Jawaban Mid Semester Filsafat Pendidikan

Oleh Putri Andhini

215,9 KB 8 tayangan 0 unduhan
 


Bagikan artikel

Transkrip Jawaban Mid Semester Filsafat Pendidikan

MID SEMESTER Identitas Mata Kuliah Fakultas Nama Mata Kuliah Jumlah SKS Semester Program Studi Dosen : Keguruan dan Ilmu Pendidikan : Filsafat Pendidikan :2 :2 : Pendidikan Matematika dan Bahasa Inggris : Dr. Muhammad Kristiawan, M.Pd. 1. Silahkan saudara jelaskan konsep dasar filsafat! (Score 20) 2. Silahkan saudara deskripsikan hakikat manusia dan hakikat pendidikan! (Score 20) 3. Silahkan saudara uraikan bagaimana filsafat pendidikan sebelum abad 20! (Score 20) 4. Silahkan saudara jelaskan peran filsafat dalam pengembangan pendidikan! (Score 20) 5. Silahkan saudara uraikan filsafat dan sejarah pendidikan di Indonesia! (Score 20) SELAMAT BEKERJA Jawaban Mid Semester Identitas Mahasiswa Nama: Putri Andhini NPM: A1B020078 Kelas: 1B Prodi: Pendidikan Bahasa Inggris MK: Filsafat Pendidikan 1. Silahkan saudara jelaskan konsep dasar filsafat! (Score 20) Jawab: A. Apa itu Filsafat ? Istilah “filsafat” bisa dilihat dari dua segi, yakni: a). Segi semantik: asal kata filsafat berasal dari bahasa arab „falsafah‟, yang berasal dari bahasa yunani, philosophia‟, yang berarti „philos‟= cinta, suka (loving), dan‟sophia‟ = pengetahuan, hikmah (wisdom). Jadi „philosophia‟ artinya cinta kepada kebijaksanaan atau cinta kepada kebenaran. b). Segi praktis: ditinjau dari pengertian praktisnya, filsafat artinya „alam pikiran‟ atau „alam berpikir‟ (Kristiawan 2016). Adapun pengertian Filsafat menurut beberapa ahli, yaitu: 1. Francis Bacon: Filsafat adalah induk agung dari ilmu-ilmu, dan filsafat menangani semua pengetahuan sebagai bidangnya. 2. Al Farabi: Filsafat adalah ilmu tentang alam maujud bagaimana hakikat sebenarnya. 3. Rene Descartes: Filsafat adalah kumpulan segala pengetahuan dimana Tuhan, alam dan manusia menjadi pokok penyelidikan. Jadi dapat disimpulkan bahwa filsafat merupakan perkembangan pemikiran kefilsatan, antara satu ahli filsafat dan ahli filsafat lainya yang selalu berbeda dan hampir sama banyaknya dengan ahli filsafat itu sendiri. B. Apa itu Filsafat Pendidikan? Filsafat pendidikan adalah filsafat yang digunakan dalam kajian tentang persoalan pendidikan. Filsafat merupakan perangkat nilai-nilai yang melandasi dan membimbing ke arah pencapaian tujuan pendidikan. Pada dasarnya, filsafat pendidikan lahir sebagai akibat dari proses pendidikan yang tidak bisa lepas dari suatu filsafat. Dalam Arbi (1988:5) filsafat pendidikan adalah lebih dari pada berpikir secara seksama mengenai pendidikan serta lebih dari pada kearifan yang terkenal mengenai penyekolahan. C. Apa Hubungan Filsafat dengan Filsafat Pendidikan? Pandangan filsafat pendidikan sama dengan peranannya landasan filosofis yang menjiwai seluruh kebijaksanaan pelaksanaan pendidikan. Dimana landasan filsofis merupakan landasan yang berdasarkan atas filsafat. Landasan filsafat menelaah sesuatu secara radikal, menyeluruh, dan konseptual tentang religi dan etika yang bertumpu pada penalaran. Maka dari itu filsafat dan pendidikan sangat erat kaitannya, filsafat mencoba menjelaskan citra tentang manusia dan masyarakat sedangkan pendidikan berusaha mencapai citra tersebut. Dari hal diatas maka dapat disimpulkan bahwa filsafat dan filsafat pendidikan memiliki peranan penting dalam sistem pendidikan karena filsafat merupakan pedoman dasar untuk usaha perbaikan, meningkatkan kemajuan dan landasan kokoh bagi tegaknya sistem pendidikan. D. Apa saja Persoalan dalam Filsafat? Adapun persoalan mengenai keheranan atau kekagumam terhadap suatu hal, belum tentu semua persoalan tersebut termasuk persoalan filsafat. Ciri- ciri dari persoalan filsafat yaitu: 1. Bersifat Sangat Umum Persoalan filsafat bersifat sangat umum yaitu persoalan kefilsafatan tidak berkaitan dengan objek-objek khusus. Dengan kata lain, sebagian besar masalah 2. 3. 4. 5. 6. kefilsafatan berhubungan dengan ide-ide besar. Tidak Bersifat Fakta Persoalan filsafat tidak bersifat fakta, yaitu persoalan filsafat bersifat spekulatif. Berbagai persoalan yang dihadapi melewati batas- batas pengetahuan ilmiah. Sedangkan pengetahuan ilmiah sendiri adalah pengetahuan yang menyangkut fakta. Berkaitan Dengan Nilai-Nilai (Values) Persoalan filsafat berkaitan dengan nilai-nilai, yaitu persoalan- persoalan kefilsafatan berhubungan dengan penilaian, baik nilai moral, estetis, agama, dan sosial. Nilai dalam pengertian ini merupakan suatu nilai abstrak pada suatu hal. Nilainilai dapat dipahami dan dihayati Bersifat Kritis Persoalan filsafat bersifat kritis adalah analisis secara kritis terhadap beberapa konsep dan arti yang biasanya diterima dengan begitu saja oleh suatu ilmu tanpa pemeriksaan secara kritis. Salah satu tugas ahli filsafat yaitu memeriksa dan menilai berbagai dugaan , mengemukakan dan menentukan batas-batas penerapannya. Bersifat Sinoptik Persoalan filsafat bersifat sinoptik mencakup struktur kenyataan secara keseluruhan. Filsafat adalah ilmu yang membuat susunan kenyataan sebagai keseluruhan. Bersifat Implikatif Persoalan filsafat bersifat implikatif yaitu persoalan filsafat yang membutuhkan jawaban dan dari jawaban itu akan menimbulkan persoalan baru yang saling berkaitan. Jawaban yang diutarakan mengandung akibat-akibat lebih jauh yang menyentuh berbagai kepentingan manusia. E. Bagaimana Berpikir Kefilsafatan? Berpikir secara kefilsafatan sudah tentu berpikir secara menyeluruh dan karena berpikir yaitu kegiatan pengetahuan mengelola informasi yang diterima. Berpikir adalah suatu kegiatan untuk memperoleh pengetahuan yang benar. Apa yang disebut benar bagi tiap orang belum tentu benar bagi yang lain. Oleh karena itu, proses kegiatan berpikir dapat menghasilkan pengetahuan yang benar dan berbeda-beda. Dapat dikatakan bahwa tiap jalan pikiran memiliki kriteria kebenaran dan kriteria kebenaran ini adalah landasan bagi proses penemuan kebenaran tersebut. Karena pemikiran keilmuan bukanlah suatu pemikiran yang biasa. Berpikir keilmuan, atau berpikir sungguh-sungguh merupakan salah satu cara berpikir yang diarahkan dan didisiplinkan kepada pengetahuan. F. Apa saja yang termasuk Cabang Filsafat? Banyak filsuf yang membagi filsafat ilmu menjadi berbagai cabang. Setiap filsuf mempunyai perbedaan dalam membagi cabang filsafat ilmu. Walaupun ada perbedaan dalam pembagiannya, namun persamaanya lebih dominan. Dari beberapa pandangan filsuf tersebut, sekarang filsafat mempunyai beberapa cabang, yaitu metafisika, logika, epistemologi, etika, dan estetika. 1. Metafisika Metafisika merupakan cabang filsafat yang membicarakan tentang yang ada atau sesuatu dibalik yang tampak. Metafisika tidak timbul dengan karakter sebagai disiplin ilmu yang normatif tetapi tetap filsafat yang ditujukan terhadap pertanyaanpertanyaan seputar perangkat dasar kategori untuk membedakan dan menghubungkan berbagai fenomena percobaan yang dibuat oleh manusia. Persoalan metafisis dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu ontologi, kosmologi dan antropologi. a. Ontologi (Teori Alam dan Tipe-Tipe Realitas) Ontologi adalah salah satu kajian kefilsafatan yang paling kuno dan berasal dari Yunani. Studi tersebut membahas keberadaan sesuatu yang bersifat nyata atau realistis. Adapun teori Ontologi utama meliputi, materialisme, Idealisme dan dualisme. b. Kosmologi (Teori Umum Proses Realitas) Kosmologi berkepentingan terhadap cara berbagai benda dan kejadian yang satu mengikuti cara berbagai benda dan kejadian yang lain menurut pergantian waktu (satu benda ditentukan oleh benda lainnya). c. Determinisme Determinisme adalah pandangan tentang apapun yang terjadi bersifat universal, tanpa terkecuali, dan secara lengkap ditentukan oleh sebab-sebab sebelumnya. Bila pandangan ini digabung dengan konsepsi materialisme, yaitu semua proses adalah fisik secara ekslusif, maka pandangan deterministik ini dinamakan mekanisme. d. Antropologi Adalah ilmu yang meneliti tentang manusia yang berhubungan dengan pertanyaan-pertanyaan tentang hakikat manusia dan pentingnya dalam alam semesta. 2. Logika Logika merupakan cabang filsafat yang meneliti lurus tidaknya pemikiran kita. Logika mengemukakan tentang berbagai prinsip inferensia (kesimpulan) yang absah (valid) dan topik-topik yang saling berhubungan. Logika dibagi menjadi dua, yaitu logika deduktif (deductive form of inference), dan logika induktif (inductive form of inference) 3. Epistemologi Epistemologi (dari bahasa Yunani episteme = pengetahuan dan logos = kata/pembicaraan/ilmu) merupakan cabang filsafat yang berhubungan dengan asal, sifat, serta jenis pengetahuan. Epistomologi atau teori pengetahuan berkaitan dengan hakikat dari ilmu pengetahuan, pengandaian, dasar-dasarnya serta pertanggungjawaban atas pernyataan mengenai pengetahuan yang dimiliki oleh setiap manusia. 4. Etika Etika merupakan cabang filsafat yang membahas perilaku (moral) atau perbuatan manusia dalam hubungannya dengan baik maupun buruk. Etika dalam kajian filsafatnya dapat diberi arti sebagai tata krama dan sopan santun yang muncul dari pemahaman perbuatan yang baik dan buruk serta sebuah aturan yang berlaku dalam masyarakat sehingga menjadi sebuah kebudayaan yang wajib untuk taat dipatuhi. 5. Estetika Estetika merupakan cabang filsafat yang membahas tentang keindahan. Estetika disebut juga sebagai “filsafat keindahan” (philosophy of beauty). Dalam Encyclopedia Americana (1973), estetika merupakan cabang filsafat yang berkenaan dengan keindahan dan hal yang indah dalam alam dan seni. 2. Silahkan saudara deskripsikan hakikat manusia dan hakikat pendidikan! (Score 20) Jawab: Hakikat manusia secara terminologis, adalah "realitas" manusia secara obyektif, manusia secara kenyataan yang sebenarnya, bukan semu, temporer atau kondisi labil. Hakikat manusia dimaksudkan pada realitas manusia secara definitif, sebagaimana diisyaratkan oleh kategori pengertian umum dari Socrates. Meskipun demikian, masih terdapat kualifikasi yang berbeda dalam melihat hakikat manusia di sini. Hal ini disebabkan oleh pendekatan-pendekatan yang dipergunakan oleh para pemikir. Oleh karena itu, muncullah berbagai aliran pemikiran dalam melihat hakikat manusia tersebut. Dengan demikian, apabila berbicara tentang hakikat manusia menurut suatu aliran pemikiran, maka haruslah dilihat terlebih dahulu bagaimana aliran-aliran pemikiran tersebut melihat hakikat manusia. Menurut Freire, hakikat pendidikan adalah membebaskan. Freire mendobrak bahwa pendidikan haruslah mencermati realitas sosial. Pendidikan tidaklah dibatasi oleh metode dan tekhnik pengajaran bagi anak didik. Pendidikan untuk kebebasan ini tidak hanya sekedar dengan menggunakan proyektor dan kecanggihan sarana teknologi lainnya yang ditawarkan sesuatu kepada peserta didik yang berasal dari latar belakang apapun. Namun sebagai sebuah praksis sosial, pendidikan berupaya memberikan bantuan membebaskan manusia di dalam kehidupan objektif dari penindasan yang mencekik mereka. 3. Silahkan saudara uraikan bagaimana filsafat pendidikan sebelum abad 20! (Score 20) Jawab: Perkembangan Filsafat Umum Berpijak pada pemikiran Poedjawijatna (1986), periode perkembangan filsafat dapat dibagi empat, yaitu: (1) filsafat Yunani; (2) filsafat Hindu; (3) filsafat Islam; (4) filsafat Eropa/filsafat modern. a. Filsafat Yunani Filsafat Yunani sebagai filsafat tertua, mulai ada sejak munculnya Tales sebagai bapak filsafat yang mengatakan bahwa intisari alam adalah air. Filsuf lain yang sezaman dengan Tales, Anaximenes berpendapat bahwa dasar pertama atau intisari alam adalah udara, dan Pitagoras berpendapat dasar segala sesuatu adalah bilangan. Aliran filsafat ketiga filsuf ini disebut juga aliran materialisme. Pemikiran ini berlanjut ke masa hidup Socrates yang gigih mencari pengertian yang murni dan sebenarnya, yaitu pengertian sejati. Filsafat Yunani yang berbeda dari pandangan materialisme dikemukakan oleh Plato, kemudian dilanjutkan oleh Aristoteles. Aliran filsafat yang mereka kembangkan adalah aliran idealisme. Menurut Plato, dunia pengalaman ini merupakan bayang-bayang dari dunia ide. Pemikiran ini dilanjutkan dan dikembangkan oleh muridnya Aristoteles, sehingga Filsafat Yunani lebih maju dan berkembang pada masa Aristoteles. Bahkan Aristoteles tidak hanya ahli filsafat, melainkan juga sebagai ilmuwan. Karyanya dapat digolongkan menjadi empat golongan: (1) logika; (2) fisika; (3) metafisika; dan (4) pengetahuan praktis. Logika Aristoteles didasarkan atas ajaran tentang jalan pikiran dan bukti. Logika yang sangat terkenal adalah silogisme. Pemikiran-pemikiran filsafat Plato dan Aristoteles ini kemudian berkembang ke Timur Tengah dan dikembangkan oleh sarjana-sarjana Islam dan membungkusnya dengan baju Islam (Baried dkk, 1986). b. Filsafat Hindu; Sejak Abad 10 SM Perkembangan filsafat Hindu sejalan dengan perkembangan filsafat Yunani. Bahkan ada ahli yang mengatakan adanya kesamaan konsep mitologi Hindu dengan Yunani. Filsafat Hindu ini tertuang dalam konsep Vedisme, Brahmanisme, dan Budisme. Vedisme adalah keseluruhan alam pikiran India yang merupakan filsafat dan agama (Poedjawijatna, 1986:55). Vedisme berhubungan dengan konsep hidup bangsa Arya yang berpindah dari Iran ke tanah datar sungai Indus. Mereka hidup lebih teratur dan menjaga kemurnian darahnya agar tidak bercampur dengan darah penduduk setempat, walaupun lama kelamaan percampuran darah itu terjadi juga. Pemikiran ini menjadi cikal bakal lahirnya ajaran Hindu. Brahmanisme berhubungan dengan konsep kasta-kasta dan beberapa alirannya dalam kelompok bangsa Arya yang sudah tejadi percampuran darah dengan penduduk setempat. Bagsa Arya berada pada dua kasta tertinggi, sedangkan bangsa setempat menjadi dua kasta terendah. Aliran yang berkembang pada Brahmanisme ini adalah Vedanta, Samkhya, dan Yoga. Budisme sebagai filsafat didasarkan kepada keyakinan bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini diliputi oleh sengsara. Sengsara itu memiiki satu sebab, yaitu cinta yang disebut trisna. Trisna itu akibat kekeliruan atau ketidaktahuan. Jika hendak bebas, haruslah membelakangi ketidaktahuan itu dan menghadap ilmu pengetahuan (Poedjawijatna, 1986:70). c. Filsafat Islam Filsafat Islam sebenarnya berakar pada filsafat Yunani, yaitu ketika seorang penerjemah berkebangsaan Yunani yang bernama Hunain pindah ke Irak dan bekerja di istana Khalifah dari Daulat Abasiyah. Harun Al Rasyid, khalifah daulat Abasiyah yang sudah berpikiran maju dan punya perhatian besar terhadap perkembangan ilmu pengetahuan memberi fasilitas untuk pengkajian ilmu pengetahuan, termasuk pemikiran-pemikiran filsafat Aristoteles dan Plato. Dia mendirikan sebuah lembaga pengkajian ilmu pengetahuan yang bernama Baitul Hikmah. Di tangan sarjana-sarjana Islam, pemikiran filsafat Yunani itu berkembang pesat dalam wajah Islam. Di daratan Andalusia di benua Eropa, perkembangan ilmu pengetahuan yang dikendalikan oleh ilmuwan Islam mencatat prestasi yang kemudian mewarnai perkembangan filsafat modern Eropa. Bidang Sejarah pemikiran modern tentu tidak bisa melupakan begitu saja nama Al-Gazali, Ibnu Sina, dan Al-Farabi di Timur Tengah dan Ibnu Rusyd di tanah Andalusia (Spanyol). Ajaran dan keterangan falsafi mereka dipengaruhi oleh neoplatonisme. Mereka adalah filsuf-filsuf Islam yang membukakan mata orang Eropa terhadap filsafat klasik yang sempat mereka tinggalkan berabad-abad lamanya. Abad ke 13, orang Eropa mulai menggali kembali filsafat klasik yang sudah berbaju Islam (Baried, dkk. 1986). d. Filsafat Eropa/ Filsafat Modern Filsafat Eropa adalah filsafat modern yang berkembang sejak munculnya keinginan untuk menjadikan alam pemikiran klasik sebagai pedoman bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan kebudayaan yang terkenal dengan istilah renaissance. Alam pemikiran klasik Yunani sempat ditinggalkan oleh orang Eropa ketika berlangsungnya Kristenisasi di Eropa. Pada masa Kristenisasi sebenarnya masih ada perkembangan filsafat, tetapi alam pemikiran dipengaruhi oleh kebudayaan Romawi (Latin). Namanama yang dapat dicatat antara lain: Tertulianus (160-222) dan Agustinus (354-430). Renaissance ditandai oleh kecenderungan pemikiran untuk mengambil kembali alam kebudayaan Yunani yang humanisme. Paham ini memperlihatkan ciri bahwa manusia tidak lagi memusatkan pikiran kepada Tuhan dan surga seperti pada masa Kristenisasi, melainkan kepada dunia yang pusat utamanya adalah manusia. Salah satu pemikiran yang pelu dicatat pada masa ini adalah rasionalisme yang diperkenalkan oleh Rene Descartes (1596-1650). Dia terkenal dengan cogito ergo sum, ‘saya berpikir maka saya ada.’ Pemikiran filsafat yang lain dalam perkembangan filsafat Eropa adalah aliran empirisme. Pemikiran ini didukung oleh Francis Bacon (1210-1292); Tomas Hobbes (1588-1679); John Locke (1632-1704); dan David Hume (1711-1776). Selain empirisme, terkenal pula filsafat kritisisme yang mempersoalkan bahwa pada rasionalisme dan empirisme amat jelas pertentangan antara budi dan pengalaman yang diragukan manakah yang menjadi sumber ilmu pengetahuan. Teori kritisisme mencoba mengkritisi kedua sumber itu dan memberi keterangan berupa syarat-syarat untuk mencapai kebenaran. Tokoh yang terkenal membawa paham ini adalah Immanuel Kant (1724-1804). 2. Perkembangan Filsafat Pendidikan a. Pengertian Filsafat Pendidikan Filsafat pendidikan adalah pelaksanaan pandangan falsafah dan kaidah falsafah dalam bidang pendidikan yang mencerminkan satu segi dari segi pelaksanaan falsafah umum dan menitikberatkan kepada pelaksanaan prinsip-prinsip dan kepercayaan-kepercayaan yang menjadi dasar falsafah umum dalam menyelesaikan masalah-masalah pendidikan secara praktis. Masalah filsafat umum antara lain tentang hakikat hidup yang baik, hakikat manusia yang ingin menerima pendidikan, hakikat masyarakat yang menjalani proses sosial, dan hakikat realitas akhir yang ingin dicapai semua pengetahuan. Menurut Kneller (dalam Sadulloh, 2008:72) filsafat pendidikan merupakan aplikasi filsafat spekulatif, preskriptif, dan analitik. Dikatakan spekulatif karena berusaha membangun teori-teori hakikat manusia, hakikat masyarakat, hakikat dunia yang sangat bermanfaat dalam menafsirkan data sebagai hasil penelitian sains yang berbeda. Dikatakan preskriptif bila filsafat pendidikan menentukan tujuantujuan yang harus diikuti dan dicapainya, dan menentukan cara-cara yang tepat dan benar untuk digunakan dalam mencapai tujuan. Filsafat pendidikan dikatakan analitik bila ingin menjelaskan pertanyaan-pertanyaan spekulatif dan preskriptif seperti menguji rasionalitas yang berkaitan dengan ide-ide atau gagasan-gagasan pendidikan, dan bagaimana konsistensinya dengan gagasan lain. b. Tinjauan Pemikiran Permulaan Filsafat Pendidikan Pemikiran-pemikiran permulaan filsafat pendidikan berkembang dalam tingkat humanisme relativistik, humanisme ilmiah, dan humanisme literer (Arbi,1988: 42-64). Humanisme relativistik memandang kebenaran tak dapat dicapai, akhirnya penampakan kebenaran dapat berlaku sebagai kebenaran itu sendiri. Opini harus didukung oleh argumentasi yang lebih baik. Humanisme ilmiah memandang pengetahuan mungkin bukan kebajikan, tetapi pengetahuan adalah suatu fondasi yang esensial untuk tingkah laku etis. Sedangkan humanisme literer memandang pendidikan dapat menjadikan orang-orang yang berkebajikan secara alamiah lebih efektif dan memproduksi orator yang sempurna “seseorang yang baik yang terampil berbicara.” Dari ketiga pemikiran ini tampaknya yang kuat menjadi pijakan filsafat pendidikan adalah humanisme literer. Humanisme relativistik ditokohi oleh para filsuf seperti Protagoras (481-411 S.M.), Gorgias (483 S.M.), Prodicus (473 S.M.) dan lain-lain. Pemikiran yang mereka terapkan dalam dunia pendidikan berhubungan dengan usaha mendidik warga negara keturunan yang baik untuk memegang senjata guna pertahanan Negara. Hanya saja sistem pendidikan itu tertuju bagi warga negara yang sudah mapan yang dipersiapkan untuk menempati barisan penguasa di Athena. Namun, banyak penduduk Athena mengkritik keangkuhan intelektual dan kelancangan filosofi pendidikan mereka. Persangsian moral dan ketidakpastian intelektual para filsuf yang relativistik diselamatkan oleh Plato, murid Socrates, yang membangun fondasi pertama filsafat pendidikan dan menamakannya dengan humanisme ilmiah. Humanisme ilmiah mengutamakan kebenaran dan kebajikan. Kebenaran atau kebajikan tidak merupakan faktor kebetulan dari waktu dan tempat, keduanya berdiri di atas bantuan ilmu dan filsafat. Pokok-pokok pikiran humanisme ilmiah Plato diadopsi oleh muridnya yang termasyhur, Aristoteles (384-322 S.M.). Kenyataannya, Aristoteles menyimpang dari idealisme filosofis Plato dan menemukan kebenarannya lebih sebagai hasil pencapaian intelektual. Kebenaran Plato adalah spiritual dan rasional, kebenaran Aristoteles adalah material dan eksperimental. Namun, humanisme ilmiah keduanya didukung oleh satu dasar yang sehat, yaitu untuk mendidik manusia. Humanisme literer mempunyai komitmen pada kesamaan pendapat yang satu sama baiknya dengan pendapat yang lain. Paham ini mempertaruhkan pendidikan pada kekuatan argumentasi yang lebih baik. Kehidupan sosial politik harus dibentuk oleh orang-orang yang mampu menggunakan kata-kata secara persuasif. Tokoh filsafat yang memperhatikan pola persuasif itu adalah Socrates yang mempertajam kemampuan oratorinya dengan meniti karir menulis profesional. Selain Socrates, terkenal pula nama Cicero (106-43 S.M.) dan Quintilianus (35 S.M.-97 M.). Quintilinus adalah seorang guru yang fasih berkata-kata, orang yang berhasil menjelaskan filosofi pendidikan Socrates. Quintilianus juga memberikan dasar pendidikan yang bersifat penekanan pada keyakinannya bahwa lebih dari apapun juga kesopanan pendidikan secara kukuh terletak pada penyempurnaan kemampuan manusia untuk berekspresi. Pada era Kristenisasi, ajaran agama Kristen mempengaruhi filsafat pendidikan di Eropa. Paham yang menonjol mewarnai pendidikan adalah humanisme religius. Para pendidik, juga para orang tua berkewajiban melaksanakan pendidikan yang ditujukan untuk pembentukan orang suci. Filosofi ini didasarkan pada keyakinan bahwa hari akhir telah dekat, waktu harus dipergunakan untuk menjaga kondisi roh dan mengabaikan hampir semua yang tidak berhubungan langsung dengan agama dan penyelamatan yang abadi. Karena itu, pendidikan yang dilaksanakan diarahkan untuk menanamkan nilai-nilai kekristenan pada anak didik. Bahan ajar yang digunakan di antaranya sastra klasik Roma yang disikapi sangat kritis agar tidak membawa dampak yang berbeda dari tujuan semula. Tokoh pendidikan yang bisa disebut namanya adalah Agustinus, Quintilianus, dan Cassiodorus (480-575). Memasuki zaman modern di Eropa membawa perubahan pula dalam filsafat pendidikan. Setelah zaman renaissance, pemikiran orang Eropa berubah menjadi lebih realistis. Paham yang memberi nafas pada pendidikan disebut realisme yang masih didasari ajaran Kristen, sehingga disebut juga realisme religius. Paham ini menekankan bahwa Tuhan menciptakan manusia, memberi mereka anugrah kepercayaan dan nalar. Dia juga menciptakan dunia fisik dan membiarkan manusia memenuhi kewajiban mereka terhadap Dia dengan hidup dan bekerja dalam dunia fisik itu (Arbi, 1988:80). Pemikiran ini dikemukakan oleh John Amos Comenius (1592-1670). Pemikiran Comenius yang optimistik selanjutnya tentang belajar berbunyi, "Belajar itu mulai dengan pengalamanpengalaman yang membuat kesan-kesan pada dria-dria.Kesan-kesan kedriaan yang pertama datang dari lingkungan fisik anak. Oleh karena itu, buku teks anak yang pertama adalah dunia di sekitar dia, dan dari buku pengalaman ini dia mulai belajar” (dalam Arbi, 1988:80). Perkembangan filsafat pendidikan selanjutnya diwarnai oleh filsafat Empirisme yang diprakarsai oleh John Locke (1632-1704) yang dikembangkannya dari gagasan Comenius. Pokok pemikiran yang ditekankan oleh John Locke adalah menjadikan pengalaman kedriaan jalan satu-satunya kepada pengetahuan mengenai dunia fisik. Semua ide didasarkan pada apa yang masuk ke pikiran-pikiran kita melalui dria-dria kita. Dengan jelas Locke membatasi asal usul ide-ide kepada pengalaman kedriaan, dan dengan ide-ide ia masukkan objekobjek yang langsung dari persepsi dan pemikiran. Secara implisit di dalam pemikiran ini terkandung teori tabula rasa yang artinya, jiwa itu semula adalah sebuah meja kosong yang tidak tertulis apapun di sana sebelum pena pengalaman mulai membuat kesan-kesan (dalam Arbi, 1988:85). Pemikiran selanjutnya yang mewarnai filsafat pendidikan adalah Naturalisme Romantik dan pendidikan nasional. Naturalisme romantik adalah filsafat pendidikan yang masih berpijak kepada kearifan kuno yang terkandung di dalam buku-buku berbahasa Latin. Kearifan kuno itu adalah pendidikan yang dimaksudkan untuk mempersiapkan orang mendapatkan tempat-tempat yang cocok di tengah masyarakat. Tujuan pendidikan di sini adalah persiapan bagi kehidupan. Nama tokoh yang perlu disebut di sini adalah Jean Jacques Rousseau dan Emile. Rousseau terkenal dengan Philosopher of Freedom yaitu memerdekakan orang-orang primitif menjadi berperadaban seperti layaknya binatang yang lepas dari tekanan dan layaknya negara yang bebas dari korupsi. Dia meyakini bahwa manusia lahir dalam keadaan merdeka dan baik. Dia yakin bahwa manusia tidak dapat menggapai potensinya seperti binatang buas. Manusia mencari peradaban lewat percaya diri, kewajiban bernegara, kasih, cinta alam, dan berhubungan dengan Tuhan. Rousseau berfikir tentang pendidikan yaitu Kenapa manusia harus dididik? Supaya dapat merawat/ memelihara alam dengan baik, memiliki rasa positif yaitu bertanggungjawab terhadap negara. Dia menolak penggunaan istilah “human being” dan “people” karena pendidikan tentunya tidak sama antara laki-laki dan perempuan. Philosopher of freedom hanya untuk laki-laki tidak untuk perempuan. Freedom for males and sheltered coercion for females (bebas bagi laki-laki dan memberikan perlindungan dari kekerasan bagi perempuan). Ide-ide Rousseau didukung oleh psikolog plus pendidik A.S Neill tentang pelajaran formal yang diberikan kepada anak hendaknya tidak lepas dari nilai-nilai keagamaan dan nilai-nilai moral. Sementara itu Dewey tidak percaya bahwa manusia itu lahir sudah baik. Sedangkan para pendidik agama saja bilang kalau manusia lahir itu berdosa dan membutuhkan keselamatan. Dewey percaya bahwa manusia lahir dengan potensi kebaikan dan potensi keburukan. Kemudian menurut Emile, seluruh pendidikan wanita sama dengan pendidikan untuk laki-laki. Pendidikan itu untuk menyenangkan mereka, berguna bagi mereka, dicintai, dihormati, mendampingi mereka ketika masih muda, menjaga mereka ketika mereka beranjak dewasa, membuat hidup mereka senang dan tahu tanggung jawab sebagai wanita. Pendidikan nasional adalah gagasan untuk tugas melatih warga Negara untuk melayani kepentingankepentingan utama dari suatu Negara nasional. Didukung oleh semangat politik, sekolah-sekolah didelegasikan untuk mempersiapkan warga Negara untuk mendapatkan tempat yang layak di tengahtengah masyarakat. Setelah kepentingan Negara nasional terpenuhi, introduksi-introduksi studi diarahkan kepada pemenuhan kepentingan pribadi. Tokoh yang tidak boleh dilupakan di sini adalah Johann Herbart (1776-1841). Menurut Herbart dalam pendidikan adalah Apperceptive mass /isi pembelajaran sesuai dengan Cognitive Structure= cara/ metode penyampaian. Herbart berkeyakinan bahwa metode pengajaran harus dirancang sesuai dengan pengalaman pembelajaran. Perkembangan filsafat pendidikan di Amerika dimulai dari konsep pendidikan ketika Amerika Serikat dikuasai oleh pendatang baru dari Eropa. Konsep pendidikan yang berkembang di Eropa juga berpengaruh di sini. Konsep realisme, naturalisme romantik, dan pendidikan nasional diterapkan. Di sini muncul pendidikan republik dengan tokohnya Tomas Jefferson (1743-1826), Benyamin Franklin (1706-1790). Kemudian ada gerakan Common School yang ditokohi oleh Alexander Hamilton (1757-1804); Horace Mann (1796-1859); Henry Barnard (1811-1900). Selain itu muncul pula ide pendidikan progresif yang didasari oleh paham progressivisme, dimulai dari pembaharuanpembaharuan dalam bidang politik, ekonomi, dan masyarakat dengan menilai kembali doktrin-doktrin tradisional dalam agama dan filsafat. Tesis fundamental progressivisme adalah bahwa semua lembaga sosial mempunyai komitmen terhadap perbaikan manusia. Tokoh yang menjadi elaboratornya adalah Francis W. Parker (1837- 1902) dan John Dewey (1859-1952). 4. Silahkan saudara jelaskan peran filsafat dalam pengembangan pendidikan! (Score 20) Jawab: Peranan filsafat pendidikan merupakan sumber pendorong adanya pendidikan. Dalam bentuk yang lebih terperinci lagi, filsafat pendidikan menjadi jiwa dan pedoman asasi pendidikan. Pendidikan merupakan usaha untuk merealisasikan ide-ide ideal dari filsafat menjadi kenyataan, tindakan, tingkah laku, dan pembentukan kepribadian. Hal senada diuangkapkan oleh Brauner: Education and philosophy are inseparable because the end of education is the end of philosophy (wisdom), and the means of philosophy is the means of education inquiry, which alone can lead to wisdom. Ide senada juga dikemukakan oleh Kilpatrick dalam bukunya “Philosophy of Educations”, yang berbunyi sebagai berikut (dalam Noor, 1986). Philosophy and education are, then, but two stages of the same endeavor; philosophizing to thing out better values and idealism education to realize these in life, in human personality. Education, acting out of the best direction philosophizing can give, tries, beginning primarily with the young, to lead people to build criticized values into their characters, and in this way to get the highest ideals of philosophy progressively embodied an their lives.[3] Pendidikan adalah upaya mengembangkan potensi-potensi manusiawi peserta didik baik potensi fisik potensi cipta, rasa, maupun karsanya, agar potensi itu menjadi nyata dan dapat berfungsi dalam perjalanan hidupnya. Dasar Pendidikan adalah cita-cita kemanusiaan universal. Pendidikan bertujuan menyiapkan pribadi dalam keseimbangan, kesatuan. organis, harmonis, dinamis. guna mencapai tujuan hidup kemanusiaan. Filsafat yang digunakan dalam studi mengenai masalah-masalah pendidikan. Filsafat pendidikan bukanlah filsafat umum (murni), tetapi filsafat khusus (terapan). Filsafat umum mempunyai objek, antara lain: 1. 2. 3. 4. hakikat kenyataan segala sesuatu (metafisika), hakikat mengetahui kenyataan (epistemologi), hakikat menyusun kesimpulan pengetahuan tentang kenyataan (logika), dan hakikat menilai kenyataan (aksiologi). Filsafat pendidikan pada dasarnya menggunakan cara kerja filsafat dan akan menggunakan hasil-hasil dari filsafat, yaitu berupa hasil pemikiran manusia tentang realitas, pengetahuan, dan nilai. Tujuan filsafat pendidikan memberikan inspirasi bagaimana mengorganisasikan proses pembelajaran yang ideal. Teori pendidikan bertujuan menghasilkan pemikiran tentang kebijakan dan prinsip-rinsip pendidikan yang didasari oleh filsafat pendidikan. Praktik pendidikan atau proses pendidikan menerapkan serangkaian kegiatan berupa implementasi kurikulum dan interaksi antara guru dengan peserta didik guna mencapai tujuan pendidikan dengan menggunakan rambu-rambu dari teori-teori pendidikan. Peranan filsafat pendidikan memberikan inspirasi, yakni menyatakan tujuan pendidikan negara bagi masyarakat, memberikan arah yang jelas dan tepat dengan mengajukan pertanyaan tentang kebijakan pendidikan dan praktik di lapangan dengan menggunakan rambu-rambu dari teori pendidik. Seorang guru perlu menguasai konsep-konsep yang akan dikaji serta pedagogi atau ilmu dan seni mengajar materi subyek terkait, agar tidak terjadi salah konsep atau miskonsepsi pada diri peserta didik. Proses pendidikan adalah proses perkembangan yang bertujuan. Tujuan proses perkembangan itu secara almiah adalah kedewasaan, sebab potensi manusia yang paling alamiah adalah bertumbuh menuju tingkat kedewasaan, kematangan. Potensi ini akan dapat terwujud apabila prakondisi almiah dan sosial manusia bersangkutan memungkinkan untuk perkembangan tersebut, misalnya iklim, makanan, kesehatan, dan keamanan, relatif sesuai dengan kebutuhan manusia. Kedewasaan yang bagaimanakah yang diinginkan dicapai oleh manusia, apakah kedewasaan biologis-jasmaniah, atau rohaniah (pikir, rasa, dan karsa), atau moral (tanggung jawab dan kesadaran normatif), atau kesemuanya. Persoalan ini adalah persoalan yang amat mendasar, yang berkaitan langsung dengan sisitem nilai dan standar normatis sebuah masyarakat (Noor, 196). Cara kerja dan hasil filsafat dapat dipergunakan untuk memecahkan masalah hidup dan kehidupan manusia, dimana pendidikan merupakan salah satu dari aspek kehidupan tersebut, karena hanya manusialah yang dapat melaksanakan dan menerima pendidikan. Oleh karena itu pendidikan memerlukan filsafat. Karena masalah-masalah pendidikan tidak hanya menyangkut pelaksanaan pendidikan, yang hanya terbatas pada pengalaman. Dalam pendidikan akan uncul masalah-masalah yang lebih luas, lebih dalam, dan lebih kompleks, yang tidak terbatasi oleh pengalamaan maupun fakta faktual, dan tidak memungkinkan untuk dijangkau oleh ilmu. Tujuan pendidikan selalu berbungan langsung dengan tujuan kehidupan individu dan masyarakat penyelenggara pendidikan. Hubungan antar filsafat dengan pendidikan adalah, filsafat menelaah suatu realitas dengan luas dan menyeluruh, sesuai dengan karateristik filsafat yang radikal, sistematis, dan menyeluruh. Konsep tentang dunia dan tujuan hidup manusia yang merupakan hasil dari studi filsafat, akan menjadi landasan dalam menyusun tujuan pendidikan. Nantinya membangun sistem pendidikan dan praktek pendidikan akan dilaksanakan berorientasi kepada tujuan pendidikan ini. Brubacher (1950). Filsafat pendidikan tidak hanya terbatas pada fakta faktual, tetapi filsafat pendidikan harus sampai pada penyelasaian tuntas tentang baik dan buruk, tentang persyaratan hidup sempurna, tentang bentuk kehidupan individual maupun kehidupan sosial yang baik dan sempurna. Ini berarti pendidikan adalah pelaksanaan dari ide-ide filsafat. Dengan kata lain filsafat memberikan asas kepastian bagi nilai peranan pendidikan, lembaga pendidikan dan aktivitas penyelengaraan pendidikan. 5. Silahkan saudara uraikan filsafat dan sejarah pendidikan di Indonesia! (Score 20) Jawab: Setiap pemikir mempunyai definisi berbeda tentang makna filsafat karena pengertiannya yang begitu luas dan abstrak. Tetapi secara sederhana filsafat dapat dimaknai bersama sebagai suatu sistim nilai-nilai (systems of values) yang luhur yang dapat menjadi pegangan atau anutan setiap individu, atau keluarga, atau kelompok komunitas dan/atau masyarakat tertentu, atau pada gilirannya bangsa dan negara tertentu. Pendidikan sebagai upaya terorganisasi, terencana, sistimatis, untuk mentransmisikan kebudayaan dalam arti luas (ilmu pengetahuan, sikap, moral dan nilai-nilai hidup dan kehidupan, ketrampilan, dll.) dari suatu generasi ke generasi lain. Adapun visi, misi dan tujuannya yang ingin dicapai semuanya berlandaskan suatu filsafat tertentu. Bagi kita sebagai bangsa dalam suatu negara bangsa (nation state) yang merdeka, pendidikan kita niscaya dilandasi oleh filsafat hidup yang kita sepakati dan anut bersama. Dalam sejarah panjang kita sejak pembentukan kita sebagai bangsa (nation formation) sampai kepada terbentuknya negara bangsa (state formation dan nation state) yang merdeka, pada setiap kurun zaman, pendidikan tidak dapat dilepaskan dari filsafat yang menjadi fondasi utama dari setiap bentuk pendidikan karena menyangkut sistem nilai-nilai (systems of values) yang memberi warna dan menjadi “semangat zaman” (zeitgeist) yang dianut oleh setiap individu, keluarga, anggota-anggota komunitas atau masyarakat tertentu, atau pada gilirannya bangsa dan negara nasional. Landasan filsafat ini hanya dapat dirunut melalui kajian sejarah, khususnya Sejarah Pendidikan Indonesia. Sebagai komparasi, di negara-negara Eropa (dan Amerika) pada abad ke-19 dan ke-20 perhatian kepada Sejarah Pendidikan telah muncul dari dan digunakan untuk maksud-maksud lebih lanjut yang bermacammacam, a.l. untuk membangkitkan kesadaran berbangsa, kesadaran akan kesatuan kebudayaan, pengembangan profesional guru-guru, atau untuk kebanggaan terhadap lembagalembaga dan tipe-tipe pendidikan tertentu. (Silver, 1985: 2266). Substansi dan tekanan dalam Sejarah Pendidikan itu bermacam-macam tergantung kepada maksud dari kajian itu: mulai dari tradisi pemikiran dan para pemikir besar dalam pendidikan, tradisi nasional, sistim pendidikan beserta komponen-komponennya, sampai kepada pendidikan dalam hubungannya dengan sejumlah elemen problematis dalam perubahan sosial atau kestabilan, termasuk keagamaan, ilmu pengetahuan (sains), ekonomi, dan gerakangerakan sosial. Sehubungan dengan MI semua Sejarah Pendidikan erat kaitannya dengan sejarah intelektual dan sejarah sosial. (Silver, 1985: Talbot, 1972: 193-210) Esensi dari pendidikan itu sendiri sebenarnya ialah pengalihan (transmisi) kebudayaan (ilmu pengetahuan, teknologi, ide-ide dan nilai-nilai spiritual serta (estetika) dari generasi yang lebih tua kepada generasi yang lebih muda dalam setiap masyarakat atau bangsa. Oleh sebab itu sejarah dari pendidikan mempunyai sejarah yang sama tuanya dengan masyarakat pelakunya sendiri, sejak dari pendidikan informal dalam keluarga batih, sampai kepada pendidikan formal dan nonformal dalam masyarakat agraris maupun industri. Selama ini Sejarah Pendidikan masih menggunakan pendekatan lama atau “tradisional” yang umumnya diakronis yang kajiannya berpusat pada sejarah dari ide-ide dan pemikir-pemikir besar dalam pendidikan, atau sejarah dan sistem pendidikan dan lembaga-lembaga, atau sejarah perundang-undangan dan kebijakan umum dalam bidang pendidikan. (Silver, 1985: 2266) Pendekatan yang umumnya diakronis ini dianggap statis, sempit serta terlalu melihat ke dalam. Sejalan dengan perkembangan zaman dan kemajuan dalam pendidikan beserta segala macam masalah yang timbul atau ditimbulkannya, penanganan serta pendekatan baru dalam Sejarah Pendidikan dirasakan sebagai kebutuhan yang mendesak oleh para sejarawan pendidikan kemudian. (Talbot, 1972: 206-207) Para sejarawan, khususnya sejarawan pendidikan melihat hubungan timbal balik antara pendidikan dan masyarakat; antara penyelenggara pendidikan dengan pemerintah sebagai representasi bangsa dan negara yang merumuskan kebijakan (policy) umum bagi pendidikan nasional. Produk dari pendidikan menimbulkan mobilitas sosial (vertikal maupun horizontal); masalah-masalah yang timbul dalam pendidikan yang dampak-dampaknya (positif ataupun negatif) dirasakan terutama oleh masyarakat pemakai, misalnya, timbulnya golongan menengah yang menganggur karena jenis pendidikan tidak sesuai dengan pasar kerja; atau kesenjangan dalam pemerataan dan mutu pendidikan; pendidikan lanjutan yang hanya dapat dinikmati oleh anak-anak orang kaya dengan pendidikan terminal dari anak-anak yang orang tuanya tidak mampu; komersialisasi pendidikan dalam bentuk yayasan-yayasan dan sebagainya. Semuanya menuntut peningkatan metodologis penelitian dan penulisan sejarah yang lebih baik danipada sebelumnya untuk menangani semua masalah kependidikan ini. Sehubungan dengan di atas pendekatan Sejarah Pendidikan baru tidak cukup dengan cara-cara diakronis saja. Perlu ada pendekatan metodologis yang baru yaitu a.l, interdisiplin. Dalam pendekatan interdisiplin dilakukan kombinasi pendekatan diakronis sejarah dengan sinkronis ilmuihmu sosial. Sekarang ini ilmu-ilmu sosial tertentu seperti antropologi, sosiologi, dan politik telah memasuki “perbatasan” (sejarah) pendidikan dengan “ilmuilmu terapan” yang disebut antropologi pendidikan, sosiologi pendidikan, dan politik pendidikan. Dalam pendekatan ini dimanfaatkan secara optimal dan maksimal hubungan dialogis “simbiose mutualistis” antara sejarah dengan ilmu-ilmu sosial. Sejarah Pendidikan Indonesia dalam arti nasional termasuk relatif baru. Pada zaman pemerintahan kolonial telah juga menjadi perhatian yang diajarkan secara diakronis sejak dari sistem-sistem pendidikan zaman Hindu, Islam, Portugis, VOC, pemerintahan Hindia-Belanda abad ke-19. Kemudian dilanjutkan dengan pendidikan zaman Jepang dan setelah Indonesia merdeka model diakronis ini masih terus dilanjutkan sampai sekarang. Untuk Sejarah Pendidikan Indonesia mutakhir, substansinya seluruh spektrum pendidikan yang secara temporal pernah berlaku dan masih berlaku di Indonesia; hubungan antara kebijakan pendidikan dengan politik nasional pemerintah, termasuk kebijakan penyusunan dan perubahan kurikulum dengan segala aspeknya yang menyertainya; lembaga-lembaga pendidikan (pemerintah maupun swasta); pendidikan formal dan non-formal; pendidikan umum, khusus dan agama. Singkatnya segala macam makalah yang dihadapi oleh pendidikan di Indonesia dahulu dan sekarang dan melihat prosepeknya ke masa depan. Sejarah sebagai kajian reflektif dapat dimanfaatkan untuk melihat prosepek ke depan meskipun tidak punya pretensi meramal. Dalam setiap bahasan dicoba dilihat filosofi yang melatarinya. DAFTAR PUSTAKA Afrida Nadliratul Fira, Nugraha Ardhy Gita R., & Aspin Yunita Pipin. (2016). Hakikat Manusia, Hakikat Pendidikan, dan Tujuan Pendidikan. Hakikat Manusia, Hakikat Pendidikan, dan Tujuan Pendidikan. 4&12. Kristiawan, M. (2016). Filsafat Pendidikan Sebelum Abad 20. Filsafat Pendidikan: The Choice Is Yours. 116-133 Yunengsih, Juwindah, & Putri Annisa Afrilia. (2019). Handout Filsafat Pendidikan “Konsep Dasar Filsafat”. Konsep Dasar Filsafat. 2-5.

Judul: Jawaban Mid Semester Filsafat Pendidikan

Oleh: Putri Andhini


Ikuti kami