Jawaban Lt Perang Irregular (praktek)

Oleh W Wibowo

190,2 KB 7 tayangan 0 unduhan
 


Bagikan artikel

Transkrip Jawaban Lt Perang Irregular (praktek)

MARKAS BESAR ANGKATAN DARAT SEKOLAH STAF DAN KOMANDO PRODUK PERORANGAN PENGAMPU : DEPMASSTRA BIDANG STUDI : TEORI PERANG DAN STRATEGI SUB BIDANG STUDI : PEPERANGAN IRREGULER (PRAKTEK) NAMA : AGUNG YUHONO PANGKAT/KORPS : MAYOR ARM NRP : 11050050500983 NOSIS : 57186 KELOMPOK : XII ( RESPONDEN ) 2 LEMBAR KEHORMATAN Yang bertanda tangan di bawah ini : NAMA : AGUNG YUHONO PANGKAT/KORP : MAYOR ARM NRP : 11050050500983 NOSIS : 57186 Menyatakan dengan benar bahwa : 1. Produk ini adalah benar hasil karya sendiri. 2. Materi hasil karya ini merupakan hasil pemikiran sendiri dan ide murni penulis. 3. Materi hasil karya ini bukan menyalin, menyadur, mencontoh, mengkopi dan plagiat dari hasil karya Pasis lain atau Pasis sebelumnya atau karya orang lain. 4. Apabila ternyata dikemudian hari ditemukan bukti-bukti yang benar dan sah mengandung unsur plagiat atau pelanggaran lainnya (seperti yang diatur dalam Juklak tentang produk Pasis), maka saya bersedia dan sanggup menerima sanksi dari lembaga sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Medan, 1 Maret 2019 Perwira Siswa, Agung Yuhono Mayor Arm NRP 11050050500983 STRATEGI MENGANTISIPASI PEPERANGAN IRREGULAR DI MASA DEPAN Pendahuluan Perang di masa kini dan mendatang memiliki spektrum yang luas. Militer dengan persenjataan dan teknologi paling canggih pun bukan jaminan bagi tercapainya kemenangan. Perangkat-perangkat sipil seperti media, siber dan internet pada hakikatnya memegang monopoli yang menentukan dalam perang saat ini dan di masa mendatang. Fenomena irreguler ini yang kemudian memunculkan istilah irregular warfare.Fenomena ancaman di tingkat global pun mengalami peningkatan volume. Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) adalah kelompok gerilyawan pemberontak dengan pola perang hibrida yang saat ini memegang sebagian wilayah di Irak dan Suriah dengan pasukan darat semi-konvensional yang tersusun secara hierarkis, dan melakukan serangan teror internasional berbasis jaringan. Pada awal 2017, Amerika Serikat berusaha untuk menurunkan, mengalahkan, dan menghancurkan ISIS. Namun Kenyataannya beberapa analis strategi berpendapat bahwa strategi saat ini tidak memadai, atau tidak sesuai dengan tugas yang ada. Skenario perang hibrida atau “hybrid war‟ menjadi skenario paling berbahaya yang dapat terjadi di Indonesia, dimana terjadi beberapa ancaman yang dilakukan oleh gabungan regular dan irregular forces, teroris, dan kelompok lainnya di beberapa tempat (mandala operasi) dalam waktu bersamaan dengan mengkombinasikan aksiteroris, separatis dan didukung dengan aksi militer dari negara lain. Untuk mampu mengatasi ancaman yang bersifat hibrida, dibutuhkan pula satuan atau kekuatan yang bersifat hibrida yaitu „combined elements‟. Dari latar belakang di atas, maka identifikasi persoalan adalah : Pertama. Bagaimana pengaruh perkembangan teknologi informasi dan komunikasi dikaitkan irregular warfare?” Kedua. Sampai sejauh mana trend penggunaan media sosial oleh generasi muda Indonesia saat ini, dimana belum terarah dengan baik ? Ketiga. Bagaimana pengaruh perubahan jurnalisme tradisional dalam konteks irregular warfare? Keempat. Bagaimana keberagaman target audiens berpengaruh dalam strategi peperangan irreguler? Kelima. Bagaimana kegiatan operasi kontra dan propaganda dalam konteks irregular warfare saat ini? Keenam. Bagaimana Fenomena global ISIS dalam konteks irregular warfare saat ini ? . Dari beberapa persoalan tersebut di atas maka dapat dirumuskan masalah yaitu “Bagaimana strategi mengantisipasi Peperangan Irreguler di masa depan ?” 2 Dari penjelasan tersebut di atas, maka pentingnya penulisan essai ini adalah agar para Pasis memahami permasalahan mengenai strategi menghadapi peperangan irregular masa depan adalah untuk mengetahui sejauhmana penyiapan dan antisipasi dalam menghadapi perang itu sendiri dihadapakan dengan kondisi kehidupan berbangsa dan bernegara. Acuan yang dipergunakan penulis dalam penulisan essai ini menggunakan metode deskriptis analisis berdasarkan pengamatan di lapangan dan pendekatan secara empiris serta studi kepustakaan. Nilai guna esai ini adalah agar pembaca dapat mengetahui langkah-langkah dan upaya dalam menghadapi peperangan irregular di masa depan untuk menyiapkan langkahlangkah preventif aktif dalam menghadapinya sehingga negara Indonesia bisa aman dan tidak hancur seperti negara Irak. Sedangkan maksud tulisan ini adalah untuk memberikan gambaran kepada Komando Atas tentang strategi dalam menghadapi peperangan irregular di masa depan di Indonesia. Tujuan dari penulisan adalah sebagai sumbang saran dan pemikiran kepada Komando Atas dalam rangka memberikan upaya dan solusi yang dapat dilakukan dalam menyelesaikan persoalan peperangan irregular di masa depan. Ruang lingkup penulisan essai ini dibatasi pada persoalan peperangan irregular di masa depan di Indonesia. Pembahasan Perang di masa kini dan mendatang memiliki spektrum yang luas. Militer dengan persenjataan dan teknologi paling canggih pun bukan jaminan bagi tercapainya kemenangan. Perangkat-perangkat sipil seperti media, siber dan internet pada hakikatnya memegang monopoli yang menentukan dalam perang saat ini dan di masa mendatang. Fenomena irreguler ini yang kemudian memunculkan istilah irregular warfare. Dihadapkan kondisi Negara Indonesia yang merupakan negara kepulauan membuat serta membentuk adanya perbedaan agama, suku, adat dan budaya. Berkaitan dengan hal tersebut berdampak menimbulkan adanya kerawanan terhadap kedaulatan bangsa dan keutuhan wilayah NKRI. Hal tersebut terkait dengan kondisi ancaman yang ada saat ini merupakan Fenomena irregular warfare. Sehingga perlu adanya pembahasan secara mendalam dalam rangka mengatasi permasalahan irregular warfare dan strategi antisipasi di masa depan demi tetap aman dan tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia. 3 Perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi Perkembangan teknologi pada saat ini sangat pesat sekali terutama teknlogi di bidang informasi komunikasi, baik dari sisi kecepatan maupun kemudahan masyarakat dalam mengakses informasi yang dibutuhkan juga semakin berkembang. Teknologi informasi dan teknologi ini sangat penting sekali bagi suatu negara apalagi bagi negara yang berkembang. Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi di Indonesia saat juga tidak kalah pesatnya di banding dengan Negara Negara lain. Saat ini adalah zaman informasi dengan kecepatan tinggi. Teknologi informasi sudah berkembang sedemikian rupa yang membuat suatu informasi, baik berupa berita, analisa ataupun pandangan segera sampai di hadapan kita dalam hitungan detik. Sampai saat ini perkembangan ilmu pengetahuan telah menghantarkan masyarakat menuju babak baru yaitu babak yang memanfaatkan peralatanperalatan yang merupakan hasil dari teknologi. Penggunaan tenaga manusia yang semakin hari semakin kecil volumenya sering kali menyebabkan orang kehilangan pekerjaannya karena tugasnya telah tergantikan oleh peralatan atau mesin. Sebagai sarana penyampaian informasi dan komunikasi, komputer bisa dipakai sebagai sarana berinternetan. Lewat internet orang bisa mencari bermacam-macam informasi dan berkomunikasi. Peran yang dapat diberikan oleh aplikasi teknologi informasi ini adalah mendapatkan informasi untuk kehidupan pribadi seperti informasi tentang kesehatan, hobi, rekreasi, dan rohani. Selain memberikan keuntungan, ternyata peralatan teknologi informasi dan komunikasi juga memberikan dampak negatif bagi penggunanya. Dampak negatif tersebut muncul sebagai akibat dari penggunaan yang salah atau tidak bertanggung jawab dari yang menggunakan. Beberapa dampak negatif tersebut adalah 1). Anak lebih banyak menghabiskan waktu menonton TV ketimbang melakukan hal lainnya (seperti belajar dan olah raga), 2). Anak kehilangan kemampuan berbaur dengan masyarakat dan cenderung nyaman dengan kehidupan online, 3) Adanya pelanggaran hak cipta, 4). Kejahatan di internet, 5). Penyebaran virus komputer, dan 6). Pornografi, perjudian, penipuan, tayangan kekerasan. Adapun cara mengatasi dampak-dampak negatif tersebut adalah : 1). Gunakan teknologi untuk menjalin hubungan dengan orang yang sudah dikenal, 2). Cari komunitas positif yang sering melakukan pertemuan didunia nyata, 3). Perlunya penegakkan hukum yang berlaku dengan dibentuknya polisi internet, 4). Menghindari pemakaian telepon seluler yang berfitur canggih oleh anak-anak dibawah umur dan lebih mengawasi penggunaan 4 telepon seluler, 5). Perbanyak membaca buku-buku yang bersifat edukatif dan bersifat keimanan serta aplikasi komputer yang bersifat mendidik, dan 6). Perlunya pengaturan waktu untuk berada di depan komputer atau televisi. Kata kunci : informasi, komunikasi, perkembangan teknologi Trend penggunaan media sosial oleh generasi muda Indonesia saat ini belum terarah dengan baik. Berdasarkan data terakhir, pengguna internet di Tanah Air mencapai 72 juta jiwa. Hal ini dikarenakan dengan perilaku masyarakat negeri ini yang cenderung aktif bersosial media. 1 Sebanyak 93 persen dari pengguna internet Indonesia, aktif mengakses Facebook. Bahkan Jakarta tercatat sebagai pengguna Twitter terbanyak, hingga disebut sebagai ibukota media sosial berbasis teks tersebut. Jumlah mobile subscription yang aktif di Indonesia juga mencapai 282 jutaan. Di mana 74 persen di antaranya digunakan masyarakat kita untuk mengakses social media. Fenomena yang seringkali kita lihat di sosial media belakangan ini adalah munculnya komentar-komentar negatif, olok-olok dan juga berita palsu. Kita biasanya menyebut ketiganya dengan sebutan "3H" alias "Harrasment, Hate Speech & Hoax". Semenjak jejaring sosial Facebook menyerbu masyarakat sekitar tahun 2004, masyarakat awalnya menggunakan jejaring sosial ini untuk ajang bersosialisasi dengan orang-orang yang secara geografis jauh untuk dijangkau. Perlahan berkembang, masyarakat mulai menggunakan kolom untuk menulis status, bukan lagi untuk keperluan unjuk perasaan hati dan kegalauan, melainkan unjuk pemikiran dan sarana berbagi informasi. Kemudian bermunculan sosial media lainnya seperti Twitter, Instagram, Path, dll. yang membuat alternatif masyarakat untuk bereksistensi semakin banyak. Ambil contoh Twitter yang dimana si pembuatnya menginginkan Twitter sebagai wadah "Free Speech" bagi masyarakat. Anda bisa menggunakan Twitter untuk mengekspresikan kekaguman anda pada public figure yang anda suka, menulis status berisi pendapat anda akan sesuatu, dan hal lainnya baik secara personal maupun anonim. Begitu pula dengan sosial media lainnya, mereka sebenarnya menyajikan wadah agar orang-orang bisa berekspresi, menyampaikan apa yang ingin mereka sampaikan pada khalayak secara bebas. Dan dimana ada kebebasan, disitulah dapat dimanfaatkan oleh orang yang tidak bertanggung jawab untuk masuk. Beberapa oknum akhirnya mulai menggunakan sosial media sebagai wadah untuk 1 https://www.merdeka.com/teknologi/penggunaan-media-sosial-di-indonesia-belum-produktif.html 5 penyebaran paham ataupun kepentingan mereka kepada masyarakat, lalu menggunakan unsur anonimitas untuk mengolok dan mencerca orang-orang yang tidak sepaham dan sependapat dengan mereka. Kebanyakan dari mereka menyerang menggunakan kata-kata kasar, baik dengan reply langsung ataupun lewat kolom komentar. Banyak public figure yang mengeluhkan tindakan abusive di kolom komentar sosial media mereka, dan tak jarang beberapa public figure mematikan opsi komentar agar sosial media mereka tak perlu dibanjiri dengan olok-olok yang tidak jelas juntrungannya. Di Indonesia, fenomena ini begitu menyeruak di beberapa laman berita belakangan ini. Salah satu contoh terbaru yang menyebarkan berita palsu adalah aktivis Ratna Sarumpet dengan berkata bohong kepada media massa, dengan mengaku mendapat pemukulan dari sekelompok orang di sekitar bandara Bandung, namun pada kenyataannya mukanya lebam akibat operasi plastik yang telah dilakukan di daerah Jakarta. Pernyataan kontroversial Ratna Sarumpet tersebut sontak membuat gaduh publik nasional, karen yang bersangkutan termasuk kelompok aktivis dan membela salah satu pasangan calon Presiden. Saat ini kasusnya sedang disidangkan di Pengadilan Negeri Jakarta dengan tuntuntan hukuman penjara 10 tahun. Ibarat pisau bermata dua, media sosial juga menjadi alat ampuh untuk menebarkan kebencian. Tak jarang, melalui media sosial terjadi pertengkaran, kejahatan, bahkan tindakan terorisme. Tertangkapnya sindikat jaringan Saracen yang diduga bekerja untuk membuat hoaks, isu SARA dan propaganda kebencian menjadi bukti paling sahih, kita harus bijak bermedia sosial. Untuk itu, ada beberapa cara sederhana yang bisa dilakukan agar kita bisa menjadi pribadi yang bijak dalam menggunakan media sosial. Pertama, hindari menggunakan media sosial ketika emosi. Ketika sedang emosi, maka kita akan dengan sangat mudah bertindak ngawur dan irasional. Pakar media sosial, Nukman Luthfie, bahkan menyarankan bagi mereka yang sedang emosi untuk menghindari medsos. Hal itu, menurut dia, akan berimplikasi buruk. Apalagi medsos kerap digunakan sebagai ajang penumpahan pelbagai kekesalan. Kedua, cermati isi. Hal ini yang paling sering dikeluhkan, terutama seringnya broadcast yang datang di grup-grup whatsapp (WA) maupun telegram yang kita miliki. Untuk itu, penting kiranya untuk mencermati isi konten yang menghampiri kita tersebut dan tidak gegabah menyimpulkan. Kecuali, jika konten itu secara jelas bernada kebencian, maka harus kita bilang saat itu juga kepada sang pengirim konten tersebut untuk mengingatkan, apalagi jika kamu kenal dengan orang tersebut. Ketiga, tidak membagikan informasi yang belum jelas. Fenomena copy paste memang menjemukkan sekali dan membuat kita jengkel setengah mati. Apalagi, jika informasi itu masih simpang siur. Cara 6 sederhana untuk mengatasinya adalah, tidak turut menyebarkan informasi tersebut. Maka, jika ketemu berita yang demikian, selalu cek kebenaran sumber informasi tersebut. Keempat, mulai memilah jaringan perkawanan. Hal ini harus mulai dilakukan untuk memudahkan kita untuk memetakan mana kawan dan mana yang sekadar ‘kenal’ di medsos. Cara ini mulai dilakukan oleh banyak mengingat begitu terbukanya media sosial dan tentu saja melindungi diri kita dari, misalnya, penipuan atau hal-hal buruk lainnya. Kelima, gunakan media sosial sesuai minat. Menjamurnya media sosial dengan spesifikasi yang beragam haruslah kita gunakan dengan tepat. Contoh, penyuka video bisa lebih spesifik menggunakan Youtube atau penyuka fotografi bisa menggunakan Instagram dan Pinterest. Hal ini sekaligus membuat kita tidak mengikuti hiruk pikuk media sosial lain yang terkadang berisik dan berisi hoaks. Keenam, batasi media sosial agar tidak kecanduan. Ini yang penting, Karena medsos kita jadi lalai melakukan pekerjaan utama. Pintarlah dalam mengatur, misalnya, hanya menggunakan media sosial bila istirahat tiba atau membatasi hanya beberapa jam saja di medsos. Hal ini akan mempermudahkanmu menjalin relasi sosial di kehidupan nyata. Adanya perubahan dalam jurnalisme tradisional Sistem politik yang berubah drastis beberapa dekade terakhir berimbas pada berubahnya sistem jurnalisme. Kebebasan jurnalistik terkadang membawa bias dalam memandang sistem pertahanan negara. Banyaknya jaringan televisi saat ini memberi dampak besar bagi masyarakat. Hal ini dikarenakan hampir semua orang memiliki akses yang sama dalam penerimaan informasi, maka respons yang timbul juga sangat cepat. Fakta yang ada adalah pesan yang diterima oleh tiap orang bisa berbeda-beda. Dengan motivasi penyiaran yang berbeda dalam tiap tayangan di banyak channel televisi, maka rentan terjadi salah tafsir dan interpretasi terhadap berita. Jurnalisme di era media sosial adalah keniscayaan. Tanpa jurnalisme, informasi yang tersiar dalam ranah publik akan menjadi bias. Di era banjir informasi dan semua orang bisa mengklaim diri sebagai “jurnalis”, di sinilah jurnalisme verifikasi dibutuhkan. Seberat apapun tantangan yang dihadapi termasuk perubahan teknologi yang menuntut kecepatan menyebarkan informasi, jurnalisme harus tetap menjunjung tinggi dan mempraktikkan etika. Praktisi media mesti secara profesional juga memikirkan “bagaimana perubahan cara mengkonsumsi berita” bagi warga. Kini, mereka tak cukup hanya menyajikan berita tiap hari tentang subjek yang dianggap terpenting. Mereka mesti paham tujuan yang dimiliki masing- 7 masing berita untuk audiens, pelayanan apa yang mesti disediakan atau pertanyaan apa yang mesti dijawab. Kerugian timbul apabila pemberitaan yang muncul dari berbagai outlet media sering tampil secara bias, mengesampingkan isu-isu penting untuk publik, tetapi mengedepankan kepentingan para pemilik media. Belum lagi isi media makin menghindar dari risiko menjadi jurnalisme yang baik, mengurangi upaya melakukan kerja jurnalisme investigasi. Media sosial yang muncul belakangan ini memang mengubah panorama jurnalisme di Indonesia. Terutama yang menyangkut proses pengumpulan berita, proses pembuatan berita, dan proses penyebaran berita. Dalam proses pengumpulan berita, sudah menjadi umum saat ini jika “status” yang ditunjukkan oleh para orang terpandang-ataupun orang orang yang biasa jadi narasumber-dalam aneka media sosial mereka bisa menjadi bahan, yang kemudian ditulis di media massa mainstream. Sementara itu, aneka “informasi” yang tersebar dalam jejaring media sosial juga sering menjadi informasi yang kemudian disebarkan oleh media massa mainstream. Dalam hal ini, jurnalisme warga memiliki ruang untuk beritanya makin tersebar. Oleh karena itu, jawabannya adalah kombinasi jurnalisme lama dan baru: fungsi pers sebagai penjaga pintu tak menghilang sepenuhnya, melainkan hanya mengecil dimensinya tentang apa yang mesti disediakan pers, dan dengan sendirinya tak cukup menjelaskan peran pers. Pers harus menampilkan seperangkat fungsi yang lebih kompleks dari sekadar penjaga pintu dan mengadopsi format baru gaya bertutur, penyebaran dan pelibatan publik dalam berita. Pers masih menjadi mediator, tetapi dengan peran mediasi yang lebih beragam dan kompleks, dan menjalankannya di dunia komunikasi tanpa batas seperti sekarang akan lebih sulit. (Kovach dan Rosentiels, 2012: 180). Objektivitas tidak berarti netral. Maksud sebenarnya adalah pers harus melakukan metode objektif dan transparan dalam mengumpulkan dan memverifikasi berita, definisi ini lebih dekat pada “objektivitas” dalam pengetahuan. Keberagaman target audiens dalam segala bentuk Media massa turut serta membangun kesadaran masyarakat mengenai isu yang sedang berkembang di negara mereka tinggal (McDevitt (1996:270), serta Lindsey (1994: 163) menyatakan bahwa media memiliki peran sentral dalam menyaring informasi dan membentuk opini masyarakat. Keterbukaan reaksi masyarakat akan suatu berita pada saat 8 ini merupakan ciri demokrasi, suatu hal yang sangat mahal dibandingkan pada masa orde baru. Pada masa sekarang, tidak ada keraguan bagi masyarakat untuk memberikan kritik keras terhadap isu-isu yang berkembang. Di sisi lain, masyarakat dihadapkan kepada banyaknya pertentangan yang justru melibatkan perbedaan suku, ras, dan agama yang tampaknya pada akhir-akhir ini lebih terlihat memanas dan membawa pandangan negatif terhadap kelompok--kelompok tertentu. Ketika masyarakat yang sangat majemuk di Indonesia ini diberikan akses informasi melalui media tanpa batas, sebenarnya hal ini memberikan dampak positif dan negatif. Masyarakat dapat menjadi lebih teliti dalam mendapatkan informasi sehingga apa yang diserapnya bukan hanya berita-berita yang sifatnya lebih mengarah kepada provokasi, namun juga bagaimana mereka menjadi dapat bersikap dengan lebih bijaksana dan tidak terpancing emosinya. Hal ini pada akhirnya akan berujung pada tajamnya segregasi kelompok mayoritas dan minoritas, dua kubu yang lebih dilihat dari identitas etnis dan agama. Contoh yang sangat terlihat dalam hal terkait di atas adalah di media sosial, di mana terjadi penyebaran tautan berita serta respon masyarakat dapat langsung dilihat dalam interaksi berupa komentar-komentar yang bahkan dapat direspon langsung dalam bentuk kesetujuaan maupun ketidaksetujuan.Menariknya, dari interaksi masyarakat tersebut justru dapat dilihat sikap masyarakat, terutama yang berkaitan dengan isu keberagaman dan toleransi yang akhir-akhir ini banyak diperdebatkan. Sebagai alat untuk kontrol sosial, media seharusnya bisa berperan lebih signifikan dalam kehidupan keberagaman yang ada dalam masyarakat di Indonesia. Isi berita dalam media memang berada dalam koridor yang sudah lebih bebas diakses masyarakat, dan memang tidak dapat disalahkan pula jika pada akhirnya isi berita dianggap semakin dapat memperuncing situasi yang sudah panas. Objektivitas pemberitaan media apa pun itu diperlukan untuk menghindari salah tanggap dari masyarakat sehingga isu yang berhubungan dengan etnis dan agama tidak semakin memperparah situasi antara dua kelompok mayoritas dan minoritas, sekaligus mereduksi kecurigaan satu sama lain. Kita semua sama-sama berperan signifikan dalam menjaga keharmonisan hidup antar etnis dan agama sehingga isu apa pun seharusnya dapat diteliti dan ditanggapi dengan lebih bijaksana. Lebih jauh lagi, isu tentang etnis dan agama yang seharusnya tidak menjadi isu yang dibesar-besarkan karena masyarakat Indonesia tinggal dalam keberagaman semakin sering diberitakan, dan tidak jarang respon-respon negatif yang justru menafikan keberadaan keberagaman lebih sering muncul dan cenderung lebih menampilkan saling berbalas 9 pernyataan dan komentar. Peran media masih sangat signifikan dalam menyebarkan informasi kepada khalayak luas. Media memiliki target audiens yang beragam sehingga berita yang disajikan tentu akan jelas bervariasi sesuai kebutuhan audiens yang ditargetnya. Dalam era keterbukaan informasi, media tampil sebagai pusat informasi ekspansif ditandai dengan cepatnya berita masuk serta dirilis untuk masyarakat. Sebagai bagian dari demokrasi, media merupakan corong utama informasi sosial politik yang juga berguna bagi sarana berpikir bagi masyarakat, tidak hanya untuk berpolitik, tetapi juga memberikan dinamika kehidupan berbangsa di Indonesia. Kegiatan operasi kontra dan propaganda Harold D. Lasswell (dalam Heryanto, 2013: 76) menyatakan bahwa propaganda semata merujuk pada kontrol opini, dengan simbol-simbol penting, atau berbicara lebih konkret dan kurang akurat melalui cerita, rumor, berita, gambar, atau bentuk-bentuk komunikasi memengaruhi sosial lainnya. tindakan Ia juga memberi manusia dengan definisi propaganda sebagai memanipulasi representasi Representasi bisa berbentuk lisan, tulisan, gambar, atau musik. Inti teknik (penyajian). dari kegiatan propaganda adalah persuasi, yang mengutamakan ‘kemenangan’ dengan mengabaikan kebenaran, moral, dan etika. Atas dasar itulah banyak kalangan menilai bahwa propaganda sebagai kegiatan komunikasi yang berbahaya bagi kemanusiaan dan demokrasi (Arifin, 2010: 233). Propaganda dianggap mengabaikan kebenaran, moral dan etika karena sumber informasi yang cenderung samar-samar, menjadi pesan dalam komunikasi penyampaian pesan yang kerap tidak terikat tidak jelas dan waktu sehingga dilakukan kapan saja bahkan bisa setiap saat, sifat gagasan atau informasi yang disampaikan amat tertutup dan bahkan dianggap sudah mutlak benar, dengan tujuan bersifat umum dan ditunjukkan untuk mengubah sistem kepercayaan, tidak menekankan kesukarelaan dan melibatkan paksaan/koersif, tanpa aturan etis, demi kepentingan kelompok atau golongannya secara sepihak. Terdapat tiga jenis propaganda; propaganda putih, abu-abu, dan hitam. Propaganda putih dilakukan media yang berpihak pada kepentingan politik atau kebijakan tertentu. Kegiatannya terbuka meski sponsor kegiatan propaganda itu sering tidak diketahui. Propaganda abu-abu adalah kegiatan yang dilakukan tertutup. Contohnya dengan memanfaatkan wartawan untuk menulis pesan tertentu yang ditujukan ke publik agar mereka tergerak dan memercayai dan bergerak melakukan apa yang diinginkan. Yang terakhir adalah propaganda hitam, yaitu kegiatan penyebaran 10 informasi tertutup yang menyesatkan. Tujuannya untuk memberikan informasi yang meruntuhkan kredibilitas lawan. Upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi kegiatatan propaganda adalah sebagai berikut ; 1) Pemerintah menutup situs atau memblokir akses ke jejaring sosial karena kelompok teroris sering melaksanakan propaganda baik terbuka maupun tertutup ; 2) Melakukan kontra propaganda di media sosial. Kontra propaganda juga berfungsi membalikkan pesan yang disampaikan oleh propaganda radikal. Kontra propaganda ini perlu dipikirkan secara matang. Perlu dilakukan perencanaan strategi propaganda yang efektif dan tepat sasaran; 3) Masyarakat harus cepat tanggap jika menemukan situs internet dengan konten radikaliseme. Langkah cepat tanggap tersebut dapat dilakukan misalnya dengan melaporkan ke Kementrian Kominfo ; 4) Kekuatan negara yang lebih besar harus dimanfaatkan untuk melawan propaganda radikalisme. Lembaga pendidikan, lembaga agama, organisasi masyarakat, dan lembaga-lembagan negara lain seperti Polri, BNPT, BIN harus bersatu padu untuk melawan propaganda radikalisme. Fenomena global ISIS Secara konstitusional, Indonesia menganggap dirinya negara yang toleran secara agama, yang secara resmi mengakui enam agama: Islam, Protestan, Katolik Roma, Hinduisme, Buddha, dan Konfusianisme. Toleransi beragama semacam itu telah menjadi salah satu kunci bagi stabilitas politik di negara yang secara geografis beragam dengan 240 juta jiwa, yang orang-orangnya secara adat memilih nasionalisme di atas keyakinan. Walau negara nusantara tersebut telah mengalami bentrokan etnis-agama berdarah dalam sejarah terbaru, namun partai-partai politik Islam radikal tidak pernah menang. Namun dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia telah menyaksikan serangan-serangan fanatik oleh kelompok-kelompok teroris yang berafiliasi dengan ISIS. Berikut ini adalah contoh tindakan anarkis yang pernah dilakukan oleh ISIS di Indonesia ; 1) Bom Bali tahun 2002, terjadi pada dua tempat yang berbeda ; 2) Serangan bom di jalan thamrin pada hari kamis, 14 januari 2016 terjadi di sekitar pusat perbelanjaan sarinah, jakarta ; 3) Bom bunuh diri di Mapolresta Surakarta pada hari selasa, 5 juli 2016, 4) Bom gereja di Surabaya, pada hari minggu 13 Mei 2018 dan Senin 14 Mei 2018. Pernyataan dari Presiden Jokowi yang menegaskan akan menanggapi serius fenomena ISIS di Indonesia perlu implementasi yang jelas. Dilihat dari dasar permasalahan, 11 gerakan munculnya ISIS sebenarnya didorong oleh gagalnya sistem pendidikan kita memupuk generasi bangsa yang agamawis dan bernilai-nilai religius. Patut menjadi renungan bersama bahwa kerancuan berpikir terkait nilai-nilai keagamaan mendorong mudahnya generasi bangsa mendapat doktrin-doktrin negatif yang berujung pada proses pencucian otak. Gerakan terorisme memang sangat terorganisir dengan baik. Setiap mereka yang tertangkap hampir pasti tergabung dalam sebuah kelompok penganut tertentu. Maka jangan heran, meskipun densus 88 terus mampu menangkap para terorisme satu demi satu, namun jumlah terorisme tetap bergelimang lantaran pola perekrutan yang masih tetap hidup. Sama halnya ibarat sebuah janggot, semakin dicukur maka semakin lebat pula bermunculan. Upaya yang harus dilakukan oleh bangsa Indonesia agar ISIS tidak berkembang di Indonesia dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu : 1) Melalui deradikalisasi akan paham kelompok radikal seperti ISIS harus juga digencarkan. Itu dilakukan agar paham tersebut tak semakin tumbuh kuat. Salah satu caranya melalui pendidikan ; 2) Pelibatan ormas-ormas Islam, seperti NU dan Muhammadiyah, merupakan langkah yang bijaksana untuk memoderasi pandangan-pandangan yang telanjur ekstrem dan membentengi lingkungan internal masing-masing dari perembesan radikalisme ; 3) Pendekatan kewilayahan. Karena para pengikut ISIS di Indonesia bergerak di 'bawah tanah', penanganan tidak bisa ditempuh di 'atas tanah'. Di sinilah pendekatan intelijen sangat diperlukan; 4) Perlu aturan yang cukup agar aparat bisa bergerak di lapangan dengan langkah-langkah yang terukur. Jangan sampai langkah yang dilakukan aparat justru dinilai melanggar hak asasi manusia (HAM) ; 5) Ancaman ISIS makin terlihat tak hanya di dunia nyata, namun juga di dunia maya. Seiring gencarnya kampanye serangan darat terhadap ISIS, pemerintah negara-negara di kawasan ini juga diharapkan secara tegas mengatur penggunaan dan penyalahgunaan internet dalam mencegah ISIS dalam mengindoktrinasi pemikiran kaum muda lewat media sosial. Penutup Berdasarkan uraian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa ancaman perang saat ini sudah berubah dari perang konvensional menjadi perang asimetris. Indonesia sebagai negara yang berkembang sedang menghadapi perang asimetris yang melibatkan negara sebagai aktor utama menghadapi beberapa aktor baik negara lain maupun non-negara. Ancaman asimetris yang dihadapi oleh Indonesia menjadi permasalahan sekaligus tantangan yang harus menjadi perhatian khusus bagi pemerintah maupun juga pemangku kepentingan 12 lainnya. Salah satu contoh perang asimetris adalah perang irregular yang bertujuan untuk memperoleh kredibilitas maupun legitimasi atas kekuatan politik dengan tujuan untuk mendukung atau menjatuhkan pihak penguasa tersebut. Dalam menghadapi peperangan Irregular akan lebih berhasil bila menggunakan strategi atau pendekatan secara tidak langsung baik dengan menggunakan kekuatan militer penuh maupun kemampuan lainnya seperti teknologi informasi dan komunikasi yang bersifat asimetris dalam rangka melunturkan kekuatan, pengaruh dan kemauan bertempur musuh sebagai suatu ancaman di masa depan. Irregular warfare dan berbagai fenomena peperangan posmodern sangat berpengaruh terhadap studi strategi. Dimana dengan semakin berkembangnya irregular warfare dan berbagai fenomena peperangan semakin membuat strategi berkembang secara dinamis dan adaptif, dimana strategi perang semakin bersifat fleksibel dalam menanggapi dan menjawab berbagai tantangan yang muncul di setiap era. Berdasarkan kesimpulan diatas, maka saran yang disampaikan oleh penulis dalam menghadapi perang irregular yang mengancam Indonesia yaitu : 1) Pemerintah perlu mengeluarkan kebijakan baru mengenai penggalangan komponen cadangan dan dukungan yang perlu dipersiapkan secara dini melalui pendidikan dan latihan yang selanjutnya disebar kedalam lingkungan masyarakat agar berbaur dan menjadi agen spionase untuk mengantisipasi irregular warfare; 2) Pemerintah menguatkan peran diplomasi, karena diplomasi merupakan faktor terpenting dari segenap faktor yang menyebabkan suatu negara menjadi kuat. Kualitas diplomasi dalam melaksanakan hubungan luar negeri dalam suatu negara oleh para diplomatnya untuk kekuatan nasional dalam masa damai, sama artinya dengan siasat dan taktik militer oleh pemimpin militernya untuk kekuatan nasionalnya dalam masa perang ; 3) Pemerintah memperhatikan peran informasi yang disampaikan atau diberitakan oleh media sebagai sarana pembentukan opini publik dan menjadi strategi asimetrik bagi para aktor non-negara. Tak luput dari itu semua juga perlu memperhatikan peranan LSM-LSM yang berada di Indonesia yang memang keberadaannya terkadang menyudutkan pemerintahan RI khususnya keberadaan aparat TNI dan Polri seperti yang berada di Papua sehingga apabila dibiarkan akan dapat mengancam kedaulatan RI ; 4) Pendidikan nasionalisme yang menekankan kebanggaan atas potensi bangsa, yang tidak harus diukur berdasarkan bangsa lain, perlu dikembangkan untuk mengantisipasi era global dan kosmopolitanisme. 13 Demikian esai ini disusun dengan harapan dapat memberikan masukan kepada pimpinan serta penulis mengharapkan saran dan masukan terkait esai ini yang tentunya masih terdapat kekurangan demi perbaikan untuk tulisan mendatang.

Judul: Jawaban Lt Perang Irregular (praktek)

Oleh: W Wibowo


Ikuti kami