Kisi Kisi Ilsos Dan Jawaban

Oleh Faiz Al Ghifary

14 tayangan
Bagikan artikel

Transkrip Kisi Kisi Ilsos Dan Jawaban

1. Fenomena tentang agama
Jawab:
Menurut Wallace agama didefinisikan sebagai kepercayaan dan ritual yang
berhubungan dengan makluk gaib, kekuatan dan memaksa. Agama merupakan budaya
yang universal. Beberapa istilah yang muncul jika kita membicarakan agama.


Animisme: yaitu kepercayaan dalam jiwa dan animisme merupakan agama yang
paling awal



Mana dan Taboo: Mana bisa tinggal di dalam tubuh manusia, hewan, tumbuhan dan
suatu benda. Dan taboo merupakan sesuatu yang sacral



Ritual: merupakan sesuatu yang formal dilakukan berulang-ulang dan merupakan
stereotype
Agama dan kehidupan beragama merupakan unsur yang tak terpisahkan dari

kehidupan dan sistem budaya umat manusia. Sejak awal manusia berbudaya, agama dan
kehidupan beragama tersebut telah menggejala dalam kehidupan, bahkan memberikan
corak dan bentuk dari semua perilaku budayanya. Agama dan perilaku keagamaan
tumbuh dan berkembang dari adanya rasa ketergantungan manusia terhadap kekuatan
ghaib yang mereka rasakan sebagai sumber kehidupan mereka. Mereka harus
berkomunikasi untuk memohon bantuan dan pertolongan kepada kekuatan ghaib tersebut,
agar mendapatkan kehidupan yang aman, selamat dan sejahtera.
Tetapi apa dan siapa kekuatan ghaib yang mereka rasakan sebagai sumber
kehidupan tersebut, dan bagaimana cara berkomunikasi dan memohon perlindungan dan
bantuan tersebut, mereka tidak tahu. Mereka merasakan adanya dan kebutuhan akan
bantuan dan perlindungannya. Itulah awal rasa Agama, yang merupakan desakan dari
dalam diri mereka, yang mendorong timbulnya perilaku keagamaan. Dengan demikian,
rasa Agama dan perilaku keagamaan merupakan pembawaan dari kehidupan manusia,
atau dengan istilah lain merupakan fitrah manusia. Fitrah adalah kondisi sekaligus potensi
bawaan yang berasal dari dan ditetapkan dalam proses penciptaan manusia.

Bukti-buktinya dari fenomena agama yang universal, adalah:


Banyaknya orang yang beragama atau semua orang (tanpa kecuali) memeluk agama.
Robert M. Bellah menyebut adanya agama yang dinamakan “Pseudo Religion atau
Civil Religion atau Agama Tiruan”, yaitu “isme-isme” yang dianut manusia.



Banyaknya agama yang dianut oleh manusia: Islam, Katolik, Protestan, Hindu,
Buddha, Konghucu, Yahudi, Sinto, Bahai, Sikh, dll.



Banyaknya penganut dan agama secara fungsional menunjukkan arti pentingnya
agama: Identifikasi, sosialisiinteraksi-komunikasi, dan maknawi.

2. Agama di Yugoslavia
Jawab:
Masalah utama dalam mendirikan Negara federasi Yugoslavia adalah konflik antar etnis yang
banyak memiliki perbedaan. Negara Yugoslavia terletak di Semenanjung Balkan. Sebelum
terpecah – pecah seperti sekarang, Yugoslavia merupakan Negara Republik Federasi
sosialis di Eropa Tenggara yang terdiri dari atas 6 negara republic. Keenam Negara
tersebut adalah Serbia, Kroasia, Slovenia, Bosnia-Herzegovina, Montenegro, dan
Macedonia ditambah daerah otonom Kosovo. Penduduk Yugoslavia terdiri atas 6
golongan etnis suku bangsa Slav, yaitu Serbia, Kroasia, Slovenia, Islam Bosnia,
Macedonia, dan Montenegro.


Bosnia dan Herzegovina
Mereka beragama Katolik Roma dan menempati daerah Herzegovia Barat. Konflik
Tersebut terkenal dengan istilah Pembersihan etnis (etnis cleaning). Orang-orang
Kroasia di Bosna menginginkan bergabung dengan Negara Kroasia. Mereka
memusuhi orang-orang muslim Bosnia. Permusuhan tersebut didukung oleh
sukarelawan Kroasia. Konflik antara Bosnia dan Sebia dikenal dengan nama Perang
Kroasia-Bosnia.



Kroasia
Penduduk asli kroasia adalah pemeluk agama katolik Roma. Mayoritas
penduduknya adalah keturunan Serbia.



Slovenia
Penduduknya mayoritas dari bangsa Slovenia, sehingga kawasan ini terhindar dari
kemelut seperti negara-negara tetangganya.



Macedonia
Penduduk mayoritas Macedonia terdiri atas bangsa Slavia di utara dan Yunani di
selatan. Mereka mayoritas beragama Islam. Pada tanggal 9 September 1991,
Macedonia menyatakan kemerdekaannya (memisahkan diri dari Yugoslavia).



Serbia dan Montenegro
Serbia dan Montenegro merupakan dua Negara bagian Yugoslavia yang masih
tetap mempertahankan keberadaan Federasi Yugoslavia. Strategi perang yang
dilakukan adalah dengan cara memotong-motong wilayah sceara etnik homogeny
untuk mempersempit wilayah pendudukan dan diklaim sebagai wilayahnya, dan
melakukan pembunuhan massal bagi laki-laki Bosnia, serta melakukan tindakan
pemerkosaan terhadap kaum wanita Bosnia muslim. Ini semua dimaksudkan untuk
menghapuskan keturunan bosnia muslim dari perang dunia.

3. Perspektif beda agama dari bidang sosiologi
Jawab:
Agama dalam sosiologi dipandang sebagai salah satu institusi sosial, sebagai
subsistem dari sistem sosial yang mempunyai fungsi sosial tertentu. Dalam sosiologi
agama tidak dilihat berdasarkan apa dan bagaimana isi ajaran dan doktrin keyakinannya,
melainkan bagaimana ajaran dan keyakinan agama itu dilakukan dan mewujudkan ke
dalam perilaku para pemeluknya dalam kehidupan sehari-hari. Jadi, sosiologi agama
adalah ilmu yang mempelajari tentang keberagaman perilaku manusia dalam dunia
realitas.
Dalam disiplin Sosiologi Agama, ada tiga perspektif utama sosiologi yang seringkali
digunakan sebagai landasan dalam melihat fenomena keagamaan di masyarakat, yaitu:
perspektif fungsionalis, konflik dan interaksionisme simbolik.
1. Perspektif Fungsionalis
Memandang masyarakat sebagai suatu jaringan kelompok yang bekerjasama
secara terorganisasi yang bekerja dalam suatu cara yang agak teratur menurut
seperangkat peraturan dan nilai yang dianut oleh sebagian besar masyarakat tersebut.

Masyarakat

dipandang

sebagai

suatu

sistem

yang

stabil

dengan

suatu

kecenderungan untuk mempertahankan sistem kerja yang selaras dan seimbang.
Karena agama dari dulu hingga sekarang masih tetap eksis maka jelas bahwa agama
mempunyai fungsi atau bahkan memainkan sejumlah fungsi di masyarakat. Oleh
karenanya, perspektif fungsionalis lebih memfokuskan perhatian dalam mengamati
fenomena keagamaan pada sumbangan fungsional agama yang diberikan pada sistem
sosial.
Melalui

perspektif

ini,

pembicaraan

tentang

agama

akan

berkisar

pada

permasalahan tentang fungsi agama dalam meningkatkan kohesi masyarakat dan
kontrol terhadap perilaku individu.
2. Perspektif Konflik
Berlawanan

dengan

perspektif

fungsional

yang

melihat

keadaan

normal

masyarakat sebagai suatu keseimbangan yang mantap, para penganut perspektif
konflik berpandangan bahwa masyarakat berada dalam konflik yang terus-menerus
diantara kelompok dan kelas, atau dengan kata lain konflik dan pertentangan
dipandang sebagai determinan utama dalam pengorganisasian kehidupan sosial
sehingga struktur dasar masyarakat sangat ditentukan oleh upaya-upaya yang
dilakukan berbagai individu dan kelompok untuk mendapatkan sumber daya yang
terbatas yang akan memenuhi kebutuhan dan keinginan mereka.
Dalam kaitannya dengan kekuasaan, kalangan teoritisi konflik memandang agama
sebagai ekspresi penderitaan, penindasan, dan rasionalisasi serta pembenaran
terhadap tatanan sosial yang ada. Oleh karena itu, dalam perspektif konflik agama
dilihat sebagai “kesadaran yang palsu”, karena hanya berkenaan dengan hal-hal yang
sepele dan semu atau hal-hal yang tidak ada seperti sungguh-sungguh mencerminkan
kepentingan ekonomi kelas sosial yang berkuasa. Jadi, dalam perspektif konflik
agama lebih dilihat dalam hubungannya dengan upaya untuk melanggengkan status
quo, meskipun pada tahap selanjutnya tidak sedikit kalangan yang menganut
perspektif ini justru menjadikan agama sebagai basis perjuangan untuk melawan
status quo sebagaimana perjuangan bangsa Amerika Latin melalui teologi liberal
mereka yang populer.

3. Perspektif Interaksionisme Simbolik
Dalam

wacana

sosiologi

kontemporer,

istilah

interaksionisme

simbolik

diperkenalkan oleh Herbert Blumer melalui tiga proposisinya yang terkenal:
a) Manusia berbuat terhadap sesuatu berdasarkan makna-makna yang dimiliki sesuatu
tersebut bagi mereka
b) Makna-makna tersebut merupakan hasil dari interaksi sosial
c) Tindakan sosial diakibatkan oleh kesesuaian bersama dari tindakan-tindakan sosial
individu.
Dengan mendasarkan pada ketiga proposisi diatas, perspektif interaksionisme
simbolik melihat pentingnya agama bagi manusia karena agama mempengaruhi
individu-individu dan hubungan-hubungan sosial. Pengaruh paling signifikan dari
agama terhadap individu adalah berkenaan dengan perkembangan identitas sosial.
Dengan menjadi anggota dari suatu agama, seseorang lebih dapat menjawab
pertanyaan “siapa saya?”. Dengan demikian bisa dikatakan bahwa identitas
keagamaan, dan kepercayaan-kepercayaan dan nilai-nilai yang diasosiasikan dengan
agama merupakan produk dari sosialisasi. Oleh karenanya, kalangan interaksionis
lebih melihat agama dari sudut peran yang dimainkan agama dalam pembentukan
identitas sosial dan penempatan individu dalam masyarakat.

4. Pernikahan beda agama ditinjau dari afeksi dan kebebasan
Jawab:
Afeksi adalah rasa kasih sayang.
Kebebasan itu dalam kenyataannya merupakan suatu yang bersifat "fragile"; kebebasan
bersifat sensitif dan rapuh. Manusia adalah makhluk yang bebas, namun sekaligus
manusia adalah makhluk yang harus senantiasa memperjuangkan kebebasannya.
Dari pengertian afeksi dan kebebasan diatas berhubungan dengan pernikahan beda
agama, menurut saya…

5. Pemahaman agama, keluarga, kota, politik, control sosial, dan
gerakan sosial
Jawab:

Agama:
Menurut Wallace agama didefinisikan sebagai kepercayaan dan ritual yang
berhubungan dengan makluk gaib, kekuatan dan memaksa. Agama merupakan budaya
yang universal. Beberapa istilah yang muncul jika kita membicarakan agama.


Animisme: yaitu kepercayaan dalam jiwa dan animisme merupakan agama yang
paling awal



Mana dan Taboo: Mana bisa tinggal di dalam tubuh manusia, hewan, tumbuhan dan
suatu benda. Dan taboo merupakan sesuatu yang sacral



Ritual: merupakan sesuatu yang formal dilakukan berulang-ulang dan merupakan
stereotype

Keluarga:
Family atau keluarga adalah orang-orang yang berhubungan darah, perkawinan,
atau hubungan yang disepakati lainnya, atau adopsi yang berbagi tanggung jawab utama
untuk reproduksi dan merawat anggota masyarakat.
Komposisi Keluarga:


Nuclear Family: Keluarga yang terdiri dari keluarga inti seperti ayah,ibu, dan anakanaknya.



Extended Family: Suatu kelurga dimana terdapat keluarga lain seperti kakek, nenek,
om, tante, dll. yang tinggal satu rumah dengan keluarga inti yang terdiri dari ayah,ibu,
dan anak-anaknya.

Enam Fungsi keluarga:


Protection atau perlindungan



Socialization atau sosialisasi



Reproduction atau reproduksi



Regulation of sexual behavior atau Peraturan perilaku seksual



Affection and companionship atau kasih sayang dan persahabatan



Provision of social status atau pemberian status sosial

Kota:
Kota adalah daerah permukiman yg terdiri atas bangunan rumah yg merupakan
kesatuan tempat tinggal dr berbagai lapisan masyarakat


Industri kota: lebih padat penduduk dan kompleks daripada pendahulunya



Pascaindustri Kota: keuangan global dan aliran informasi elektronik mendominasi
perekonomian



Urbanisme: relatif besar dan pemukiman permanen menyebabkan pola khas
perilaku.Urbanisasi menjadi aspek utama bagi kehidupan di AS.

Kontrol Sosial:
Kontrol

sosial

adalah

strategi

untuk

mencegah

perilaku

yang

menyimpang. Pemberian sanksi adalah salah satu contoh perwujudan dari kontrol sosial.
Terdapat 2 jenis kontrol sosial:


Formal: Dilakukan secara resmi dengan anggota resmi seperti polisi.



Informal: Menegakkan suatu norma dengan santai tanpa melibatkan anggota resmi.

Gerakan sosial:
Gerakan sosial adalah diselenggarakannya kegiatan kolektif untuk membawa atau
menolak perubahan dalam kelompok atau masyarakat. Gerakan sosial telah dramatis
berdampak pada jalannya sejarah dan evolusi struktur sosial. Secara fungsionalis,
gerakan sosial berkontribusi pada pembentukan opini publik.
Mobilisasi sumber daya adalah cara gerakan sosial memanfaatkan sumber seperti
uang, pengaruh politik, akses ke media, dan pekerja. Wanita merasa lebih sulit daripada
laki-laki untuk menganggap posisi kepemimpinan dalam organisasi gerakan sosial. Jenis
kelamin dapat mempengaruhi cara kita melihat upaya terorganisir untuk membawa
tentang atau menolak perubahan.
Gerakan sosial baru adalah kegiatan yang diselenggarakan kolektif yang
mempromosikan otonomi, penentuan nasib sendiri, dan peningkatan kualitas hidup.
Gerakan sosial baru umumnya tidak melihat pemerintah sebagai sekutu mereka.

6. Tentang setu babakan (refleksi, cerminan, deskripsi, cerita)
pengaruh terhadap modernism

Judul: Kisi Kisi Ilsos Dan Jawaban

Oleh: Faiz Al Ghifary


Ikuti kami