Jawaban Uas Filsafat Ilham (1820110026)

Oleh Ilham Aji Asmara

19 tayangan
Bagikan artikel

Transkrip Jawaban Uas Filsafat Ilham (1820110026)

UAS
FILSAFAT ILMU

Diajukan kepada Dosen Pengampu
Mata Kuliah Filsafat Ilmu
Dr. Y. Suyitno, M.Pd
Oleh:
ILHAM AJI ASMARA DEWA
1820110026

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DASAR
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOKERTO
TAHUN 2019

SOAL UAS FILSAFAT ILMU
PRODI PENDIDIKAN DASAR PASCASARJANA UMP (S2) 2019
Dosen Pengampu: Dr. Y. Suyitno M.Pd
A. Petunjuk:
1. Jawablah soal-soal berikut dengan disertai DAFTAR PUSTAKA pada
akhir jawaban dan sumber rujukan lainnya,
2. Jawaban ditik dg jarak 1,5 spasi, huruf font 12,
3. Jawaban diserahkan dalam bentuk hard copy, dengan cover judul jawaban
UAS Filsafat Ilmu, nama, nim, prodi, tahun angkatan, pada tgl. 27 Juli
2019 dikirim dalam 1 paket kelas, ke Alamat: Dr. Y. Suyitno, M.Pd Jl.
Lembursawah no 12 RT 02/12 Utama Cimahi Selatan Cimahi, dan secara
individual menyampaikan ke alamat email: suyitno.y@gmail.com
4. Bila ada yang masih belum menyerahkan tugas makalah, diserahkan
bersama jawaban UAS.
B. Soal-soal
1. Apa yang dimaksud dengan Filsafat Ilmu? Apa tujuan belajar Filsafat
Ilmu, mengapa belajar Filsafat Ilmu, dan apa manfaat belajar Filsafat
Ilmu?
2. Jelaskan implikasi kajian ontologi, epistemologi, dan aksiologi dari Ilmu
Pendidikan
terhadap
rumusan
tujuan
pendidikan,
isi
pendidikan/kurikulum,
dan
terhadap
metode
dan
strategi
pendidikan/pembelajaran.
3. Coba jelaskan apa beda pendekatan deduktif dan induktif dalam riset
pendidikan?
4. Apa beda perseptual dan konseptual, dan fakta dan data dalam pengamatan
terhadap suatu obyek, berikan contoh secara konkrit.
5. Pendekatan Induktif versus pandangan ilmu gabungan Deduktif hipotetis
menjadi sebuah alternatif bagi ilmuwan untuk memilih mana yang paling
tepat. Coba jelaskan dari kedua pendekatan tadi secara gamblang/jelas.
6. Apa yang dapat dimanfaatkan dari prinsip ruang dan waktu terhadap hasil
riset kita? Khususnya tentang ukuran validitas dan reliabilitas.
7. Apa isi dari sebuah ilmu? Coba uraikan secara detail sehingga dapat
difahami struktur dari sebuah ilmu.
8. Menurut Thomas Khun perkembangan sebuah ilmu itu mengalami
beberapa tahapan, sampai ilmu itu dapat digunakan sebagai landasan
operasional dalam riset. Coba anda uraikan dari tahap awal samapi akhir
perkembangan ilmu tersebut.
9. Bagaimana batas-batas ilmu (demarkasi) antara yang empiris dengan yang
metafisis? dan berikan contoh menurut beberapa tokoh fisikawan dan
biolog tentang kehidupan.

10. Dewasa ini perkembangan ilmu sudah mencapai tingkat yang
terspesialisasi begitu ragam, sehingga untuk menganalisis permasalahan
perkembangan peseta didik tidak hanya dilihat dari perspektif hasil belajar
saja. Coba perspektif apa saja yang mungkin dapat mempengaruhi
perkembangan peserta didik dalam perkembangannya secara lengkap.
11. Berikan contoh masalah pendidikan yang didekati dengan pendekatan
kuantitatif dan masalah pendidikan yang didekati dengan pendekatan
kualitatif? Berikan contoh hasil-hasil penelitian dari kedua pendekatan
tersebut!
12. Selamat bekerja. Tidak ada plagiasi. Jika terjadi plagiasi/peniruan, maka
dapat mengikuti kuliah tahun depan. Berikan daftar rujukan secara
lengkap.

JAWABAN UAS
Nama

: Ilham Aji Asmara Dewa, S. Pd

NIM

: 1820110026

Jenjang

: S2 (Magister)

Program Studi

: Pendidikan Dasar

Mata Kuliah

: Filsafat Ilmu

Dosen

: Dr. Y. Suyitno, M. Pd

1. Apa yang dimaksud dengan Filsafat Ilmu? Apa tujuan belajar Filsafat Ilmu,
mengapa belajar Filsafat Ilmu, dan apa manfaat belajar Filsafat Ilmu?
a. Filsafat ilmu adalah kata filsafat berasal dari kata arab yang berhubungan
rapat dengan kata Yunani, bahkan asalnya memang dari kata Yunani. Kata
Yunaninya ialah philosophin. Dalam bahasa Yunani kata philosophia
merupakan kata majemuk yang terdiri atas philo dan shopia; philo artinya
cinta dalam arti luas, yaitu ingin, dan karena itu lalu berusaha mencapai
yang diinginkan itu; sophia artinya kebijakan yang artinya pandai,
pengertian yang mendalam. Jadi menurut namanya saja filsafat boleh
diartikan ingin mencapai pandai, cinta pada kebijakan.
Jadi, berdasarkan kutipan tersebut dapatlah diketahui bahwa dari segi
bahasa, filsafat ialah keinginan yang mendalam untuk mendapat kebijakan,
atau keinginan mendalam untuk menjadi bijak. Sedangkan berdasarkan dari
segi istilah menurut Poedjawijatna dalam Tafsir (2016: 10)(1) mendefinisikan
filsafat sebagai sejenis pengetahuan yang berusaha mencari sebab yang
sedalam-dalamnya bagi segala sesuatu berdasarkan fikiran belaka.
b. Tujuan belajar filsafat ilmu(2):
1) seseorang/peneliti dapat memahami persoalan ilmiah dengan melihat ciri
dan cara kerja setiap ilmu atau penelitian ilmiah dengan cermat dan
kritis.

2) seseorang/peneliti dapat melakukan pencarian kebenaran ilmiah dengan
tepat dan benar dalam persoalan yang berkaitan dengan ilmunya (ilmu
budaya, ilmu kedokteran, ilmu teknik, ilmu keperawatan, ilmu hukum,
ilmu sosial, ilmu ekonomi dan sebagainya) tetapi juga persoalan yang
menyangkut seluruh kehidupan manusia, seperti: lingkungan hidup,
peristiwa sejarah, kehidupan sosial politik dan sebagainya.
3) Seseorang/peneliti dapat memahami bahwa terdapat dampak kegiatan
ilmiah (penelitian) yang berupa teknologi ilmu (misalnya alat yang
digunakan oleh bidang medis, teknik, komputer) dengan masyarakat
yaitu berupa tanggung jawab dan implikasi etis. Contoh dampak tersebut
misalnya masalah euthanasia dalam dunia kedokteran masih sangat
dilematis dan problematik, penjebolan terhadap sistem sekuriti
komputer, pemalsuan terhadap hak atas kekayaaan intelektual (HAKI) ,
plagiarisme dalam karya ilmiah.
c. Mengapa belajar filsafat ilmu:
Sebagai seorang kita harus mempelajari filsafat ilmu agar dapat
mengembangkan semangat toleransi dalam perbedaan pandangan, mampu
membiasakan diri untuk bersikap logis-rasional Opini & argumentasi,
mampu berpikir secara cermat dan tidak kenal lelah, serta mampu
membiasakan

diri

untuk

bersikap

kritis.

Sebagai

manusia

yang

bermasyarakat, mahasiswa juga harus bisa menerapkan apa yang telah
dipelajarinya dalam filsafat ilmu. Mahasiwa dituntut untuk tidak hanya
pandai dalam teori saja tapi harus bisa mempraktekannya langsung dalam
masyarakat.
d. Manfaat belajar filsafat ilmu(3):
Manfaat lain dari belajar filsafat adalah belajar filsafat secara
mendalam akan membentuk kemandirian secara intelektual, membangun
sikap toleran tehadap perbedaan sudut pandang dan membebaskan dari
jeratan dogmatisme. Hal ini dapat dipahami seperti ini. filsafat dapat
membentuk seorang pembelajar untuk berpikir kritis berarti kita tidak
menerima begitu saja suatu pendapat yang didasarkan pada otoritas, serta

selalu mempertanyakan asumsi-asumsi yang terdapat dalam penjelasan atau
alasan yang dikemukakan (membebaskan dari jeratan dogmatisme). Inti
filsafat adalah membentuk pemikiran dan bukan sekedar mengisi kepada
kita dengan fakta-fakta atau informasi-informasi. Berfilsafat berarti
menyusun dan mempertahankan keyakinan-keyakinan yang kita miliki
dengan menggunakan argumentasi yang rasional. Filsafat membawa kita
pada pemahaman (kemandirian secara intelektua), dan pemahaman itu dapat
membawa kita untuk bertindak lebih layak (toleran terhadap perbedaan
sudut pandang). Beberapa manfaat filsafat ilmu adalah:
1) Sebagai

sarana

pengujian

penalaran

ilmiah,

sehingga

menjadi

kritis terhadap kegiatan ilmiah.
2) Merupakan metode untuk merefleksi, menguji, mengkritisi memberikan
asumsi keilmuan.
3) Memberikan pendasaran logis terhadap metode keilmuan.
(1)

Tafsir, A. (2016). Filsafat Umum Akal dan Hati Sejak Thales Sampai Capra.
Bandung: PT Remaja Rosdakarya

(2)

Anita

puspa

dewi.

(2016).

Tujuan

belajar

filsafat

ilmu.

http://anitapuspadewi15.blogspot.com/2016/12/tujuan-belajar-filsafatilmu.html
(3)

Yanto, A.R. (2017). Tujuan belajar filsafat ilmu, fungsi dan arah filsafat ilmu.
Tersedia

http://allahselaluuntukmu.blogspot.com/2017/05/tujuan-belajar-

filsafat-ilmu-fungsi-dan.html. Di Akses: 25 Juli 2019. [Pukul 17.00 WIB]

2. Jelaskan implikasi kajian ontologi, epistemologi, dan aksiologi dari Ilmu
Pendidikan terhadap rumusan tujuan pendidikan, isi pendidikan/kurikulum, dan
terhadap metode dan strategi pendidikan/pembelajaran.
Implikasi ontologi, epistemologi, dan aksiologi sebagai berikut.
Menurut Jalaluddin & Idi (2002: 144-149) (4) ontologi adalah bagian
filsafat yang menyelidiki tentang hakikat yang ada. Epistemologi adalah studi
tentang pengetahuan atau kita mengetahui (adanya) benda-benda, epistemologi

dapat juga berarti bidang filsafat yang menyelidiki sumber, syarat, proses
terjadinya ilmu pengetahuan, batas validitas dan hakikat ilmu pengetahuan.
Aksiologi adalah bidang filsafat yang menyelidiki nilai-nilai (value).
Wina Sanjaya (2009)(5) mengemukakan, paling tidak ada empat fungsi
filsafat dalam pengembangan kurikulum yang di dalamnya terdapat
perencanaan dan implementasi kurikulum, yaitu pertama, filsafat dalam
menentukan arah dan tujuan pendidikan. Kedua, filsafat dapat menentukan isi
atau materi pelajaran yang harus diberikan sesuai dengan tujuan yang ingin
dicapai. Ketiga, filsafat dapat menentukan strategi atau cara pencapaian tujuan.
Keempat, melalui filsafat, dapat ditentukan bagaimana menentukan tolak ukur
keberhasilan proses pendidikan.
Filsafat sebagai suatu landasan yang fundamental, filsafat memegang
peranan

penting

dalam

merumuskan

tujuan

pendidikan,

isi

pendidikan/kurikulum serta metode dan strategi pendidikan. Tujuan pendidikan
seperti yang dirumuskan dalam undang-undang Undang-undang RI Nomor 20
Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional beserta peraturan peraturan
pemerintah mempunyai dasar filosofis yang menggambarkan cita-cita negara.
Isi pendidikan atau bahan/materi kurikulum adalah isi atau muatan
kurikulum yang harus dipahami dalam upaya mencapai tujuan kurikulum. Isi
pendidikan bahan/materi kurikulum berhubungan dengan pertanyaan filosofis
tentang: apakah yang harus diajarkan dan dipahami siswa? Materi kurikulum
merupakan salah satu komponen dalam pengembangan kurikulum yang
berhubungan dengan pengalaman belajar yang harus dimiliki siswa. Isi
kurkulum itu menyangkut semua aspek baik berhubungan dengan pengetahuan
atau materi pelajaran maupun kegiatan siswa. Materi kurikulum harus
bersumber pada tiga hal yaitu, masyarakat beserta budayanya, anak didik dan
ilmu pengetahuan (Wina, 2009: 114).
Strategi berkaitan dengan upaya yang harus dilakukan dalam rangka
pencapaian tujuan. Dengan kata lain strategi pembelajaran merupakan suatu
kegiatan pembelajaan yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan
pembelajaran dapat tercapai secara efektif dan efisien. Dengan demikian,

strategi pembelajaran dapat diartikan sebagai suatu perencanaan yang berisi
tentang rangkaian kegiatan yang didesain untuk mencapai tujuan pendidikan
tertentu.
Tujuan pendidikan, isi pendidikan/kurikulum, metode dan strategi
merupakan komponen pendidikan yan isinya terdapat landasan-landasan
filosofis pendidikan. Ada 3 teori kebenaran dalam filsafat yaitu ontologi
(mempelajari

teori

tentang

ada),

epistemoogi

(mempelajari

tentang

pengetahuan/teori pengetahuan, dan aksiologi (mempelajari teori tentang nilai).
Ketiga teori tersebut merupakan komponen dalam memyusun tujuan
pendidikan, isi pendidikan/kurikulum serta metode dan strategi pendidikan
yang ada.
(4)

Jalaluddin & Idi, A. (2002). Filsafat Pendidikan, Manusia, Filsafat dan
Pendidikan. Jakarta: Gaya Media Pratama

(5)

Sanjaya, W. (2009). Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Prenada Media
Group

3. Perbedaan pendekatan deduktif dan induktif dalam riset pendidikan.(6)
Perbedaan antara penelitian deduktif dan induktif berasal dari pendekatan
dan fokus mereka. Dalam semua disiplin ilmu, penelitian memainkan peran
penting, karena memungkinkan berbagai akademisi untuk memperluas
pengetahuan teoretis mereka tentang disiplin dan juga untuk memverifikasi
teori yang ada. Pendekatan deduktif dan induktif terhadap penelitian atau
penelitian deduktif dan induktif dapat dipahami sebagai jenis kategorisasi.
Kedua tipe ini berbeda satu sama lain. Penelitian deduktif berfokus pada
verifikasi teori, sedangkan penelitian induktif terutama berfokus pada
pengembangan teori baru. Inilah perbedaan utama antara dua jenis pendekatan
dalam penelitian penelitian.

Beberapa perbedaan antara pendekatan dalam penelitian deduktif dan
induktif
a. Pendekatan:
1) Proses penelitian deduktif dan induktif harus dipandang sebagai
pembalikan.
2) Penelitian deduktif menggunakan pendekatan top-down.
3) Penelitian induktif menggunakan pendekatan dari bawah ke atas.
b. Tujuan:
1) Penelitian deduktif bertujuan untuk memverifikasi teori.
2) Penelitian induktif bertujuan menghasilkan pengetahuan baru atau
menciptakan teori baru.
c. Pertanyaan Penelitian vs Hipotesis:
1) Dalam penelitian deduktif, hipotesis diuji.
2) Dalam penelitian induktif, peneliti terutama berfokus pada menemukan
jawaban atas pertanyaan penelitian.
d. Penggunaan:
1) Pendekatan deduktif sebagian besar digunakan dalam penelitian
kuantitatif yang sebagian besar berhubungan dengan angka.
2) Pendekatan induktif banyak digunakan dalam penelitian kualitatif yang
bertujuan untuk menemukan data deskriptif yang kaya.
e. Penggunaan Observasi:
1) Dalam penelitian deduktif, peneliti menggunakan observasi dengan
maksud untuk memvalidasi pola tersebut.
2) Dalam penelitian induktif, peneliti mencoba menemukan pola melalui
observasi.
(6)

https://id.betweenmates.com/difference-between-inductive-and-deductiveresearch-5995 Di Akses: 25 Juli 2019. [Pukul 17.06 WIB]

4. Perbedaan perseptual dan konseptual, dan fakta dan data dalam pengamatan
terhadap suatu obyek.
a. Menurut KBBI perseptual adalah perseptual berasal dari kata persepsi yang
berarti proses seseorang mengetahui beberapa hal melalui pancaindranya.
Perseptual jugaberarti kemampuan memahami dan menginterprestasikan
informasi sensori atau kemampuan intelek untuk mencarikan makna yang
diterima oleh panca indera. Contoh dari perseptual:

Melalui gamabar tersebut kita bisa lihat bahwa orang yang berada di
sebelah kiri mengatakan bahwa itu adalah angka 6 sedangkan orang yang
berada di sebelah kanan mengatakan angka 9. Setiap orang mempunyai
persepsi yang berbeda-beda, tergantung dari sisi mana kita melihat.
b. konseptual menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berasal dari kata konsep
yaitu rancangan; ide atau pengertian yang diabstrakkan dari peristiwa
konkret; gambaran mental dari objek, proses, atau apa pun yang ada di luar
bahasa, yang digunakan oleh akal budi untuk memahami hal-hal lain.
Konseptual diartikan sebagai hal-hal yang berhubungan dengan konsep.
Makna konseptual juga merupakan makna yang ada pada kata yang tidak
tergantuk pada konteks kalimat tersebut. Contoh konseptual:
Bunga memiliki makna konseptual bagian tumbuhan yang akan menjadi
buah, biasanya elok warnanya dan baunya harum.(7)
c. Fakta adalah apa yang membuat pernyataan itu betul atau salah. Suatu Fakta
adalah sesuatu yang ada, apakah setiap orang berfikir demikian atau tidak.
Pernytaan adalah adalah suatu fakta apakah itu benar atau salah, tetapi ia

mnenyatakan

suatu

fakta

bila

itu

benar.

Sebagai

contoh,

Saya

memperlihatkan suatu jadwal kereta yang berangkat jam 10, jika jadwal itu
benar, maka terdapat kereta api yang sungguh-sungguh pergi yang
merupakan suatu fakta. Dalam hal ini faktanya adalah benar jika sungguhsungguh ada kereta api.
d. Data adalah catatan atas kumpulan fakta. Data merupakan bentuk jamak dari
datum, berasal dari bahasa Latin yang berarti "sesuatu yang diberikan".
Dalam penggunaan sehari-hari data berarti suatu pernyataan yang diterima
secara apa adanya. Pernyataan ini adalah hasil pengukuran atau pengamatan
suatu variabel yang bentuknya dapat berupa angka, kata-kata, atau citra.
Data merupakan sesuatu yang belum mempunyai arti bagi penerimanya dan
masih memerlukan adanya suatu pengolahan. Data bisa berwujut suatu
keadaan, gambar, suara, huruf, angka, matematika, bahasa ataupun simbolsimbol lainnya yang bisa kita gunakan sebagai bahan untuk melihat
lingkungan, obyek, kejadian ataupun suatu konsep.
Dalam keilmuan (ilmiah), fakta dikumpulkan untuk menjadi data.
Data kemudian diolah sehingga dapat diutarakan secara jelas dan tepat
sehingga dapat dimengerti oleh orang lain yang tidak langsung
mengalaminya sendiri, hal ini dinamakan deskripsi. Pemilahan banyak data
sesuai dengan persamaan atau perbedaan yang dikandungnya dinamakan
klasifikasi.(8)
(8)

Andreas Rinangga http://andre-arsaa.blogspot.com/2011/05/fakta-dan-data.html
Di Akses: 26 Juli 2019. [Pukul 00.06 WIB]

5. Pendekatan Induktif versus pandangan ilmu gabungan Deduktif hipotetis
menjadi sebuah alternatif.(9)
a. Pendekatan induktif adalah cara berfikir untuk menarik kesimpulan dari
pengamatan terhadap hal yang bersifat partikular kedalam gejala-gejala
yang bersifat umum atau universal. Sehingga dapat dikatakan bahwa
penalaran ini bertolak dari kenyataan yang bersifat terbatas dan khusus lalu
diakhiri dengan statemen yang bersifat komplek dan umum. Generalisasi

adalah salah satu ciri yang paling khas dalam metode induksi. Hanya saja,
generalisasi di sini tidak berarti dengan mudahnya suatu proposisi yang
diangkat dari suatu individu dibawa untuk digeneralisasikan terhadap suatu
komunitas yang lebih luas. Justru, melalui metode ini, diberikan suatu
kemungkinan untuk disimpulkan. Dalam artian, bahwa ada kemungkinan
kesimpulan itu benar tapi tidak berarti bahwa itu pasti benar, sehingga
akhirnya disinilah lahir probabilitas.
Induksi sering pula diartikan dengan istilah logika mayor, karena
membahas pensesuaian pemikiran dengan dunia empiris, ia menguji hasil
usaha logika formal (deduktif), dengan membandingkannya dengan
kenyataan empiris. Sehingga penganut paham empirme yang lebih sering
mengembangkan pengetahuan bertolak dari pengalaman konkrit. Yang
akhirnya mereka beranggapan satu-satunya pengetahuan yang benar adalah
yang diperoleh langsung dari pengalaman nyata. Dengan demikian secara
tidak langsung penggiat aliran inilah yang sering menggunakan penalaran
induktif. Karena Penalaran ini lebih banyak berpijak pada observasi indrawi
atau empiris. Dengan kata lain penalaran induktif adalah proses penarikan
kesimpulan dari kasus-kasus yang bersifat individual nyata menjadi
kesimpulan yang bersifat umum. Inilah alasan atas eratnya ikatan antara
logika induktif dengan istilah generalisasi, serta empirisme.
b. Pendekatan Deduktif adalah suatu kerangka atau cara berfikir yang bertolak
dari sebuah asumsi atau pernyataan yang bersifat umum untuk mencapai
sebuah kesimpulan yang bermakna lebih khusus. Ia sering pula diartikan
dengan istilah logika minor, dikarenakan memperdalami dasar-dasar
pensesuaian dalam pemikiran dengan hukum, rumus dan patokan-patokan
tertentu. Pola penarikan kesimpulan dalam metode deduktif merujuk pada
pola berfikir yang disebut silogisme. Yaitu bermula dari dua pernyataan atau
lebih dengan sebuah kesimpulan. Yang mana kedua pernyataan tersebut
sering disebut sebagai premis minor dan premis mayor. Serta selalu diikuti
oleh penyimpulan yang diperoleh melalui penalaran dari kedua premis
tersebut. Namun kesimpulan di sini hanya bernilai benar jika kedua premis

dan cara yang digunakan juga benar, serta hasilnya juga menunjukkan
koherensi data tersebut. Contoh dari penggunaan premis dalam deduksi:
Premis Mayor: Perbuatan yang merugikan orang lain adalah dosa. Premis
Minor: Menipu merugikan orang lain. Kesimpulan: Menipu adalah dosa.
Selain itu, matematika sebagai salah satu disiplin keilmuan yang yang
menerapkan prinsip koherensi di dalam pembuktian kebenarannya.
Penalaran deduktif merupakan salah satu cara berfikir logis dan
analistik, yang tumbuh dan berkembang dengan adanya pengamatan yang
semakin intens, sistematis, dan kritis. Juga didukung oleh pertambahan
pengetahuan yang diperoleh manusia, yang akhirnya akan bermuara pada
suatu usaha untuk menjawab permasalahan secara rasional sehingga dapat
dipertanggungjawabkan kandungannya, tentunya dengan mengesampingkan
hal-hal yang irasional. Adapun penyelesaian masalah secara rasional
bermakna adanya tumpuan pada rasio manusia dalam usaha memperoleh
pengetahuan yang benar. Dan paham yang mendasarkan dirinya pada proses
tersebut dikenal dengan istilah paham rasionalisme. Metode deduktif dan
paham ini saling memiliki keterikatan yang saling mewarnai, karena dalam
menyusun logika suatu pengetahuan para ilmuan rasionalis cenderung
menggunakan penalaran deduktif.
(9)

Mustofa, I. (2016). Jendela Logika dalam Berfikir: Deduksi dan Induksi sebagai
Dasar Penalaran Ilmiah. Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Islam, 6, 2, 122142

6. Manfaat dari prinsip ruang dan waktu terhadap hasil riset.
Ruang adalah tempat di mana benda-benda berada terkait oleh panjang,
lebar, tinggi, dan volume sedangkan waktu adalah keabadian yang tidak akan
dimaterialisasikan oleh manusia. Yang dapat dimanfaatkan dari prinsip ruang
dan waktu adalah Manusia dapat mengukur ruang dan waktu, hal ini berkaitan
dengan logika manusia padahal dalam konteks logika Tuhan hidup adalah “satu
detik”. Secara ilmiah ruang adalah tempat di mana benda-benda berada terkait
oleh panjang, lebar, tinggi, dan volume. Ada misteri ruang yang tidak mampu

di logika oleh manusia, tentang ruang langit yang tanpa batas. Sedangkan
waktu adalah perpindahan saat ke saat lainnya.(10)
Jadi, ruang dan waktu mempunyai pengertian yang berbeda pada setiap
kerangka berpikir yang berbeda. Ruang dan waktu mengalami perkembangan
pengertian mulai dari masa kalsik hingga masa modern. Dalam kerangka
berpikir klasik ruang dianggap bersifat mutlak sedangkan dalam kerangka
berpikir modern ruang dan waktu bersifat relatif. Dalam Al-Qur’an ruang dan
waktu mempunyai pengertian yang sama dengan kerangka berpikir modern
akan tetapi pengertian yang bersifat kultural juga diberlakukan terhadap istilah
waktu.
(10)

Ifi, L. (2016). Diskusi Filsafat Tentang Ruang dan Waktu. Tersedia
http://makalahtugasbahasaindonesia.blogspot.com/2016/03/diskusi-filsafattentang-ruang-dan-waktu.html. Di Akses: 6 Desember 2018. [Pukul 13.45
WIB]

7. Isi dari sebuah ilmu.
Untuk memahami ilmu, ada banyak definisi yang menuntun dan
mengarahkan kepada pengertian yang jelas. Secara etimologis “ilmu”
merupakan kata serapan yang berasal dari bahasa Arab „alima yang berarti
tahu atau mengetahui (Gazalba, 1992), sementara itu secara istilah ilmu
diartikan sebagai Idroku syai bi haqiqotih (mengetahui sesuatu secara hakiki).
(Suharsaputra, 2004). Dalam bahasa Inggeris Ilmu dipadankan dengan kata
science, sedang pengetahuan dengan knowledge. Dalam bahasa Indonesia kata
science berasal dari bahasa Latin dari kata Scio, Scire yang berarti
(mengetahui) umumnya diartikan Ilmu tapi sering juga diartikan dengan Ilmu
Pengetahuan, meskipun secara konseptual mengacu pada makna yang sama.
Sinonim yang paling akurat dalam bahasa Yunani adalah episteme. Untuk lebih
memahami pengertian Ilmu (science) di bawah ini akan dikemukakan beberapa
pengertian :

a. Ilmu adalah pengetahuan tentang sesuatu bidang yang disusun secara
bersistem menurut metode-metode tertentu yang dapat digunakan untuk
menerangkan

gejalagejala

tertentu

dibidang

(pengetahuan)

itu.

(Depdikbud,1989)
b. Aristoteles memandang ilmu sebagai pengetahuan demonstratif tentang
sebabsebab hal. (Bagus, 1996).
c. Ilmu merupakan alat untuk mewujudkan tujuan politis secara efektif dan
alamiah. (Suriasumantri, 1986).
Selanjutnya dalam kutipannya juga dikemukakan pendapat The Liang
Gie yang menyatakan pengertian ilmu dilihat dari ruang lingkupnya adalah
sebagai berikut :
a. Ilmu merupakan sebuah istilah umum untuk menyebutkan segenap
pengetahuan ilmiah yang dipandang sebagai suatu kebulatan. Jadi ilmu
mengacu pada ilmu seumumnya;
b. Ilmu menunjuk pada masing-masing bidang pengetahuan ilmiah yang
mempelajari pokok soal tertentu, ilmu berarti cabang ilmu khusus.
Sedangkan jika dilihat dari segi maknanya The Liang Gie
mengemukakan tiga sudut pandang berkaitan dengan pemaknaan ilmu/ilmu
pengetahuan yaitu: - Ilmu sebagai pengetahuan, artinya ilmu adalah sesuatu
kumpulan yang sistematis, atau sebagai kelompok pengetahuan teratur
mengenai pokok soal atau subject matter. Dengan kata lain bahwa
pengetahuan menunjuk pada sesuatu yang merupakan isi substantif yang
terkandung dalam ilmu.
a. Ilmu sebagai aktivitas, artinya suatu aktivitas mempelajari sesuatu secara
aktif, menggali, mencari, mengejar atau menyelidiki sampai pengetahuan
itu diperoleh. Jadi ilmu sebagai aktivitas ilmiah dapat berwujud
penelaahan (study), penyelidikan (inquiry), usaha menemukan (attempt
to find), atau pencarian (search).
b. Ilmu sebagi metode, artinya ilmu pada dasarnya adalah suatu metode
untuk menangani masalah-masalah, atau suatu kegiatan penelaahan atau
proses penelitian yang mana ilmu itu mengandung prosedur

Dari pengertian di atas nampak bahwa Ilmu memang mengandung arti
pengetahuan, tapi bukan sembarang pengetahuan melainkan pengetahuan
dengan ciri-ciri khusus yaitu yang tersusun secara sistematis, dan untuk
mencapai hal itu diperlukan upaya mencari penjelasan atau keterangan.
Lebih jauh dengan memperhatikan pengertian-pengertian Ilmu sebagaimana
diungkapkan di atas, dapatlah ditarik beberapa kesimpulan berkaitan dengan
pengertian ilmu yaitu :
a. Ilmu adalah sejenis pengetahuan
b. Tersusun atau disusun secara sistematis
c. Sistimatisasi dilakukan dengan menggunakan metode tertentu Pemerolehannya dilakukan dengan cara studi, observasi, eksperimen.(11)
Dengan demikian sesuatu yang bersifat pengetahuan biasa dapat
menjadi suatu pengetahuan ilmiah bila telah disusun secara sistematis serta
mempunyai metode berfikir yang jelas, karena pada dasarnya ilmu yang
berkembang dewasa ini merupakan akumulasi dari pengalaman/pengetahuan
manusia yang terus dipikirkan, disistimatisasikan, serta diorganisir sehingga
terbentuk menjadi suatu disiplin yang mempunyai kekhasan dalam
objeknya.
(11)

Widyawati, S. (2013). Filsafat Ilmu Sebagai Landasan Pengembangan Ilmu
Pendidikan. Jurnal Seni Budaya, 11, 1, 87-96

8. perkembangan sebuah ilmu itu mengalami beberapa tahapan, sampai ilmu itu
dapat digunakan sebagai landasan operasional dalam riset.
Thomas Kuhn merupakan salah satu tokoh filosof modern yang ideidenya (teori) sampai sekarang ini masih diakui oleh dunia. Ia merupakan salah
satu tokoh yang mampu “mengkritisi” paradigma posistivisme yang
dominasinya berpengaruh luar biasa di barat. Dari gagasannya, dapat ditarik
sebuah pendapat bahwa ilmu itu tidak ada yang fixed (pasti) di dunia ini
termasuk “ilmu” agama. Ilmu menurut gagasannya tidak hanya “berkembang”
ke depan tapi bisa juga ke samping. Ilmu tidak didasarkan pada kaidah benarsalah, akan tetapi mengacu pada paradigma “apa” yang digunakan. Dengan

paradima itu, seorang atau para ilmuwan akan menjadikannya sebagai dasar
(pedoman) dalam melihat sekaligus memahami realitas (fenomena). Selain itu,
dengan paradigma maka ilmuwan akan bisa menentukan metode apa yang akan
mereka gunakan dalam “mendekati” masalah.
Bagi Kuhn, penemuan teori tidak menjadi kekuatan pendorong ilmu
pengetahuan ke arah kemajuan. Bagaimanapun, ilmu pengetahuan bukanlah
kumpulan kestabilan dan terus menerus ditambah dengan penemuan baru.
Akan tetapi, ilmu pengetahuan merupakan serangkaian selingan yang dimulai
dari revolusi intelektual para pemikir. Setelah ada revolusi, konsep baru akan
menggantikan konsep ilmu pengetahuan lama, sehingga terjadi pergantian
konsep yang berbeda secara terus-menerus. Hal itu akan terus terjadi sepanjang
kehidupan sejarah manusia.(12) Dengan demikian, senyampang para ilmuwan
dari generasi ke generasi terus aktif melakukan pengembangan dan pembaruan
gagasan, selama itu pula peluang revolusi perkembangan ilmu pengetahuan
terus berlangsung.
Salah satu ciri utama “konstruk” ilmu pengetahuan yang diciptakan Kuhn
beserta aktivitas ilmiahnya adalah tidak mengabaikan peranan sejarah ilmu.
Menurutnya, mempelajari sejarah ilmu pengetahuan tak akan bisa lepas dari
memahami dua “istilah” penting. Yakni, pertama discovery yang artinya
kebaruan fakta atau penemuan. Lalu yang kedua invention, artinya kebaruan
teori atau penciptaan. Di mana menurut Kuhn “penemuan-penemuan”
(discovery) sebagai salah satu unsur pembangunan ilmu pengetahuan bukanlah
peristiwa-peristiwa yang dapat diabaikan begitu saja.(13) Bagaimanapun
sebagian besar penciptaan (invention)(14) teknologi sekarang ini bisa ada karena
berkat adanya sejarah ilmu pengetahuan terdahulu. Walaupun sebagian besar
penemuan ilmuwan terdahulu sifatnya masih dasar. Dengan kata lain
penciptaan (invention) merupakan bagian dari tahap-tahap pengembangan atau
lebih tepatnya “pergeseran” yang berasal dari penemuan (discovery)
sebelumnya. Dimana “struktur” pentahapannya selalu berulang dan berpola
sama. Yakni, antara discovery dan invention terjadi keterjalinan yang sangat
erat.

Akhirnya, melalui konsep The Structure of Scientific Revolutions,
sesungguhnya perkembangan ilmu pengetahuan menemui jalan terjal. Selama
ini ilmuwan menyembah ilmu pengetahuan dengan metode ilmiah yang seakan
tak terbantah dan sudah mapan. Kini, dengan nomenklatur “paradigma” milik
Kuhn ilmuwan bisa menghargai subjektifitas. Yakni, dimungkinkan bagi
ilmuwan untuk mengungkapkan bias dan memodifikasi model. (15) Oleh karena
itu, menurut kacamata Kuhnian(16) bahwa klaim kebenaran pada satu teori yang
diyakini “abadi” dan tak tergoyahkan tidaklah tepat. Bagaimanapun suatu saat
pasti akan ada revolusi (penjungkirbalikan) ilmu pengetahuan.
(12)

Wonorajardjo, Dasar-dasar Sains:, hlm.119

(13)

Thomas S. Kuhn, The Structure of, terj. Tjun Surjaman, hlm. 52.

(14)

Perbedaan Invetioan dengan Discovery adalah pada hak paten atau hak
ciptanya. Di mana untuk discovery tidak bisa diurus hak patennya karena
secara asali “produk” yang ditemukan tersebut sudah tersedia di alam.
Sedangkan invention bisa diurus hak patennya karena “produk” itu adalah
murni dari hasil intelektual penciptanya. Secara detail, kata Invention
diserap oleh bahasa Indonesianya menjadi “invensi.” Dalam Kamus Besar
Bahasa Indonesia kata invensi memiliki arti “penciptaan atau perancangan
sesuatu yang sebelumnya tidak ada; reka cipta.” Lihat, Kamus Besar
Bahasa, didownload tanggal 25 Juli 2019.

(15)

Anonim, “Thomas S. Kuhn,” dalamhttp://www.goodreads.com/review, diakses
tanggal 26 Juli 2019.

(16)

Khunian adalah sebutan bagi siapa saja yang menjadi pendukung bahkan
pengikut filsafat yang dicanangkan Thomas Samuel Kuhn.

9. Batas-batas ilmu (demarkasi) antara yang empiris dengan yang metafisis.
a. Empiris, kata emperisisme berasal dari bahasa Yunani dari akar kata
empeiria kemudian diadopsi ke dalam bahasa Latin menjadi expe-rientia
yang berarti pengalaman. Emperisisme adalah suatu ajaran yang
mengatakan bahwa sumber dari semua pengetahuan adalah pengalaman.
Aliran ini dikontraskan dengan rasionalisme yang ber-pandangan bahwa

sumber dari semua pengetahuan adalah akal budi. Untuk memahami lebih
jauh doktrin ini, perlu diketahui ciri pokoknya mengenai teori tentang
makna dan teori tentang pengetahuan. Namun perlu dicatat bahwa
emperisisme juga mengakui adanya pengalaman batin yang diperoleh
melalui apa yang disebut oleh John Locke sebagai innersense (penginderaan
dalam). David Hume mempertegas teori ini dengan cara membedakan antara
ide dan kesan. Semua ide yang kita miliki, demikian Hume datang dari
kesan-kesan, dan kesan-kesan itu mencakup penginderaan, passion dan
emosi. Tentang teori pengetahuan ini, dapat dikemukakan sebagai berikut:
menurut aliran rasionalis, ada bebe-rapa kebenaran umum seperti setiap
kejadian tentu mempunyai sebab, dasar-dasar matematika dan beberapa
dasar etika, dan kebenaran-kebenaran itu benar dengan sendirinya yang
dikenal dengan kebenaran apriori yang diperoleh melalui intuisi rasional.
Emperisisme menolak pendapat ini. Menurut emperisisme, tidak ada
kemampuan intuisi rasional itu. Semua kebenaran yang disebut tadi adalah
kebenaran yang diperoleh melalui observasi, jadi ia adalah kebenaran
aposteriori. Dari uraian tersebut dapat dikatakan bahwa emperisisme muncul
sebagai aliran yang berusaha menentang pandangan rasionalisme yang
sangat mengagungkan akal dan tidak terlalu mementingkan unsur-unsur
yang sifatnya empiris. Perlu dicatat bahwa perkembangan filsafat Barat
senantiasa diwarnai dengan dialektika mengikuti pemikiran para tokoh yang
sangat dinamis sepanjang sejarah perkembangannya, yang kalau dirunut ke
belakang sudah terlihat pada masa-masa awal kemunculan filsafat itu
sendiri. Sejak terjadinya polemik antara Heraktilos dan Permanides dengan
pandangan mereka yang satu sama lain saling bertentangan, kemudian
diikuti oleh para pengikut masing-masing tokoh tersebut, cikal bakal
perkembangan filsafat mulai tampak dengan jelas. Heraklitos dengan
pandangannya bahwa segala sesuatu berasal dari api dan sesuai dengan sifat
api yang selalu berubah-ubah, tidak pernah tetap, maka segala sesuatu juga
selalu berubah-ubah, tidak ada yang tetap, semuanya berubah, selalu
mengalir dan satu-satunya yang tetap adalah perubahan itu sendiri.

Sementara itu Permanides mengemukakan pandangan yang sebaliknya
yaitu bahwa pada dasarnya hakikat adalah satu dan tetap, tidak ada yang
berubah. Apa yang kelihatan berubah tidak lebih dari persepsi para
pengamatnya semata. Pertentangan kedua tokoh ini, meskipun pada
dasarnya mempersoalkan tentang hakikat tetapi dalam polemik itu tersirat
dua

pendekatan

berbeda

yang

digunakan

keduanya.

Heraklitos

mengemukakan pandangannya melalui pendekatan empiris sementara
Permanines mengemukakan pandangannya melalui pendekatan rasio. Di
sini mulai muncul persoalan epistemologi utamanya ukuran-ukuran
mengenai sumber pengetahuan yang paling dapat dipercaya.
Pertentangan dan polemik semacam ini terus menerus mewarnai
dinamika perkembangan filsafat di dunia Barat sampai sekarang ini.
Pertentangan demi pertentangan yang terjadi tidak pernah menghambat laju
perkembangan

ilmu

pengetahuan,

tapi

malah

sebaliknya

justeru

menciptakan dinamika dalam persaingan yang semakin intens. Berbeda
dengan apa yang terjadi dalam dunia Islam yang sangat diwarnai oleh
persoalan kalam dan fiqh dengan klaim-klaim kebenaran di masing-masing
pihak yang selalu dikait-kan dengan dogma kebenaran yang seringkali
melahirkan terma-terma yang sangat mengerikan seperti kafir, fasik,
munafik dan se-bagainya yang tidak jarang menjadi momok tersendiri bagi
para pemikir Islam.
Emperisisme yang menjadi kajian pokok dalam tulisan ini tidak bisa
dilepaskan dari proses dialektika yang berkembang dalam pemikiran para
filosof Barat. Secara sederhana emperisisme muncul sebagai jawaban
terhadap aliran rasionalisme yang muncul sebelumnya utamanya yang
berkembang di Perancis yang dimotori oleh Rene Descartes. Di samping itu
emperisisme Davis Hume juga merupakan reaksi terhadap kaum Deis
Katolik Anglikan yang mendasarkan pandangannya pada aksioma-aksioma
universal seperti hukum kausalitas yang dianggap mampu memberi
pemahaman kepada manusia akan eksistensi Tuhan dan alam. Emperisisme

David Hume juga sekaligus merupakan jawaban atas emperisisme itu
sendiri, utamanya emperisisnme Locke dan Berkeley.
b. Metafisika Istilah metafisika telah dipergunakan sejak lama di Yunani untuk
menunjukkan karya-karya tertentu dari Aristoteles. Meta-fisika dari kata
metataphysika yang berarti “hal-hal yang terdapat setelah fisika”.
Aristoteles mendefinisikannya dengan ilmu pengetahuan mengenai yang ada
sebagai yang ada yang dilawankan mi-salnya dengan yang ada sebagai yang
digerakkan atau yang ada sebagai tambahan. Istilah metafisika digunakan
baik

untuk

menunjukkan

filsafat

pada

umumnya

maupun

untuk

menunjukkan suatu cabang filsafat yang membicarakan tentang masalahmasalah hakikat segala sesuatu yang ada di balik fisika. Metafisika (dalam
pengertian yang sempit) mendapat tem-pat yang istimewa di masa abad
pertengahan yang didominasi oleh oleh para pemikir dari kelompok agamis
(gereja) demikian pula di kalangan pemikir Islam yang mencoba mencari
dalil-dalil akli untuk menguatkan pandangan wahyu tentang keberadaan
Tuhan dan hal-hal lain yang bersifat gaib.
Karena itu ciri khas filsafat abad pertengahan didominasi oleh
pandangan-pandangan yang sangat abstrak dan para pemikir sibuk
memperdebatkan detail-detail suatu konsep dan melupakan kehidupan nyata
yang secara riil dihadapi oleh manusia. Perkembangan filsafat di Barat
pernah mengalami masa yang kelam yaitu masa abad pertengahan yang
diwarnai oleh dominannya pemikiran tentang hal-hal yang abstrak dan
dianggap sebagai abad yang menggelisahkan sekaligus juga mengasikkan
bagi intelektual masa itu yang sangat didominasi oleh pola pikir teologis dan
metafisis dan telah mencapai tingkat apa yang disebut oleh Bambang
Sugiharto “state of the artnya”, sedemikian sehinga perbincangan saat itu
menjadi amat rinci dan canggih, namun sekaligus juga abstrak, nyinyir dan
mengawang-awang.
Patrarca dengan sinis melukiskan para teolog sebagai orang yang
sibuk mengamati pepohonan tetapi melupakan hutan secara keseluruhan.
Mereka sibuk berdebat menganai detail-detail suatu konsep tetapi me-

lupakan hakikat religi dan kehidupan yang menyeluruh dan men-dalam. Hal
ini menjadi salah satu faktor yang melatarbelakangi munculnya renaissans
yang dianggap sebagai babakan baru filsafat menuju masa modern. Salah
satu perbedaan penting antara filsafat abad pertengahan dengan filsafat
zaman renaissans adalah adalah pada masa abad pertengahan para pemikir
(filosof) mencurahkan perhatiannya yang sangat dominan kepada hal-hal
yang abstrak dan kepada pengerti-an-pengertian (konsep) dan sedikit sekali
memberi perhatian pada hal-hal yang konkrit. Perhatian yang sungguhsungguh terhadap hal-hal yang konkrit baru diberikan pada masa renaissans.
Perhatian ini ditujukan kepada alam semesta. Kepada manusia, kepada
kemanusiaan dan kepada sejarah.
Pada masa renaissans, orang mulai menyadari akan nilai pribadinya
dan kekuatan dirinya sendiri. Dalam bidang filsafat, para pemikir para
pemikir berpendapat bahwa tidak perlu ada ikatan sedikitpun kepada
wibawa apapun atau keyakina bersama. Kebenaran harus dicapai dengan
kekuatan sendiri. Orang harus menentukan sendiri apa yang harus diselidiki.
Pada masa itu, muncul para tokoh yang berusaha membangkitkan kembali
semangat Yunani Kuno dengan memberi otoritas pada kemampuan manusia
untuk mencari kebenaran dan membebaskan diri dari belenggu dogmatis
gereja abad pertengahan. Pada masa-masa setelah renaissans inilah muncul
aliran-aliran filsafat yang beraneka ragam yang bukan hanya berbeda antara
satu de-ngan lainnya tetapi malah ada yang saling kontradiktif.
Munculnya rasionalisme yang dipelopori oleh Rene Descartes dengan
pandangan bahwa akal atau rasio adalah alat yang paling ampuh untuk dapat
mencapai kebenaran. Aliran ini kemudian mendapat serangan dari aliran
emperisisme yang dipelopori oleh John Locke, Berkley dan David Hume.
Aliran ini memilih pandangan yang berlawanan dengan pandangan
rasionalisme dengan mengatakan bahwa alat yang paling ampuh untuk bisa
sampai kepada kebenaran adalah de-ngan melalui pengalaman dan akal
hanya berfungsi untuk meru-muskan apa telah diperoleh melalui
pengalaman tersebut. Aliran ini juga berpendapat bahwa manusia lahir ke

dunia ini tidak dengan membawa apa-apa tetapi seperti kertas putih yang
siap diisi oleh apa saja sesuai dengan apa yang diperolehnya dari
pengalaman. Di sinilah muncul teori John Locke dengan tabula rasa, yaitu
suatu teori yang mengatakan bahwa manusia lahir ke dunia ini dalam
keadaan kosong dan pengalamannyalah di dunia ini yang akan mengisi
kekosongan itu. Terlihat dari sisi-sisi metafisika dari salah seorang tokoh
emperisisme yang sangat konsisten terhadap alirannya yaitu David Hume.
Apakah dia masih mengakui unsur-unsur yang sifatnya metafisis atau tidak,
dengan terlebih dahulu mengemukakan sekilas tentang emperisisme itu
sendiri, kemudian David Hume sebagai tokoh sentral dalam aliran ini
dilanjutkan dengan pandangan-pandangan filsafatnya.(17)
c. Tokoh Fisikawan(18)
Albert Einstein (14 Maret 1879–18 April 1955) adalah seorang
ilmuwan fisika teoretis yang dipandang luas sebagai ilmuwan terbesar
dalam abad ke-20. Dia mengemukakan teori relativitas dan juga banyak
menyumbang bagi pengembangan mekanika kuantum, mekanika statistik,
dan kosmologi. Dia dianugerahi Penghargaan Nobel dalam Fisika pada
tahun

1921

untuk

penjelasannya

tentang

efek

fotoelektrik

dan

“pengabdiannya bagi Fisika Teoretis”.
d. Tokoh Biolog(19)
Gregor Johann Mendel adalah seorang ilmuan yang lahir di Hyncice
Heinzendorf bei Odrau, Kekaisaran Austria, pada 20 Juli 1822 dan wafat di
Brno, Kekaisaran Austria-Hungaria, pada 6 Januari 1884 di usia 61 tahun. Ia
disepakati sebagai “Bapak Pendiri Genetika”. Ia adalah seorang rahib
katolik yang juga mengajar di sekolah. Rasa ingin tahunya yang tinggi
menuntunnya untuk melakukan pekerjaan persilangan dan pemurnian
tanaman Ercis. Melalui percobaannya ini, ia menyimpulkan sejumlah aturan
atau hukum mengenai pewarisan sifat yang dikenal dengan nama Hukum
Pewarisan Mendel.

Kesimpulan dari uraian di atas empirisme dan metafisis dalam
pandangan batasan-batasan terebut kita mengetahui bahwa ada perbedaan
yang mendasar dan tidak bisa dipisahkan dari keduanya.
(17)

Rievaz. (2007). Problem Metafisika Empirisme (Studi Terhadap Filsafat David
Hume.

Tersedia

https://rievaz.wordpress.com/2007/12/27/problem-

metafisika-emperisisme-studi-terhadap-filsafat-david-hume/. Di Akses: 25
Juli 2019. [Pukul 19.05
(18)

https://tobahillsboy.wordpress.com/2014/04/17/tokoh-tokoh-fisika/

(19)

http://biologiini.blogspot.com/2017/10/tokoh-tokoh-ilmuan-biologi-paling.html

10.

perspektif yang mungkin dapat mempengaruhi perkembangan peserta didik
dalam perkembangannya.
Persepektif dari prestasi belajar peserta didik dapat meningkat dan
dapat menurun. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor. Syah (2014:
129)(20) berpendapat bahwa prestasi belajar dapat dipengaruhi oleh:
a. Faktor internal peserta didik, yaitu faktor yang berasal dari dalam diri
peserta didik sendiri. Faktor internal peserta didik meliputi dua aspek,
yaitu:
1) Aspek fisiologis. Kondisi umum jasmani dan tegangan otot (tonus)
yang menandai tingkat kebugaran organ-organ tubuh dan sendisendinya dapat mempengaruhi semangat dan identitas peserta didik
dalam mengikuti pelajaran. Kondisi organ tubuh yang lemah apalagi
jika disertai pusing kepala berat misalnya, dapat menurunkan kualitas
ranah cipta (kognitif) sehingga materi yang dipelajaripun kurang atau
tidak berbekas. Untuk mempertahankan tonus jasmani agar tetap
bugar, peserta didik sangat dianjurkan mengkonsumsi makanan dan
minuman yang bergizi.
2) Aspek psikologis
Aspek psikologis ini meliputi:
(1)Tingkat kecerdasan atau intelegensi peserta didik. Tingkat
kecerdasan atau intelegensi (IQ) peserta didik sangat menentukan

keberhasilan belajar peserta didik. Semakin tinggi kemampuan
intelegensi peserta didik maka semakin besar pula peluang untuk
meraih sukses.
(2)Sikap peserta didik, yaitu gejala internal yang berdimensi afektif
berupa kecederungan untuk mereaksi atau merespon (response
tendency) dengan cara yang relatif tetap terhadap objek orang, dan
sebagainya baik secara positif maupun negatif.
(3)Bakat peserta didik, yaitu kemampuan potensial yang dimiliki
seseorang untuk keberhasilan pada masa yang akan datang. Setiap
orang memiliki bakat memiliki bakat dalam arti berpotensi untuk
mencapai prestasi sampai ke tingkat tertentu sesuai dengan
kapasitas masing-masing.
(4)Minat peserta didik, yaitu kecenderungan dan kegairahan yang
tinggi atau keinginan besar terhadap sesuatu.
(5)Motivasi peserta didik, yaitu suatu dorongan yang dapat membuat
anak melakukan kegiatan belajar dengan lebih baik.
b. Faktor eksternal peserta didik
1) Faktor lingkungan sosial
(1)Sekolah, meliputi pendidik, para staf administrasi, dan temanteman sekelas dapat mempengaruhi semangat belajar seorang
peserta didik.
(2)Masyarakat, yaitu tetangga dan teman-teman yang sepermainan.
(3)Keluarga, meliputi sifat-sifat orang tua, praktik pengelolaa
keluarga, dan ketegangan keluarga.
2) Faktor lingkungan non sosial, meliputi gedung sekolah, dan letaknya,
rumah tempat tinggal dan letaknya, alat-alat belajar, keadaan cuaca,
serta waktu belajar yang digunakan peserta didik.
3) Faktor pendekatan belajar, yaitu keefektifan segala cara atau strategi
yang digunakan peserta didik dalam menunjang efektivitas dan
efisiensi proses belajar materi tertentu.
Faktor yang dapat mempengaruhi prestasi belajar peserta didik ada 2

diantaranya faktor internal dan eksternal. Faktor internal mencakup dua
aspek yaitu aspek fisiologis dan psikologis. Aspek fisiologis meliputi fisik
atau jasmani peserta didik. Kebugaran fisik peserta didik berpengaruh dalam
proses pembelajaran. Kondisi fisik yang lemah akan membuat proses
pembelajaran peserta didik tidak fokus atau terganggu, sehingga materi
pelajaran yang disampaikan tidak dapat dipahami dengan baik.
Aspek psikologis meliputi tingkat kecerdasan peserta didik, sikap
peserta didik, bakat peserta didik, minat peserta didik, dan motivasi peserta
didik. Semakin tinggi kecerdasan peserta didik, kesuksesan proses
pembelajaran akan semakin mudah tercapai. Reaksi atau respon peserta
didik terhadap pembelajaran harus tinggi. Potensi yang dimiliki peserta
didik

lebih

ditekankan

dalam

proses

pembelajaran,

agar

materi

pembelajaran yang disampaikan dapat tersampaikan sesuai kemampuan
masing-masing. Proses pembelajaran harus membuat gairah yang tinggi
terhadap peserta didik, pendidik memberikan dorongan yang membuat
proses pembelajaran lebih baik.
Faktor eksternal mencakup lingkungan sosial, non sosial dan
pendekatan belajar. Fktor lingkungan sosial meliputi sekolah yang di
dalamnya ada pendidik, karyawan, dan teman-teman peserta didik yang
saling memberikan pengaruh. Faktor non sosial meliputi tempat atau letak,
seperti gedung sekolah, tempat tinggal, alat belajar, keadaan cuaca, dan
waktu belajar yang digunakan peserta didik, gedung sekolah, tempat tinggal,
dan alat belajar harus memadai sesuai kebutuhan proses pembelajaran.
Cuaca yang bagus mendukung terlaksananya pembelajaran dengan baik,
sebaliknya cuaca yang buruk akan menghambat pembelajaran serta waktu
belajar peserta didik harus diimbangi dengan istirahat yang cukup.
(20)

Syah, M. (2014). Psikologi Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya

11.

contoh masalah pendidikan yang didekati dengan pendekatan kuantitatif dan
masalah pendidikan yang didekati dengan pendekatan kualitatif.
a. Metode penelitian kuantitatif dilakukan untuk mngukur satu atau lebih
variable penelitian. Lebih dari itu penelitian kuantitatif dilakukan untuk
mengukur hubungan atau korelasi atau pengaruh antara dua variabel atau
lebih. Metode penelitian kuantitatif Permasalahan penelitiannya adalah
menanyakan tentang tingkat pengaruh atau keeratan hubungan antara dua
variabel atau lebih Penelitian muantitatif dilakukan untuk menguji teori
yang sudah ada yang dipilih oleh peneliti Metode penelitian kuantitatif
memfungsikan teori sebagai titik tolak menemukan konsep yang terdapat
dalam teori tersebut, yang kemudian dijadikan variabel. Penelitian
kuantitatif menggunakan hipotesis sejak awal ketika peneliti telah
menetapkan

teori

yang

digunakan.

Penelitian

kuantitatif

lebih

mengutamakan teknik pengumpulan data kuesioner. Penelitian kuantitatif
penyajian datanya berupa table distribusi pilihan jawaban para responden
yang ditentukan oleh peneliti berupa angka. Penelitian kuantitatif
menggunakan prespektif etik, yaitu data yang dikumpulkan dibatasi atau
ditentukan oleh peneliti dalam hal pilihan indicator atau atribut variabel
bai jumlah maupun jenisnya.
Metode

penelitian

kuantitatif

menggunakan

definisi

operasionalisasi kerana hendak mengukur variabel, karena definisi
operasional pada dasarna merupakan petunjuk untuk mengukur variabel
Penelitian kuantitatif penentu ukuran jumlah responden atau sampel
dengan menggunakan presentase, rumus atau table populasi-sampel,
sebagai penerapan prinip keterwakilan. Peneliti kuantitatif menggunakan
alur penarikan kesimpulan berproses secara deduktif, yaitu konsep,
variabel ke data. Metode penelitian kuantitatif instrument penelitiannya
berupa kuesioner atau angket, yang juga berfungsi sebagai teknik
pengumpulan data Analisis yang digunakan dalam penelitian kuantitatif
dilakukan setelah data terkumpul, dengan menggunakan perhitungan
angka-angka atau analisis statistic. Penelitian kuantitatif kesimpulannya

berupa timgkat hubungan antar variabel, sedangkan dalam penelitian
kualitatif kesimpulannya berupa temuan konsep yang tersembunyi di
balik data rinci berdasarkan interpretasi atau kesepakatan dari para
responden atau informan.
b. Metode kualitatif berlatar alamiah (penelitian dilakukan pada situasi
alamiah dalam suatu keutuhan) Manusia sebagai alat (Manusia/peneliti
merupakan alat pengumpulan data yang utama) Metode kualitatif
menganalisa data secara induktif (mengacu pada temuan lapangan) Teori
dari dasar/grounded theory (menuju pada arah penyusunan teori
berdasarkan data) Deskriptif (data yang dikumpulkan berupa kata-kata,
gambar dan bukan angka-angka) Lebih mementingkan proses daripada
hasil Adanya batas yang ditentukan oleh fokus (perlunya batas penelitian
atas dasar fokus yang timbul sebagai masalajh dalam penelitian) Adanya
kriteria khusus untuk keabsahan data (punya versi lain tentang validitas,
reliabilitas dan obyektivitas) Desain yang bersifat sementara (desain
penelitian terus berkembang sesuai dengan kenyataan lapangan) Hasil
penelitiaan dirundingkan dan disepakati bersama (hasil penelitian
dirundingkan dan disepakati bersama antar peneliti dengan sumber data).
(21)

(21)

https://nilamarifani.wordpress.com/2013/06/26/ciri-ciri-metode-penelitiankualitatif-dan-kuantitatif/

Judul: Jawaban Uas Filsafat Ilham (1820110026)

Oleh: Ilham Aji Asmara


Ikuti kami