Jawaban Uas Kurikulum Ilham (1820110026)

Oleh Ilham Aji Asmara

22 tayangan
Bagikan artikel

Transkrip Jawaban Uas Kurikulum Ilham (1820110026)

UAS
TEORI PENGEMBANGAN KURIKULUM DAN PEMBELAJARAN

Diajukan kepada Dosen Pengampu
Mata Kuliah Teori Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran
Dr. Y. Suyitno, M.Pd
Oleh:
ILHAM AJI ASMARA DEWA
1820110026

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DASAR
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOKERTO
TAHUN 2019

SOAL UAS
MK. TEORI PENGEMB. KURIKULUM DAN PEMBELAJARAN
Dosen: Dr. Y. Suyitno M.Pd
A. Petunjuk
1. Kerjakan dengan teliti dan rapih, tulisan ditik dengan fond 12, spasi 1,5.
Huruf time new roman, dalam kertas A4.
2. Tidak ada plagiasi atau saling meniru, jika terjadi berarti mengundurkan diri
dari perkuliahan ini.
3. Jawaban diserahkan dalam bentuk hard copy, dengan cover judul jawaban
UAS Teori Pengembangan Kurikulum, nama, nim, prodi, tahun angkatan,
pada tgl. 27 Juli 2019 di kirim dalam paket 1 kelas, ke Alamat: Dr. Y.
Suyitno, M.Pd Jl. Lembursawah no 12 RT 02/12 Utama Cimahi Selatan
Cimahi,
dan secara individual menyampaikan ke alamat email:
suyitno.y@gmail.com
4. Berikan daftar pustaka yg digunakan sebagai referensinya pada halaman
terakhir.
B. Soal-soal.
1. Apa fungsi dan peranan mempelajari teori kurikulum untuk calon ahli dalam
bidang pendidikan dasar? Jelaskan dengan argumen yang rasional dan
berbasis pada kajian keilmuan (dari filsafat, psikologi, sosiologi, pedagogik,
dan antropologi).
2. Ada tiga kompetensi yang harus dikembangkan dalam kurikulum, yaitu
logika, praktika, dan etika/estetika. Coba jelaskan masing-masing
kompetensi tersbut secara detail.
3. Ada tiga jenis tujuan dalam pendidikan, dari tujuan yg sangat umum sampai
dengan tujuan yng sangat khusus, yaitu The Aims of Education, The Goals
of Education, dan The Objective of Education. Jelaskan nama tujuan
tersebut, dan peranaannya masing-masing, dan dimana letak tujuan untuk
kurikulum tersebut?.
4. Bagaimana peran filsafat dan ilmu dalam mengembangkan kurikulum?
Coba jelaskan peran masing-masing dan sebagai rambu-rambu dalam
menyusun bahan dan strategi pembelajaran.
5. Ada 4 (empat) komponen dalam pengembangan kurikulum yaitu tujuan, isi,
strategi dan evaluasi. Jelaskan masing-masing komponen tersebut secara
detail.

6. Bagaimana hubungan kurikulum dengan teori belajar dan gaya belajar
siswa. Jelaskan rangkaian hubungan tersebut sehingga kita dapat memahami
peranan dari masing2 bidang tersebut.
7. Ada beberapa teori pengembangan kurikulum, coba uraikan masing2 model
kurikulum tersebut. Kurikulum KTSP dan K13 lebih mengakomodasi
model teori kurikulum yang mana? Coba jelaskan secara rasional.
8. Teori belajar apa yang dikembangkan pada kurikulum KTSP dan K 13?.
Jelaskan dan alasan rasionalnya.
9. Tugas-tugas pengembangan kurikulum apa saja yang seharusnya dilakukan
oleh guru? Tugas apa yang paling dirasakan sulit dilakukan guru pada
umumnya, dan apa alasannya?
10. Bagaimana cara mengukur/menilai keberhasilan kurikulum? Coba jelaskan
secara rinci dengan strateginya!
11. Coba buat matrik 18 karakteristik pendidikan karakter, yang dimasukkan
ke dalam mata pelajaran atau Tema atau bidang studi mana yang selaras
dengan masing-masing karakter tersebut desertai argumennya secara
rasional. Dalam matrik ada kolom nomor item, nama item karakter, bidang
studi/mata pelajaran/ tema, dan argumen anda.
12. Jika ada perubahan yang fundamental dari kurikulum, menurut saudara
apa yang harus diperbaiki? Di Indonesia ada model pendidikan dan
pembelajaran yang mengakomodasi tentang sistem Among dari Ki Hajar
Dewantara, coba jelaskan dan implementasinya di sekolah anda.
13. Selamat bekerja, dan tidak ada plagiasi dan ide individual lebih dihargai
dari pada peniruan kpd sesama teman/kolega/rekan sekerja.

JAWABAN UAS
Nama

: Ilham Aji Asmara Dewa, S. Pd

NIM

: 1820110026

Jenjang

: S2 (Magister)

Program Studi

: Pendidikan Dasar

Mata Kuliah

: Teori Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran

Dosen

: Dr. Y. Suyitno, M. Pd

1. Pada

dasarnya

fungsi

kurikulum

sangatlah

penting

untuk

sebuah

acuan/pedomandalam sebuah pendidikan nasional yang ada di indonesia.
Sebagai calon ahli dalam bidang pendidikan dasar harus paham betul apa yang
dinamakan fungsi dan peranan kurikulum dari segi filsafat filsafat, psikologi,
sosiologi, pedagogik, dan antropologi.
a. Peran filsafat dan ilmu dalam mengembangkan kurikulum adalah sebagai
sebagai salah satu landasan pengembangan kurikulum, untuk merancang
tujuan pendidikan, prinsip-prinsip pembelajaran, serta pengalaman belajar
yang bersifat mendasar. Karena di dalam filsafat pendidikan mengandung
cita-cita tentang model manusia yang diharapkan yang sesuai dengan nilainilai yang disetujui oleh individu atau masyarakat.
Sebagai suatu landasan yang fundamental, filsafat memegang peranan
penting dalam proses perencanaan, implementasi dan pengembangan
kurikulum. Wina Sanjaya (2009) mengemukakan, paling tidak ada empat
fungsi filsafat dalam pengembangan kurikulum yang di dalamnya terdapat
perencanaan dan implementasi kurikulum, yaitu pertama, filsafat dalam
menentukan arah dan tujuan pendidikan. Kedua, filsafat dapat menentukan
isi atau materi pelajaran yang harus diberikan sesuai dengan tujuan yang
ingin dicapai. Ketiga, filsafat dapat menentukan strategi atau cara
pencapaian tujuan. Keempat, melalui filsafat, dapat ditentukan bagaimana
menentukan tolak ukur keberhasilan proses pendidikan.

b. Sebagai calon ahli dalam peranan mempelajari landasan psikologi dalam
perkembangan kurikulum menurut Nana Syaodiih (1997) mengemukakan
bahwa

minimal

terdapat

dua

bidang

psikologi

yang

mendaari

pengembangan kurikulum yaitu psikologi perkembangan (developmental
psychology) dan psikologi belajar (psychology of learning). Keduanya
sangat penting untuk dipelajari dan diimplementasikan sebagai calon ahli.
c. Sebagai calon ahli juga harus mempelajari tentang fungsi dan peranan
dalam segi sosiologi, jika dipandang dari sosiologi, pendidikan adalah
proses mempersiapkan individu agarmenjadi warga masyarakat yang
diharapkan,

pendidikan

adalah

proses

sosialisasi,

dan

berdasarkan pandangan antrofologi, pendidikan adalah “enkulturasi” atau pe
mbudayaan.“Dengan pendidikan, kita tidak mengharapkan muncul manusiamanusia yang lain dan asingterhadap masyarakatnya, tetapi manusia yang
lebih bermutu, mengerti, dan mampumembangun masyarakatnya. Oleh
karena itu, tujuan, isi, maupun proses pendidikan harus disesuaikan dengan
kondisi, karakteristik kekayaan, dan perkembangan masyarakat tersebut”
(Nana Syaodih Sukmadinata, 1997:58)
d. Sebagai calon ahli juga harus mempelajari tentang fungsi dan peranan
dalam segi pedagogik/seni mengajar, pada pembelajaran abad 21 merupakan
pembelajaran yang berbasis teknologi yang dapat dengan mudah ditemukan
oleh semua kalangan secara cepat. Hal itu sesuai dengan pendapat berikut
“Partnership

for

21st

Century

Skills

(2007)

menegaskan

bahwa

keterampilan abad 21 terbentuk dari suatu pemahaman yang solid terhadap
content knowledge yang kemudian ditopang oleh berbagai keterampilan,
keahlian dan literasi yang dibutuhkan oleh seorang individu untuk
mendukung kesuksesannya baik secara personal maupun professional.”
Dengan begitu dapat diketahui bahwa pembelajaran abad 21 ini tidak hanya
terfokus pada akademiknya saja, namun non-akademik juga diperhatikan
yang dapat membantu dalam berkompetisi dalam dunia global yang
berkembang saat ini.

e. Sebagai calon ahli juga harus mempelajari tentang fungsi dan peranan
dalam segi antropologi, sebagai manusia adalah makhluk hidup yang
diberikan berbagai potensi oleh Tuhan, setidaknya manusia diberikan panca
indera dalam hidupnya. Namun tentu saja potensi yang dimilikinya harus
digunakan semaksimal mungkin sebagai bekal dalam menjalani hidupnya.
Untuk memaksimalkan semua potensi yang dimiliki oleh kita sebagai
manusia,

tentunya

harus

ada

sesuatu

yang

mengarahkan

dan

membimbingnya, supaya berjalan dan terarah sesuai dengan apa yang
diharapkan.
Mengingat begitu besar dan berharganya potensi yang dimiliki
manusia, maka manusia harus dibekali dengan pendidikan yang cukup sejak
dini. Dilain pihak manusia juga memiliki kemampuan dan diberikan akal
pikiran yang berbeda dengan makhluk yang lain. Sedangkan pendidikan itu
adalah usaha yang disengaja dan terencana untuk membantu perkembangan
potensi dan kemampuan manusia agar bermanfaat bagi kepentingan
hidupnya Sukardjo & Ukim Komarudin ( 2009: 9)
Pendidikan dapat diartikan sebagai suatu proses pembelajaran,
pemberian pengetahuan, keterampilan dan sikap melalui pikiran, karakter
serta kapasitas fisik dengan menggunakan pranata-pranata agar tujuan yang
ingin dicapai dapat dipenuhi. Pendidikan dapat diperoleh melalui lembaga
formal dan informal. Penyampaian kebudayaan melalui lembaga informal
dilakukan melalui enkulturasi semenjak kecil di dalam lingkungan keluarga.
Dalam masyarakat yang sangat kompleks, terspesialisasi dan berubah cepat,
pendidikan memiliki fungsi yang sangat besar dalam memahami
kebudayaan sebagai satu keseluruhan.
Kebudayaan tidak dibawa manusia sejak kelahirannya. Secara faktual,
dan

sebagaimana

tersurat

dalam

definisi

yang

dikemukakan

Koentjaraningrat, kebudayaan dapat menjadi milik diri manusia sehingga

menjadi karakteristiknya yang esensial dibanding dengan hewan hanyalah
melalui belajar. Di pihak lain, bahwa kebudayaan sebagai keseluruhan
sedikit banyak merupakan himpunan dari pola-pola budaya yang diperlukan
dalam rangka mempertahankan eksistensi suatu masyarakat Wahyudin Dinn
( 2008: 2-28 ).
2. Ada tiga kompetensi yang harus dikembangkan dalam kurikulum, yaitu logika,
praktika, dan etika/estetika.
a. Secara logika, mencerdaskan seseorang prinsipnya bukan hanya untuk
pandai saja, tetapi juga peningkatan logika agar nyaman dalam
berkomunikasi dan santun dalam berekspresi. tujuan-tujuan pendidikan
mulai dari pendidikan nasional sampai dengan tujuan mata pelajaran masih
bersifat abstrak dan konseptual, oleh karena itu perlu dioperasionalkan dan
dijabarkan lebih lanjut dalam bentuk tujuan pembelajaran secara
logika/penalaran. Tujuan pembelajaran merupakan tujuan pendidikan yang
lebih operasional, yang hendak dicapai dari setiap kegiatan pembelajaran
dari setiap mata pelajaran.
Pada tingkat operasional ini, tujuan pendidikan dirumuskan lebih
bersifat spesifik dan lebih menggambarkan tentang “what will the student be
able to do as result of the teaching that he was unable to do before”
(Rowntree dalam Nana Syaodih Sukmadinata, 1997). Dengan kata lain,
tujuan pendidikan tingkat operasional ini lebih menggambarkan perubahan
perilaku spesifik apa yang hendak dicapai peserta didik melalui proses
pembelajaran. Merujuk pada pemikiran Bloom, maka perubahan perilaku
tersebut meliputi perubahan dalam aspek kognitif, afektif dan psikomotor.
Lebih jauh lagi, dengan mengutip dari beberapa ahli, Nana Syaodih
Sukmadinata (1997) memberikan gambaran spesifikasi dari tujuan yang
ingin dicapai pada tujuan pembelajaran, yakni :
1) Menggambarkan apa yang diharapkan dapat dilakukan oleh peserta didik,
dengan : (a) menggunakan kata-kata kerja yang menunjukkan perilaku
yang dapat diamati; (b) menunjukkan stimulus yang membangkitkan

perilaku peserta didik; dan (c) memberikan pengkhususan tentang
sumber-sumber yang dapat digunakan peserta didik dan orang-orang
yang dapat diajak bekerja sama.
2) Menunjukkan perilaku yang diharapkan dilakukan oleh peserta didik,
dalam bentuk: (a) ketepatan atau ketelitian respons; (b) kecepatan,
panjangnya dan frekuensi respons.
3) Menggambarkan kondisi-kondisi atau lingkungan yang menunjang
perilaku peserta didik berupa : (a) kondisi atau lingkungan fisik; dan (b)
kondisi atau lingkungan psikologis.
b. Dalam praktika calon ahli harus bisa mengembangkan kompetensi yang
harus dikembangkan didalam kurikulum terdapat 5 pilar-pilar Pendidikan
direkomendasikan UNESCO yang dapat digunakan sebagai prinsip
pembelajaran yang bisa diterapkan di dunia pendidikan:
1) Learning to know (belajar untuk mengetahui)
2) Learning to do (belajar, berbuat/melakukan)
3) Learning to be (belajar menjadi seseorang)
4) Learning to live together (belajar hidup bersama)
5) Learning how to learn
c. Secara etika/estetika, etika untuk menumbuhkan kesantunan dalam
berperilaku dan berinteraksi, dan estetika untuk tampakan atau ekspresikan
keindahan. hal tersebut menjadi bagian penting dalam kurikulum pendidikan
2013, yang disiapkan untuk menggantikan kurikulum pendidikan 2006.
3. Jenis-jenis tujuan dalam pendidikan, dari tujuan yg sangat umum sampai
dengan tujuan yng sangat khusus, yaitu The Aims of Education, The Goals of
Education, dan The Objective of Education.
a. The Aims of Education merupakan perubahan besar yang terjadi di segala
aspek kehidupan mengakibatkan masyarakat memandang sekolah sebagai
pembantu masyarakat agar bisa menyesuaikan diri dengan keadaan.
Masyarakat seringkali membutuhkan inovasi sekolah terhadap program
pembelajaran agar siswa berfungsi lebih efektif. Komisal dan Mc. Clelan

mendefinisikan “aims” sebagai statemen general dengan memberikan
bentuk dan arahan dalam rancangan untuk mencapai beberapa tujuan produk
di masa depan. Aims berperan sebagai panduan fungsional yang krusial
dalam pendidikan. Aims tidak dapat diteliti dan dievaluasi secara langsung
karena mereka hanyalah orientasi bukan outcome yang dapat dikuantitaskan
secara khusus.
Komisi asosiasi pendidikan nasional menyatakan peranan pendidikan
dalam masyarakat yang demokratis adalah sebab untuk mengembangkan
pengetahuan, minat, gagasan, kebiasaan, dan kekuatan setiap individu di
mana pun berada. Ada 7 kategori utama tujuan kurikulum:
1)
2)
3)
4)
5)
6)
7)

Kesehatan
Proses umum dan dasar.
Kekeluargaan.
Pendidikan kejuruan.
Pendidikan kewarganegaraan.
Memanfaatkan waktu senggang.
Karakter etika.

b. The Goals of Education merupakan pernyataan akhir/outcome dari
pendidikan, dengan kata lain pernyataan tentang tujuan. Dengan
menganalisis sebuah tujuan sekolah, kita dapat menentukan porsi dari
program pendidikan secara keseluruhan. Phi Delta Kapfa mendistribusikan
sejumlah tujuan yang dikreasikan oleh program pusat pengembangan
California bagian tenggara, diantaranya:
1) Belajar menjadi warga yang baik
2) Belajar menghormati orang lain
3) Belajar dan mencoba memahami
4) Mengembangkan skill bidang reading, writing, speaking dan listening.
5) Paham dan berdemokrasi
6) Belajar bagaimana memanfaatkan informasi
7) Mengembangkan skill di bidang lapangan
8) Mengembangkan belajar masa depan
9) Praktis dan memahami ide kesehatan dan keamanan

10) Apresiasi kultur dan keindahan dunia.
c. The Objective of Education merupakan tujuan yang bersifat khusus atau erat
kaitannya dengan hasil dari kurikulum. Berikut pengertian objektif dari
beberapa ahli, yakni:
1) Menurut Hilda Taba bahwa objektif pendidikan dibagi menjadi dua
yakni, menggambarkan tentang hasil sekolah dan menggambarkan
perubahan sikap perilaku yang dicapai.
2) Menurut Zais bahwa tujuan umum sekolah sebagai tujuan kurikulum.
3) Baker dan Popham mengatakan bahwa tujuan khusus ialah tujuan
pengajaran.
Adapun komponen dari sasaran kurikulum adalah karakteristik dari
behavioral dan non behavioral, target/tujuan individu atau peserta didik.
Contohnya: kondisi lingkungan tempat siswa berbuat dan kondisi operasinya,
dimana siswa mempelajari studinya. Keduanya disebut sebagai behavior mode
(Baker dan Schutz). Tujuan behavioral menunjukkan komponen yang khusus,
komponen ini disebut dengan terminal behavior. Sementara non behavioral
tidak memiliki behavior mode yang spesifik. Ada beberapa komponen yang
terdapat dalam tujuan komponen. Dibawah dimunculkan tingkat penguasaan
atau pencapaian yang diingini sesuai dengan tujuan komponen seperti maksud
dan tujuan (means and end).
Pengembang kurikulum mungkin menyebutnya suatu tujuan umum
seperti: memperbaiki keterampilan siswa dalam mengolah informasi saat
menselaraskannya dengan materi Sains” inilah disebut dengan tujuan umum,
tetapi sebagian menyatakan bahwa ini disebut “goals” padahal pengembangan
mesti merangkaikan tujuan yang lebih spesifik lagi.
4. Peran filsafat dan ilmu dalam mengembangkan kurikulum Sebagai suatu
landasan yang fundamental, filsafat memegang peranan penting dalam proses
perencanaan, implementasi dan pengembangan kurikulum. Wina Sanjaya
(2009) mengemukakan, paling tidak ada empat fungsi filsafat dalam
pengembangan kurikulum yang di dalamnya terdapat perencanaan dan

implementasi kurikulum, yaitu Pertama, Filsafat dapat menentukan arah dan
tujuan pendidikan. Kedua. Filsafat dapat menetukan isi atau materi pelajaran
yang harus diberikan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Ketiga, filsafat
dapat menentukan strategi atau cara pencapaian tujuan. Keempat, melalui
filsafat, dapat ditentukan bagaimana menentukan tolok ukur keberhasilan
proses pendidikan.
5. 4 (empat) komponen dalam pengembangan kurikulum yaitu tujuan, isi, strategi
dan evaluasi. Menurut Nurgiantoro (2004: 16), bahwa komponen-komponen
kurikulum, yaitu:
a. Komponen tujuan
Komponen tujuan ini mempunyai tiga jenis tahapan, yaitu :
1) Tujuan jangka panjang
Hal ini menggambarkan tujuan hidup yang diharapkan serta
didasarkan pada nilai yang diambil dari filsafat. Tujuan ini tidak
berhubungan dengan tujuan sekolah, melainkan sebagai target setelah
anak didik menyelesaikan sekolah.
2) Tujuan jangka menengah
Tujuan ini merujuk pada tujuan sekolah yang berdasarkan pada
jenjangnya; SD, SMP, SMA, dan lain-lainnya.
3) Tujuan jangka dekat
Tujuan yang dikhususkan pada pembelajaran di kelas, misalnya;
siswa dapat mengerjakan perkalian dengan betul, siswa dapat
mempraktekkan shalat, dan sebagainya.
b. Komponen isi/materi
Isi program kurikulum adalah segala sesuatu yang diberikan kepada
anak didik dalam kegiatan belajar mengajar dalam rangka mencapai tujuan.
Isi kurikulum meliputi jenis-jenis bidang studi yang diajarkan dan isi
masing-masing bidang studi tersebut. Bidang studi itu disesuaikan dengan
jenis, jenjang, maupun jalur pendidikan yang ada.

Langkah-langkah yang perlu dilakukan sebelum menentukan isi atau
content yang dilakukan sebagai kurikulum, terlebih dahulu perencana
kurikulum harus menyeleksi isi agar menjadi lebih efektif dan efisien.
Kriteria yang dapat dijadikan pertimbangan, antara lain :
1) Kebermaknaan;
2) Manfaat atau kegunaan;
3) Pengembangan manusia;
c. Komponen Strategi
Strategi merujuk pada pendekatan mengajar yang digunakan dalam
pengajaran, tetapi pada hakekatnya strategi pengajaran tidak hanya terbatas
pada hal itu saja. Strategi pengajaran berkaitan dengan cara penyampaian
atau cara yang ditempuh dalam melaksanakan pengajaran, mengadakan
penilaian, pelaksanaan bimbingan, dan mengatur kegiatan baik secara
umum maupun yang bersifat khusus.
d. Komponen evaluasi
Evaluasi untuk mengetahui dari hasil capaian ketiga komponen
sebelumnya. Penelitian dapat digunakan untuk menentukan strategi
perbaikan pengajaran. Selain itu, komponen evaluasi sangat berguna bagi
semua fihak untuk melihat sejauh mana keberhasilan interaksi edukatif
(Tafsi, 2000: 53 ).
6. Hubungan kurikulum dengan teori belajar dan gaya belajar.
a. Teori belajar merupakan gabungan prinsip yang saling berhubungan dan
penjelasan atas sejumlah fakta serta penemuan yang berkaitan dengan
peristiwa belajar.
b. Pengertian gaya belajar adalah cara yang konsisten yang dilakukan oleh
seorang siswa dalam menangkap stimulus atau informasi, cara mengingat,
berpikir dan memecahkan soal.
c. Menurut S. Nasution dalam bahri (2011: 17), kurikulum merupakan suatu
rencana yang disusun untuk melancarkan proses belajar mengajar di bawah
bimbingan dan tanggung jawab sekolah atau lembaga pendidikan beserta

staf pengajaran. Selanjutnya Nasution menjelaskan sejumlah ahli teori
kurikulum berpendapat bahwa kurikulum bukan hanya meliputi semua
kegiatan yang direncanakan melainkan peristiwaperistiwa yang terjadi di
bawah pengawasan sekolah. Jadi selain kegiatan kurikulum yang formal
yang sering disebut kegiatan ko-kurikuler atau ekstra kurikuler (cocurriculum atau ekstra curriculum).
d. Hubungan kurikulum dengan teori belajar dan gaya belajar adalah
kurikulum merupakan suatu rencana yang disusun untuk melancarkan
proses belajar mengajar, didalam proses belajar mengajar terdapat suatu cara
yang dilakukan oleh guru untuk memberikan informasi kepada peseta didik.
terdapat gaya belajar yang dilakukan oleh peserta didik dalam menangkap
stimulus atau informasi, cara mengingat, berpikir dan memecahkan soal di
dalam kelas. Selain terdapat gaya belajar pada setiap peserta didik didalam
proses belajar mengajar yang sudah terangkum dalam suatu kurikulum.
Kurikulum yang diterapkan juga mengandung suatu teori-teori belajar yang
akan diterapkan. Jadi antara kurikulum dengan teori dan gaya belajar
mempunyai sistem yang saling terhubung antara yang satu dengan yang
lain.
7. Model kurikulum
a. Pendidikan Klasik/kurikulum Subjek Akademis
Model konsep kurikulum ini adalah model yang tertua, sejak sekolah
yang pertama berdiri, kurikulumnya mirip dengan tipe ini. Sampai sekarang,
walaupun telah berkembang tipe-tipe lain, umumnya sekolah tidak dapat
melepaskan tipe ini. Mengapa demikian? Karena kurikulum ini sangat
praktis, mudah disusun, mudah digabungkan dengan tipe lainya.
Kurikulum subjek akademis bersumber dari pendidikan klasik
(perenialisme dan esensialisme) yang berorientasi pada masa lalu. Semua
pengetahuan dan nilai-nilai telah ditemukan oleh pemikir masa lalu. Fungsi
pendidikan memelihara dan mewariskan hasil-hasil budaya masa lalu
tersebut. Kurikulum ini lebih mengutamakan isi pendidikan. Isi pendidikan

diambil dari setiap disiplin ilmu. Sesuai dengan bidang disiplinya para ahli,
masing-masing telah mengembangkan ilmu secara sistematis, logis dan
solid.
b. Pendidikan Pribadi/kurikulum humanistik
Kurikulum humanistik dikembangkan oleh para ahli pendidikan
humanistik. Kurikulum ini berdasarkan konsep aliran pendidikan pribadi
(personalized education) yaitu John Dewey dan JJ Rousseau. Aliran ini
lebih memberikan tempat utama kepada siswa. Mereka bertolak dari asumsi
bahwa anak atau siswa adalah yang pertama dan utama dalam pendidikan.
Mereka percaya bahwa siswa mempunyai potensi, punya kemampuan, dan
kekuatan untuk berkembang.
c. Pendidikan Teknologis/kurikulum teknologis
Sejalan dengan perkembangan ilmu dan teknologi, dibidang
pendidikan berkembang pula teknologi pendidikan. Aliran ini ada
persamaanya dengan dengan pendidikan klasik, yaitu menekankan isi
kurikulum, tetapi diarahkan bukan pada pemeliharaan dan pengawetan ilmu
tersebut tetapi pada penguasaan kompetensi.
Penerapan teknologi dalam bidang pendidikan khususnya kurikulum
adalah dalam dua bentuk, yaitu bentuk perangkat keras dan bentuk
perangkat lunak. Penerapan teknologi perangkat keras dalam pendidikan
dikenal sebagai teknologi alat, sedangkan penerapan teknologi perangkat
lunak disebut juga teknologi sistem.

d. Pendidikan Interaksionis/Kurikulum Rekontruksi Sosial
Kurikulum rekontruksi sosial berbeda dengan model-model kurikulum
lainya. Kurikulum ini lebih memusatkan perhatian pada problema-problema
yang dihadapinya dalam masyarakat. Kurikulum ini bersumber pada aliran
pendidikan interksional. Menurut mereka pendidikan bukan upaya sendiri,
melainkan kegiatan bersama, interksi, kerja sama.

KTSP lebih mengakomodasikan model Pendidikan Pribadi/kurikulum
humanistik karena karena memandang pengajaran lebih holistik dimana
belajar difokuskan dengan arah yang jelas untuk membantu pengembangan
potensi peserta didik secara utuh dan optimal. Pengembangan kurikulum
lebih menekankan pada pelayanan peserta didik menemukan makna dalam
belajar

sesuai

tingkat

pertumbuhan

dan

perkembanganya,

serta

mengamodasikan kebutuhan pengembangan kemampuan minat, bakat dan
kebutuhan-kebutuhan khusus peserta didik. Selain termasuk kedalam model
kurikulum humanistik KTSP juga termasuk kedalam model Pendidikan
Teknologis/kurikulum

teknologis

yaitu

dikembangkan

berdasarkan

sistematisasi disiplin keilmuan. Pembelajaran dikembangkan menggunakan
proses linier atau progresif di mana isi yang diajarkan dapat dianalisis secara
kritis, dibagi dalam segmen-segmen dan diorganisasikan kedalam batang
tubuh keilmuan.
K13 lebih mengakomodasikan model Pendidikan Klasik/kurikulum
Subjek Akademis dan Pendidikan Interaksionis/Kurikulum Rekontruksi
Sosial. Kedua model kurikulum jika dilihat dari ciri dan desain kurikulum
terdapat tema sebagai pemersatu dari disiplin-disiplin ilmu lainya.
8. Teori belajar yang dikembangkan pada kurikulum KTSP dan K13 adalah teori
belajar kontruktivisme dan kognitif. Teori belajar kontruktivisme yang di
tokohi oleh John Dewey, Jean Piaget, dan Jerome Bruner. John Dewey
berpendapat bahwa Belajar harus bersifat aktif, langsung terlibat, berpusat pada
siswa (SCL = Student-Centered Learning) dalam konteks pengalaman sosial,
Guru bertindak sebagai fasilitator. Ciri tersebut merupakan seperti halnya
dengan karakteristik pada K13 yang mengutamakan pada pembelajaran aktif,
kreatif, efektif dan menyenangkan. Pelaksanaan pembelajaran K13 bersifat
student center dan guru hanya sebagai fasilitator.
Teori belajar kognitif di tokohi oleh Wertheimer, Kurt Koffka

dan

Kohler. Salah satu pendekatan pembelajaran pada KTSP adalah menggunakan
pendekatan pembelajaran berbasis masalah. Konsep dari teori belajar kognitif

adalah Siswa dilibatkan sebagai pembelajar yang aktif, Belajar merupakan
proses menemukan (insightaha) dan memperoleh penyelesaian masalah
(problem solving) dan Guru hanya sebagai pendamping, teman diskusi serta
fasilitator, yang memberikan alat belajar, memanipulasi situasi dan kondisi
belajar shg siswa bisa belajar sendiri.
Beberapa ujuan pendidikan menurut teori belajar kognitif adalah :
a. Menghasilkan individu atau anak yang memiliki kemampuan berfikir untuk
menyelesaikan setiap persoalan yang dihadapi,
b. Kurikulum dirancang sedemikian rupa sehingga terjadi situasi yang
memungkinkan pengetahuan dan keterampilan dapat dikonstruksi oleh
peserta didik.
c. Latihan memecahkan masalah seringkali dilakukan melalui belajar
kelompok dengan menganalisis masalah dalam kehidupan sehari-hari
d. Peserta didik diharapkan selalu aktif dan dapat menemukan cara belajar
yang sesuai bagi dirinya.
e. Guru hanyalah berfungsi sebagai mediator, fasilitor, dan teman yang
membuat situasi yang kondusif untuk terjadinya konstruksi pengetahuan
pada diri peserta didik
9. Tugas yang seharusnya dilakukan oleh guru sebagai pengembang kurikulum
adalah sebagai: perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Pengembangan
kurikulum pada tahap perancangan berkenaan dengan seluruh kegiatan
menghasilkan dokumen kurikulum, atau kurikulum tertulis. Pelaksanaan
kurikulum atau disebut juga implementasi kurikulum, meliputi kegiatan
menerapkan semua rancangan yang tercantum dalam kurikulum tertulis.
Evaluasi kurikulum merupakan kegiatan menilai pelaksanaan dan hasil-hasil
penggunaan suatu kurikulum.
10.

Tugas yang paling dirasakan sulit dilakukan guru pada umumnya adalah

pelaksanaan, karena pelaksanaan seharusnya sesuai dengan yang direncanakan.
Guru dalam melaksanakan pembelajaran terkadang tidak sesuai dengan apa

yang direncakan sehingga pembelajaran yang dilaksanakan tidak sistematis
sesuai dengan rencana yang dibuat.
Cara mengukur/menilai keberhasilan kurikulum adalah dengan cara
mengevaluasi kurikulum. Jika output atau hasil kelulusan/nilai peserta didik
sudah mencapai dengan standar yang ditetapkan berarti kurikulum yang
digunakan sudah berhasil. Sebaliknya jika output atau hasil kelulusan/nilai
peserta didik belum mencapai standar yang ditentukan berarti kurikulum yang
digunakan belum berhasil. Adapun cara mengevaluasi kurikulum tersebut
terdapat tiga yang dinilai, yaitu dari segi perencanaanya, pelaksanaanya sampai
dengan evaluasi atau hasil akhirnya.
11.

18 Nilai-nilai Karakter Budaya Bangsa
No
1.

Nilai

Bidang

Karakter

Studi/Mapel/Tema

Religius

Pendidikan Agama Islam

Argumen
Nilai

religius

berhubungan

dengan

yang
tuhan

sangat pas jika dimasukan
kedalam mapel PAI.
2.

Jujur

Pendidikan Agama Islam, Pkn dan PAI merupakan mata
Pkn

pelajaaran yang mengajarkan
tentang nilai-nilai kejujuran

3.

Toleransi

Pkn, IPS

Sikap

dan

tindakan

yang

menghargai perbedaan agama,
suku, etnis, pendapat, sikap,
sangat pas jika diterapkan pada
mapel Pkn dan IPS
4.

Disiplin

Pkn, Mtk, B. Indo, IPA, Tindakan yang menunjukkan
IPS

perilaku tertib dan patuh pada
berbagai ketentuan dan peraturan

5.

Kerja keras

Matematika

perilaku

yang

menunjukkan

upaya secara sungguh-sungguh

dalam menyelesaikan berbagai
tugas,

permasalahan,

pekerjaan, dan lain-lain dengan
sebaik-baiknya
6.

Kreatif

Seni

Budaya

dan sikap

Keterampilan

dan

perilaku

yang

mencerminkan inovasi dalam
berbagai

segi

dalam

memecahkan

masalah,

sehingga selalu menemukan
cara-cara baru, bahkan hasilhasil baru yang lebih baik dari
sebelumnya
7.

Mandiri

Matematika

sikap dan perilaku yang tidak
tergantung pada orang lain
dalam menyelesaikan berbagai
tugas maupun persoalan

8.

Demokratis

Pkn

sikap dan cara berpikir yang
mencerminkan persamaan hak
dan kewajiban secara adil dan
merata antara dirinya dengan
orang lain.

9.

Rasa

ingin IPA,

tahu

IPS,

B.Indo, Pkn

Matematika,

cara

berpikir,

sikap,

dan

perilaku yang mencerminkan
penasaran dan keingintahuan
terhadap

segala

hal

yang

dilihat, didengar, dan dipelajari
secara lebih mendalam
10. Semangat
kebangsaan

Pkn

sikap

dan

menempatkan

tindakan

yang

kepentingan

bangsa dan negara di atas
kepentingan

pribadi

atau

individu dan golongan.
11. Cinta tanah air

Pkn, B.Indo

sikap

dan

perilaku

mencerminkan

yang

rasa bangga,

setia, peduli, dan penghargaan
yang tinggi terhadap bahasa,
budaya, ekomoni, politik, dan
sebagainya
12. Menghargai

Matematika

prestasi

sikap terbuka terhadap prestasi
orang

lain

dan

mengakui

kekurangan diri sendiri tanpa
mengurangi

semangat

berprestasi yang lebih tinggi.
13. Bersahabat/

B.Indo

komunikatif

sikap dan tindakan terbuka
terhadap orang lain melalui
komunikasi

yang

santun

sehingga tercipta kerja sama
secara kolaboratif dengan baik.
14. Cinta damai

sikap

dan

perilaku

yang

mencerminkan suasana damai,
aman, tenang, dan nyaman atas
kehadiran
komunitas

dirinya
atau

dalam

masyarakat

tertentu.
15. Gemar

Bahasa Indonesia

membaca

kebiasaan

dengan

tanpa

paksaan untuk menyediakan
waktu

secara

khusus

guna

membaca berbagai informasi,
baik buku, jurnal, majalah,
koran, dan sebagainya
16. Peduli
lingkungan

IPA

sikap dan tindakan yang selalu
berupaya

menjaga

dan

melestarikan

lingkungan

sekitar sangat pas diterapkan
pada mata pelajaran IPA
17. Peduli sosial

IPS

sikap

dan

perbuatan

mencerminkan

yang

kepedulian

terhadap orang lain maupun
masyarakat, dimata pelajaran
IPS sangat pas jika diterapkan
karakter ini
18. Tanggung

sikap dan perilaku seseorang

jawab

dalam melaksanakan tugas dan
kewajibannya,

baik

yang

berkaitan dengan diri sendiri,
sosial,

masyarakat,

bangsa,

negara, maupun agama.
12.

Jika ada perubahan yang mendasar dari kurikulum, yang harus diperbaiki

adalah

manajemen

kurikulumnya.

Manajemen

kurikulum

meliputi

perencanaan, pelaksanaan, pengorganisasian dan evaluasi kurikulum. Jika
manajemen kurikulum yang dipersiapkan sudah sangat matang tidak menutup
kemungkinan hasil akhir atau tujuan akhirnya juga bagus. Manajemen
kurikulum itu sendiri meliputi;
a. Perencanaan:

melihat

kondisi

masyarakat,

melihat

kebutuhan

masyarakatknya yang kemudian direncanakan dengan para ahli pendidikan
yang kemudian merumuskan kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan dan
kondisi masyarakat.
b. Pelaksanaan:

melaksanakan

kurikulum

yang

sudah

dirumuskan

sebelumnya, hal ini melibatkan antara pendidik dan peserta didik di dalam
kelas dengan dibantu sumber belajar yang sudah dipersiapkan.

c. Pengorganisasian: mengatur hubungan baik antara satu tim dengan tim
yang lain dalam suatu lembaga pendidikan untuk membangun koordinasi
yang baik.
d.

Mengevaluasi: melihat hasil atau outputnya yang kemudian melihat
kekurangan-kekurangan untuk diperbaiki supaya kekurangan tersebut
menjadi lebih baik.
Sistem Among dari Ki Hajar Dewantara
Pemikiran Ki Hajar Dewantara menurut Soeratman dalam Tyas (2011:

2), guru atau pamong dalam melaksanakan tugasnya, mengajar dan mendidik
haruslah memberi tuntunan dan menyokong pada anak-anak agar dapat tumbuh
dan berkembang berdasarkan kekuatan sendiri. Cara mengajar dan mendidik
dengan menggunakan alat perintah, paksaan dengan hukuman seperti yang
dipakai dalam pendidikan di masa dahulu hendaknya dihindari. Semboyan
yang digunakan untuk melaksanakan metode ini adalah Tut Wuri Handayani,
artinya mendorong anak didik untuk membiasakan diri mencari dan belajar
sendiri. Guru atau pamong mengikuti di belakang dan memberi pengaruh,
bertugas mengamati dengan segala perhatian; pertolongan diberikan apabila di
perlukan.
Dengan menggunakan metode among, yang berarti membimbing anak
dengan penuh kecintaan dan mendahulukan kepentingan anak maka anak dapat
berkembang menurut kodratnya. Bakatnya dapat berkembang dan hubungan
pamong bersama murid-muridnya adalah seperti keluarga. Dikutip dalam
Rahardjo (2009:72), yang dipakai sebagai alat pendidikan yaitu pemeliharaan
dengan sebesar perhatian untuk mendapat tumbuhnya hidup anak, lahir dan
batin menurut kodratnya sendiri itulah yang dinamakan Among Methode.
Berdasarkan penjelasan tersebut, implementasi yang diterapkan berbeda
dengan sistem Among dari Ki Hajar Dewantara. Sistem pendidikan sekarang
siswa dituntut untuk belajar sesuai dengan arahan, perintah dan tuntutan dari
guru yang sudah direncanakan oleh pemerintah. Sedangkan pemikiran Ki Hajar

Dewantara berfikiran “biarkan anak membiasakan diri mencari dan belajar
sendiri agar dapat berkembang menurut kodratnya”.

DAFTAR PUSTAKA
https://www.academia.edu/7613267/
landasan_psikologis_dalam_pengembangan_kurikulum
resume-4-pilar-pendidikan-menurut-unesco, http://
patimahahmad.blogspot.com/2013/10/resume-4-pilar-pendidikan-menurutunesco.html, diakses pada 23 Juli 2019, waktu akses pukul 07.48 WIB

Bahri, S. (2011). Pengembangan Kurikulum Dasar dan Tujuanya. Jurnal Ilmiah
Islam Futura, 11, 1, 15-34
Muhaimin, Sutiah & Prabowo, S.L. (2008). Pengembangan Kurikulum Tingkat
Satuan Pendidikan (KTSP) pada Sekolah & Madrasah. Jakarta: PT Raja
Grafindo Persada
Nahar, N. I. (2016). Penerapan Teori Belajar Behavioristik dalam Proses
Pembelajaran. Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial, 1, 1, 64-74
Ornstein. Allan C. and Hunskin Francis P. 1988. Curriculum Foundations,
Princioles, and Issues. Englewood Cliffs. N.J : Prantice Hall
Sanjaya, Wina (2009) Kurikulum dan Pembelajaran, Jakarta: Prenada Media
Group
Sukmadinata, N.S. (2016). Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek.
Bandung: PT Remaja Rosdakarya
Triyanto,
A.
(2011).
Teori-teori
Balajar.
Tersedia
http://staffnew.uny.ac.id/upload/132310879/pendidikan/06Teori+Belajar.pd
f. Di Akses: 28 November 2018. [Pukul 09.19 WIB]
Tyas, W.M., Winarno, S. & Prantiasih, A. (2011). Efektivitas Sistem Among
dalam Pembelajaran Pendidikan Kwarganegaraan Sebagai Upaya
Membentuk Budi Pekerti Siswa di SMA Taman Madya Kota Malang. Jurnal
Ilmu Sosial, 1,1, 1-12
Widayanti, F.W. (2013). Pentingnya Mengetahui Gaya Belajar Siswa Dalam
Kegiatan Pembelajaran di Kelas. Jurnal Erudio, 2, 1, 7-21

Judul: Jawaban Uas Kurikulum Ilham (1820110026)

Oleh: Ilham Aji Asmara


Ikuti kami