetahuan manusia yang terus dipikirkan, disistimatisasikan, serta diorganisir sehingga terbentuk menjadi suatu disiplin yang mempunyai kekhasan dalam objeknya. (11) Widyawati, S. (2013). Filsafat Ilmu Sebagai Landasan Pengembangan Ilmu Pendidikan. Jurnal Seni Budaya, 11, 1, 87-96 8. perkembangan sebuah ilmu itu mengalami beberapa tahapan, sampai ilmu itu dapat digunakan sebagai landasan operasional dalam riset. Thomas Kuhn merupakan salah satu tokoh filosof modern yang ideidenya (teori) sampai sekarang ini masih diakui oleh dunia. Ia merupakan salah satu tokoh yang mampu “mengkritisi” paradigma posistivisme yang dominasinya berpengaruh luar biasa di barat. Dari gagasannya, dapat ditarik sebuah pendapat bahwa ilmu itu tidak ada yang fixed (pasti) di dunia ini termasuk “ilmu” agama. Ilmu menurut gagasannya tidak hanya “berkembang” ke depan tapi bisa juga ke samping. Ilmu tidak didasarkan pada kaidah benarsalah, akan tetapi mengacu pada paradigma “apa” yang digunakan. Dengan paradima itu, seorang atau para ilmuwan akan menjadikannya sebagai dasar (pedoman) dalam melihat sekaligus memahami realitas (fenomena). Selain itu, dengan paradigma maka ilmuwan akan bisa menentukan metode apa yang akan mereka gunakan dalam “mendekati” masalah. Bagi Kuhn, penemuan teori tidak menjadi kekuatan pendorong ilmu pengetahuan ke arah kemajuan. Bagaimanapun, ilmu pengetahuan bukanlah kumpulan kestabilan dan terus menerus ditambah dengan penemuan baru. Akan tetapi, ilmu pengetahuan merupakan serangkaian selingan yang dimulai dari revolusi intelektual para pemikir. Setelah ada revolusi, konsep baru akan menggantikan konsep ilmu pengetahuan lama, sehingga terjadi pergantian konsep yang berbeda secara terus-menerus. Hal itu akan terus terjadi sepanjang kehidupan sejarah manusia.(12) Dengan demikian, senyampang para ilmuwan dari generasi ke generasi terus aktif melakukan pengembangan dan pembaruan gagasan, selama itu pula peluang revolusi perkembangan ilmu pengetahuan terus berlangsung. Salah satu ciri utama “konstruk” ilmu pengetahuan yang diciptakan Kuhn beserta aktivitas ilmiahnya adalah tidak mengabaikan peranan sejarah ilmu. Menurutnya, mempelajari sejarah ilmu pengetahuan tak akan bisa lepas dari memahami dua “istilah” penting. Yakni, pertama discovery yang artinya kebaruan fakta atau penemuan. Lalu yang kedua invention, artinya kebaruan teori atau penciptaan. Di mana menurut Kuhn “penemuan-penemuan” (discovery) sebagai salah satu unsur pembangunan ilmu pengetahuan bukanlah peristiwa-peristiwa yang dapat diabaikan begitu saja.(13) Bagaimanapun sebagian besar penciptaan (invention)(14) teknologi sekarang ini bisa ada karena berkat adanya sejarah ilmu pengetahuan terdahulu. Walaupun sebagian besar penemuan ilmuwan terdahulu sifatnya masih dasar. Dengan kata lain penciptaan (invention) merupakan bagian dari tahap-tahap pengembangan atau lebih tepatnya “pergeseran” yang berasal dari penemuan (discovery) sebelumnya. Dimana “struktur” pentahapannya selalu berulang dan berpola sama. Yakni, antara discovery dan invention terjadi keterjalinan yang sangat erat. Akhirnya, melalui konsep The Structure of Scientific Revolutions, sesungguhnya perkembangan ilmu pengetahuan menemui jalan terjal. Selama ini ilmuwan menyembah ilmu pengetahuan dengan metode ilmiah yang seakan tak terbantah dan sudah mapan. Kini, dengan nomenklatur “paradigma” milik Kuhn ilmuwan bisa menghargai subjektifitas. Yakni, dimungkinkan bagi ilmuwan untuk mengungkapkan bias dan memodifikasi model. (15) Oleh karena itu, menurut kacamata Kuhnian(16) bahwa klaim kebenaran pada satu teori yang diyakini “abadi” dan tak tergoyahkan tidaklah tepat. Bagaimanapun suatu saat pasti akan ada revolusi (penjungkirbalikan) ilmu pengetahuan. (12) Wonorajardjo, Dasar-dasar Sains:, hlm.119 (13) Thomas S. Kuhn, The Structure of, terj. Tjun Surjaman, hlm. 52. (14) Perbedaan Invetioan dengan Discovery adalah pada hak paten atau hak ciptanya. Di mana untuk discovery tidak bisa diurus hak patennya karena secara asali “produk” yang ditemukan tersebut sudah tersedia di alam. Sedangkan invention bisa diurus hak patennya karena “produk” itu adalah murni dari hasil intelektual penciptanya. Secara detail, kata Invention diserap oleh bahasa Indonesianya menjadi “invensi.” Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia kata invensi memiliki arti “penciptaan atau perancangan sesuatu yang sebelumnya tidak ada; reka cipta.” Lihat, Kamus Besar Bahasa, didownload tanggal 25 Juli 2019. (15) Anonim, “Thomas S. Kuhn,” dalamhttp://www.goodreads.com/review, diakses tanggal 26 Juli 2019. (16) Khunian adalah sebutan bagi siapa saja yang menjadi pendukung bahkan pengikut filsafat yang dicanangkan Thomas Samuel Kuhn. 9. Batas-batas ilmu (demarkasi) antara yang empiris dengan yang metafisis. a. Empiris, kata emperisisme berasal dari bahasa Yunani dari akar kata empeiria kemudian diadopsi ke dalam bahasa Latin menjadi expe-rientia yang berarti pengalaman. Emperisisme adalah suatu ajaran yang mengatakan bahwa sumber dari semua pengetahuan adalah pengalaman. Aliran ini dikontraskan dengan rasionalisme yang ber-pandangan bahwa sumber dari semua pengetahuan adalah akal budi. Untuk memahami lebih jauh doktrin ini, perlu diketahui ciri pokoknya mengenai teori tentang makna dan teori tentang pengetahuan. Namun perlu dicatat bahwa emperisisme juga mengakui adanya pengalaman batin yang diperoleh melalui apa yang disebut oleh John Locke sebagai innersense (penginderaan dalam). David Hume mempertegas teori ini dengan cara membedakan antara ide dan kesan. Semua ide yang kita miliki, demikian Hume datang dari kesan-kesan, dan kesan-kesan itu mencakup penginderaan, passion dan emosi. Tentang teori pengetahuan ini, dapat dikemukakan sebagai berikut: menurut aliran rasionalis, ada bebe-rapa kebenaran umum seperti setiap kejadian tentu mempunyai sebab, dasar-dasar matematika dan beberapa dasar etika, dan kebenaran-kebenaran itu benar dengan sendirinya yang dikenal dengan kebenaran apriori yang diperoleh melalui intuisi rasional. Emperisisme menolak pendapat ini. Menurut emperisisme, tidak ada kemampuan intuisi rasional itu. Semua kebenaran yang disebut tadi adalah kebenaran yang diperoleh melalui observasi, jadi ia adalah kebenaran aposteriori. Dari uraian tersebut dapat dikatakan bahwa emperisisme muncul sebagai aliran yang berusaha menentang pandangan rasionalisme yang sangat mengagungkan akal dan tidak terlalu mementingkan unsur-unsur yang sifatnya empiris. Perlu dicatat bahwa perkembangan filsafat Barat senantiasa diwarnai dengan dialektika mengikuti pemikiran para tokoh yang sangat dinamis sepanjang sejarah perkembangannya, yang kalau dirunut ke belakang sudah terlihat pada masa-masa awal kemunculan filsafat itu sendiri. Sejak terjadinya polemik antara Heraktilos dan Permanides dengan pandangan mereka yang satu sama lain saling bertentangan, kemudian diikuti oleh para pengikut masing-masing tokoh tersebut, cikal bakal perkembangan filsafat mulai tampak dengan jelas. Heraklitos dengan pandangannya bahwa segala sesuatu berasal dari api dan sesuai dengan sifat api yang selalu berubah-ubah, tidak pernah tetap, maka segala sesuatu juga selalu berubah-ubah, tidak ada yang tetap, semuanya berubah, selalu mengalir dan satu-satunya yang tetap adalah perubahan itu sendiri. Sementara itu Permanides mengemukakan pandangan yang sebaliknya yaitu bahwa pada dasarnya hakikat adalah satu dan tetap, tidak ada yang berubah. Apa yang kelihatan berubah tidak lebih dari persepsi para pengamatnya semata. Pertentangan kedua tokoh ini, meskipun pada dasarnya mempersoalkan tentang hakikat tetapi dalam polemik itu tersirat dua pendekatan berbeda yang digunakan keduanya. Heraklitos mengemukakan pandangannya melalui pendekatan empiris sementara Permanines mengemukakan pandangannya melalui pendekatan rasio. Di sini mulai muncul persoalan epistemologi utamanya ukuran-ukuran mengenai sumber pengetahuan yang paling dapat dipercaya. Pertentangan dan polemik semacam ini terus menerus mewarnai dinamika perkembangan filsafat di dunia Barat sampai sekarang ini. Pertentangan demi pertentangan yang terjadi tidak pernah menghambat laju perkembangan ilmu pengetahuan, tapi malah sebaliknya justeru menciptakan dinamika dalam persaingan yang semakin intens. Berbeda dengan apa yang terjadi dalam dunia Islam yang sangat diwarnai oleh persoalan kalam dan fiqh dengan klaim-klaim kebenaran di masing-masing pihak yang selalu dikait-kan dengan dogma kebenaran yang seringkali melahirkan terma-terma yang sangat mengerikan seperti kafir, fasik, munafik dan se-bagainya yang tidak jarang menjadi momok tersendiri bagi para pemikir Islam. Emperisisme yang menjadi kajian pokok dalam tulisan ini tidak bisa dilepaskan dari proses dialektika yang berkembang dalam pemikiran para filosof Barat. Secara sederhana emperisisme muncul sebagai jawaban terhadap aliran rasionalisme yang muncul sebelumnya utamanya yang berkembang di Perancis yang dimotori oleh Rene Descartes. Di samping itu emperisisme Davis Hume juga merupakan reaksi terhadap kaum Deis Katolik Anglikan yang mendasarkan pandangannya pada aksioma-aksioma universal seperti hukum kausalitas yang dianggap mampu memberi pemahaman kepada manusia akan eksistensi Tuhan dan alam. Emperisisme David Hume juga sekaligus merupakan jawaban atas emperisisme itu sendiri, utamanya emperisisnme Locke dan Berkeley. b. Metafisika Istilah metafisika telah dipergunakan sejak lama di Yunani untuk menunjukkan karya-karya tertentu dari Aristoteles. Meta-fisika dari kata metataphysika yang berarti “hal-hal yang terdapat setelah fisika”. Aristoteles mendefinisikannya dengan ilmu pengetahuan mengenai yang ada sebagai yang ada yang dilawankan mi-salnya dengan yang ada sebagai yang digerakkan atau yang ada sebagai tambahan. Istilah metafisika digunakan baik untuk menunjukkan filsafat pada umumnya maupun untuk menunjukkan suatu cabang filsafat yang membicarakan tentang masalahmasalah hakikat segala sesuatu yang ada di balik fisika. Metafisika (dalam pengertian yang sempit) mendapat tem-pat yang istimewa di masa abad pertengahan yang didominasi oleh oleh para pemikir dari kelompok agamis (gereja) demikian pula di kalangan pemikir Islam yang mencoba mencari dalil-dalil akli untuk menguatkan pandangan wahyu tentang keberadaan Tuhan dan hal-hal lain yang bersifat gaib. Karena itu ciri khas filsafat abad pertengahan didominasi oleh pandangan-pandangan yang sangat abstrak dan para pemikir sibuk memperdebatkan detail-detail suatu konsep dan melupakan kehidupan nyata yang secara riil dihadapi oleh manusia. Perkembangan filsafat di Barat pernah mengalami masa yang kelam yaitu masa abad pertengahan yang diwarnai oleh dominannya pemikiran tentang hal-hal yang abstrak dan dianggap sebagai abad yang menggelisahkan sekaligus juga mengasikkan bagi intelektual masa itu yang sangat didominasi oleh pola pikir teologis dan metafisis dan telah mencapai tingkat apa yang disebut oleh Bambang Sugiharto “state of the artnya”, sedemikian sehinga perbincangan saat itu menjadi amat rinci dan canggih, namun sekaligus juga abstrak, nyinyir dan mengawang-awang. Patrarca dengan sinis melukiskan para teolog sebagai orang yang sibuk mengamati pepohonan tetapi melupakan hutan secara keseluruhan. Mereka sibuk berdebat menganai detail-detail suatu konsep tetapi me- lupakan hakikat religi dan kehidupan yang menyeluruh dan men-dalam. Hal ini menjadi salah satu faktor yang melatarbelakangi munculnya renaissans yang dianggap sebagai babakan baru filsafat menuju masa modern. Salah satu perbedaan penting antara filsafat abad pertengahan dengan filsafat zaman renaissans adalah adalah pada masa abad pertengahan para pemikir (filosof) mencurahkan perhatiannya yang sangat dominan kepada hal-hal yang abstrak dan kepada pengerti-an-pengertian (konsep) dan sedikit sekali memberi perhatian pada hal-hal yang konkrit. Perhatian yang sungguhsungguh terhadap hal-hal yang konkrit baru diberikan pada masa renaissans. Perhatian ini ditujukan kepada alam semesta. Kepada manusia, kepada kemanusiaan dan kepada sejarah. Pada masa renaissans, orang mulai menyadari akan nilai pribadinya dan kekuatan dirinya sendiri. Dalam bidang filsafat, para pemikir para pemikir berpendapat bahwa tidak perlu ada ikatan sedikitpun kepada wibawa apapun atau keyakina bersama. Kebenaran harus dicapai dengan kekuatan sendiri. Orang harus menentukan sendiri apa yang harus diselidiki. Pada masa itu, muncul para tokoh yang berusaha membangkitkan kembali semangat Yunani Kuno dengan memberi otoritas pada kemampuan manusia untuk mencari kebenaran dan membebaskan diri dari belenggu dogmatis gereja abad pertengahan. Pada masa-masa setelah renaissans inilah muncul aliran-aliran filsafat yang beraneka ragam yang bukan hanya berbeda antara satu de-ngan lainnya tetapi malah ada yang saling kontradiktif. Munculnya rasionalisme yang dipelopori oleh Rene Descartes dengan pandangan bahwa akal atau rasio adalah alat yang paling ampuh untuk dapat mencapai kebenaran. Aliran ini kemudian mendapat serangan dari aliran emperisisme yang dipelopori oleh John Locke, Berkley dan David Hume. Aliran ini memilih pandangan yang berlawanan dengan pandangan rasionalisme dengan mengatakan bahwa alat yang paling ampuh untuk bisa sampai kepada kebenaran adalah de-ngan melalui pengalaman dan akal hanya berfungsi untuk meru-muskan apa telah diperoleh melalui pengalaman tersebut. Aliran ini juga berpendapat bahwa manusia lahir ke dunia ini tidak dengan membawa apa-apa tetapi seperti kertas putih yang siap diisi oleh apa saja sesuai dengan apa yang diperolehnya dari pengalaman. Di sinilah muncul teori John Locke dengan tabula rasa, yaitu suatu teori yang mengatakan bahwa manusia lahir ke dunia ini dalam keadaan kosong dan pengalamannyalah di dunia ini yang akan mengisi kekosongan itu. Terlihat dari sisi-sisi metafisika dari salah seorang tokoh emperisisme yang sangat konsisten terhadap alirannya yaitu David Hume. Apakah dia masih mengakui unsur-unsur yang sifatnya metafisis atau tidak, dengan terlebih dahulu mengemukakan sekilas tentang emperisisme itu sendiri, kemudian David Hume sebagai tokoh sentral dalam aliran ini dilanjutkan dengan pandangan-pandangan filsafatnya.(17) c. Tokoh Fisikawan(18) Albert Einstein (14 Maret 1879–18 April 1955) adalah seorang ilmuwan fisika teoretis yang dipandang luas sebagai ilmuwan terbesar dalam abad ke-20. Dia mengemukakan teori relativitas dan juga banyak menyumbang bagi pengembangan mekanika kuantum, mekanika statistik, dan kosmologi. Dia dianugerahi Penghargaan Nobel dalam Fisika pada tahun 1921 untuk penjelasannya tentang efek fotoelektrik dan “pengabdiannya bagi Fisika Teoretis”. d. Tokoh Biolog(19) Gregor Johann Mendel adalah seorang ilmuan yang lahir di Hyncice Heinzendorf bei Odrau, Kekaisaran Austria, pada 20 Juli 1822 dan wafat di Brno, Kekaisaran Austria-Hungaria, pada 6 Januari 1884 di usia 61 tahun. Ia disepakati sebagai “Bapak Pendiri Genetika”. Ia adalah seorang rahib katolik yang juga mengajar di sekolah. Rasa ingin tahunya yang tinggi menuntunnya untuk melakukan pekerjaan persilangan dan pemurnian tanaman Ercis. Melalui percobaannya ini, ia menyimpulkan sejumlah aturan atau hukum mengenai pewarisan sifat yang dikenal dengan nama Hukum Pewarisan Mendel. Kesimpulan dari uraian di atas empirisme dan metafisis dalam pandangan batasan-batasan terebut kita mengetahui bahwa ada perbedaan yang mendasar dan tidak bisa dipisahkan dari keduanya. (17) Rievaz. (2007). Problem Metafisika Empirisme (Studi Terhadap Filsafat David Hume. Tersedia https://rievaz.wordpress.com/2007/12/27/problem- metafisika-emperisisme-studi-terhadap-filsafat-david-hume/. Di Akses: 25 Juli 2019. [Pukul 19.05 (18) https://tobahillsboy.wordpress.com/2014/04/17/tokoh-tokoh-fisika/ (19) http://biologiini.blogspot.com/2017/10/tokoh-tokoh-ilmuan-biologi-paling.html 10. perspektif yang mungkin dapat mempengaruhi perkembangan peserta didik dalam perkembangannya. Persepektif dari prestasi belajar peserta didik dapat meningkat dan dapat menurun. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor. Syah (2014: 129)(20) berpendapat bahwa prestasi belajar dapat dipengaruhi oleh: a. Faktor internal peserta didik, yaitu faktor yang berasal dari dalam diri peserta didik sendiri. Faktor internal peserta didik meliputi dua aspek, yaitu: 1) Aspek fisiologis. Kondisi umum jasmani dan tegangan otot (tonus) yang menandai tingkat kebugaran organ-organ tubuh dan sendisendinya dapat mempengaruhi semangat dan identitas peserta didik dalam mengikuti pelajaran. Kondisi organ tubuh yang lemah apalagi jika disertai pusing kepala berat misalnya, dapat menurunkan kualitas ranah cipta (kognitif) sehingga materi yang dipelajaripun kurang atau tidak berbekas. Untuk mempertahankan tonus jasmani agar tetap bugar, peserta didik sangat dianjurkan mengkonsumsi makanan dan minuman yang bergizi. 2) Aspek psikologis Aspek psikologis ini meliputi: (1)Tingkat kecerdasan atau intelegensi peserta didik. Tingkat kecerdasan atau intelegensi (IQ) peserta didik sangat menentukan keberhasilan belajar peserta didik. Semakin tinggi kemampuan intelegensi peserta didik maka semakin besar pula peluang untuk meraih sukses. (2)Sikap peserta didik, yaitu gejala internal yang berdimensi afektif berupa kecederungan untuk mereaksi atau merespon (response tendency) dengan cara yang relatif tetap terhadap objek orang, dan sebagainya baik secara positif maupun negatif. (3)Bakat peserta didik, yaitu kemampuan potensial yang dimiliki seseorang untuk keberhasilan pada masa yang akan datang. Setiap orang memiliki bakat memiliki bakat dalam arti berpotensi untuk mencapai prestasi sampai ke tingkat tertentu sesuai dengan kapasitas masing-masing. (4)Minat peserta didik, yaitu kecenderungan dan kegairahan yang tinggi atau keinginan besar terhadap sesuatu. (5)Motivasi peserta didik, yaitu suatu dorongan yang dapat membuat anak melakukan kegiatan belajar dengan lebih baik. b. Faktor eksternal peserta didik 1) Faktor lingkungan sosial (1)Sekolah, meliputi pendidik, para staf administrasi, dan temanteman sekelas dapat mempengaruhi semangat belajar seorang peserta didik. (2)Masyarakat, yaitu tetangga dan teman-teman yang sepermainan. (3)Keluarga, meliputi sifat-sifat orang tua, praktik pengelolaa keluarga, dan ketegangan keluarga. 2) Faktor lingkungan non sosial, meliputi gedung sekolah, dan letaknya, rumah tempat tinggal dan letaknya, alat-alat belajar, keadaan cuaca, serta waktu belajar yang digunakan peserta didik. 3) Faktor pendekatan belajar, yaitu keefektifan segala cara atau strategi yang digunakan peserta didik dalam menunjang efektivitas dan efisiensi proses belajar materi tertentu. Faktor yang dapat mempengaruhi prestasi belajar peserta didik ada 2 diantaranya faktor internal dan eksternal. Faktor internal mencakup dua aspek yaitu aspek fisiologis dan psikologis. Aspek fisiologis meliputi fisik atau jasmani peserta didik. Kebugaran fisik peserta didik berpengaruh dalam proses pembelajaran. Kondisi fisik yang lemah akan membuat proses pembelajaran peserta didik tidak fokus atau terganggu, sehingga materi pelajaran yang disampaikan tidak dapat dipahami dengan baik. Aspek psikologis meliputi tingkat kecerdasan peserta didik, sikap peserta didik, bakat peserta didik, minat peserta didik, dan motivasi peserta didik. Semakin tinggi kecerdasan peserta didik, kesuksesan proses pembelajaran akan semakin mudah tercapai. Reaksi atau respon peserta didik terhadap pembelajaran harus tinggi. Potensi yang dimiliki peserta didik lebih ditekankan dalam proses pembelajaran, agar materi pembelajaran yang disampaikan dapat tersampaikan sesuai kemampuan masing-masing. Proses pembelajaran harus membuat gairah yang tinggi terhadap peserta didik, pendidik memberikan dorongan yang membuat proses pembelajaran lebih baik. Faktor eksternal mencakup lingkungan sosial, non sosial dan pendekatan belajar. Fktor lingkungan sosial meliputi sekolah yang di dalamnya ada pendidik, karyawan, dan teman-teman peserta didik yang saling memberikan pengaruh. Faktor non sosial meliputi tempat atau letak, seperti gedung sekolah, tempat tinggal, alat belajar, keadaan cuaca, dan waktu belajar yang digunakan peserta didik, gedung sekolah, tempat tinggal, dan alat belajar harus memadai sesuai kebutuhan proses pembelajaran. Cuaca yang bagus mendukung terlaksananya pembelajaran dengan baik, sebaliknya cuaca yang buruk akan menghambat pembelajaran serta waktu belajar peserta didik harus diimbangi dengan istirahat yang cukup. (20) Syah, M. (2014). Psikologi Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya 11. contoh masalah pendidikan yang didekati dengan pendekatan kuantitatif dan masalah pendidikan yang didekati dengan pendekatan kualitatif. a. Metode penelitian kuantitatif dilakukan untuk mngukur satu atau lebih variable penelitian. Lebih dari itu penelitian kuantitatif dilakukan untuk mengukur hubungan atau korelasi atau pengaruh antara dua variabel atau lebih. Metode penelitian kuantitatif Permasalahan penelitiannya adalah menanyakan tentang tingkat pengaruh atau keeratan hubungan antara dua variabel atau lebih Penelitian muantitatif dilakukan untuk menguji teori yang sudah ada yang dipilih oleh peneliti Metode penelitian kuantitatif memfungsikan teori sebagai titik tolak menemukan konsep yang terdapat dalam teori tersebut, yang kemudian dijadikan variabel. Penelitian kuantitatif menggunakan hipotesis sejak awal ketika peneliti telah menetapkan teori yang digunakan. Penelitian kuantitatif lebih mengutamakan teknik pengumpulan data kuesioner. Penelitian kuantitatif penyajian datanya berupa table distribusi pilihan jawaban para responden yang ditentukan oleh peneliti berupa angka. Penelitian kuantitatif menggunakan prespektif etik, yaitu data yang dikumpulkan dibatasi atau ditentukan oleh peneliti dalam hal pilihan indicator atau atribut variabel bai jumlah maupun jenisnya. Metode penelitian kuantitatif menggunakan definisi operasionalisasi kerana hendak mengukur variabel, karena definisi operasional pada dasarna merupakan petunjuk untuk mengukur variabel Penelitian kuantitatif penentu ukuran jumlah responden atau sampel dengan menggunakan presentase, rumus atau table populasi-sampel, sebagai penerapan prinip keterwakilan. Peneliti kuantitatif menggunakan alur penarikan kesimpulan berproses secara deduktif, yaitu konsep, variabel ke data. Metode penelitian kuantitatif instrument penelitiannya berupa kuesioner atau angket, yang juga berfungsi sebagai teknik pengumpulan data Analisis yang digunakan dalam penelitian kuantitatif dilakukan setelah data terkumpul, dengan menggunakan perhitungan angka-angka atau analisis statistic. Penelitian kuantitatif kesimpulannya berupa timgkat hubungan antar variabel, sedangkan dalam penelitian kualitatif kesimpulannya berupa temuan konsep yang tersembunyi di balik data rinci berdasarkan interpretasi atau kesepakatan dari para responden atau informan. b. Metode kualitatif berlatar alamiah (penelitian dilakukan pada situasi alamiah dalam suatu keutuhan) Manusia sebagai alat (Manusia/peneliti merupakan alat pengumpulan data yang utama) Metode kualitatif menganalisa data secara induktif (mengacu pada temuan lapangan) Teori dari dasar/grounded theory (menuju pada arah penyusunan teori berdasarkan data) Deskriptif (data yang dikumpulkan berupa kata-kata, gambar dan bukan angka-angka) Lebih mementingkan proses daripada hasil Adanya batas yang ditentukan oleh fokus (perlunya batas penelitian atas dasar fokus yang timbul sebagai masalajh dalam penelitian) Adanya kriteria khusus untuk keabsahan data (punya versi lain tentang validitas, reliabilitas dan obyektivitas) Desain yang bersifat sementara (desain penelitian terus berkembang sesuai dengan kenyataan lapangan) Hasil penelitiaan dirundingkan dan disepakati bersama (hasil penelitian dirundingkan dan disepakati bersama antar peneliti dengan sumber data). (21) (21) https://nilamarifani.wordpress.com/2013/06/26/ciri-ciri-metode-penelitiankualitatif-dan-kuantitatif/

Judul: Jawaban Uas Filsafat Ilham (1820110026)

Oleh: Ilham Aji Asmara


Ikuti kami