Jawaban Lt Perang Irregular (praktek)

Oleh W Wibowo

15 tayangan
Bagikan artikel

Transkrip Jawaban Lt Perang Irregular (praktek)

MARKAS BESAR ANGKATAN DARAT
SEKOLAH STAF DAN KOMANDO

PRODUK PERORANGAN

PENGAMPU

: DEPMASSTRA

BIDANG STUDI

: TEORI PERANG DAN STRATEGI

SUB BIDANG STUDI

: PEPERANGAN IRREGULER
(PRAKTEK)

NAMA

: AGUNG YUHONO

PANGKAT/KORPS

: MAYOR ARM

NRP

: 11050050500983

NOSIS

: 57186

KELOMPOK

: XII ( RESPONDEN )

2
LEMBAR KEHORMATAN
Yang bertanda tangan di bawah ini :
NAMA

: AGUNG YUHONO

PANGKAT/KORP

: MAYOR ARM

NRP

: 11050050500983

NOSIS

: 57186

Menyatakan dengan benar bahwa

:

1.

Produk ini adalah benar hasil karya sendiri.

2.

Materi hasil karya ini merupakan hasil pemikiran sendiri dan ide murni penulis.

3.

Materi hasil karya ini bukan menyalin, menyadur, mencontoh, mengkopi dan

plagiat dari hasil karya Pasis lain atau Pasis sebelumnya atau karya orang lain.
4.

Apabila ternyata dikemudian hari ditemukan bukti-bukti yang benar dan sah

mengandung unsur plagiat atau pelanggaran lainnya (seperti yang diatur dalam Juklak
tentang produk Pasis), maka saya bersedia dan sanggup menerima sanksi dari
lembaga sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Medan, 1 Maret 2019
Perwira Siswa,

Agung Yuhono
Mayor Arm NRP 11050050500983

STRATEGI MENGANTISIPASI PEPERANGAN IRREGULAR
DI MASA DEPAN
Pendahuluan
Perang di masa kini dan mendatang memiliki spektrum yang luas. Militer dengan
persenjataan dan teknologi paling canggih pun bukan jaminan bagi tercapainya
kemenangan. Perangkat-perangkat sipil seperti media, siber dan internet pada hakikatnya
memegang monopoli yang menentukan dalam perang saat ini dan di masa mendatang.
Fenomena irreguler ini yang kemudian memunculkan istilah irregular warfare.Fenomena
ancaman di tingkat global pun mengalami peningkatan volume. Islamic State of Iraq and
Syria (ISIS) adalah kelompok gerilyawan pemberontak dengan pola perang hibrida yang saat
ini memegang sebagian wilayah di Irak dan Suriah dengan pasukan darat semi-konvensional
yang tersusun secara hierarkis, dan melakukan serangan teror internasional berbasis
jaringan. Pada awal 2017, Amerika Serikat berusaha untuk menurunkan, mengalahkan, dan
menghancurkan ISIS. Namun Kenyataannya beberapa analis strategi berpendapat bahwa
strategi saat ini tidak memadai, atau tidak sesuai dengan tugas yang ada. Skenario perang
hibrida atau “hybrid war‟ menjadi skenario paling berbahaya yang dapat terjadi di Indonesia,
dimana terjadi beberapa ancaman yang dilakukan oleh gabungan regular dan irregular
forces, teroris, dan kelompok lainnya di beberapa tempat (mandala operasi) dalam waktu
bersamaan dengan mengkombinasikan aksiteroris, separatis dan didukung dengan aksi
militer dari negara lain. Untuk mampu mengatasi ancaman yang bersifat hibrida, dibutuhkan
pula satuan atau kekuatan yang bersifat hibrida yaitu „combined elements‟.
Dari latar belakang di atas, maka identifikasi persoalan adalah : Pertama. Bagaimana
pengaruh perkembangan teknologi informasi dan komunikasi dikaitkan irregular warfare?”
Kedua. Sampai sejauh mana trend penggunaan media sosial oleh generasi muda Indonesia
saat ini, dimana belum terarah dengan baik ?

Ketiga. Bagaimana pengaruh perubahan

jurnalisme tradisional dalam konteks irregular warfare? Keempat. Bagaimana keberagaman
target audiens berpengaruh dalam strategi peperangan irreguler? Kelima.

Bagaimana

kegiatan operasi kontra dan propaganda dalam konteks irregular warfare saat ini? Keenam.
Bagaimana Fenomena global ISIS dalam konteks irregular warfare saat ini ? . Dari beberapa
persoalan tersebut di atas maka dapat dirumuskan masalah yaitu “Bagaimana strategi
mengantisipasi Peperangan Irreguler di masa depan ?”

2
Dari penjelasan tersebut di atas, maka pentingnya penulisan essai ini adalah agar
para Pasis memahami permasalahan mengenai strategi menghadapi peperangan irregular
masa depan adalah untuk mengetahui sejauhmana penyiapan dan antisipasi dalam
menghadapi perang itu sendiri dihadapakan dengan kondisi kehidupan berbangsa dan
bernegara. Acuan yang dipergunakan penulis dalam penulisan essai ini menggunakan
metode deskriptis analisis berdasarkan pengamatan di lapangan dan pendekatan secara
empiris serta studi kepustakaan.
Nilai guna esai ini adalah agar pembaca dapat mengetahui langkah-langkah dan
upaya dalam menghadapi peperangan irregular di masa depan untuk menyiapkan langkahlangkah preventif aktif dalam menghadapinya sehingga negara Indonesia bisa aman dan
tidak hancur seperti negara Irak. Sedangkan maksud tulisan ini adalah untuk memberikan
gambaran kepada Komando Atas tentang strategi dalam menghadapi peperangan irregular
di masa depan di Indonesia. Tujuan dari penulisan adalah sebagai sumbang saran dan
pemikiran kepada Komando Atas dalam rangka memberikan upaya dan solusi yang dapat
dilakukan dalam menyelesaikan persoalan peperangan irregular di masa depan. Ruang
lingkup penulisan essai ini dibatasi pada persoalan peperangan irregular di masa depan di
Indonesia.
Pembahasan
Perang di masa kini dan mendatang memiliki spektrum yang luas. Militer dengan
persenjataan dan teknologi paling canggih pun bukan jaminan bagi tercapainya
kemenangan. Perangkat-perangkat sipil seperti media, siber dan internet pada hakikatnya
memegang monopoli yang menentukan dalam perang saat ini dan di masa mendatang.
Fenomena irreguler ini yang kemudian memunculkan istilah irregular warfare. Dihadapkan
kondisi Negara Indonesia yang merupakan negara kepulauan membuat serta membentuk
adanya perbedaan agama, suku, adat dan budaya. Berkaitan dengan hal tersebut
berdampak menimbulkan adanya kerawanan terhadap kedaulatan bangsa dan keutuhan
wilayah NKRI. Hal tersebut terkait dengan kondisi ancaman yang ada saat ini merupakan
Fenomena irregular warfare. Sehingga perlu adanya pembahasan secara mendalam dalam
rangka mengatasi permasalahan irregular warfare dan strategi antisipasi di masa depan demi
tetap aman dan tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia.

3

Perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi
Perkembangan teknologi pada saat ini sangat pesat sekali terutama teknlogi di bidang
informasi komunikasi, baik dari sisi kecepatan maupun kemudahan masyarakat dalam
mengakses informasi yang dibutuhkan juga semakin berkembang. Teknologi informasi dan
teknologi ini sangat penting sekali bagi suatu negara apalagi bagi negara yang berkembang.
Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi di Indonesia saat juga tidak kalah
pesatnya di banding dengan Negara Negara lain.

Saat

ini

adalah

zaman

informasi

dengan kecepatan tinggi. Teknologi informasi sudah berkembang sedemikian rupa yang
membuat suatu informasi, baik berupa berita, analisa ataupun pandangan segera sampai di
hadapan kita dalam hitungan detik. Sampai saat ini perkembangan ilmu pengetahuan telah
menghantarkan masyarakat menuju babak baru yaitu babak yang memanfaatkan peralatanperalatan yang merupakan hasil dari teknologi. Penggunaan tenaga manusia yang semakin
hari semakin kecil volumenya sering kali menyebabkan orang kehilangan pekerjaannya
karena tugasnya telah tergantikan oleh peralatan atau mesin. Sebagai sarana penyampaian
informasi dan komunikasi, komputer bisa dipakai sebagai sarana berinternetan. Lewat
internet orang bisa mencari bermacam-macam informasi dan berkomunikasi. Peran yang
dapat diberikan oleh aplikasi teknologi informasi ini adalah mendapatkan informasi untuk
kehidupan pribadi seperti informasi tentang kesehatan, hobi, rekreasi, dan rohani. Selain
memberikan keuntungan, ternyata peralatan teknologi informasi dan komunikasi juga
memberikan dampak negatif bagi penggunanya. Dampak negatif tersebut muncul sebagai
akibat dari penggunaan yang salah atau tidak bertanggung jawab dari yang menggunakan.
Beberapa dampak negatif tersebut adalah 1). Anak lebih banyak menghabiskan waktu
menonton TV ketimbang melakukan hal lainnya (seperti belajar dan olah raga), 2). Anak
kehilangan kemampuan berbaur dengan masyarakat dan cenderung nyaman dengan
kehidupan online, 3) Adanya pelanggaran hak cipta, 4). Kejahatan di internet, 5). Penyebaran
virus komputer, dan 6). Pornografi, perjudian, penipuan, tayangan kekerasan.
Adapun cara mengatasi dampak-dampak negatif tersebut adalah : 1). Gunakan
teknologi untuk menjalin hubungan dengan orang yang sudah dikenal, 2). Cari komunitas
positif yang sering melakukan pertemuan didunia nyata, 3). Perlunya penegakkan hukum
yang berlaku dengan dibentuknya polisi internet, 4). Menghindari pemakaian telepon seluler
yang berfitur canggih oleh anak-anak dibawah umur dan lebih mengawasi penggunaan

4
telepon seluler, 5). Perbanyak membaca buku-buku yang bersifat edukatif dan bersifat
keimanan serta aplikasi komputer yang bersifat mendidik, dan 6). Perlunya pengaturan waktu
untuk berada di depan komputer atau televisi. Kata kunci : informasi, komunikasi,
perkembangan teknologi
Trend penggunaan media sosial oleh generasi muda Indonesia saat ini belum terarah
dengan baik.
Berdasarkan data terakhir, pengguna internet di Tanah Air mencapai 72 juta jiwa. Hal
ini dikarenakan dengan perilaku masyarakat negeri ini yang cenderung aktif bersosial media. 1
Sebanyak 93 persen dari pengguna internet Indonesia, aktif mengakses Facebook.
Bahkan Jakarta tercatat sebagai pengguna Twitter terbanyak, hingga disebut sebagai ibukota
media sosial berbasis teks tersebut. Jumlah mobile subscription yang aktif di Indonesia juga
mencapai 282 jutaan. Di mana 74 persen di antaranya digunakan masyarakat kita untuk
mengakses social media. Fenomena yang seringkali kita lihat di sosial media belakangan ini
adalah munculnya komentar-komentar negatif, olok-olok dan juga berita palsu. Kita biasanya
menyebut ketiganya dengan sebutan "3H" alias "Harrasment, Hate Speech & Hoax".
Semenjak jejaring sosial Facebook menyerbu masyarakat sekitar tahun 2004, masyarakat
awalnya menggunakan jejaring sosial ini untuk ajang bersosialisasi dengan orang-orang
yang secara geografis jauh untuk dijangkau. Perlahan berkembang, masyarakat mulai
menggunakan kolom untuk menulis status, bukan lagi untuk keperluan unjuk perasaan hati
dan kegalauan, melainkan unjuk pemikiran dan sarana berbagi informasi. Kemudian
bermunculan sosial media lainnya seperti Twitter, Instagram, Path, dll. yang membuat
alternatif masyarakat untuk bereksistensi semakin banyak. Ambil contoh Twitter yang
dimana si pembuatnya menginginkan Twitter sebagai wadah "Free Speech" bagi
masyarakat. Anda bisa menggunakan Twitter untuk mengekspresikan kekaguman anda pada
public figure yang anda suka, menulis status berisi pendapat anda akan sesuatu, dan hal
lainnya baik secara personal maupun anonim. Begitu pula dengan sosial media lainnya,
mereka sebenarnya menyajikan wadah agar orang-orang bisa berekspresi, menyampaikan
apa yang ingin mereka sampaikan pada khalayak secara bebas. Dan dimana ada
kebebasan, disitulah dapat dimanfaatkan oleh orang yang tidak bertanggung jawab untuk
masuk. Beberapa oknum akhirnya mulai menggunakan sosial media sebagai wadah untuk
1

https://www.merdeka.com/teknologi/penggunaan-media-sosial-di-indonesia-belum-produktif.html

5
penyebaran paham ataupun kepentingan mereka kepada masyarakat, lalu menggunakan
unsur anonimitas untuk mengolok dan mencerca orang-orang yang tidak sepaham dan
sependapat dengan mereka. Kebanyakan dari mereka menyerang menggunakan kata-kata
kasar, baik dengan reply langsung ataupun lewat kolom komentar. Banyak public figure yang
mengeluhkan tindakan abusive di kolom komentar sosial media mereka, dan tak jarang
beberapa public figure mematikan opsi komentar agar sosial media mereka tak perlu dibanjiri
dengan olok-olok yang tidak jelas juntrungannya. Di Indonesia, fenomena ini begitu
menyeruak di beberapa laman berita belakangan ini. Salah satu contoh terbaru yang
menyebarkan berita palsu adalah aktivis Ratna Sarumpet dengan berkata bohong kepada
media massa, dengan mengaku mendapat pemukulan dari sekelompok orang di sekitar
bandara Bandung, namun pada kenyataannya mukanya lebam akibat operasi plastik yang
telah dilakukan di daerah Jakarta. Pernyataan kontroversial Ratna Sarumpet tersebut sontak
membuat gaduh publik nasional, karen yang bersangkutan termasuk kelompok aktivis dan
membela salah satu pasangan calon Presiden. Saat ini kasusnya sedang disidangkan di
Pengadilan Negeri Jakarta dengan tuntuntan hukuman penjara 10 tahun.
Ibarat pisau bermata dua, media sosial juga menjadi alat ampuh untuk menebarkan
kebencian. Tak jarang, melalui media sosial terjadi pertengkaran, kejahatan, bahkan tindakan
terorisme. Tertangkapnya sindikat jaringan Saracen yang diduga bekerja untuk membuat
hoaks, isu SARA dan propaganda kebencian menjadi bukti paling sahih, kita harus bijak
bermedia sosial. Untuk itu, ada beberapa cara sederhana yang bisa dilakukan agar kita bisa
menjadi pribadi yang bijak dalam menggunakan media sosial. Pertama,

hindari

menggunakan media sosial ketika emosi. Ketika sedang emosi, maka kita akan dengan
sangat mudah bertindak ngawur dan irasional. Pakar media sosial, Nukman Luthfie, bahkan
menyarankan bagi mereka yang sedang emosi untuk menghindari medsos. Hal itu, menurut
dia, akan berimplikasi buruk. Apalagi medsos kerap digunakan sebagai ajang penumpahan
pelbagai kekesalan. Kedua, cermati isi. Hal ini yang paling sering dikeluhkan, terutama
seringnya broadcast yang datang di grup-grup whatsapp (WA) maupun telegram yang kita
miliki. Untuk itu, penting kiranya untuk mencermati isi konten yang menghampiri kita tersebut
dan tidak gegabah menyimpulkan. Kecuali, jika konten itu secara jelas bernada kebencian,
maka harus kita bilang saat itu juga kepada sang pengirim konten tersebut untuk
mengingatkan, apalagi jika kamu kenal dengan orang tersebut. Ketiga, tidak membagikan
informasi yang belum jelas. Fenomena copy paste memang menjemukkan sekali dan
membuat kita jengkel setengah mati. Apalagi, jika informasi itu masih simpang siur. Cara

6
sederhana untuk mengatasinya adalah, tidak turut menyebarkan informasi tersebut. Maka,
jika ketemu berita yang demikian, selalu cek kebenaran sumber informasi tersebut. Keempat,
mulai memilah jaringan perkawanan. Hal ini harus mulai dilakukan untuk memudahkan kita
untuk memetakan mana kawan dan mana yang sekadar ‘kenal’ di medsos. Cara ini mulai
dilakukan oleh banyak mengingat begitu terbukanya media sosial dan tentu saja melindungi
diri kita dari, misalnya, penipuan atau hal-hal buruk lainnya. Kelima, gunakan media sosial
sesuai minat. Menjamurnya media sosial dengan spesifikasi yang beragam haruslah kita
gunakan dengan tepat. Contoh, penyuka video bisa lebih spesifik menggunakan Youtube
atau penyuka fotografi bisa menggunakan Instagram dan Pinterest. Hal ini sekaligus
membuat kita tidak mengikuti hiruk pikuk media sosial lain yang terkadang berisik dan berisi
hoaks. Keenam, batasi media sosial agar tidak kecanduan. Ini yang penting, Karena medsos
kita jadi lalai melakukan pekerjaan utama. Pintarlah dalam mengatur, misalnya, hanya
menggunakan media sosial bila istirahat tiba atau membatasi hanya beberapa jam saja di
medsos. Hal ini akan mempermudahkanmu menjalin relasi sosial di kehidupan nyata.
Adanya perubahan dalam jurnalisme tradisional
Sistem politik yang berubah drastis beberapa dekade terakhir berimbas pada
berubahnya sistem jurnalisme. Kebebasan jurnalistik terkadang membawa bias dalam
memandang sistem pertahanan negara. Banyaknya jaringan televisi saat ini memberi
dampak besar bagi masyarakat. Hal ini dikarenakan hampir semua orang memiliki akses
yang sama dalam penerimaan informasi, maka respons yang timbul juga sangat cepat. Fakta
yang ada adalah pesan yang diterima oleh tiap orang bisa berbeda-beda. Dengan motivasi
penyiaran yang berbeda dalam tiap tayangan di banyak channel televisi, maka rentan terjadi
salah tafsir dan interpretasi terhadap berita.
Jurnalisme di era media sosial adalah keniscayaan. Tanpa jurnalisme, informasi yang
tersiar dalam ranah publik akan menjadi bias. Di era banjir informasi dan semua orang bisa
mengklaim diri sebagai “jurnalis”, di sinilah jurnalisme verifikasi dibutuhkan. Seberat apapun
tantangan yang dihadapi termasuk perubahan teknologi yang menuntut kecepatan
menyebarkan informasi, jurnalisme harus tetap menjunjung tinggi dan mempraktikkan etika.
Praktisi media mesti secara profesional juga memikirkan “bagaimana perubahan cara
mengkonsumsi berita” bagi warga. Kini, mereka tak cukup hanya menyajikan berita tiap hari
tentang subjek yang dianggap terpenting. Mereka mesti paham tujuan yang dimiliki masing-

7
masing berita untuk audiens, pelayanan apa yang mesti disediakan atau pertanyaan apa
yang mesti dijawab.
Kerugian timbul apabila pemberitaan yang muncul dari berbagai outlet media sering
tampil secara bias, mengesampingkan isu-isu penting untuk publik, tetapi mengedepankan
kepentingan para pemilik media. Belum lagi isi media makin menghindar dari risiko menjadi
jurnalisme yang baik, mengurangi upaya melakukan kerja jurnalisme investigasi. Media
sosial yang muncul belakangan ini memang mengubah panorama jurnalisme di Indonesia.
Terutama yang menyangkut proses pengumpulan berita, proses pembuatan berita, dan
proses penyebaran berita. Dalam proses pengumpulan berita, sudah menjadi umum saat ini
jika “status” yang ditunjukkan oleh para orang terpandang-ataupun orang orang yang biasa
jadi narasumber-dalam aneka media sosial mereka bisa menjadi bahan, yang kemudian
ditulis di media massa mainstream. Sementara itu, aneka “informasi” yang tersebar dalam
jejaring media sosial juga sering menjadi informasi yang kemudian disebarkan oleh media
massa mainstream. Dalam hal ini, jurnalisme warga memiliki ruang untuk beritanya makin
tersebar.
Oleh karena itu, jawabannya adalah kombinasi jurnalisme lama dan baru: fungsi pers
sebagai penjaga pintu tak menghilang sepenuhnya, melainkan hanya mengecil dimensinya
tentang apa yang mesti disediakan pers, dan dengan sendirinya tak cukup menjelaskan
peran pers. Pers harus menampilkan seperangkat fungsi yang lebih kompleks dari sekadar
penjaga pintu dan mengadopsi format baru gaya bertutur, penyebaran dan pelibatan publik
dalam berita. Pers masih menjadi mediator, tetapi dengan peran mediasi yang lebih beragam
dan kompleks, dan menjalankannya di dunia komunikasi tanpa batas seperti sekarang akan
lebih sulit. (Kovach dan Rosentiels, 2012: 180). Objektivitas tidak berarti netral. Maksud
sebenarnya adalah pers harus melakukan metode objektif dan transparan dalam
mengumpulkan dan memverifikasi berita, definisi ini lebih dekat pada “objektivitas” dalam
pengetahuan.
Keberagaman target audiens dalam segala bentuk
Media massa turut serta membangun kesadaran masyarakat mengenai isu yang
sedang berkembang di negara mereka tinggal (McDevitt (1996:270), serta Lindsey (1994:
163) menyatakan bahwa media memiliki peran sentral dalam menyaring informasi dan
membentuk opini masyarakat. Keterbukaan reaksi masyarakat akan suatu berita pada saat

8
ini merupakan ciri demokrasi, suatu hal yang sangat mahal dibandingkan pada masa orde
baru. Pada masa sekarang, tidak ada keraguan bagi masyarakat untuk memberikan kritik
keras terhadap isu-isu yang berkembang.
Di sisi lain, masyarakat dihadapkan kepada banyaknya pertentangan yang justru
melibatkan perbedaan suku, ras, dan agama yang tampaknya pada akhir-akhir ini lebih
terlihat memanas dan membawa pandangan negatif terhadap kelompok--kelompok
tertentu. Ketika masyarakat yang sangat majemuk di Indonesia ini diberikan akses informasi
melalui media tanpa batas, sebenarnya hal ini memberikan dampak positif dan negatif.
Masyarakat dapat menjadi lebih teliti dalam mendapatkan informasi sehingga apa yang
diserapnya bukan hanya berita-berita yang sifatnya lebih mengarah kepada provokasi,
namun juga bagaimana mereka menjadi dapat bersikap dengan lebih bijaksana dan tidak
terpancing emosinya. Hal ini pada akhirnya akan berujung pada tajamnya segregasi
kelompok mayoritas dan minoritas, dua kubu yang lebih dilihat dari identitas etnis dan
agama. Contoh yang sangat terlihat dalam hal terkait di atas adalah di media sosial, di mana
terjadi penyebaran tautan berita serta respon masyarakat dapat langsung dilihat dalam
interaksi berupa komentar-komentar yang bahkan dapat direspon langsung dalam bentuk
kesetujuaan maupun ketidaksetujuan.Menariknya, dari interaksi masyarakat tersebut justru
dapat dilihat sikap masyarakat, terutama yang berkaitan dengan isu keberagaman dan
toleransi yang akhir-akhir ini banyak diperdebatkan.
Sebagai alat untuk kontrol sosial, media seharusnya bisa berperan lebih signifikan
dalam kehidupan keberagaman yang ada dalam masyarakat di Indonesia. Isi berita dalam
media memang berada dalam koridor yang sudah lebih bebas diakses masyarakat, dan
memang tidak dapat disalahkan pula jika pada akhirnya isi berita dianggap semakin dapat
memperuncing situasi yang sudah panas. Objektivitas pemberitaan media apa pun itu
diperlukan untuk menghindari salah tanggap dari masyarakat sehingga isu yang
berhubungan dengan etnis dan agama tidak semakin memperparah situasi antara dua
kelompok mayoritas dan minoritas, sekaligus mereduksi kecurigaan satu sama lain. Kita
semua sama-sama berperan signifikan dalam menjaga keharmonisan hidup antar etnis dan
agama sehingga isu apa pun seharusnya dapat diteliti dan ditanggapi dengan lebih
bijaksana. Lebih jauh lagi, isu tentang etnis dan agama yang seharusnya tidak menjadi isu
yang dibesar-besarkan karena masyarakat Indonesia tinggal dalam keberagaman semakin
sering diberitakan, dan tidak jarang respon-respon negatif yang justru menafikan keberadaan
keberagaman lebih sering muncul dan cenderung lebih menampilkan saling berbalas

9
pernyataan dan komentar. Peran media masih sangat signifikan dalam menyebarkan
informasi kepada khalayak luas. Media memiliki target audiens yang beragam sehingga
berita yang disajikan tentu akan jelas bervariasi sesuai kebutuhan audiens yang
ditargetnya. Dalam era keterbukaan informasi, media tampil sebagai pusat informasi
ekspansif ditandai dengan cepatnya berita masuk serta dirilis untuk masyarakat. Sebagai
bagian dari demokrasi, media merupakan corong utama informasi sosial politik yang juga
berguna bagi sarana berpikir bagi masyarakat, tidak hanya untuk berpolitik, tetapi juga
memberikan dinamika kehidupan berbangsa di Indonesia.
Kegiatan operasi kontra dan propaganda
Harold D. Lasswell (dalam Heryanto, 2013: 76) menyatakan bahwa propaganda
semata merujuk pada kontrol opini, dengan simbol-simbol penting, atau berbicara lebih
konkret dan kurang akurat melalui cerita, rumor, berita, gambar, atau bentuk-bentuk
komunikasi
memengaruhi

sosial lainnya.
tindakan

Ia

juga

memberi

manusia dengan

definisi

propaganda sebagai

memanipulasi

representasi

Representasi bisa berbentuk lisan, tulisan, gambar, atau musik.

Inti

teknik

(penyajian).

dari

kegiatan

propaganda adalah persuasi, yang mengutamakan ‘kemenangan’ dengan mengabaikan
kebenaran, moral, dan etika. Atas dasar itulah banyak kalangan menilai bahwa propaganda
sebagai kegiatan komunikasi yang berbahaya bagi kemanusiaan dan demokrasi (Arifin,
2010: 233). Propaganda dianggap mengabaikan kebenaran, moral dan etika karena
sumber informasi

yang

cenderung samar-samar,

menjadi

pesan dalam komunikasi

penyampaian

pesan

yang

kerap

tidak terikat

tidak jelas dan
waktu

sehingga

dilakukan kapan saja bahkan bisa setiap saat, sifat gagasan atau informasi yang
disampaikan amat tertutup dan bahkan dianggap sudah mutlak benar, dengan tujuan
bersifat umum dan ditunjukkan untuk mengubah sistem kepercayaan, tidak menekankan
kesukarelaan dan melibatkan paksaan/koersif, tanpa aturan etis, demi kepentingan
kelompok atau golongannya secara sepihak. Terdapat tiga jenis propaganda; propaganda
putih, abu-abu, dan hitam. Propaganda putih dilakukan media yang berpihak pada
kepentingan politik atau kebijakan tertentu. Kegiatannya terbuka meski sponsor kegiatan
propaganda itu sering tidak diketahui. Propaganda abu-abu adalah kegiatan yang dilakukan
tertutup. Contohnya dengan memanfaatkan wartawan untuk menulis pesan tertentu yang
ditujukan ke publik agar mereka tergerak dan memercayai dan bergerak melakukan apa
yang diinginkan. Yang terakhir adalah propaganda hitam, yaitu kegiatan penyebaran

10
informasi tertutup yang menyesatkan. Tujuannya untuk memberikan informasi yang
meruntuhkan kredibilitas lawan.
Upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi kegiatatan propaganda adalah sebagai
berikut ; 1) Pemerintah menutup situs atau memblokir akses ke jejaring sosial karena
kelompok teroris sering melaksanakan propaganda baik terbuka maupun tertutup ; 2)
Melakukan kontra propaganda di media sosial. Kontra propaganda juga berfungsi
membalikkan pesan yang disampaikan oleh propaganda radikal. Kontra propaganda ini perlu
dipikirkan secara matang. Perlu dilakukan perencanaan strategi propaganda yang efektif dan
tepat sasaran; 3) Masyarakat harus cepat tanggap jika menemukan situs internet dengan
konten radikaliseme. Langkah cepat tanggap tersebut dapat dilakukan misalnya dengan
melaporkan ke Kementrian Kominfo ; 4) Kekuatan negara yang lebih besar harus
dimanfaatkan untuk melawan propaganda radikalisme. Lembaga pendidikan, lembaga
agama, organisasi masyarakat, dan lembaga-lembagan negara lain seperti Polri, BNPT, BIN
harus bersatu padu untuk melawan propaganda radikalisme.
Fenomena global ISIS
Secara konstitusional, Indonesia menganggap dirinya negara yang toleran secara
agama, yang secara resmi mengakui enam agama: Islam, Protestan, Katolik Roma,
Hinduisme, Buddha, dan Konfusianisme. Toleransi beragama semacam itu telah menjadi
salah satu kunci bagi stabilitas politik di negara yang secara geografis beragam dengan 240
juta jiwa, yang orang-orangnya secara adat memilih nasionalisme di atas keyakinan. Walau
negara nusantara tersebut telah mengalami bentrokan etnis-agama berdarah dalam sejarah
terbaru, namun partai-partai politik Islam radikal tidak pernah menang. Namun dalam
beberapa tahun terakhir, Indonesia telah menyaksikan serangan-serangan fanatik oleh
kelompok-kelompok teroris yang berafiliasi dengan ISIS. Berikut ini adalah contoh tindakan
anarkis yang pernah dilakukan oleh ISIS di Indonesia ; 1) Bom Bali tahun 2002, terjadi pada
dua tempat yang berbeda ; 2) Serangan bom di jalan thamrin pada hari kamis, 14 januari
2016 terjadi di sekitar pusat perbelanjaan sarinah, jakarta ; 3) Bom bunuh diri di Mapolresta
Surakarta pada hari selasa, 5 juli 2016, 4) Bom gereja di Surabaya, pada hari minggu 13 Mei
2018 dan Senin 14 Mei 2018.
Pernyataan dari Presiden Jokowi yang menegaskan akan menanggapi serius
fenomena ISIS di Indonesia perlu implementasi yang jelas. Dilihat dari dasar permasalahan,

11
gerakan munculnya ISIS sebenarnya didorong oleh gagalnya sistem pendidikan kita
memupuk generasi bangsa yang agamawis dan bernilai-nilai religius. Patut menjadi
renungan bersama bahwa kerancuan berpikir terkait nilai-nilai keagamaan mendorong
mudahnya generasi bangsa mendapat doktrin-doktrin negatif yang berujung pada proses
pencucian otak. Gerakan terorisme memang sangat terorganisir dengan baik. Setiap mereka
yang tertangkap hampir pasti tergabung dalam sebuah kelompok penganut tertentu. Maka
jangan heran, meskipun densus 88 terus mampu menangkap para terorisme satu demi satu,
namun jumlah terorisme tetap bergelimang lantaran pola perekrutan yang masih tetap hidup.
Sama halnya ibarat sebuah janggot, semakin dicukur maka semakin lebat pula bermunculan.
Upaya yang harus dilakukan oleh bangsa Indonesia agar ISIS tidak berkembang di
Indonesia dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu : 1)

Melalui deradikalisasi akan

paham kelompok radikal seperti ISIS harus juga digencarkan. Itu dilakukan agar paham
tersebut tak semakin tumbuh kuat. Salah satu caranya melalui pendidikan ; 2) Pelibatan
ormas-ormas Islam, seperti NU dan Muhammadiyah, merupakan langkah yang bijaksana
untuk memoderasi pandangan-pandangan yang telanjur ekstrem dan membentengi
lingkungan internal masing-masing dari perembesan radikalisme ; 3) Pendekatan
kewilayahan. Karena para pengikut ISIS di Indonesia bergerak di 'bawah tanah',
penanganan tidak bisa ditempuh di 'atas tanah'. Di sinilah pendekatan intelijen sangat
diperlukan; 4) Perlu aturan yang cukup agar aparat bisa bergerak di lapangan dengan
langkah-langkah yang terukur. Jangan sampai langkah yang dilakukan aparat justru dinilai
melanggar hak asasi manusia (HAM) ; 5) Ancaman ISIS makin terlihat tak hanya di dunia
nyata, namun juga di dunia maya. Seiring gencarnya kampanye serangan darat terhadap
ISIS, pemerintah negara-negara di kawasan ini juga diharapkan secara tegas mengatur
penggunaan dan penyalahgunaan internet dalam mencegah ISIS dalam mengindoktrinasi
pemikiran kaum muda lewat media sosial.
Penutup
Berdasarkan uraian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa ancaman perang saat ini
sudah berubah dari perang konvensional menjadi perang asimetris. Indonesia sebagai
negara yang berkembang sedang menghadapi perang asimetris yang melibatkan negara
sebagai aktor utama menghadapi beberapa aktor baik negara lain maupun non-negara.
Ancaman asimetris yang dihadapi oleh Indonesia menjadi permasalahan sekaligus tantangan
yang harus menjadi perhatian khusus bagi pemerintah maupun juga pemangku kepentingan

12
lainnya. Salah satu contoh perang asimetris adalah perang irregular yang bertujuan untuk
memperoleh kredibilitas maupun legitimasi atas kekuatan politik dengan tujuan untuk
mendukung atau menjatuhkan pihak penguasa tersebut. Dalam menghadapi peperangan
Irregular akan lebih berhasil bila menggunakan strategi atau pendekatan secara tidak
langsung baik dengan menggunakan kekuatan militer penuh maupun kemampuan lainnya
seperti teknologi informasi dan komunikasi yang bersifat asimetris dalam rangka melunturkan
kekuatan, pengaruh dan kemauan bertempur musuh sebagai suatu ancaman di masa depan.
Irregular warfare dan berbagai fenomena peperangan posmodern sangat berpengaruh
terhadap studi strategi. Dimana dengan semakin berkembangnya irregular warfare dan
berbagai fenomena peperangan semakin membuat strategi berkembang secara dinamis dan
adaptif, dimana strategi perang semakin bersifat fleksibel dalam menanggapi dan menjawab
berbagai tantangan yang muncul di setiap era.
Berdasarkan kesimpulan diatas, maka saran yang disampaikan oleh penulis dalam
menghadapi perang irregular yang mengancam Indonesia yaitu : 1) Pemerintah perlu
mengeluarkan kebijakan baru mengenai penggalangan komponen cadangan dan dukungan
yang perlu dipersiapkan secara dini melalui pendidikan dan latihan yang selanjutnya disebar
kedalam lingkungan masyarakat agar berbaur dan menjadi agen spionase untuk
mengantisipasi irregular warfare; 2) Pemerintah menguatkan peran diplomasi, karena
diplomasi merupakan faktor terpenting dari segenap faktor yang menyebabkan suatu negara
menjadi kuat. Kualitas diplomasi dalam melaksanakan hubungan luar negeri dalam suatu
negara oleh para diplomatnya untuk kekuatan nasional dalam masa damai, sama artinya
dengan siasat dan taktik militer oleh pemimpin militernya untuk kekuatan nasionalnya dalam
masa perang ; 3) Pemerintah memperhatikan peran informasi yang disampaikan atau
diberitakan oleh media sebagai sarana pembentukan opini publik dan menjadi strategi
asimetrik bagi para aktor non-negara. Tak luput dari itu semua juga perlu memperhatikan
peranan LSM-LSM yang berada di Indonesia yang memang keberadaannya terkadang
menyudutkan pemerintahan RI khususnya keberadaan aparat TNI dan Polri seperti yang
berada di Papua sehingga apabila dibiarkan akan dapat mengancam kedaulatan RI ; 4)
Pendidikan nasionalisme yang menekankan kebanggaan atas potensi bangsa, yang tidak
harus diukur berdasarkan bangsa lain, perlu dikembangkan untuk mengantisipasi era global
dan kosmopolitanisme.

13
Demikian esai ini disusun dengan harapan dapat memberikan masukan kepada
pimpinan serta penulis mengharapkan saran dan masukan terkait esai ini yang tentunya
masih terdapat kekurangan demi perbaikan untuk tulisan mendatang.

Judul: Jawaban Lt Perang Irregular (praktek)

Oleh: W Wibowo


Ikuti kami